Pernah dengar kata serendipity, kan? Itu adalah hal yang sangat diharapkan oleh Nagisa saat ini. Tujuan awal adalah memenuhi permintaan Karma yang meminta (memaksa) Nagisa untuk menemuinya di danau. Tujuan kedua adalah bicara di dalam rumah Karma. Tetapi entah bagaimana Nagisa berakhir dengan Karma yang tidur di pangkuannya. Nagisa benar-benar mengharapkan serendipity di mana Hotaru tiba-tiba mengunjungi rumah Karma. Hanya sekali ini saja, Nagisa berharap keberuntungan itu datang padanya.

FLASHBACK

"Kenapa diam? Masuk saja," seru Karma yang melihat Nagisa berdiri mematung di depan pintu rumahnya. Sedikit ragu, perlahan Nagisa melangkahkan kakinya masuk dalam rumah terkutuk itu. Seandainya pemilik rumah itu bukan Karma, tentu Nagisa akan mengakui bahwa itu adalah rumah terbaik yang pernah dilihatnya secara langsung.

Disebut rumah terkutuk bukan tanpa alasan. Dengan masuk ke dalam rumah itu, sama halnya seperti Nagisa menyerahkan diri secara seluruhnya pada Karma. Tidak bisa berontak, tidak bisa kabur, tidak bisa meminta tolong. Karma sudah bagaikan dewa jika berada di daerah kekuasannya. Untuk saat ini, Nagisa hanya berharap dirinya bisa keluar dalam keadaan sempurna tanpa cacat fisik maupun batin. Yah... cacat fisik sebenarnya hampir tidak ada kemungkinan. Tetapi jangan tanya jika itu tentang cacat batin. Baru bertemu semenit saja sudah cacat batin, apalagi jika dalam keadaan seperti ini. Ah... tetapi kalau Nagisa mendapat cacat batin, maka secara otomatis Karma menderita cacat fisik, kalau kalian mengerti maksudku.

"Rumahmu tidak berubah ya? Sama sekali," komentar Nagisa sambil menaruh tasnya di sofa.

"Memangnya apa yang perlu dirubah? Ayo kita bicara di kamar," balas Karma.

"E- eh? Bi-bicara di sini saja, bagaimana?" tawar Nagisa. Sudah cukup masuk ke ruang tamunya. Di sini sudah batas akhir. Jangan sampai Nagisa menyesatkan diri lebih jauh dengan naik ke atas, menuju kamar Karma.

"Yah, aku tidak keberatan. Kopi atau coklat atau teh?" Karma bertanya balik.

"Air putih."

"Tidak ada opsi air putih dalam kalimatku tadi."

"Kalau begitu tidak usah. Atau tambahkan saja opsi air putih di kalimatmu tadi," Nagisa mengibaskan tangan kanannya. Karma menghela napas.

"Baiklah baiklah. Air putih. Aku ambilkan dulu."

"Sebentar!" Nagisa menyentak, membuat Karma mengerutkan dahinya. "A-aku ambil sendiri," lanjutnya. Karma tertawa kecil.

"Hei hei! Kau tamu di sini. Mana ada tamu mengambil sendiri minumannya?" tanya Karma dengan sedikit nada mengejek.

"Aku tidak pernah berpikir aku tamu di sini. Tapi bukan berarti juga aku menganggap diriku penghuni rumah ini. Hanya... yah, begitulah. Kalau kau ingat dulu aku sering menginap di sini," jawab Nagisa, lalu beranjak menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Karma hanya menggindikkan bahunya.

"Hei! Bawakan juga untukku teh di dekat oven sana! Sekalian ambilkan cemilan di kulkas! Terserah yang mana!" seru Karma sambil menyalakan penghangat ruangan. Nagisa tak menjawab, tetapi setidaknya Karma tau bahwa Nagisa mendengarnya.

Kembali dari dapur, Nagisa menemukan Karma tidur dengan wajah tertunduk. Tangannya memegang sebuah buku yang Nagisa kenali dari sampulnya mungkin adalah novel The Advature of Tom Sawyer. Novel yang dulu pernah mereka beli dengan cara patungan. Jadi ceritanya begini.

Nagisa waktu itu tengah mencari buku rekomendasi dari majalah langganannya. Di salah satu kolom pojok, Nagisa menemukan sampul buku tersebut. Setelah membaca sinopsisnya, dia tertarik. Entah bagaimana, secara kebetulan (yang Karma anggap takdir), Karma juga menginginkan novel tersebut karena membaca rekomendasi buku dari majalah yang sama dengan Nagisa. Tidak memiliki uang yang cukup, Nagisa akhirnya membuat kesepakatan dengan Karma untuk patungan. Sementara Karma yang memang saat itu ingin mandiri, dia tidak ingin menggunakan uang orangtuanya untuk membeli novel itu. Jadi dia setuju untuk patungan bersama Nagisa untuk patungan. Jadilah, keduanya bekerja di kantin sekolah selama satu semester. Cukup lama, karena memang harga novel tersebut cukup mahal.

