My Little Puppy
A ChanBaek fanfiction story by:
mashedpootato
Cast : Chanyeol, Hybrid!Baekhyun, etc.
Pair : Chanbaek
Genre : Fluff (?), Romance (?), General
Rate : T (Bisa berubah sewaktu-waktu)
Warning : ff iseng, jangan dibawa serius. Typos.
.
.
Chapter 3 : Of Jealousy and Anxious Puppy
.
.
.
Ini adalah hari ketiga Baekhyun berada di rumah Chanyeol. Dan selama tiga hari tersebut, si lelaki hybrid tidak melakukan banyak kesalahan sejak insiden kekacauan di dapur dan keributuan di restoran.
Baekhyun mulai terbiasa tinggal bersama di apartemen Chanyeol, sebagaimana Chanyeol yang mulai terbiasa untuk memahami tiap detail kecil mengenai Baekhyun.
Ya, Chanyeol tidak bercanda ketika berkata ia ingin mengetahui segala hal tentang sang lelaki hybrid.
Kini ia tahu bahwa Baekhyun sangat menyukai strawberry, dan segala jenis hal dengan rasa yang sama.
Baekhyun menyukai acara national geography, terlebih yang mempertontonkan keberagaman satwa langka yang bahkan tidak Chanyeol ketahui namanya.
Lelaki hybrid itu juga gemar mengenakan pakaian Chanyeol, berlarian di penjuru ruangan hanya dengan hoodie kebesaran, dan sepasang kaos kaki pendek. ("Pakaian Chanyeol terasa hangat dan sangat nyaman!")
Ketika Baekhyun tidur nyenyak, sering kali ia akan mengeluarkan suara dengkingan samar seperti seekor anak anjing. Yang mana merupakan kebiasaan yang Chanyeol temukan begitu manis adanya.
Byun Baekhyun benci keramaian.
Ia tidak menyukai kopi, dan lebih menyukai susu strawberry untuk sarapan paginya.
Dan Baekhyun benci ketika ia harus berada di rumah sendirian.
Seperti hari ini contohnya.
Dari meja makan, pandangan Baekhyun tak mampu terlepas dari sosok Chanyeol yang sedang bersiap dengan jas kerja lengkapnya. Si lelaki hybrid berusaha nampak biasa saja, tapi Chanyeol cukup peka untuk menyadari bagaimana telinga anjing yang ia miliki nampak jatuh terkulai dengan kecewa.
Sial. Chanyeol sangat lemah dengan ekspresi semacam itu.
"Hey Baek." Ujar Chanyeol tiba-tiba, seketika mencuri perhatian Baekhyun seutuhnya. "Apa kau mau ikut ke kantor denganku hari ini?"
Telinga Baekhyun seketika menegak tertarik oleh penawaran itu. Matanya berbinar penuh semangat. "Baekkie boleh ikut?"
Chanyeol mengangguk seraya tersenyum, dan itu cukup untuk membuat Baekhyun melompat kegirangan, berlari menuju kamar sambil berguman tentang pakaian apa yang akan ia kenakan untuk pergi ke kantor bersama sang CEO.
.
.
.
Park Enterprise nampak cukup sibuk pagi itu, dengan karyawan yang hilir mudik mengurus pekerjaan mereka. Namun begitu Park Chanyeol muncul di lobi utama bangunan megah itu, mereka masih sempat berhenti untuk membungkuk sopan pada sang atasan.
Tapi agaknya ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang seketika menarik perhatian mereka begitu Chanyeol melangkah masuk. Yaitu sosok seorang hybrid anjing mungil yang berjalan di sisi sang CEO seraya tertunduk malu.
"Yeollie..." Lirih Baekhyun, beringsut berjalan lebih rapat di sebelah Chanyeol. "Apa aku nampak menggelikan? Semua orang menatapku..."
Mendengar ucapan lirih Baekhyun, Chanyeol seaaat menghentikan langkahnya ketika mereka tiba di depan elevator gedung. Sekilas ia mengamati penampilan Baekhyun pagi itu.
