Kau tak akan pernah bisa lepas Kuchiki, karena sejak awal kau milikku. Tak peduli seberapa besar usahamu tuk berlari, meski peluh mu kalahkan lautan sekalipun, takdir hanya akan berucap
"Kuchiki Rukia belongs to Kurosaki Ichigo"
- … -
Bleach milik Tite Kubo sama
AU, OC, typo, klik back sebelum menyesal T.T
.
.
.
.
Chapter 5 : New Love in the Middle of Obsolescene
.
.
.
.
."Ikut aku." Tegas Ichigo lalu menarik tangan Rukia untuk menjauh, tanpa seorang pun yang menyadari, kala azure melepaskan pandangannya sesaat, terhalang gulali besar yang tiba-tiba dibawa Inoue untuk dimakan bersama.
Mereka tiba di pinggiran hutan yang berdekatan dengan sungai guryu, festival memang diadakan di dekat sungai guryu. Tapi ini sisi lain dari kejadian tempo hari saat hujan mengguyur Soul Society, dimana violet berharap kesedihan ikut luntur bersama air yang membasahi tubuhnya kala itu.
"Katakan Kuchiki."
"Apa yang harus aku katakan Kurosaki?"
"Apa hubunganmu dengan Grimmjow? whether the marriage can cover you sins?"
"that's not your business Kurosaki!" Lantang Rukia menjawab, bahkan violet itu tak lagi menyendu, ia terselimut kemarahan yang menggeliat ingin menunjukkan diri.
"Setidaknya hargailah aku sebagai mantan tunanganmu Rukia, atau kau tidak ingat tentang persahabatan kita?"Geram Ichigo.
"Since I love you, your no longer my friend, and after all, you just a stranger for me!"
"Apa kau benar-benar ingin aku menyiksamu Rukia?"
"Bukankah aku menerima tantanganmu saat di rumah sakit, Kurosaki."
"You'll be sorry Kuchiki."
Langkah kaki mungil bergerak menjauh, ingin berlari tapi keangkuhannya mengatakan untuk berjalan tenang. Sekedar memproklamirkan bahwa ia tak gentar dengan ancaman apapun, meski hatinya masih terselimut ketakutan.
Derap langkah terdengar memburu dibelakangnya, memaksa tubuh ringkih itu untuk berbalik menghadap sang pengejar.
Kedua bibir bertemu secara paksa, pengejar berusaha mendominasi, seolah lapar ingin mengecap bibir delima yang nampak lezat.
Tangan kecil berusaha mendorong tubuh yang dua kali lipat lebih besar darinya. Tapi apa daya jika akhirnya ia harus pasrah saat kekuatan yang lebih besar mengunci tubuhnya agar tidak bergerak dan membantah keinginan penguasa.
Pemangsa tak mengijinkan korbannya untuk sekedar menghirup oksigen yang kian menipis diantara pertukaran saliva. Meski ia mengaku kalah, namun sorot matanya tak menyiratkan ketakutan barang secuil.
Hal itu membuat pemilik Kurosaki Inc. terpancing emosi, ego nya yang ingin selalu menjadi penguasa mendapat rival yang sepadan. Nona mungil bermarga Kuchiki siap menantang dengan garang.
Kedua tubuh kian menyatu meski masih ada batas berupa kain yang melekat. Rintihan terdengar samar kala Kurosaki menghimpit Kuchiki diantara batang pohon yang kasar dan tubuhnya yang menjulang.
Andai rintikan itu turun, mungkin cerita akan berada di alur yang berbeda.
.
.
.
Duagh…
Tubuh tegap itu nampak lincah menyerang lawan, cinta membuat orang menjadi kuat kah? atau kehilangan akal?
Perkelahian tak terhindarkan. Azure menjelma bak jaguar, bergerak lincah dan kuat dalam menghantam lawan. Sedangkan amber serupa bayangan, sanggup membaca gerakan lawan dan menyelimutinya dalam kegelapan.
Mereka saling menghantam dan berkelit, sungguh sebuah pertunjukan mahal kala bukan hanya kehormatan yang menjadi taruhan. Masing-masing ingin menunjukkan kekuasaan, terlihat dari kuatnya kepalan dan tajamnya pandangan.
Kilatan perak terlihat menyilaukan, bagai fast motion yang memberikan efek sempurna di tengah pergulatan. Sedangkan violet hanya sanggup menahan isak, menjadi penonton sebuah opera yang menjadikan ia sebagai pemeran utama yang terasingkan.
