Kau tak akan pernah bisa lepas Kuchiki, karena sejak awal kau milikku. Tak peduli seberapa besar usahamu tuk berlari, meski peluh mu kalahkan lautan sekalipun, takdir hanya akan berucap
"Kuchiki Rukia belongs to Kurosaki Ichigo"
- … -
Bleach milik Tite Kubo sama
AU, OC, typo, klik back sebelum menyesal T.T
.
.
.
.
Chapter 4 : A Little
.
.
.
.
.
..
…
Jika dengan melihatmu saja belum cukup bagiku,
maka aku akan mengambil jalan kegelapan meski itu menyakitimu,
bukankah dosa terbesar ada padamu?
Lantas kenapa sesaknya membuncah dalam areaku!
Adilkah jika kesalahanmu membuatku menderita?
Bukankah seharusnya kau menanggungnya sendiri dan jangan pernah berbagi denganku?
Usaha melalui jalur apakah yang harus ku tempuh untuk mengakhiri semua ini?
Jika dengan menyakitimu dapat membuat kita dekat,
maka akan ku pastikan kau menderita hingga payah agar kita tak terpisahkan.
…
..
.
Rahang tegas berlapis tan itu mengeras, simbolisasi dari amarah yang mendominasi. Benarkah deskripsi itu tepat jika berbicara tentang hati? Coba tilik lebih jauh, lebih cermat, bukankah amber yang berkilat tajam itu menyimpan beribu duka? Tak peka kah kau dengan kesedihan yang terpancar diantara emosi yang menyeruak?
.
..
...
Kaki ini tak akan berpindah selama hati ini tak terketuk.
Hei…kau…
Bukankah kau yang memiliki kuncinya? Cepatlah bercermin!
picik sekali kau tak meminjamkannya barang sejenak
…
..
.
Salju itu berada di titik terlemahnya, ia hanya sebutir salju yang mungkin tak akan mengkristral lagi. Ia hanya bertahan untuk tidak mencair meski sinar mentari mengancam keberadaannya.
.
..
...
Aku masih dapat merasakan sinarmu di antara kegelapan yang kau tawarkan
Aku rela menggadaikan sebagian atau seluruh waktuku
Hanya untuk satu kesempatan yang akan mensucikanmu
…
..
.
"GRIMM-CHAN!"
Astaga, bukankah wanita yang akan menikah harus lebih menjaga tindak tanduknya? Oh apalagi jika ia menyemat marga seorang bangsawan dan putri salah satu pengusaha sukses dari Las Noches.
"Nee-san, sudah berapa kali ku bilang jangan memanggilku dengan sebutan menjijikkan itu, ditambah dengan suara supermu itu, kau tak kasihan dengan telinga semua orang disini hah!"
balas Grimmjow dengan muka yang oh astaga..bisakah kalian bayangkan wajah sangar ehem coretsexycoret itu cemberut? Aneh? TIDAK. tapi sangat menggemaskan..huuuwwwwaaaa!
"Nee..Grimm-chan, kau itu adikku, terserah aku memanggilmu apa."
"Tapi aku bukan anak kecil lagi nee-san,"
"Ne... benarkah? Bagiku kau tetap adik kecilku Grimm-chan!" Bantah Nell sembari mencubit pipi Grimmjow gemas.
"Nee-s-aann... hen-tikaannn!"
"Ne... lihatlah, kau sungguh menggemaskan Grimm-chan!" Seru Nell tetap asyik menggoda adiknya.
"Aku Grimmjow, nee-san, bukan Grimm-chan." Bantah Grimmjow setelah berhasil lepas dari godaan kakaknya.
"Kau benar-benar jahat Grimm-chan, aku nee-sanmu, apa salahnya aku memanggilmu begitu?" Keluh Nell dengan wajah muramnya.
"Panggil aku Grimm, Grimmjow, atau apapun nee-san, tapi jangan panggilan menjijikkan itu!"
