My Little Puppy

A ChanBaek fanfiction story by:

mashedpootato

Cast : Chanyeol, Hybrid!Baekhyun, etc.

Pair : Chanbaek

Genre : Fluff (?), Romance (?), General

Rate : T (Bisa berubah sewaktu-waktu)

Warning : ff iseng, jangan dibawa serius. Typos.

.

.

Chapter 2 : Tell Me Something I Don't Know

.

.

Pagi bagitu cerah, dan hal pertama yang terlintas di benak Chanyeol adalah kenyataan bahwa ranjang king size yang ia miliki terasa jauh lebih hangat dan nyaman dibanding biasanya. Pandangan Chanyeol teralih ke penjuru ruangan, dan ketika itulah ia tersadar bahwa lelaki hybrid anjing yang semalam tidur di ranjang bersamanya, kini tak ada lagi di tempatnya.

Baekhyun tidak ada di dalam kamar.

Chanyeol mengernyit sesaat.

Kemana dia pergi...

Namun selum sempat pertanyaan dalam pikirannya terjawab, Chanyeol seketika terbatuk oleh asap yang membubung masuk ke ruangan. Mulanya tipis, lalu kemudian semakin mengepul tebal.

"Fuck!Apa ini. Baek? Baekkie?!"

Dengan sebuah gerakan cepat, Chanyeol keluar dari ruangan, menyapukan pandangannya di antara asap yang memenuhi apartemennya. Pandangannya langsung tertuju pada area dapur, dimana sumber asap berasal.

"Yeollie!"

Mendengar pekikan panik Baekhyun membuat hati Chanyeol seketika diliputi rasa khawatir yang teramat sangat. Dengan tergesa ia menuju ke sumber suara, namun Baekhyun lebih dulu berhambur memeluknya bahkan sebelum Chanyeol sampai tiba disana.

Lelaki hybrid itu terisak.

"Baek, apa yang terjadi?"

Bekhyun menyusupkan wajahnya lebih dalam ke dada Chanyeol, memeluknya lebih erat. "A-aku... Aku ingin memasakkan sesuatu untuk Yeollie." Baekhyun berujar di antara tangis. "Yeollie sudah sangat baik. Y-Yeollie mengijinkanku tidur di kamar semalam. Jadi aku ingin membuat pan-cake. T-tapi-hiks-aku menghancurkan semuanya, dan sekarang pancake nya hangus..."

Chanyeol melayangkan pandangannya ke arah area dapur. Dan ketika itulah ia baru tersadar oleh kekacauan yang ada. Penggorengan hangus dan menghitam, serta tepung yang berhamburan kemana mana.

Chanyeol menghela nafas. Paling tidak Baekhyun tidak membakar habis seluruh apartemennya.

"Dengar. Tapi kau tidak apa-apa, kan?" Chanyeol memegang kedua sisi bahu Baekhyun, sedikit menjauhkannya untuk memeriksa jika saja lelaki hybrid itu terluka. Hatinya terpilin oleh rasa khawatir kala membayangkan kemungkinan buruk apa yang bisa terjadi pada si lelaki hybrid.

Baekhyun terdiam. Memandang Chanyeol dengan mata bulatnya yang masih basah. Dengan ragu, ia mengangguk.

"Syukurlah." Chanyeol menghembuskan nafas yang tanpa sadar ia tahan sedari tadi. "Jongdae bisa membunuhku jika sampai terjadi apa-apa denganmu."

Namun sungguh, kenyataan bahwa Baekhyun tidak terluka pada nyatanya membuat Chanyeol jauh lebih lega dari yang ia kira.

"T-tapi... Pancake nya..." Bibir Baekhyun mencebik, seakan kembali teringat oleh menu sarapan yang gagal ia buat.

"It's okay, aku akan memesan sarapan di breakfast cafe seberang jalan. Lagipula aku tak yakin akan mengijinkanmu memasak sesuatu setelah semua kekacauan yang terjadi." Jawab Chanyeol seraya memandang jam di dinding.

Pukul delapan. Ia masih punya cukup banyak waktu sebelum berangkat kerja.

