Pandangan menyakitkan di depan mata Nagisa kini benar-benar membuat matanya perih. Bukannya ada apa-apa. Tetapi melihat figur Karma yang duduk di atas meja (sekali lagi ditekankan, MEJA) dengan sebelah tangan di pipi yang menggembung dan bibir manyun itu benar-benar menyakitkan. Kalau ada yang punya obat mata, tolong berikan beberapa tetes untuk mata Nagisa yang malang. Dia membutuhkannya saat ini.
Hal sama juga berlaku pada Hotaru yang tengah melihat Rio menoel-noel punggung Karma. Memang biasa, tetapi pandangan di mana Karma terus membuang muka itu benar-benar membuat mata perih. Ini seperti sepasang kekasih yang ceweknya ngambek. Eh, kalau di sini sih kasusnya mereka bukan pacar, dan yang ngambek itu laki-lakinya, bukan perempuan.
"Mau sampai kapan kalian cuek-cuekkan?" tanya Nagisa bosan.
"Sepertinya Na... Inari-chan, kata 'kalian' itu tadi kurang tepat. Karena seperti yang telah terlihat di sini, aku berusaha berbicara dengan Karma! Dia mengabaikanku! Kau tau betapa sakitnya itu, Inari?" Rio mulai mendramatisir keadaan. Nagisa hanya menggeleng. Teman Nagisa tidak banyak. Hanya Hotaru, Karma, dan Yuuji. Dan keadaan teman ngambek yang seperti ini belum pernah terjadi pada Nagisa. Ya tentu saja Karma dan Yuuji pernah beberapa kali ngambek padanya, tapi yang gayanya begini sih... jelas belum pernah.
"Bisakah kalian berhen- maksudku, bisakah kau berhenti, Karma? Kau terlihat seperti gadis perawan yang tengah PMS," Hotaru mulai ikut campur obrolan. Merasa tersindir, Karma berbalik dengan wajah yang lebih tegas.
"Permisi? Aku? Gadis PMS? Lihatlah pada dirimu sendiri! Kau pikir aku tidak ingat bagaimana sifatmu sewaktu kecil dulu?! Oh! dulu kau pernah ngambek pada ayahmu karena ayahmu salah menaruh buku. Oh! Dulu kau pernah ngambek padaku karena aku mencoreti sepatumu, yang mana setelah itu aku kau perbudak untuk mencucinya. Oh! Dulu kau ngambek pada Nagisa karena terlalu dekat denganku! Ada apa itu? Twincest? Oh! Dul-"
"STOOP! Oke oke oke. Aku mengerti, aku menyerah. Dan, sekali lagi. Kau menggunakan nama asli tadi," Hotaru mengingatkan sambil membenamkan wajahnya ke meja. Untuk pertama kalinya dia berharap tidak pernah lahir ke dunia ini.
"Oh. Maafkan aku."
"Katakan itu pada Rio," Nagisa berkomentar sambil menunjuk Rio dengan ibu jarinya. Karma menghela napas. Wajahnya berbalik menghadap ke arah Rio yang kini menunjukkan senyum penuh kemenangan. Karma menyeringai.
"Sorry not sorry~"
"AARRRGGHHH!" Rio menggeram kesal. Nagisa dan Hotaru hanya bisa mengela napas bosan.
°•°•°•°
Janji memang janji. Dan walaupun janji itu akan ditepati, tetapi sabar juga ada batasnya. Itu adalah apa yag dirasakan Karma saat ini. Kurang lebih sudah hampir sebulan sejak Nagisa dan Hotaru pindah, kembali ke tempat di mana mereka berada sebelumnya. Tetapi bahkan hingga sekarang keduanya belum menceritakan masalah apapun tetang orangtua mereka.
Awalnya Karma berniat untuk langsung mendesak mereka untuk segera menceritakannya, tetapi kalau mengingat seberapa keras kepalanya Hotaru, Karma hanya akan menemukan dirinya tak pernah lagi berinteraksi dengan mereka. Maka Karma memutuskan untuk langsung bertanya pada Nagisa saja secara pribadi. Bagaimanapun itu hal yang sangat sulit. Nagisa hampir selalu bersama Hotaru. Pengecualian ketika itu tentang ganti baju, atau tidur, atau yah... hal privasi semacam itulah.
Tetap saja, walaupun ada kalanya Nagisa dan Hotaru tidak berada dalam satu ruang, Karma tidak akan pernah medapatkan kesempatan itu juga. Maksudku...ada yang mau masuk ke kamar mandi ketika sang incaran sedang mandi? Jika masih sayang umur, jangan lakukan. Atau menyelinap ke kamar tidur sementara sang objek bersiap untuk tidur? Kalau masih mau wajahmu sempurna, jangan lakukan juga.