Sweater kuning soft yang nampak longgar di tubuh mungilnya, blue skinny jeans, dan sepasang sneakers putih. Rambut coklatnya nampak natural tanpa gell ataupun hairspray, jatuh lembut menutupi dahi pualamnya, membingkai wajah berkulit pucatnya yang nampak sedikit pink oleh dinginnya udara pagi itu.
Kau nampak sangat manis hari ini.
Kau amat sangat cantik.
Chanyeol berdehem, menyingkirkan ludah yang seakan mengering di kerongkongannya. "Tidak, Baek. Sama sekali tidak."
Kau nampak mempesona. Chanyeol ingin menambahkan, tapi suara denting elevator terlebih dahulu berbunyi, dan keduanya memasuki elevator berdampingan.
Baekhyun masih nampak tidak percaya diri dengan dirinya, bergerak gelisah dengan kepala yang masih tertunduk. Chanyeol mulai paham dengan karakter Baekhyun yang kurang percaya diri. Merasa dirinya tidak cukup layak tiap kali harus berada di depan umum.
Oh, betapa Chanyeol ingin menghapus pout sedih di bibir mungilnya itu.
"Baek, dengar." Lelaki yang lebih tinggi membalikkan badan, dengan lembut menggamit dagu Baekhyun agar mendongak menatapnya. "Kumohon, berhentilah menjadi rendah diri dengan dirimu sendiri. Tidak akan selalu ada orang yang di sisimu untuk mengatakan ini, namun percayalah, kau sempurna. Kau tahu itu?"
Baekhyun menatap mata Chanyeol ragu, bibir bergetar oleh keraguan. "T-tapi Yeol... Aku seorang hybrid-
"Hentikan itu Baek, kumohon. Menjadi seorang hybrid tidak membuat kesempurnaanmu berkurang. Apa salahnya dengan memiliki sepasang telinga anjing, hm? Pada kenyataannya aku justru menyukai telingamu ini." Chanyeol tersenyum selembut mungkin, menelusurkan jarinya pada rambut halus dan sepasang telinga anjing yang Baekhyun miliki.
Si lelaki hybrid memandang Chanyeol dengan sebuah tatapan ragu, dan kemudian membalasnya dengan sebuah senyuman kecil.
Manis.
Elevator berdenting, menandakan mereka tiba di lantai ruang kerja Chanyeol. Dan sang CEO tanpa ragu meraih tangan lentik Baekhyun, menggenggamnya erat untuk memberi sedikit kepercayaan diri pada si hybrid.
Semua mata memandang keduanya.
Park Chanyeol; bos mereka, pria dingin yang tak pernah nampak tertarik untuk berkencan dengan siapapun, berjalan dengan percaya diri seraya menggenggam tangan seorang lelaki hybrid mungil nan manis. Ini adalah sebuah berita besar.
.
.
.
Chanyeol tengah sibuk oleh berkas data ditangannya, dengan teliti memastikan semua bahan presentasi telah siap untuk meeting yang akan dilaksanakannya siang ini. Namun bagitu, ia tak bisa menghentikan dirinya untuk tidak sesekali mencuri pandang pada Baekhyun yang kini tengkurap di sofa pribadi di sudut ruang kerjanya. Sibuk tersenyum oleh novel romance yang sengaja si hybrid bawa dari rumah.
Chanyeol sedang hendak bertanya hal menarik apa yang tengah ia baca ketika seketika pintu ruangan terbuka, membuat Baekhyun nyaris jatuh terjatuh dari atas sofa.
Seorang lelaki berjalan masuk dengan tergesa dengan hebohnya. "Chanyeol! Apa yang terjadi?! Kau menjadi topik panas seluruh gedung sejak pagi! Hyori bilang padaku kau datang kemari dengan seseorang, dan-" kalimat lelaki itu seketika terhenti ketika melihat sosok Baekhyun di atas sofa, berkedip polos oleh semua keributan tiba-tiba itu.
"Holly mama." Lelaki itu ternganga.
Chanyeol menghela nafas, memijat pelipisnya dan menggeleng. "Yixing, perkenalkan, ini Baekhyun. Dan Baekhyun, ini Yixing, asisten pribadiku yang tidak berguna."
