My Little Puppy

A ChanBaek fanfiction story by:

mashedpootato

Cast : Chanyeol, Hybrid!Baekhyun, etc.

Pair : Chanbaek

Genre : Fluff (?), Romance (?), General

Rate : T (Bisa berubah sewaktu-waktu)

Warning : ff iseng, jangan dibawa serius. Typos.

.

.

.

Chapter 4 : A Chance to Believe

.

.

.

Eomma adalah seseorang yang mengajarkan Baekhyun arti cinta.

Cinta bukan mengenai menerima sesuatu, namun juga berarti memberi hal yang setimpal dengan sang terkasih.

Cinta adalah kebahagiaan, warna, dan cahaya. Namun cinta juga berarti pengorbanan, rasa sakit, dan air mata.

Ibu Baekhyun, Lee Hyesun adalah seorang hybrid anjing yang rupawan. Ia adalah sosok yang mewariskan paras cantik yang Baekhyun miliki. Namun terlahir sebagai seorang hybrid, kehidupannya jauh dari kata sempurna. Sepanjang hidupnya dihabiskan untuk berjuang bertahan hidup dalam kengerian perlakuan manusia, menjadikannya makhluk yang tak lebih dari sekedar objek pelampaian hasrat dan emosi.

Singkatnya, hari-hari Lee Hyesun bagaikan serangkaian kehidupan di dalam neraka.

Hingga seorang pria bertemu dengannya. Berlutut padanya yang terluka, seakan ia bukan seonggok makhluk kotor yang hina.

"Hey, namaku Byun Sanghoon. Apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka?"

Tangan itu terasa hangat. Merengkuh tubuhnya, dan memberinya perlindungan. Satu dari sekian banyak hal yang belum pernah wanita hybrid itu rasakan seumur hidup. Namun siapa yang tahu, bukan hanya paras memukau dan sentuhan lembut yang telah membuat hybrid tersebut jatuh hati, namun juga hatinya yang mulia dan penuh kasih sayang.

Keduanya pun jatuh cinta. Sebuah perasaan yang sebagian orang anggap tabu untuk dimiliki seorang manusia dan makhluk hybrid.

Karena hybrid tak cukup layak untuk berdiri sejajar dengan manusia.

Karena manusia tak seharusnya merendahkan diri tuk menyejajarkan diri dengan kasta yang makhluk hybrid miliki.

Namun keduanya tak peduli. Mengabaikan tiap caci maki dan perlawanan dari pihak keluarga sang pria.

Dan diatara pertentangan berbagai pihak, seorang bayi hybrid mungil nan cantik terlahir. Byun Baekhyun.

Byun Sanghoon dan Lee Hyesun pikir hidup mereka sudah cukup sempurna, terlebih dengan kehadiran sosok malaikat kecil di kehidupan mereka.

Namun agaknya tidak begitu bagi beberapa orang.

Byun Sanghoon dan Lee Hyesun meninggal dalam sebuah kecelakaan terencana beberapa hari setelah ulangtahun Baekhyun yang ke enam.

Meninggalkan seorang hybrid laki-laki mungil itu seorang diri hidup di dunia.

Banyak orang berkata itu adalah sebuah kematian yang konyol. Namun Baekhyun cukup tahu, bahwa kedua orangtuanya meninggal kerena berusaha mempertahankan perasaan cinta antara satu sama lain.

Sebuah cinta yang terlarang.

Sebuh cinta yang tidak seharusnya dimiliki sepasang manusia dan sesosok hybrid.

Dan jika itu memang adalah sebuah kesalahan, Baekhyun berpikir...

Mungkin kini ia telah jatuh pada kesalahan yang serupa...

.

.

.

"Baekhyun."

Suara Chanyeol seketika membangunkan si lelaki hybrid dari lamunannya. Baekhyun mengalihkan pandangannya dari kaca lebar jendela, mendapati Chanyeol yang berdiri di belakangnya. Ia nampak lelah dengan setelan jas kerja yang masih melekat di tubuhnya, namun senyuman seketika muncul ketika Baekhyun menoleh.