"Hei, Kar. Bangun," Nagisa berucap pelan sambil menaruh gelas dan camilan pesanan Karma di meja. Nagisa duduk di sebelah Karma, sedikit menunduk untuk melihat wajah tidur Karma. Usil, Nagisa menyentil agak keras dahi Karma hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Tak ada reaksi. Atau setidaknya, itulah yang dipikirkan Nagisa sebelum akhirnya Karma roboh di pangkuan Nagisa.

FLASHBACK END

Itu adalah awal dari bagaimana harapan Nagisa untuk datangnya seredipity. Tentunya Nagisa tidak tahu, dan sebaiknya memang tidak tahu, bahwa makhluk berambut merah yang ada di pangkuannya saat ini tengah menyeringai licik. Seandainya Nagisa tahu, maka dugaan cacat fisik dan mental itu punya kemungkinan lebih dari 99% untuk terjadi.

"Hei, Karma!" mulai kehabisan kesabaran, Nagisa berteriak keras tepat di telinga Karma. Malang bagi Nagisa. Walau memiliki suara agak tinggi dan cenderung lembut seperti perempuan, tetapi memang sudah dari sananya bahwa volume suaranya tidak bisa keras-keras amat. Secara alami agak kecil. "Karma, kalau tidak bangun, aku pulang sekarang. Lewat jendela. Lompat dari lantai dua," ancam Nagisa. Tak ada reaksi. Karma tak sebodoh itu. Mana mungkin Nagisa lompat dari lantai dua. Nagisa pernah ingin merasa mati, tentu saja. Tapi Karma dan Hotaru adalah alasan bagi Nagisa ingin hidup lebih lama. Tenang saja. Ini bukan fic angst, kok. "Kalau begitu kusiram pakai teh panas saja," ancam Nagisa.

"Aku bangun! Aku bangun sekarang!" Dan Karma tahu bahwa kali ini Nagisa serius.

"Jadi, apa yang ingin kaubicarakan?" tanya Nagisa dengan suara lebih tenang dari sebelumnya. Karma diam untuk beberapa saat. Pikirannya tengah berdebat antara melanjutkan atau menunda. Egoisme menang. Karma memutuskan untuk melanjutkan.

"Soal orangtuamu, kau belum cerita padaku. Kenapa kau berganti nama, kenapa kau kembali ke sini, dan kenapa kau selalu membeli bunga tiap pagi dan sore. Aku tahu kau sudah berjanji padaku untuk menceritakannya... Aku hanya mulai tidak sabar saja, menunggu kapan kau akan bercerita," jawab Karma. Semua mulai terasa masuk akan bagi Nagisa.

"Oh, pantas saja kau menyuruhku datang sendiri ke tempat privasi kita dan memutuskan semua komunikasi," pikir Nagisa. Karma tertawa kecil.

"Soalnya nanti susah buat dapat restu kalau hubunganku dengan Hotaru buruk," balas Karma.

"Apa?"

"Lupakan. Pertama, kenapa kau pindah ke sini? Atau mungkin lebih tepatnya, kembali ke sini?" tanya Karma.

"Umm... sebenarnya semua saling berhubungan. Orangtuaku dan Hotaru cerai. Kau sudah tahu itu, kan? Nagawa adalah marga ayahku sebelum menik-"

"Tunggu! Jadi ketika menikah, ayahmu masuk ke dalam nama marga ibumu?!" tanya Karma. Nagisa mengangguk.

"Keluarga ibuku adalah salah satu keluarga terhormat dulu, sementara ayahku hanya keluarga biasa. Jadi marga yang digunakan ketika orangtuaku menikah adalah marga ibuku. Bisa aku lanjutkan penjelasan yang sebelumnya?" jelas Nagisa. Karma mengangguk.

"Singkatnya, orangtua kami bercerai. Hak asuh anak masih diperdebatkan. Aku... aku tidak begitu tahu apa yang terjadi. Ayahku hampir memenangkan hak asuh itu, tetapi ibu tidak setuju. Kau tahu seperti apa ibuku. Aku tidak tahu apa yang dilakukan ibu kepada ayah. Semuanya terjadi begitu saja. Untuk beberapa alasan, aku dan Hotaru tinggal di rumah ibu. Waktu itu, aku dan Hotaru mengikuti kegiatan perkemahan sekolah selama tiga hari. Ketika pulang, kami terkejut melihat ayah ada di rumah. Dalam keadaan... tidak waras." Nagisa berhenti di situ.

"Hei, kau butuh pelukan?" tanya Karma, berusaha mencairkan suasana. Nagisa terkekeh sambil meninju pelan bahu Karma.