Baekhyun seketika bangun terduduk di atas kedua kakinya yang terlipat, meletakkan kedua tangannya di atas lutut seraya tertunduk dengan malu.
Sementara Yixing memandang semua itu dengan mata berbinar tak percaya.
"Oh my goodness! Chanyeol! Kenapa kau tidak pernah bilang bahwa kau memiliki seorang hybrid corgi semanis ini, hah?!" Yixing seketika sudah berhambur berlutut di depan sofa, tangannya meraih kedua pipi Baekhyun yang nampak kebingungan. "Oh my God, you are so cute~" Yixing menyentuh lembut telinga anjing di kedua sisi kepala Baekhyun, masih nampak tidak percaya.
"Yixing, hentikan itu. Kau membuatnya tak nyaman." Chanyeol menarik kerah belakang Yixing untuk membiarkan Baekhyun mendapatkan sedikit ruang. Sejujurnya ia sedikit merasa terganggu ketika Baeknyun disentuh sedemikian rupa oleh seseorang yang bukan dirinya. Namun ia tidak akan mengatakannya.
"Dasar overprotective," Yixing memutar bola matanya.
"Aku bisa mendengarnya, Yixing. Dan lagi, aku masih tetap bosmu." Ujar Chanyeol, memandang Baekhyun yang bangkit dari atas sofa dan berdiri bersembunyi di balik punggungnya, mencari perlindungan.
Yixing memandang gemas gestur tersebut, sebelum kemudian teringat hal lain yang membuat ia datang ke ruangan Chanyeol.
"Ah ya, Chanyeol. Kau harus segera bersiap untuk meeting jam 10 ini. Aku sudah menyiapkan semua bahan presentasinya. Apa kau sudah memeriksa berkas data yang kuberikan padamu?"
Chanyeol mengangguk, meraih pergelangan tangan Baekhyun untuk membiarkannya duduk di kursinya alih-alih kembali ke atas sofa.
"Aku baru saja selesai mengeceknya. Semuanya lengkap. Dan Yixing," Chanyeol berhenti sejenak untuk memandang sahabat sekaligus asistennya itu. "Aku akan meminta tolong Hyori untuk menemaniku meeting siang ini. Aku punya tugas lain untukmu."
Chanyeol menarik nafas dalam.
"Aku ingin kau menemani Baekhyun selama aku pergi." Chanyeol memejamkan mata pasrah, tidak percaya dengan apa yang ia ucapkan.
Dan ketika ia membuka mata, yang ia lihat adalah sepasang mata berbinar Yixing, dan Baekhyun yang menatapnya dengan sedih.
.
.
.
"Aku tidak mau Yeollie pergi." Ujar Baekhyun ketika Chanyeol membujuknya untuk tinggal di tempat bersama Yixing. Bibirnya membentuk sebuah pout sedih, sementara kedua tangannya menggenggam sisi kemeja Chanyeol seakan dengan begitu sang pria yang lebih tinggi tak akan bisa pergi darinya.
Dan Chanyeol sudah pasti akan menyerah oleh semua itu jika saja ia tidak memiliki tanggung jawab lain yang harus ia penuhi.
"Aku tidak akan lama, Baek. Aku akan berada di sini ketika jam makan siang tiba. Dan Yixing adalah orang baik, jadi kau bisa percaya dan meminta apapun kepadanya. Oke?"
Baekhyun memadang dari balik bulu matanya yang lentik, pada akhirnya membiarkan Chanyeol pergi, meski masih dengan sebuah pout kecewa yang menghiasi bibirnya.
.
.
.
Chanyeol tidak pernah menyukai meeting. Ia menganggap itu sebagai sebuah tanggung jawab, dan bukan sesuatu yang sejujurnya bisa ia nikmati.
CEO bertubuh tinggi itu menghela nafas, berterimakasih kepada Hyori atas bantuannya selama meeting berlangsung, dan dengan tak sabar melangkah kembali ke ruangannya.
Ia lelah, dan apa yang ia inginkan adalah melihat senyuman di bibir hybrid anjing yang menunggunya. Mungkin sebuah pelukan tidaklah masalah.
