Kau tak akan pernah bisa lepas Kuchiki, karena sejak awal kau milikku. Tak peduli seberapa besar usahamu tuk berlari, meski peluh mu kalahkan lautan sekalipun, takdir hanya akan berucap
"Kuchiki Rukia belongs to Kurosaki Ichigo"
- … -
Bleach milik Tite Kubo sama
AU, OC, typo, klik back sebelum menyesal T.T
.
.
.
.
Chapter 7 : Mine
.
.
.
.
Chappy chappy chappy la la la
"Moshi ... moshi," Tersendat, suara lembut menyapa.
"Inoue ... ken," -apa
"Kuchiki-san … tolong aku ... hiks ... aku," Ucapan nona Kuchiki terputus isak dara ayu berambut caramel.
.
.
.
Kurosaki-kun mengajakku ke Arrancar Club, banyak wanita berpakaian aneh dan para pria yang menyeramkan. Aku tak tahu harus kemana … aku tak tahu ini dimana, tolong aku Kuchiki-san.
Kurosaki-kun … hiks … meninggalkanku sendirian disini.
.
.
.
Langkah kaki yang berderap beriringan dengan degup kencang. Tak terselip sedikitpun ragu pada tiap aspal yang terinjak. Bulir keringat perlahan turun meski dingin udara mengitarinya. Nona Kuchiki tak sempat mengganti alas bahkan pakaian. Hanya piyama tipis, alas dalam rumah berhias chappy dan handphone di sakunya yang menemani. Ia tahu pasti dimana letak Arrancar Club, salah satu klub malam di bawah naungan Kurosaki Inc.
Brengsek kau Kurosaki, Inoue terlalu polos untuk hal-hal tabu di malam hari.
Surai hitam menjadi sorotan di tengah alcohol yang menguar dan kepulan asap rokok. Irama music DJ terdengar rancak mengiringi liukan manusia dengan nafsu yang membuncah. Kuchiki muda ketakutan, terlihat dari tangannya yang mendingin dan bibir bawahnya yang digigit kuat. Matanya menjelajah demi menemukan surai caramel di tengah banyaknya warna yang berbaur jadi satu.
Ketemu ... surai caramel nampak menghindar dari tangan-tangan usil lelaki hidung belang. Segera ia langkahkan kakinya dan menarik caramel terlepas dari huru-hara memuakkan.
"Hiks... hiks," Mereka berhasil menghirup udara segar meski belum sepenuhnya aman, tapi surai caramel tak henti menangis meski kondisinya baik-baik saja.
"Inoue, kau belum lama kenal Kurosaki, sebaiknya kau hati-hati." Ujar Rukia menenangkan.
"Tapi ia orang baik Kuchiki-san… aku… hiks,"
"We back now, oke?"
"I love him, you don't know how it feels, when... when… akh!" Histeris Inoue.
"Inoue… I know the feelings, I know! when the person you love isn't like what you'd expect!" Kilatan marah terpancar dari sepasang violet.
.
.
.
Yout don't understand how I feels, Inoue. When people I love don't trust me and go away.
Yout don't understand how I feels, much time that I spend alone.
Yout don't understand how I feels, Inoue. Lament every teardrop is wasted.
Yout don't understand how I feels, Inoue. When I'm dying of love.
And I threw out those who should I love.
.
.
.
Namun semua kalimat itu hanya dapat bergema di pikiran tanpa pernah memiliki kesempatan untuk di ekspresikan.
Mereka berjalan gontai, terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga tak menyadari beberapa entitas yang menatap mereka bagai serigala lapar, berandalan.
Jemari Inoue menggenggam erat, menyadarkan Kuchiki akan satu hal, sahabat manisnya bisa menjadi main course lezat jika mereka tidak segera menghindar.
Tangan-tangan usil mulai bergerilya, menjamah kelinci kecil yang nampak tak berdaya. Kondisi yang mendukung, 2 wanita dan 3 pria, tambahkan catatan pria berandalan dengan tubuh besar. Dan mereka berada di gang sempit yang pengap, jauh dari jalan raya atau akses keramaian sejenisnya.
"Do you wanna play with us lady?" Seringai itu mengancam.
"Minggir." Nona mungil menatap sengit, menunjukkan bahwa ia yang seharusnya berkuasa.
"Akh!" Salah seorang berhasil mendapatkan hidangan utama, sedangkan lainnya memicing ke arah tubuh yang terlihat sangat kecil bagi mereka.
"Kuchiki-san," Suara itu bergetar, buliran air mata jatuh membentuk sungai kecil di sepanjang pipi yang memerah.
