Kau tak akan pernah bisa lepas Kuchiki, karena sejak awal kau milikku. Tak peduli seberapa besar usahamu tuk berlari, meski peluh mu kalahkan lautan sekalipun, takdir hanya akan berucap
"Kuchiki Rukia belongs to Kurosaki Ichigo"
- … -
Bleach milik Tite Kubo sama
AU, OC, typo, klik back sebelum menyesal T.T
.
.
.
.
Chapter 1 : Looping Painful
.
.
.
.
Chiru active
Kugo : chi ... apa cinta bisa dipaksakan?
Chiru : apa air akan terus ditampung pada wadah yang terbatas?
Kugo : kau ingin belajar hah?
Chiru : hahaha ... just answer it ...
Kugo : stupid question
Chiru : i sure you know what i mean
Kugo : then what should i do?
Chiru : segeralah ke kuil dan berdoalah pada Kami-sama
Kugo : ...
Chiru : cinta tidak dapat dipaksakan..sama hal nya dengan air itu..jika kau terus memaksakannya pada wadah yang terbatas, ia hanya akan mengalir ke tempat lain.
Kugo : bagaimana jika akulah yang mengalir
Chiru : complex problem
.
.
.
"Kuchiki-san." Lirih suara itu memanggil.
"Iya ada apa Inoue?"
"Um… kau tak apa sendirian disini?"
"Tak apa Inoue, aku benci hal-hal semacam goukon."
"Oh ayolah lah hime-chan, biarkan Kuchiki-sama dengan dunianya, para lelaki tampan itu sudah menunggu, nanti mereka bisa keriputan!" Suara centil ala Senna menyahut manja.
"Um... tapi Senna-chan,"
"Tak apa Inoue... percayalah, Rukia hanya mau dengan black princenya yang selalu ia bayangkan itu." Sahut Rangiku asal.
"Rangiku." Geramku.
"Ya sudahlah… Shiro-chan bilang, teman-temannya sudah menunggu… Rukia, kalau kau bosan disini langsung masuk ya... kami tetap memesan makanan untukmu… Jaa."
.
.
.
[Rukia pov]
Goukon... andai aku senormal mereka, apakah aku juga akan merasakan suasana romantis dadakan yang berujung hubungan percintaan? Salahkah aku jika hati ini telah memilih? Meskipun seharusnya aku sadar pilihan bukanlah hakku, karena semua telah usai. Salahkah aku berharap kisahku dapat berubah? Salahkah aku masih mengharap bertemu dengannya di tengah entitas yang menumpuk disini? Meski musim dingin telah bergulir selama 3 kali, tetapi nyatanya hati ini tetaplah mengharap semi dari sosoknya.
[flashback]
"Pertunangan kami berakhir, sesungguhnya sejak awal memang semua hanya reka adegan demi kepentingan bisnis dua perusahaan saja." Suara itu nampak tenang saat mengumumkan hal yang membuat banyak orang terkejut, ini adalah siaran langsung yang akan dilihat oleh seluruh masyarakat Jepang secara live.
Tepat saat langkah kaki jenjang itu hendak masuk ke Lamborghini Reventon hitam dengan interior violet, sepasang jemari mungil menghentikannya.
"Apa maksudnya?"
"Tanyalah pada dirimu sendiri Kuchiki, kau telah bermain denganku, tunggulah saatnya giliranku yang akan menghancurkanmu."
.
.
.
"Kaa-san!"
"Kau... apa yang kau lakukan!"
"Gomen... hiks, gomen - AKH!"
"RUKIA!"
[End of flashback]
[Rukia end pov]
.
.
.
Di acara Goukon
"Um… Kurosaki-kun, apakah kita bisa berteman?"
"Ah boleh saja Inoue."
Senyum merekah pada paras ayu Inoue, semburat merah menambah kecantikan alaminya. Meskipun pria di hadapannya hanya terpaku pada androidnya sejak acara goukon dimulai, tapi Inoue Orihime tidak mempermasalahkannya.
