Disclaimer: Semua karakter disini bukanlah milik author. Author hanya memakai mereka sebagai bagian dari cerita.

Warning: Author newbie, beberapa GenderSwitch!Character, bahasa aneh, dan tata cara penulisan sangat mengenaskan. (Dan ada beberapa adegan kekerasan.-.)

(Sebenarnya untuk genre dan rating, HanakoKim bingung mau ditempatin dimana-_-;;)

Jangan dibaca kalau kalian tidak menyukainya.

You've been warned ^^;)/

.

.

.

.

"Apa yang kau lakukan malam-malam begini?"

Joonmyeon terlompat begitu mendengar suara itu. Suara yang dikenalnya. Ia membalikkan sedikit tubuhnya dan melihat sosok laki-laki tegap berdiri disana sambil memasukkan kedua tangannya dalam saku mantelnya. Lututnya seketika melemas begitu melihat sosok tuannya tengah menatapnya dengan wajah dingin.

"Aku sempat melihatmu berdiri didekat pintu itu," Hangeng mendekat, "aku pernah bilang padamu untuk tidak mendekati pintu itu, kan?"

Joonmyeon hanya menunduk. Ia tak berani menatap wajah tuannya. Dan seketika, tangannya ditarik dengan kuat oleh Hangeng. Joonmyeon hendak berteriak namun mulutnya segera ditutup dengan kuat oleh Hangeng. Ia kemudian ditarik masuk kedalam ruang kerja Hangeng.

Hangeng segera menghempaskan tubuh Joonmyeon ke lantai dan segera mengunci pintu ruang kerjanya. Joonmyeon sangat ketakutan saat itu juga. Kejadian beberapa waktu yang lalu masih membekat dalam ingatannya dan ia tak mau kejadian itu terulang kembali.

"Kau. Masih tidak mendengarkanku juga, hm?" Ucap Hangeng yang kini telah berjongkok didepan Joonmyeon, "jangan dekati pintu itu. Jangan sekali-sekali mencari tahu tentang pintu itu. Kenapa tidak mau dengar,hm?" tangannya mulai mengelus pelan rambut Joonmyeon.

Dan demi apapun juga, Joonmyeon sangat ketakutan. Dengan cepat, ia menjauhkan kepalanya dan ia mendengar suara tawa tuannya.

"Ada apa dengan pintu itu. Apa yang membuatmu ingin tahu?" Tanya Hangeng pelan namun dalam waktu yang bersamaan, ia menatap tajam sosok Joonmyeon yang sedang ketakutan. Joonmyeon hanya menggeleng pelan, ia tak berani menjawab pertanyaan tuannya.

"Hei, dengarkan aku. Tak ada apa-apa di pintu itu…" ucap Hangeng sambil mengelus wajah Joonmyeon, "jangan dekati pintu itu lagi. Kenapa tak mau dengar, hm?" Joonmyeon hanya diam. Ia tak tahu harus berbuat apa. Disatu sisi ia ketakutan dan disisi lain, ia merasa jijik dengan perlakuan tuannya ini. Ingin rasanya ia menangis saat itu juga.

"Jawab aku!" Seru Hangeng sambil menampar wajah Joonmyeon dengan kuat. Kemudian Hangeng meraih wajah Joonmyeon dan kembali menamparnya, "kenapa tak mau dengar?!"

Joonmyeon tak dapat menjawab pertanyaan Hangeng, selain sangat ketakutan, kedua wajahnya sangat sakit. Ia hanya meringis kesakitan dan Hangeng nampak puas dengan apa yang barusan ia lakukan. Hangeng kemudian mengeluarkan pisau lipat dari saku mantelnya dan menarik tangan kiri Joonmyeon.

Joonmyeon tak tahu apa yang ada dalam pikiran tuannya ini. Apa ia akan menyayat tangannya lagi? Tuannya ini memang sudah tak waras. "Lihat bekas sayatan kemarin. Apa perlu ditambah lagi? Kau tidak mau mendengar perkataanku."

"Tidak… jangan…" Lirih Joonmyeon, "jangan lagi…"

Hangeng kemudian tertawa, "kau tahu, aku suka saat mendengar orang-orang memohon seperti itu."