"Lepaskan dia brengsek!"
"Woo wooo… kelinci kecil yang berani."
"That's my girl, you smell so intoxicating." Bisik pria berambut setengah botak?! tepat di belakang leher Rukia.
"Well... well... well… we'll let her go as long as your willing to serve us–petit!"
"Keep dreaming crook!" Bantah Rukia sembari menendang lawan didepannya sekaligus melakukan pukulan siku ke arah perut lawan yang berdiri tepat di belakangnya.
Nasib malang untuk korban pertama, karena tendangan itu hampir mengancam garis keturunannya. Sedangkan pria yang setengah botak telah berusaha bangkit dari nyeri di tulang rusuknya.
"Argh!" Lelaki berkepang yang tadi menahan Inoue, berteriak seketika saat Inoue menggigit tangan yang membelenggunya dengan kuat. "SHIT, BITCH!"
"Inoue… LARI!" Teriak Rukia mencoba menghalangi pria tersebut untuk kembali mengejar Inoue.
Inoue Orihime hanya diam dan menunduk, kala Rukia kembali terkepung. Nyeri yang dirasakan Rukia terlihat dari raut mukanya, bukan suaranya, karena gadis mungil itu masih berusaha menenangkan Inoue dengan tersenyum tipis, memaksakan.
Namun Inoue masih tetap diam, tidak berusaha untuk menjalankan instruksi ataupun membantahnya. Tak lama kemudian terlihat bahunya bergetar, lalu sedikit isak terdengar.
Kedua lelaki botak mencoba menjamah Rukia, dan berhasil. Rukia mencoba menendang ke segala arah karena kedua tangannya yang di pegang erat. Mulutnya terus menerus mengatakan lari kepada sahabatnya. Jika aku harus berakhir, setidaknya biarkan aku sendirian Kami-sama.
Lelaki berkepang mulai mencengkram leher Rukia, menghambat laju pernapasan, Rukia tersengal. Sedang dua orang lainnya masih berusaha mencumbunya, bermain kasar, menyakitinya, sungguh ia tak berdaya. Ia benar-benar serupa kelinci kecil di tengah kerumunan serigala lapar. Di akhir kesadarannya, diantara pandangannya yang memburam karena air mata, ia masih dapat mendengar dan melihat semua meski samar.
"Gomen nee Kuchiki-san." Isak itu berganti nada datar yang terkesan dingin –cause you've stolen what is rightfully mine
Deg
"I've completed my part Zangetsu.", ucapnya kepada rambut secerah senja yang tiba-tiba memeluk Rukia erat, menandakan kepemilikan kah?
Gadis caramel bermata beige itu berbalik meninggalkan topeng kepalsuannya disana. Berjalan dengan anggun dan bersenandung lirih. Ia muak dengan semua kepura-puraan yang terpaksa harus diperankan selama 1 tahun atau mungkin lebih? Entahlah, tapi semua sebanding dengan hasil yang ia peroleh. Kini ia hanya harus memainkan nada terakhir agar opera yang ia lakoni tidak berakhir dengan sumbang.
"Kalian boleh pergi sekarang." Mata itu memicing tajam pada ketiga pria yang masih menatap gadisnya dengan penuh minat, sesungguhnya ia tak rela, tapi bukankah memang ini salah satu peraturan mainnya?
"Mereka hanya menakutimu sayang, karena hanya aku yang boleh menyentuhmu." –only me, bisikan itu ia ucapkan semanis mungkin sembari menyentuh perlahan pipi seputih porselen. "B-I-T-C-H", namun dengan nada dingin ia melanjutkan, nada itu rendah serupa geraman.
Dan cahaya itu benar-benar jatuh dalam kegelapan.
.
.
.
"Kau buta Inoue." Datar suara itu serupa ancaman, namun beige hanya memandang sekilas.
"jaga ucapanmu quincy!"
"You won't gain anything."
"Nothing will happen, I was just playing around."
"You don't know who your partner, you'll be sorry."
"Apa maksudmu?"
"Kurosaki akan menyesal, dan kau tak akan mendapatkan cintamu kembali."
"Cih, kau pun membantunya Ishida!" Geram Inoue dengan mata berkilat marah.
"Aku dokter Inoue, aku membantu Kurosaki mencari informasi dan merawat apa yang seharusnya aku jaga, tapi sebelum informasi itu sampai padanya, kalian sudah bermain terlalu jauh, BUKANKAH AKU SUDAH MENGINGATKAN?" Nada yang biasanya terdengar datar itu kini diliputi kemarahan.
