Disclaimer: Semua karakter disini bukanlah milik author. Author hanya memakai mereka sebagai bagian dari cerita.

Warning: Author newbie, beberapa GenderSwitch!Character, bahasa aneh, dan tata cara penulisan sangat mengenaskan. (Dan ada beberapa adegan kekerasan.-.)

Jangan dibaca kalau kalian tidak menyukainya.

You've been warned ^^;)/

.

.

.

.

.

.

.

.

"Tanganmu kenapa?" Tanya Kyungsoo—keesokan paginya—yang melihat tangan Joonmyeon yang diperban menutupi seluruh bagiannya. Kyungsoo kemudian menarik pelan tangan Joonmyeon dan memperhatikannya dengan seksama. "Kenapa bisa diperban seperti ini?"

"Ah... I-ini..." Joonmyeon tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya pada Kyungsoo, namun ia tidak tahu apa yang harus dia katakan pada Kyungsoo. Di satu sisi, bila Hangeng tahu kalau ia memberitahu Kyungsoo, Ia akan memperlakukan hal yang lebih menyeramkan padanya. "B-bukan apa-apa..." Joonmyeon kembali menarik pelan tangannya yang sebelumnya Kyungsoo pegang.

"Wah, perbannya harus diganti." Baekhyun tiba-tiba muncul disamping Joonmyeon dan membuatnya kaget. "Sini, aku ganti."

"E-eh?" Joonmyeon tidak dapat mengelak tarikan tangan Baekhyun. Baekhyun kemudian menyuruh Joonmyeon duduk dan menaruh tangannya di counter selagi ia mengambil kotak obat.

"Kenapa tanganmu bisa diperban seperti itu? Siapa yang memasang perbannya?" Tanya Baekhyun sembari membuka perban yang melilit tangan Joonmyeon. "Oh, astaga.. kenapa seluruh tanganmu bisa luka seperti ini?!" Seru Baekhyun.

"Seluruh tanganmu..." Gumam Kyungsoo. "Ini bukan kecelakaan. Seseorang melukainya."

"Apa?! Siapa yang berani berbuat begitu?!" Ujar Baekhyun. Yang masih ngeri melihat luka ditangan Joonmyeon. Luka bekas sayatan pisau menghiasi seluruh bagian tangannya, telapak dan punggung tangannya, masih belum kering. Lukanya masih terlihat basah oleh darah. Tangan Joonmyeon sungguh sangat tidak enak dilihat saat itu juga. "Memangnya.. siapa yang mau melukai tangan Joonmyeon? Tega sekali.. Joonmyeon kan baru tiga hari berada disini.."

"Siapa lagi kalau bukan Tuan Hangeng?" Jawab Sehun yang langsung mengikuti obrolan mereka. "Luhan tidak mungkin melakukannya. Dan Zitao, walaupun ia agak kasar pada Joonmyeon tempo hari, dia tidak mungkin melakukan hal setega itu."

"Yah, siapa tahu?" Sahut Kyungsoo. Ia dan Sehun kemudian memperhatikan dengan seksama tangan Joonmyeon yang sedang Baekhyun tetesi dengan obat merah.

"Pelan-pelan saja, Baekhyun, rasanya pedih sekali." Ucap Joonmyeon yang mencoba menahan rasa sakit dan pedih dari lukanya itu. Baekhyun tak mengubris ucapan Joonmyeon dan tetap mengobati tangan Joonmyeon dengan telaten. Sedangkan Sehun dan Kyungsoo hanya memperhatikan dengan sedikit perasaan ngeri—plus ngilu.

"Ah, aku harus kembali membuat sarapan." Kyungsoo kemudian berlari menuju kompor, sadar kalau masakannya hampir gosong. Joonmyeon agak lega begitu Baekhyun mulai melilit tangannya dengan perban, karena dia tidak akan merasakan rasa pedih itu lagi.

"Kau tahu, baru kali ini aku melihat luka yang begitu menyeramkan." Gumam Baekhyun membereskan peralatan obat. "Puluhan luka sayatan pisau yang dalam. Yang benar saja?"

