Rio tengah mengerjakan PR-nya di taman ketika dia mendengar suara familier yang belum lama dikenalnya menyapa halus. Rio menoleh pada orang yang barusan memanggilnya.

"Oh! Inari! Tidak menyangka bertemu denganmu di sini!" Rio membalas ramah. Nagisa tersenyum, lalu duduk di sebelah Rio.

"Kau bisa memanggilku Nagisa jika hanya berdua. Tapi aku harap kau memanggilku Inari ketika ada di situasi formal tertentu."

"Dengan senang hati. Kenapa Karma kemarin tidak masuk? Apa dia sakit?" Rio bertanya penasaran. Nagisa menggeleng sambil tersenyum. Untuk beberapa alasan, senyumnya agak menakutkan.

"Bolos," Nagisa menjawab dengan santai, walaupun aura disekitarnya cukup berat. Rio terkekeh. Seharusnya dia tahu ini sejak awal. Sakit adalah hal yang sangat langka bagi Karma, tetapi bolos sudah sangat biasa. Rio terkekeh lagi. Seharusnya ia tidak perlu heran. "Apa dia sering bolos seperti ini juga, untuk sekarang?" tanya Nagisa. Rio mengangguk.

"Minimal 18 jam pelajaran perminggu," Rio menjawab, lalu kembali menulis jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di PR-nya.

'ITU BAHKAN JAUH LEBIH BURUK DARI YANG DULU!' Nagisa membatin sangar. Setelah sedikit menenangkan dirinya, Nagisa melihat sedikit ke buku yang ditulis Rio. Baru saja Nagisa akan membuka mulut, Rio sudah mendahuluinya.

"Karma itu brilian. Dia salah satu orang paling cerdas yang pernah kutemui secara langsung. Tapi aku tidak mengerti kenapa dia begitu malas. Terkadang dunia tidak adil ya? Aku yang berusaha keras untuk mendapat nilai bagus hanya bisa mencapai peringkat tiga di kelasku. Dan dia yang sama sekali tidak belajar, justru berada di peringkat teratas. Haah..." Rio menghela napas berat. Nagisa tertawa hambar. "Bagaimana dengan saudara kembarmu? Imori itu," Rio bertanya.

"Maksudmu Hotaru? Baik, mungkin. Dia baru saja bertengkar dengan Karma-kun."

"Huh?"

"Hanya masalah wasabi. Tenang saja. Saat aku pulang nanti mereka pasti sudah kembali seperti biasa."

"Karma di rumahmu?"

"Un. Dia menginap kemarin. Percayalah, rumah kami hancur."

Rio tertawa terbahak-bahak. Yah, kalau pelakunya Karma sih, tak akan ada setitik pun keraguan di hati Rio. Tidak akan ada. Sudah pasti hancur. Hancur! Rio baru akan bertanya kembali ketika tiba-tiba ponsel Nagisa bergetar dengan tone tertentu. Dengan cepat, Nagisa membukanya. Tone itu berarti ada tiga pilihan. Dari Hotaru, dari Karma, atau dari grup mereka bertiga. Kali ini dari grup.

Red Devil: Nagi... kau dimana~?

Tipe merengek. Nagisa sudah hafal diluar kepala. Nagisa segera membalasnya, walau agak malas sebenarnya.

Blue Serpent: Tidak tahu. Apa masalahmu?

Blue Rabbit: PERCAYA TIDAK PERCAYA NAGISA! KARMA BARU SAJA MEMECAHKAN KACA JENDELA KAMARKU!

Blue Serpent: Akabane.

Red Devil: Maafkan aku... *sobbing*. Aku akan menggantinya sesegera mungkin.

Nagisa menghela napas, berusaha menenangkan diri.

"Woah! Kalian punya grup khusus?!" Rio menjerit histeris. Nagisa tersenyum.

"Ya. Kau mau bergabung, Nakamura-san?" tawar Nagisa.

"Nagicchi... kau malaikat biruku yang manis! Ini nomorku, dan ini usernameku." Nagisa segera mencatat nomor ponsel Rio, lalu mencari usernamenya dan memasukkannya dalam grup.

Blue Serpent menambahkan English Girl ke dalam grup.

Blue Serpent: Kuharap kalian tidak mempermasalahkannya.

Blue Rabbit: Siapa dia?