Hangeng kemudian menyayat lengan Joonmyeon perlahan dengan pisaunya. Membuat garis panjang dari siku sampai pergelangan tangan Joonmyeon. Joonmyeon kemudian meringis kesakitan, air mata tak terasa mengalir dari kedua matanya, "tidak, tidak, tidak…"

"Kau tak mau mendengarkanku. Aku tak punya cara lain." Ucap Hangeng dengan tenang. "Kau akan terbiasa seperti Zitao."

Tao? Ada apa dengan Tao? Apa Hangeng sering memperlakukan Tao seperti ini juga? Tapi kenapa?

"Lihat wajahmu. Aku yakin kau pasti berpikir, kenapa aku memperlakukan Tao seperti ini juga, bukan?" Tanya Hangeng, "tenang, tenang, tak apa… akan aku jawab."

Hangeng kemudian menaruh dua jari di pundak Joonmyeon seraya mendekatkan mulutnya ke telinganya dan membisikkan sesuatu dengan sangat pelan, Joonmyeon dapat merasakan deruan nafas Hangeng saat ini, membuatnya merinding.

"Dia mencoba melaporkan perbuatanku kepada inspektur di kota… dan satu-satunya cara agar dia bungkam adalah dengan menyiksanya… aku tidak melakukannya dengan kasar." Ucap Hangeng santai.

Sungguh, andai Joonmyeon memiliki tenaga lebih, ia ingin sekali memukul tuannya ini. Joonmyeon ingin sekali memukul wajah menjijikan tuannya ini. Sekarang semua jelas. Joonmyeon berasumsi bahwa sikap Tao yang sangat tertutup dan kasar itu akibat perbuatan ayahnya sendiri. Tao menjadi kasar pada orang lain karena ulah ayahnya sendiri.

"Dasar biadab." Gumam Joonmyeon pelan.

Hangeng yang mendengar ucapan Joonmyeon kemudian terkekeh pelan. Namun wajahnya kemudian berubah menjadi menyeramkan, seperti menunjukkan kemarahan padanya. Hangeng kembali mengeratkan pisau yang ada pada genggamannya dan hendak menyerang Joonmyeon kembali. Joonmyeon merasa tak berdaya saat itu. Selain ketakutan, sebelah tangannya juga sangat sakit saat itu.

'Kris, tolong aku!' Entah mengapa, Joonmyeon spontan menyebut nama Kris. Ujung pisau sudah hampir mengenai tangan Joonmyeon yang satunya lagi sebelum suara seperti hantaman terdengar tak jauh dari sana.

'BRUAK'

Hangeng segera menghentikan tangannya dan melihat ke asal suara. Ia dan Joonmyeon tahu persis bahwa suara itu berasal tak jauh dari sana, tepatnya berasal dari ruangan tempat Kris di kurung. Dengan sigap, Hangeng segera menyimpan pisaunya kembali di saku mantelnya dan pergi meninggalkan Joonmyeon yang bergetar ketakutan.

Tak menyiakan kesempatan bagus itu, Joonmyeon segera berdiri memegangi tangannya yang terluka. Dengan kaki yang bergetar, ia mencoba berlari secepat mungkin dari sana, mengabaikan darah yang mulai mengotori lantai rumah tersebut. Entah suara apa itu, ia tak peduli. Ia harus lari.

Kembali ke Hangeng, ia sekarang sudah berdiri di depan ruangan Kris. Ia menatap dengan pandangan geram. Ia tidak mungkin salah dengar. Jelas-jelas suara itu berasal dari sini. Ia kemudian menggerak-gerakkan daun pintu, mencoba membuka ruangan itu. Sesekali ia mendobrak pintu tersebut.

"Ayah?" suara Luhan kemudian membuat Hangeng menghentikan aktivitasnya. Ia memalingkan wajahnya ke belakang dan agak kaget begitu melihat sosok kedua putrinya sedang berdiri di belakangnya memegang lilin.

"Apa suara keras tadi berasal dari dalam sana?" Tanya Luhan, "ayah juga mendengarnya?"