Sehun memandangi kedua tangan Joonmyeon yang diperban habis sampai pergelangan tangannya. "Dengan keadaan tanganmu yang begitu, kurasa kau tidak akan bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Lebih baik kau istirahat saja."

"Tapi, Tuan Hangeng mewajibkan kita semua ada saat setiap waktu makan, kan?" Ujar Kyungsoo yang membawa piring berisi sarapan yang akan disajikan nanti dan seteko teh hitam.

"Ya, Joonmyeon tetap ada pada waktu makan. Untuk pekerjaan lainnya, sementara waktu, kita gantikan dulu. Tidak mungkin kau menyuruhnya bekerja dengan keadaan tangannya yang begitu parah." Sahut Sehun.

Baekhyun kemudian menyusun tiga cangkir, 3 pasang garpu dan sendok, dan piring diatas tray. "Yah, Sehun benar. Lagipula, kurasa, Joonmyeon bahkan tidak bisa menggaruki kepalanya.."

"Tidak, Baekhyun.. tanganku sudah agak mendingan. Aku sudah bisa memegang sesuatu, buktinya, aku bisa memutar anak kunci pintu kamarku tadi..." Sangkal Joonmyeon. "Aku bisa melakukan pekerjaan ringan. Seperti.. menyusun buku? Atau menyiram tanaman?"

"Kurasa, jangan sampai lukamu terkena air dulu." Ucap Baekhyun.

"Tapi menyusun buku boleh juga. Atau membersihkan debu. Hey, itu pekerjaan ringan, kan?" Ujar Kyungsoo.

"Yah, lagipula aku tidak mau menganggur." Tawa Joonmyeon. "Cukup mudah."

"Ya, sudah jam tujuh tepat. Kurasa keluarga itu sudah menunggu di ruang makan." Ucap Sehun yang mendorong dining trolley menuju ruang makan.

-0-

Benar saja, Ketiga anggota keluarga tersebut sudah duduk disana menunggu makanan datang, Hangeng duduk di depan meja yang sangat panjang tersebut membelakangi pintu, sedangkan Luhan dan Zitao duduk berhadapan disisi samping meja yang sangat panjang itu. Setelah masuk, Kyungsoo segera berjalan ke dekat jendela, tempat biasa ia menunggu sampai keluarga itu selesai menyantap makanan mereka. Karena ia koki, ia tidak perlu meletakkan piring, gelas, atau serbet diatas meja seperti yang Baekhyun dan Sehun lakukan.

"Joonmyeon, tanganmu terluka. Kau menyusul Kyungsoo saja." Bisik Sehun.

"Tapi.."

"Sudah, sana." Akhirnya Joonmyeon mengangguk dan segera berdiri di sebelah Kyungsoo. Ia memperhatikan Sehun dan Baekhyun yang dengan telaten menaruh semua makanan yang ada di tray keatas meja. Joonmyeon kemudian melihat wajah Hangeng sekilas. Melihat wajahnya saat itu, membuat Joonmyeon mengingat kejadian malam kemarin. Ia semakin takut pada Tuannya. Hangeng melihat perban yang melilit tangan Joonmyeon sekilas kemudian tersenyum puas.

Sosok Luhan membelakangi Joonmyeon, Ia sangat ingin berterima kasih lagi padanya karena semalam Luhan sempat menolongnya mengobati lukanya. Ia melihat Luhan menggumamkan sesuatu pada Sehun yang membuat wajah Sehun memerah. Ia kemudian terkekeh geli.

Sampai pada akhirnya, pandangan Joonmyeon dan Zitao bertemu. Wajah Zitao masih saja menyeramkan. Zitao masih menatap Joonmyeon dengan tatapan tajamnya. Namun sesaat kemudian, tatapan itu meluruh. Digantikan dengan tatapan sendu seolah Zitao merasa bersalah.

