Kamar Nagisa masih gelap, sebelum akhirnya seseorang membuka pintu kamarnya hanya untuk menemukan seorang berambut merah memeluk seorang dengan rambut biru. Memeluk dari belakang, jadi hanya MEMELUK, bukan SALING memeluk.
Hotaru terdiam beberapa saat sambil menutup mulutnya, menahan jerit. Perlahan Hotaru mundur selangkah dan menutup pintu perlahan supaya tak membangunkan mereka. Sayangnya tingkat sensitivitas Hotaru yang tinggi ternyata juga berlaku untuk saudara kembarnya sehingga Nagisa membuka mata bahkan sebelum Hotaru sempat menutup pintu dengan sempurna. Kedunya hanya saling menyambungkan ikatan mata untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Nagisa sadar apa yang terjadi.
"Hotaru?!"
"Hehe. Maafkan aku. Kau bisa melanjutkan tidurmu, tapi bangunkan Karma. Dia harus sekolah," Hotaru terkekeh, berusaha menyembunyikan rasa sakit di dalam hatinya. Nagisa melihat jam, lalu segera berdiri.
"Maafkan aku. Tidak bermaksud melakukan itu, sungguh!"
"Hei hei! Kapan aku bilang kalau aku sakit hati?"
"Baru saja, dari matamu."
"..."
Keduanya terdiam beberapa saat. Sebelum akhirnya alarm dari ponsel Karma berbunyi.
*Ke mana ke mana ke mana~ Kuharus mencari ke mana~*
"THE MAKSUD?!" Nagisa dan Hotaru berteriak bersamaan sebelum akhirnya melepas tawa keras. Apa-apaan dengan alarm itu? Karena alarm dan tawa si kembar, Karma terkejut dan bangun.
"Apa? Kenapa? Kenapa kalian tertawa?" tanya Karma panik. Baik Nagisa dan Hotaru ingin menjawab, tapi tampaknya tawa masih belum merestui. Karma terdiam berkonsentrasi, dan barulah dia bisa mendengar sebuah alunan lagu.
*Ke sana ke mari membawa alamat. Namun yang kutemui bukan dirinya. Sayang~ yang kuterima~ alamat palsu~*
Tawa Nagisa dan Hotaru semakin meledak.
'Sialan. Aku lupa mematikan alarmnya,' batin Karma dengan suara penuh penderitaan. Wajahnya memerah malu. Baru sekali ini dia sangat ingin menenggelamkan kepalanya ke dalam lava panas yang ada di perut gunung berapi. Masa bodoh dia pulang dalam keadaan hidup-hidup atau mayat hidup. Pokoknya dia ingin menghapus rasa malu itu.
"Ada apa dengan alarm itu, dangdut freak?" tanya Nagisa. Secara mengejutkan menggunakan nama panggilan yang agak kasar. Umh, bagi Karma. Ya jelas. Siapa yang tidak sakit hati dipanggil begitu oleh orang yang disukai? Walau Karma tidak begitu mempedulikan panggilan barunya. Hanya merasa sedikit aneh karena Nagisa jarang memberi nama julukan, apa lagi yang semacam dangdut freak itu.
"Cerewet. Kau tahu, Rio. Dia membuat tantangan yang mana aku harus menyetel alarm itu sampai satu bulan ke depan. Ini tidak seperti aku menginginkannya!"
"Baiklaaah...?" Nagisa dan Hotaru bertanya dengan nada (sengaja) kurang percaya.
"AKU JUJUR YA TUHAANN...!" bentak Karma malu. Tawa Nagisa dan Hotaru meledak kembali. Untuk kedua kalinya mereka membuat tensi Karma naik. Bangga lagi, boleh dong?
Tapi setidaknya terimaksih pada Karma yang menyetel alarm itu, terimakasih pada Rio yang membuat tantangan itu, dan terimakasih pada Ayu Ting Ting yang telah membuat dan menyanyikan lagu itu. Percakapan yang menegangkan antara Nagisa dan Hotaru tadi dilupakan oleh mereka. Setidaknya untuk sekarang.
"Oke oke. Maafkan kami. Sekarang kau lebih baik bersiap sekolah. Aku dan Hotaru menyiapkan sarapan. Jangan bolos!" perintah Nagisa sambil melipat kembali futonnya, sementara Hotaru merapikan kasur yang agak berantakan karena ditempati Karma kemarin. Walau hanya beberapa menit, tapi oh, kalian mungkin tahu (atau tidak) seberapa hancur Karma jika sudah bersentuhan dengan benda empuk yang biasa kita sebut kasur.
