Disclaimer: Semua karakter disini bukanlah milik author. Author hanya memakai mereka sebagai bagian dari cerita.
Warning: Author newbie, beberapa GenderSwitch!Character, bahasa aneh, dan tata cara penulisan sangat mengenaskan. (Dan ada beberapa adegan kekerasan.-.)
(Sebenarnya untuk genre dan rating, HanakoKim bingung mau ditempatin dimana-_-;;)
Jangan dibaca kalau kalian tidak menyukainya.
You've been warned ^^;)/
.
.
.
.
.
"Kulihat lukamu hampir mengering.." Ucap Baekhyun,"Syukurlah.. itu artinya sedikit lagi dan lukamu akan sembuh.."
"Ya, lagipula aku tidak nyaman kalau tidak melakukan apa-apa.." Joonmyeon memandangi tangannya yang diperban dengan perban yang baru. Namun yang diperban hanya bagian telapak tangannya saja sedangkan jari-jarinya tidak diperban. "Terima kasih, Baekhyun."
Baekhyun menggumam sambil mengembalikan kotak obat ke lemari. Namun, sesuatu menangkap pandangannya. Didalam lemari, ia melihat kertas yang sudah lusuh tersumpal pada beberapa botol obat. Baekhyun mengernyitkan alisnya dan mengambil kertas lusuh tersebut.
Ia menatap ke arah Joonmyeon, Kyungsoo dan Sehun sejenak sebelum membaca kertas itu. '14 Desember...' Gumamnya dalam hati.
"Apa itu, Baekhyun?" Tanya Sehun yang sedang menyusun piring di troli. Ia kemudian melihat kertas yang ada di pegangan Baekhyun."14 Desember? Hari ini?"
"Hei. Ada apa?" Tanya Joonmyeon pada Sehun dan Baekhyun. "Sepertinya seru sekali..."
"Bukan apa-apa.. lupakan saja." Ucap Sehun yang langsung mengambil kertas itu dan menyimpannya pada saku celananya. "Hei, Kyungsoo! Apa makanannya sudah selesai?"
"Sebentar lagi-Hei, Joonmyeon, bisakah kau membuat kopi untuk Tuan Hangeng? Tidak usah diberi gula.. aku lupa membuatkan kopi untuknya.." Pinta Kyungsoo tanpa menoleh pada Joonmyeon. Joonmyeon kemudian mengangguk dan segera merebus air dan menyiapkan cangkir untuk kopi tuanya itu.
"Ah. Selamat pagi, kalian.." Suara lembut terdengar dari depan dapur. Joonmyeon kenal dengan suara itu, suara yang sangat lembut seperti itu, siapa lagi yang memilikinya selain..
"Ah.. Nona Luhan.. Selamat pagi.." Ucap Baekhyun sambil membungkukkan tubuhnya yang kemudian diikuti oleh Sehun, Kyungsoo dan Joonmyeon.
"Ah, ya… Selamat pagi…" Sahut Luhan. "Oh iya…" Luhan kemudian berjalan mendekat ke arah Sehun. "Sehun… bisakah…kau memisahkan alat makan Zitao dengan milik ayah dan aku? Zitao sedang sakit.. jadi, dia akan sarapan di kamarnya…"
"Oh.. Baiklah. Saya akan memisahkannya." Ucap Sehun yang segera memisahkan alat makan Zitao di atas tray lain. Luhan tersenyum melihat Sehun yang gesit dalam bekerja. Kemudian ia menghampiri Joonmyeon yang sedang menuangkan air panas kedalam cangkir.
"Hei, Joonmyeon.." Panggil Luhan. Joonmyeon menolehkan kepalanya pada Luhan dan memasang pandangan bertanya. "Zitao.. sedang sakit dan aku mohon agar kau membuatkannya teh hangat dan bubur untuknya pagi ini..."
"Baik.." Sahut Joonmyeon. "Saya.. akan membuatkannya untuk Zitao.. Anda jangan khawatir.."
"Dan juga, untuk makan siang dan makan malam.. tolong buatkan Zitao menu yang sama.." Ucap Luhan. "Lalu, sesudah menemaninya makan, jangan lupa beri obat juga. Obatnya kutaruh didekat ranjang tidurnya.."
"Ah. Baiklah." Sahut Joonmyeon. 'Intinya, Luhan menyuruhku merawat Zitao yang sedang sakit.' Ucap Joonmyeon dalam hati.