"Ne, menuruti permintaan orang yang akan melepaskan masa lajang apalagi itu saudaramu, adalah kewajiban Grimm-chan." Goda Rukia yang tiba-tiba memotong pertengkaran Nell dan Grimmjow.
"..."
"Hei... hei... kenapa diam hah! Cuma Ruru-chan yang bisa mengalahkanmu nee?" Goda Nell yang kontan menciptakan rona samar pada wajah tampan adiknya... oh lihatlah wajahnya sungguh mempesona.
Ayolah... Grimmjow hanya bersemu jika itu berkaitan dengan cahayanya, Rukia. Kejadian itu mengundang Nell dan Rukia untuk melepas tawa, sedangkan korban hanya memalingkan muka menghindari hal memalukan lainnya. Hal yang sia-sia karena ia masih dapat menangkap segala ekspresi nona Kuchiki dari sudut matanya, dan rona merah kian bertambah melihat senyum lebar yang ia sukai. Sungguh ia rela membayar berapa pun asal bisa melihat kebahagiaan selalu terpancar di wajah cahayanya, meski bayarannya harus dengan menanggung malu, ah cinta.
.
.
.
Dekorasi check.
Gaun pengantin check.
Pendeta check.
Hati, not yet.
.
.
.
Apakah ada list yang belum terpenuhi? Hingga tak dapat terlihat senyum pada wajah cantik anak perempuan Aizen itu?
Geraknya nampak gelisah, entah apa yang mengganggu pikiran gadis cantik bertubuh sintal itu. Esok adalah hari yang sakral, perjuangannya untuk mempertahankan hubungan dengan Ichimaru Gin akan dikukuhkan oleh ikatan suci pernikahan.
Jika kalian berpikir hubungan mereka rumit, sepertinya tidak, sulit? IYA.
Sulit karena Gin yang sibuk? TIDAK.
Karena Gin yang pesonanya menjerat banyak wanita hingga ia seperti hidup di tengah pusaran wanita dimanapun ia berpijak? IYA.
Tapi sepertinya bukan itu masalahnya, lantas apa?
Lebih tepatnya bahwa Nelliel lah yang tidak setia. Oh dia hanya terlalu silau melihat pria parlente yang banyak berterbangan kala menghadiri acara resmi dunia bisnis yang penuh topeng itu.
Dibalik semua itu ia berani bersumpah, hanya Ichimaru Gin pria pertama dalam hatinya.
Akankah jadi yang terakhir? Bukankah itu sudah jelas? Hei ... esok mereka akan menikah. Lalu apa gerangan yang membuat ia gelisah?
"Gin," Seru Nell saat Gin tiba-tiba mencium puncak kepalanya dari belakang.
"hm... ya sayang," Oh… Kami-sama, inilah yang Nell suka, suara berat kekasih hatinya yang terdengar sexy kala menyapa pendengaran.
"ano, Gin… apa kau yakin?" Ragu Nell bertanya.
"kenapa hm?"
"ah gomen Gin, aku mencemaskan Ruru-chan,"
Ah ternyata ini penyebabnya? Astaga Nell, tunggu saja hingga Rukia mendengarnya dan kau harus menyiapkan sebagian besar malam terakhir masa lajangmu dengan mendengarkan omelan nona Kuchiki.
"Nell, ku rasa kita bertiga sudah sepakat untuk menjaganya bersama, jadi tenanglah,"
"Kau belum mengenal Kurosaki, Gin!"
"oke aku menyerah tentang itu, tapi apa kau tidak mempercayai Grimm? just calm down dear, you have me okay,"
"Ya." Ujarnya seraya tersenyum ke arah dua surai yang nampak serasi berlatar senja, hitam dan biru.
Entah manakah tempat yang akan dituju, satu hal yang pasti, selama itu Grimm, Nell yakin Rukia akan baik-baik saja.