Red Devil: AKU MEMPERMASALAHKANNYA! RIO, KELUAR SEKARANG JUGA!

Blue Serpent: Tidak sebelum Hotaru setuju. Anggota grup ini ada tiga. Jadi kalau kita ingin membuat keputusan, harus ada dua orang yang setuju.

Blue Rabbit: Rio-San?!

English Girl : Yo! I'm sorry if I disturb your group.

Red Devil : YOU NOT FEEL SORRY AT ALL! GO AWAY!

English Girl : How rude...

Blue Rabbit: Karma! Tidak masalah Rio-san! Aku senang grup ini bertambah satu anggota.

English Girl: Dengar itu? Karma?

Red Devil: Geez.

Blue Rabbit: Kalian berdua sedang bersama kan? Kalian ada di mana?

Blue Serpent: Di taman depan rumah, sebenarnya...

Red Devil: THE HELL NAGISA!?

Blue Serpent: Karma-kun, bahasa.

Red Devil: Oke oke. Maafkan aku.

Blue Rabbit: Karma. Aku mendengarmu! Tadi dia bilang "Dasar orang polos".

Blue Serpent: Oh. Oke.

Blue Serpent keluar dari grup.

Red Devil: NAGISA?!

Blue Rabbit: Percuma. Dia tidak akan bisa membacanya. Dia sudah keluar dari grup. Salahmu, Kar.

Blue Rabbit menambahkan Blue Serpent ke dalam grup.

Blue Serpent keluar dari grup.

English Girl: Dia ada di sebelahku. Biar aku bicara dengannya! Ngomong-ngomong Kar, wajah Nagisa gelap, lho~

[Di sisi Karma dan Hotaru]

Hotaru hanya bisa cengengesan melihat sahabat setan merahnya berdiskusi dengan tembok sambil menunjukkan wajah kesal. Tak bisa ditebak kesalnya karena Nagisa keluar dari grup atau karena Rio masuk ke grup "persahabatan" mereka.

"Minta maaf sana ke Nagisa. Dia di taman depan rumah," Hotaru terkekeh.

"Geez. Aku tahu aku tahu!"

"Jangan lupa jendelanya."

"Iya."

"Besok Senin jangan bolos."

"..."

"Sonic Ninja terbit tuh."

"MANA?!"

"Ya ampun, histerismu luar biasa. Bercanda doang Kar."

Seketika itu kediaman Shiota... koreksi. Untuk saat ini, pakai Nagawa. Seketika itu kediaman Nagawa berada dalam titik kehancuran yang mengerikan. Diduga akibat kekesalan setan merah yang memang kadar kesabarannya cukup rendah. Hotaru sih, bangga-bangga saja. Maksudnya, biasanya kan Karma yang bikin orang kesal. Sekali ini Hotaru bikin keadaan berbalik, boleh dong merasa bangga?

°•°•°•°

"Hoo... jadi mungkin nanti kita sekelas?" tanya Rio. Nagisa mengangguk, sementara Karma hanya diam sambil membaca buku yang dibawanya dari rumah. Hotaru menaruh makanan yang mereka pesan di meja mereka. Tepat, mereka sedang berada di cafe tempat Hotaru bekerja.

"Yah, aku dan Imori tidak begitu pintar. Jadi mungkin kami akan ditempatkan di kelas E," Nagisa menjelaskan lebih jauh. Tidak sepintar Karma, tapi setidaknya mereka jauh lebih rajin dan disiplin dari si raja iblis itu. Rio mengangguk paham. Di sisi lain, Karma merasa seolah-olah nyamuk bagi kencan Nagisa dan Rio. Agak berlebihan sebenarnya. Salah Karma sendiri yang hanya menjawab singkat jika ditanya, dan hanya membuka mulut jika perlu.

"Apa yang kalian bicarakan?" Hotaru bertanya.

"Tentang sekolah. Ngomong-ngomong Nag- Inari, bisa kau panggil saja aku dengan nama Rio saja? Imori juga. Maksudku, benar-benar hanya Rio saja," Rio menjawab sekaligus bertanya. Nagisa dan Hotaru menggindikkan bahunya.

"Bukan masalah besar." Nagisa menjawab. Lagipula ketiganya sudah cukup dekat. Di sisi lainnya lagi, Karma merasa posisinya dan Rio tertukar. Oh, miris sekali nasibmu nak.