Bisa ia banyangkan, Baekhyun pasti sangat merindukannya, mengingat bagaimana ia bahkan sangat sulit membiarkan Chanyeol pergi pagi tadi.
Tapi ketika Chanyeol membuka pintu, ia sama sekali tidak menyangka pemandangan di hadapannya. Byun Baekhyun, lelaki hybrid yang tadi merengek untuk tidak ditinggalkan berdua dengan Zhang Yixing pada kenyataannya tengah bersandar nyaman di bahu lelaki berkebangsaan China itu. Baekhyun terkikik oleh apapun yang Yixing katakan padanya saat itu, pocky strawberry terselip di bibir mungilnya.
"Ah, kau sudah selesai, Chanyeol." Sapa Yixing, baru tersadar oleh kehadiran bosnya tersebut. Baekhyun juga mengangkat kepalanya, memandang Chanyeol dengan senyuman kecil di bibir.
Seriously? Tidak ada pelukan selamat datang untukku, Byun Baek?
"Um," Chanyeol hanya menjawab singat. Mengamati kedua orang yang masih nampak duduk berdekatan satu sama lain, menyadari bagaimana lengan Yixing melingkar intim di bahu Baekhyun.
Yixing agaknya menyadari tatapan tajam itu, mengangkat tangannya ke udara seakan menyerah.
"Baiklah, baiklah. Aku akan pergi. Sepertinya nyawaku akan terancam jika lebih lama di sini. Bye, Baekhyun." Ia mengacak rambut hybrid itu sekilas, sengaja menggoda sang CEO yang agaknya sudah siap mematahkan lengannya jika saja Baekhyun tidak ada di sana.
"Bye, Xingie." Jawab Baekhyun lembut.
Mata Chanyeol melebar.
Xingie?! Sejak kapan keduanya cukup dekat untuk memiliki nama panggilan semacam itu?!
Dan ketika pintu ruangan sudah tertutup, Baekhyun kembali menyibukkan diri dengan novelnya.
"Kau nampaknya dekat dengan Yixing dengan sangat cepat." Chanyeol berujar tiba-tiba, menyipitkan mata dengan penuh selidik.
Baekhyun mengangkat sekilas pandangannya. Kemudian tatapannya kembali terjatuh ke bukunya, seakan sengaja menghindari tatapan Chanyeol.
"Yup. Yixing sangat baik. Seperti yang Yeollie bilang."
"Apa yang kalian bicarakan? Kalian nampak membicarakan sesuatu ketika aku datang tadi." Chanyeol masih berusaha menyelidiki.
Baekhyun terdiam, menaikkan buku untuk lebih menutupi wajahnya. Tunggu dulu-apa pipinya merona?
Dahi Chanyeol mengernyit tak nyaman. Hal apa yang Yixing katakan sebenarnya hingga Baekhyun nampak malu seperti ini? Apa ia menggoda Baekhyun?
Chanyeol seketika kehilangan moodnya, membayangkan Baekhyun yang tersenyum malu oleh godaan Yixing.
Asisten keparat itu.
"Kita pulang." Chanyeol seketika meraih briefcase dan jasnya. "Pakai jaket dan beanie-mu. Kita pulang sekarang."
Baekhyun nampak kaget. "A-apa pekerjaan Yeollie sudah selesai? Bukankah kita akan makan siang dulu?"
"Aku akan menyelesaikan semuanya di rumah. Dan kita bisa membeli apapun dijalan untuk makan siang nanti."
Baekhyun nampak sedikit kaget dengan nada dingin yang Chanyeol gunakan. Namun dengan buru-buru melakukan apa yang Chanyeol perintah, dan berjalan tergesa mengejar langkah lebar Chanyeol.
"Yeollie, jangan cepat-cepat!" Baekhyun nampak kesulitan menyejajarkan langkah mereka. Tapi Chanyeol tak peduli, membiarkan Baekhyun berjalan cepat di belakangnya.
"Ah!"
Chanyeol menoleh, dan mendapati Baekhyun terjatuh di trotoar jalan. Mengernyit oleh luka di lututnya.
Dengan tergesa, Chanyeol berbalik dan berlutut, mengamati luka di kaki Baekhyun. Sementara itu si hybrid menggigit bibir, berusaha sekuat tenaga menahan sakit.