"Whew.. Sekarang, tinggal tunggu mereka hingga selesai makan." Baekhyun tiba-tiba berbicara disampingnya.

'Iya. Sebentar lagi.'

-0-

Pukul Duabelas, Joonmyeon membersihkan beberapa lukisan besar di koridor dari debu-debu. Ya, pekerjaan ringan yang tidak membuat tangannya sakit. Sesekali ia terbatuk karena debu-debu yang berterbangan. 'Kapan terakhir kali ini dibersihkan?' Gumam Joonmyeon.

"KAKAK TIDAK MENGERTI!" Kemudian suara Zitao terdengar tak jauh dari tempat Joonmyeon berada. Joonmyeon berasumsi bahwa ia sedang berdebat dengan Luhan. Ah, ayolah, siapa lagi? Tidak mungkin Zitao dapat meninggikan suara didepan Ayahnya?

"Zitao, dengar... Kau tidak boleh seperti itu.. Mengertilah, Zitao.. Kris itu kakakmu, dia pasti juga menyayangimu.." Suara lembut Luhan kemudian terdengar menyahuti ucapan Zitao.

"MEMANGNYA KENAPA?! APA TIDAK BOLEH?!" Seru Zitao. Joonmyeon heran. Apa pita suara Zitao tidak rusak?

"Zitao.. Kita bahkan belum menemukan kunci itu. Dan... dan bahkan kita tidak tahu.. Apa Kris masih hidup di dalam sana.." Sahut Luhan. "Kumohon berhentilah menangisinya. Kita akan mencari kunci itu bersama-sama, oke?"

Kemudian terdengar suara isakkan tangis. "SELALU ITU! SELALU ITU YANG KAU UCAPKAN! Asal kau tahu, Kris masih hidup, Kris masih hidup, Kris masih hidup..."

Joonmyeon kemudian tertegun. Ia merasa egois telah menyimpan kunci itu dan tidak memberikannya segera pada Zitao. Namun, meningat perasaan Zitao pada Kris yang tidak wajar, ia agak sungkan. Ia kemudian membalikkan badannya dan hendak membersihkan lemari buku sampai Ia kaget ketika melihat sosok Zitao dihadapannya. Dengan wajahnya yang memerah dan matanya yang bengkak.

Joonmyeon kemudian membungkukkan badannya dan memberi hormat pada Zitao. "S-selamat siang, Nona Zitao!"

"Maid. Dengar. Aku tugaskan kau untuk mencari kunci berwarna emas. Satu-satunya kunci berwarna emas di kastil ini. Segera berikan padaku bila kau temukan kunci itu!" Tukas Zitao yang kemudian pergi meninggalkan Joonmyeon di lorong yang sepi itu.

-0-

Entah beberapa kali dalam hari ini, Joonmyeon mendapati Zitao duduk dan menangis didepan ruangan tempat Kris dikurung. Sesekali, ia mendapati Luhan berdiri disana, mencoba membuka gembok tersebut menggunakan kawat, klip, dan barang-barang lainnya.

Dan sesekali juga, Joonmyeon merasa tidak enak hati menyimpan kunci itu untuk dirinya sendiri. Ia merasa egois.

-0-

Malam itu Joonmyeon duduk di ranjangnya. Tiga jam lagi dia akan menyelinap keluar dan menemui Kris. Sekarang masih jam sepuluh, yang ia tahu, Luhan masih membaca di perpustakaan dan Hangeng masih mengerjakan sesuatu di ruang kerjanya. "Ada apa sebenarnya dengan keluarga ini..." Gumam Joonmyeon.

Ia mengeluarkan kunci ruangan tersebut dari sakunya dan memandanginya dengan seksama. Kunci berwarna keemasan dengan sebuah batu rubi pada pegangan kuncinya yang dikelilingi oleh ukiran yang sangat rumit. Joonmyeon memutar-mutar kunci tersebut. "Kalau mereka benar-benar kaya, harusnya mereka memanggil ahli duplikat kunci untuk membuat cadangannya..."

