My Little Puppy
A ChanBaek fanfiction story by:
mashedpootato
Cast : Chanyeol, Hybrid!Baekhyun, Kim Jongdae, Song Jieun (OC), etc.
Pair : Chanbaek (HunHan as cameo)
Genre : Fluff, Romance, General
Rate : M
.
.
Chapter 5 : A Forbidden Feeling Called Love
.
.
.
Warning :
Pada chapter ini, aku menaikkan rating ff ini menjadi M karena mature content yang ada di dalamnya (sex scene; including bareback, multiple orgasm, a little bit of orgasm denial, and word of profanities).
Tolong skip parts tersebut jika anda merasa tidak nyaman dengan konten yang ada.
Enjoy.
.
.
.
.
.
"Fuck, fuck, fuck!" Chanyeol merutuki dirinya sendiri, melayangkan pukulannya ke setir mobil dengan berkali-kali. Ia begitu marah. Amat sangat marah pada dirinya sendiri, membayangkan kemungkinan apa yang bisa terjadi pada Baekhyun di luar sana. Ia tidak tahu dimana lelaki hybrid itu berada, dan kenyataan itu menakuti hatinya lebih dari apapun.
Dalam keadaan genting seperti ini Jongdae justru memutuskan untuk tidak dapat dihubungi. Chanyeol telah mencoba menghubunginya berkali-kali, namun panggilan tersebut langsung teralih pada voice mail. Sungguh, jika sampai terjadi pada Baekhyun, bukan hanya Jongdae yang tidak akan memaafkannya, namun juga dirinya sendiri.
Chanyeol tidak tahu hal apa yang membuatnya mengambil kesimpulan, namun ia memiliki firasat kepergian Baekhyun pasti ada kaitannya pada permasalahan dengan Jieun beberapa saat lalu. Namun ketika Chanyeol menghubungi Jieun, sahabatnya itupun tidak sedetikpun mengangkat panggilannya.
"Kumohon, kumohon, kumohon- Mr. Song!"
"Chanyeol. Ada apa kau menelepon malam-malam begini, nak?" Ayah Jieun terdengar serak, dan Chanyeol tidak sedikitpun merasa bersalah telah membangunkan tidur pria tua tersebut dengan panggilan telepon selarut ini.
"Maafkan kelancangan saya, sir. Tapi sesuatu terjadi. Baekhyun menghilang, dan saya hanya teringat oleh kejadian beberapa saat lalu. Saya ingin memastikan bahwa ia tidak bersama Jieun saat ini-
Mr. Song menghela nafas panjang, seakan merasa tak nyaman kala Chanyeol membawa topik itu kembali ke permukaan. "Chanyeol, hybrid itu melukai putri kami, dan apa kau pikir kami akan membiarkannya mendekati Jieun lagi? Hybrid itu butuh dilatih. Ia memiliki naluri hewan yang terbukti membahayakan bagi orang disekitarnya. Jadi dengar Chanyeol, kami sangat menyayangimu selayaknya putra kami sendiri, tapi kami harus bilang bahwa kami tidak menyukai hybrid itu."
"Mr. Song, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada anda, biarkan saya mencari tahu keberadaannya. Saya yakin ada beberapa hal yang merupakan kesalahpahaman. Baekhyun tidak biasanya seperti itu, jadi saya mohon bantuan anda. Paling tidak saya ingin memastikan ia ada bersama Jieun ataukah tidak saat ini."
Ini sulit. Amat sangat sulit. Tapi Chanyeol akan lakukan apapun jika itu berarti mampu membawa pulang Baekhyun dan memastikan ia baik-baik saja.
"Saya mohon, sir."
.
.
.
"Aku tidak percaya kau sungguh-sungguh datang, Baekhyun-ah." Jieun tersenyum manis, melingkarkan lengan kurusnya pada bahu si lelaki hybrid dan membawanya masuk ke dalam bar selayaknya seorang sahabat dekat.
"Apa kau mau minum? Sesuatu yang kuat? Apa kau suka alkohol, Baekhyunie?" Wanita itu menyodorkan gelas wine di tangannya ke arah wajah Baekhyun. Lelaki hybrid itu menggeleng, berjengit oleh aroma alkohol yang terlalu pekat. Ia tidak menyukai alkohol, dan ia juga tidak menyukai keramaian. Jadi perpaduan antara keduanya sama sekali bukanlah sesuatu yang baik baginya.