.

.

.

"Hey, Baek. Setelah aku pikir-pikir, aku punya sebuah peraturan tambahan untukmu." Ujar Chanyeol ketika keduanya sudah duduk di meja makan menikmati sarapan, lelaki yang lebih tinggi sudah rapi mengenakan pakaian kerjanya.

"Eum?" Baekhyun mengangkat kepala dari pancake yang ia lahap, pipi menggembung oleh makanan yang memenuhi mulutnya.

"Berjanjilah untuk tidak menggunakan dapur tanpa sepengetahuanku selama aku tak ada."

Seketika Baekhyun berhenti mengunyah sarapannya, memncebikkan bibirnya kesal dengan telinga yang jatuh terkulai dengan kecewa.

"Tapi aku ingin memasak sesuatu untuk Yeollie!"

Chanyeol menghela nafas untuk kesekian kalinya pagi itu.

"Aku tahu. Aku tahu, Baek. Tapi tidak ketika aku tak ada di sini. Itu sangat berbahaya. Lagipula-" Chanyeol mengulurkan tangan, menghapus selai coklat yang mengotori sisi bibir lelaki hybrid itu. "-aku tidak ingin sampai terjadi apa-apa pada rumahku. Dan juga dirimu."

Baekhyun mengerjapkan matanya satu kali, lalu dua kali. Sedikit kaget oleh gestur sederhana yang diberikan Chanyeol. Pipi Baekhyun merona oleh sentuhan tersebut, matanya melebar dan dadanya berdebar dengan jutaaan kupu-kupu yang beterbangan di perutnya. Ini adalah pertama kalinya ia merasakan hal semacam itu.

Apa...yang terjadi?

Baekhyun pada akhirnya mengangguk kecil, lalu kembali menundukkan kepala. Seketika merasa tak sanggup menatap lawan bicara di hadapannya.

"Baiklah, aku harus pergi ke kantor sekarang. Ada snack di atas rak dapur, dan kau boleh menonton televisi. Makan siangmu ada di dalam kulkas, dan pastikan kau membuka tutup lunch box-nya sebelum memasukkannya ke dalam microwave. Kau juga boleh memesan makanan cepat saji jika kau mau. Apa kau mengerti, Baek?" Chanyeol menjelaskan panjang lebar, meraih jas dan suitcase-nya untuk bersiap pergi.

Tak terdengar jawaban apapun dari Baekhyun.

Chanyeol menoleh, dan mendapati hybrid anjing itu memandangnya dengan sebuah tatapan polos. Bola matanya yang lebar memandangnya dengan tatapan bingung.

"Yeollie...akan pergi?" Tanya Baekhyun tak mengerti.

"Ya. Aku harus bekerja."

Dan kemudian, Chanyeol bisa melihat bagaimana tatapan Baekhyun jatuh meredup oleh jawaban itu. Ia nampak kecewa, dan sekali lagi Chanyeol tak tahu mengapa kenyataan tersebut membuat hatinya tak nyaman.

Chanyeol tak suka jika senyuman hilang dari bibir lelaki hybrid itu. Ia tidak suka ketika Baekhyun nampak sedih dan kecewa.

"Aku tidak akan pulang terlalu larut, dan aku akan membawakan sesuatu untuk makan malam. Oke?" Janji Chanyeol.

Baekhyun mengangguk, tersenyum meski tak selebar biasanya.

"Okey."

.

.

.

Kantor selalu menjadi tempat dimana stress melanda Chanyeol. Berbagai meeting, laporan kerja, dan pertemuan bisnis menyerap habis semua tenaga dan pikirannya. Ia akan selalu pulang dalam kondisi lelah. Dan ia tak pernah berharap lebih dari sekedar mandi air hangat dan berbaring di kasurnya selepas pulang.

Chanyeol membuka pintu apartemen, dan hendak membuka sepatu kerjanya ketika...

"Yeollie!"

Sebuah pelukan dari sepasang lengan mungil memeluk dirinya.