Chanyeol menghela nafas, meraih tubuh mungil sang hybrid ke dalam gendongan tangannya, dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Perjalanan pulang terasa begitu sunyi dan kaku.
Dan Baekhyun tidak menyukai semua itu.
.
.
.
Chanyeol mengobati luka Baekhyun dalam diam. Memesan makan siang untuk mereka berdua, lalu kembali menyibukkan diri di ruang kerjanya.
Chanyeol memang tak menunjukkan tanda-tanda kemarahannya pada Baehyun. Tapi si lelaki hybrid cukup paham untuk tahu bahwa sang CEO tengah kecewa padanya.
Tingkah Chanyeol begitu dingin. Dan Baekhyun ingin menangis. Menangis karena ia tak mengerti apa yang menjadi kesalahannya.
Hingga kemudian sebuah ide terlintas di benaknya.
Tapi... Apakah benar ini akan berhasil...?
.
.
.
Hingga sore hari, Chanyeol masih memasang pundak dingin kepada Baekhyun. Memakan makan malam mereka dalam diam, lalu kembali menyibukkan diri di ruang kerja.
Ini semua sungguh membuat Baekhyun sedih, terlebih ketika malam sudah tiba dan ia mulai kebingungan. Ia tidak ingin tidur sendirian di sofa. Tidak ketika ia sudah terlanjur terbiasa tertidur dengan tubuh hangat Chanyeol di sisinya. Tapi di sisi lain, ia tidak bisa tidur di kamar Chanyeol jika si pemilik bahkan menghindari kehadirannya.
Aku harus melakukan sesuatu malam ini juga.
Dan oleh pemikiran itulah Baekhyun pada akhirnya berdiri di balik pintu kamar Chanyeol, mengetuknya dengan pelan.
"Yeollie...? Apa kau sudah tidur...?"
Tak ada jawaban. Baekhyun membuka pintu, dan menemukan Chanyeol yang sudah tertidur di ranjangangnya dengan pulas. Lampu sudah padam, hanya dengan sedikit pencahayaan dari lampu balkon yang menyala.
Baekhyun mengamati wajah Chanyeol di antara remang ruang. Chanyeol yang ia kenal di siang hari adalah sosok pekerja keras, tegas, namun juga penuh kelembutan. Chanyeol yang ia kenal adalah sosok pria yang begitu sempurna sempurna baginya.
Namun melihatnya terlelap seperti ini, Baekhyun tidak bisa berhenti berpikir bahwa Chanyeol nampak lebih... manusiawi. Dengan wajah tenang, dan mata terpejam, Park Chanyeol tidak nampak terlalu jauh untuk dapat diraih seorang Byun Baekhyun.
Lelaki hybrid itu tersenyum, menyadari seberapa besar perasaan yang ia miliki pada pria itu, bahkan hanya dalam waktu kebersamaan mereka yang sangat singkat sekalipun.
"Aku sangat menyukai Yeollie..."
Dan Baekhyun merundukkan wajahnya, mendaratkan sebuah kecupan lembut pada bibir Chanyeol. Pelan, membiarkan dirinya untuk sesaat tengelam oleh sensasi kebahagiaan yang menggelitik perutnya.
Dan ketika ia membuka mata, menarik dirinya sedikit menjauh, ia sama sekali tak menyangka akan menemukan Park Chanyeol menatapnya. Sebuah tatapan kaget tergambar jelas di matanya.
"Byun Baekhyun... Apa yang kau lakukan..."
Suara Chanyeol terdengar serak, menuntut penjelasan. Baekhyun tidak menyangka tindakan impulsif-nya itu akan tertangkap basah oleh Chanyeol.
Kerongkongan Baekhyun serasa mengering. Ia tidak bisa menemukan suaranya untuk berucap sesuatu.
Dan lelaki hybrid itu berlari keluar ruangan, membiarkan Chanyeol yang berusaha mencegahnya.
Kau sungguh bodoh, Baek. Kau seharusnya tahu Park Chanyeol tidak akan menyukai semua itu.