"Ap... a... mak... sud... mu?" Suara itu perlahan tergagap, ketakutan menyelimuti hatinya, pikirannya kalut. Bukankah sejak awal memang ia merasa ada suatu keanehan? Tapi karena hanya kebencian yang ia rasakan pada nona Kuchiki, hati nuraninya pun tertutup, dan semua kecurigaan itu menghilang bagai asap.
.
.
.
[Inoue pov]
"Semua ini salah paham Inoue, dan kalau terjadi apa-apa pada Kuchiki, kau tahu akan berhadapan dengan siapa"
.
SHIT, berulang kali perkataan itu berputar di pikirannya. Ishida Uryu adalah informan hebat, selain tugas utamanya sebagai dokter di SS International Hospital. Ia juga yang menangani Rukia saat kejadian sungai guryu, dan ia juga mendapatkan segala informasi 3.5 tahun lalu berupa rekam medis Kuchiki Rukia di Karakura Hospital.
.
"it's a bullshit quincy!"
"kau kira aku akan bermain-main tentang orang yang aku cintai!"
"cih, kau bilang cinta? Kau bahkan membantu Kurosaki untuk menghancurkan Kuchiki!"
"AKU SUDAH MEMPERINGATKANNYA! Aku… sudah berusaha mencegahnya, selama ini ia hanya membuat Kuchiki menangis, ia brengsek... aku… ya aku memang pengecut, aku memang kejam, tapi Kurosaki sahabatku… ia lebih dari itu, karena ia dan keluarganya lah aku bisa begini Inoue. Kau tahu, posisiku sangat sulit."
.
Ishida Uryu menangis, untuk pertama kali dalam hidupnya ia menitikkan air mata. Bahkan saat ia tahu bahwa kedua orang tuanya membuangnya ke panti asuhan, ia tidak menangis. Saat ia harus bersusah payah bekerja agar bisa tetap bersekolah, ia tak menangis. Saat ibu angkatnya meninggal, ia pun tak menangis.
Tapi ini tentang wanita pertama dalam hatinya, wanita pertama yang dapat ia pandang dengan jelas meski tanpa kacamata minusnya.
Aku sudah tahu semua ini sejak awal mengenal mereka, bagaimana pandangan sengit yang Ishida tawarkan di setiap kebusukan Kurosaki akan nasib Kuchiki. Bagaimana ia merawat Kuchiki diam-diam tanpa sepengetahuan Kurosaki bahkan keluarga Aizen meski itu telah melewati jam tugasnya, ia hanya akan berdalih piket jika ada yang menanyakan. Bagaimana ia akan dengan rutin mengganti lily putih di ruangan Rukia, menambahkannya agar nampak lebih banyak, meski Kurosaki telah menitipkan lily yang cukup banyak pada Ishida. Ya mereka semua sama, Kurosaki munafik dan Ishida seorang pengecut, hah… sahabat yang kompak.
.
"kalau kau memang peduli pada Kuchiki, selamatkan dia Ishida!" Aku menggeram, kesal.
"Kurosaki meninggalkan semua alat komunikasi di apartementnya, meskipun ia akan tahu semuanya, aku tak tahu handphone utamanya, tapi setidaknya aku sudah mengirim email tentang kebenaran itu.", suara itu kian lirih, putus asa.
"apa yang kau tahu quincy?"
"semuanya Inoue... semuanya…"
"aku tahu mereka dimana."
.
SHIT, untuk kesekian kalinya hanya kata itu yang berputar. Ishida memilih kembali melanjutkan pencariannya setelah menceritakan kejadian singkatnya, tapi itu cukup untukku meratapi kebodohanku.
Pikiranku kacau, aku telah mendengar semuanya dari informan terpercaya. Akankah semua terlambat? Benarkah aku tak akan bisa mendapatkanmu kembali? Benarkah aku wanita kejam?
Kuinjak gas dalam-dalam, entah kecepatanku melebihi batas normal atau tidak, aku tak peduli, biarkan saja polisi melakukan tilang, yang penting aku harus segera menemuinya.
Kulihat warna pelangi dari kejauhan, bergerak gelisah, aku tahu penyebabnya dan itulah yang akan aku sampaikan.
Sebelum mereka pergi, aku berhasil sampai meski harus dengan ban berdecit, hei… aku bukan pembalap, suatu keberuntungan jika sekarang aku tak menabrak apapun.
[Inoue pov end]
.
.
.