Pria albino yang sedang memeluk Nell dengan mesra juga tersenyum tulus, ia memiliki harapan yang sama dengan Nell, terutama jika itu menyangkut nona Kuchiki.
Ia tak inginkan lagi gelap merayap, tidak setelah semua usaha mereka selama ini.
.
.
.
Kugo active
Chiru active
Kugo : chi .. .how you breathe when you don't have access to oxygen?
Chiru : then I'll pay for it
Kugo : kalau mahal?
Chiru : I'll find a way for it
Kugo : Why not give up?
Chiru : cause I don't wanna die
.
.
.
"Ruru-chan.", kebiasaan, Grimm selalu mengganggu Rukia tanpa ada peringatan, #eh. "Apa yang kau sembunyikan dariku? Hei... apa itu?"
"Bukan apa-apa Grimm-chan." Seru Rukia sembari membebaskan diri dari pelukan mau Grimmjow.
"Hei… aku ingin lihat… hei Ru... berhenti!"
"Tidak mau, Grimm-chan," Aksi kejar-kejaran pun terjadi.
Hei! Apa mereka tidak melihat para pekerja yang sedang sibuk mendekorasi gedung pernikahan Nell dan Gin?
"Akh!", teriak Rukia saat Grimmjow berhasil menangkapnya.
Grimmjow memeluk Rukia erat dari belakang, dan memulai aksi lainnya, melancarkan jurus maut yang sangat dibenci nona Kuchiki, menggelitik pinggang.
"Grimm-chan… hentikan… akh-hahahaha."
"Ne, panggil namaku dengan benar dulu baru aku lepaskan."
"Mmph… Grimm-chan… akh!"
"Wrong answer Ruru-chan,"
"Oke... oke Grimmie… hentikan!"
"Nah itu baru Rukia ku." Seru Grimmjow menghentikan gelitikannya. Seraya mengecup puncak surai hitam dengan seringai lebar.
Kini azure menatap violet, mengunci mata lemon yang terbelalak indah.
"Ne, let's go out dear." Ajak Grimmjow dengan seringai menggodanya. Blush… sukses sudah rona itu menghiasi pipi seputih porselen milik nona Kuchiki, dan itulah yang disuka Grimmjow dari gadisnya.
.
.
.
"Naik… ini?" Seru Rukia horror melihat Grimmjow menaiki Ducati biru nya.
"Ya, ayolah lah Rukia, kita bisa telat, cepat pakai helmnya." Seru Grimmjow tidak sabar saat Rukia hanya melihat motornya dengan wajah pucat.
Sebenarnya Grimmjow tahu Rukia benci kendaraan bermotor sejak kejadian beberapa tahun silam. Sejak kecelakaan itu, kecelakaan yang telah merenggut kehidupan gadisnya itu. Tapi jika harus menggunakan mobil maka mereka bisa terlambat. "You'll be alright dear, just believe me, ne?" Ujar Grimmjow menenangkan dan disambut anggukan pelan dari si surai hitam.
Ia pun segera memasangkan helm di kepala Rukia dan menatap violet itu sedikit lebih lama, lalu mengecup pucuk hidung Rukia yang berakhir dengan pukulan dasyat dari gadisnya tepat mengenai tulang rusuk, kasihan kau Grimmie.
Superbike melaju perlahan. Dari lantai atas gedung, sepasang hazel dan aqua mengiringi kepergian keduanya dengan sirat kecemasan, meskipun bibir telah mengucap ketenangan.
"Ne, ku antar kau pulang, aku tidak mau menikah dengan panda." Goda Gin, lalu mengecup pucuk hidung Nell dengan mesra, yang disambut tawa renyah kekasih atau calon istrinya? Terserah apa sebutannya.
.
.
.
Apakah tadi diatas tertulis superbike melaju dengan perlahan? Oke segera coret, silang, hapus, karena nyatanya azure itu menyeringai senang di tengah pelukan erat violet.