"Baiklah baiklah. Jangan lupa hari ini kalian pendaftaran!"
"Oke!" Nagisa dan Hotaru membalas secara bersamaan sebelum akhirnya turun menuju dapur. Karma menghela napas sambil tersenyum, dalam diam memuji kekompakan mereka berdua.
°•°•°•°
"Hei, Karma! Tadi kenapa kau telat?" tanya Yuuma sambil duduk di bangku sebelah Karma yang kosong. Di belakang, Hiroto mengikuti Yuuma. Karma terkadang berpikir bahwa Hiroto sudah seperti pengawal pribadi Yuuma, secara cuma-cuma tentu saja. Dimana ada Yuuma, disana ada Hiroto. Pengecualian di WC atau ketika Hiroto sakit.
"Mengantar seseor- bukan. Mengantar dua orang untuk daftar. Absenku belum kau tulis alpa kan?" Karma balik bertanya. Yuuma menggeleng sambil tersenyum.
"Alpha? Karma, kau seorang alpha?!" Hiroto bertanya terkejut, sebelum akhirnya buku tebal catatan matematika milik Karma mencium wajah tampan Hiroto.
"Pikiranmu kemana hoi? Alpa! Alpa! Maksudku alpa di sini absen! Ketidakhadiran seseorang tanpa surat izin! Jangan mikir yang macam-macam!" sewot Karma kesal, menekankan tidak adanya keberadaan huruf h diantara huruf p dan a. Sementara Yuuma yang masih agak polos hanya bisa mengerjapkan matanya bingung. Tidak mengerti dengan alpha yang dimaksud Hiroto.
"Anoo... kalian membicarakan apa sih? Alpa apa?" tanya Yuuma.
"Bukan apa-apa. Diam saja. Jangan sampai otak polosmu itu teracuni oleh teman masa kecilmu yang playboy ini," Karma menjawab masih dengan nada kesal. Hiroto hanya bisa menyengir polos. Cengirannya polos, tapi jangan dibayangkan isi otaknya. Sangat jauh dari kata polos. Sejauh dari matahari sampai pluto. Butuh ratusan juta tahun kecepatan cahaya untuk membersihkannya kembali. Tidak, jangan berusaha untuk membersihkannya. Sebelum bersih juga sudah mati duluan.
"Alpha? Kalian membicarakan alpha yang itu?" tanya Rio bersemangat. Yah, kalau sudah masalah begini sih, semangatnya Rio nyaris tidak tertandingi. Hiroto memukulkan tangan kanannya yang terkepal ke tangan kirinya.
"Iya iya! AlpHa! AlpHa yang itu!" Hiroto menjawab tak kalah senang, menekankan keberadaan huruf H diantara huruf P dan A. Keduanya tos bersamaan, semetara Karma facepalm.
"Di sini ada orang suci hoi! Dengerin dong!" Karma berusaha menghentikan pembicaraan Rio dan Hiroto yang mulai tidak sehat. Tapi tampaknya keduanya masih tidak mengiraukan Karma. Oke, tensi Karma mulai naik. Eh, tapi tidak boleh. Rio dan Hiroto tidak boleh bangga walau membuat Karma kesal, soalnya nanti berakibat buruk. "DIEM HOI! PILIH PISAU ATAU GUNTING?!" bentak Karma, membuat Rio dan Hiroto mundur selangkah dan Yuuma menenangkan Karma.
"Hei hei, sudah sudah! Sebentar lagi jam pelajaran ke 7, lebih baik kalian mempelajari materi pelajaran yang selanjutnya," Yuuma berusaha menenangkan mereka. Hmm... memang luar biasa, ketua kelas. Kita berikan applause untuknya. Karma berdiri, berjalan menuju pintu keluar.
"Mau kemana Kar?" tanya Rio.
"Bolos. Beri tahu aku ya, kalau sudah waktunya pulang!" Karma menjawab santai. Yuuma tertawa hambar. Tipikal.
"Aku ikut!" seru Rio, berlari menyusul Karma. Keduanya lalu kabur menuju hutan di belakang sekolah. Iya hutan. Apa lagi? Ini 3-E, mana ada TAMAN belakang sekolah.
"Eh?! Aku ikut! Tungguin oi!" seru Hiroto.
"HIRO?!"