"Kau tidak menjawab panggilanku sejak tadi. Apa kau sedang memikirkan sesuatu?"

Baekhyun menggeleng, membalas senyuman Chanyeol. "Tidak. Baekkie hanya sedang melihat pemandangan di luar. Sore ini begitu cerah." Jawab Baekhyun setengah berbohong.

Chanyeol melangkah mendekatinya, membalik tubuh Baekhyun kembali menghadap ke jendela, dan melingkarkan lengannya ke pinggang ramping si hybrid.

"Kau benar, dan ini sangat indah." Lirih Chanyeol, menyusupkan wajahnya di ceruk leher Baekhyun tanpa benar-benar memperhatikan pemandangan di luar. Chanyeol tersenyum oleh aroma manis strawberry dan vanilla yang menginvasi penciumannya.

"Baek," lirih Chanyeol di leher Baekhyun, membuat bulu kuduk Baekhyun meremang geli.

"Aku akan menghadiri sebuah pesta ulang tahun seorang teman. Katakan, apa kau mau menemaniku?"

Baekhyun menaikkan alis, lalu kemudian mencebikkan bibir mungilnya. "Baekkie tidak suka menghadiri acara formal, Yeollie. Lagipula, Baekkie tidak yakin orang-orang akan senang melihat seorang hybrid di sebuah acara semacam itu."

"Omong kosong. Itu adalah pesta ulangtahun teman dekat kami-aku dan Jongdae. Jadi bisa dipastikan ia tidak akan masalah dengan kehadiranmu. Anggap saja kau hadir mewakili undangan Jongdae yang tak bisa datang. Lagipula," Chanyeol membalik tubuh Baekhyun menghadapnya, menunduk dan menyandarkan dahinya pada dahi Baekhyun, mengusap lembut sisi pipi sang hybrid dengan ibu jarinya. "Aku butuh kau sebagai teman kencanku malam ini. Apa yang akan orang-orang katakan jika seorang Park Chanyeol datang seorang diri tanpa seseorang di gandengannya malam ini? Hm?"

Baekhyun memandang sepasang mata coklat dan paras mempesona di hadapannya. Lalu kemudian senyuman manis terlukis di bibirnya.

Mungkin Baekhyun sudah jatuh terlalu dalam pada pesona seorang Park Chanyeol. Karena bagaimanapun juga, ia tahu ia tak dapat menolak apapun permintaan sang CEO kepadanya. Tidak ketika semuanya diucapkan dengan begitu manis seperti tadi.

"Okey." Jawab Baekhyun pada akhirnya.

Dan sebuah ciuman lembutpun mendarat di bibir mungil sang hybrid.

.

.

.

"Angkat kepalamu, Baek. Percayalah, kau nampak mempesona." Bisik Chanyeol lirih di telinga Baekhyun, sementara keduanya melangkah memasuki hall hotel dimana pesta berlangsung.

Baekhyun biasanya akan sulit untuk percaya dengan ucapan semacam itu. Ia tidak percaya, terlebih ketika sebuah telinga anjing mencuat mencolok di antara rambut coklatnya. Namun dengan genggaman erat tangan Chanyeol di sisinya, ia ingin membiarkan dirinya percaya. Ia percaya, kerena Chanyeol yang mengucapkannya.

"Oh my God! Chanyeol, kau datang!" Sebuah suara nyaring seorang wanita seketika mengalihkan perhatian keduanya, dan tanpa aba-aba seorang wanita muda nan cantik berhambur memeluk tubuh Chanyeol.

Sesaat sang CEO sedikit terkaget oleh pelukan tiba-tiba tersebut, namun kemudian ia tersenyum, memeluk tubuh langsing wanita itu.

"Hai Jieun, happy birthday."