Baekhyun pun terlelap di sofa seorang diri malam itu, dengan kesedihan yang jauh lebih meluap dari yang ada sebelumnya.
.
.
.
Ketika pagi tiba, keadaan hubungan Chanyeol dan Baekhyun tidak juga membaik, atau malah bisa dibilang semakin memburuk. Jika sebelumnya Chanyeol yang menghindari Baekhyun, kini si lelaki hybrid juga melakukan hal yang sama. Ia menghindari Chanyeol, sebisa mungkin berpaling bahkan dari kontak mata sekalipun.
"Aku berangkat kerja dulu, Baek..." Ujar Chanyeol. Sesaat pandangannya terhenti pada Baekhyun di meja makan. "Sampai nanti, oke." Lirihnya pada akhirnya.
Baekhyun semakin beringsut pada tempat duduknya, mendengar pintu depan tertutup dan dikunci. Dan ketika itulah air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Yeollie semakin membenci Baekkie..." Lirih Baekhyun di antara isak tangis.
"Semua ini gara-gara popo sialan itu! Bibir nakal! Nakal! Nakal!" Baekhyun menepuk nepuk bibirnya sendiri dengan kesal. Lalu ia kembali terisak. "Apa yang harus Baekkie lakukan... Sekarang Yeollie membenci Baekkie..."
Malam itu ketika Chanyeol pulang ke rumah, suasana masih terasa begitu canggung seperti sebelumnya. Chanyeol berusaha menyapa dengan seramah mungkin, namun di sisi lain ia juga masih menjaga jarak dari Baekhyun.
"Aku membawakanmu makan malam. Makanlah. Aku akan mandi dan menyelesaikan beberapa pekerjaan."
Baekhyun mengangguk, memandang sepaket makanan yang ada di atas meja. Merasa lapar, ia mulai membuka bungkusan tersebut. Lalu matanya seketika terpaku pada sepotong strawberry cheesecake kesukaannya. Matanya menangkap selembar kertas note yang yang tertempel di sisinya.
'Makanlah yang banyak, Baek. Maafkan aku. Kumohon, jangan abaikan aku...?'
Baekhyun tak mengerti.
Kenapa? Kenapa Chanyeol meminta maaf, ketika ini semua adalah kesalahannya?
Dan sejujurnya, Baekhyun juga tak mengerti dengan desiran lembut yang perlahan semakin memenuhi hatinya.
.
.
.
Saat itu, Chanyeol sedang bekerja di ruangannya ketika Baekhyun menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Yeollie..."
Chanyeol sedikit kaget dengan kehadiran Baekhyun yang tiba-tiba. Namun melihat raut sedih dan keraguan di wajah si hybrid, iapun berusaha tersenyum selembut mungkin.
"Hey, Baek. Ada apa?"
Baekhyun tertunduk, melangkah masuk ke ruangan dan berdiri di depan Chanyeol. Awalnya ia hanya memainkan jarinya dengan gelisah, namun pada akhirnya isak tangis pun lolos dari bibirnya.
Hati Chanyeol mencelos oleh pemandangan itu, dan ia tidak berpikir dua kali untuk merentangkan tangannya, "Baek, kemarilah."
Dan Baekhyun pun berlari, beringsut pada pelukan Chanyeol, dan terisak di pelukannya.
"Y-yeollie... Tolong jangan benci Baekkie. Baekkie-minta maaf karena sudah mencium Yeollie. Baekkie tidak akan melakukannya lagi." Ia terus terisak di antara kalimatnya. "T-tapi Baekkie mohon - jangan abaikan Baekkie, Yeollie..."
Dan tangis Baekhyun pun pecah. Tangannya berusaha menghapus tetesan air matanya, sedangkan telinga dan ekor anjingnya terkulai sedih.
Dan pemandangan itu menyakiti Chanyeol.
"Baek..." Chanyeol meraih tangan hybrid itu, menariknya lembut dan membawa Baekhyun duduk di pangkuannya. "Aku tidak marah padamu... Sungguh."
Chanyeol merengkuh pipinya, menghapus lelehan air mata di sana dengan ibu jarinya.