Dengan hati-hati Baekhyun menjauhkan tubuh Jieun darinya. "A-aku datang kemari untuk mendapatkan kembali gelangku." Ujarnya lirih, berharap Jieun bisa mendengarnya di antara dentuman keras suara musik bass di lantai dansa.
Jaeun mengangkat satu alisnya, "Ah, maksudmu benda ini?" Ia menggoyangkan tangannya. Tersenyum ketika Baekhyun mengenali gelangnya yang kini melingkar di pergelangan tangan Jieun yang berbalut perban.
"Y-ya. Kembalikan itu padaku." Jawab Baekhyun pelan.
Jieun tersenyum licik. "Baiklah. Kemari dan ambillah, anjing kecil."
Baekhyun menatap wanita itu ragu. Pandangannya kemudian teralih pada gelang di lengan Jieun yang terulur.
Baekhyun akan mengambilnya. Ia akan mengambil gelangnya kembali, dan setelah itu kembali pulang sebelum Chanyeol menyadari kepergiannya. Tangan Baekhyun terulur, namun ketika ia baru melangkah mendekat, ia menemukan dirinya didorong dengan begitu kuat ke belakang.
Baekhyun memekik, dan sebelum ia menyadari segalanya, tubuhnya sudah terbanting ke lantai, menabrak meja minum di belakangnya hingga jatuh berantakan. Ia merintih, dan orang-orang menjerit dan melihat keributan itu dengan kaget.
"Kenapa..." Lirih Jieun.
Baekhyun berusaha memfokuskan pandangannya. Dan tak jauh di depannya, ia melihat wanita itu menatapnya nyalang dengan senyuman pahit.
"KENAPA KAU SANGAT ISTIMEWA BAGI CHANYEOL, HAH?!" Wanita itu berteriak, amat sangat keras, seakan-akan suara itu bukan berasal dari kerongkongannya.
Baekhyun menggeleng, merayap mundur tiap kali wanita itu mengambil langkah maju.
Wanita itu tersenyum sinis, seakan menikmati ekspresi ketakutan yang ada di mata Baekhyun. "Aku belum pernah melihatnya seperti itu, Baekhyun-ah. Itu adalah hari ulang tahunku, dan kami sudah begitu lama tidak bertemu satu sama lain. Tapi kau tahu? Apa yang dia bicarakan padaku hanya tentang seorang hybrid yang dititipkan Jongdae padanya! Berbicara tentang seseorang seakan-akan ia begitu berarti baginya! Chanyeol seharusnya melakukan itu padaku! Bukan pada hewan busuk kotor sepertimu!"
Jieun meraih sebotol wine yang ada di dekatnya, mengangkatnya tinggi-tinggi sebelum membantingnya ke atas lantai. Baekhyun menjerit takut, berusaha beringsut sejauh mungkin dari jangkauan Jieun yang mendekat ke arahnya.
Beberapa orang mencoba menahan Jieun, tapi wanita itu terus meronta. Ia berteriak, melemparkan benda-benda di dekatnya dengan teriakan histeris.
Baekhyun ketakutan. Amat sangat takut. Hiruk pikuk itu membuatnya bingung. Suara-suara keras serta aroma pekat alkohol dan rokok di udara membuatnya terasa mual dan sakit.
Panas.
Ini terlalu panas.
Ia ingin keluar, ia ingin pergi dari tempat itu.
Baekhyun mencoba bangkit berdiri, tapi seketika ia terjatuh kembali tanpa berdaya. Kakinya seakan kehilangan kekuatannya. Tubuhnya terasa lemah, dan rasa panas dalam tubuhnya terus terasa. Menyebar dari pusat dirinya, membuatnya gelisah dan tak nyaman.
Ia tahu perasaan ini.
Tidak.
Tidak, ini tidak mungkin terjadi di saat seperti ini...
"Oh, my, God. Liat dirimu..." Jieun tersenyum lebar seakan menyadari sesuatu. "Apa kau... Sedang memasuki masa heat-mu?"
Baeknyun tersengal. Memandang Jieun mendekat di antara pandangannya yang mulai berkabut.
