Chapter 5

"Ibumu sudah tahu kalau kau di sini?" tanya Hotaru. Karma mengangguk cuek. Matanya terpaku pada ponsel yang dipegang.

"Dengarkan kalau orang lain bicara." Nagisa menambahi. Karma memutar kedua bola matanya, lalu menoleh ke arah si kembar dengan wajah bosan. Nagisa dan Hotaru sendiri melihat dengan wajah sedikit kesal. "Kau mau makan apa?" tanya Nagisa.

"Apa saja yang bisa kalian buat," jawab Karma. Nagisa dan Hotaru lalu segera menuju dapur, membuat beberapa makanan untuk mereka bertiga. "Oh, benar. Kemana orangtua kalian?" tanya Karma dari ruang tengah. Tidak ada satupun jawaban yang di dapat Karma. Baru Karma akan bicara lagi, suara Hotaru terdengar.

"Cerai. Kami pulang ke sini sendirian."

Pada detik itu juga, mata Karma melebar. Dia mulai bisa menyimpulkan beberapa hal aneh yang sejak tadi menggelitikinya. Alasan kenapa mereka berganti nama, kenapa rumah ini sepi, kenapa mereka tidak naik kelas, dan kenapa mereka terlihat sedikit lebih suram dari biasanya. Walau masih belum mengerti sepenuhnya, setidaknya Karma tahu ini ada hubungannya dengan perceraian itu. Nagawa adalah nama marga dari ayah mereka, dan Shiota adalah nama marga dari ibu mereka.

Setelah beberapa menit berlalu, Hotaru membawa makanan yang telah mereka buat ke ruang makan, sementara Nagisa memanggil Karma untuk makan. Selama mereka makan, tak ada satupun yang memulai pembicaraan. Tidak Nagisa, tidak Karma, tidak Hotaru. Ketiganya hanya diam. Tapi dari cara inilah Nagisa dan Hotaru tau bahwa Karma ingin menyampaikan 'Aku sedih mengetahui orangtua kalian berpisah.'

"Karma, kamar mana yang ingin kau tempati?" Hotaru bertanya setelah mereka selesai makan. Karma menggindikkan bahu.

"Kamar mana yang kosong?" Karma balas bertanya.

"Semua kamar tamu kosong (ada tiga kamar tamu), kamar orangtua kami kosong, kamar pembantu kosong, kamar di sebelah Nagisa juga kosong. Silahkan dipilih, Yang Mulia," jawab Hotaru dengan nada bercanda. Karma tertawa.

"Aku ambil kamar di sebelah Nagisa," jawab Karma. Bukan karena kamar itu di sebelah Nagisa, tetapi karena saat dia kecil dulu, ketika menginap dia hampir selalu menempati kamar itu. Yah, dulu waktu kecil dia memilih kamar itu juga karena di sebelah Nagisa, sih. Ujung-ujungnya juga karena Nagisa. Karma tertawa bagaimana dulu dia sangat menempel dengan Nagisa. Secara, Nagisa dulu adalah teman pertamanya, dan Hotaru adalah teman keduanya. Jangan meminta Karma untuk memilih antara Nagisa dan Hotaru. Dia tidak akan bisa memilih. Setidaknya, untuk sekarang.

°•°•°•°

Paginya, Nagisa adalah orang pertama yang bangun. Tidak begitu pikir panjang, dia langsung mengambil handuk dan mandi. Biasa, rutinitas sebagian besar orang ketika bangun pagi. Begitu selesai mandi, dia masuk ke kamar Hotaru dan membangunkannya. Tidak begitu susah membangunkan Hotaru. Cukup panggilan nama satu kali, dan Hotaru akan mengerjapkan matanya beberapa kali hingga akhirnya duduk dari posisi tidurnya.

Tantangan membangunkan mereka yang sebenarnya ada di depan mata. Nagisa dan Hotaru saling pandang sambil meneguk air liur mereka. Kedua mata biru kristal mereka memandang pintu kamar yang berada di sebelah kamar Nagisa.