Di sudut lain meja, sepasang elang yang terbingkai tak melepaskan pandangannya pada gadis berparas ayu ini. Ingin mulut berucap "hai" namun apa daya jika hanya segaris senyum yang dapat mewakilkan.
"Maaf teman-teman... aku rasa aku duluan."
"Hoi Ichi, makanannya belum datang, kenapa tidak santai dulu hah! Kulihat juga Hime tertarik padamu." Seru Renji yang sontak membuat wajah Inoue memerah bak kepiting rebus.
"Aku harus membantu baka oyaji untuk,"
"Akh!" Belum selesai Ichigo menjawab, tak sengaja ia menyenggol seseorang hingga hampir saja korban jatuh, untunglah ia segera menggenggam lengan korban untuk antisipasi hal memalukan lainnya.
"HEI! KAU TAK PUNYA MATA HAH!" Seru korban.
"AKU TAK SENGAJA!" Ichigo menggantungkan kalimatnya, menelisik rupa korban lalu "MIDGET.", bisiknya dengan seringai yang menghiasi wajah.
"J... e... ruk." Entah mimpi apa Rukia semalam, kenapa harus bertemu dia lagi. Terkadang memang hati berkhianat dengan pikiran. Entahlah apa yang sebenarnya diinginkan. Nyatanya meski tiap sebelum kelopak terpejam, rindu selalu melanda, tetapi saat dihadapkan dengan realita, pikiran seolah menepis segalanya.
Seketika itu pula Rukia melangkahkan kakinya cepat keluar dari cafe. Entah kaki akan membawa anggota badan lainnya kemana, karena sungguh otak ini tak dapat bekerja dengan baik jika emosi sudah menguasai. Baka... baka... baka... tak henti-hentinya bibir semerah delima komat kamit sepanjang jalan.
.
.
.
Chappy chappy chappy la la la
"Hallo."
"RUKIA KAU DIMANA (Momo) hei Kuchiki-sama apa yang kau lakukan… kau mengenal Ichigo hah? (Senna) Rukia/Kuchiki kau tak apa kah? (Rangiku/Inoue)."
"Astaga suara kalian mengalahkan mega sound milik Zaraki-taichou!" Gerutu Rukia setelah pulih dari serangan tuli sesaat.
"Kenapa kau pergi begitu saja saat bertemu Ichigo?" Senna mulai marah tidak jelas yang pastinya itu di dukung oleh Rangiku… huft mereka memang kembang api.
"Tak apa, aku hanya tidak enak badan jadi aku pulang, apalagi kepalaku sempat pusing saat menabrak bahunya."
"Apa Kuchiki-san ingin ditemani?" Oh hanya dia wanita sesungguhnya diantara kami berlima yah karena Momo pun terkadang juga mengikuti dua kembang api itu.
"Tidak usah Inoue,aku bisa sendiri, ya sudah aku tutup ya… jaa."
.
.
.
- flashback Karakura 4 tahun yang lalu -
Riuh tawa muda mudi yang memenuhi seisi taman selaras dengan cerahnya awan sore ini. Sepasang kaki yang terselimut flat shoes berayun santai. Senandung terdengar lirih dari bibir delima. Mungkin representasi dari kebosanan yang melandanya kala mentari tak kunjung beranjak ke peraduan.
Langkah kaki yang tergesa terdengar dari jauh, bunyi sepatu yang beradu dengan aspal menambah riuh suasana taman.
"Hei midget, gomen aku terlambat." Lelaki tampan dengan rambut mencolok itu menangkupkan kedua tangannya ke arah gadis mungil bersurai hitam.
Hening yang membalas, tak ada kata marah dan tak pula gayung penerimaan maaf menyambut. Hingga beberapa detik kemudian, gadis itu memulai dengan deheman ringan.
"Aku terlambat, seperti biasa, Aizen-Jii memberikan ujian yang sulit."
"Ichi… Unohana-sensei juga tadi mengadakan ujian, jam ujian kita pun bersamaan, dan aku melihatmu,"
"Rukia… gomen! oke aku mengaku, tadi aku menemui Bambietta karena memang dia memaksaku untuk ikut dengannya ke taman belakang kampus."