"Maaf merepotkanmu, karena siang nanti aku dan ayah akan menonton opera di kota. Sebenarnya Zitao juga ikut, tapi dia tiba-tiba sakit dan ayah tidak ingin melewatkan opera itu, yah, kau tahu ayahku, kan?" Ujar Luhan.
Joonmyeon kemudian tertawa. "Tidak apa-apa.. itu memang sudah tugas saya.. anda tidak perlu khawatir.."
"Baiklah.. aku dan Ayah akan menunggu di meja makan. Dan kau.. langsung antar saja makanan Zitao.." Ucap Luhan sebelum menepuk pelan pundak Joonmyeon dan pergi meninggalkan dapur.
"Hei, aku sudah rebus buburnya. Nanti tinggal kau matikan saja apinya." Ucap Kyungsoo yang tadi mendengar pembicaraan Luhan dan Joonmyeon.
"Ah, terima kasih! Oh, ini kopinya! Belum selesai aku aduk.." Joonmyeon menyodorkan cangkir kopi dengan sendok yang masih ada didalamnya. Kyungsoo mengangguk, mengaduk kopi itu dan menaruhnya diatas troli untuk kemudian dibawa ke dining room.
"Ya, kami duluan, Joonmyeon!" Seru Baekhyun sambil melambaikan tangannya. Joonmyeon tersenyum dan membalas lambaian tangan Baekhyun. Kemudian ia kembali melihat panci berisi bubur yang telah Kyungsoo siapkan untuk Zitao.
'Baiklah.. sebentar lagi..'
-0-
Membawa tray dengan keadaan tangan yang masih dalam keadaan terluka membuat Joonmyeon agak kesulitan. Apalagi yang ia bawa adalah makanan dan minuman hangat. Salah langkah, kau akan mendapatkan kesulitan. Joonmyeon kini berdiri didepan pintu kamar Zitao. Pintu berwarna cokelat dengan ukiran bunga-bunga itu ia dorong dengan menggunakan lengannya.
Begitu sampai didalam, ia melihat Zitao sedang berbaring dengan kain berwarna putih di dahinya dan sedang membaca buku. Menyadari keberadaan Joonmyeon, Zitao segera menutup buku tersebut dan duduk.
"Kemarikan traynya." Ucap Zitao dengan suara yang agak parau. Joonmyeon berasumsi kalau Zitao sedang terserang flu, karena wajah dan hidungnya memerah, dan suaranya parau dan disertai pilek, tidak salah lagi.
"Hati-hati, bubur dan tehnya masih panas.." Ucap Joonmyeon.
"Aku tahu, maid." Sahut Zitao dingin. Joonmyeon hanya menanggapi ucapan Zitao dengan senyuman. Saat Zitao mengunyah-atau lebih tepatnya menelan buburnya, sesekali ia melihat tangan Joonmyeon yang diperban. Ia kemudian teringat kejadian malam itu. Kalau saja Joonmyeon tidak menolongnya, wajahnya sudah membiru kala itu.
Namun, terbesit rasa bersalah pada dirinya. Kalau saja ia tidak membiarkan Joonmyeon, pasti ayahnya yang gila itu tidak melukai tangan Joonmyeon, yang notabene tidak bersalah sama sekali. "Kulihat tanganmu agak mendingan." Ucap Zitao sambil menyesap tehnya.
"Ya, begitulah.. harus diganti supaya tidak lembab.." Sahut Joonmyeon yang agak kaget karena Zitao mau berbicara padanya. Zitao kemudian tidak berkata apa-apa lagi dan melanjutkan makannya.
Kemudian, kain kompres yang ia kenakan terlepas dari dahinya. Dengan cepat, Joonmyeon meraihnya supaya tidak jatuh ke mangkuk berisi bubur itu.
"Ah, untung kompresnya tidak jatuh." Ucap Joonmyeon. "Nah, bagaimana kalau selesai makan saya kompres lagi supaya demamnya cepat turun?"
"Tch. Terserah kau. Aku sudah selesai makan." Tukas Zitao. Ia menaruh tray berisi mangkuk dan cangkir yang sudah kosong itu disampingnya. Tapi kemudian, ia bersin.
