Nagisa, Karma, dan Hotaru berbaring di kasur kamar Nagisa, kehabisan napas. Karma menoleh ke arah kedua sahabat terdekatnya tersebut, lalu menyeringai.

"Kalian gila," ucap Karma. Antara mengejek, menyindir, memuji, menghibur, dan memecah keheningan. Nagisa dan Hotaru menoleh ke arah Karma cepat dengan tatapan mata tajam.

"Kau pikir salah siapa?"

"Ngaca sana!"

Keduanya berucap bersamaan. Karma terkekeh, lalu bangkit dari posisi tidurnya. Nagisa memperhatikan Karma yang duduk, lalu memperhatikan tatapan matanya. Walaupun tidak begitu jelas karena dilihat dari samping agak ke belakang. Nagisa mengikuti arah mata Karma yang menatap ke arah jendela yang masih tertutup. Nagisa tersenyum. Dia bangkit, lalu membuka jendela kamarnya.

"Lebih baik?" tanya Nagisa dengan senyum manisnya. Karma diam, tidak mengeluarkan sepatah kata pun dan bibir dinginnya. "Jendela tidak akan pernah terbuka kalau kau hanya memandanginya. Kau harus berjalan, menyentuhnya, dan memutar kuncinya. Barulah kau bisa membukanya dan lega dengan angin yang masuk. Sama seperti masalahmu. Masalahmu tidak akan selesai kalau kau hanya memandanginya. Kau harus maju dan menemukan kunci permasalahannya. Barulah kau bisa merasa lega merasakan keberhasilanmu dalam menyelesaikan masalah," Nagisa memberi nasihat, walau nadanya terdengar menyenangkan. Sama sekali tidak terdengar seperti memberi nasihat. Di pojok kasur sana, Hotaru tersenyum.

'Ah, kalau begini sih, mustahil menang kan?' Hotaru membatin, masih sambil tersenyum hangat. Dia berdiri, lalu berjalan menuju pintu.

"Aku mau keluar sebentar. Nagisa, kau mau ikut?" tanya Hotaru. Nagisa menoleh, lalu tersenyum dan mengangguk.

"Hee~ Cuma Nagisa yang diajak? Rasa sakitnya itu luar biasa lho Hotaru~" goda Karma sambil meremas dadanya seolah-olah tengah sakit jantung. Hotaru menyeringai antara kesal dan terhibur.

"Oh? Baguslah. Tidak baik berjalan bersama manusia jelmaan iblis. Tidak terimakasih. Aku masih sangat menyayangi nyawaku yang berharga ini. Matilah saja iblis!" canda Hotaru sambil berpura-pura menembak Karma dengan pistol tangan. Karma memegangi jantungnya semakin erat.

"AARRGGHH! AWAS KAU NANTI KELINCI NAKAL! AKAN KUHABISI KAU!" jerit Karma memilukan sebelum akhirnya ambruk ke lantai. Nagisa tertawa sambil memegangi perutnya.

"Hahaha! Astaga kalian berdua! Aku sekarat! Sekarat! Hahaha!" Tak lama tawa Karma dan Hotaru menyusul.

°•°•°•°

Sambil berjalan, si kembar Nagisa dan Hotaru memperhatikan lingkungan sekitar mereka. Banyak hal yang telah berubah sejak terakhir kali mereka ada di sini. Misalnya saja spanduk, penambahan beberapa jalan, bangunan, dan peluasan taman. Terlalu banyak sampai mereka merasa berada di kota lain. Bahkan entah bagaimana, beberapa jalan yang dulu biasa mereka lewati saat pulang sekolah kini sudah meluas, menyempit, atau bahkan hilang sama sekali. Dunia itu perkembangannya mengerikan, setidaknya itulah yang menyapa lembut pikiran mereka sekarang.

Rumah mereka yang lama masih utuh, tetapi lingkungannya sudah sedikit berubah. Dulu suasana sekitar rumah mereka sepi dan pohon masih agak sedikit. Tetapi sekarang sudah banyak rumah lain di sekitarnya. Pohon-pohon juga lebih rimbun daripada yang sebelumnya. Memberikan kesan sejuk dan hijau. Toko roti kecil yang ada di depan rumah mereka dulu kini sudah menjadi toko roti yang cukup besar. Terlihat para pembeli tak henti-hentinya keluar masuk dari toko.