Hangeng hanya mengangguk, "Ya, aku mendengarnya. Makanya aku coba buka. Dimana kunci ruangan ini disimpan?"

Zitao kemudian maju dan mengelus pintu keemasan tersebut. "Itu artinya… kakak…"

Luhan kemudian mendekati Tao dan berdiri disampingnya. "Tao, bisa jadi itu suara musang yang masuk lewat pekarangan. Siapa tahu jendela ruangan ini pecah, jadi hewan-hewan liar dapat masuk dan menjatuhkan barang yang ada di dalam…:"

"Tidak, di dengar dari suaranya, kurasa hewan sekecil musang tak akan bisa menjatuhkan barang yang sangat besar. Apa lagi suara benda yang jatuh itu sangat besar," Tukas Tao, "Itu pasti Kakak. Kakak masih hidup."

Luhan hanya memandangi wajah Tao yang berbinar, disana seolah terlukis harapan yang sangat besar. Ia juga memandangi wajah ayahnya, dan disana nampak wajah seolah menampakkan kebencian dan ketakutan. Luhan hanya menghela nafas pelan. Entah itu benar Kris atau bukan, nampaknya ia harus bergerak sendiri.

"Luhan, Tao, kembali ke kamar kalian," Ucap Hangeng, "besok pagi kita harus datang ke undangan walikota. Ayo cepat."

"Baik, Ayah…" Ucap Luhan dan Tao. Tao segera pergi ke kamarnya dengan wajah berbinar sedangkan Luhan pergi ke arah yang berlawanan.

"Luhan, kau mau apa? Kembali ke kamarmu." Ucap Hangeng.

"Aku mau minum, Ayah…" Gumam Luhan "aku haus."

"Setelah itu segera ke kamarmu."

"Baik, Ayah…"

Luhan segera pergi ke dapur. Namun dalam perjalanannya, ia merasa ada yang janggal. Ada bintik-bintik merah di sepanjang koridor. Bintik tak beraturan seperti cairan yang terjatuh darigelas yang bocor, namun berwarna kemerahan,terpantul dari lilin yang ia bawa.

Ia berhenti sebentar dan melihat ke arah belakang, sekilas, ia melihat ayahnya masuk ke ruang kerjanya, bukan ke kamarnya. Luhan kemudian membelalakan mata, ia segera berlari ke arah dapur .

'Joonmyeon!' pikirannya saat itu hanya terpacu pada Joonmyeon. Karena tak mungkin para pekerja yang lain—apalagi mereka itu laki-laki membiarkan begitu saja saat diperlakukan ayahnya. Tentu, siapa lagi yang berani berbuat seperti itu selain ayahnya?

'Bedebah itu…'

Luhan segera mengetuk pintu kamar Joonmyeon dengan kuat, berharap Joonmyeon tidak apa-apa di dalam sana. Beberapa kali ia menggerak-gerakan daun pintu sebelum pintu tersebut di buka dan menampakkan sosok Joonmyeon yang hanya menampakkan kepalanya.

"Biar aku obati tanganmu." Ucap Luhan segera. Ia mencoba menerobos masuk ke dalam, namun Joonmyeon menahan pintu.

"Tidak… apa maksud—"

"Bedebah itu melukaimu lagi, kan? Biarkan aku masuk, Joonmyeon." Tukas Luhan. Mendengar nada bicara Luhan, Joonmyeon mundur dari pintu dan mempersilakan Luhan untuk masuk. Luhan menaruh lilin yang ia pegang di atas nightstand kamar Joonmyeon dan segera menghadap Joonmyeon.

"Oh, astaga…" Luhan berkata seraya menutup mulutnya. Ia sangat kaget begitu melihat tangan kiri Joonmyeon sudah dihiasi luka sayatan yang lebih dalam dari sebelumnya. Luka kali ini lebih parah. Dari siku hingga pergelangan tangan Joonmyeon nampak satu garis memanjang dengan darah yang masih mengucur sampai ke lantai. Nampak Joonmyeon memegang kain berwarna putih di tangan kanannya yang sudah berwarna merah.

"Aku…" Gumam Joonmyeon.

"Tunggu disini." Luhan segera berlari keluar.