"Kemarilah. Biarkan aku membantumu." Jieun mengulurkan tangannya dengan senyuman dibuat-buat.
Baekhyun menepis cepat tangan Jieun darinya. Ia takut wanita itu akan berbuat buruk padanya. Ia merasa sangat lemah dan kesakitan, dan hal yang paling tidak ia harapkan adalah seseorang memanfaatkan kondisi dirinya yang seperti ini.
"Sekarang aku mengerti mengapa Chanyeol begitu menganggapmu istimewa." Jieun berlutut di hadapannya, dan Baekhyun menggeliat sejauh mungkin darinya. "Apa kau membiarkannya menidurimu sepanjang waktu, Baekhyunnie? Aku dengar hybrid adalah mesin seks yang sangat hebat. Tidak kaget kau bisa menjilat perhatian Chanyeol dengan begitu baik. Aku lupa hybrid adalah pelacur yang handal..."
Jieun meraih rambut Baekhyun dengan sentakan kasar, membuat si hybrid memekik kesakitan.
Baekhyun menggeleng dengan deru nafasnya yang masih tidak beraturan. Pandangannya berkabut, dan dorongan birahi semakin menguasai dirinya; membuatnya menggeliat tak nyaman.
Ia ingin seseorang menyentuhnya.
Ia ingin seseorang melakukan seks dengannya.
Chanyeol...
Ia menginginkan Chanyeolie nya...
"Hey nona, lepaskan tanganmu darinya!" Sebuah suara asing dari kerumunan terdengar, dan seorang hybrid kucing berambut pirang berlari mendekat, dan berlutut di hadapan Baekhyun.
Baekhyun tidak bisa melihat sekelilingnya dengan jelas, namun ia melihat sosok lain berusaha menjauhkan Jieun darinya.
"Hey, kau bisa mendengarku?" Tanya hybrid kucing itu lembut, berhati-hati untuk tidak mengagetkan Baekhyun.
Baekhyun merintih, tangannya menggapai lengan si hybrid kucing seraya bergumam meminta pertolongan.
"It's okay. Semuanya akan baik-baik saja. Aku akan membawamu keluar dari sini, oke? Sehun-ssi, bisakah kau membantuku?"
"Apa ia baik-baik saja?" Sebuah suara laki-laki lain terdengar, namun pandangan Baekhyun sudah terlanjur memudar untuk melihat sekelilingnya. Rasa sakit menguasai dirinya, dan ia tidak bisa memikirkan hal lain kecuali keinginan untuk segera pergi dari tempat itu.
"Apa yang kalian pikir akan lakukan, hah?!" Jieun mendorong tubuh mungil si hybrid kucing yang tengah berusaha membawa Baekhyun bangkit berdiri.
"Hey, hey, hey, easy there, nona. Kau menyakitinya." Pria tinggi tinggi bernama Sehun itu berusaha menghalangi Jieun untuk mendekat. "Ia sedang sakit, kau tahu."
"Kalian pikir kalian siapa, hah?! Berhenti mengurusi urusanku dengan lelaki anjing ini! Kalian tidak ada hubungannya dengan ini se-
"Hentikan, Jieun-ah." Ujar sebuah suara yang seketika membuat wanita itu membeku. Ia menoleh, dan mendapati Chanyeol berdiri tak jauh darinya.
Chanyeol nampak sangat marah. Sebuah ekspresi yang bahkan tak sekalipun Jieun bayangkan akan ia terima seumur hidupnya.
Seakan Chanyeol telah berada di titik akhir kesabarannya dan siap melayangkan pukulan padanya kapan saja.
"Chanyeol. B-bagaimana kau tahu aku ada di-
Chanyeol berdecih muak.
"Tanyakan itu pada kedua orangtuamu yang jauh lebih percaya kepadaku, daripadamu. Tanyakan itu pada kebohonganmu. Aku bersumpah, Song Jieun. Aku bersumpah aku sudah akan melakukan hal buruk padamu saat ini jika saja aku tidak mengingat persahabatan yang pernah ada di antara kita."
Chanyeol memandang orang-orang asing di hadapannya dengan nyalang, membuat mereka dengan ketakutan memberikan ruang baginya untuk mendekat. Namun kemudian pandangannya teralih oleh sosok yang ada tak jauh darinya. Baekhyun tergeletak di ujung ruangan, tubuhnya menggigil dengan keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya.