"Yeollie! Aku menjadi hybrid baik dan hanya menonton televisi selama Yeollie pergi. Dan kau tahu apa yang aku tonton? Aku menonton penguin, Yeollie! Penguin! Mereka meluncur dan berjalan di es seperti ini. Lihat!"

Dan Chanyeol seketika kehilangan kata-katanya. Memandang hybrid di hadapannya berjalan selayaknya seekor penguin sambil tertawa manis.

"Bukankah ini lucu, Yeollie?"

Baekhyun mendongak, memandang Chanyeol dengan tatapan berkilau penuh harap.

Namun Chanyeol hanya terpaku. Tatapannya tak lepas dari sepasang mata polos itu, rambut coklat dengan telinga anjing yang nampak begitu lembut, serta bibir pink yang menyunggingkan seutas senyuman cantik.

"...Yeollie?"

Tanya Baekhyun lagi. Tatapannya berubah khawatir.

Chanyeol pun tersadar dari lamunannya, buru-buru menjawab dengan anggukan.

"Ya. Manis sekali."

"Benar kan? Penguin memang sangat manis!"

Dan Chanyeol sendiri tak tahu apa ia sedang berbicara tentang penguin, atau seorang hybrid bersurai coklat saat itu.

Tanpa sadar, sebuah senyum tersungging di bibir Chanyeol.

Mungkin pulang ke rumah tidaklah terlalu buruk.

Terlebih ketika kau tahu seseorang tengah menantimu dengan senyuman hangat setiap harinya.

.

.

.

"Kita akan makan di luar?"

Chanyeol menjawab dengan anggukan, memasangkan beanie biru ke kepala Baekhyun.

"Kenapa?"

"Karena aku lupa membeli sesuatu untuk makan malam." Jawab Chanyeol singkat.

Sesaat Baekhyun termenung, seakan memikirkan sesuatu. "Tidak bisakah kita makan di rumah saja, Yeollie? Kita bisa pesan pizza. Baekkie suka sekali pizza!"

Chanyeol menggeleng, mengenakan jaket musim dinginnya. "Aku sedang tak ingin makan junk food, Baek."

Baekhyun mencebik. "Bagaimana dengan restoran China? Kita bisa pesan jjangmyeon dan Tangsooyuk! Oh, oh oh! Dan Jjampong! Jongdae sangat suka Jjampong!"

Chanyeol tetap menggeleng. "Aku ingin makan makanan yang lain, Baek. Dan lebih dari pada itu, aku juga butuh udara segar."

Baekhyun terdiam seakan kembali berpikir, kemudian mengangguk pelan.

"Okey."

Jalanan tidak begitu ramai malam itu. Baik Baekhyun maupun Chanyeol menghabiskan waktu mereka di mobil dalam diam. Sesekali Chanyeol mencuri pandang pada lelaki hybrid di sebelahnya, yang mana nampak sedikit gusar memandang jalanan malam di luar jendela.

Tidak butuh waktu lama hingga keduanya tiba di sebuah restoran Italy langganan Chanyeol. Keduanya memesan makanan. Namun begitu, lelaki yang lebih tinggi tak melewatkan bagaimana lelaki hybrid di hadapannya nampak begitu gelisah sejak tadi.

"Kau baik-baik, saja?" Tanya Chanyeol khawatir.

Baekhyun mengangguk, tangannya membetulkan beanie di kepalanya untuk kesekian kalinya malam itu, lalu kembali tertunduk.

Chanyeol tidak percaya dengan jawaban itu. Namun ia memutuskan untuk mengabaikannya, dan menyantap ravioli yang ia pesan.

"Apa makanannya enak?" Tanya Chanyeol tak lama setelahnya, memandang Baekhyun yang masih menyantap carbonara.

Baekhyun mengangguk, memberikan sebuah senyuman dengan bibir mungil yang belepotan. Chanyeol terkekeh, meraih tissue dan mengusap noda di bibir merah jambu itu. Pipi Baekhyun merona, dan ia harap Chanyeol tak menyadari hal tersebut.

"Makanlah dengan perlahan, aku akan ke toilet sebentar. Dan kita bisa pulang segera setelah kau selesai."