Joonmyeon hanya menatap Luhan yang berlari keluar kamarnya. Ia merasa pusing saat itu juga. Ia kemudian duduk di ranjangnya sambil menekan-nekan luka itu, berharap darah segera berhenti menetes.

'Aku tidak tahan…' gumam Joonmyeon, 'aku ingin pergi saja.'

Tak lama, Luhan sudah kembali dengan membawa kotak berwarna cokelat dan mangkuk berisi air. Luhan membuka kotak yang ternyata berisi obat-obatan dan perban itu dan mengeluarkan botol obat merah serta beberapa macam kain berwarna putih. Ia kemudian mencelupkan salah satu kain ke mangkuk yang berisi air berwarna putih juga dan mulai melakukan aksinya. Mengobati Joonmyeon.

"Argh, sakit…" ringis Joonmyeon, "astaga, sakit sekali…"

Luhan tidak menanggapi Joonmyeon dan terus melanjutkan mengobatinya. Dalam hatinya ia mengutuk ayahnya sendiri. Saat ini ia sedang sangat marah dan kesal pada ayahnya. Ingin sekali ia memarahi ayahnya. Namun bila itu ia lakukan, kemungkinan besar ia akan menjadi seperti Joonmyeon juga.

"Tahan…" ucap Luhan sebelum ia melilit tangan Joonmyeon dengan perban, "Maaf…"

"Untuk?" Tanya Joonmyeon sembari meringis.

"Ayah. Sudah dua kali dia memperlakukanmu seperti ini." Jawab Luhan.

"Itu…"

"Apa yang membuatnya melukaimu?" Tanya Luhan lagi.

Joonmyeon memilih diam dan tidak menjawab pertanyaan Luhan.

"Aku sarankan padamu. Jangan pernah menampakkan dirimu di depannya jika kau sedang sendirian." Ucap Luhan, "cukup… cukup aku dan Tao saja. Jangan orang lain…"

"A-apa maksudmu… Kau dan Tao…"

"Ada beberapa alasan saat aku tak bisa menyangkal atau menolak tiap perbuatan atau perkataan Ayah." Gumam Luhan pelan, "salah satunya ini…"

Joonmyeon memandangi Luhan yang dengan telaten membalut perban kedua di lengannya. "Apa karena itu juga kau dan Tao selalu memakai baju lengan panjang?"

"Tidak juga. Kau tahu, kan… daerah sini tak pernah ada matahari? Setiap hari selalu mendung, hujan, badai, berangin, atau turun salju. Bahkan saat musim panas saja di sini selalu mendung." Jawab Luhan sambil terkekeh.

"Apa Tuan Hangeng juga memperlakukan Ibuku seperti ini?" Tanya Joonmyeon.

Luhan menggeleng. "Tidak, ibumu tak pernah berinteraksi dengan ayah. Pun kalau iya, ayah mungkin hanya menyuruhnya untuk membersihkan beberapa tempat. Ibumu lebih sering berinteraksi dengan aku, Tao, dan para pekerja lain."

"Syukurlah…" gumam Joonmyeon lega.

Luhan memandangi wajah Joonmyeon yang nampak lega, ia kemudian meneguk ludahnya sebelum berbicara kembali, "Ne, Joonmyeon."

"Ya?" sahut Joonmyeon.

"Apa sebaiknya… kau berhenti saja?"

Pertanyaan Luhan tadi membuat Joonmyeon tersentak. Ia bingung, kenapa Luhan menyuruhnya berhenti?

"A-apa aku membuat kesalahan? Kenapa mau… memecatku?" Tanya Joonmyeon sambil sesekali meringis menahan sakit.

"B-b-bukan begitu, hanya saja… kau… disini… Kenapa? Kenapa kau tahan sekali? Padahal keluarga ini sudah sangat membuatmu tertekan. Berhenti saja, Joonmyeon. Kau terlalu berharga untuk diperlakukan seperti ini." Ucap Luhan,"kataku harus bicara apa pada ibumu?"

Joonmyeon hanya diam, begitu pula Luhan. Kemudian, Joonmyeon angkat bicara.