"He-hei... sudah beberapa tahun terlewat, kan? Mungkin Karma tidak semenyeramkan dulu?" Hotaru bertanya, menghibur dirinya dan Nagisa.

"Y-Ya... mungkin saja! Ku-Kuharap..." Nagisa membalas dengan nada sama canggungnya dengan Hotaru. Mereka berdua masuk ke dalam dan... beberapa menit kemudian terjadilah gempa bumi dan teriakan-teriakan memilukan dari kamar tersebut. Teriakan yang begitu sadis hingga kucing tetangga sebelah meninggal di tempat, dan sayap kupu-kupu yang kebetulan terbang di depan kamar mereka patah dengan menyedihkan. Sungguh kematian yang konyol sekaligus menyedihkan dan mengharukan.

Nagisa, Karma, dan Hotaru turun dengan rambut berantakan, benjolan di sana-sini, dan wajah malas sekaligus kesal. Nagisa menuju dapur, sementara Karma dan Hotaru menuju kamar mandi.

"Hei hei...! Jangan mandi di kamar mandi yang sama!" peringat Nagisa dari dapur. Hotaru dan Karma saling pandang dengan wajah memerah, lalu keduanya keluar dari kamar mandi. Nagisa memutar kedua bola matanya. "Jadi siapa yang mandi duluan?" tanya Nagisa setengah kesal. Kembali, keduanya masuk kamar mandi dan keluar lagi. Nagisa menghela napas. "Di tiap kamar kan ada kamar mandi! Kenapa mandi di bawah?!" sewot Nagisa yang sudah cukup kesal. Sadar, Karma dan Hotaru kembali ke atas untuk mandi.

"Nagisa! Kau punya baju yang kebesaran tidak?" teriak Karma dari belakang dinding dapur. Nagisa menoleh sedikit.

"Baju yang kebesaran? Lagipula, jangan keluar hanya dengan handuk seperti itu! Kalau Hotaru melihat gawat!" sewot Nagisa, lalu naik ke atas untuk mencari bajunya yang agak kebesaran. Karma menyengir, lalu mengikuti Nagisa ke kamarnya. Setelah beberapa saat, Nagisa melempar kaus putih dengan lengan panjang, kemeja merah, dan celana hitam kepada Karma. Baru Karma akan berganti, Nagisa berteriak "JANGAN GANTI DI SINI!" sambil melempar sebuah bantal dari kasurnya. Karma kabur sambil tertawa terbahak-bahak.

"Hoho~ Nagisa-Chan malu~" teriak Karma dari kamar sebelah.

"DIAM!"

°•°•°•°

Nagisa PoV

Aku sedang mencuci piring sebelum akhirnya kesadaran menghantam diriku dengan cukup keras. Sekarang hari Kamis. Tidak ada yang salah dengan hari itu memang. Hanya saja...

"Karma-Kun?" Aku bertanya sambil mematikan keran dan menaruh piring di rak piring. Karma-kun melihat ke arahku dengan sebelah alis dinaikkkan. Aku heran dia memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Jangan bilang kebiasaan buruknya masih belum hilang.

"Kau tidak sekolah? Libur atau bolos?" tayaku curiga. Karma-kun tersenyum iblis. Kurasa aku sudah bisa menduganya. Ah... Tidak, seharusnya aku sudah tahu sejak awal.

"Aku ada di opsi kedua."

"KARMA-KUN!"

"Hehehe..."

Tawa innocentnya yang satu itu agak menyebalkan. Tepat setelah itu, Hotaru turun dengan penampilan yang lebih baik dari sebelumnya. Dia memandangku sebentar. Matanya mengisyaratkan pandangan bingung dengan wajah kesalku. Kemudian dia melihat sang iblis sadis kesayangan kita dengan tatapan yang memiliki banyak arti.

"Kau bolos?" tanya Hotaru. Aku tak peduli lagi. Hotaru bisa lebih marah dariku.