"Hehe. Sampai nanti Yuu!" Tidak berdaya. Isogai Yuuma sudah tidak berdaya menghadapi kelakuan anak-anak buahnya yang memang kadang agak berandalan. Apalagi yang sejenis preman seperti geng Terasaka (Hazama tidak termasuk) atau yang sejenis iblis seperti Karma dan Rio. Ah, ngomong-ngomong, abaikan saja panggilan "Hiro" dan "Yuu" mereka itu. biasalah, panggilan sayang. Walau mereka belum resmi pacaran. Belum kalau si submissive saja masih malu-malu dan si dominant juga masih playboy.
°•°•°•°
"Jadi, gimana tadi pendaftarannya?" tanya Karma sambil melempar tasnya ke atas sofa. Nagisa menaruh telunjuknya di dagu sambil menghela napas. Hotaru keluar untuk membeli roti. Ah, jangan bilang ke Karma kalau dia beli roti di tokonya Yuuji.
"Umm... tersiksa."
"Hah?"
"Langsung tes. Yah, untung sudah persiapan sih."
"LANGSUNG TES? ITU GIMANA SEJARAHNYA?!" Karma berteriak spontan, membuat Nagisa menutup telinganya sekuat yang dia bisa.
"Tadi kepala sekolah memberi pilihan untuk tes sekarang atau tes sesuai jadwal yang kemarin. Jadi aku dan Hotaru memutuskan pakai 'cap cip cup kembang kuncup'. Hasilnya seperti yang kau tahu. Tapi, lupakan saja masalah itu. Ada hal yang mau kutanyakan," Nagisa menjawab serius. Melihat raut muka Nagisa yang serius, Karma terbawa suasana, mengikuti keseriusan atmosfer.
"Menurut jadwal sekolah, Kungigaoka pulang jam dua siang. Sekarang jam setengah satu lewat sedikit. Kau BOLOS lagi, atau tidak ada gurunya?"
";-)"
Wajah itu saja sudah cukup bagi Nagisa untuk meletakkan sebelah tangan di wajah baby facenya. Kau tahu, Karma? Kau berhasil membuat tensi Nagisa naik drastis. Beruntunglah kau karena Nagisa adalah seorang malaikat manis yang luar biasa sabar. Iya, luar biasa sabar. Orang yang bisa menghadapi sikap Karma hampir setiap hari, maka dia pantas mendapat predikat "LUAR BIASA SABAR". Ditambah lagi, Karma suka menggoda Nagisa. Oh, jangan biarkan Nagisa tahu kalau Karma menyimpan foto Nagisa tanpa baju. Nanti amarah Nagisa yang sangat langka keluar itu bisa meledak layakya bom Nagasaki-Hiroshima yang menjadi akhir dari Perang Dunia 2.
"Aku pulang! Eh, Karma di sini lagi?" seru Hotaru. Karma menyengir.
"Soalnya dari sekolah, rumah kalian lebih dekat dari rumahku. Aku masih harus jalan 1 KM lagi. Eh, rotinya beli di mana?"
"Di toko Norit- Di toko nori-nori yang dekat persimpangan sana. Kenapa?"
"Jaga-jaga. Jangan sampai kau beli di toko Yuujialan (Singkatan dari Yuuji Si Sialan)," jawab Karma santai. Tak menyadari jantung Hotaru sudah berlompatan kesana kemari. "Hm? Kenapa? Kok diam?" Tanya Karma curiga.
"Hah? Memang aku harus jawab apa?" tanya Hotaru balik. Karma menggindikan bahu sambil menggigit roti yang dia ambil dari plasti roti Hotaru tadi. Nagisa dan Hotaru mengabaikannya. Sudah biasa. Terlalu biasa, malah. Yang aneh justru kalau Karma tidak mengambil apapun.
°•°•°•°
"Nagi-Chaann~! Hota-Chaann~!" jerit Rio sambil memeluk sang objek ketika bertemu mereka di kelas 3-E. Sesuai dugaan, Nagisa dan Hotaru masuk ke kelas 3-E. Jangan lupakan sosok Karma di sebelah mereka yang cemburu karena Rio dengan leluasa bisa memeluk Nagisa.
"Eh! Jangan panggil nama asli!" sewot Hotaru, semetara Nagisa hanya tertawa.
"Oh, iya. Lupa. I'm really sorry...," balas Rio.
"Duduk mana?" tanya Karma pada Nagisa selagi Hotaru dan Rio mengobrol. Nagisa menggindikan bahunya.