"Dan berciuman?" Lirih Rukia, dia gadis yang kuat, patah hati tak akan mengalirkan persediaan air yang telah terbentuk di sudut matanya.
"Aku,"
"Sudahlah Ichi, aku pulang ya". Rukia tersenyum tulus "Jaa."
.
.
.
[Ichigo pov]
Oh Kami-sama kuharap Rukia tadi tidak melihatku saat Bambietta menciumku paksa. Sungguh aku menyesal telah mengikuti ajakan Bambietta, dia bilang ingin menjadi selingkuhanku. Hah! yang benar saja, Rukia memang tidak memiliki tubuh seperti gadis lain, tapi bukan berarti dia tidak special. RUKIA LEBIH SPESIAL DARIPADA YANG TERLIHAT. Sudahlah, lebih baik aku segera ke taman kota untuk menemui Rukia, terakhir kali saat kami janjian dan selalu aku telat, dia hampir membeku karena menunggu di tepi Jalan Karakura.
.
.
.
Musim salju 6 bulan yang lalu
Sepasang sepatu boots putih mengetuk pelan, tak terlihat perbedaanya dengan hamparan salju tempat ia berpijak. Tiliklah keatas, maka yang terlihat hanyalah gosokan tangan diantara uap yang terbentuk tipis dan gigi bergemelatuk mengiringi goyangan pelan surai hitam. 1,5 jam menunggu di tepi jalan saat musim dingin sedang di puncak kejayaannya bukanlah pilihan yang cerdas, tapi gadis itu tetap bergeming di tempat, entah apa yang ia nantikan.
15 menit kemudian tanpa dikomando, sepasang lengan kokoh terbalut sweeter tebal merengkuhnya dari belakang, surai hitam hanya terkesiap sejenak, sebelum berusaha tenang dan diam menunggu penjelasan.
"Gomen nee midget, aku telat." Hei… apakah maaf dapat menghangatkan tubuh ke kondisi normal?
"Nee, apa alasanmu tawake?"
"Tak ada alasan, hanya karena ini," Lelaki itu memakaikan gelang emas putih dengan ukiran kelinci kecil yang terlihat manis di pergelangan tangan si surai hitam.
Mata lemonnya terbelalak, lekas ia berbalik, dan makin terkejut kala menemukan lelaki itu tak jauh berbeda dengan kondisinya kini, kedinginan atau beku?! Namun senyum segera terukir menghiasi kedua wajah, tangan membelai pipi seputih porselen, perlahan, seolah takut jika ia akan pecah. Jemari mungil menggenggam lengan kokoh yang tetap terasa dingin meski telah terlindung pakaian. Kedua bibir bertemu, membagi kehangatan, menyampaikan maaf, karena keterlambatan ataukah karena tidak mencoba lebih bersabar? Entahlah, mereka hanya merasa bersalah pada pasangan masing-masing. Masa pertengkaran telah berlalu, bagi mereka yang kini telah menjadi mahasiswa, masa itu cukuplah hanya saat seragam dikenakan, kini kedewasaan haruslah menjadi sang pemimpin.
Kurosaki Ichigo, nama lelaki itu, tidak dengan sengaja terlambat datang. Ia hanya kurang bisa mengatur segalanya sesuai keinginan. Ternyata perjalanan Seiretei ke Karakura tak selalu secepat perkiraannya, apalagi jika ada peralihan kereta karena kecelakaan pada lajur yang akan ia lewati. Jauh lokasi yang harus ia tuju tak menjadi masalah, asalkan hadiah istimewa untuk gadis yang ia sayangi dapat ia dapatkan tanpa cacat sedikitpun, sungguh dia masih trauma dengan jasa pengiriman setelah adiknya, Karin, tidak mendapatkan bola sesuai dengan ekspetasinya. Oh ayolah, harusnya kau ingat Ichigo, Karin lah yang salah memesan, kenapa kau justru menjadikan jasa pengiriman sebagai tersangkanya?