"Tapi Yeollie mengabaikan Baekkie! Yeollie memalingkan wajahnya dari Baekkie, dan tidak ada lagi morning hug seperti biasanya! Yeollie-hiks-Yeollie juga tidak mengusap rambutku seperti biasanya..."
Chanyeol pun memeluk Baekhyun erat. Membawanya semakin erat di pangkuannya, seraya tangannya mengusap lembut surai coklat si hybrid.
"Maafkan aku. Aku tidak marah, Baek. Aku tidak akan pernah bisa marah padamu." Ia mengecup pelan puncak rambut Baekhyun, berharap dengan begitu tangis akan hilang darinya. "Jika ada seseorang yang menjadi objek rasa marahku, itu adalah diriku sendiri. Dan kau tahu mengapa?" Chanyeol meraih dagu Baekhyun lembut, membuat sepasang mata basah itu menatapnya.
"Karena aku tidak bisa menahan diriku pada semua hal yang berhubungan denganmu."
"Apa maksud Yeollie?" Lirih Baekhyun tak mengerti.
"Aku tidak biasa bersikap overprotective pada seseorang, namun aku menemukan itu tidak berlaku pada dirimu. Sejujurnya, aku merasa tidak suka ketika orang lain selain diriku menyentuhmu. Aku tidak suka ketika orang lain yang bukan aku menjadi pusat perhatianmu. Dan itulah yang terjadi pada diriku saat kau nampak begitu dekat dengan Yixing kemarin."
Baekhyun memiringkan kepalanya tak paham. "Maksudnya... Yeollie cemburu kepada Yixing...?"
Seketika tawa renyah lolos dari bibir Chanyeol. "Ya. Bisa dibilang begitu. Tapi mungkin bukan hanya pada Yixing, namun semua orang yang mencuri perhatianmu."
Chanyeol menyapukan ibu jarinya ke pipi Baekhyun, menghapus sisa lelehan air mata disana. "Karena itulah aku mulai banyak berpikir sejak kemarin. Aku sengaja menghidarimu untuk berpikir, mungkin aku telah salah menangkap semuanya. Mungkin aku terlalu naif hingga salah mengira aku lebih istimewa dibanding orang-orang seperti Yixing dan lainnya. Dan karena itulah aku merasa bersalah."
"T-tapi, Yeollie memang istimewa..." Baekhyun terbata. "Baekkie menyukai Yixing, ia adalah lelaki yang baik. Ia bercerita banyak tentang Yeollie, dan ia menjawab apapun yang aku tanyakan padanya mengenai Yeollie. Tapi rasa sukaku pada Yeollie lebih dari semua itu." Lirih Baekhyun di ceruk leher Chanyeol, melingkarkan lengan mungilnya erat.
"Tapi kau membiarkan Yixing memelukmu." Gumam Chanyeol.
Mata Baekhyun melebar, namun kemudian menyipit tak percaya.
"Apa Baekkie tidak diperbolehkan melakukannya?"
Chanyeol mengalihkan pandangannya salah tingkah. Terlihat sudah sisi overprotective seorang Park Chanyeol.
"B-bukan begitu, hanya saja-
Baekhyun menyeringai, terkikik lucu melihat Park Chanyeol yang dingin nampak merona di hadapannya.
"Apa Baekkie hanya boleh melakukannya pada Yeollie?" Kalimat tanya itu terucap ragu, sedikit malu-malu. Pipi Baekhyun merona bagai kelopak mawar, dan ia memandang Chanyeol dengan tatapan berkilau penuh harap.
Ia sungguh cantik.
"Ya." Jawab Chanyeol tanpa pikir panjang.
Persetan. Biarkan aku menjadi protektif, hanya kepadanya.
"Selain itu? Apakah ada hal lain yang hanya boleh Baekkie lakukan dengan Yeollie, tidak dengan yang lain?"
Chanyeol meraih pinggang Baekhyun, merapatkan tubuh keduanya. Dengan lembuat menggiring lengan Baekhyun untuk melingkarkannya ke leher Chanyeol.
"Jangan biarkan ia menyentuhmu sepertihalnya aku menyentuhmu." Chanyeol menelusuri jarinya ke wajah pualam Baekhyun.