[flashback 45 minutes ago]
"Mmmph... Gin," Desahan lirih itu memenuhi ruang yang dihias dengan beragam warna mawar dan sedikit bunga lily di sudut ruang, hasil dekorasi tambahan ala nona Kuchiki setelah berdebat panjang dengan Yumichika.
"Ssstt… a little bit more honey." Tak ada hening kala berisik gesekan yang mengisi."NELL!"
Geraman tertahan dan pekikan kecil menjadi pengikat bagi surai hijau yang bergumul dengan albino. Sayang, kegiatan mereka terganggu dengan suara bising di luar kamar. Sempat mereka melirik ke arah weker chappy, weker yang menjadi hadiah pernikahan mereka dari ratu kelinci. Angka menunjukkan pukul 1 dini hari, bukankah mereka semua seharusnya sudah tidur?, sekiranya begitu jalan pikir mereka.
"RUKIA!" Teriakan Grimm kontan membangunkan semua penghuni dan membuat pengantin baru lekas bergegas.
"Ada apa Grimm?" Tegur wanita anggun berkepang panjang mencoba menenangkan anak lelakinya yang seperti orang kesetanan.
"Astaga Grimm… bisakah kau tidak membuat keributan hah!" Gertak surai hijau.
"Ada apa ini?" Baritone mencoba menenangkan.
"Tou-san... Rukia tak ada dimanapun." Azure menatap dengan cemas namun rahangnya mengeras pertanda kemarahan sedang berusaha ia tahan. "Astaga! bisakah kalian menyelesaikan urusan kalian dulu baru keluar hah!" Kontan Grimmjow mendengus saat menatap pengantin baru.
Oh bukankah itu wajar jika melihat lelaki sexy sedang memamerkan tubuh bagian atasnya yang sixpack, celana jins yang menggantung tepat di pinggul dan albino yang messy. Tambahkan dengan wanita di rangkulannya yang tidak bisa dikatakan "berpakaian", ia hanya menutupi tubuh polosnya dengan selimut tipis yang melekat pas membentuk tubuh, dan jangan lupakan keberadaan bercak merah di sekitar leher.
Kedua wajah itu memerah, mereka lupa dengan kondisi diri saat pikiran seketika tertuju pada nona Kuchiki.
"Nee... lihatlah sayang, mereka nampak manis." Senyum Unohana serupa kunai yang siap menerjang lawan, cukup dipahami oleh kedua orang yang dimaksud dan segera berbalik ke kamar.
"Dia?"
"Sepertinya Tou-san, aku akan mencarinya."
"HEI GRIMM JANGAN COBA-COBA PERGI TANPAKU!" Teriak Nell dari dalam kamar.
Oke, kalau tuan putri menjelma bagai nenek sihir, pengawal biru hanya bisa pasrah menjalankan.
[End of flashback]
.
.
.
Senna, Rangiku dan Momo sudah tiba di apartement Rukia, setelah Nell mencoba menghubungi mereka untuk mencari tahu keberadaan Rukia beberapa saat lalu. Mereka terlibat pembicaraan dengan Nell, sedangkan kaum pria mencoba menelepon entah siapa mungkin anak buah masing-masing untuk melacak keberadaan nona Kuchiki.
Sedangkan di kamar bernuansa kelinci, setitik air mata menetes dari grey sendu Unohana, kala ia menatap foto Kuchiki Hisana di salah satu pigura, ia hanya takut, amanah yang diberikan padanya tak dapat dijalankan dengan baik.
"Hisana… gomen nee, Kami-sama tolong lindungi Rukia kami."
Pandangan setiap orang seketika tertuju pada Porche merah yang berdecit, terlihat bahwa pengemudi sedang tergesa.
"Hime-chan,"
"Grimm-kun, kita perlu bicara." Belum sempat sapaan Momo selesai, Inoue telah memotong ucapannya dan menarik tangan Grimmjow menuju tempat lain.
"Ada apa?" Baritone itu tak ingin berbelit, karena ia sadar waktunya tak banyak.
"I know there's no much time, but, could you a little attention to me? –like it used to be
"You hurt mine."
"I'm yours, not her!", suara lembut itu meninggi.
"cih... keep dreaming Inoue!" Grimm akan melangkah pergi sebelum sentuhan lembut menahannya.
"Kurosaki tak ada di Soul Society Grimm, kau tak akan menemukan mereka, just listen to me."
"Kurosaki is mastermind behind all of this, right?"
"Grimm,"
"Dan kau membantunya? RUKIA BAHKAN MENGANGGAPMU SAHABATNYA INOUE!"