'Sebentar.. Sehun bilang, Baekhyun menyembunyikan kunci ini. Lalu kunci ini kemudian hilang. Itu berarti sudah sangat lama sekali, kan?' Gumam Joonmyeon. 'Lalu kenapa Zitao bersikap seolah-olah kunci ini baru saja hilang?'

'Ini aneh.' Sambungnya lagi. 'Kurasa Ibu tahu mengenai masalah kunci ini..'

'Dan kalau kunci ini hilang dan tak ada satupun yang tahu dimana kunci ini berada.. kenapa kunci ini ada dikamarku?'

Joonmyeon kemudian melamun, pandangannya menerawang keatas langit-langit kamarnya. Kemudian ia tertegun, seperti menyadari sesuatu. Ia kemudian bangkit dari ranjang hangatnya, memakai sandal, dan segera melesat pergi keluar.

-0-

"Ah, Joonmyeon. Ada perlu apa? Seharusnya kau istirahat malam-malam begini." Ucap Baekhyun. Joonmyeon menggelengkan kepalanya.

"Apa aku boleh masuk?" Tanyanya kemudian. Baekhyun kemudian mengangguk dan menggeser sedikit tubuhnya, memberi Joonmyeon akses untuk masuk. "Heh? Kalian bertiga satu kamar?" Tanyanya begitu melihat Sehun dan Kyungsoo sedang sibuk melakukan aktivitas mereka masing-masing.

"Eh? Joonmyeon?" Sehun dan Kyungsoo menghentikan sejenak aktivitas mereka. "Ada apa?" Tanya Kyungsoo.

"Ah.. iya. Aku bosan dan tidak bisa tidur.. haha, jadi.. yah.." Sahut Joonmyeon canggung. Jujur, dia kira Baekhyun hanya tidur sendirian. Karena, ada beberapa hal yang ingin ia tanyakan. Mengenai keluarga ini tentu saja.

"Ah, begitu,ya. Kalau kau sedang bosan kau boleh datang kesini,kok." Baekhyun kemudian duduk diranjangnya. Joonmyeon kemudian ikut bergabung disana. Ia kemudian melihat Kyungsoo sedang membaca buku dan Sehun sedang menulis sesuatu.

"Untuk siapa surat itu?" Tanya Joonmyeon. Sehun menghentikkan kegiatannya sejenak dan memandang Joonmyeon. "Untuk sudah lama tidak mengiriminya surat." Balas Sehun yang diterima anggukan oleh Joonmyeon.

"Kyungsoo? Kau sedang apa?" Ujar Joonmyeon yang tidak mau mengganggu aktivitas Sehun. Wajahnya serius sekali saat itu.

"Hm? Tidak ada..hanya membaca buku yang aku beli di kota tempo hari." Sahut Kyungsoo tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca. Joonmyeon kemudian mengangguk dan duduk diam disana. Tidak tahu harus berbuat apa. Baekhyun yang tidak melakukan apa-apa kemudian duduk disamping Joonmyeon.

"Ada apa?" Tanya Baekhyun pada Joonmyeon.

Joonmyeon terdiam sebentar. "Apa kau tahu.. tentang 'kutukan marionette' yang sering diceritakan orang-orang tua pada anaknya di desa?" Tanya Joonmyeon. Seketika, Sehun dan Kyungsoo menghentikkan kegiatan mereka masing-masing.

"Oh, cerita itu.. Cerita orang-orang desa yang paling terkenal dan kabarnya itu kisah nyata.." Sahut Sehun.

"Tentang seorang Ayah yang membunuh anaknya sendiri dan mengambil jantung anaknya. Ayah itu kira anak itu mati. Tapi ternyata masih hidup. Karena Ayahnya ketakutan, ia mengurung anak itu." Sambung Kyungsoo. "Sampai kedua saudaranya juga ayahnya bertambah tua, keadaan anak itu masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu."

