Disclaimer: Semua karakter disini bukanlah milik author. Author hanya memakai mereka sebagai bagian dari cerita.
Warning: Author newbie, beberapa GenderSwitch!Character, bahasa aneh, dan tata cara penulisan sangat mengenaskan. (Dan ada beberapa adegan kekerasan.-.)
(Sebenarnya untuk genre dan rating, HanakoKim bingung mau ditempatin dimana-_-;;)
Jangan dibaca kalau kalian tidak menyukainya.
You've been warned ^^;)/
.
.
.
.
Pagi itu Joonmyeon sedang membersihkan perpustakaan di lantai atas. Jujur saja, Joonmyeon agak keberatan begitu diberi tugas ini. Membersihkan perpustakaan memanglah pekerjaan yang mudah, kau hanya perlu membersihkan debu di rak dengan kemoceng kemudian debu yang jatuh kau sapu, tapi kalau perpustakaan ini ukurannya dua kali lipat dari ruang makan, entah sore hari nanti pekerjaanmu akan selesai atau tidak. Sesekali Joonmyeon menguap karena mengantuk.
Ia baru kembali ke kamarnya pada pukul tiga dan harus bangun pada pukul lima. Ia mengutuk Kris yang semalam menahannya pergi. Kalau saja ia dibolehkan keluar lebih cepat, ia tidak akan mengantuk seperti ini. Tapi Joonmyeo tidak mampu menolak pandangan yang Kris berikan padanya. Wajah Joonmyeon kemudian memerah begitu mengingatnya.
'Joonmyeon, ayolah. Kau tidak mungkin suka padanya.'
'Atau mungkin… iya?'
'Bodoh. Tidak mungkin, kan. Aku hanya kasihan padanya.'
"Yaa. Joonmyeon, apa itu kau?" Tanya seseorang. Joonmyeon kaget dan segera membalikkan badannya, melihat sosok Luhan disitu. Berdiri sambil memegang buku tipis berwarna cokelat.
"Ah, Luhan…" Sahut Joonmyeon. Saat ini ia agak canggung bertemu Luhan. Ia merasa tidak enak padanya, ia tahu sesuatu mengenai Kris namun Luhan saat ini sedang berusaha keras mencari tahu keadaan adiknya. "Anu… selamat pagi, um…"
Luhan kemudian tertawa. "Ada apa, hm? Ah, apa kau belum sarapan? Kau terlihat lemas dan wajahmu agak merah."
Joonmyeon segera menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak. Aku tidak apa-apa. Ah, apa kau ingin membaca buku disini?" Tanya Joonmyeon yang disambut anggukan oleh Luhan. "Oh, kalau begitu silakan. Aku sudah membersihkan meja baca, kalau masih kotor, bilang saja padaku dan oh, kuharap aku tidak mengganggumu."
Luhan kemudian tertawa lagi. Entah kenapa sifatnya sangat berbeda dengan adiknya, Tao. Bahkan Joonmyeon terkadang berpikir apakah mereka benar-benar kakak adik. "Ya, ya, tentu. Terima kasih." Ucap Luhan yang kemudian berjalan melewati Joonmyeon menuju rak diujung ruangan.
Sementara Joonmyeon sedang menyelesaikan pekerjaannya, Luhan sesekali melirik kearah Joonmyeon dan mengambil buku tebal di rak paling bawah. Luhan segera membawanya ke meja baca dan membuka perlahan halaman pada buku itu.
'Marionette, Marionette…'
'Payah. Intinya sama saja. Disini tidak dijelaskan apa yang membuat orang yang terkena kutukan dapat singgah…' Luhan mengusap pelan wajahnya.
"Marionette?" Luhan kemudian mendengar suara Joonmyeon. Reflex, Luhan segera menutup halaman yang ia baca. "Oh, maaf! A-aku… hanya…"
Luhan menggeleng. "tidak, tidak apa-apa… Apa pekerjaanmu sudah selesai?"
"Belum. Aku hendak mengambil lap yang kutaruh dibelakang. Tapi kemudian aku melihatmu sedang mengusap-usap wajah seakan sedang pusing. Aku hendak bertanya padamu, tapi tulisan itu membuatku penasaran." Joonmyeon menunjuk tulisan pada buku yang ada diatas meja. "Ada apa dengan Marionette? Bukankah Marionette sering dijadikan pertunjukkan untuk anak-anak?"
"Ah, itu… aku sedang menyukai hal-hal berbau misteri." Jawab Luhan sambil membalik halaman dan berpura-pura membaca. "Dan Marionette disini bukan boneka yang digerakkan dengan benang dan kayu seperti dalam pertunjukkan. Tapi sebuah kutukan."
