Chapter 4
"Maafkan aku. Sekarang, bisa kita mulai wawancaranya?"
"Wawancara?"
"Temui aku di tempat biasa kita bermain dulu. Kau masih ingat?"
Nagisa mengangguk pelan.
"Bagus. Jam delapan malam. Kau bisa kan?" Karma bertanya sambil menunjukkan jam tangannya. Jari telunjuknya menunjukkan angka delapan. Nagisa mengangguk. "Nah, sekarang, bisa beri tahu aku harga bunganya tidak? Aku lupa harga bunga krisan berapa." Dan tepat saat itu juga, sebuah tangan melayang keras ke arah kepala Karma, menimbulkan bunyi menyakitkan yang sangat keras. "OI!" Karma berteriak keras ke arah Rio.
"KAU ITU MENYEBALKAN!"
"BISA TIDAK KAU HENTIKAN TERIAKANMU!?"
"KAU JUGA BERTERIAK!"
"KARENA KAU TERUS BERTERIAK!"
Nagisa tertawa kecil, lalu menaruh beberapa lembar uang dan pergi diam-diam. Mengingat sifat Karma, Nagisa sangat yakin dia akan diminta sebagai hakim sekaligus algojo untuk pertengkaran mereka.
°•°•°•°
Rio menutup pintu toko setelah mengambil upahnya (dan Karma), lalu menoleh kepada Karma yang tengah memasang wajah kesal.
"Apa-apaan dengan wajah musangmu itu?" tanya Rio dengan seringaian. Tentu saja sebenarnya Rio sudah tahu alasan Karma memasang wajah kesal.
"Tsk. Kau tahu jawabannya, Nakamura." Rio tertawa terbahak-bahak. Kalau Karma sudah memanggilnya dengan nama belakang, artinya Karma sudah benar-benar kesal. Jarang-jarang bisa membuat Karma kesal karena sikap santainya. Disamping itu, lagipula biasanya Karma yang membuat orang lain kesal.
"Hei hei hei. Jangan pasang wajah begitu. Kau harus bertemu Nagisa sekarang juga. Kau bilang jam delapan, dan kita baru selesai kerja jam delapan . Nanti kau terlambat. Oh, tunggu. Kau memang sudah terlambat."
"Aku tahu aku tahu. Ayo cepat. Kereta datang lima belas menit lagi. Kita sprint."
Sambil berlari, Rio mengajak (memaksa) Karma untuk sedikit bicara.
"Hei hei, aku boleh ikut menemui Nagisa?"
"Tidak boleh."
"Kumohon..."
"Tidak peduli."
"Bagaimana dengan cabai?"
"Aku bisa beli sendiri."
"Kau mau Sonic Ninja? Aku punya edisi terbaru. Baru dijual ke masyarakat umum bulan depan. Tapi kau tahu, ayahku pemilik toko buku besar, jadi dia sudah mendapatkannya terlebih dahulu untuk diedarkan bulan depan."
"Aku bisa menunggu."
"Punyaku ada tanda tangan direkturnya."
"Kita sampai. Ayo, keretanya sudah datang."
"ARRGGHHH...!" Karma hanya menyeringai saja.
°•°•°•°
Sambil sedikit mengayunkan ayunan yang dinaikinya, Nagisa melihat jam tangannya untuk yang entah yang keberapa kalinya. Sudah lewat setengah jam dari yang dijanjikan, dan sang iblis merah sadis yang ditunggu masih belum juga tampak.
Nagisa baru saja akan berdiri, tapi dia membatalkan keputusannya. Dia akan tetap menunggu.
'Karma-kun bukan seorang pelanggar janji. Dia pasti datang, walaupun telat.' Nagisa berpikir tegas. 'Kutunggu sampai jam sembilan. Kalau belum datang, aku pulang saja.' Nagisa akhirnya memutuskan. Mengingat, dirumahnya ada seorang saudara kembar yang menunggu. Tapi menit terus berlalu. Hingga kini, Karma masih belum datang. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas. 'Ku-kutunggu sampai jam setengah sepuluh.' Nagisa mengeratkan genggamannya pada tali ayunan.