Wanita itu tertawa, nyaring dan merdu. "Dasar brengsek, aku kira kau tidak akan hadir seperti Jongdae. Apa kau pikir ini lucu, hah? Kau tidak tahu aku begitu merindukanmu?" Ujar wanita berambut maroon itu dengan nada merajuk.

Chanyeol menjawabnya dengan kekehan, mengulurkan tangan untuk mengusap rambut wanita itu dengan penuh perhatian.

"Maafkan aku. Aku berusaha memberikan kejutan untukmu, kau tahu."

Baekhyun memandang semua itu dengan tidak nyaman. Bukan hanya karena kenyataan bahwa Chanyeol nampak begitu perhatian dan lembut pada seseorang, yangmana adalah sebuah pemandangan baru bagi Baekhyun. Namun juga karena Baekhyun merasa tersesat. Untuk sesaat, ia merasa seakan tidak seharusnya berada di tempat itu, pada momen itu. Tangannya terasa dingin dan menggigil tanpa genggaman Chanyeol. Seketika ia merasa begitu gugup dan takut.

"Apa kau datang sendirian? Mana hadiah untukku?" Jieun menggamit lengan Chanyeol. "Ayo, aku akan membawamu ke yang lainnya. Kau mau kue? Ah, kau juga harus mencicipi Red Chateau yang khusus aku siapkan untuk-

"Uh, Jieun." Chanyeol menahan tarikan tangan wanita tersebut. "Sebenarnya aku tidak datang sendirian malam ini."

Chanyeol menoleh ke arah Baekhyun, dan dengan cepat si lelaki hybrid berusaha memperbaiki ekspresinya dengan sebuah senyuman sopan.

"Baekhyun, ini Jieun, tonight's birthday girl. Dan Jieun, ini Baekhyun, saudara hybrid yang sering Jongdae ceritakan. Kau ingat?"

Jieun sesaat memandang Baekhyun, bibir penuhnya yang berhias lipstick merah sedikit terbuka tanpa mengucap apapun, seakan belum menemukan apa yang harus ia ucapkan. Dan Baekhyun tidak melewatkan bagaimana tatapan wanita cantik itu sesaat terhenti pada kehadiran sepasang telinga anjing di kepalanya.

"A-ahh... Ya. Aku ingat." Jieun melangkah mendekat. "Astaga... Aku sudah banyak mendengar tentang dirimu dari Jongdae, tapi aku sungguh tidak menyangka ternyata kau semanis ini."

Jika boleh jujur, Baekhyun sedikit tidak nyaman dengan sentuhan Jieun di pipinya. Namun ia memilih untuk tidak berkomentar.

"Happy birthday, Jieun. Ini... hadiah dari Yeollie dan Bekkie untuk Jieun."

"Baekhyun membantuku memilihkan hadiah yang cocok untukmu sebelum kami datang kemari. Semoga kau suka Jieun-ah." Chanyeol menjelaskan.

Jieun memandang sesaat sekotak kado hitam kecil berhias pita emas di tangan Baekhyun, lalu meraihnya dengan sebuah senyuman cantik di bibirnya.

"Tentu saja aku akan suka. Terimakasih Chanyeol! Dan Baekhyun tentu saja. Baiklah, haruskah kita ke dalam dan bertemu yang lainnya sekarang?"

Chanyeol tersenyum, meraih tangan Baekhyun dalam genggamannya dan tersenyum pada si lelaki hybrid. "Tentu."

Sepanjang acara, tatapan Jieun tak dapat teralih dari gestur posesif yang Chanyeol berikan itu.

.

.

.

Jika Chanyeol disebut menelantarkan Baekhyun seorang diri di keramaian pesta, maka hal itu tidaklah benar. Chanyeol hanya sibuk dengan bertemu dengan berbagai teman lama, dan Jieun juga menyibukkannya membawa ia kesana-kemari.