"Itu curang Inari! Kenapa kau masih memanggilku pakai 'Kun'? aku berteman denganmu lebih lama dari Rio lho!"

"Oh! Karma cemburu! CEMBURU!" Rio menjerit histeris, dan langsung terkena lemparan buku tebal dari Karma. "Ouch! Nagicchi... Karma jahat sekali...". Hotaru tertawa kecil, sementara Karma menyembunyikan wajah memerahnya dengan tangan.

"Inari, Rio," Nagisa mengoreksi sambil tersenyum masam. Kadar kecemburuan Karma : 65%. Tapi karena Rio membantunya untuk berbicara dengan Nagisa waktu itu, Karma memaafkannya. Hanya sekali ini saja.

"Rioo... Nagisa itu targetku lho ya!" Karma memperingatkan dengan suara frutasi.

"Aku tahu aku tahu~"

"Hah?" Nagisa bertanya kebingungan.

"SIALAAAN...!" Karma membantingkan kepalanya ke tembok cafe berkali-kali. Untungnya Nagisa agak polos untuk menangkap maksud dari kata-kata Karma tadi. Untuk sekali ini Karma bersyukur kalau Nagisa tidak peka. Itu menurut pandangan si duo iblis Karma dan Rio, sih. Hotaru memutar kedua bola matanya bosan. Tak sengaja, Hotaru menangkap pandangan Nagisa yang menatap ke arahnya. Keduanya saling bertukar senyum.

"Salah kalau Nagisa tidak sepeka itu. Ya memang terkadang dia tidak peka, tapi bukan berarti tidak peka sama sekali," Hotaru bergumam pelan.

"Huh? Tadi kau bilang sesuatu, Hota- Um, Imori?" tanya Rio. Hotaru tersenyum dan menggeleng.

"Mungki hanya perasaanmu saja, Rio. Aku kebelakang dulu! Kalian pulang saja duluan, tidak perlu menunggu. Lagipula aku baru selesai jam delapan nanti," ucap Hotaru sambil menunduk ke arah jam tangan Nagisa. Jam lima.

"Oh, kau yakin?" tanya Karma. Sebelum Hotaru bisa menjawab, Nagisa menarik tangan Karma dan Rio keluar cafe.

"Sampai nanti, Imori!" Nagisa melambaikan tangannya. Hotaru balas melambaikan tangan, lalu masuk ke ruang belakang. Oh seandainya Karma tahu kalau itu salah satu rencana Hotaru supaya Karma bisa pendekatan kepada Nagisa SENDIRIAN di rumahnya. Tidak, Nagisa tidak ikut dalam rencana Hotaru. Sudah kebiasaan. Jika Hotaru mengatakan atau meminta sesuatu, Nagisa akan mempercayainya atau mengabulkannya. Dan hal ini tentunya juga berlaku untuk Hotaru.

°•°•°•°

Karma POV

Dunia ini penuh dengan hasil imitasi surga. Sangat banyak dan bisa ditemukan dimanapun. Sama halnya seperti neraka. Dunia ini juga terkadang dipenuhi oleh siksa neraka ataupun azab kubur (A/N: Fokus hoi! Fokus!). Hal-hal seperti itu bisa terjadi pada siapapun. Termasuk diriku. Di rumah. Bersama Nagisa. Sendirian. Ini antara keberuntungan dan penyiksaan. Beruntung karena aku bisa lebih bebas bicara dengan Nagisa. Tersiksa karena ada beberapa godaan tertentu. Aku curiga. Jangan-jangan Hotaru sengaja membuat kami berdua disini. Secara, Hotaru kan dari kecil sudah mejadi ibu dari para penjodoh.

Jangan sekalipun berpikir hal-hal yang "itu"! Maksudku godaan itu, menahan diri untuk menyatakan rasa suka. Aku masih polos dan belum tercemar oleh pikiran kotor (A/N: Definitely it is a lie). Kalaupun ada terselip pikiran kotor, hanya sedikit. Paling hanya membayangkan tubuh Nagisa sambil masturbasi (A/N: See?). Yang lebih memalukan, saat melakukan itu aku tidak mengunci kamar mandi dan Hotaru melihatku. Jangan tanya. Tentu saja jiwa yanderenya sebagai seorang saudara kembar langsung membara. Aku beruntung, hanya "sedikit" tamparan di pipi saja sebagai pelampiasannya. Biasanya sih lemparan vas bunga dan piring ataupun benda-benda keras mudah rusak/pecah lainnya.