"Tidak butuh, terimakasih. Aku lebih baik sekarang. Ayah terus menggumamkan tentang tempat di mana kami tinggal sebelumnya. Di kota ini maksudku. Aku dan Hotaru... tentu saja kami bingung. Jadi kami membawa ayah kami ke rumah sakit jiwa di sini, sekaligus pindah. Aku tidak bisa menceritakan bagian di mana Ibuku melihat kami bersama ayah yang dalam keadaan tidak waras begitu. Maafkan aku. Dan... mungkin kau sudah bisa menyimpulkan kenapa aku selalu membeli bunga di pagi dan sore hari. Ayahku sangat menyukai bunga anyelir. Untuk biaya rumah sakit, Hotaru bekerja sampingan. Masuk akal?" jelas Nagisa.

Karma diam, berusaha memproses semuanya satu per satu. Semuanya mulai masuk akal, dan memang saling terkait satu sama lain.

"Masalah nama, itu penyamaran. Tidak mungkin kan, pemilik marga Nagawa hanya satu? Itu juga alasan kenapa kami tidak tinggal di rumah kami yang sebelumnya. Anggap saja Ibuku polisi, sementara aku, Hotaru, dan Ayahku adalah buronan."

Karma tertawa, lalu meminum tehnya sedikit. "Aku lebih menganggap yang sebaliknya jika dilihat secara protagonis dan antagonis."

"Sesukamu saja. Jadi...mungkin lebih baik kau mengizinkanku dan Hotaru kembali bekerja untuk membiayai penyembuhan ayah kami," balas Nagisa santai.

"Kau bekerja?"

"Tidak sadar ya tiap hari libur siang sampai malam aku tidak ada?" tawa Nagisa. Karma menggeleng. Dia hanya tidur pada saat-saat seperti itu ketika menginap di rumah Nagisa dan Hotaru. "Aku ada di perpustakaan kota jam 12 siang sampai jam 5 sore. Membantu untuk menata buku dan mengurus daftar pengunjung. Sisanya sampai jam 9 malam aku membantu mengajar bahasa Inggris di tempat les untuk anak sekolah dasar."

"Pantas saja kau selalu menolak waktu kuajak jalan-jalan di hari libur. Hei, sudah jam 10. Kenapa tidak kita lanjutkan besok dan tidur?" tawar Karma.

"Terimakasih, tapi silahkan lanjutkan perjalananmu yang panjang ke kamar. Aku tidur di sini saja," tolak Nagisa. Nagisa tidak bercanda dengan kalimat perjalanan yang panjang. Kalau kalian tahu sebesar apa rumah Karma, kalian akan paham dengan maksud Nagisa.

"Dingin, lho," ucap Karma, dengan sengaja menaikkan suhu AC secara diam-diam.

"Katakan itu pada orang yang sengaja tidak membawa jaket dan syal keluar rumah," Nagisa membalas sarkastik. "Dan aku tahu kau menaikkan suhunya."

"Haha. Bagaimana dengan setan? Kau tidak takut."

"Aku bahkan sedang bicara dengan setan paling terkutuk saat ini!"

"Ouch. Kau kejam, Nagi-chan. Kalau begitu aku matikan lampunya, ya~" Karma menggoda Nagisa dengan nada iblis andalannya. Tangannya merambat pelan bagaikan laba-laba menuju sakelar lampu.

"Matikan saja!" sewot Nagisa kesal. Karma tertawa kecil, lalu mematikan lampu dan berjalan ke belakang, menuju tangga.

"Hati-hati, ya!" goda Karma lagi. Nagisa memutar kedua bola matanya bosan. Setelah melihat Karma yang mulai samar karena gelap, Nagisa menghela napas dan merebahkan tubuhnya di sofa. Baru saja Nagisa menutup matanya, dia merasakan hembusan panas di dekat kakinya.

"NaGi-cHaN~" bisik suara rendah yang sedikit serak.

"SETAAANN...!" Nagisa menjerit terkejut, walau sebenarnya dia tahu persis siapa yang berbisik padanya tadi.

"Hahaha! Nagisa! Kau lucu sekali tadi! Hahaha!"

"KAARMAAA!"

Setelah keduanya tenang, Karma menyalakan kembali sakelar lampu.

"Kukira tadi kau sudah naik ke atas begitu mematikan lampu," pikir Nagisa. Karma yang masih sedikit tertawa berhenti.

"Apa yang kaubicarakan? Begitu mematikan sakelar lampu aku tadi langsung mengendap ke belakang sofa kok!" Nagisa terdiam. "Lho, aku baru sadar. Tadi kan aku berbisik di sebelah telingamu. Kenapa kepalamu ada di sisi yang lain?" keduanya terdiam.

"Terus yang tadi..." Karma menggantungkan kalimatnya. Nagisa menyambung kalimat Karma sebelumnya.

"...Siapa?"

•TO BE CONTINUED•