"Haha.. cerita nenekku saat dia masih muda dulu... Lalu, karena semakin merasa ketakutan, bangsawan itu kemudian membakar anaknya itu. Hingga si anak mengutuk setiap ayah yang bersikap kasar. Hahahahaha." Ucap Baekhyun. Sehun, Kyungsoo dan Baekhyun kemudian tertawa. Namun sesaat kemudian, mata mereka terbelalak seperti menyadari sesuatu.

"Sebentar... Jangan bilang kalau.. Keluarga ini.." Lirih Baekhyun. "Oh astaga..."

"Sedikit dugaanku... Mereka ini keturunan bangsawan itu. Lagipula, legenda itu tentang keluarga bangsawan. Dan bangsawan di kota ini hanyalah keluarga ini..." Gumam Joonmyeon. "Iya.. itu."

"Kebetulan?" Tanya Sehun.

"Aku rasa tidak." Sahut Kyungsoo. "Dengar, kita sudah lama bekerja disini. Dan sejauh ini tidak ada apa-apa, kan? Maksudku, kita baik-baik saja selama berada disini,kan?"

"Kutukan hanya menyelimuti keluarga bangsawan itu... jadi, memang tidak akan ada hubungannya dengan kita." Ucap Joonmyeon. "Yah. Itupun kalau keluarga ini benar-benar dikutuk..."

Lalu Joonmyeon kemudian berdiri. "Aku akan mencari tahu lagi mengenai hal ini. Aku semakin penasaran.."

"Tidak. Kutukan itu tidak nyata. Itu hanya cerita orang-orang desa.." Sahut Baekhyun. "Tapi keluarga ini juga.. mengalami hal yang… sama.."

"Sungguh. Aku jadi merasa takut sekarang." Gumam Sehun.

"Sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan. Kita hanya bekerja disini. Semua tak ada hubungannya dengan kita." Ucap Kyungsoo mencoba tak membahas topic tentang kutukan yang menyedihkan itu. Joonmyeon, Baekhyun, dan Sehun mengangguki ucapan Kyungsoo. Kyungsoo benar. Semua itu tak ada hubungannya dengan mereka.

Joonmyeon kemudian berdiri. "Baiklah kalau begitu. Aku kembali ke ruanganku. Selamat malam." Joonmyeon kemudian membuka pintu ruangan yang berwarna hijau tersebut dan keluar dari ruangan itu. "Ah, Selamat malam, semuanya." Joonmyeon kemudian segera menutup pintu tersebut.

'Apakah keluarga ini memang terkena kutukan yang menyedihkan itu?'

-0-

Joonmyeon tidak langsung pergi ke kamarnya. Ia segera pergi ke ruangan tempat Kris berada. Joonmyeon berjalan pelan di lorong gelap tersebut, sebisa mungkin agar langkah kakinya tidak terdengar. Suasana lorong yang sepi membuat Joonmyeon berpikir kalau disana sudah tidak ada orang dan Ia bisa langsung masuk ke ruangan itu menemui Kris.

Namun sayup-sayup, ia mendengar suara orang menangis. Joonmyeon kemudian bersembunyi dibalik lemari buku besar—tempat persembunyiannya beberapa hari yang lalu. "Zitao..?" Gumam Joonmyeon pelan.

Ia melihat Zitao kembali menangis disana. Namun, Zitao tidak sendirian. Nafas Joonmyeon tercekat begitu mengetahui sosok yang ada bersama Zitao. Hangeng. Ada Hangeng disana.

"Dasar perempuan bodoh! Sampai kapan kau akan menangisi bajingan didalam sana?!" Bentak Hangeng. Zitao tidak menjawab Hangeng. Ia berdiri membelakanginya, memegangi kenop pintu tersebut sambil memukul-mukulkan tangannya.

"KAKAK! AKU MENCINTAIMU! AKU PASTI AKAN MENGELUARKANMU DARI SITU KAK!" Seru Zitao. Seketika, Hangeng kemudian menjambak rambut panjang Zitao. Joonmyeon dapat mendengar suara teriakkan Zitao. Bagaimana tidak kesakitan kalau rambutmu dijambak hingga kau terjatuh tersungkur, lalu tubuhmu diseret paksa.