Dan karena itulah Baekhyun harus terduduk sendiri di salah satu meja tamu. Merasa bingung dan kesepian, seraya memakan sepotong red velvet di hadapannya sedikit demi sedikit.

"Hai, Baekhyun. Boleh kita bicara sebentar?" Jieun seketika muncul di sebelahnya, menduduki kursi kosong di sisinya tanpa menunggu persetujuan.

Baekhyun sedikit kaget, dan dengan reflek pandangannya seketika teralih pada Chanyeol. Namun lelaki tinggi itu tengah sibuk mengobrol dengan beberapa tamu, nampak tenggelam dalam topik pembicaraan.

"Itu adalah ayahku." Jieun mengedikkan dagu pada pria paruh baya yang tengah mengobrol dengan Chanyeol. "Bukankah Chanyeol begitu hebat? Ayahku adalah seseorang yang sangat keras dan sulit percaya dengan orang lain. Tapi Chanyeol," Jieun meletakkan dagu ke telapak tangannya. "Ia sungguh tahu cara mengambil hati kedua orangtuaku."

Baekhyun memperhatikan objek pembicaraan Jiuen. Dan ya, Baekhyun mengakui bagaimana Chanyeol nampak begitu dekat dengan keduanya.

"So, Baekhyun. Ceritakan padaku bagaimana kau bisa datang kemari dengan Chanyeol."

"Baekkie tinggal bersama Chanyeol. Jongdae yang menitipkan Baekkie padanya selama ia pergi." Baekhyun memandang sesaat tatapan yang Jieun berikan, dan seketika ia merasa dirinya harus cukup berani untuk mengucap sesuatu. "Dan Yeollie meminta Baekkie untuk menjadi teman kencannya malam ini."

Baekhyun memberikan sebuah senyuman singkat di akhir kalimatnya, dan itu cukup untuk menyingkirkan senyuman di bibir Jieun untuk sesaat.

"Ah, ngomong-ngomong terimakasih untuk kadonya. Aku sangat menyukai gelang yang kau pilihkan." Jieun menunjukkan tangan kanannya, dimana sebuah gelang white gold melingkar di lengannya.

Baekhyun hanya mengangguk, berusaha tersenyum meski merasa tak nyaman dengan kehadiran Jieun di dekatnya. Ada sesuatu dari tatapan tajam wanita itu yang tidak Baekhyun pahami, yang membuatnya tak nyaman. Tangan Baekhyun menggenggam lengannya sendiri, mengusap gelang di pergelangan tangannya tanpa sadar.

Jieun tak melewatkan gestur spontan itu.

"Chanyeol bilang ia pernah memesankan gelang yang didesainnya khusus untukmu di toko yang sama. Karena itulah kalian membelikan hadiahku di toko tersebut. Apa itu benar?"

Baekhyun sedikit kaget oleh fakta bahwa Chanyeol menceritakan hal tersebut pada orang lain. Pipinya merona malu, "Y-ya..."

"Ah... Kau pasti cukup istimewa bagi Chanyeol hingga ia memberikan hadiah semacam itu untukmu." Jieun tersenyum, namun kemudian ekspresinya berubah seakan ragu. "Ummm, atau mungkin tidak. Bagaimanapun juga kau hanya hybrid keluarga Kim yang dititipkan padanya sementara waktu, bukankah begitu?"

Bibir Baekhyun mencebik oleh ucapan Jieun. "Tidak. Yeollie menganggap Baekkie istimewa. Yeollie sendiri yang berkata begitu."

Jieun terkekeh nyaring oleh jawaban itu. Seakan semua yang Baekhyun ucapkan begitu lucu. Seakan itu tak lebih hanya sebuah lelucon di telinganya.

"Hai Baek, apa kau mengerti... Apa itu artinya cinta?" Jieun mendekatkan wajahnya ke arah Baekhyun, menatap langsung ke mata si hybrid.