"Haha." Tawa datar. Karma-kun tahu apa akibatnya jika dia berhadapan dengan Hotaru. Reaksinya sudah pasti lebih meyeramkan dariku. Kalian bisa terkejut. Iblis sadis sejenis Karma takut dengan kelinci lembut sejenis Hotaru. Suasana di sekitarku menggelap. Bisa dipastikan aura ini berasal dari Hotaru. Tak ingin menjadi hakim, algojo, atau apapun itu, aku secepat mungkin naik ke atas dan mengunci pintu kamarku. Tepat begitu aku mendengar bunyi 'Klik' dari pintu yang kukunci, aku bisa mendengar teriakan Hotaru.

"KENAPA KAU BOLOS?! KEBIASAANMU DIRUBAH SEDIKIT DONG!"

"KEBIASAAN YA KEBIASAAN! SUSAH UNTUK DIRUBAH!"

"AKU DULU PUNYA KEBIASAAN GIGIT JARI, TAPI SEKARANG AKU BISA MERUBAHNYA, TUH!"

"KAU BUKAN AKU!"

"KITA SAMA-SAMA MANUSIA!"

Bukan, Karma-kun bukan manusia. Hotaru memang manusia, sayangnya Karma-kun bukan. Dia itu iblis sadis dengan rambut merah sewarna darah penuh kelicikan dengan otak jenius dan memiliki sikap egois. Tidak selalu egois sih, sebenarnya.

Teriakan demi teriakan masih terdengar, tapi aku tidak begitu peduli. Lagipula, ujung-ujungnya mereka akan berbaikan. Hampir tak pernah ada pertengkaran serius dalam hubungan kami. Ya pernah sih, aku dan Karma-kun bertengkar secara serius, tapi biasanya Karma-kun segera meminta maaf paling lama seminggu setelahnya. Hei, ini tidak seperti aku tidak pernah meminta maaf! Justru kami jarang bertengkar karena aku hampir selalu mengalah. Kalau aku hampir selalu mengalah, otomatis aku juga lebih sering meminta maaf, kan?

Hal yang sama berlaku pada Hotaru. Dia juga sering mengalah, walau tak sesering aku. Jangan salahkan siapapun. Karena keduanya sama-sama bersalah, biasanya sih. Terkadang juga hanya Hotaru yang bersalah, atau hanya Karma-kun yang bersalah, atau hanya salah paham sehingga tak satupun yang sebenarnya bersalah. Yah, walau opsi terakhir sangat langka terjadi.

Secara umum, diam adalah cara kami untuk menghindari pertengkaran. Sudah dikatakan dikatakan bukan di chapter sebelumnya, bahwa diam membuat kami nyaman dan mengerti satu sama lain? Tapi karena Hotaru dan Karma-kun cukup mudah tersulut emosi, agak sulit untuk diam.

Oh, ngomong-ngomong, aku sudah tidak mendengar teriakan. Mungkin mereka sedang diam. Berusaha untuk mengerti. Walau tak satu pun dari kami akan mengerti kenapa Karma suka sekali membolos. Kami paham kalau bosan, tapi kalau seminggu MINIMAL enam jam pelajaran atau malah seharian penuh... agak sulit diterima bagi akal sehat kami yang masih polos.

Setelah beberapa detik, aku turun dan menemukan mereka berada di pojokan yang berlawanan. Jangan tanya. Aura kemarahan iblis Karma dan aura kemarahan kelinci Hotaru masih terasa dengan sangat jelas di atmosfir. Menghela nafas, aku mencoba memecah keheningan.

"Hey... aku ingin tahu... apa kau bisa membantuku dan Hotaru mencari sekolah baru, Karma-kun?" tanyaku agak keras. Karma berbalik, lalu menjawab.

"Yah... sekolah saja di sekolah yang sama sepertiku," ucapnya, lalu dengan kecepatan kilat kembali berdiskusi dengan tembok dihadapanya. Aku tertawa hambar.

Menyerah. Aku menyerah. Kepribadian Karma-kun yang belum stabil dan pendendam ditambah sifat Hotaru yang sensitif dan agak sulit memaafkan, keduanya kombinasi yang sempurna ketika bertengkar. Yah, aku tidak bisa menyalahkan mereka. Aku juga tidak stabil seperti Karma dan sensitif seperti Hotaru. Tapi mendamaikan mereka? Hanya mereka, waktu, dan takdir yang bisa melakukannya. Untuk yang satu ini, aku angkat tangan.

