Kau tak akan pernah bisa lepas Kuchiki, karena sejak awal kau milikku. Tak peduli seberapa besar usahamu tuk berlari, meski peluh mu kalahkan lautan sekalipun, takdir hanya akan berucap
"Kuchiki Rukia belongs to Kurosaki Ichigo"
- … -
Bleach milik Tite Kubo sama
AU, OC, typo, klik back sebelum menyesal T.T
.
.
"Akh! I-chi..."
"RUKIA!"
Semua itu semu, setidaknya ada satu hati yang mengharap demikian. Namun ia pun sadar akan kekuatan alam, kekuatan Kami-sama. Mungkin harapnya tak akan pernah menemui muara. Tepat setelah violet tertutup, saat itu juga kehidupannya yang dulu tak lagi cerah, turut pekat sekelam perih yang dirasakan.
"Grimm, katakan itu bohong." Bibir itu bergetar, bukan hanya karena cuaca, namun karena tak kuat menahan bulir yang akan tumpah.
"Tenanglah, oke, kami ada disini Ru, aku ada disini." Bisik Grimmjow lirih, namun cukup untuk didengar oleh Rukia.
Sedangkan di sofa itu, seluruh keluarga Sousouke turut berduka. Bahkan beberapa karangan bunga telah tertata secara rapi. Bukanlah keindahan yang terpancar namun sebaliknya.
.
.
Chapter 2 : Who's the Real Angel?
.
.
.
.
"Ruru-chan... apa yang kau lakukan disini?" Nelliel mencoba menyadarkan Rukia.
Ya... sejak bertemu Ichigo dan berujung pada jalan tak tentu arah, Rukia tanpa sadar berhenti di sisi sungai guryu. Semua temannya cemas karena usaha mereka untuk menghubungi nona Kuchiki itu tak membuahkan hasil. Keadaan kian panik saat mereka memutuskan untuk mendatangi apartement Rukia dan tidak menemukannya disana.
Bahkan Nelliel yang baru pulang dari final fitting baju pengantin dengan Gin juga ikut panik. Mereka sepakat untuk berpencar mencari Rukia, mengingat bahwa cuaca sangat tidak bersahabat, hujan mengguyur bumi Soul Society dengan derasnya.
Selama 1 jam Nelliel habiskan dengan memarahi Gin karena menganggap tunangannya itu kurang bisa mengemudi, astaga Nell ... lihatlah dengan seksama, bahkan muka rubah itu pun tak menampakkan cengiran sedikitpun, ia juga mencemaskan Rukia sama halnya dirimu! Hingga akhirnya Kami-sama berbaik hati pada sejoli itu, dari kejauhan mereka melihat sosok mungil dengan surai hitam sebahu sedang duduk bersandar pada pagar di sisi sungai guryu, tak nampak sedikitpun ia terganggu dengan guyuran hujan yang kian ganas.
"Ruru-chan... sadarlah sayang,kau kenapa? Hiks." Tangis Nelliel pecah... belum pernah ia melihat Rukia seperti ini, terakhir kali ia menemui Rukia terpuruk adalah saat benang itu terputus.
"Nell, sebaiknya Ruru-chan biar aku gendong saja sampai mobil." Gin coba menenangkan.
"Kita langsung ke rumah sakit Gin, wajah Ruru-chan pucat, aku takut ia sakit, jangan sampai... Kami-sama."
Rukia masih bergeming, meskipun Nelliel selalu mencoba mengajaknya berbicara. Bahkan Nell memeluknya sangat erat, berharap dapat menyalurkan kehangatan meskipun keadaannya pun tidak cukup baik, beberapa bagian tubuh dan pakaiannya basah, meski tidak separah Rukia. Gin mencoba fokus ke jalan sembari sesekali menenangkan Nell di kursi belakang. Nell kian histeris saat secara tiba-tiba tubuh Rukia merosot di pelukannya, pingsan. Mobil berhenti seketika, Gin terkejut dan di tengah itu semua Grimm menelepon, segera Gin mengangkatnya.