"Tidak perlu bilang apa-apa," ucap Joonmyeon, "karena aku tidak akan berhenti. Aku sudah di perintah ibu untuk melanjutkan pekerjaannya disini. Aku tidak akan berhenti, sungguh."

"Tapi Joonmyeon, kenapa…"

"Aku… tidak bisa. Tidak bisa." Mendengar ucapan Joonmyeon barusan, Luhan menghela nafas panjang dan memasang wajah bingung.

"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu," ucap Luhan sambil membereskan kotak obatnya, "tapi kalau kau tidak tahan dan ingin berhenti, bilang saja padaku."

"Ya, mengerti." Sahut Joonmyeon.

"Bersihkan darahmu di lantai besok pagi. Dan jangan terlalu memaksakan pekerjaanmu." Ucap Luhan.

"Ah, ya. Terima kasih.

Luhan hanya menggeleng, "istirahatlah."

Sesaat setelah pintu ditutup, Joonmyeon langsung mendudukan dirinya diatas ranjang dan mulai menangis.

"Aku juga ingin pergi, aku juga ingin lari, tapi tak bisa…" gumam Joonmyeon pelan, "Kris membutuhkanku… aku tak bisa meninggalkannya."

"Marionette tak bisa hidup tanpa Manipulator, kan"

.

.

.

.

.

.

"Joonmyeon! Joonmyeon! Joonmyeon!" seru Kris yang mencoba memutar kenop pintu. Namun nampaknya kenop didalam tak mau berputar. Beberapa waktu yang lalu, Kris sedang asyik melihat salju yang turun dari dalam ruangannya. Entah mengapa, setiap Joonmyeon datang menemuinya, ia merasa sangat hangat. Kekosongan dalam dirinya seakan terisi kembali. Ia merasa… ia tidak lagi jadi manusia dingin.

Ia juga merasa tidak kaku lagi, tubuhnya mulai hangat, pikirannya juga tidak melulu soal kejadian yang pernah membuatnya jadi seperti ini. Ia sudah mulai lebih banyak memikirkan Joonmyeon.

Namun, ada satu hal yang agak membuatnya risih. Bagian dada sebelah kirinya terasa agak sakit. Seolah di tonjok dari dalam.

Dan saat sedang asyik memandangi salju yang jatuh itulah, Kris seolah mendengar suara Joonmyeon meminta tolong padanya. Dan seolah berada dalam film, ia melihat Joonmyeon sedang hendak disiksa ayahnya di ruang kerjanya. Sontak, ia segera berdiri dari kursinya dan berjalan dengan kaku kearah pintu dan mencoba membukanya.

Dalam bayangannya, Joonmyeon nampak ketakutan. Dan ia juga melihat wajah mengerikan ayahnya. Wajah yang sama yang ayahnya tunjukkan saat dulu sering menyiksanya,juga menghukum kedua saudaranya. Wajah seorang psikopat.

Dan wajah itu membuat emosinya naik. Entah sudah berapa lama ia tidak merasakan emosi seperti itu. Karena putus asa tidak bisa membuka pintu dan bayangan Joonmyeon terputar dalam pikirannya, ia segera mendorong lemari yang ada sampingnya dengan kuat. Sehingga menyebabkan suara yang sangat besar.

Kris kemudian terduduk di lantai dengan nafas yang tersengal-sengal. Bayangan wajah Joonmyeon segera hilang dari benaknya. Dan tak lama kemudian, terdengar suara kenop pintu yang terdengar dari luar.

"Joonmyeon… tidak, bukan Joonmyeon. Bukan Angel… bukan, bukan..." gumam Kris.

Kemudian, pintu didobrak. Ia sedikit tersentak dan mendekatkan diri kearah pintu. Disana, ia dapat mendengar suara ayahnya, Luhan, dan Tao.

"Luhan…" gumam Kris.

Kris kemudian menjauhkan tubuhnya dan kembali duduk di kursinya sambil kembali memandangi salju yang turun.

"Joonmyaon… cepatlah datang… aku ingin bertemu…"

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

A/N: Cuma mau bilang, maaf ngaret. Entah ngapa tugas pada numpuk. Hahaha, maklumin,masih pelajar. Ah,ya, jangan lupa review. Tkss.