"Apa Norita-kun masih ada di sana ya?" tanya Hotaru setengah berbisik pada Nagisa. Nagisa menggindikkan bahunya, lalu menarik tangan Hotaru untuk memasuki toko tersebut. Keduanya memasuki toko roti tersebut pelan. Pelan karena mereka bagaikan kupu-kupu diantara burung. Mungil dan samar, seolah-olah berkamuflase dengan dinding toko yang dicat biru. Begitu mudah diombang-ambing oleh massa. Nagisa dan Hotaru agak heran kenapa mereka merubah catnya menjadi biru. Dulunya cat di toko tersebut warnanya merah dan oranye.

"Sekarang benar-benar luas ya..." gumam Nagisa pelan. Walau entah kenapa Hotaru masih bisa mendengarnya dengan jelas dan mengangguk. "Hotaru," Nagisa menunjuk sebuah roti yang ada di sebelahnya. Hotaru menoleh, lalu sedikit tersentak sebelum akhirnya tersenyum lembut.

"Itu roti yang biasa kita beli dulu. Kita selalu membelinya di sini. Aku kaget mereka masih menjual roti itu, bahkan sampai sekarang." Nagisa mengangguk.

Keduanya kembali memperhatikan perubahan bentuk dan barang-barang di toko itu. Bahkan sekarang ada meja dan kursi untuk duduk, jadi pembeli bisa langsung memakannya di tempat. Dulu bahkan bangku untuk menunggu pesanan pun belum ada. Toko roti yang dulunya kecil dan kurang memadai sekarang sudah berkembang sangat jauh.

"Nagisa? Hotaru?"

Terkejut, Nagisa dan Hotaru menoleh refleks ke arah suara sang pemanggil. Keduanya mendelik ketika melihat orang yang memanggil mereka.

"Norita-kun?!" pekik keduanya. Norita Yuuji, salah satu teman mereka semasa kecil selain Karma.

"Oh~ Kalian sudah kembali! Duduklah! Aku akan bawakan roti kesukaan kalian! Aku masih ingat lho~"

Dengan cepat, Nagisa dan Hotaru menggelengkan kepala sambil mengibaskan kedua tangan mereka dengan cepat.

"Ah ah ah! Tidak usah! Kami tidak bawa uang!" keduanya menjawab bersamaan. Entah kenapa kalau suara mereka digabung, agak sulit untuk membedakan mana suara Nagisa dan mana suara Hotaru.

"Gratis untuk kalian!" seru Yuuji senang. Nagisa dan Hotaru menghela napas pasrah.

-10 menit setelahnya-

"Jadi, kapan kalian kembali?" tanya Yuuji sambil mengunyah rotinya. Nagisa dan Hotaru saling pandang, lalu menggeleng. Memutuskan untuk merahasiakan ini. "Apa kalian masih tinggal di rumah depan?" Yuuji bertanya lagi. Keduanya menggeleng. "di mana rumah kalian yang baru?"

"Rahasia."

"ARRRGGHH!"

Nagisa dan Hotaru tertawa kecil. Sejak awal mereka memang sudah memutuskan untuk merahasiakan segalanya dari teman-teman semasa kecil mereka. Oh, pengecualian untuk Karma. Yah, karena mereka sangat dekat dengan Karma, mereka bisa sedikit lebih terbuka. Lagipula Karma orang yang bisa menjaga rahasia dan bertanggung jawab. Ehm, hanya berlaku untuk mereka sih.

"Jadi, apa yang boleh kutahu?" tanya Yuuji. Hotaru menggindikkan bahu, sementara Nagisa tertawa hambar. "Haaah...," Yuji membuang napas, agak kesal. "Kalau begitu, kalian sekolah di mana? Aku ingin satu sekolah lagi dengan kalian! Pasti seru!" tanya Yuuji dengan api semangat yang agak kelewat luar biasa.

"Belum tahu," keduanya menjawab bersamaan. Antara kebohongan dan kejujuran. Mereka memang sudah menentukan untuk sekolah di tempat yang sama dengan Karma, tetapi keputusan itu sendiri belum benar-benar final. Di sisi lain, mereka memang tidak ingin Yuuji satu sekolah dengan mereka. Hampir segalanya bersifat rahasia. Dan alasan lain lagi, bahaya kalau Karma dan Yuuji bertemu. Mereka itu rival abadi sejati tanpa rasa persahabatan dan persaudaraan sama sekali. Murni persaingan dan permusuhan.

"Kalau begitu, mau sekolah di tempatku? Kepala sekolahnya adalah ayahku, jadi kalian mungkin bisa lebih cepat beradaptasi dan nyaman di sana!" tawar Yuuji, setengah memaksa. Keduanya menggeleng cepat. Dalam hati, pikiran mereka sudah kalut mencari kebohongan untuk menghindar. "Kenapa?". Akhirnya pertanyaan legenda itu keluar juga.