Aku luar biasa beruntung, Hotaru tidak memberi tahukan tragedi (?) itu kepada Nagisa. Setidaknya untuk sekarang... ATAU JANGAN-JANGAN DIA MEMBERITAHUKANNYA?! Karena Nagisa tengah memandangku dengan pandangan yang seolah-olah mengatakan,

"Kau menjijikkan."

Kurang lebih begitu. Tunggu sebentar. DIA BENAR-BENAR MENGATAKANNYA!

"De-dengar Nagisa! I-ini tidak seperti yang kau pikirkan!" aku berusaha membantah.

"Tidak seperti yang aku pikirkan? Tapi buktinya ada di depan mataku. Kenapa kau jadi bodoh?" Ulangi sekali lagi. Dia bilang buktinya ada di depan matanya? Maksudnya, apa dia melihatnya secara langsung?! Tidak tidak tidak! Mustahil! Dia sudah tidur waktu itu! Aku yakin! Hanya Hotaru yang melihat! "Sudahlah. Jangan terlalu banyak membantah. Menggigit kuku itu kebiasaan buruk. Hentikan itu!"

"Hah?" Aku melongo.

"Hah apa?" Kenapa Nagisa malah balik bertanya?

"Kuku?" Nagisa mengernyit, lalu mengangguk.

"Menggigit kuku itu menjijikkan. Kau pikir berapa banyak kuman yang kau telan?"

"Hah? Jadi maksudmu menjijikkan itu kuku?!" Aku setengah berteriak. Nagisa sedikit memiringkan kepalanya.

"Apa lagi?"

Aku menghela napas lega sambil menyandarkan punggungku ke dinding terdekat. Saking gugupnya karena hanya berduaan dengan Nagisa, aku sampai tidak sadar kalau aku menggigiti kukuku sendiri. Oh, benar. Aku melupakan sesuatu. Aku menolehkan kepalaku ke arah Nagisa.

"Hei, Nagi?" panggilku pelan. Dia menoleh. "Besok kau pendaftaran masuk sekolah. Kenapa kau tidak belajar saja sekarang? Aku bisa membantumu kalau kau mau," tawarku. Eh, walau mungkin sebenarnya lebih ke memaksa. Setuju tidak setuju, aku akan tetap membantunya. Nagisa menggeleng. Oh, aku tidak peduli sebenarnya. Ujung-ujungnya juga tetap kubantu.

"Tidak perlu, tapi terimakasih. Aku sudah janji dengan Hotaru untuk belajar bersamanya setelah dia pulang. Ah benar. Karma, apa hari ini kau menginap lagi?"

Ah. Tawaran tidak terduga. Aku awalnya sama sekali tidak berpikir untuk menginap. Tapi kalau Nagisa sendiri yang menawarkan... lain lagi ceritanya. Aku hanya akan menyiksa diriku sendiri kalau aku menolak. Mungkin uring-uringan di kamar. Dan, hei! Nagisa sudah mengilangkan panggilan kun itu! Aku akan merayakannya segera! Uh, tidak sekarang.

"Yah, tentu saja."

"Sampai kapan?"

"Sampai kau atau Hotaru mengusirku." Nagisa tertawa kecil. "Apa yang salah?" tanyaku.

"Kalau begitu artinya kau tinggal di sini terus! Mana bisa aku dan Hotaru mengusirmu. Kecuali kalau kami hanya bercanda. Atau kalau kau macam-macam."

Atau kalau kau macam-macam. Atau kalau kau macam-macam. Atau kalau kau macam-macam. Atau kalau kau macam-macam. Kata-kata itu terus terngiang di telingaku. Oh, ya. Benar juga. Kenapa tidak? Hotaru PASTI akan mengawasiku dengan ketat. Kecerobohanku juga sih. Lupakan. Selama aku tidak berbuat kesalahan lagi, aku akan baik-baik saja. Mungkin? Tepat sedetik setelah itu, pintu rumah Nagisa (dan Hotaru) terbanting keras

"AKABANE!"

Hotaru?

•TO BE CONTINUED•