"Akh!" Geram Grimmjow saat sebilah pisau menggores lehernya. Tak cukup dalam karena ia sempat menghindar meski terlambat.
"Carilah lawan yang sepadan Grimm." Ucap Ichigo meremehkan.
Tapi Grimmjow tidak tinggal diam. Ia arahkan kakinya ke belikat lawan. Ichigo merintih, belum cukup rupanya. Kembali ia serang rusuk lawan dan mencengkram leher yang sanggup menghambat laju pernapasan.
Pukulan telak di area wajah itu dihentikan lengkingan keterkejutan nona Kuchiki. Ichigo menjadikan hal itu sebagai kesempatan untuk melumpuhkan lawan dengan menendang perutnya.
Grimmjow mundur beberapa langkah. Ia belum menyerah, kepalannya masih kuat. Sanggup untuk mengantarkan beberapa pukulan ke wajah tampan pemimpin Kurosaki Inc.
Pukulan pertama dapat ditangkis dengan mudah oleh penyandang marga Kurosaki, tapi sepertinya keberuntungan hanya datang satu kali, karena untuk pukulan kedua, tekad Grimmjow lebih kuat dari sebelumnya.
"Ak!h" Tidak. Jeritan itu tak seharusnya datang dari bibir delima.
"Teishi Grimm… onegai!" Susah payah Rukia berucap disaat bibirnya dipenuhi luka akibat ciuman dan pipi kebiruan, lebam.
Kedua lelaki itu membeku, terpaku pada sosok yang tak diharap untuk terlibat adu kekuatan.
Setelah sadar dari keterkejutannya, segera Grimmjow menggendong tubuh Rukia ala bridal style. Bibirnya berucap maaf dengan lirih berulang kali. Sesalnya tak akan dapat mengembalikan wajah gadisnya merona kembali. Ia mengajak Rukia melihat kembang api untuk melihat senyum yang ia inginkan terkembang, bukan untuk memberikan rona kebiruan pada paras cantik nona Kuchiki.
Sedangkan pemilik amber menatap hampa. Ia ingin mendamba, tapi kegelapan telah menguasainya. Tujuan utamanya sudah jelas, lantas mengapa ia merasa marah kala Kuchiki muda terluka? Mengapa ia menyesal akan noda yang mengotori gadisnya?
Onyx dan beige hanya memantau dari kejauhan. Mereka mengikuti tiap adegan dari awal hingga berakhir dengan menggelikan.
Mereka hanya pendukung yang bergerak dibalik layar, yang tak berhak mengubah cerita sang sutradara. Namun jauh di dalam lubuk hati, mereka meragu akan fakta yang masih tertutup kabut, entah kapan akan tersingkap.
.
.
.
Superbike biru menderu memecah aspal. Kedua penunggang nampak sibuk dengan pikiran masing-masing. Tak ada lagi ketakutan, kala tekanan yang mendominasi. Tak ada lagi kata maaf, kala emosi menguasai.
Grimmjow menghentikan motornya di tepi pantai shirayuki, pantai indah yang membentang di utara Soul Society. Jauh dari sungai guryu dan apartement mereka di selatan.
Mereka hanya terdiam, merasakan sentuhan kejam angin malam yang menusuk kulit menembus pori-pori. Namun kedua tangan saling bertaut, seolah panas dapat menjalar melalui sentuhan ringan.
Grimmjow perlahan meraih wajah Rukia, menatap tiap inchi wajah yang selalu ia puja. Mengecup lebam yang telah tanpa sengaja ia torehkan pada paras cantik gadisnya.
Lama kecupan itu bertahan, "Gomen." Ia berbisik lirih, hampir tak ada jarak antara bibirnya dengan bibir Rukia. Tanpa diduga kedua tangan mungil menggantung di kedua bahu Grimmjow, memeluk erat, menimbulkan kerutan pada kain tipis yang membalut tubuh kekar, menangis tertahan, pilu.
"Aku yang seharusnya minta maaf Grimm, maaf karena aku menerimamu-"
"Apa yang kau katakan Ru,"
"I can not love you any more than I love him first,"
"It's okey Ru, yang sekarang pun cukup, bahkan jika itu benar-benar tak ada sekalipun,"
Tangis nona muda itu kian meraung, menyimpan kepedihan mendalam. Ia pukul berkali-kali dada bidang sang pelindung, seolah dengan begitu maka semua perasaan sakitnya akan menghilang.