"Nagisa? Kau masih disini?" Tanpa menoleh pun, Nagisa tahu siapa yang bicara padanya.
"Maaf. Apa aku membuatmu khawatir? Ada seseorang yang harus kutemui di sini."
"Siapa?"
Baru saja Nagisa, akan menjawab, sebuah suara membuat dua manusia di sana menoleh cepat.
"Nagisa! Maaf aku terlambat! Terkejut kau masih menungguku." Karma berteriak di pinggir taman.
"Karma?!"
"Hm? Kau si-HOTARU?!"
"Nagisa! Yang ingin kau temui itu Karma?!" Hotaru bertanya terkejut. Nagisa tersenyum, lalu mengangguk.
°•°•°•°
Nagisa PoV
Kami berdua (Nagisa dan Hotaru) duduk di ayunan yang dulu biasa kami duduki sewaktu kecil, sementara Karma membelikan minuman hangat untuk kami. Perlahan-lahan, salju mulai turun dan menutupi lembabnya tanah. Kulihat Hotaru tengah merapatkan mantelnya.
"Di sini sudah musim salju ya? Cepat sekali." Aku mengangguk. Sudah awal tahun. Itu artinya dalam beberapa bulan kedepan, statusku dan Hotaru yang sekarang adalah anak kelas dua, akan berubah menjadi kelas tiga.
"Apa yang kalian berdua bicarakan?" tanya Karma. Ditangannya dia membawa sebuah plastik berisi beberapa minuman hangat. Kami tersenyum.
"Membicarakan apa yang biasa kami bicarakan ketika melihat salju. Ngomong-ngomong, Kau sekarang kelas tiga ya?" Hotaru menjawab dengan senyum manis yang biasa ia lekatkan di wajah manisnya. Karma tersenyum sambil menempat sebauh minuman dingin di tangan kecil kami.
"Yap. Dan kalian sekarang juga kelas tiga kan?"
Aku dan Hotaru menggeleng. Karma menatap kami dengan pandangan bingung. Aku dan Hotaru saling menatap dengan pandangan sayu.
"Apa yang terjadi? Kalian tidak naik kelas? Tapi aku pikir kalian bukan tipe orang seperti itu." Baik aku maupun Hotaru tidak menjawab. Karma duduk di ayunan yang berada di sebelah kiriku. "Atau, ada hal yang membuat kalian tidak naik kelas?"
Tepat di poin itu, aku dan Hotaru menitikkan air mata kami.
Nagisa PoV End
Karma diam. Tidak bertanya lebih jauh. Dia tahu bagaimana sifat kedua teman semasa kecilnya ini. Keduanya memang bukan seorang jenius seperti Karma. Tetapi bukan berarti bodoh. Meskipun tidak sepintar Karma, tetapi mereka lebih rajin darinya. Karena itu mustahil mereka tidak naik kelas. Mereka seharusnya naik kelas, meski nilai mereka mungkin tepat di rata-rata. Pasti ada sesuatu yang terjadi, dan Karma yakin itu.
Karma ingin tahu apa masalah mereka, tetapi dia juga tahu. Untuk saat-saat seperti ini, lebih baik membiarkan mereka tenang terlebih dahulu, barulah dia bisa bertanya. Setelah beberapa saat, akhirnya Nagisa membuka mulut.
"Oh ya. Kenapa kau telat, Karma-kun?" tanya Nagisa. Hotaru sendiri juga sudah mulai tenang. Melihat mereka berdua tenang, Karma tersenyum.
"Rio-gadis pirang tadi, memaksaku untuk ikut menemuimu. Kami bertengkar tadi. Tau-tau sudah jam sembilan. Haha. Maafkan aku. Kenapa kau mengajak Hotaru?"
