CHAPTER 8

(Still Karma's POV)

"AKABANE!"

Hotaru?

"Hotaru, ada apa?" Nagisa bertanya dengan wajah heran.

"Aku akan menjawabmu nanti. Karma, ikut aku!"

"Hah? Aku? Aku salah apa?" aku bertanya di batas antara heran dan kesal. Hotaru merogoh sakunya dan mengayunkan sesautu di tangannya. Ponsel. Lalu? Oh, tunggu sebentar. God. ITU PONSELKU! Aku meninggalkannya? Ini aneh! Aku bukan orang yang ceroboh! Hanya sedikit pelupa, itu saja! Tidak tidak tidak, bukan itu masalahnya sekarang. Dengan wajah semarah itu, dia pasti melihat isi di dalamnya!

Wajah Hotaru cukup marah, walau aku bisa mengatakan kalau marahnya belum benar-benar di puncak. Biarkan aku berpikir. Pertama, dia memanggilku dengan nama belakang, dan dia menunjukkan wajah marah dengan sebelah tangan di pinggang. Berdasarkan pengalamanku dengan iblis biru ini... tidak. Iblis itu sebutan khusus untukku dari Nagisa (dan Hotaru juga, sebenarnya). Biar kuulangi sedikit. Berdasarkan pengalamanku dengan kelinci pemarah ini (A/N: Hotaru tidak pemarah, percayalah. Karma saja yang selalu membuat tensi orang lain naik dengan liar), kadar kemarahan Hotaru hanya sekitar 54%. Cukup dengan bicara baik-baik dan jujur, masalah selesai. Jangan sekali-kali mencoba berbohong pada Hotaru jika kadar kemarahannya diatas 25%. Jangan pernah, kecuali kau sanggup untuk menerima azab kubur lebih cepat dari yang kau bayangkan.

"Apa yang kau pikirkan?" bentakan kecil Hotaru membuatku kembali ke dunia nyata. Dengan cepat, aku menggeleng, lalu mengikuti Hotaru ke luar rumah. Nagisa menggindikkan bahu, lalu masuk ke dalam kamarnya. "Bisa kau jelaskan, apa MAKSUD dari gambar ini?" Hotaru bertanya dengan sedikit nada menuduh. Yah, aku berlebihan. Aku memang tertuduh, jadi wajar kalau Hotaru bertanya dengan nada sedikit menuduh. Aku mengambil ponselku dan melihat gambar yang ditunjuk Hotaru.

"Tunggu. Ini bukan tentang Nagisa?" aku mengernyitkan dahiku. Awalnya kukira Hotaru marah karena aku memiliki beberapa gambar Nagisa telanjang di kamar mandi. Jangan tanya padaku bagaimana caraku untuk mengambilnya. Gambar yang ditunjuk Hotaru adalah foto ketika dia dan Nagisa menangis karena bertengkar. Maksudku, itu memang memalukan. Tapi Hotaru bukan tipe orang yang malu karena hal itu. Hotaru menghela napas, lalu menyandarkan dirinya ke dinding.

"Yah... Aku agak peduli tentang itu. Tapi sudahlah. Kau menyukainya, jadi kubiarkan saja. Itu wajar, selama kau tidak menyebarkan foto itu. Sekarang jawab, kenapa kau mengambil foto itu dari jauh?"

"Hah?"

"Di foto itu jadinya ada orangtua kami! Kau seharusnya tidak mengambil foto mereka!"

"Apa masalahmu? Kenapa kalau aku mengambil gambar mereka?" aku bertanya heran.

Di titik itu, Hotaru tersentak sambil menutupi mulutnya.

"Lu-lupakan. Aku hanya lupa, maafkan aku."

"Apa yang terjadi padamu, Nagisa, dan orangtua kalian? Karena perceraian mereka? Dan lagi, darimana kau tahu aku menyukai Nagisa?!" Awalnya aku berniat serius, tetapi ketika pertanyaan kedua kulontarkan, wajah Hotaru sedikit menunduk. Itu bukan mauku. Jadi aku segera merubah pertanyaan ketiga dengan sedikit nada bercanda. Lihat? Aku berhasil. Hotaru tertawa kecil sekarang.

"Aku punya caraku sendiri. Dan... aku dan Nagisa akan mengatakannya padamu nanti, pasti. Untuk sementara ini, tolong beri kami sedikit ruang untuk siap, oke?" Hotaru menawarkan. Aku menghela napas.

"Baiklah baiklah. Janji akan mengatakannya padaku." Hotaru mengangguk. Sedikit yang kutahu, Nagisa mengintip dari samping balkon kamarnya, tersenyum. Ah, kuharap dia tidak mendengar pembicaraan kami tentang aku menyukai Nagisa!

Karma POV End

°•°•°•°

Menghela napas, Nagisa menutup jendela kamarnya. Matanya kemudian beralih ke beberapa buku pelajaran yang baru saja selesai ia pelajari bersama Hotaru. Tentu saja dengan sedikit "gangguan" dari sang iblis merah Akabane. Ponselnya berdering. Nada khusus, tapi yang pasti bukan Karma, Hotaru, atau dari grup. Karena mereka sedang berada dalam satu atap. Satu-satunya opsi adalah, Nakamura Rio. Cepat, Nagisa membuka kunci ponselnya dan melihat pesan Rio.

English Girl: Yo, Inari!

Nagisa tertawa kecil.

Blue Serpent: Secara pribadi, kau memanggilku dengan nama Nagisa tidak masalah. Tetapi kalau ada di tengah situasi formalitas, kau harus memanggilku dengan nama itu.

English Girl : OK!

Blue Serpent : Jadi ada apa?