"Oh, dan... Nagisa?" Hotaru tiba-tiba sudah dibelakangku. Aku heran kenapa aku tidak menyadarinya. Seharusnya langkahan kaki Hotaru terdengar karena tembok di sekeliling kami. Tapi anehnya aku tidak mendengar gema apapun (A/N: Ngaca dulu sana, Nagisa). Yah, lupakan. Aku sudah cukup terbiasa dengan hal seperti ini (A/N: Makanya aku bilang ngaca dulu!).

"Hm?"

"Kita sudah kehabisan beberapa bahan makanan. Mungkin kita harus membelinya nanti siang?" tanya Hotaru. Oh, benar. Tentang itu, aku juga memikirkan sesuatu.

"Hotaru, aku agak ragu tentang ini, tapi kupikir mungkin satu dari kita atau kita berdua harus mengambil kerja sampingan segera," ucapku sambil menekuk jari telunjukku di bawah hidung. Dia tampak berpikir sebentar, lalu mengangguk setuju.

"Yah, kupikir memang harus segera."

Dan entah kapan, Karma-kun sudah ada di belakangku. Aku mengernyit heran. Coba tebak, sepertinya a certain red haired guy mendapatkan sebuah bakat yang mirip denganku dan Hotaru (A/N: Akhirnya ngaca juga).

Nagisa PoV End

Tanpa Nagisa dan Hotaru sadari, Karma sudah berjalan menuju mereka. Um, belakang Nagisa, lebih tepatnya.

"Hei, kalian yakin? Kalian tahu kan kalau sekolah melarang siswa-siswinya pelakukan kerja sampingan? Kalian bisa dikeluarkan," Karma bertanya ragu. Nagisa dan Hotaru menoleh cepat, saling pandang selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. "Keras kepala. Begini saja. Jangan kerja sampingan dulu selama setengah tahun ini. Aku bisa membantu masalah finansial kalian kalau kalian mau," tawar Karma. Nagisa terkekeh.

"Kalau kalian mau-mu itu paksaan kan?" tanya Nagisa sambil menahan tawanya mati-matian, sementara Hotaru sudah tertawa terbahak-bahak walaupun masih sedikit menjaga sikap dan harga dirinya. Karma menyengir. Sepertinya kata tawar tadi harus di-replace dengan kata paksa.

"Tepat. Kalian tidak punya opsi lain," cengiran Karma bertransformasi menjadi seringaian iblis yang biasa dia lekatkan di wajah(tampan)nya.

"Kita perpendek waktunya. Bagaimana kalau 3 bulan?" tawar Hotaru, tak ingin merepotkan Karma terlalu banyak.

"Baiklah, setuju. Tapi setelah aku setuju, kita perpanjang waktunya jadi setahun," seringaian Karma melebar.

"PERSETUJUAN MACAM APA ITU?!" bentak Nagisa dan Hotaru bersamaan. Karma hanya hanya memalingkan wajahnya dengan megeluarkan lidah. Tentu saja Nagisa dan Hotaru menyadari itu. Mungkin sekitar satu detik Nagisa dan Hotaru terdiam, tetapi setelah itu, tragedi yang menyeramkan terjadi. Bisa kita lihat dari balik pintu vas bunga berterbangan, piring-gelas melayang dan pecah, pisau-garpu menancap di tembok, dan Karma yang sekarat karena tertawa habis-habisan.

•TO BE CONTINUED•

A/N:Sambil nulis ini sambil dengerin lagu Tabidachi no Uta. Baper tingkat akut! Makasih ke semua reader yang udah mau baca fanfic ini. Maaf kalau ada kesalahan dan sebagainya. Ngomong-ngomong ada yang pernah dengan lagu Nuru Nuru Ondo nggak? Menrutku suara Rio unik banget. Kesannya nakal gitu. Terus suara Terasaka... no comment. Suara Nagisa manis seperti biasa, dan Karma juga suaranya tetep keren ^^.