"Moshi... moshi... Gin-nii! kenapa kau, Nell-nee dan Rukia tidak ada yang menjawab telepon ku HAH!" Gerutu suara dari seberang telepon.
"GRIMM... CEPATLAH AMBIL PENERBANGAN AWAL KESINI!" Teriak Nell ditengah kepanikannya.
"Hei nee-san, kau pikir aku juga ingin lama-lama disini hah! kalau kau tidak sibuk dengan pernikahanmu pastinya pekerjaanku tidak menumpuk seperti ini, Rukia juga tidak bisa membantuku kan,"
"JANGAN MEMBANTAH SOUSOUKE GRIMMJOW!" Geram Nelliel.
"Nee-san... ada apa?"Grimm tahu jika kakak perempuannya memanggil namanya dengan marga mereka dan nada seram begitu, pasti ada hal yang penting.
"Nell, tenanglah... Grimm-kun, cahayanya meredup, apa kau mengerti? sebaiknya kau turuti perintah nee-sanmu, kami harus ke rumah sakit secepatnya." Ucap Gin seraya memutuskan sambungan. "SHIT, keep the light." Sempat terdengar umpatan dari Grimm.
.
.
.
Rukia demam dan terserang hipotermia, itulah yang disampaikan dokter, namun Gin dan Nell tidak mengendurkan urat ketegangan di wajah mereka. Rangiku, Senna, Inoue, dan Momo tergesa menghampiri tempat Rukia berbaring. Mereka tak menghiraukan peringatan suster agar tidak tergesa di sepanjang koridor rumah sakit.
"Nee Nell-san bagaimana keadaan Rukia?" Tanya Senna cemas.
"Dia demam dan terserang gejala hipotermia karena kehujanan dalam jangka waktu, yah... 1 jam mungkin atau lebih? entahlah, ditambah dengan kondisi tubuhnya yang lemah," Gin mencoba menjelaskan.
"Apa yang sebenarnya dipikirkannya sih! Tiba-tiba saja pergi dan akhirnya begini" Rangiku marah namun matanya memancarkan kecemasan melihat sosok sahabat yang telah ia anggap adik sendiri terbaring lemah.
"Apa ini karena Kurosaki-kun menabraknya tadi?"
"Hime-chan, Kurosaki hanya tidak sengaja menabraknya, dan mereka tidak bicara apapun selain berteriak seperti tarzan."Momo tak habis pikir dengan pemikiran Inoue.
Nell tiba-tiba tersentak mendengar nama itu. "Kurosaki siapa maksud kalian?"
"Kurosaki Ichigo, salah satu pria yang kami temui di acara Goukon tadi." Jelas Inoue perlahan, jujur ia takut melihat sorot kemarahan pada mata Nelliel.
"Ya, pria yang dipasangkan dengan Hime-chan."
Tangan terkepal, Nell langsung berlari meninggalkan ruangan. Gin berusaha tenang, menampakkan senyuman tipis yang selalu sukses sebagai bentuk seringai rubah, menyapa keempat wajah ayu di ruangan.
.
.
.
"Maafkan Nell, ia mungkin kelelahan dengan segala hal tentang pernikahan kami, sebaiknya aku menyusulnya saja." Ia arahkan matanya ke surai hitam yang masih terlihat pucat, seringai itu hilang berganti dengan senyum getir. "Aku titip Ruru-chan sebentar, bisakan?"
"Ya... pergilah Gin-san, kami akan menjaga Rukia, kalau mereka bertiga tidak mau, aku bisa menjaganya sendirian sampai Rukia siuman." Kekhawatiran terdengar jelas dalam suara Senna yang bergetar. Mungkin ia lah satu-satunya teman yang selalu bertengkar dengan Rukia, tapi itu hanya karena ia suka jahil dengan sifat tenang Rukia, ingin melihat kemarahan nona Kuchiki yang jarang sekali diperlihatkan, bukan karena ia tidak menyayangi sahabat bermata lemonnya itu.