Baekhyun sedikit terkaget dengan pertanyaan yang Jieun lontarkan, namun ia jauh lebih kaget dengan apa yang wanita itu katakan setelahnya.

"Aku tahu kau menyukai Chanyeol, Baekhyun-ah. Aku bisa melihatnya jelas. Dan kau tahu mengapa?" Jieun tersenyum manis. Amat sangat manis hingga bulu kuduk Baekhyun meremang oleh rasa takut. "Karena aku juga menyukainya. Ah bukan. Lebih tepatnya; aku mencintai Park Chanyeol."

Baekhyun menelan ludah, matanya teralih sesaat pada Chanyeol di seberang ruangan. Berharap pria itu menyadari ketidaknyamannan Baekhyun di tempat itu, dan membawanya pergi. Namun Chanyeol bahkan tidak memandangnya, terlalu sibuk dengan tamu undangan yang lain.

"B-Baekkie-" hybrid itu menelan ludah, memejamkan mata seaaat, menarik nafas, untuk kemudian memadang balik wanita di hadapannya itu. "Baekkie mencintai Yeollie. Dan Baekkie tahu Yeollie mencintai Baekkie dengan sama besarnya."

Sejujurnya Jieun tidak menyangka akan mendapat jawaban semacam itu. Ia mengira lelaki hybrid itu akan ketakutan, mundur oleh apa yang Jieun ucapkan kepadanya. Namun untuk mendapat jawaban berani nan naif semacam itu, Jieun sama sekali tak mengira. Dan sedikitpun ia tak menyukai hal itu.

"Baekhyun, kau hanyalah seorang hybrid. Apa kau tahu apa itu cinta? Dan terlebih, cinta pada seorang manusia?"

Jieun adalah sahabat Chanyeol, dan Baekhyun tidak ingin menyakitinya. Namun ia tidak bisa mengelak, apa yang wanita itu ucapkan begitu menyakiti hatinya.

"Cinta adalah cinta. Apakah itu ada bedanya? Tidak ada yang salah dengan menyayangi seseorang, begitu juga dengan perasaan Baekkie pada Yeollie."

Sudut bibir Jieun berkedut oleh jawaban lantang itu. Sedikit demi sedikit topeng senyuman itu runtuh dari wajahnya, berganti dengan ekspresi jijik dan benci.

"Cinta berbeda dengan rasa suka. Cinta berarti berusaha memantaskan dirimu dengan orang kau cintai tersebut. Dengar Baek, Chanyeol adalah seorang pria penting. Jauh lebih penting dari apa yang kau tahu. Dan... Apa kau yakin kau bisa melakukannya? Mencintai seorang Park Chanyeol?" Jieun memasang wajah seakan mengkasihani hybrid di hadapannya. "Cinta adalah mengenai kepercayaan. Dan katakan padaku, Baekhyun. Apa kau cukup layak untuk mendapatkan kepercayaan Chanyeol dibandingkan diriku?"

"Ya." Jawab Baekhyun pendek, meski dengan tubuh yang menggigil ketakutan.

Jieun menyeringai, sadar bahwa ia akan memenangkan semua ini. "Kalau begitu, buktikan."

Dengan sebuah gerakan cepat, Jieun menarik gelang di pergelangan tangan Baekhyun. Baekhyun terkesiap oleh rasa sakit yang menggores lengannya. Gelang tersebut putus, dan kini berada di dalam genggaman Jieun.

"Kembalikan padaku." Desis Baekhyun berusaha meraihnya.

Namun alih-alih menuruti ucapan Baekhyun, Jieun meraih garpu di atas meja. Sebuah seringai menjalar di bibirnya.

"Kita lihat apa yang terjadi, Byun Baekhyun."

Dan dalam sebuah gerakan cepat, Jieun membawa ujung runcing garpu perak itu ke pergelangan tangannya sendiri. Menancapkkannya dalam-dalam ke lengannya dengan sebuah jeritan keras yang menyakitkan.