"Kutukan?" Tanya Joonmyeon. Tiba-tiba ia sadar akan suatu hal. Sehun pernah memberitahunya dan ia juga telah melihatnya. Jadi, Kris terkena kutukan Marionette itu. Dan Luhan pasti sedang mencari cara agar kutukan itu dapat hilang. "Se-seram sekali…" Ucap Joonmyeon berpura-pura.
"Kutukan itu hanya cerita lama. Cerita zaman dulu." Jawab Luhan.
"Kutukan itu… kutukan tentang apa?" Tanya Joonmyeon.
"Kutukan ini muncul dari ucapan para jiwa-jiwa tak bersalah, jiwa-jiwa tersiksa yang selalu meminta ampunan, yang mengorbankan seluruh perasaan dan pasrah pada keadaan… tidak diketahui bagaimana kutukan ini bisa muncul. Tapi bila ada yang merasakan hal tersebut, maka kutukan ini bisa tumbuh dalam diri orang-orang tersiksa dalam keluarga. Yang tidak pernah merasakan adanya kedamaian. Yang terkena kutukan tidak dapat mati. Mau dibunuh dengan cara apapun mereka tidak akan mati, sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan selama itu..." Jawab Luhan sesuai dengan apa yang ia ingat. "Bila mereka sudah mendapatkannya... maka jiwa-jiwa itu dapat pergi dengan tenang.. atau singgah… sesuai—"
Namun tiba-tiba Luhan melihat sesuatu dalam halaman tersebut.
"Sesuai?" Tanya Joonmeyon ulang. Ia juga ingin tahu tentang kutukan yang menimpa Kris karena selama ini yang ia tahu hanyalah cerita bagaimana Kris menjadi 'sosok' menyeramkan seperti itu.
Luhan tak menggubris ucapan Joonmyeon dan hanya fokus membaca tulisan yang ada dibuku itu.
"jiwa-jiwa itu dapat pergi dengan tenang ataupun singgah. Sesuai dengan permintaan sang penghapus kutukan. Sang penghapus kutukan akan merasakan perubahan pada Marionette. Marionette tidak akan menjadi boneka lagi. Mereka akan menjadi manusia seutuhnya. Bila kutukan sudah hilang, sang penghapus bisa melenyapkannya atau memintanya untuk singgah dan mencintainya secara tulus."
"selama itu juga sang penghapus menjadi kekuatan Marionette. Bila sang penghapus tiada sebelum kutukan tersebut hilang maka Marionette juga akan lenyap."
"karena Marionette tidak dapat digerakkan dan hidup tanpa Manipulator"
"Manipulator…" Gumam Luhan. "Sang penggerak Marionette."
"Seram sekali…" Gumam Joonmyeon. Joonmyeon ingin bertemu dengan Kris saat ini juga. Setelah membaca tulisan itu, Joonmyeon ingin menjadi manipulator untuk Kris, walau resikonya sangatlah besar. Ia tahu, Luhan ingin menyelamatkan Kris tapi Joonmyeon ingin ialah yang menjadi si manipulator. Luhan tidak tahu kalau Joonmyeon mengetahui semuanya. Bahkan Luhan juga tidak bisa masuk dalam ruangan itu.
Luhan kemudian menghela nafas pelan. "Aku ingin membaca buku misteri lainnya. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu." Ucap Luhan yang bergegas berlari menuju arah rak buku. Joonmyeon masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Ia masih memandangi tulisan yang ada didalam buku. Sesekali, ia meraba kunci ruangan yang ia simpan dalam sakunya.
'Aku tidak tahu, Kris. Tapi… bisakah aku menjadi Manipulatormu?'
-0-
Duk! Duk! Duk!
Kris yang sedang duduk didalam menolehkan kepalanya kearah pintu. Entah kenapa, semenjak Joonmyeon selalu datang setiap malam, badannya jadi tidak kaku lagi. Ia dapat menggerakkan beberapa anggota tubuhnya seperti leher, pergelangan tangan, dan pergelangan kaki. Ia juga merasakan sakit dan nyeri pada bagian dadanya, lebih tepatnya jantungnya.
Duk! Duk! Duk!
"Itu bukan Joonmyeon…" Gumam Kris pelan. Dia sudah hafal pada Joonmyeon. Joonmyeon akan datang saat hari sudah gelap dan akan membuka pintu dengan pelan. Tidak mengetuknya dengan kasar seperti itu. Kris kembali melihat kearah jendela dengan tatapan kosong. Sepanjang yang ia lihat hanyalah lapangan berwarna putih dengan tiga orang yang mengeruki lapangan itu dengan sekop. Tentu, Kris mengenali wajah mereka namun ia tak ingat.