"Jangan biarkan mereka merengkuh tubuhmu, sepertihalnya yang aku lakukan padamu."
Pipi Baekhyun merona semerah buah bit.
"Okay..."
"Dan Baek, mengenai ciuman yang kau berikan semalam..."
Seketika mata Baekhyun melebar kaget. "Baekkie tidak akan melakukannya lagi!" Teriaknya spontan. "Baekkie tahu itu membuat Yeollie tidak nyaman. Maaf... Baekkie janji tidak akan melakukannya lagi!"
Chanyeol tertawa renyah mendengar ucapan itu.
"Baek, apa aku boleh tahu mengapa kau menciumku malam itu?"
"Eung?" Baekkie menelengkan kepalanya bingung dengan sepasang tatapan polos. Sesaat dahinya berkerut berpikir, lalu menjawab. "Baekkie... Baekkie mencium Yeollie karena Baekkie sangat menyayangi Yeollie. Baekkie ingin Yeollie mengetahui itu semua, dan karena itulah Baekkie mencium Yeollie."
Chanyeol tersenyum mendengarnya.
"Kalau begitu cium aku."
Baekhyun memandan bingung. Matanya melebar, dan Chanyeol terkekeh.
"Maksud Yeollie... Baekkie boleh melakukannya...? Mencium Yeollie?"
Chanyeol mengangguk, menyingkirkan anak rambut di wajah cantik Baekhyun. "Ya, Baek. Dan bahkan jika boleh jujur, akupun ingin melakukannya. Sial. Aku selalu ingin melakukannya tiap kali memandang wajahmu. Dan itu membuatku takut tak bisa mengehentikan diriku."
"Tapi... Yeollie juga boleh melakukannya! Yeollie juga boleh mencium Baekkie kapanpun." Pipi Baekkie merona malu. "Karena itu tandanya, Yeollie menyayangi Baekkie sama besarnya dengan rasa sayang Baekkie pada Yeollie."
Cup!
Mata Baekkie melebar oleh kecupan tiba-tiba itu. Chanyeol tersenyum lebar oleh ekspresi kaget hybrid di pangkuannya. Dan...
Cup! Cup! Cup!
Chanyeol kembali menciumnya. Berkali-kali. Bibir tipis yang menghantui pikirannya selama seharian ini.
Cup! Cup! Cup!
Sungguh, Chanyeol tidak akan pernah bosan dengan bibir manis ini.
"Yeollie~~~" Baekkie mulai meronta setelah kecupan yang kesekian kalinya. Mendorong dada Chanyeol seraya terkikik geli.
Nafas Baekhyun tersengal. Dan Chanyeol senang oleh kenyataan bahwa sepasang matanya nampak berkilau bahagia.
"Aku tidak akan pernah bosan dengan ini semua, Baek."
Chanyeol menempelkan dahinya dengan dahi Baekhyun. Memejamkan mata, dan membiarkan nafas tersengal mereka beradu satu sama lain.
"Kalau begitu, lakukan lagi. Cium Baekkie, Yeollie..."
Dan Chanyeol tidak menolaknya. Menarik tubuh Baekkie lebih rapat dalam pangkuannya dan merengkuh bibir mungil itu.
Kali ini dalam sebuah ciuman yang lebih lama. Lembut. Dan begitu manis.
.
.
.
"Baek, sebenarnya hal apa yang kau kemarin bicarakan dengan Yixing?"
Baekhyun mengerjapkan matanya polos, lalu tersenyum dengan pipi memerah.
"Yixing bilang, rasa sayang yang sebenarnya ditunjukkan dengan sebuah ciuman di bibir, bukan di pipi! Ia yang menyuruhku mencobanya pada Yeollie. Dan Yeollie tahu? Sepertinya Yixing benar soal hal itu!"
Chanyeol menaikkan alisnya tak percaya, namun kemudian terkekeh sesaat setelahnya.
Well, sejujurnya Chanyeol tidak keberatan dengan ajaran Yixing yang satu itu. Mungkin ia harus mengucap terimakasih pada asistennya itu esok pagi.
.
.
.
TBC
.
.
.
Author's note :
I know this is boring. Boring is my style :)
xo,
mashedpootato