"Selama dekat denganmu dan Hotaru di mana saja tidak masalah," jawab Nagisa. Karma menyeringai dalam hati. Sekaligus bersorak-sorak ria.
"Hoi Rio! Hota- Imori duduk denganmu ya! Nagisa denganku!" seru Karma. Rio tidak menoleh maupun menjawab, tetap mengobrol riang dengan Hotaru, tetapi mengacungkan jempolnya ke arah Karma. Karma tersenyum penuh kebahagiaan, Nagisa tersenyum penuh kesengsaraan. Walaupun dia bilang terserah, dalam hati Nagisa berharap tidak duduk sebangku baik dengan Karma maupun Rio. Siapa yang mau duduk dengan raja iblis atau ratu iblis sejati? Tidak ada kan? (A/n: Aku mau kok, sebangku sama Rio. Reader mungkin mau sama Karma ^^).
Bagian perkenalan Nagisa dan Hotaru dilewat saja. Sudah terlalu klise. Eh, kalau dipikir-pikir murid baru itu juga ide klise kan ya? Maafkan keklise-an author T_T.
"Nari, mau beli minum?" tawar Karma. Nagisa menggeleng sambil sweatdrop. Mau nama apa aja ya ada deh panggilan "sayang"nya yang Karma buat. Nagisa dipanggil Nagi, Inari dipanggil Nari.
"Nggak, makasih. Kalau dibelikan sih... mau," Nagisa menjawab dengan menyelipkan kekehan diakhirnya. Karma menjitak kepala Nagisa pelan, lalu keluar untuk membeli susu stroberi di mesin minuman. Sejenak, Karma terdiam. Pikirannya dilema. Stroberi atau blueberry? Jangan tanya soal "memang ada ya susu rasa stroberi?". Soalnya blueberry di sini maksudnya jus, bukan susu. Dan, iya. Itu mikir blueberry buat Nagisa. Suami yang baik harus membelikan minuman sehat untuk sang istri yang (mungkin) kehausan, benar? Setelah perdebatan yang begitu panjang, akhirnya Karma membeli dua-duanya. Dua susu storberi, dan dua jus blueberry.
"Banyak amat Kar?" tanya Hiroto yang entah kapan sudah ada di sebelah Karma.
"Kenapa? Eh. Mana ikemen?" Karma balas bertanya. Hiroto menggindikkan bahunya.
"Disuruh Karasuma-sensei ambil fotokopi sama buku pelajaran buat dua murid baru itu. Ngomong-ngomong, beruntung banget kamu duduk sama anak baru itu. Inari-kun kalau tidak salah namanya?"
"Ha? Kalau Isogai dengar kasihan lho. Nanti cemburu," balas Karma dengan seringai kecil. Demi apa makhluk ganteng tapi playboy ini nggak peka-peka sama perasaan sang ketua kelas.
"Cemburu? Kenapa?"
"Lupakan~" balas Karma, lalu masuk kembali ke kelas. Hiroto mengernyit bingung, tapi mengabaikannya dan memencet tombol minuman untuk cola.
°•°•°•°
"Nar! Mau yang mana?" tanya Karma sambil menyodorkan minuman yang dibelinya tadi. Nagisa mengernyit bingung.
"Aku hanya bercanda tadi, Kar," balas Nagisa.
"Bercanda atau tidak, harus milih. Mau yang mana?" tanya Karma sekali lagi. Nagisa menghela napas pasrah, lalu mengambil sekaleng jus blueberry.
"Oh. Yang itu," gumam Karma. Dia mengambil lagi satu jus blueberry dan menaruhnya di depan Hotaru. "Nih. Na- Inari tadi milih yang jus blueberry, jadi mungkin kau juga milih jus blueberry," ucap Karma.
"Oh. Um, makasih."
"Eh~? Buatku mana?" rengek Rio. Karma melempar susu stroberi pada Rio, lalu meminum susu stroberi miliknya sendiri.
"Thanks~"
"Hm."
Setelah meminum seteguk dari susu stroberinya, Rio membuka mulut."Inari, katanya Karma suka padamu lho!" oceh Rio santai sambil menyeringai ke arah Karma.
"BUUURRSST...!" Karma menyemburkan susunya. "SIALAN RIOO...!"
"Hahaha!"
Sementara di sisi lain, Nagisa dan Hotaru saling pandang.
•TBC•