Duk! Duk! Duk!
Suara itu kembali terdengar dan itu sangat mengganggunya. Kris hanya membiarkannya dan kembali melihat kebawah. Melihat ketiga orang tadi saling tertawa dan melempari satu sama lain dengan salju. Mereka terlihat sangat bahagia, seakan tak ada beban menggantung pada bahu mereka. Dan kemudian matanya tertuju pada sosok didepan gerbang.
Orang itu berjalan keluar dari gerbang dengan mantel tebal berwarna hitam dengan topi dikepalanya. Kris menatap orang itu dengan tatapan benci.
"Monster…" Gumam Kris sambil tersenyum dengan tatapan mata kosong.
Duk! Duk! Duk!
"HEI KAK APA KAU DENGAR KETUKANKU?! AYO BUKA PINTUNYA!" Kris yang mendengar suara teriakan itu menolehkan sedikit kepalanya.
"Yang menyebabkan aku menjadi seperti ini…" Gumam Kris pelan. "Kau… kan?"
"KAK, KAU MASIH HIDUP, KAN? KUMOHON BUKA!"
"Tidak…"
"Tidak…"
"Tidak…"
-0-
"Hei, Baekhyun! Berhenti, bodoh!" seru Kyungsoo yang melindungi dirinya dari lemparan salju Baekhyun. Sedangkan Baekhyun nampaknya tak mendengar ucapan Kyungsoo dan makin melempari Kyungsoo dengan lebih banyak salju. Sedangkan Sehun hanya menggelengkan kepalanya sambil membentuk bola-bola salju untuk ia lempari pada Kyungsoo dan Baekhyun nantinya.
"Ayolah, Kyungsoo! Lagipula nanti malam kau tidak akan memasak!" seru Baekhyun.
Ya, para pengurus kastil ini diberi tugas berat saat siang karena malam nanti mereka akan bebas dan tak melakukan apa-apa. Luhan, Tao, dan ayahnya akan menghadiri acara penting di kota nanti malam. Sejujurnya, Sehunlah yang agak muram begitu mendengar berita ini, karena ia tidak dapat melihat wajah Luhan saat makan secara diam-diam. Semua tahu kalau Sehun menyukai Luhan dan mereka jarang bertemu. Hanya pada saat jam makan Sehun dapat melihat wajah Luhan.
"Aku bisa demam, tahu?!" gerutu Kyungsoo.
Sehun kemudian melihat kearah langit yang berwarna kelabu. Ia merasa percuma saja mengeruki salju karena nanti malam pasti salju akan turun kembali. Perlahan ia menatap bangunan kastil dari atas, jendela lantai empat, jendela lantai tiga, dan jendela lantai dua yang menghadap langsung ke halaman.
Namun, ada sesuatu disana. Dia melihat sosok Kris sedang memperhatikan mereka dari sana dengan pandangan kosong. Sontak, Sehun kaget dan menjatuhkan diri diatas tumpukkan salju. Hal itu membuat Baekhyun dan Kyungsoo segera menghampirinya.
"Ada apa, Sehun?" Tanya Baekhyun. Sehun tak menjawab dan hanya menunjuk kearah jendela lantai dua yang sekarang sudah kosong. "Ruangan itu…"
"Ya, ruangan kosong itu. Apa yang kau lihat disana?" Tanya Baekhyun yang memelankan suaranya.
"Kris. Dia memang tidak mati." Jawab Sehun. Kyungsoo hanya memperhatikan jendela yang besar dilantai dua tanpa berkata apa-apa.
Dan mereka bertiga berharap, Kris memang benar-benar masih hidup.
-0-
Dua jam berlalu sejak semua keluarga sudah pulang dari acara di kota. Mereka pulang lebih awal karena badai salju yang akan datang mala mini dan benar saja, sekarang sedang terjadi badai. Semua jendela ditutup dan kau dapat melihat tirai-tirai yang melapisi jendela berterbangan. Sekarang pukul sebelas dan sudah waktunya Joonmyeon mengunjungi Kris.
Seperti biasa, ia menyelinap dan masuk secara diam-diam. Namun mala mini lebih mudah karena sepertinya semua orang sudah tidur. Lampu-lampu kamar mereka juga sudah mati. Joonmyeon segera mengunci pintu dan berlari menuju tempat Kris duduk.
Ya, sosoknya masih disana. Samar-samar Joonmyeon melihat rambut Kris. Karena ruangan sangat gelap, tak ada cahaya bulan yang masuk, terpaksa Joonmyeon menghidupkan lilin. Ia kemudian meletakkannya pada jendela dan melihat sosok Kris tengah memperhatikannya sambil tersenyum.