"Bencilah aku Grimm,"
"I'll never hate you dear."
"Rasa itu ada Grimmie, tapi aku belum yakin, gomen."
"yah, no prob dear, I love you too,"
Grimmjow hanya bisa mendekapnya erat, mengelus perlahan punggung ringkih milik wanita berhati kuat. Ia hanya berharap bahunya cukup lebar sebagai sandaran. Punggungnya cukup tegap untuk melindungi. Dadanya cukup lapang untuk menenangkan. Kedua tangannya cukup tangguh untuk mendekap.
Grimmjow merasakan tubuh yang dipeluknya mulai ringan, ah rupanya nona Kuchiki telah pulas. Betapa rapuhnya wajah cantik itu, cahaya yang dulu mengalahkan sinar mentari, perlahan meredup. Ia hanya bisa berusaha agar cahayanya tidak termakan kegelapan.
Ia balik perlahan tubuh itu agar bersandar penuh di dadanya, menjadikan ia sebagai alas tidur pujaan hati. Tangan itu begitu erat mengungkung tubuh mungil, ia kecup berulang kali surai hitam selembut sutra. Perlahan ia berbaring, mereka terlelap dalam buaian pasir malam ini.
Tak peduli bagaimana pagi akan menjelang. Satu hal yang pasti, saat ini mereka akan menghabiskan malam berdua dengan taburan bintang, deru ombak yang menjadi musik pengiring, dan aroma lavender bercampur aquatic (campuran dari patchouli, rockrose, dan cedarwood) sebagai penenang.
.
.
.
Di sungai guryu, sepasang saffron mengamati semuanya. Tanpa harus si putri menjelaskan, tanpa harus ada perintah untuk mengawasi. Kini ia telah mengetahui sedikit dari kotak yang belum terbuka sepenuhnya.
.
.
.
Pada salah satu ruang di apartemen mewah bernuansa kelabu, surai hijau terselimut amarah. Tangannya terkepal, ingin berteriak, namun albino mencegah dengan dekapan.
Cahayamu akan memudar dan hilang selamanya, karena kegelapan lah yang akan berkuasa.
Jangan mengharap kala kau sadari semua telah terlambat.
.
.
.
"Astaga, apa yang terjadi pada kalian!" Histeris Nell saat melihat kondisi kedua orang yang terpaku di depan pintu. Sepasang suami istri yang berada disana memicing tajam ke arah pemuda bertubuh tegap.
.
.
.
Mereka terbangun kala cicitan burung menyapa seiring hembusan angin yang mulai panas. Kedua mata saling menatap, seperti ada magnet yang mengikat.
"Kita bisa pergi Ru, kemanapun yang kau mau."
"Tidak Grimm, kalau aku harus pergi, aku hanya akan berjalan sendiri, bukan denganmu."
"Aku pastikan itu tak terjadi Kuchiki! kau lupa kalau kau sekarang milikku hm? bahkan kau mengemis sekalipun, tetap tak akan aku lepaskan,"
Rukia tersentak, ini ia menyesal, telah memilih tuk jatuh. Dimana keputusannya membawa pemuda berambut biru turut serta dalam kubangan rasa bersalah yang terjadi karena kesalahpahaman. Ia menekan kukunya terlalu dalam hingga sedikit menancap pada telapak. Sedangkan bibirnya terkunci rapat, mencoba menahan isak akibat dari sebuah keputusasaan.
"Aku tahu, dan aku memutuskan tetap tinggal." Balas Rukia kemudian, berusaha tersenyum.
Namun Grimmjow bukanlah pria brengsek yang tak peka dengan perasaan Rukia. Ia yakin gadis didepannya juga memiliki perasaan yang sama. Namun mungkin perasaan itu bisa sewaktu-waktu terhapus kala berhadapan dengan masa lalu yang penuh luka. Rukia adalah gadis yang kuat, namun ia tetaplah wanita yang masih meragu akan semua hal dihidupnya.
.
.
.
Superbike melaju perlahan, pengemudi seolah sengaja ingin waktu berjalan lambat. Jika ia bisa egois, sejak 3 tahun lalu gadisnya akan ia ikat, bagai satu paket yang akan selalu ada disampingnya apapun kondisi yang terjadi.