"Baekhyun-" Chanyeol berlari menuju Baekhyun dengan panik, meraih tubuh itu ke dalam pelukannya. "Hey, baby. Apa yang terjadi padamu? Baek, kumohon jawab aku."
"Sir-
Chanyeol menoleh, dan ketika itulah Chanyeol baru menyadari dua sosok orang di dekatnya. Seorang pria jangkung berkulit pucat, dan hybrid kucing berambut pirang.
"Apa anda... Mengenal hybrid ini...?" Hybrid kucing itu bertanya ragu.
Chanyeol mengangguk. "Ya. Aku seharusnya menjaganya, namun sesuatu terjadi dan ia menghilang begitu saja-
"Kalau begitu anda harus segera menbawanya pulang, tuan. Ia sedang mengalami masa heat nya. Ini tidak akan baik jika ia dibiarkan berada di tempat terbuka dan ramai seperti ini." Ujar si hybrid khawatir.
Chanyeol terdiam tak mengerti. Heat...?
Baekhyun tengah mengalami masa heat?
Chanyeol memandang tubuh lelaki hybrid anjing di pelukannya. Ia nampak kesakitan dengan wajah merona merah, sepasang telinga anjing yang terkulai, dan keringat dingin yang bercucuran. Ia menggeliat pelan, dan mata keduanya bertemu sesaat untuk pertama kalinya sejak Chanyeol tiba di bar itu.
"Yeollie..." Lirih Baekhyun, lengan terulur dan melingkar erat pada leher pria yang lebih tinggi. "Apa yang terjadi dengan Baekkie..." Baekhyun mulai terisak oleh siksaan birahi yang membuncah di dalam dirinya.
Chanyeol mengecup wajahnya sayang, dan membawa si hybrid ke dalam gendongan tangan.
"It's okay, Baek. Semuanya akan baik-baik saja." Bisik Chanyeol lembut.
Dua orang asing tadi; hybrid kucing bernama Luhan serta tuannya yang bernama Sehun, menolong Chanyeol untuk membawanya keluar dari tempat itu.
"Sepertinya ia meminum obat suppressant." Ujar Luhan sebelum Chanyeol masuk ke dalam mobilnya. "Obat suppressant membantu hybrid untuk mengurangi peningkatan hormon ketika heat terjadi, dan sepertinya ia meminum obat tersebut dengan rutin untuk berjaga-jaga. Karena itulah hormonnya terlalu stabil untuk sebuah serangan heat yang tiba-tiba. Namun begitu, hormonnya akan tetap meningkat seiring berjalannya waktu, Chanyeol-ssi. Jadi saya harap anda segera membawanya pulang; dan merawatnya."
.
.
.
"Please Jongdae, Jongdae, Jongdae..." Chanyeol berjalan mondar-mandir dengan ponsel menempel di telinganya. Berharap nada tunggu panggilan akan segera berhenti dan berganti dengan jawaban sahabatnya.
Sementara itu, Chanyeol masih bisa mendengar suara Baekhyun yang melenguh dengan gelisah dari ruang kamarnya yang tertutup. Baekhyun sudah meminum kembali obat penurun hormonnya, namun Chanyeol tetap merasa khawatir oleh rintih dan jeritan sakit yang ia teriakkan.
"Ahhhh!"
Baekhyun melenguh keras, dan Chanyeol menggeram dengan frustrasi. Ia sungguh tak tega, terlebih ketika ia bisa mendengar suara isakan tangis samar setelahnya.
Chanyeol menarik nafas panjang, lalu dengan pelan dan hati-hati ia membuka pintu kamarnya.
Di sana, di atas ranjang putih miliknya Baekhyun berbaring, meringkuk dengan tubuh yang menggigil dan bergerak gelisah. Satu tangannya mencengkeram bagian bawah perutnya, tempat dimana ia bisa merasakan hormonnya meluap-luap membanjiri tubuhnya. Sementara tangan yang satu mencengkeram kain seprei putih ranjang dengan begitu erat.
"Baek," ujar Chanyeol lembut, mengusap pelan rambut Baekhyun yang basah oleh keringat.