"Oh oh, karena... karena..." Hotaru panik. Dia tak bisa memikirkan kebohongan untuk menjawab.

"Ka-karena itu rahasia! Iya kan Hotaru? Hehe..." Nagisa tertawa hambar.

"Iya iya! Karena rahasia!" Hotaru ikut tertawa hambar. Yuuji mengernyit bingung, tapi akhirnya tetap menerima jawaban abstrak tersebut. "Nagisa, kalau kita di sini terus, yang ada kita hanya akan berbohong. Lebih baik kita pergi secepat mungkin," bisik Hotaru. Nagisa mengangguk.

"Ka-kalau begitu, kami pergi dulu. Masih ada hal yang harus kami urus," pamit Nagisa.

"Baiklah. Lain kali datang ke sini lagi ya!"

Nagisa dan Hotaru hanya mengangguk, lalu secepat mungkin keluar dari toko tersebut. Tepat setelah mereka keluar, ponsel Nagisa dan Hotaru bergetar bersamaan. Mereka membukanya. Dari grup si kembar dan Karma.

Red Devil: Hooi~ Kalian ke mana saja? Tidak tersesat kan?

Imajiner amarah muncul di sudut kepala Nagisa dan Hotaru. Dengan cepat, keduanya segera membalas pesan (menyebalkan) Karma.

Blue Rabbit: CUMA KARENA SUDAH LAMA KAMI PERGI BUKAN BERARTI KAMI LUPA DENGAN JALAN SEKITAR RUMAH KAMI SENDIRI!

Blue Serpent: Aku dan Hotaru ada di depan rumah kami yang lama. Mana mungkin kami tersesat.

Red Devil: Hotaru, capslock~ Nagisa, terlalu datar~

Blue Serpent: Nama onlinemu kelewat sesuai dengan pesan yang kau kirim.

Blue Rabbit: *Nods*

Red Devil: *Smirk*

Red Devil: 22 Desember 20XX. Karma-san sebentar lagi ulang tahun! Aku tidak tahu apa yang harus kuberikan untuknya! Bagaimana ini?! Maksudku, kata Karma-san, aku adalah teman pertamanya. Aku ingin memberikan sesuatu yang khusus baginya. Ini pertama kalinya aku dan Hotaru akan merayakan ulang tahun Karma-san! Aku sangat gugup!

Blue Serpent: DIARY-KU! KARMA-KUN, KALAU KAU MASIH MEMBACANYA, TUTUP! TUTUP SEKARANG JUGA!

Red Devil: 22 Desember 20XX. Karma-kun sebentar lagi ulang tahun! Aku tidak tahu apa yang harus kuberikan untuknya! Bagaimana ini?! Maksudku, kata Karma-kun, aku adalah salah satu teman terbaiknya.. Aku ingin memberikan sesuatu yang khusus baginya. Ini pertama kalinya aku dan Nagisa akan merayakan ulang tahun Karma-kun! Aku sangat gugup!

Blue Rabbit: KARMA!

Red Devil: Kalian unik ya. Isi diary kalian hampir sama. Hanya ada sedikit perubahan. Lalu yang tanggal 26, isinya malah sama persis! Tinggal ganti nama saja.

Blue Rabbit: TUTUP!

Blue Serpent: TUTUP!

Red Devil: Oke oke. Aku tutup sekarang. Tapi diary itu sudah lama sekali ya?

Blue Rabbit: Akabane Karma.

Red Devil : Iya iya. Sudah aku kembalikan ke tas kalian kok!

Dengan itu, Nagisa dan Hotaru menutup ponsel mereka sambil bernapas lega. Setelah sedikit mengobrol, keduanya langsung menuju rumah. Sangat berbahaya apabila seorang Akabane Karma ditinggal sendiri di rumah mereka. Privasi mereka pasti bisa-bisa dikuliti habis-habisan. Itu anggapan mereka saja sih. Karma sebenarnya masih cukup menghargai privasi mereka, dan dia tau batas-batas mana yang bisa dia lalui. Keduanya terlalu berharga untuk Karma lepaskan. Dia akan berusaha tetap menjaga Nagisa dan Hotaru untuk tetap bersamanya. Mungkin itulah alasan kenapa Karma sangat membenci seorang Norita Yuuji. Sangat benci sampai mendengar namanya saja sudah muak.

°•°•°•°

Nagisa POV

"Jadi?" Entah kenapa tiba-tiba Karma-kun bertanya. Aku dan Hotaru saling pandang, lalu menoleh pada Karma. Gagal paham. "Kalian jadi tidak sekolah di tempat yang sama denganku?". Oh, jadi itu maksudnya. Hotaru tampak berpikir keras.