Kini bukan surai hitam yang berpegangan, tapi makhluk biru yang memaksa tangan mungil itu untuk mendekapnya. Bukan ia takut gadisnya akan pergi, setidaknya ia tidak sepicik itu. Tapi bukan berarti ia akan biarkan Kurosaki berkuasa untuk kedua kalinya. Apakah dosa jika ingin gadis yang dicintai selalu dekat? Ia hanya ingin nona Kuchiki selalu berada dibawah pengawasannya, karena pernah sekali ia melepas, dampak yang diterima sanggup menghancurkan cahayanya dalam sekejap.
.
.
.
"Sayang," Tegur lembut wanita berkepang. "Nee… Grimmie, bersihkan lukamu, Ruru-chan… ayo Kaa-san bantu."
Dua pasang mata tajam menatap garang ke arah azure. Menunjukkan kekecewaan, meski dengan sadar juga menunjuk pada diri masing-masing yang telah ingkar pada janji.
"Kau gagal menjaganya, anakku?"
"Gomen Tou-san."
"Kau sudah berjanji di hadapan keluarga Kuchiki dan Sousouke, Grimmjow."
"Aku tahu Tou-san, aku janji ini yang terakhir."
"Apa ucapanmu bisa kupegang, Grimm?"
"Pasti Tou-san, setelah ini, aku akan lebih menjaganya,"
Pria tua yang masih terlihat tampan itu menghela nafas lelah, ia Sousouke Aizen, telah berjanji di hadapan mediang Kuchiki Byakuya dan Kuchiki Hisana untuk menjaga putri mereka. Bahkan sebelum mereka memohon, ia dan keluarganya akan menjaga. Bukankah itu terbukti dengan ia yang rela menjadi dosen di universitas Rukia meski harus tetap mengurus perusahaan yang tidak bisa dibilang kecil?
Ia tahu Grimmjow, anak angkatnya, bisa menjaga amanah itu. Bukan ia meragukannya, tapi hingga kini ia tidak bisa membaca maksud dibalik semua sikap Kurosaki sulung.
.
.
.
"Kau bisa cerita Ruru-chan."
"Bohong kalau sensei tidak tahu."
"Nee… aku bukan lagi dosenmu Ruru-chan, ah… mana sebutan kaa-san untukku?" Goda wanita bernama Unohana itu.
"Kaa-san," Balas Rukia lalu berhambur ke pelukan Nyonya Sousouke.
Terisak, karena hanya di hadapan keluarga Sousouke ia bisa meluapkan seluruh emosi. Hanya keluarga ini, setelah ia tak diijinkan memiliki keluarga lainnya lagi.
"Menangislah Ruru-chan, tapi kau harus janji ini yang terakhir."
"Ruru-chan," Nell langsung mendekap erat wanita mungil itu.
"gomen nee-san,"
"Ssttt… it's oke. Ini yang terakhir, tenanglah."Ayolah rambut hijau, ini hari bahagiamu, jangan menangis, mascaramu bisa luntur.
.
.
.
Pesta pernikahan berlangsung dengan khidmat. Banyak kolega bisnis datang untuk memberi ucapan selamat. Suatu keberuntungan kala sejauh mata memandang tak terlihat warna orange dimanapun.
Sorotan elang memantau di kejauhan, tak berminat tuk mengusik pancaran kebahagian di hari sakral.
"Tak leluasa nee Zangetsu."
"Aku hanya menargetkan satu orang, mengusik entitas lain itu kebodohan."
"Munafik seperti biasa."
"Shut up quincy!"
"When are you going to realize your feelings?"
"The only feeling left only hatred."
"Just never regret okay, cause if it has been reduced to ashes, water is no longer usefull."
Deg
"Are you ok Zangetsu?
"Ya."
"So… now there is no woman you love huh?"
Senyum itu seharusnya menjadi jawaban atas pertanyaan yang terlontar. Karena senyum itu ditujukan untuk dua orang yang berbeda. Seorang yang mulai dicengkeram kegelapan, dan seorang lagi adalah pembawa cahaya baru bagi kehidupannya. Kaki jenjangnya melangkah, meninggalkan pohon mahoni yang menyamarkannya dari kegiatan bak stalker.
.
.
.
"Terima... Terima!"