Ia senang karena Rukia memeluknya erat pada setiap bertambahnya kecepatan laju, kau memang licik Grimm … tidakkah kau rasakan gemetarnya di tengah pelukan hangat itu? Sungguh Rukia tidak akan memafkan Grimm setelah motor ini berhenti, Grimmjow memang manusia gila.
"Kau akan memelukku sampai kapan Ru? Sampai altar huh?" Goda Grimmjow saat melihat tangan mungil itu tetap memeluknya erat meskipun motor telah berhenti.
"Kau jahat Grimm." Lemah suara Rukia menyadarkan Grimmjow akan satu hal.
"Ru," Oh menyesalkah kau Grimm kala melihat wajah gadismu pucat, bibirnya bergetar, air mata terbentuk di sudut mata.
"Gomen," Azure tak sanggup melihat lebih lama, ia meraih wajah cantik seputih porselen yang nampak bersinar di bawah cahaya rembulan, ingin sekedar meyakinkan bahwa tak ada yang perlu dicemaskan.
Namun pemilik tubuh mungil menolak, ia jauhkan wajah cantiknya. Bersiap akan memuntahkan seluruh emosi di sela ketakutan yang berangsur hilang. Persis seperti janjinya saat superbike melaju, sebelum ia menyadari semua.
"Grimm... kore wa gokadesu*,"
Serunya lirih dengan sesimpul senyum, ah kini ia yang menyesal telah menyalahkan Grimmjow, bukankah ia sendiri sadar bahwa lelaki biru ini tak pernah menyakitinya sedikitpun sejak mereka masih suka bermain kakurenbo*.
"Not as beauty as you dear," Bisik Grimmjow sembari tersenyum lembut pada Rukia, ya, senyum itu hanya untuk gadisnya.
Bahkan keluarganya pun tak pernah ia ijinkan melihat senyum mahal itu.
Mereka menikmati festival lampion, mata menjelajah tiap kedai yang berjajar, meski tangan dipenuhi ragam rasa yang telah dipilih.
Ini adalah hari terakhir festival lampion, dan Grimmjow berpikir bahwa Rukia perlu melupakan persoalan Kurosaki di tengah pemulihannya pasca kejadian sungai guryu.
"Shiratama Grimm… akh! aku juga ingin manisan… oh lihatlah Grimm ada pudding berry!"
Ah kini Grimmjow berperan sebagai pelayan Kuchiki-sama, membelikan ini itu, harus berdesak-desakkan dengan banyak orang kala membeli semua pesanan Rukia, dan harus bertahan kala banyak wanita yang menatapnya seolah ingin melahap Grimm hidup-hidup.
Hei, tak lihatkah kau bahwa ia memang serupa hidangan dessert yang lezat?
Otot yang tercetak sempurna hasil latihan selama bertahun-tahun nampak jelas dibalik kaos birunya meskipun telah tertutup jaket.
Rambut secerah langit kian bersinar, bulir keringat yang jatuh hingga ke dagu semakin menambah kesan sexy pada wujud cassanova ini.
Jangan lupakan azure yang menatap tajam saat mendapati banyak pria melirik gadisnya penuh minat, bagai serigala kelaparan #oke anggap itu terlalu berlebihan.
Bukan salah mereka, siapa pun akan terjerat pesona nona Kuchiki.
Violet yang bercahaya, bibir delima yang mungil, hidung bangirnya, kulitnya yang seputih salju, tubuh mungilnya yang terasa pas saat dipeluk, dan tampilan sederhana tapi memikat yang selalu ia suguhkan.
.
.
.
"Ayo naik bianglala!"
"Astaga, baiklah tuan putri,"
Kini mereka saling berbagi tempat dalam ruang kecil melingkar yang nampak seperti penjara itu. Penjara kecil itu berputar layaknya dentangan jam. Violet berbinar kala menangkap gemerlap festival dari atas. Kesenangannya sedikit terusik kala ia merasakan kehangatan pada kedua telapak tangannya. Tangan besar itu menangkupnya, dengan lembut, berusaha mengalihkan perhatiannya dan hanya tertuju pada sang pemilik.