"Ahahahahahahah." Zitao kemudian mendengar Joonmyeon tertawa. Membuatnya sangat kesal dan ingin menampar Joonmyeon saat itu juga. Berani-beraninya dia menertawakan Zitao. Tapi apa daya, tubuhnya sangat lemas.
"Apanya yang lucu, maid?" Tukas Zitao.
"Tidak.. anda lucu sekali.. saat anda bersin, hidung dan pipi anda jadi memerah. Lucu sekali..." Ucap Joonmyeon sembari menempelkan kembali kompres yang sebelumnya ia rendam di air es diatas nightstand.
Mendengar hal itu, Zitao terdiam. 'Hidung dan pipi anda jadi memerah. Lucu sekali..'
-0-
"Hei Zitao.. kau sedang flu, ya?" Tanya Kris kecil pada Zitao yang sedang berbaring diatas kasurnya dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Kecuali wajahnya.
"Menurutmu apa? Sudah tahu masih bertanya..." Ucap Luhan yang duduk disebelahnya. "Harusnya kemarin kita tidak bermain salju sampai malam..."
"Eum.." Kris mengangguk. "Tao jadi demam begini.. coba saja kita cepat berhenti.."
"Aku tidak apa-apa... besok aku sudah sembuh! Kan mama yang akan merawat!" Ucap Zitao yang berusaha meyakinkan kedua kakaknya dengan nada suara ceria yang dibuat-buat. Namun nada ceria itu ditutupi suara parau dan hidung tersumbatnya.
Kris kemudian tertawa sangat keras. "Hahahahhahaha! Suaranya jadi aneh. Seperti kodok. Tapi lucu sekali.." Luhan kemudian mencubit pipi Kris.
"Zitao sedang sakit, Kris! Jangan ditertawakan!" Seru Luhan.
Kris kemudian mengelus pipinya yang kemerahan. "Iya maaf... Hei, cepat sembuh Zitao! Supaya kita bisa bermain salju lagi! Iya kan, kak?" Ujar Kris pada Luhan.
Luhan mengangguk. Kemudian ia mengecup kening Zitao. "Iya. Kata mama, kalau kita mengecup orang yang sedang sakit, orang itu akan cepat sembuh.. Nah, Zitao.. cepat sembuh, ya!" Luhan mengelus rambut hitam Zitao.
Zitao kemudian tersenyum dan mengangguk. "Iya. Aku akan cepat sembuh!"
"Aaah! Benarkah? Kalau begituu.." Kris segera mengecup kedua pipi Zitao dan juga keningnya. "Aku berikan kau tiga kecupan supaya lebih cepat sembuh!" Seru Kris.
"Ah.. Terima kasih ka-Hatsyiii!" Ucapan Zitao terpotong karena ia bersin. Namun kemudian Kris tertawa terbahak-bahak. Membuat Luhan kebingungan. "Kau kenapa?"
"Tidak.. hanya saja.." Ucap Kris. "Kalau Zitao bersin, pipi dan hidungnya jadi memerah.. lucu sekali. Aku suka!"
-0-
'Aku kembali meningat kejadian itu.. Kakak... aku merindukanmu..' Gumam Zitao yang hampir menangis.
"Anu.. Nona Zitao.. anda tidak apa-apa?" Tanya Joonmyeon memecah lamunan Zitao. Wajah Zitao yang sudah merah karena demam semakin memerah.
"Tidak. Cepat beri aku obatnya." Ucapnya dingin sambil menunjuk beberapa pil diatas meja kecil tak jauh dari sana. "Beri aku masing-masing satu." Joonmyeon mengangguk dan segera mengambil masing-masing satu dari tiga jenis obat lalu ia taruh dipiring kecil, tak lupa segelas air yang sudah terletak disana.
Zitao mengambil obat dan air itu kemudian segera meneguknya. Ia menaruh cangkir yang sudah kosong itu diatas tray. "Kau boleh pergi. Kembalilah saat makan siang."
Joonmyeon membungkuk dan tersenyum. "Kalau boleh tahu.. apa yang ingin anda makan saat makan siang nanti?" Tanyanya.
"Bubur dan sup ayam. Cepat pergi sana!" Seru Zitao. Joonmyeon segera mengambil tray tersebut dan keluar dari kamar Zitao.
"Whew... Menegangkan sekali!" Seru Joonmyeon selagi berjalan ke arah dapur.
.
.
"Tidak mungkin kakak terkena kutukan itu..." Gumam Zitao. "Tidak mungkin kan..?"