.
.
.
"Dan berciuman?"Lirih Rukia, dia gadis yang kuat, patah hati tak akan mengalirkan persediaan air yang telah terbentuk di sudut matanya.
"Aku,"
"sudahlah Ichi, aku pulang ya." Rukia tersenyum tulus "Jaa."
Apa? Tidak Rukia… kau salah paham… percuma, Rukia telah berlalu, sempat aku dapat bercermin pada kristal yang terbentuk di kedua netra indahnya. Tapi biarlah, aku rasa lebih baik jika langsung menuju mansion Kuchiki untuk memperbaiki semuanya.
2 jam kontan/cash/tanpa diskon, kuhabiskan dengan ketegangan yang tercipta di mansion luas yang kian terasa mencekam ini, kala Byakuya Kuchiki, ayah Rukia menatapku tajam. Memang Hisana Baa-san selalu menampilkan senyumnya yang teduh dan mengajakku untuk berbincang ringan, tapi kenapa manusia beku beraroma sakura itu tidak dapat mengendurkan urat ketegangannya barang sejenak hah!
"Tadaima." Seru suara yang sangat ku hafal dari arah belakang "Ichi,sedang apa kau?"
"Okaeri Rukia-chan, kau membeli bunga? Wah semakin banyak jika ditambah dengan bunga yang dibawakan Ichigo-kun khusus untukmu!"
"Hai midget." Sapaku kaku, jujur masih dapat kulihat urat ketegangan pada wajahnya yang dingin itu.
"Rukia… Otou-san serahkan semuanya padamu, bicaralah dengan Kurosaki." Byakuya hanya berbicara singkat tanpa pernah Rukia mengerti maksudnya, berbanding terbalik dengan amber yang terlihat lebih cerah dari biasanya.
Hening yang menjadi teman keduanya, Nanao, salah satu maid kesayangan keluarga Kuchiki hanya memandang dari jauh bersama Hisana. Senyum simpul menghiasi wajah keduanya, namun mata mereka menggambarkan sikap tidak sabar melihat tingkah kedua sejoli yang hanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Ehem... Ichi,"
"Ah iya Rukia."
"Aku sudah memutuskannya, aku akan melupakan kejadian tadi."
"Ah syukurlah,"
"Akan lebih baik kita akhiri hubungan kita baik-baik, karena aku tidak sebaik wanita lain yang bisa menerima semuanya."
Kalimat terakhir dari Rukia membuat wajah Kurosaki Ichigo memucat seketika. Bagaimana bisa ia dengan lancang memutuskan hubungan mereka yang telah berjalan selama 5 tahun hanya karena kesalahpahaman, sungguh setelah ini Ichigo harus memberikan sedikit pelajaran untuk Bambietta, mungkin dengan meminta tolong Nelliel. Nelliel adalah sahabatnya dan Rukia, bahkan Nelliel sangat menyayangi Rukia seperti adik kandungnya sendiri dan mendukung hubungan mereka. Jika sampai wanita bertubuh sintal dengan surai hijau bak zamrud itu tahu tentang Bambietta, siapapun tak akan tahu nasib Bambietta kemudian.
"Baiklah jika itu maumu Kuchiki, aku datang kesini memang ingin memutuskan hubungan kita,"
Deg... 'perasaan apa ini Kami-sama, kenapa aku sakit saat Ichigo setuju dengan hal ini', batin Rukia. Ichigo tersenyum, wajah terkejut Rukia sangat kentara dengan terbelalaknya mata lemon cantik itu. Just one step again …
"Karena aku ingin kita bertunangan Rukia," Lanjut Ichigo dengan senyum menenangkan, ia mendekat dan mengenggam jemari mungil Rukia, terasa pas di telapaknya yang besar, kontras, putih dan tan. "Kuchiki Rukia, maafkan aku yang selalu terlambat, dan ini mungkin keterlambatan yang menyakitkan untukmu, tapi sungguh kejadiannya tidak seperti yang kau pikirkan, aishiteru midget."