Pekikan keantusiasan menggema. Beberapa saat lalu pekikan kekaguman mengiringi merdu suara baritone yang mengalun indah. Representasi kebahagiaan kakak tercantik dan terbawel yang telah mengikat janji suci dengan manusia perwujudan rubah #hah. Grimmjow menjelma bak taeyang dengan lagu wedding dress, namun, getaran cinta itu untuk sosok malaikat kecil yang nampak anggun hari ini. Rukia. Dengan balutan minidress motif sakura yang menggantung cantik di pertengahan paha, ditambah cardigan putih sebatas siku. Didukung wedges putih membalut sempurna kaki mungilnya dan rambut yang dikepang dengan hiasan bandana berbentuk snowflake. Bagi Grimmjow dan mungkin banyak manusia lainnya termasuk pasnagan pengantin, Rukia terlihat sempurna.
Grimmjow masih setia menekuk salah satu kakinya untuk menyamakan tinggi hingga batas leher nona Kuchiki. Sedangkan pemilik jemari yang kini ia sentuh dengan lembut itu, menggigit bibir untuk menutupi gemuruh jantung layaknya music beat.
"Ru, would you be mine? marry me?"
Dan senyum nan seksi ala Grimmjow terkembang, kala netranya menangkap anggukan surai hitam meski samar. Segera saja ia sematkan cincin berlian berbentuk telinga kelinci pada jemari mungil, ditutup dengan kecupan ringan di pipi yang kian menambah rona merah pada wajah gadis, ah, tunangannya. Rukia yang malu dengan sorak sorai dan siulan menggoda itu, justru kian merapatkan tubuhnya pada kehangatan Grimmjow. Menyembunyikan wajahnya dan tidak sadar menggosok-gosokkan wajah pada kemeja putih yang dibalut vest. Membuat pemilik tubuh kekar itu secara reflek kian mendekap erat tubuh kecil peminta perlindungan.
Semua orang tertawa melihat aksi lucu itu. Kebahagiaan kian lengkap terasa hari ini, sepertinya Kami-sama sedang bermurah hati menebar berkah tak berujung. Sedangkan pemilik beige hanya menampilkan segaris senyum dingin, tuk menutup kekecewaan mendalam yang sedang menimpa dirinya. Luka ia rasakan dibalik kebahagiaan yang menyeruak.
.
.
.
Awan bergerak dinamis, menguarkan beragam ekspresi manusia yang dinaunginya. Mentari tergantikan rembulan, malam menjelang dengan kepekatan yang lebih tebal.
Suasana bahagia masih terpancar diantara renyahnya tawa, keenam bangsawan bertutur tentang segala peristiwa yang terlewat. Hingga kantuk menyergap pertanda tubuh perlu diistirahatkan.
Sapaan selamat tidur serupa formalitas tuk menunjukkan keakraban. Hening lantas menyambut di penjuru apartement mewah dengan sentuhan kelabu.
"Kau, apa yang kau lakukan Grimm!"
"Tidur," Jawab Grimmjow datar sembari menutup mata dan menyamankan posisi berbaringnya di kasur beraroma lavender.
"Kau, kembali ke kamarmu, segera!" Pekik Rukia seraya menarik tangan Grimmjow dengan keras.
"Kita sudah bertunangan Ru, aku akan tidur disini, tidak melakukan apapun, hanya tidur, oke?"
"T-I-D-A-K!"
"Ayolah-"
Dan akhirnya kini mereka berbaring bersama dengan sebuah guling memisahkan keduanya. dua tubuh dengan tinggi yang sangat kontras, menyamankan diri tuk terbuai mimpi. Belum pernah salah satu diantara tidur senyaman ini, rupanya kehadiran satu sama lain sangat berarti melebihi apa yang mereka kira selama ini.
Chappy chappy chappy la la la
"Moshi... moshi," Tersendat, suara lembut menyapa.
"Inoue... ken," -apa
"Kuchiki-san… tolong aku... hiks... aku," Ucapan nona Kuchiki terputus isak dara ayu berambut caramel.
.
.
.
Kurosaki-kun mengajakku ke Arrancar Club, banyak wanita berpakaian aneh dan para pria yang menyeramkan. Aku tak tahu harus kemana … aku tak tahu ini dimana, tolong aku Kuchiki-san.
Kurosaki-kun… hiks… meninggalkanku sendirian disini.
- TBC -
RnR ya minna san
...
...
...
...
...
...
...
...
Nozaki: ah, sebenernya malah kei gak tega bikin gini, cuma ini gak tau kenapa punya ide beda dr awal
Ichiruki HF : ah gomen kalau beda dr harapan, tapi ini kei masih cari2 ide juga, hehehe