"Andai saja..."
"Andai saja kejadian itu tidak terjadi..." Gumam Zitao pelan, pandangannya mengabur karena air mata telah berkumpul disana, bersiap untuk jatuh.
"Kutukan keluarga itu tidak akan muncul kembali, kan..."
-0-
"Dengar, Kris. Aku tidak tahu kapan, tapi, aku berjanji akan membawamu keluar dari sini dan bertemu kedua saudaramu." Ucap Joonmyeon penuh arti. "Aku berjanji."
"... Sakit.." Kris memegangi dada sebelah kirinya, tempat jantungnya yang berlubang. Entah kenapa, jantungnya terasa sangat sakit, ia terus memegangi dadanya yang sakit hingga terjatuh dari kursi. Ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.
Seperti ada yang menusuknya berulang kali. Kris meremas dadanya dan mencondongkan tubuhnya, hendak mengurangi rasa sakit tersebut, tapi malah membuatnya terjatuh dari armchair yang ia duduki.
.
.
.
"Dasar biadab! Beraninya kau melakukan hal seperti itu kepada adikmu sendiri!" Seru Hangeng. Ia kemudian mencengkram kerah kemeja Kris dan menghempaskan tubuhnya, membuat punggung Kris menabrak ujung meja. Tubuh Kris ambruk dan dia tidak bisa berbuat apa-apa saat itu juga. Kris kemudian mencoba berdiri kembali dengan susah payah.
"Tidak, Ayah.. dengarkan penjela-"
BRUAGH!
Hangeng tidak ingin mendengar penjelasan Kris dan langsung meninju pipi kanannya, membuat tubuh Kris ambruk.
"Tidak, Ayah! Hentikan!" Kris kemudian mendengar suara Luhan dari luar ruangan. Ia menolehkan pandangannya kearah suara. Disana ia melihat Luhan dengan pandangan yang tidak dapat dijelaskan. Jujur, baru kali ini Kris melihat ekspresi Luhan yang seperti itu.
Kemudian ia melihat sosok Zitao yang segera berlari masuk. Tidak, saat ini dia tidak mau melihat Zitao.
"Ayah, aku yang salah! Kakak tidak salah. Jadi tolong, berhenti!" Zitao menangis, berlutut didepan Hangeng. Sedangkan Luhan membantu Kris berdiri.
"Diam Zitao." Sahut Hangeng. "Apa kau tidak sadar? Dia hendak memperkosamu, Zitao!"
"Ayah! Apa Ayah bisa menjaga omonganmu? Kris tidak mungkin melakukannya, Ayah. Pikiran Kris masih lurus!" Seru Luhan yang membela Kris.
"Tidak, Ayah. Aku. Aku yang menginginkannya. Aku yang menginginkannya, bukan Kakak." Ucap Zitao sambil menangis. Hangeng dan Luhan kemudian memandangi Zitao tidak percaya. "Aku mencintai Kakak, Ayah.."
"Zitao... kau.."
Kris hanya diam. Beberapa pikiran menghantuinya. Andai saja dia tidak menuruti permintaan Zitao. Andai saja dia tidak mendengarkan rayuan Zitao. Andai saja dia tidak mendengarkan iblis yang berbisik ditelinganya. Andai saja...
"Tapi setidaknya biadab ini tidak menuruti nafsunya!" Hangeng mengacungkan jari telunjuknya pada Kris. "Kau... Kau sudah membuat malu keluarga ini!"
Kris tidak menggubris ucapan Ayahnya. Ia juga merasa bersalah. Dan benar, ia sudah membuat malu keluarga. Walau tidak ada yang tahu, apa yang telah dia lakukan.
"I-iya.. m-mungkin aku memang salah, Ayah.." Ucap Kris terbata. "Ha-harusnya.. a-aku.."
"Diam, kau! Diam!" Seru Hangeng yang kemudian mengambil pedang yang tergantung didinding ruangan kerjanya.
"A-Ayah! Untuk apa pedang itu?" Ujar Luhan yang mulai mendapat firasat buruk. Ia kemudian melihat Ayahnya berjalan kearah Kris sambil memegang pedang itu. "Ayah! Apa Ayah sudah tidak waras?! Ayah kumohon hentikan! Ayah!"