"Mikan no baka! baka… baka…" Jerit Rukia tertahan, karena kini wajah memerahnya akibat marah bercampur malu telah terbenam di dada bidang sang pemilik hati.
.
.
.
Segala persiapan untuk pertunangan Rukia dan Ichigo telah matang, hingga hal terkecil sekalipun telah dipersiapkan dengan sempurna oleh Ichigo. Keluarga Sousouke turut membantu selama persiapan dan saat acara berlangsung. Sousouke, Kuchiki, dan Kurosaki memang telah bersahabat sejak lama, tak heran jika anak-anak mereka juga dekat satu dengan lainnya. Hingga akhirnya pertunangan dengan konsep snow black pun berjalan dengan lancar.
"Nee, menyesal huh?"
"Tak pernah Nee-san, all i'll do for her even though it hurt me." Azurenya menatap sayu meskipun bibirnya mencoba untuk tersenyum, senyum yang ia tujukan untuk cahayanya. Jemarinya terkepal erat, bohong jika ia tak menangis, tangis tak hanya di representasikan dengan setes air kan?, karena sedari awal ia memang telah kalah, ia masuk saat keduanya telah bersatu dalam permainan raja dan ratu, jika ditilik dari silsilah keluargapun, ia hanyalah anak yang beruntung karena diangkat oleh Aizen Sousouke. berbeda dengan kakak perempuannya yang memang sedari lahir telah mengalir darah Sousouke didalamnya.
.
.
.
Kini pemilik amber dan violet sedang berjalan ringan. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, sepeda tua nampak bersandar pada nyiur yang melambai. Hembusan angin pantai memang tepat sebagai obat penenang pikiran, sentuhan air pantai yang berbuih adalah salah satu mantra penghilang beban.
Andai waktu seperti ini dapat terus mereka nikmati, oh ayolah apa kalian bercanda? Mereka masih kuliah meskipun sudah berada di semester akhir, tapi mereka juga memiliki kesibukan lain, meneruskan bisnis keluarga secara turun temurun. Hal yang bagi sebagian orang merupakan anugerah luar biasa dari Kami-sama. Orang-orang itu hanya melihat sisi baiknya saja, menganggap bahwa kaya itu nikmat, padahal kaya itu perjuangan. Cobalah lihat orang tua mereka, kau akan menemukan lingkaran panda meski itu samar. Mereka berdua pun harus rela merasa sepi kala orang tua mereka melakukan perjalanan bisnis yang membunuh banyak waktu berharga.
"Hei midget… ambillah beasiswanya, setidaknya kita bisa bersama, bukannya LDR* kan." Gerutu Ichigo sembari meletakkan dagunya pada puncak kepala Rukia, membuat sang surai hitam merasa geli.
"Ichi, aku ingin ke Tokyo, bukan London, ayolah… satu-satunya kampus yang bisa mengajarkan bisnis sekaligus bermusik hanya disana, dan aku tidak harus bingung membagi waktu antara mengurus perusahaan dan kuliah."
"Tapi kita jadi jauh… midget, lagipula aku bisa membantumu dalam pekerjaan, kita bisa memonitoring dari London!" Kesal ichigo.
"Watashitachi wa onaji sora no shita ni mada arimasu* tawake!"
"Promise me you will be paithful, love."
"I will Ichi, shinrai*."
Pantai sebagai saksi janji mereka, janji yang hanya terucap tanpa hitam diatas putih, namun tercetak sangat tebal pada kedua pikiran dan hati. Amber dan violet kembali bertemu, menyiratkan perasaan cinta yang tak akan begitu mudah terhapus oleh jarak dan waktu.
- end of flashback –
- TBC -
RnR ya minna san
...
...
...
...
...
...
...
...
*LDR : long distance rekationship, hubungan jarak jauh yang bikin baper
*Watashitachi wa onaji sora no shita ni mada arimasu : kita masih berada di bawah langit yang sama
*shinrai : percayalah