"Nagisa tidak mengajakku kok. Aku yang menyusulnya. Aku khawatir. Sudah dari jam tujuh pergi, sampai jam sembilan belum pulang. Kau tahu kan itu bukan kebiasaan Nagisa? Ngomong-ngomong tentang Rio, maksudmu Nakamura Rio?" Hotaru menjawab sekaligus bertanya.
"Oh, kau kenal?"
"Dia pelanggan tetap di cafe tempatku bekerja."
"Hmmm..."
Ketiganya lalu terdiam, sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"Ah, itu..." Karma berusaha memecah hening. Dua buah pasang bola mata biru seindah kristal menyapa pandangan Karma. Karma menggaruk bagian belakang lehernya. "Yah... Selama aku tidak ada, sepertinya... banyak yang terjadi?" niat awal Karma itu adalah sebuah pernyataan. Tapi tampaknya kegugupan merubah kalimat itu menjadi sebuah pertanyaan. Nagisa dan Hotaru saling pandang, lalu menoleh ke arah Karma dan mengangguk.
"Yah... kurang lebih begitu. Tapi kami rasa sekarang sudah tidak terlalu menjadi masalah," balas Nagisa canggung. Hotaru menangguk menyetujui. Karma menatap kedua saudara kembar di sebelahnya ini dengan tatapan yang lebih tajam.
"Yah kurang lebih begitu dan kami rasa, itu adalah kata-kata yang menunjukkan kalau kau tidak yakin. Katakan padaku apa yang terjadi," sebuah perintah mutlak. Nagisa dan Hotaru kembali bertukar pandang.
"Umh... kami akan menceritakannya padamu, itu sudah pasti. Tapi kami rasa, tidak untuk sekarang." Hotaru membalas agak gugup. Ini bukan karena takut atau apa. Hanya suasana canggung yang tercipta ketika bertemu kembali dengan teman lama dan... cinta pertama.
Karma menghela napas. Kata-katanya tadi memangperintah mutlak. Tapi tak ada perintah untuk mengatakannya saat itu juga, kan?Jadi tidak masalah.
Ketiganya kembali terdiam. Tak ada lagi yang berusaha untuk memecah hening. Terkadang, suasana hening seperti inilah yang mereka butuhkan. Suasana hening seperti inilah yang membantu mereka untuk mengerti. Suasana hening seperti inilah yang membuat mereka merasa nyaman. Hanya diam, saling merasakan keberadaan masing-masing.
Kurang lebih, sekita lima belas menit mereka diam seperti itu, sampai akhirnya Hotaru bangkit berdiri. Nagisa dan Karma memandang Hotaru yang berdiri dari ayunan tempatnya duduk tadi.
"Sudah terlalu malam. Salju juga sudah mulai lebih lebat. Sebaiknya kita pulang. Karma, rumahmu masih jauh, kan? Mau ke tempat kami?" tawar Hotaru sambil memandang Nagisa. Nagisa mengangguk menyetujui.
"Heh, kau masih ingat rumahku? Lumayan. Rumah kalian sekarang di mana?" tanya Karma dengan seringai iblisnya. Nagisa dan Hotaru menunjuk rumah yang berada tepat di dekat taman (selisih dua rumah lain, tapi masih kelihatan jelas) dengan senyum. Hanya perlu menyebrang dan melewati dua rumah untuk sampai. Karma terdiam, lalu tampak tertawa gelap.
"Haha." Hanya itu. Karma diam lagi. Tapi tentu saja Nagisa dan Hotaru sebagai teman terdekat Karma (Dan salah satunya soon-to be-lover. Tebak siapa. Belum tentu Nagisa, tapi belum tentu juga Hotaru) sudah tahu apa kelanjutannya. "BRENGSEEK...! BILANG DARI TADI KENAPA!" teriak Karma kesal, lalu mengejar sang kembar dengan seringai iblisnya. Nagisa dan Hotaru tertawa terbahak-bahak sambil berlari dari kejaran Karma. Walaupun pasti pada akhirnya akan tertangkap juga karena tempat tujuan mangsa dan pemangsa yang sama.
•TO BE CONTINUED•