"Tidak. Biadab ini layak menerimanya!" Hangeng kemudian menghunuskan pedang itu tepat pada dada sebelah kiri Kris. Membuat Luhan dan Zitao berteriak histeris, meminta Ayah mereka untuk segera menyadari apa yanh telah dia lakukan.
Pedang yang dihunuskan Hangeng sepertinya cukup dalam. Karena begitu pedang tersebut dicabut, jantung Kris juga ikut tercabut. Tubuh Kris kemudian ambruk, diikuti suara teriakan kedua saudarinya yang menyaksikan 'pertunjukan' tersebut. Hangeng hanya diam, puas dengan apa yang ia lakukan.
Seharusnya Kris sudah mati saat itu. Tapi tidak. Ia masih memegangi dadanya dan menatap Hangeng. Hangeng, Luhan dan Zitao yang mengira Kris sudah mati hanya bisa membelalakan mata mereka.
"Marionette." Ucap Kris. "Kutukan keluarga.. karena sang Ayah... membunuh anaknya... yang tidak bersalah.."
"Ayah tidak asing lagi, bukan? Kutukan.. yang menyelimuti keluarga... ini.." Sambung Kris. "Pernah terjadi.. pada leluhur kita terdahulu.."
"K-kau! Tidak mungkin... Kutukan itu.." Hangeng tidak percaya.
"Sekarang aku hanyalah Marionette. Dingin. Tak ada perasaan. Kaku. Tak bisa bebas bergerak." Ucap Kris.
"K-kris..." Lirih Luhan. Ia dan Zitao saat itu tidak dapat bergerak dan mengucapkan sepatah katapun. Hangeng hanya diam dan heran, sekaligus takut saat itu.
"T-tapi kenapa..." Lirih Kris.
"Padahal.. aku hanya ingin dicintai dan disayangi secara tulus.."
.
.
.
Kris kembali mengingat kejadian itu. Kejadian yang membuatnya menjadi seperti ini.
"Marionette, Marionette... malang sekali nasibmu." Gumamnya.
-0-
"Salju turun banyak sekali malam ini." Gumam Joonmyeon sambil melihat kearah jendela. Saat ini ia sedang membantu Baekhyun, Sehun dan Kyungsoo mengelap peralatan makan, karena makan malam telah usai.
"Yah, begitulah." Sahut Sehun. "Malam ini aku ingin segera tidur dalam selimut tebalku."
"Aku juga." Sahut Baekhyun dan Kyungsoo.
'Tidak untukku. Aku harus menemui Kris lagi.' Gumam Joonmyeon.
"Hei." Baekhyun memulai pembicaraan. "Apa kalian tahu, apa yang terjadi tanggal 14 Desember?" Tanya Baekhyun.
"Hum? Hari ini?" Tanya Kyungsoo. "Memangnya kenapa?"
"Tidak ada. Hanya bertanya."
"Baek, Kau aneh.. kenapa tiba-tiba bertanya hal seperti itu?" Tanya Joonmyeon.
"Ahahahaha... tidak. Bukan apa-apa.." Ucap Baekhyun. "Jangan dipikirkan, ah! Aku kan hanya bertanya!"
"Bah... kukira kau sedang berbicara serius. Dasar, bodoh." Ucap Sehun.' dia malah membahas itu?!" Rutuk Sehun.
"Hei, Apa kau bilang?!"
"Bodoh."
"Aku sudah selesai!" Seru Joonmyeon yang meletakkan lapnya di atas meja. "Aku ke kamarku duluan!"
"Ya, selamat malam." Sahut Kyungsoo. "Hei, kalian berdua! Berhenti!" Ucapnya pada Baekhyun dan Sehun. Joonmyeon tertawa kecil dan segera pergi dari dapur.
-0-
Malam itu tidak seperti biasanya. Karena tidak ada Zitao didepan pintu ruangan itu, ia tidak perlu menunggu lama-lama untuk masuk kedalam ruangan itu. Setelah membuka kunci pintu dengan perlahan, ia segera masuk dan menutup pintu, kemudian menguncinya kembali.
Joonmyeon meraba-raba barang disekitarnya, mencari lilin yang kemarin malam ia gunakan. Setelah menemukan lilin dak korek, ia segera menyalakannya. Kemudian pergi ke ujung ruangan.
"Astaga! Kris!" Ia kemudian terkejut saat melihat tubuh Kris terbaring dilantai, bukan duduk di armchair seperti biasanya.