Baekhyun sedikit terkaget, namun sebelum ia sempat mengucap sesuatu pada Chanyeol, ia sudah lebih dulu berlalu.

Pandangan Baekhyun seketika teralih ke sekelilingnya. Restoran tersebut tidak terlalu ramai malam itu, namun bagaimanapun juga hiruk pikuk yang ada seketika membuat Baekhyun menciut.

Tatapannya tertuntuk. Semua orang seakan memandang ke arahnya, dan itu membuatnya tak nyaman.

Aku tidak suka tempat seperti ini...

PRANG!

Sebuah suara benda pecah, dan Baekhyun menoleh kaget.

"Apa maksudmu dengan ini, hah?!"

"Maafkan saya, tuan. Maafkan saya, saya sungguh tidak sengaja."

Baekhyun menoleh, memandang keributan di seberang ruangan restoran. Agaknya seorang hybrid kucing telah tanpa sengaja menabrak dan menumpahkan sesuatu ke baju pelanggan.

Pelanggan pria itu terus menghardik meski si hybrid telah berkali-kali mengucap maaf atas ketidaksengajaannya.

Dan seakan tak puas dengan semua itu, sang pria mendorong tubuh si hybrid hingga terjatuh.

"Hybrid brengsek!"

.

.

.

Chanyeol keluar dari toilet beberapa menit setelahnya, berharap menemukan Baekhyun tengah menghabiskan makan di meja mereka. Tapi apa yang ia lihat justru adalah hal lain yang tak terduga.

Di seberang ruangan, lelaki hybrid berambut coklat itu berkelahi dengan seorang pria bertubuh besar. Kerahnya dicengkeram kuat, tapi jambakan Baekhyun pada ranbut pria itu agaknya juga sama kuatnya.

Baekhyun menggeram, matanya memerah marah, seakan siap melakukan apapun untuk mengalahkan pria itu meski dengan tubuh yang jauh lebih kecil. Tubuhnya meronta, mencakar dan melakukan apapun untuk bisa bebas.

"Baekhyun!"

Seluruh keramaian itu menoleh pada teriakan Chanyeol. Cengkeraman pria itu lepas, dan Baekhyun jatuh tersungkur ke atas lantai dengan terbatuk-batuk.

"Ah, ini dia yang bertanggung jawab." Ujar si pria besar dengan tatapan puas kala Chanyeol berjalan ke arah sumber keributan.

"Maaf, tuan. Tapi apapun yang terjadi, aku yakin hybrid ini tidak bersalah." Chanyeol membantu tubuh Baekhyun bangkit dari atas lantai, menyadari luka lebam kecil di pergelangan tangan si hybrid.

"Tidak salah? Apa menyerangku begitu saja bukan sebuah kesalahan?! Kau tidak lihat apa yang ia lakukan padaku? Ia mencakarku dengan tangan kotornya!"

Chanyeol mengernyit oleh ucapan tersebut. Langkahnya siap maju untuk memberi pria itu pelajaran. Namun ia mengurungkan niatnya tersebut kala Baekhyun memegang erat lengan Chanyeol.

"Yeol... Sudahlah. Aku tidak apa-apa..." Lirih Baekhyun, tertunduk di balik bahunya.

Dan dengan pemandangan itu, Chanyeol mengurungkan niatnya begitu saja. Dengan tak acuh, Chanyeol melemparkan kartu nama ke atas meja.

"Pengacaraku yang akan mengurus semuanya. Ganti rugi yang kau mau, atau apapun itu." Desis Chanyeol. Meraih tangan Baekhyun, dan menggandengnya possessive hingga tiba di dalam mobil.

Ada kesunyian yang mencekik selama perjalanan menuju rumah. Baekhyun dengan terang-terangan menunjukkan bahwa ia tidak dalam kondisi yang ingin berbicara. Sementara Chanyeol, setengah mati menahan emosi dalam dirinya. Ia merasa kecewa, marah, dan di sisi lain merasa tak mengerti dengan apa yang terjadi.