"Aku tahu, pandanganmu tak akan pernah berpusat padaku, tapi tak bisakah kau memberiku satu kesempatan Ru, hanya satu, and I promise you'll ask for more," Meski baritone berbisik, namun masih terpancar keteguhan disana.
Violet mengerjap. Entah berapa kali ia harus menghadapi hal serupa. Namun mungkin, kali ini ia harus menyerah. Karena sejak lama, es itu telah mencair. Ruang itu tak lagi sepenuhnya gelap, karena ada seberkas cahaya yang menerobos masuk. Ia gigit bibir bawahnya. Terlalu sibuk dengan pikirannya. Antara hati atau logika. Antara keinginan tuk kembali jatuh atau tetap berjalan.
"Your lips can get hurt," Ucap Grimmjow kala jemari panjangnya menyentuh permukaan bibir Rukia.
Gadis Kuchiki tersentak. Ia duduk dengan kaku, bahkan hingga pintu penjara mungil mereka telah terbuka. Pemilik azure hanya memberikan senyum tipis, ingin menenangkan, namun justru menambah rasa bersalah pada gadis pemilik tangan mungil yang kini ia genggam dengan erat.
Kaki mungil itu terhenti. Kepalanya tertunduk, surai hitam itu menutupi beberapa bagian wajah nona Kuchiki.
"Hei,"
Saat itu, saat Grimmjow hendak menatap netra yang selalu membuatnya terpuka, Rukia meloncat dengan gesit dan mengalungkan tangan mungil pada lehernya. Anda itu orang lain atau bahkan Nelliel sekalipun, mungkin ia akan langsung berteriak memprotes. Namun kini tubuhnya kaku, dengan mata membulat sempurna. Kala Rukia membisikkan sebuah tantangan.
"Can't you be more romantic, huh?"
Grimmjow tak menjawab, karena Rukia pun tak membutuhkan jawaban. Dengan terpaksa ia melepaskan pelukan Rukia. Senyumnya merekah kala mendapati wajah merona nona Kuchiki nampak cantik dengan biasan cahaya lampion. Ia tangkupkan tangannya pada wajah mungil itu. Mendekatkan mereka hingga tak ada lagi jarak tersisa. Mereka berpagutan ditengah keramaian.
"I'll always be there for you Ru, daisuki," Bisik Grimmjow di sela pagutan mereka yang kian intim.
Dan Rukia hanya membalasnya dengan kian merapatkan tubuh mungilnya dalam dekapan sang kekasih. Tanpa sadar sepasang amber yang berkilat marah dan beige yang memancarkan kepedihan dari kejauhan. Tertutupi kerumunan orang dengan gelak tawa dan canda.
.
.
.
"Hei Kuchiki-sama!" Teriak gadis berambut ungu dari kejauhan.
Segera Rukia mencari keberadaan sang pemilik suara, tapi apa daya dengan tubuh mungilnya ia tak dapat menembus kerumunan orang di festival ini.
"Sudah terlihat?" Tanya Grimmjow sembari mengangkat tubuh mungil Rukia.
Blush, Rukia hanya bisa mengangguk kala violet nya menemukan keberadaan Senna di salah satu kedai, bersama dengan nanas merah, #eh?
Mereka pun menuju kedai takoyaki, tempat Senna berada, dengan Grimmjow yang memimpin langkahnya.
Sebuah sikap protective yang begitu kentara melalui genggaman tangan.
Ia tak mau mengambil resiko gadis mungil itu hilang di tengah kerumunan orang seperti ini.
"Ini yang sering kau ceritakan itu Senna?" Tanya Rukia antusias sembari memperhatikan pria nyentrik di sebelah sahabatnya.