"Angel?" Tanya Kris.
Joonmyeon buru-buru menaruh lilin yang ia pegang dimeja dekat jendela dan segera membantu Kris supaya duduk di armchairnya kembali. 'Oh Tuhan, berat sekali.' Gumam Joonmyeon. Setelah berhasil membantu Kris duduk, Joonmyeon membersihkan debu-debu yang menempel pada pakaian Kris. "Kris... kenapa kau bisa terjatuh?" Tanyanya.
Tubuh Kris sangat kaku, bergerak pun susah. Jadi, bagaimana bisa Kris terbaring di lantai?
Kris hanya diam dan memandangi wajah Joonmyeon.
"Kris..?" Panggil Joonmyeon. Kris tidak menjawabnya, namun ia menarik tubuh Joonmyeon, memeluknya. Joonmyeon awalnya kaget dengan tingkah Kris yang tiba-tiba memeluknya, namun kemudian, ia membalas pelukan itu.
Harusnya ia takut. Karena saat ini ia sedang bersama manusia yang entah masih hidup atau sudah mati. Harusnya ia takut. Bagaimana kalau Kris tiba-tiba membunuhnya. Bagaimana kalau Kris ternyata tidak nyata. Bagaimana kalau Kris ternyata hanyalah hantu.
Kemudian Kris melepas pelukannya dan menaruh Joonmyeon di pangkuannya. "Kau hangat.." Ucap Kris. Wajah Joonmyeon terasa memerah saat itu.
"Dadaku... sangat sakit.." Ucap Kris sambil memegangi dada sebelah kirinya yang bolong. Walaupun sudah beberapa kali bertemu dengan Kris, tapi tetap saja, Joonmyeon masih merasa takut saat melihat lubang itu.
"Seperti ada yang menusuk.. dari dalam.." Gumam Kris.
"A-apa..?"
"Aku rasa... hari ini adalah hari dimana... aku dikurung disini.. oleh Monster itu.." Gumam Kris dengan nada datar. "Dimana dia... mencabutnya.."
"K-Kris..."
"M-monster itu.. Jahat.." Joonmyeon kemudian memeluk Kris. Melingkarkan tangannya pada leher Kris yang sangat dingin.
"Tenang... aku disini... untukmu.." Ucap Joonmyeon. "Lagipula, aku sudah berjanji, kan? Kalau aku akan mengeluarkanmu dari sini.." Ia mengelus kedua pipi Kris dengan tangannya. Kris kemudian menatapnya agak lama dan kembali memeluk Joonmyeon.
"Kris..."
"Biarkan seperti ini dulu... aku suka.. saat aku memelukmu seperti ini.." Gumam Kris. Joonmyeon tidak berkata apa-apa dan membalas pelukan Kris. Membiarkan Kris merasakan kehangatan tubuh Joonmyeon.
'Sebenarnya kau ini apa, Kris?' Gumam Joonmyeon.
-0-
Didalam ruangan ini, Luhan sedang membaca buku yang sangat tebal. Sudah lewat tengah malam, seharusnya dia ada dikasurnya dan tidur nyenyak dengan selimut tebalnya.
Ya, dia tidak bisa pergi kesini saat siang hari karena Ayahnya melarang. Ayahnya melarang siapapun masuk ke ruang kerjanya. Kecuali, ia memang benar-benar menyuruh orang-orang itu masuk kedalam.
Ruangan ini menjadi saksi bisu kejadian beberapa tahun yang lalu. Kejadian yang sampai sekarang masih tidak bisa Luhan hapus dalam pikirannya. Kejadian yang membuat ia terpisah dari Kris.
'Marionette...' Gumam Luhan sambil membaca buku itu. 'Hari ini... hari dimana Kris... membicarakan kutukan itu.'
Marionette. Kutukan Marionette.
Luhan kemudian menemukan sesuatu disana. Sesuatu yang berkaitan dengan kutukan itu. "Berabad-abad yang lalu, di keluarga ini ada kutukan yang sangat terkenal. Kutukan yang muncul dari ucapan para jiwa-jiwa tak bersalah, jiwa-jiwa tersiksa yang selalu meminta ampunan, yang mengorbankan seluruh perasaan dan pasrah pada keadaan..."