Setibanya di apartemen, Baekhyun langsung menuju sofa tempat dimana bantal dan selimutnya berada. Berbaring meringkuk dengan membelakangi Chanyeol, tanpa mengucap sepatah katapun.

Sakit. Itu adalah apa yang Chanyeol rasakan kala melihat pemandangan di hadapannya itu.

.

.

.

"Baek, kita perlu bicara." Ujar Chanyeol ketika waktu sudah berjalan lebih dari satu jam, namun si lelaki hybrid masih tetap menolak bicara.

Baekhyun menggeleng di balik selimutnya, hanya menampakkan sebagian rambut coklat dan telinga anjingnya yang menyembul keluar dari selimut.

Chanyeol menarik nafas, berusaha mengumpulkan kesabarannya.

"Baek, ini perintah." Ujarnya meninggikan suara.

Chanyeol bisa melihat bagaimana bahu Baekhyun menegang oleh nada tegas yang ia gunakan. Perlahan, Baekhyun keluar dari selimutnya.

Dalam remang lampu ruang tengah, Chanyeol bisa melihat mata Baekhyun yang sembab dan pipinya yang masih basah.

"Apakah... Yeollie akan memarahi Baekkie...?" Lirih hybrid mungil itu, menjatuhkan pandangan ke tautan jarinya yang bergerak gelisah di pangkuannya.

Chanyeol nyaris tersenyum kala melihat pout dan wajah Baekhyun yang nampak menyesal. Ini terlalu manis.

"Dengar, Baek. Aku hanya akan marah jika kau tidak menjelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya."

Baekhyun memajukan bibir bawahnya, mengintip Chanyeol dari balik poni rambut yang jatuh menutupi dahi.

"Sungguh...? Yeollie tidak akan marah?"

"Eum. Aku tidak akan marah."

Butuh beberapa detik bagi Baekhyun untuk memutuskan untuk menceritakan semuanya. Ia menarik nafas panjang, dan kemudian memandang Chanyeol.

"Ia memukul hybrid itu." Ujar Baekhyun lirih, namun masih cukup keras untuk bisa didengar jelas oleh Chanyeol. "Pria itu memukul kepala hybrid itu dengan tangannya hanya karena ia tidak sengaja menyenggol dan menumpahkan minuman kepadanya. Ia jelas-jelas tidak sengaja, Yeollie! Dan ia sudah minta maaf. Tapi pria itu tetap saja mendorong tubuhnya sampai jatuh hingga berkali-kali!"

Chanyeol mengernyit, berusaha mengingat-ingat siapa 'hybrid' yang Baekhyun maksudkan. Dan wajah seoarang hybrid kucing mungil berambut blonde di restoran sore tadi pun terlintas di benaknya. Ia berdiri tepat di belakang Baekhyun ketika Chanyeol tiba di tempat keributan.

Pria tinggi itu menghela nafas, memijat dahinya yang berdenyut.

"Jadi kau bermaksud melawan pria itu untuk membelanya? Damn, Baek. Pria itu bahkan dua kali lipat lebih besar darimu!" Ujar Chanyeol sedikit kesal, membayangkan kemungkinan apa yang mungkin terjadi jika saja ia tak datang tepat waktu saat itu.

"Lalu Baekkie harus diam saja? Pria itu menyakiti hybrid itu Yeol!"

"Tapi tidak dengan cara seperti itu! Kau bisa saja mencegahnya dengan lebih tenang dan sopan!"

"Baekkie sudah berusaha, Yeollie!" Teriak Baekhyun, nampak turut kesal dengan air mata yang membendung di matanya. "Baekkie berusaha mengatakannya pada pria itu... T-tapi dia justru mengatakan hal buruk kepada kami..."

Dan Baekhyun pun tertunduk. Seketika ia kembali kehilangan keberanian untuk memandang Chanyeol.

Chanyeol bisa melihat bagaimana bahu mungil itu bergetar, dan ia tak tahu mengapa pemandangan itu begitu melukai hatinya. Seketika ia diliputi penyesalan telah meninggikan suaranya pada hybrid mungil tersebut.

"Apa...yang ia katakan?" Chanyeol bisa mendengar suaranya sendiri terdengar ragu.