"Hei, aku juga mau Senna gila!"
"ano, aku juga tidak keberatan menunggu Kuchiki-san."
"ah terserah kalian saja, aku akan tidur di sofa."
Gin mencoba mencari Nell di beberapa sudut rumah sakit, hanya kamar jenazah yang belum ia kunjungi, hah Nell sangat takut hantu jadi tidak mungkin ia kesana... sayang... kau dimana? Ingin menelepon tapi untuk apa jika hanya akan tersambung ke operator, handphone tunangannya ada di saku jasnya sejak mereka melakukan fitting baju pengantin di butik Yumichika tadi.
Ia tak menyerah, tetap berjalan menelusuri sisi lain rumah sakit yang belum ia tilik.
Kami-sama memang baik, ia menemukan Nell sedang melamun di kursi pengunjung yang mengarah ke taman rumah sakit. Perlahan ia dekati sang penawan hati, namun surai hijau tetap bergeming.
Ia tautkan jemari mereka, Nell terkesiap, sama halnya dengan Gin saat melihat kedua netra coklat itu begitu rapuh, tangis pun pecah. Gin hanya bisa memeluk tunangannya erat, haruskah semua terulang?
.
.
.
Kugo active
Kugo : "chiru-chan, apa yang kau lakukan jika arang masih menyimpan setitik bara?"
.
.
.
"Nee Hime-chan, kau mau kemana?"
"Ah... Momo-chan, aku akan menanyakan tentang Kuchiki-san ke Kurosaki-kun, mungkin ia mengatakan sesuatu yang menyakiti Kuchiki-san."
"Ya mungkin kau benar."
"Hime... pastikan kalau pikiranmu itu salah, karena kalau itu benar, aku akan buat perhitungan dengan rambut aneh itu!" Geram Rangiku yang disambut anggukan mantap dari Senna.
Tut... tut... tut...
"Moshi-moshi Kurosaki-kun," Lembut sapa Inoue.
"Moshi-moshi... ya?" Suara berat di ujung telepon sanggup menciptakan rona di kedua pipi Inoue.
"Umm... gomen nee Kurosaki-kun, ini Inoue, ada yang ingin aku tanyakan kalau Kurosaki-kun tidak keberatan,"
"Oh Inoue, gomen aku belum sempat save contactmu, ada apa?"
"Ano... apakah tadi Kurosaki-kun mengatakan sesuatu ke Kuchiki-san?"
"Kuchiki-san?" Suara itu memberat, seolah menyimpan rahasianya sendiri.
"Itu... gadis cantik bertubuh mungil yang kau tabrak saat acara goukon tadi." Inoue coba menjelaskan sedetil mungkin.
"Oh... gadis violet itu? Tidak, memangnya kenapa?"
"Ah tidak, hanya saja sekarang ia sakit."
Deg...
"Hah! Karena aku tabrak tadi kah?" Ichigo terkejut, ia coba tutupi, tapi getarnya masih tetap tertangkap telinga Inoue.
"Ah... kurasa bukan... ia hipotermia, aku kira mungkin dia sempat sakit hati kalau-kalau Kurosaki-kun memarahinya tadi, ia kehujanan... ano gomen, aku jadi bicara panjang lebar, ya sudah kalau memang semua ini tidak ada hubungannya dengan kejadian tadi, arigatou untuk informasinya, jaa."
Belum sempat Ichigo bertanya lebih lanjut, tapi Inoue sudah memutuskan sambungan setelah mendengar suara Momo yang memanggilnya.
.
.
.