"Tidak diketahui bagaimana kutukan ini bisa muncul. Tapi bila ada yang merasakan hal tersebut, maka kutukan ini bisa tumbuh dalam diri orang-orang tersiksa dalam keluarga. Yang tidak pernah merasakan adanya kedamaian.."
"Yang terkena kutukan tidak dapat mati. Mau dibunuh dengan cara apapun mereka tidak akan mati, sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan selama itu..."
"Bila mereka sudah mendapatkannya... maka jiwa-jiwa itu dapat pergi dengan tenang.. atau singgah. Sesuai—Astaga! Yang benar saja. Kenapa ujung halamannya robek?!" Gerutu Luhan. Ia kemudian membolak-balik halaman-halaman dibuku itu, berharap masih mendapatkan informasi tentang Marionette.
"Percuma..." Lirihnya. Ia kemudian menutup buku itu dan mengembalikannya ke rak. Ia kemudian mengambil lilin yang menjadi alat bantu penerangannya diatas meja, memegangnya dengan erat.
Saat ini ia berdiri sambil memandangi pedang yang tergantung didinding ruangan. Pedang yang telah mencabut jantung adiknya. Kemudian Luhan merasa pandangannya mengabur, tertutup air mata.
"Aku merindukanmu, Kris." Gumamnya yang kemudian mengendap pelan keluar ruangan, kemudian mengunci kembali ruangan itu, membiarkan kunci itu bertengger pada lubangnya, seperti posisi awal.
Perlahan ia berjalan menuju kamarnya. Namun kemudian pintu berwarna maroon dengan ornamen keemasan menangkap pandangannya. Ruangan itu tidak jauh dari ruang kerja Ayahnya, dan Luhan harus melewati pintu ruangan itu kalau ingin ke kamarnya.
Luhan memandangi pintu itu sebentar dan berjalan pelan kearahnya. Berdiri didepan pintu tersebut. Dan tak terasa, air mata kembali menetes dari matanya. Luhan terisak disana. Tangannya semakin mencengkram erat pegangan lilin yang terbuat dari logam.
Dilorong gelap yang bercahayakan lilin disetiap dinding itu, Luhan menangis. Tubuhnya ambruk dan kepalanya bersandar pada pintu ruangan itu.
"Hai, dik.. Apa kau masih hidup didalam sana? Apa kau tahu... kalau Kakak berharap kau ada disini, kita berkumpul kembali..." Ucap Luhan disela isakkan tangisnya. Dan ia mengucapkan kata 'dik' kepada Kris, panggilan yang ia berikan saat Kris masih anak-anak.
"Ahaha.. Aku memanggilmu 'dik' tadi... Kau pasti langsung protes kalau aku memanggilmu seperti itu... tapi kau menyukai panggilan itu saat masih kecil.." Lanjut Luhan. Hening. Tak ada jawaban. Padahal Luhan berharap Kris akan menjawabnya, walau hal itu sangat tidak mungkin.
"Kakak menunggumu disini..." Lirihnya.
"Hei, Kris... Apa kau masih hidup..?" Luhan mengulang pertanyaannya. Agak lama, kemudian Ia berdiri, mengusap air mata yang ada dipipinya.
"Ah.. Aku rasa... hanya waktu yang dapat menjawabnya... Hei, Kris. Selamat malam. Kakak sayang padamu." Ucap Luhan sambil tersenyum. "Aku ini bodoh sekali… bertanya sesuatu yang tidak masuk akal…" Kemudian ia berjalan kembali ke kamarnya.
Dan tanpa Luhan tahu, Joonmyeon mendengar semua apa yang ia katakan dari dalam. Dan tanpa Luhan tahu juga, Joonmyeon ikut menangis mendengar semua perkataan Luhan.
"Dia masih hidup... dia masih hidup..." Sahut Joonmyeon pelan. Ia kemudian menatap sosok Kris yang duduk di armchair dengan pandangannya yang menatap lurus kedepan, tanpa bergerak sedikitpun.
"Aku berjanji akan membawamu keluar dan aku akan mencari tahu... apa yang membuatmu menjadi seperti itu..." Gumam Joonmyeon.
.
.
.
.
.
To be continued.
A/N: BWAHAHAHA! Chap 4 akhirnya kelar jugaaa! Terima kasih buat kalian yang selama ini telah me-review cerita ini. Author terharu *nangis bahagia. (btw, ada yang suka baca ff tipe reader-insert disini?). HAHAH.