Darah keluar dari luka yang ditimbulkan, dan Baekhyun bergidik ketakutan.

Apa... Yang terjadi?

"JIEUN!"

Sebuah suara membuat Baekhyun menoleh, dan sebelum ia memahami apa yang terjadi, Chanyeol sudah berhambur ke meja mereka, meraih tubuh Jieun yang gemetaran dengan luka berdarah di tangannya.

"Apa yang terjadi?!" Ia meraih tangan wanita tersebut, dan membawa wanita yang nampak ketakunan itu ke dalam pelukannya, berusaha menenangkannya. Kerumunan mulai menghampiri mereka. Memberi intruksi untuk memanggil dokter dan petugas kesehatan.

"C-Chanyeol..." Jieun menenggelamkan wajahnya ke dada Chanyeol. "A-aku hanya bermaksud menemani Baekhyunie. Ia nampak sendirian dan kesepian. Kami mengobrol, dan aku hanya bermaksud melihat gelang yang Baekhyun punya. T-tapi ia mendorongku dan melukaiku. A-aku sungguh tidak tahu Baekhyunie akan bereaksi seperti itu, Chanyeol..." Tubuh Jieun menggigil, dan Chanyeol melingkarkan lengannya lebih erat ke tubuh wanita tersebut.

Chanyeol sesaat memandang Baekhyun, seakan meminta penjelasan atas semua yang terjadi. Namun Baekhyun terlalu kaget untuk mengatakan sesuatu.

Ia tidak mengerti.

Ia sungguh tidak mengerti.

Dan segera setelah Jieun dibawa oleh petugas keseatan yang datang, apa yang Chanyeol lakukan adalah mencengkeram lengan Baekhyun. Hybrid itu memekik oleh luka gores di tangannya dan genggaman erat Chanyeol. Tetapi lelaki tinggi itu tak peduli, membawanya jauh dari keramaian untuk kemudian memojokkannya, meminta penjelasan langsung kepadanya.

"Baekhyun. Ada apa denganmu, hah?" Chanyeol memandangnya dengan tak percaya. "Aku tahu mungkin kau merasa tidak nyaman, Baek.. Aku tahu kau tidak terbiasa dengan suasana semacam ini. Tapi kau tidak seharusnya melakukan hal tersebut pada Jieun! Kau melukainya!"

Baekkie... Melukainya...?

Tapi mengapa Baekkie merasakan sakit di dada Baekkie? Jika memang Baekkie yang melukai Jiuen, lantas mengapa justru Baekkie yang merasakan sakit, Yeollie?

Baekhyun memandang ke sekeliling. Semuanya seakan berputar, dan semua mata memandang aneh ke arahnya. Semuanya menyalahkannya.

Baekkie tidak seharusnya berada di sini...

"Tidak..."

Baekkie tidak melakukannya.

"Baek, ini sudah keterlaluan-

"Cinta adalah mengenai kepercayaan. Dan katakan padaku, Baekhyun, apa kau cukup layak untuk mendapatkan kepercayaan Chanyeol?"

Ucapan Jieun menggaung bertubi-tubi di pendengaran Baekhyun, dan Bakhyun menggeleng, berusaha menyingkirkan itu semua dari kepalanya.

Ini berbeda dengan insiden perkelahian di restoran beberapa hari yang lalu. Ini berbeda, karena kali ini alih-alih berada di pihak Baekhyun, Chanyeol justru menyalahkannya.

"Baekkie ingin pulang." Lirih lelaki hybrid itu parau.

Ia menyerah. Dan satu-satunya hal yang ingin Baekhyun lakukan hanya pergi dari tempat ini.

"Tidak. Apa yang akan kau lakukan adalah kembali ke sana, dan meminta maaf kepada Jiuen, atau kita tidak akan pulang sama sekali." Chanyeol berujar tegas.

Baekhyun memandang Chanyeol. Dan semua kebenaran sudah akan keluar dari bibirnya ketika sebuah pemikiran terlintas di benaknya.