Rambutnya yang merah diikat rapi hingga tak berbeda dengan buah nanas, tato yang memenuhi dahi dan leher, tubuh tinggi besar yang ehem coretsexycoret, dan cengiran yang oh astaga… tidak adakah lomba menarik bibir terlebar? Jika ada mungkin pria rambut merah yang sering diceritakan Senna ini akan menjadi rival tepat untuk seorang Ichimaru Gin.
"Oh hai… aku Renji, kaukah nona Kuchiki itu?" Sapa pria bermbut merah yang ternyata bernama Renji seraya menampilkan senyum lebarnya, jika itu masih masuk dalam kategori senyuman.
"Ne, ne… kalian sudah resmi rupanya," Goda Senna saat melihat Rukia dan Grimmjow saling menggenggam, dan kontan saja kedua orang yang dimaksud merona.
"Aku hanya tidak ingin nona mungil ini hilang, bukankah kau juga cemas jika itu terjadi," Balas Grimmjow datar, menggoda gadisnya. Ya, sekarang ia dengan lantang akan engatakan bahwa Kuchiki Rukia adalah gadisnya. Sedangkan Rukia hanya mendelik sinis dan menarik tangannya kasar dari genggaman Grimmjow, yang kemudian diraih lagi oleh pemilik surai biru, bahkan kini ia melingkarkan tangan kekarnya pada pinggul sexy nan mungil itu dengan posesif.
"Ah ya… jangan sampai yang kemarin terulang lagi," Gumam Senna sembari tersenyum melihat dua sejoli baru dihadapan.
"Ah dimana sih lovebird itu?" Gerutu Renji yang sibuk mengotak atik hp, sepertinya kesulitan menghubungi seseorang.
"Ah ayo kita makan saja Kuchiki-sama… biarkan rambut nanas dengan lovebirdnya." Seru Senna lalu menarik tangan Rukia memasuki Kedai Ramen di seberang mereka berdiri. Yang dibalas pelototan tajam Grimmjow, karena kekasihnya dibawa kabur begitu saja.
"Hei Senna-chan, kau tega sekali bicara seolah-olah kita bukan kekasih." Keluh Renji dengan muka cemberut yang membuat Grimmjow muntah dan Rukia jawsdropped.
"Apanya yang kekasih hah! kita cuma jalan bersama karena Ran dan Momo tidak bisa, sedangkan aku kira Kuchiki-sama masih sibuk mengurusi pernikahan Nell-san besok!" Bantah Senna.
"kau," Violet mengarah ke rambut ungu. "Dengan kau?" Mata itu kian terbelalak melihat Renji yang tersenyum lebar dan menggangguk cepat.
"Ah jangan dengarkan dia Kuchiki-sama, nanti kau hipertensi."
"Lalu siapa yang kalian maksud dengan lovebird?" Tanya Grimmjow penasaran karena yang ia lihat hanya ada mereka berempat dan tidak ada penjual burung di sekitar kedai.
"Itu,"
"Ah paman! pesan ramen 4, yang satu porsi kecil saja dan tidak pedas!" Potong Senna, dan tersenyum pada Rukia, ya…pesanan itu khusus untuk sahabat mungilnya.
.
.
.
Kugo active
Kugo : I choose to play with fire, though I was tortured, cause without oxygen fire won't light up
Chiru Active
Chiru : just never regret okay, cause if it has been reduced to ashes, water is no longer usefull
.
.
.
Mereka berempat menikmati ramen dan saling bertukar cerita.
Satu fakta ditemukan, Renji dan Senna resmi jadian, tapi sayangnya Senna tidak mau mengakui. Karena di hari pertama mereka jadian, Renji terlalu bersemangat melamarnya dengan berteriak di tengah kerumunan orang.
Romantis? Mungkin untuk sebagian orang iya, tapi untuk Senna jawabannya adalah TIDAK.