Baekhyun menggeleng, seakan tak ingin Chanyeol mengetahui hal itu. Tapi itu tak cukup bagi Chanyeol.

Entah mengapa, Chanyeol merasakan sebuah dorongan besar untuk mencari tahu hal apa yang terjadi. Hal apa yang membuat Baekhyun kehilangan kesabarannya. Hal apa yang membuat Baekhyun begitu marah. Hal apa yang membuat Baekhyun nampak begitu kecewa... dan sedih.

Chanyeol ingin mengetahui itu semua.

Dengan sebuah gerakan ragu, Chanyeol menyisipkan tangannya ke bawah dagu si hybrid mungil, merengkuhnya, hingga kedua puppy eyes basah itu kembali mendongak menatapnya.

"Katakan padaku apa yang terjadi, Baek."

Katakan padaku apa yang sudah membuatmu sesedih ini.

Dan itu bukan sebuah perintah, namun sebuah perminataan.

Chanyeol bisa melihat bagaimana Baekhyun begitu ragu untuk menjawabnya. Ia menelan ludah, dan mata serta bibirnya bergetar kala ia mengucap kalimat jawabannya.

"I-ia bilang...kami kotor, Yeollie. Ka-kami adalah anjing pelacur. Dan ia...ia bertanya berapa banyak uang yang kau berikan pada kami hingga kami bisa datang ke restoran semewah itu..." Bibirnya bergetar, seakan ia memaksa itu semua keluar dari mulutnya. Seakan-akan itu semua begitu menyakitkan ketika ia mengingat dan mengulang semua kalimat itu di bibirnya. "Yeolie...apa yang pria itu katakan benar? Apakah Baekkie memang seburuk itu...?"

Air mata jatuh dari pelupuk mata si lelaki hybrid, terisak seakan takut mendengar jawaban yang kan kembali menyakiti dirinya.

Dan Chanyeol meraih tubuh itu. Alih-alih menjawabnya, ia memberikan sebuah pelukan erat. Memastikan Baekhyun mendapatkan kehangatan dan perlindungan yang ia butuhkan saat ini.

"Tidak, Baek... Itu sama sekali tidaklah benar..."

.

.

.

Chanyeol mengangkat kepalanya dari iPad di pangkuannya kala menyadari Baekhyun yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Rambut hybrid itu nampak setengah basah sehabis mandi, pipi merona pink kontras dengan hoodie putih milik Chanyeol yang dikenakannya.

Chanyeol tersenyum oleh pemandangan itu. "Kemarilah, Baek." Ujarnya seraya menepuk sisi kosong ranjang di sisinya.

Dan Baekhyun tidak butuh penawaran kedua untuk setengah berlari dan menuju sisi tempat tidur, bergelung di balik selimut Chanyeol, seraya menatapnya ragu.

"Apa...Baekkie boleh tidur di sini?"

Chanyeol meletakkan iPad di atas nakas sisi ranjang, dan menarik selimutnya. Memiringkan posisinya, membalas tatapan Baekhyun dengan satu tangan menyangga sisi kepala.

"Hanya untuk malam ini." Chanyeol menyentuh ujung hidung Baekhyun sekilas, hingga membuat si hybrid tersenyum.

Dan Chanyeol tak mau mengakui bagaimana senyum itu memberikan efek yang begitu aneh pada degup jantungnya.

"Semalat malam, Baek." Ujar Chanyeol. Berbaring membelakangi Baekhyun sebelum lelaki hybrid itu menyadari pipinya yang perlahan memerah.

"Yeollie..." Lirih Baekhyun tak lama setelahnya.

Chanyeol tidak menjawab, membiarkan kesunyian menyelimuti keduanya.

"Apa Yeollie sudah tidur?" Tanya Baekhyun lirih. Yang kemudian diikuti hembusan nafas ketika tak terdengar jawaban apapun dari Chanyeol.

"Yeollie...apakah Yeollie berpikir hal yang sama soal Baekkie, seperti yang pelanggan restoran tadi katakan...?"