"Hey, Baekhyun.. Kau bisa mendengarku?" Elusan Chanyeol turun menuju pipi dengan pelan, berharap dapat mengalihkan rasa sakit yang sedang hybrid itu rasakan.
"Eungh... Yeollie..." Lirih Baekhyun pelan, keringat dingin bercucuran dengan nafas tersengal dari bibir tipisnya yang terbuka.
Chanyeol terpesona oleh pemandangan di hadapannya. Ia terbiasa oleh Baekhyun yang menunjukkan sisi polos dan innocent, jadi semua pemandangan ini begitu asing sekaligus baru baginya. Baekhyun nampak begitu seksi dengan bibir merah jambunya yang separuh terbuka, dan Chanyeol tidak bisa mengelak bahwa semua itu membuat dirinya terangsang.
"Chanyeol, please..." Baekhyun merintih untuk yang kesekian kalinya, meraih tubuh Chanyeol semakin dekat; berusaha mendapatkan sebanyak mungkin kontak yang dapat sedikit memuaskan dirinya.
Chanyeol, menggeleng pelan. Sedikit menjauhkan diri untuk memberikan kecupan pelan di dahinya yang basah.
"Baek, apa yang kau inginkan. Apa yang kau inginkan agar aku bisa membantumu, baby?"
Baekhyun mendesah dan merintih pelan."Touch me... Please, Yeollie... Touch me..."
Baekhyun mengulurkan tangannya, dengan jemarinya yang lentik berusaha membuka kancing kemeja yang Chanyeol kenakan dengan terburu-buru.
Ia telah berhasil melucuti hampir semua kancing yang ada, hingga tangan Chanyeol menghentikannya.
"Aku takut kau akan menyesali semua ini, Baek. Kumohon, jangan kau coba bermain dengan ini semua." Bisik Chanyeol memohon.
Dengan perlahan lelaki yang lebih tinggi menundukkan kepalanya, mengecup lembut bibir Baekhyun, berkali-kali, terus turun hingga ia sampai di ceruk leher Baekhyun, tepat di area tulang selangkanya.
"Aku takut kau akan menyesal telah memintaku melakukannya." Satu kecupan. "Aku takut aku tidak akan bisa berhenti jika kau mengijinkanku sedikit saja, Baek." Dua kecupan; hingga kemudian disusul dengan kecupan-kecupan kecil yang lainnya.
Baekhyun menggeleng. "T-tapi Baekkie menginginkannya..." Lirih Baekhyun terisak. "B-baekkie hanya ingin Yeollie... Please..."
"Oh, Baek..." Chanyeol memagut lembut leher Baekhyun, memberinya sebuah gigitan pelan.
Baekhyun melenguh oleh rasa sakit dan nikmat yang menjalar menuruni tubuhnya, menjerit oleh sensasi kenikmatan yang baru pertama kali dialaminya.
Chanyeol memandang wajah Baekhyun, tangannya terulur untuk merengkuh wajah itu, mengecup dahinya, turun hingga bibirnya.
"Kau menginginkan ini?" Bisik Chanyeol. Pria itu melumat bibir manis itu, menghisap, dan mengulumnya hingga merah merekah.
Baekhyun mengangguk diantara ciuman intens tersebut, dengan tersengal berusaha mencuri nafas di sela-sela permainan mereka.
"Angkat tanganmu, Baek..." Bisik Chanyeol di telinga si hybrid. Terdengar begitu berat dan mendominasi.
Dan Baekhyun, dengan patuh menuruti semua perintah sang dominan, mengangkat kedua tangannya. Sebuah lenguhan lolos dari bibirnya ketika ia merasakan tangan hangat Chanyeol masuk menelusuri bawah kemejanya, menyentuh tiap inci tubuh yang dapat diraihnya.
"Eungh... Yeollieh..." Baekhyun menghentakkan pinggulnya ke atas, berusaha mendapatkan kenikmatan dari gesekan pada selangkangan Chanyeol yang membesar.
Chanyeol menggeram, dan satu tangannya turun mencengkeram pinggul Baekhyun. "Take it slow, Baek. Aku tidak ingin menyakitimu..."
Namun Baekhyun menggeleng kuat, "Tidak. Aku ingin Yeollie melakukannya. Aku ingin Yeollie memasukiku, memenuhi lubangku dengan keras. Baekkie sudah tidak tahan lagi, Yeollie. Please."