Yeollie tidak akan percaya.

Ia hanya seorang hybrid rendahan. Jadi sudah selayaknya bagi Chanyeol untuk tidak percaya.

"Baek!"

Dan satu-satunya hal yang bisa Baekhyun lakukan hanya melarikan diri. Ia ingin lari sejauh mungkin, menghindar dari rasa sakit itu. Namun hanya dalam waktu sekejap Chanyeol sudah berhasil mengejarnya. Menahan tubuhnya untuk semakin menjauh.

"Lepaskan! Lepaskan, Baekkie!"

Tubuh hybrid itu meronta. Sekuat tenaga berusaha melepaskan diri. Chanyeol menarik nafas, dan mengangkat tubuh Baekhyun ke pundaknya selayaknya sekarung beras.

"No! Turunkan Baekkie!"

Tapi Chanyeol tidak mempedulikan semua ucapan itu. Membawa lelaki hybrid itu ke dalam mobil untuk segera pulang menuju rumah.

Selama perjalanan, Chanyeol berusaha mengabaikan bagaimana Baekhyun menggigit bibirnya sendiri dengan begitu kuat, beringsut sejauh mungkin dari jangkauan Chanyeol.

.

.

.

"Aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengannya, Dae. Ya, aku sudah menghubungi Jieun, dan ia tidak mempermasalahkan semua itu. Ia hanya sedikit kaget dengan apa yang Baekhyun lakukan padanya. Ia bahkan mengkhawatirkan keadaan Baekhyun saat ini."

Chanyeol memijat pelipisnya, menggenggam ponsel di telinganya seraya berjalan mondar-mandir di depan kamar, dimana seorang hybrid mengurung diri dan menolak untuk membukakan pintu.

"Ya, ia mengurung dirinya di kamar saat ini. Sebaiknya kau menghubungi Jieun untuk menjelaskan semuanya, dan mungkin menyampaikan perminta maaf. Dan Jongdae," Chanyeol masih memandang pintu kamar yang tertutup dengan khawatir. "Sebaiknya kau juga menghubungi Baekhyun dan berbicara padanya. Bagaimanapun juga ia sudah keterlaluan."

.

.

.

Baekhyun mendengar semuanya.

Baekhyun mendengar setiap kata dalam obrolan Chanyeol pada Jongdae di sambungan telepon. Bagaimana Chanyeol kecewa dan menyalahkan Baekhyun mengenai apa yang terjadi, serta bagaimana pria tersebut berada di pihak Jieun alih-alih di pihak sang hybrid.

Ya. Pada akhirnya apa yang Jieun katakan terbukti benar. Pada akhirnya ia tetap hanyalah seorang lelaki hybrid dengan strata yang begitu rendah. Amat sangat rendah mungkin, hingga Chanyeol bahkan tak rela memberikan kepercayaannya kepada Baekhyun.

Cinta adalah mengenai kepercayaan. Namun apakah itu bisa disebut cinta ketika kepercayaan hanya diberikan sepihak tanpa bisa terbalas?

Ponsel Baekhyun berdering.

Incoming call. Jongdae.

Mata Baekhyun melebar, meraih panggilan itu dengan tergesa. Jika ada seseorang yang akan percaya padanya, ia yakin itu adalah Jongdae. Ikatan keduanya sudah seperti saudara sedarah, dan Baekhyun hanya perlu mengatakan segalanya dengan jujur untuk membuat Jongdae percaya. Ia yakin itu.

"Jongd-

"Minta maaf padanya, Byun Baekhyun."

Kalimat Baekhyun seketika tertahan di kerongkongannya begitu mendengar nada dingin yang Jongdae ucapkan. Dan ia memanggilnya dengan 'Byun Baekhyun'. Jongdae hanya memanggil dengan nama lengkapnya jika ia begitu serius. Atau mungkin amat sangat marah.