"Kau datang…" Gumam Kris sambil memeluk tubuh Joonmyeon yang saat itu masih berdiri. Joonmyeon membalas pelukan Kris, ia melingkarkan lengannya pada leher Kris. Kris kemudian memindahkan posisinya, ia menaruh telinganya di dada Joonmyeon, mendengarkan detak jantung Joonmyeon yang menurutnya sangat indah.
"Apakah saat ini kau sedang bahagia?" Tanya Kris.
"Iya. Aku bahagia." Gumam Joonmyeon. Kris kemudian melepaskan pelukannya dan menarik Joonmyeon ke pangkuannya. Kris kemudian mengambil kedua tangan Joonmyeon untuk diletakkan pada kedua sisi pipinya. "Kris… kau tidak dingin seperti saat pertama kali aku menyentuhmu…"
"Benarkah?" Tanya Kris. "Aku senang kau datang."
Joonmyeon kemudian mengangguk. Dan ia tak sengaja melihat lubang yang ada pada dada Kris. 'Hanya perasaanku saja atau… kenapa lubangnya mengecil?'
'Tubuh Kris juga mulai hangat.'
'Ia tidak kaku lagi.'
"Sang penghapus kutukan akan merasakan perubahan pada Marionette. Marionette tidak akan menjadi boneka lagi. Mereka akan menjadi manusia seutuhnya."
Joonmyeon kemudian teringat kata-kata itu. Kata-kata pada buku itu. Ia merasakan perubahan pada Kris. Suhu tubuhnya mulai hangat dan ia tidak kaku lagi, sudah hampir seperti manusia. Lalu apakah ini artinya… Joonmyeon adalah sang manipulator?
"Aku bertanya-tanya… apakah jantungku akan kembali berdetak?" Ujar Kris sambil mencium kedua tangan Joonmyeon.
"Kris, aku sudah pernah bilang kalau akan mengeluarkanmu dari sini, bukan? Aku berjanji padamu, aku akan mengeluarkanmu dari sini…"
"Bila kutukan sudah hilang, sang penghapus bisa melenyapkannya atau memintanya untuk singgah dan mencintainya secara tulus."
"Dan kau akan tetap singgah…" lanjut Joonmyeon. 'Aku juga akan mencintaimu dengan tulus sesuai permintaanmu.'
"selama itu juga sang penghapus menjadi kekuatan Marionette. Bila sang penghapus tiada sebelum kutukan tersebut hilang maka Marionette juga akan lenyap."
"Aku akan menjadi kekuatanmu. Aku akan menguatkanmu, Kris." Kris hanya menatap wajah Joonmyeon yang saat ini sedang berbicara padanya dengan sungguh-sungguh.
"karena Marionette tidak dapat digerakkan dan hidup tanpa Manipulator"
"Karena aku akan menghidupkanmu kembali…"
Kris hanya tersenyum dan diam mendengar perkataan Joonmyeon. Ia kemudian meraih wajah Joonmyeon dan kemudian mengecup pelan kening Joonmyeon, yang membuat wajah Joonmyeon memerah saat itu.
"Aku menunggumu." Ucap Kris.
-0-
Dengan perasaan yang tak karuan dan pikiran yang kacau, Joonmyeon keluar dari ruangan itu dan kembali menutup pintu tersebut dengan pelan dan menguncinya. Ia kemudian menyimpan kunci tersebut dalam sakunya dan hendak kembali ke kamarnya.
Sungguh, kejadian beberapa saat yang lalu masih membekas. Memang, itu hanya sebuah kecupan biasa. Namun, bagi Joonmyeon, itu adalah momen yang sangat langka, dan akan membekas terus pada pikirannya.
Joonmyeon ingin segera kembali ke kamarnya saat ini juga dan menenggelamkan tubuhnya dibawah selimut tebal. Namun saat ia hendak kembali, ia mendengar seseorang berbicara padanya.
"Apa yang kau lakukan malam-malam begini?"
.
.
.
.
.
To be continued.
A/N: Hah. Adakah yang masih mau membaca cerita ini? Maafkan daku yang terlalu lambat untuk meng-update ff ini. Maafkan aku yang ngaret. Maaf. Ff ini gak bakal discontinued, kok. Tapi kalau untuk update mungkin agak lama. Maaf untuk yang telalu lama menunggu. Hhe. Oh, ya, jangan lupa untuk cek FF lain yang saya post, ya! Jangan lupa di review, follow, dan favorite kalo bisa. hehe. Itupun kalau kalian juga suka genrenya. Mwehehe. Okay, see you in the next chapter! —HanakoKim.