English Girl : Biar kupastikan dulu. Mendaftar sekolah besok, dan tes masuk sekaligus tes lompat kelas tiga hari setelahnya?

Blue Serpent : True

English Girl : Ada tiga tempat duduk kosong di kelasku. Satu di sebelahku, satu di sebelah Karma, dan satu di belakang Karma. Mana yang kau pilih?

Blue Serpent : Satu pertanyaan. Kalau tempat duduk kalian masing-masing kosong sebelah, kenapa tidak duduk sebangku saja?

English Girl : Satu pertanyaan, dua jawaban. Awalnya kami satu bangku. Jawaban pertama, mataku mulai sedikit buram, jadi sensei memindahkanku satu bangku ke depan. Jawaban kedua, kau tahu kan sifat iblisku dan Karma? Karena kami sering membuat "sedikit" keributan di kelas, sensei memisahkan takdir kami dengan tragis. Sensei yang kejam bukan?

Blue Serpent : ...

Blue Serpent : Memang keputusan yang bijak. Kalian lebih baik tidak bersama.

English Girl : So cruel, Nagisa...

Blue Serpent : Oke oke, aku harus tidur. Masalah bangku nanti saja. Selamat malam.

English Girl : Malam!

Nagisa menutup ponselnya dan menaruhnya di meja yang agak jauh darinya. Baru dia akan mematikan lampu, pintu kamarnya diketuk agak keras dengan irama 1-2-1-2. Tipe ketukan seperti itu, satu nama terlintas di benak Nagisa. Karma.

"Masuk saja, Kar!" Nagisa berseru dari dalam. Karma masuk dengan wajah sedikit mengantuk. "Kenapa?" tanya Nagisa.

"Pertama, hebat. Kau masih ingat permainan ketukan kode kita dan Hotaru semasa kecil dulu. Kedua, wajahmu segar sekali. Kau belum mengantuk?" tanya Karma. Nagisa tertawa kecil.

"Kau juga masih mengingatnya. Kalau masalah ketukan kode, aku dan Hotaru masih sering menggunakannya."

"Hah? Untuk apa?" Karma bertanya penasaran.

"Simpan itu untuk nanti. Sekarang, untuk apa kau datang ke kamarku malam-malam begini?"

"Aku mimpi buruk. Jadi aku ingin tidur bersamamu." Nagisa mendecakkan lidahnya. Matanya melihat ke arah lain, menghindari tatapan mata Karma.

"Memangnya kau apa? Anak kecil berumur 7 tahun? Di samping itu, aku hanya punya satu kasur. Jangan kau pikir aku tidak tahu niat terselubungmu itu, walau mungkin kau jujur tentang mimpi buruk itu. Baiklah, kau tidur di kasur, aku di futon. Keputusan FINAL dan tidak dapat diganggu gugat! Kalau protes, aku akan menarikmu paksa keluar dari kamarku. Opsi kedua, aku akan menendangmu paksa keluar kamarku. Tidak ada debat. Silahkan berdebat pada tembok, karena kasurku salah satu sisinya menempel dengan tembok. Aku tidak butuh persetujuan. Ini perjanjian satu pihak," Nagisa memberi aturan panjang. Dan jelas sekali kalau Karma tidak diizinkan untuk membantah barang satu kata pun.

Tidak membuang waktu, Nagisa mendorong Karma ke kasur, lalu mengambil sebuah futon dan bantal kecil dari lemari biru di dekat lemari pakaian dan menggelarnya.

"Hei, Nagi-"

"Tidak ada debat."

"Tsk."

"Baiklah. Apa?"

"Hatimu itu terlalu lembut untuk menolak ya? Aku jadi khawatir kalau-kalau aku keduluan orang lain."

"Ha?"

"Lupakan. Aku cuma mau bilang maaf, dan terimakasih, dan selamat malam," Karma lalu berbaring kembali dari kasurnya (Nagisa) dan menutup mata. Nagisa hanya tersenyum, mematikan lampu dan segera menyusul Karma di dunia mimpi. Baru beberapa menit Nagisa memejamkan mata, dia merasakan tangan panjang melingkar di pinggangnya, memeluk tubuh mungilnya dari belakang. Tidak butuh seorang jenius untuk menebak siapa pelaku tersebut.

"Karma..." Nagisa menggeliat tak nyaman.

"Uhh... Di kasur terlalu panas..."

"Kalau kau tidur di sini malah lebih panas, ada aku."

"Haaa...? Tubuhmu dingin tuh."

"Aku pindah." Nagisa duduk dan menyibakkan selimutnya, lalu berdiri. Baru dia akan berjalan, Karma menarik tangannya hingga Nagisa terjatuh lagi, kali ini di atas tubuh Karma.

"Diamlah, aku mengantuk," gumam Karma pelan, lalu menutup kembali matanya. Nagisa menghela napas pasrah dan kembali ke tempat di mana ia bermimpi tadi.

•TO BE CONTINUED•


Karena hari ini ada yang ulang tahun, aku update dua chapter sekaligus. HAPPY BIRTHDAY TO:

1. Karma Akabane Assassination Classroom

2. Amane Misa Death Note

3. Allen Walker -man

4. Victor Nikiforov Yuri On Ice

5. Asuka Tanaka Hibike! Euphonium

6. Yukito Tsukishiro Cardcaptor Sakura

7. Shinoa Hiiragi Owari no Seraph

8. Levi Attack On Titan

(Banyak amat :v. Ada yang mau nambah?)

Dan HAPPY (Late) BIRTHDAY kepada Akashi Seijuro)!

Sampai ketemu di chapter selanjutnya^^!