'Maaf Zitao, aku tidak bisa menolongmu...' Gumam Joonmyeon. Ia terduduk disana. Menutup wajah dan telinganya, mencoba untuk tidak mendengar suara rintihan Zitao yang kesakitan. Hingga akhirnya ia mendengar suara tamparan. Saat itu juga Joonmyeon segera mengambil ancang-ancang untuk menghampiri Zitao. Namun, langkahnya terhenti begitu mengingat apa yang Hangeng lakukan padanya malam kemarin. 'Maaf.. maaf.. maaf.. maaf...' gumamnya.

Beberapa saat kemudian, suasana kembali sunyi. Hanya ada suara ranting pohon yang menggaruk jendela. Joonmyeon kemudian menyeka keringat yang ada di dahinya (menggunakan bahunya, tentu saja). Malam itu hawanya sangat dingin, tapi entah kenapa, Joonmyeon berkeringat. Ia kemudian menghela nafas panjang kemudian berdiri dan memastikan bahwa tidak ada siapa-siapa disana.

Joonmyeon kemudian bergegas berjalan menuju pintu ruangan rahasia itu dan memasukkan anak kunci pada gembok lalu memutarnya. Sebisa mungkin, tanpa suara, Joonmyeon melepas gembok tersebut, memutar kenop pintu dan melesat masuk kedalam. Tak lupa membawa gembok itu.

Berbeda dengan malam sebelumnya. Ruangan kali ini sangat gelap. Tidak ada cahaya bulan yang menyeruak masuk seperti malam kemarin lusa. Ditambah lagi, hawa ruangan sangat dingin. Karena tidak bisa melihat apa-apa, Joonmyeon meraba-raba barang disekitarnya.

'Kalau tidak salah disini ada beberapa batang lilin dan korek api...' Gumamnya. "Ah, ini dia.." Joonmyeon kemudian mengambil satu lilin dan menghidupkannya menggunakan korek yang ada disana.

Setelah ada sedikit penerangan, Joonmyeon segera pergi ke ujung ruangan didekat jendela. Tempat Kris duduk.

Joonmyeon dapat bernafas lega karena Kris masih berada disana. Masih dengan tatapan kosongnya- Persis seperti Marionette. Joonmyeon segera menaruh lilin tersebut pada bingkai jendela dan berjalan perlahan menghampiri Kris dengan hati-hati.

"Kris..?" Panggil Joonmyeon lembut. Ia memegang tangan Kris dengan hati-hati, merasakan tangannya yang sangat dingin, menyadari bahwa yang ia sentuh sekarang bukanlah manusia yang biasanya.

"Ah.. Angel! Kau datang... akhirnya kau datang.. kukira kau tidak akan datang kembali..." Pandangan kosong Kris kemudian berubah menjadi pandangan polos anak kecil. Kris kemudian memegang kedua wajah Joonmyeon dan mengelus kedua pipinya. Membuat wajah Joonmyeon bersemu merah. "Syukurlah... syukurlah kau kembali..."

"Ah.. Kris.." Joonmyeon merasa canggung karena tingkah Kris barusan. Namun Joonmyeon merasa semakin canggung begitu Kris melingkarkan tangannya pada pinggang Joonmyeon dan mengangkat dirinya hingga Joonmyeon sekarang berada dipangkuan Kris.

Ya, Joonmyeon berada di pangkuan Kris saat ini.

"K-Kris... l-lepaskan aku..." Ucap Joonmyeon. Namun sepertinya ucapan Joonmyeon tidak digubris oleh Kris.

Kris malah menyandarkan kepalanya pada lekuk leher Joonmyeon dan menghembuskan nafasnya disana. Membuat Joonmyeon merinding sekaligus geli. Namun, dia tidak bisa apa-apa saat itu juga. "Kau sangat hangat... Angel.."