Mendengar pertanyaan itu, mata Chanyeol perlahan terbuka. Ia berbalik menatap si lelaki hybrid dengan lembut. "Tentu tidak. Sama sekali tidak."

Baekhyun tersenyum tipis mendengarnya.

"Kau tahu Yeollie, dulu Baekkie selalu merasa sebagai hybrid yang paling beruntung sedunia. Baekkie punya keluarga manusia yang merawat Baekkie dengan begitu baik; Kim Eomma, Kim Appa, dan juga Jongdae. Semuanya begitu sempurna hingga Baekie pikir semuanya tak mungkin lebih sempurna dari semua itu. Tapi ternyata Baekie salah. Sekarang Baekie mengenal Yeollie, dan sungguh ini jauuhhhh lebih sempurna dari sebelumnya."

Tanpa aba-aba, Baekhyun melingkarkan lengannya ke leher Chanyeol, dan memeluknya erat.

"Thank you, Yeollie."

Cup.

Baekhyun mengecup Chanyeol. Di pipi.

Namun itu cukup untuk membuat Park Chanyeol seketika membeku.

"Good night." Lirih Baekhyun dengan sebuah senyuman polos yang manis.

Dan Baekhyunpun memejamkan mata, tidak menyadari efek dari tindakannya pada seorang Park Chanyeol.

Malam itu, Chanyeol menghabiskan jam tidurnya dengan terjaga. Pandangannya tak bisa berhenti lepas dari sosok Baekhyun yang terlelap di dekapannya. Ia nampak begitu rapuh dan mungil di balutan hoodie Chanyeol yang nampak terlalu besar di tubuhnya.

Perkataan Baekhyun kembali terngiang di benaknya.

"Apakah Baekkie memang seburuk itu...?"

Ada sebuah rasa sakit yang tergambar jelas di wajah Baekhyun kala pertanyaan itu terucap. Rasa sakit yang sebisa mungkin Baekhyun sembunyikan seorang diri entah seberapa lama.

Dan ketika itulah Chanyeol tersadar oleh betapa ia tidak mengetahui apapun mengenai lelaki hybrid ini.

Baekhyun adalah seorang hybrid anjing yang diadopsi oleh keluarga Kim, dan dianggap sebagai bagian dari keluarga mereka. Hanya itu. Selebihnya ia tak tahu sama sekali.

Hal apa yang Baekhyun sukai...

Hal apa yang ia benci...

Kehidupan macam apa yang selama ini telah dilaluinya...

Aku ingin mengetahui semua hal tentangnya.

Dengan sentuhan lembut Chanyeol merengkuh wajah itu, dan menyusuri pipi merona itu dengan ibu jarinya. Mungkin ini salah, namun mencium bibir pink mungil itu adalah setu-satunya hal yang terlintas di benak Chanyeol sebelum terlelap.

Dan karena itulah ia melakukannya.

.

.

.

TBC

.

.

.

Author's note :

- About this AU -

Dalam AU ff ini, aku menggambarkan kaum hybrid sebagai makhluk yang jumlahnya masih cukup jarang, dan biasanya menempati strata yang sedikit lebih rendah dibanding manusia biasa. Keberadaannya sering kali dijadikan pekerja rendahan bagi manusia, seperti buruh, budak, hingga prostitute.

Hybrid dengan posisi sosial yang tinggi amat sangat jarang ditemukan. Karena itulah, stigma masyarakat masih cenderung memandang rendah makhluk hybrid.

Hal paling mencolok yang membedakan hybrid dengan manusia adalah hybrid memiliki beberapa feature tubuh yang sama seperti hewan. Dalam alternative universe-ku ini, feature itu berupa telinga dan ekor yang mirip kucing, anjing, dsb.

.

.

.

Btw, thanks to all my dear readers yang bersedia read, fav, foll dan comment. Kalian adalah semangatkuu. Kalian yang bikin aku selalu inget, bahwa karyaku yang masih perlu belajar ini ternyata masih ada yang nunggu. Aku sayang kalian~

Feel free to leave some comments and questions!

Kisses,

mashedpootato

.