[Ichigo pov]
Rukia sakit? Hipotermia? Kehujanan? Apa-apaan si midget itu, bukankah hujan sangat deras? Ah... aku harus segera menjenguknya. Alamat rumah sakit beserta nomor bangsal telah Inoue kirimkan sesaat setelah Ichigo menyakannya melalui chat. Namun ia pikir mungkin akan berkunjung esok hari, mengingat malam telah larut dan jam besuk pasien telah berakhir. Meskipun taruhannya adalah esok mungkin ia akan merasakan kelelahan berlebih karena susah tidur malam ini. Segera ia menghubungi salah serang sahabatnya, memberi beberapa perintah yang wajib dilaksanakan sesuai waktu yang ia berikan.
[Ichigo pov end]
.
.
.
[Inoue pov]
Kurosaki-kun nampak bingung saat aku menyebutkan nama Kuchiki-san, tetapi kenapa ia nampak begitu khawatir saat kusebutkan kalau Kuchiki-san sakit? Sebenarnya mereka saling kenal atau tidak? Lalu kenapa ia ingin menjenguk? Merasa bertanggung jawabkah? Ah ... aku ambil sisi positifnya saja, itu tandanya ia sosok lelaki yang gentle, semoga kami bisa bertemu lagi.
[Inoue pov end]
.
.
.
Kicau burung terdengar dari balik jendela, sebias cahaya menyeruak masuk menyapa kelopak lemon yang masih setia terbungkus kegelapan. 5 manusia lainnya sedang pulas tertidur. Hanya pemilik seringai rubah yang terjaga dengan surai hijau yang bersandar di bahu bidangnya. Gurat lelah nampak menghiasi kulit wajahnya yang pucat.
"Ru," Hampir saja suara Grimm membangunkan beberapa dewi dari tidur pulasnya, namun segera ia tahan suaranya dan mengarahkan matanya pada Gin di sofa.
"Hai Grimm bagaimana perjalanmu?" Gin mencoba menyapa dengan suara sekecil mungkin.
"Perjalanan yang membosankan, lambat... ingin menghubungi Kaien-nii untuk menyewa helicopternya, tapi ia sibuk dengan proses kelahiran Miyako-nee. Jadi kau bisa lihat sendiri kan nii-san."
"Ya... kau nampak kacau Grimm." Ujar Gin menilik pakaian Grimm yang memang nampak berantakan. Kemeja mahal itu tak lagi rapi, jas yang ia genggam bukan ia kenakan, dasi yang telah longgar karena dipaksa untuk memberikan ruang lebih bagi pernapasan, dan rambut sebiru langit yang nampak messy, sexy… satu kata yang dapat menggambarkannya.
"Aku selalu begini aniki, saat cahayaku redup," Gurat kelelahan nampak di paras rupawan khas cassanovanya, perlahan ia dekati ranjang Rukia. Mengenggam telapak mungil berkulit salju itu, matanya sayu menatap gadisnya nampak redup. "Apa yang terjadi?"
"Entahlah, tapi salah satu dari mereka menyebutkan nama Kurosaki." Seketika itu pula azure menatap marah, masih mengarah ke Rukia, namun kemarahan itu ditujukan untuk pemilik nama yang menyebabkan gadisnya terbaring lemah.
Jemari itu bergerak perlahan, mengenggam balik telapak Grimm yang nampak begitu besar.
"Rukia... hei, sadarlah,"
"Oh hai Grimm." Sambut Rukia dengan suara seraknya.
Meski lirih namun nampaknya sanggup mendatangkan kesadaran dari seluruh orang yang tertidur saat menunggunya siuman.
"RUKIA... SYUKURLAH!" Senna dan Rangiku segera mendekat dan menggenggam tangan Rukia yang bebas.
Setelah memastikan bahwa kondisi Rukia membaik, keempat sahabatnya ijin pulang dan akan kembali setelah pulang dari kantor. Di ruangan hanya tersisa Grimmjow, Nell dan Gin pergi ke kantin untuk sekedar mengganjal perut sebelum menjaga Rukia lagi nantinya.
"Hei Ru, aku belikan boneka chappy untukmu... cepatlah sembuh."
"Arigatou Grimmie." Balas Rukia lemah namun tetap menampakkan senyuman.
"Apa yang terjadi Rukia?"