Sebenarnya acara makan ini lebih banyak diisi dengan pertengkaran konyol Senna dan Renji, Grimmjow yang makan dengan muka kesal karena acaranya dengan Rukia berantakan, dan Rukia yang tersenyum geli melihat tingkah mereka semua.
"Kuchiki-san," Sapa lembut suara yang sangat dikenal Rukia dan menghentikkan pertengkaran konyol dua sejoli newbie.
"Ah Inoue,"
"Oi hime-chan, kau kemana saja hah!" Gerutu Renji yang langsung mendapat sikutan keras dari Senna.
"Ano gomen... tadi aku melihat ada toko mainan, dan aku melihat gantungan Chappy ini, aku membelikannya untuk Kuchiki-san."
"Eh... arigatou Inoue, ini lucu sekali!" Seru Rukia girang, ah wajah polosnya yang ceria itu tanpa sadar membuat semua yang melihatnya tersenyum, termasuk amber yang melihat dari kejauhan.
.
.
.
"never change huh."
Deg…
"Ah Kurosaki-kun, kenalkan ini Kuchiki-san yang aku ceritakan tadi." Sapa Inoue ramah saat Ichigo bergabung, "Kuchiki-san ini Kurosaki-kun,"
Tangan Ichigo tergerak hendak berjabat, namun hanya terbalas oleh pemuda azure tanpa diduga.
"Grimmjow-san, surprise to meet you here Kurosaki-san."
Amber dan azure bersitatap, mencoba menegaskan yang terkuat. Sedangkan violet hanya tergagu di tempat, dan beige menatap senang karena tak lama lagi permainan akan dimulai. Jangan lupakan keberadaan onyx yang mengawasi dibalik bayangan.
Percakapan diantara meriahnya suasana festival dan sesaknya kedai ramen tak lagi sehangat sebelumnya.
Hawa dingin terasa mendominasi meski awan tak terlihat kelabu malam ini.
"Mmmm, Kurosaki-kun sudah mengenal Grimmjow-san?" Tanya Inoue mencoba memecah ketegangan.
"Ah iya, kami pernah bekerjasama." Jawaban itu bukankah untuk caramel? Lalu kenapa amber hanya tertuju pada violet yang tersembunyi?
"Ya, ku harap kita bisa bekerjasama lagi untuk selanjutnya."
"Ya, kita bisa bicarakan dengan pimpinan Hitsugaya Corp. bukan begitu?"
.
.
.
Merasakan suasana kian tegang, Renji berinisiatif memesan gyoza dan berbicara dengan topik random yang ditanggapi tawa renyah Inoue.
"Sssttt... sssstttt... hei Kuchiki-sama" Senna berusaha mengajak Rukia bicara, tapi violet itu tetap terlihat kosong, akhirnya Senna langsung menyeretnya ke arah toilet agar bisa bicara sepuasnya.
.
.
.
"Ne, bukan cuma sekali kau begini!" Selidik Senna.
"Aku sering begini kalau pusing Senna… kau sering melihatku begini kalau di kantor." Sanggah Rukia.
"No! sore ga ue ni aru baai Kurosaki-san, anata wa kore ga suki Ru*, just tell me all!"
"Jikan ga kuru toki, watashi ga oshiete kuremasu*."
.
.
.
Renji memang selalu bisa mencairkan suasana, pembawaannya yang santai memecah ketegangan antara Ichigo dan Grimmjow.
Inoue yang berada diantara ketiga pria pun tak merasa terganggu, ia hanya tersenyum menanggapi candaan Renji, dan menggenggam jemari Ichigo yang terkepal, seakan ingin menenangkan entah dari apa.
"Nee, gantungan itu terlihat lucu di tas Kuchiki-san."
"Ah iya kau memilih dengan baik Inoue."
"Ah bukan aku Kuchiki-san, Kurosiku-kun yang memilihkan, katanya,"
Orang yang menyukai Chappy pasti akan membeli yang terbaru, dan violet mengingatkanku pada warna mataku lanjut Rukia begitu saja.