"Uhn... Joonmyeon. Namaku Joonmyeon.." Ucap Joonmyeon. "Aku bukan malaikat... aku hanya maid di kastil ini..."

Dan lagi, ucapan Joonmyeon tidak Kris gubris. Kris kemudian mengambil tangan Joonmyeon dan meraba perbannya. "Ah! Sakit!" Lirih Joonmyeon.

"Aah.. apa aku menyakitimu..?" Tanya Kris. Joonmyeon menggeleng.

"T-tidak.. hanya saja.." Joonmyeon mencoba menyangkal. Namun, Kris segera membuka ikatan perban ditangan Joonmyeon. Dan seketika, udara dingin terasa berhembus ditangan Joonmyeon. Nyeri ditangannya kembali terasa dan membuat Joonmyeon meringis.

"Kenapa tanganmu... bukannya kemarin tanganmu baik-baik saja..." Ujar Kris. Rawut wajahnya berubah menjadi sangat khawatir. "M-monster itu! Siapa lagi kalau bukan dia!"

"Mons..ter?" Gumam Joonmyeon. 'Apa yang ia maksud adalah Tuan Hangeng...?' Guman Joonmyeon.

"Iya. Monster itu. Dia yang membuatku begini. Dia ternyata juga menyiksamu." Gerutu Kris. Nada suaranya terdengar bergetar. "Kakak dan adikku.. Apa monster itu juga menyiksa mereka.." Gumamnya kemudian.

"Luhan dan Zitao! Mereka baik-baik saja!" Seru Joonmyeon dengan segera walau harus menutupi kenyataan bahwa Zitao… beberapa kali diperlakukan sangat kasar oleh Ayahnya. Ternyata Kris masih memikirkan kedua saudaranya. Joonmyeon pikir, dengan hilangnya jantung Kris, dia tidak lagi memiliki perasaan.

Nah, itu dia yang membuat Joonmyeon heran. Bukankah jantung merupakan pusat emosi? Harusnya Kris tidak merasakan perasaan apa-apa lagi, bukan? Tapi kenapa.. ia masih bisa memikirkan kedua saudaranya..dan bahkan memperlakukan Joonmyeon layaknya sesuatu yang sangat ia sayangi?

"Luhan... Zitao... aku sayang mereka.." Ucap Kris kemudian. Joonmyeon kini melihat wajah Kris yang seolah menangis, namun tidak mengeluarkan air mata. "Aku lega.. Monster itu tidak menyakiti mereka." Kris kemudian mengambil kedua tangan Joonmyeon dan memainkan jari-jarinya, seperti anak kecil. Joonmyeon sebisa mungkin menahan rasa pedih yang kembali muncul, air matanya hampir keluar karena menahan pedih lukanya itu. Namun kemudian, Kris berhenti memainkan kedua tangan Joonmyeon dan mengecupnya. Membuat wajah Joonmyeon memerah karena malu.

Joonmyeon hanya menundukkan kepalanya. Dia masih ada dipangkuan Kris, karena Kris tak mau melepaskan pegangan tangannya dari pinggang Joonmyeon. Sesekali Joonmyeon melihat lubang yang berada tepat didada kiri Kris-tempat jantung berada. Ia masih tak habis pikir... bagaimana Kris bisa hidup tanpa jantung?

Dugaannya semakin kuat kalau Kris dan keluarga ini memang terkena kutukan Marionette itu. Ya, Marionette sangat tepat. Karena Kris benar-benar terlihat seperti Marionette, dengan ekspresi datarnya. Walaupun dia menunjukkan ekspresi-ekspresi lain, namun ekspresi tersebut tidak kelihatan seperti ekspresi manusia. Ekspresi tersebut terlihat lebih kaku. Seolah tak ada perasaan yang terlukis disana. Dan kemudian, sesuatu menangkap pandangan Joonmyeon.