"Tak apa Grimm, aku hanya kelelahan dan ingin menenangkan diri."
"Menenangkan diri hingga tak sadar hanya diam dibawah guyuran hujan selama 1 jam atau mungkin lebih? Kau ingin bunuh diri hah? Lihatlah bahkan posisimu di tepi sungai guryu, tempat yang cocok untuk bunuh diri, apa kau tak mendengar desas desus penghuni di sekitar sana!" Geram Grimmjow.
"Ah, sudahlah Grimmie... yang penting sekarang aku baik-baik saja kan," Rukia coba menenangkan Grimmjow.
"Tentang Kurosaki, un!"
Rukia diam, ia terkejut darimana Grimmjow bisa tahu... ah mungkin dari teman-temannya. Ia hanya mengarahkan pandangan sayunya ke kedua azure itu, seolah mengatakan untuk istirahat, ia hanya tak ingin membahas semuanya sekarang. Setidaknya ijinkan ia sembuh dulu.
"Grimm... tolong belikan aku Lily putih, oke?"
"Hah, baiklah, setelah nee-san dan Gin-nii kembali."
"Aku ingin sekarang Grimm, bolehkah?" Pinta Rukia lembut, oh Rukia... siapa yang tahan untuk menolak permintaanmu jika kau menampakkan wajah melas yang menggemaskan seperti itu!
"Oke... oke... aku beli sekarang, tapi ingat jangan macam-macam dan kalau kau butuh sesuatu,"
"Segera hubungi aku atau Nell-nee atau Gin-nii." Potong Rukia cepat.
"Atau tekan belnya Ru, agar suster bisa kesini secepatnya." Koreksi Grimmjow.
"Iya... iya... dasar kakek tua." Sungut Rukia.
"Hei bocah! Kakek tua tidak ada yang setampan ini!" Ujar Grimmjow sembari mencubit hidung Rukia gemas
"Ouch Grimm!"
"Hahahaha... only a while dear." Tutup Grimm sembari mengecup kening Rukia lembut.
.
.
.
Langkah kaki itu tegas, sedikit tergesa namun tetap anggun. Mata siaga menelisik tiap kamar yang dilewati, setelah menemukan kamarnya, ia mengintip pasien tersebut dari sekotak kaca kecil pada pintu bercat putih.
"Kuchiki," Suara berat itu mengganggu ketenangan violet yang menikmati daun momoji dari balik jendela, ia terkejut namun tetap terdiam. Ia berjalan meletakkan lily putih pada vas yang ada di tepi ranjang.
"Finally we meet again huh, 3 years right? nothing has changed from you, oh... mungkin ada satu yang berubah, seorang Kuchiki Rukia bukanlah seorang bangsawan yang terhormat.". Sinis ia berkata. "cih! kau membuatku muak Kuchiki, tak malukah kau masih hidup dengan membawa dosa?"
"Tutup mulutmu Kurosaki!" Gin mencoba menarik Ichigo keluar, sedangkan Nell langsung menghambur ke sisi Rukia. Mereka terkejut saat mendapati Kurosaki Ichigo menatap sendu? Pada sosok Rukia, entahlah, mereka tak tahu selama apa manusia jeruk itu ada di ruangan Rukia, tapi yang pasti mereka harus segera menyingkirkannya secepatnya.
"Ayolah Gin, aku hanya menyapa kawan lama."
"Gin, cepat bawa Kurosaki keluar!" Pinta Nell nyaris histeris jika ia tak ingat bahwa ini rumah sakit dan gelagat Rukia yang tetap tenang menghadapi situasi ini.
"Apa maumu Kurosaki-sama?" Tanya Rukia tegas sembari menghadap ke arah Ichigo.
"Aku hanya ingin memulai permainan denganmu Kuchiki... how about delicious caramel huh!" Tantang Ichigo.
"Mulailah Kurosaki, karena kau tak akan pernah menang."
- TBC -
RnR ya minna san