Amber terkejap."Grimm, jadi melihat kembang api?" Violet mencoba menghindar.
"Lebih baik kita bersama saja." Tawar Inoue yang dibalas anggukan Renji.
Habis sudah alasan untuk menghindar.
.
.
.
Renji dan Senna yang asyik bertengkar memandu perjalanan mereka menuju puncak acara.
Sedangkan tangan yang saling menggenggam itu tak memancarkan kehangatan sedikitpun.
Amber tetap terfokus pada surai hitam, rahangnya mengeras melihat gadisnya berada pada area lawan, benarkah masih pantas disebut gadisnya, jika ikatan itu tak lagi ada?
"Kita bisa pulang sekarang Ru," Tegas Grimmjow.
"Tunggu sebentar saja Grimmjow-san, jarang-jarang kita bisa bersantai diantara tumpukan neraca dan kertas perjanjian." Tawar Ichigo yang mendekat dan memberikan senyum ke arah violet yang mengerjap.
Azure mencoba melawan, tapi saat violet memutuskan "Iya.", maka ia telah kalah telak.
Mereka berjalan ke arah bukit, berharap masih sempat membeli lampion untuk diterbangkan sebelum acara kembang api dimulai.
"Biar aku yang membeli lampion, kalian tunggu saja disini." Tawar Rukia lalu berjalan menuju penjual lampion. "Termasuk kau juga Grimmie." Sambung Rukia sambil berlalu, setelah sebelumnya menampakkan sesimpul senyum, hanya untuk kekasihnya, Grimmjow, yang menambah rasa benci dari kedua pihak lain.
Tanpa mereka sadari pemilik amber mengikuti nona Kuchiki, azure hanya bisa mengawasi dari kejauhan, sebuah peringatan sudah cukup membungkamnya.
.
.
.
"Ikut aku." Tegas Ichigo lalu menarik tangan Rukia untuk menjauh, tanpa seorang pun yang menyadari, kala azure melepaskan pandangannya sesaat, terhalang gulali besar yang tiba-tiba dibawa Inoue untuk dimakan bersama.
Mereka tiba di pinggiran hutan yang berdekatan dengan sungai guryu, festival memang diadakan di dekat sungai guryu. Tapi ini sisi lain dari kejadian tempo hari saat hujan mengguyur Soul Society, dimana violet berharap kesedihan ikut luntur bersama air yang membasahi tubuhnya kala itu. Violet berusaha menampakkan kegarangan, atau mungkin sang pemilik hendak menyamai suhu kutub, memasang benteng es dibalik hatinya yang rapuh. Namun pria dihadapannya tahu satu hal, Kuchiki Rukia hanya akan bersikap begitu dinginnya kala ia terlalu rapuh disaat bersamaan.
Kini Rukia menyesal, telah meninggalkan Grimmjow beberapa saat lalu. Entah apa yang bisa ia perbuat jika harus dihadapkan pada warna senja yang selalu menyesakkan pandangan.
- TBC -
RnR ya minna san
...
...
...
...
...
...
...
...
*kore wa gokadesu : ini cantik
*kakurenbo : permainan petak umpet
*sore ga ue ni aru baai Kurosaki-san, anata wa kore ga suki Ru : kau hanya begini kalau itu menyangkut Kurosaki..Rukia
*Jikan ga kuru toki, watashi ga oshiete kuremasu : kalau waktunya tepat, aku akan cerita
.
.
.
wah chapter ini mengkhianatiku, lebih panjang dari yang kei duga, pinginnya konsist 2k aja hehehehe..tapi yup, inilah hasil rombak. kei cinta grimmruki tapi kei juga suka ichiruki, haduh kei suka asal itu rukia, jadi gimana menurut pada readers? jangan lupa tinggalkan jejak ya .