"Ah.. salju.." Gumam Joonmyeon begitu melihat bayangan dan bintik-bintik putih menempel dikaca ruangan. Semakin lama, salju yang turun semakin banyak. "Salju pertama di bulan ini... Desember.." Joonmyeon segera turun dari pangkuan Kris dan berjalan menuju jendela. Mengagumi tiap salju yang jatuh. "Pantas saja hari ini dingin sekali..."

"Kris? Apa kau ingin melihat salju juga?" Tanya Joonmyeon. Kris hanya diam dan memasang pandangan ragu. "Ayolah, aku akan membantumu berdiri." Hah. Dengan tangan Joonmyeon yang terluka begitu, akan mustahil kalau ia memapah tubuh Kris yang sangat besar itu.

Joonmyeon kemudian melingkarkan tangannya pada lengan Kris dan menarik tubuhnya pelan. Kris berdiri perlahan, namun, begitu sudah berdiri tegak, tubuhnya roboh dan membuatnya harus berpegangan pada dinding. "Kris?! Kau tidak apa-apa?"

"Ya." Jawab Kris singkat. Kris mencoba berdiri, namun kakinya bergetar. Joonmyeon kemudian melepas pegangannya pada Kris. "Kris. Tahan sebentar." Kris menuruti perkataan Joonmyeon yang mulai mendorong kursi yang ia duduki di sudut ruangan menuju kedepan jendela besar ruangan tersebut.

'Apa selama ini ia hanya duduk diam dikursi ini sehingga membuatnya kaku berjalan..' Gumam Joonmyeon sembari membantu Kris duduk kembali dikursi nyamannya.

"Lihat. Saljunya indah, kan?" Ujar Joonmyeon sambil menunjuk jendela yang mulai berembun karena salju. Kris tidak menjawab pertanyaan Joonmyeon dan hanya memandang lurus kedepan. Seolah baru pertama kali melihat salju yang berjatuhan. Walau hanya dibekali oleh cahaya lilin, entah kenapa salju malam itu terlihat sangat indah. "Kau suka saljunya?" Tanya Joonmyeon yang kembali Kris jawab dengan anggukan.

Joonmyeon kemudian tersenyum tipis dan menggenggam tangan kiri Kris—walaupun harus menahan sakit karena luka ditangannya. Joonmyeon kemudian duduk menumpu lututnya didepan Kris. Seolah Joonmyeon adalah seorang Ibu yang berbicara pada anaknya. Joonmyeon mengadahkan kepalanya menatap Kris yang saat itu juga menatapnya dengan pandangan sendu.

"Dengar, Kris. Aku tidak tahu kapan, tapi, aku berjanji akan membawamu keluar dari sini dan bertemu kedua saudaramu." Ucap Joonmyeon penuh arti. "Aku berjanji."

"Sungguh..?" Tanya Kris. Joonmyeon mengangguk.

"Mungkin kau memang seorang malaikat.." Gumam Kris. "Aku akan menunggumu menepati janjimu."

Joonmyeon mempererat pegangannya. "Pasti. Aku akan menepatinya...

... Aku akan menepatinya..

"Aku janji."

.

.

.

.

.

To be continued

A/N: Perasaan author begitu melihat ada reviewer,favorite dan follow nambah tuh rasanya kayak.. KYAAA SENENG BANGET! /paansih/ Author gak nyangka bakalan ada yang sudi nge-review bahkan favorite FF ini. Yang bisa dibilang masih acakadul. Hahahha. Tapi, buat yang sudah review, favorite, dan follow, Author mengucapkan banyak terima kasih. Karena, kalian membuat Author makin semangat ngetik FF ini! ^^);. Sekali lagi, terima kasih untuk yang telah review, favorite, dan follow cerita ini. /authortakmampuberkata-kata/ Bila ada kritik dan saran, Author menerimanya dengan lapang dada -HanakoKim

Ah, iya, satu lagi. Beberapa karakter disini dibuat GenderSwitch! (baca: Joonmyeon, Luhan, Tao) Karena menurut Author , peran mereka sebagai perempuan sangat cocok untuk FF ini. Dan maafkan typo dichapter sebelumnya T_T);;