"Dengar, Baek. Aku tidak mengerti jalan pikirmu. Aku baru saja menghubungi Jieun, dan kau tahu apa? Ia sangat trauma dengan apa yang kau lakukan padanya! For damn sake, Byun Baekhyun. Ini adalah hari ulangtahunnya, dan kau membuatnya trauma dengan kelakukan kekanakanmu yang keterlaluan! Dan kau tahu apa? Ia bahkan khawatir padamu. Ia menanyakan kondisimu, dan meminta kami; sahabatnya, untuk tidak terlalu keras padamu."

Tidak.

Baekkie tidak melakukannya, Jongdaeya...

Namun semuanya itu gagal terucap.

"Baek, katakan maaf padanya. Itu tidak akan sulit. Bahkan mungkin Jieun telah memaafkanmu, tapi kau tetap harus mengucapkannya." Jongdae terdengar lelah. Dan hati Baekhyun hancur mendengar semua itu.

Maaf.

Maafkan Baekkie...

Maaf karena Baekkie bahkan tak cukup layak untuk mendapatkan kepercayaanmu... Dan juga Chanyeol...

Maaf...

Dan Baekhyun menutup sambungan. Tepat sebelum isak tangis yang ia tahan sedari tadi lolos dari bibirnya.

.

.

.

Chanyeol terbangun tengah malam. Pukul 11.56.

Ia sangat lelah, dan agaknya ia telah jatuh tertidur di sofa sedari tadi. Dan ketika itulah Chanyeol teringat oleh hybrid mungil yang masih merajuk di dalam kamar.

"Baekhyun?"

Chanyeol mengetuk pintu, namun tak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar. Ia meraih kenop pintu, dan betapa kagetnya ia ketika mengetahui pintunya tak lagi dikunci. Namun apa yang lebih mengagetkannya adalah kenyataan bahwa Baekhyun tidak ada di dalam maupun di ruangan manapun.

Chanyeol berlari ke pintu depan.

Dan ketika itulah ia tersadar. Sepatu sneakers yang biasa Baekhyun kenakan nampak tidak ada di rak, serta kunci pintu depan nampak terbuka.

.

.

.

Baekhyun meyandarkan kepalanya ke jendela taksi. Tatapannya terpaku pada sebuah pesan singkat di ponselnya.

From: unknown number

Message: Aku meminta nomormu dari Chanyeol, dan ia memberikannya padaku. Datanglah ke alamat yang aku kirimkan, dan kau akan mendapatkan gelangmu kembali. Dan juga, bukankah kau berhutang ucapan 'maaf' padaku, Byun Baekhyun?

Taksi terhenti, dan Baekhyun memandang keluar.

Baekhyun melakukan ini demi mendapatkan kembali kepercayaan orang-orang yang ia anggap berarti.

.

.

.

Eomma, bukankah apa yang Baekkie lakukan ini begitu bodoh?

.

.

.

- T B C -

.

.

.

Author's note:

Chapter ini rada angsty kalo dibanding sama yang biasanya, dan aku hanya berharap chapter pendek ini cukup ngefeel buat kalian :)

Sebenernya chapter 4 lebih panjang dari ini, tapi aku memutuskan buat membaginya jadi dua, dan memposting setengahnya di chapter 5. Btw, chapter depan kayaknya aku bakal ubah rate ff ini jadi M, berhubung akan ada mature content yang bakal aku munculkan.

Tinggal 1 atau 2 chapter lagi hingga ff ini tamat. Soalnya sejak awal aku emang enggak berencana bikin plot yang panjang. Doakan aja aku bisa fast update for the next chapter, okay :)

Special thanks for all of my dear readers yang udah ngasih aku semangat dan meyakinkan aku bahwa tulisan aku ini cukup layak untuk dibaca. I love you ❤

Xo,

mashedpootato

Ps : Don't forget to vote for EXO! Every vote is counted and means a lot, Aeris! Fighting!