"Aku tahu... aku juga menyayangi," –nya
PLAK
"Pergilah Inoue, sebelum aku makin kurang ajar pada wanita!"
Grimmjow meninggalkan Inoue sendirian, namun tanpa mereka sadari semua orang yang tadi mereka tinggalkan telah melihat semuanya. Saffron milik Senna berkilat tajam, kian marah, sebenarnya sejak kejadian sungai guryu ia coba memendam rasa curiga pada Inoue, tapi sekarang semua terbukti. Saksi bukan hanya ia seorang, tapi masih ada 5 pasang mata lain yang turut serta menjadi penonton sepertinya.
Sedangkan beige telah dipenuhi air mata. Perlahan gerimis membasahi bumi, akankah turut berduka atas kejadian yang menimpa nona Kuchiki? Atau turut bersedih atas luka Inoue yang kian dalam hingga menebalkan dinding kebencian dalam hatinya?
.
.
.
[Apartement Grand Karakura 15 floors – Kurosaki]
Sakit, hanya itu yang dirasakan oleh Rukia di tengah usahanya untuk membuka mata. Berat, kala ia merasakan tekanan pada tubuhnya hingga ia susah bernafas. Tangannya terasa kaku dan perih, hanya jemari yang bisa ia gerakkan perlahan. Kepalanya coba ia tolehkan perlahan karena sesaat ia merasakan perasaan menggelitik pada area leher.
Nafas hangat menerpa wajahnya, membuatnya mengeryit sebelum matanya membuka perlahan. Orange, mata lemonnya hanya menangkap satu warna. Fougere aromatic yang lebih kuat pada musk memenuhi indera penciumannya, aroma yang sangat ia kenali meski bertahun telah berlalu.
"AKH!" Kini violet sebesar lemon itu terbuka sepenuhnya.
"Sssttt... tenanglah Kuchiki, bukankah kau juga menikmatinya, hm?"
"Minggir… akh!"
Rukia berusaha berontak, menggigit leher Ichigo dan mendapat hadiah tamparan yang membekas di pipi putihnya. Ia belum menyerah, menendang-nendang ke segala arah, berharap dapat mengulang keberhasilannya atas pria berandalan yang tadi ia hadapi beberapa waktu lalu. Namun susah dilakukan saat posisinya terjepit, tubuh Ichigo berada sejajar dengannya, kakinya terbuka lebar dan ia hanya dapat menendang udara kosong.
"Diamlah Kuchiki! Bukankah kau sudah sering melakukannya dengan orang lain hah! Apa salahnya mencoba berbaik hati dengan mantan tunanganmu! Aku akan membayarmu berapapun jalang!"
Rukia mengunci bibirnya erat-erat meski Ichigo menggigit dan menamparnya.
Tes...
Setitik hingga akhirnya berderai, sakit, hanya sakit yang dirasakan Rukia. Sakit karena tak dipercaya, sakit karena orang yang seharusnya melakukan semua ini dengan lembut ternyata tak berbeda dengan bajingan di luar sana. Sakit karena ia diperlakukan bak pelacur jalanan di balik sematan gelar kebangsawanan yang melekat.
Deg...
Ichigo terpaku, entah berapa tahun pun telah terlewat. Entah seberapa tebal dan pekat kebencian yang ia miliki, Rukia tetaplah gadisnya, cahayanya, yang tak pernah ia inginkan untuk meneteskan air mata sedikitpun. Apalagi jika itu di depan matanya, dan sekarang penyebab air mata itu jatuh adalah perbuatannya.
Ichigo tak tahan, ia muak, ternyata benar kata Ishida, ia munafik. Ia bahkan masih menyimpan rasa iba pada korbannya, cih kau bodoh Ichi.
Namun sebelum ia sempat membuka pintu, amber itu terbelalak seketika, kakinya tertahan, tangannya terkulai lemah. Saat ia melihat bercak merah di surga duniawi yang baru saja ia nikmati, dan beberapa mengotori seprai mahal yang tak ia pikirkan harganya.
Perlahan ia perhatikan lagi raut kesakitan pujaan hati, hatinya mencelos, bukankah ini kebohongan yang menggelikan.
"Kau puas Kurosaki? Kau benar-benar menjadikanku pelacur!" Violet itu menatap benci di tengah derai air mata.
"Katakan kalau ini mimpi Kuchiki."
"IYA KUROSAKI INI MIMPI! YANG KAU LIHAT BUKAN DARAH, INI ILUSI, KAU PUAS!"
.
.
.
TBC