Lihat? Mendapatkan kesempatan berdua dengan Nagisa itu bagaikan mencari waktu berdua saja dengan artis favorit papan atas. Susah dan hampir mustahil. Walau jika kita pikir-pikir sekali lagi... mungkin sebenarnya tidak sesulit itu. Mungkin Karma bisa mengirm pesan pada Nagisa untuk bertemu dengannya secara pribadi, tetapi Nagisa akan bertanya alasannya hingga akar. Ujung-ujungnya juga tidak akan bertemu. Bagaimana dengan bertanya lewat telephone atau SMS? Bagi Karma itu sama saja seperti bertindak sebagai pengecut. Halo? Ke mana harga diri Karma akan dibuang nantinya? Seseorang, bantu Karma mencari solusinya. Oh, sebenarnya ada. Mengirim surat langsung.
"Hei, Nagi!" Karma memanggil Nagisa yang tengah membaca buku di perpustakaan. Karena tidak ada orang, Karma bisa memanggil Nagisa dengan nama aslinya.
"Apa?" tanya Nagisa. Karma menaruh sebuah kertas yang dilipat rapi di tangan Nagisa. Nagisa mengernyit. Karma membalas dengan senyum.
"Baca itu jam tiga sore nanti. Jangan berani kau buka sebelum waktunya. Kau mengerti?" Walaupun agak bingung, Nagisa hanya mengangguk pelan.
°•°•°•°
Dan di sinilah Nagisa. Duduk di atas kasurnya. Mata menatap lekat ke arah surat yang Karma berikan padanya tadi di sekolah.
Datang ke danau tempat biasa kita mengobrol dulu. Sendirian. Jangan bawa siapapun. Termasuk Hotaru. Jangan bawa senjata tajam. Aku menunggumu sekarang. Ada hal yang HARUS kubicarakan. Oh, ponselmu tinggal di rumah. Dan... jangan berpikiran yang aneh-aneh. Aku tidak akan menyakitimu. Oh, aku tidak akan pulang sebelum kau datang menemuiku dan mendengar apa yang ingin kubicarakan. Termasuk, ada hal yang ingin kutanyakan. Aku tidak akan pulang sebelum kau menjawabnya. Aku BERSUMPAH untuk itu. Ngomong-ngomong, aku lupa bawa jaket. Bisa bawakan satu untukku? ;-)
"IBLIS!" sewot Nagisa. Segera dia menyiapkan buku pelajaran untuk besok, beberapa baju yang dibutuhkan, seragam, dan baju ganti. Dengan cepat meraih jaket birunya dan berlari menuruni tangga. Mata Nagisa menatap sekilas ke arah jam tangannya. Setengah empat. Butuh waktu kurang lebih satu jam untuk sampai ke danau tempat Karma menunggunya. Nah, kalau begini Nagisa tidak punya pilihan lain, bukan?
"Mau ke mana?" seru Hotaru.
"Seorang teman memintaku datang! Mungkin aku pulang telat! Sampai besok!"
"Be-Besok?!"
Tidak menjawab, Nagisa melingkarkan syal di lehernya, membuka pintu dan berlari cepat tanpa menutup pintunya kembali. Hotaru mengernyit bingung, lalu menutup pintu rumah kembali.
°•°•°•°
"Oh, kau datang," ucap Karma santai.
"Dasar iblis!" sewot Nagisa kesal, mengeluarkan jaket dan syal dari tasnya, lalu memakaikannya kepada Karma. "Kenapa harus pakai surat sih?" tanya Nagisa.
"Tidak ada kesempatan~"
"Lupakan. Sudah hampir jam lima. Aku menginap saja di tempatmu."
"Kenapa lama sekali? Seharusnya kau tadi datang jam setengah empat kalau kau membacanya jam tiga," tanya Karma dengan nada santai. Uhm... dalam hati tengah bersorak ria karena Nagisa akan menginap di tempatnya. BERDUA.
"Aku membacanya jam tiga lewat sedikit karena waktu itu aku mencuci pakaian. Dan... kau lihat apa yang kubawa kan? Jadi aku berangkat jam setengah empat. Kereta datang jam empat. Harusnya begitu. Tapi tampaknya tadi ada kesalahan, jadi kereta baru berangkat jam setengah lima. Jangan protes. Kenapa sih, pakai nggak bawa jaket segala?"
"Biar kau datang."
"Apanya yang lupa? Itu sih namanya sengaja! Lalu, apa yang ingin kau bicarakan?"
Karma menarik tangan Nagisa lembut. Nagisa bisa merasakan dinginnya tangan Karma karena terlalu lama berada di luar dengan timbunan salju.
"Kita bicarakan di rumahku," jawab Karma.
•TO BE CONTINUED•
A/N: Maaf lama nggak update. Writer block. Maafkan pula untuk chapter yang pendek. Author agak sibuk soalnya (alasan). Terakhir,
.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
HAPPY BIRTDAY TO FUWA YUZUKI
WISH ALL THE BEST FOR YOU
.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