"Yah, mungkin. Tapi ingat, kami berada satu tahun di bawahmu untuk saat ini," Hotaru menjawab. Karma-kun terdiam. Tampaknya memikirkan sesuatu.

"Apa kalian bisa mengerjakan soal setingkat kalian dan setingkatku?"

"Huh?" Aku dan Hotaru mengerjapkan mata bingung. Kami mengerti apa yang dia tanyakan. Tentu saja. Yang kami tidak mengerti adalah apa alasan Karma-kun menanyakan hal itu. Karena Hotaru tampak masih berpikir, aku menjawab lebih dulu.

"Untuk setingkat kami, kami sudah cukup bisa. Tapi untuk yang setingkat di atas kami... mungkin kami hanya bisa mengerjakan bagian awalnya."

"Itu sudah lebih dari cukup. Dengar, di sekolahku kalian bisa lompat kelas setahun. Caranya, kalian harus menguasai 85% pelajaran yang ada di tingkat kalian. Nah, kalian sudah bisa menyelesaikan materi untuk tingkat kalian, itu sudah cukup. Kalian bisa menyelesaikan setidaknya 25% materi yang ada di tingkatanku, bisa dianggap sebagai bonus. Biayanya dua kali lipat dari SPP. Jadi bagaimana?"

Aku dan Hotaru saling pandang. Sejujurnya ini tawaran yang bagus. Tapi masalah biaya itu... aku agak meragukannya. Hotaru sendiri tampaknya memiliki pikiran yang sama persis denganku. Terlihat dari keraguan di matanya. Kalau biaya tes sudah dua kali lipat dari SPP, bagaimana dengan keperluan sekolah yang lainnya? Masalah biaya untuk makan saja belum selesai.

Karma-kun sendiri tampaknya mengerti. Karena dia mengambil dompetnya dan menunjukkan dompet itu kepada kami.

"Aku yang membiayai. Kan kita sudah setuju kalau aku akan membantu masalah finansial kalian selama satu tahun," Karma-kun menjawab santai. Aku sweatdrop.

"Makanya kubilang perjanjian macam apa itu!" aku berteriak kesal dengan anggukan Hotaru di sampingku. Karma-kun tertawa kecil sambil menyimpan kembali dompetnya.

"Jadi, bagaimana?" tanya Karma-kun lagi. Aku dan Hotaru saling pandang.

"Sia-sia kami menjawab. Kami menolak pun akan tetap kau lakukan. Hentikan kebiasaan bertanyamu kalau pada akhirnya pun tetap kau lakukan meski kami tidak setuju," aku menjawab sambil menyandarkan kepala di tangan kananku. Karma tertawa lagi.

"Kalau begitu pemecahan masalah sudah diputuskan!"

'sudah dipaksakan', aku mengoreksi dalam hati.

"Kalian akan mendaftar lusa, dan tes masuknya minggu depan. Aku harap kalian mengerti atass kebijakanku kali ini."

'SAMA SEKALI TIDAK BIJAK!' aku berteriak kesal dalam hati, lagi.

"SAMA SEKALI TIDAK BIJAK!" Hotaru berteriak kesal. Eh lho? Kok sama? Meh. Just screw it, Nagisa. She is my twin, after all. Aku menyindir diriku sendiri.

"Ngomong-ngomong, kalian barusan ke rumah kalian yang lama kan?" Karma bertanya. Untuk beberapa alasan, aku tidak menngerti dengan nada gelap yang dia selipkan diantara kata-katanya itu. Aku dan Hotaru hanya mengangguk sebagai jawaban. "Ah, berarti kalian bertemu dengan Norita sialan itu ya?" Nadanya sangat manis. Ah, walaupun begitu kalau kasusnya ini sih, gawat. Aku dan Hotaru menyengir saja. Pasrah. God. Please help me and my twin.

•TO BE CONTINUED•


A/N: Sebenarnya chapter ini seharusnya dipublish tanggal 26 Desember nanti. Tapi karena ternyata chapter ini selesai lebih cepat dari yang diperkirakan, jadi aku publish lebih cepat. Karena aku ada UAS, jadi fic ini mungkin akan hiatus sekitar dua minggu atau kurang. Aku usahakan tanggal 26 nanti atau kalau bisa sebelum tanggal 26 sudah upload chapter 7 ^^. Makasih buat semua yang udah favorite dan review cerita ini. Buat yang review pakai log in, aku sudah balas lewat PM. Buat yang nggak log in, aku balas di chapter selanjutnya ^^. Sampai ketemu di chapter selanjutnya!

.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Balasan buat review dari No One:

Baper sama lagunya T_T. Makasih ya buat semangatnya ^^!

.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-