Chapter 3

"Baiklah... apa yang kau butuhkan?" Rio bertanya ramah pada remaja berambut biru tersebut. Dia tampak sedikit terkejut, lalu balas tersenyum.

"Bunga anyelir dua buket, tolong."

Wajah Rio memucat. Dia pernah mendengar bunga anyelir, tapi dia tidak tahu yang mana bunga anyelir itu.

"O-Oh... bunga anyelir ya? Tu-tunggu sebentar!" Rio menatap sekilas pada Karma dengan pandangan bingung. Karma sendiri menggindikkan bahu, tak tahu yang mana bunga anyelir itu. Tak perlu ditanya, kita semua sudah lebih dari yakin kalau Rio benar-benar sangat kesal.

Sambil berkeliling berpura-pura mencari bunga anyelir, Rio mengambil kesempatan itu untuk berbasa-basi dengan remaja lelaki tersebut.

"Kenapa kau sering membeli bunga di sini?" Rio bertanya sambil menolehkan kepalanya ke arah si rambut biru. Dia tersenyum.

"Hanya... sedang membutuhkan beberapa bunga."

"Namamu siapa?" Si rambut biru tertegun. Dia tampak berpikir sebentar, sebelum akhirnya tertawa kecil. Tetapi entah bagaimana, tawa tersebut tampak seperti tawa kesedihan. Rio mengernyit.

"Aku tidak tahu namaku. Tapi untuk sementara waktu... mungkin Inari Nagawa."

Kedua bola mata Rio membelalak. Dia langsung menghadap Inari dengan tangannya memukul meja kasir. Inari tampak tidak terkejut.

"NAGAWA?!"

Inari mengangguk.

"Kau kenal Imori Nagawa?" Rio bertanya dengan nada serius. Inari menggindikkan bahunya, lalu mengangguk pelan. "Kau siapanya?" Rio bertanya lagi dengan nada yang lebih serius.

"Saudara kembarnya." Mata Rio semakin melebar. Baru saja dia akan kembali melemparkan pertanyaan, Inari sudah menyelanya. Tampaknya dia tahu kalau Rio akan bertanya lagi. "Boleh aku balas bertanya?"

"Silahkan."

"Kau penguntitnya, atau kau hanya suruhan penguntitnya?"

Baik Karma maupun Rio mendelik. Inari tertawa kecil lagi.

"Aku sudah biasa ke toko ini. Pegawainya biasanya langsung mengambilkan bunga yang kubutuhan bahkan sebelum kuminta. Tapi kau bertanya dulu. Dan aku bertaruh, kau tidak tahu yang mana bunga anyelir. Aku benar?"

Rio menoleh pada Karma. Karma mengangguk mengalah. Rio kembali menoleh pada Inari, lalu mengangguk lemah. Dia tertawa, lalu mengambil dua buah buket bunga yang berada tepat di depan Rio.

"Pegawainya hafal aku datang ke sini setiap hari. Jadi mereka menaruh bunganya tepat di atas meja kasir supaya mudah untuk diambil. Sebelumnya, bunga ini biasanya ada di pojok ruangan." Inari menunjuk pojok kiri depan ruangan. Rio tertawa gugup. Inari kembali tersenyum.

"Tapi, bukannya itu bunga carnation?"

"Ah? Haha. Bunga anyelir itu bunga carnation. Hanya beda bahasa saja, kok." Inari menjelaskan. "Penguntitku sembunyi di ruang belakang ya? Sejak tadi kau melihat ke sana terus. Berarti kau suruhannya?" Inari balas bertanya. Karma dan Rio menelan ludah. Inari memiliki pengamatan yang sangat baik! Itulah yang mereka pikirkan. "Berarti kau tidak tahu harganya ya? Haha. Ini uangnya. Aku bersumpah ini harga yang benar dan aku tidak berbohong."

"Uh... terimakasih."

"Ah, tidak! Aku yang harusnya bilang terimakasih. Terimakasih," Inari membungkukkan badannya, lalu berlari keluar dari toko. Begitu Inari sudah menghilang dari pandangan mata, Karma keluar.

"Ketahuan duluan..." Karma dan Rio berucap lemas bersamaan.

"Siapa Imori Nagara?" Karma bertanya heran.

"Pelayan di cafe kemarin. Inari bilang mereka kembar. Tapi memang mirip sih. Rambut biru. Mata biru. Kulit putih. Suara tenang. Namanya juga mirip. Imori dan Inari." Rio menjelaskan sambil bersender di dinding belakangnya. Karma mengangguk paham. Rio berdecak kesal. "JANGAN CUMA NGANGGUK! YANG TADI ITU APA-APAAN?! KAU TIDAK MEMBANTU SAMA SEKALI BODOH!" Rio berteriak kesal, sementara Karma hanya cengengesan tanpa merasa bersalah sama sekali.

"Ya ya ya. Maafkan aku," Karma berucap dengan cengiran.

"WAJAHMU SAMA SEKALI TIDAK MENUNJUKKAN KALAU KAU MEMINTA MAAF!" Rio kembali berteriak. Keduanya terus beradu argumen hingga pelanggan lain datang.

°•°•°•°

Karma menyeruput susu stroberinya pelan. Jarinya sejak tadi mengetukkan diri ke meja kasir, dan matanya berkali-kali melirik jam yang ada di belakangnya. Awalnya memang tak menganggu, tetapi Rio mulai kesal ketika kaki Karma mulai ikut mengetukkan diri bersama jari. Hanya saja yang satu ini mengetukkan diri ke lantai.

"Karma Akabane! Bisa diam tidak sih?!" sewot Rio. Karma menoleh sekilas, lalu menggeleng dan kembali melanjutkan apa yang sejak tadi ia kerjakan... kalau itu bisa disebut pekerjaan. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Rio putus asa.

"Seharusnya dia datang lagi sekita jam-jam seperti sekarang. Tapi kenapa dia masih belum datang?"

"Inari maksudmu? Yah, entahlah. Apapun itu, aku agak heran. Bunga-bunga yang ada di sini semuanya bagus. Tapi kenapa toko ini agak sepi? Bunga di sini lebih baik daripada toko bunga yang ada di pusat kota. Tapi kenapa yang di pusat kota lebih ramai?" Rio membalas dengan kerutan di dahinya. Karma menghela napas cuek.

"Namanya juga PUSAT kota. Jelas di sana lebih ramai. Disamping itu, walau kualitasnya bagus di sini, secara besar toko, tentu saja toko bunga di pusat kota lebih besar." Rio hanya menghembuskan napasnya kasar.

*Kling... kling...*

"Oh, dia datang." Karma berucap, lalu segera masuk ke ruangan belakang toko. Walaupun sudah ketahuan, setidaknya penyamaran Karma belum. Jadi mereka masih santai, tidak menyadari. Rio sudah tidak lagi menyamar. Keduanya lupa bahwa Rio harus menyamar.

"Oh, jadi yang tadi itu rambut palsu ya? Sudah kuduga." Inari berucap dengan senyum. Karma dan Rio saling pandang, bingung. Hingga akhirnya kesadaran menghantam mereka.

"GHAAAAAA...!" Rio dan Karma berteriak kesal. Inari tertawa kecil.

"Tolong bunga anyelir dua buket dan bunga krisan juga dua buket," Inari berucap sambil menahan tawanya. Rio mengambil dua buket bunga anyelir, lalu terdiam. Inari tertawa kembali, lalu mengambil sebuah bunga krisan. "Bunga krisan itu yang ini. Bagaimana caramu melayani pelanggan kalau kau tidak tahu bunganya?" Inari bertanya di sela-sela tawanya.

"Mencarinya di internet. Tapi sekarang baterai kami sudah habis. Mengesalkan."

"Kami? Jadi kalian kerja sama, ya? Soalnya tadi kalian hanya bertukar pandang, tetapi tidak melakukan tindakan apapun."

Rio menggertakkan giginya kesal.

"SETAN MERAH! INI SEMUA IDEMU! BENAR! KAU HANYA MEMBANTU MENCARI BUNGANYA SAJA! APANYA YANG KERJA SAMA!? APANYA YANG IKUT MENYAMAR!? NANTI BAGIANMU KUAMBIL SEMUA!" Rio berteriak kesal. Karma hanya tertawa terbahak-bahak sambil menggindikkan bahunya tak peduli. Menyerah, Karma keluar dari tempat persembunyiannya. Jangan ditanya, dia juga tanpa penyamaran. Keduanya melepaskan penyamaran ketika tengah hari. Dan lupa memakainya kembali hingga sekarang. Kedua mata biru Inari sedikit melebar.

"Karma-kun...," dan kali ini giliran Karma dan Rio yang mendelik.

"Kau kenal Karma?! Katakan padaku, kau itu sebenarnya Nagisa kan?!" Rio bertanya sambil mencengkram erat bahu Inari. Inari menunduk sedikit, lalu kembali mengangkat kepalanya. Dan dengan tersenyum, dia mengangguk.

"Kau tahu nama asliku? Aku sedikit terkejut. Apa Karma-kun yang masih memberitahumu? Jadi penguntitku selama ini itu, Karma-kun ya?"

Karma tertawa kecil.

"Maafkan aku. Sekarang, bisa kita mulai wawancaranya?"

•TO E CONTINUED•