Fuck.
Chanyeol mengerang, dan dengan gerakan cepat melucuti baju Baekhyun. Melepas helaian pakaian yang menutupi pandangan dari tubuh molek di hadapannya.
Dan tidak butuh waktu lama baginya untuk kembali meraup leher hybrid mungil itu, mengecup, menjilat, dan menggigit hingga bercak kemerahan kini menghiasinya. Ia ingin menandai hybrid mungil di bawahnya ini. Ia ingin Baekhyun tahu bahwa Chanyeol telah memilikinya, dan ia ingin Baekhyun mengingat apa yang telah terjadi dengan mereka malam ini.
"AHH!" Teriak Baekhyun keras ketika bibir Chanyeol berpindah ke nipple merah jambunya yang menegang. Baekhyun menggelinjang nikmat, melengkungkan tulang punggungnya oleh kenikmatan yang tak tergambarkan pada area sensitifnya.
Chanyeol tersenyum paham, dengan gerakan lihai mengulumnya, menghisap nipplenya satu persatu, menyeringai ketika Baekhyun mulai terisak oleh rasa nikmat yang luar biasa.
"Kau sungguh cantik, Baek... Amat sangat cantik..." Bisik Chanyeol diantara kesibukannya. Tangannya mulai turun, dengan gerakan pelan menurunkan celana jeans ketat yang Baekhyun kenakan. Nafsunya semakin membuncah ketika Baekhyun berada di bawahnya, telanjang hanya dengan sebuah celana boxer ketat yang menutupi area pribadinya. Menggelinjang, dan terisak nikmat oleh permainan tangan Chanyeol.
"Fuck, Baek. Kumohon katakan kau menginginkan semua ini. Katakan, agar aku dapat melakukan semuanya padamu. Karena aku tak yakin dapat berhenti kali ini."
Baekhyun menggigit bibirnya, penisnya berkedut meminta dipuaskan, dan ia bisa merasakan cairan lubricant yang semakin membanjiri lubangnya; meminta diisi oleh penis besar yang pria di hadapannya miliki.
"Yes... Yes please, Yeollie..." Baekhyun menarik tubuh Chanyeol, menggesekkan bagian bawah tubuhnya ke kejantanan Chanyeol yang masih tertutup celana.
Chanyeol mengerang nikmat, namun kemudian sebuah seringai muncul di bibirnya.
"Tell me, Baek. Apa yang kau inginkan. Katakan padaku apa yang kau inginkan dariku..."
Baekhyun menggeleng dengan mata terpejam, menggigit bibirnya oleh rasa malu.
"Kau tidak akan mendapatkannya jika kau tidak mengatakannya dengan jelas, Baek. Maka katakan padaku dengan rinci, apa yang kau inginkan untuk kulakukan padamu." Chanyeol menelusurkan tangannya ke paha Baekhyun, semakin naik, lalu dengan tiba-tiba meremas pantat berisi si hybrid.
"Eungghh ahhh!" Baekhyun melenguh nikmat.
Tapi itu semua belum cukup. Baekhyun menginginkan lebih.
"Please, fuck me, Chanyeol. Fuck me hard. Aku ingin Yeollie bercinta denganku, memasukkan penisnya ke lubangku, menghentakkannya keras, hingga-aahhh!"
Baekhyun menjerit keras, ketika tanpa aba-aba Chanyeol menurunkan celana boxer yang ia kenakan, menggigit seduktif pada pangkal paha selangkangannya.
Baeknyun begitu cantik dan memiliki tubuh yang amat sangat menggoda. Tubuhnya langsing dengan kulit seputih susu, serta pinggul melebar dan paha serta pantat yang berisi. Chanyeol menelusurkan tangannya perlahan ke bagian bawah perut Baekhyun, terus turun perlahan hingga area penisnya.
Penis Baekhyun jauh lebih mungil jika dibandingkan miliknya, berwarna pink, menegang, dengan cairan precum yang basah membanjiri ujungnya. Chanyeol tersenyum, dan dengan lembut mengecup ujungnya, mengulurkan lidahnya untuk bermain dengan kepala penisnya yang sensitif.
"Ahhhh ahhh ahhh Yeolliieee!" Jerit Baekhyun ketika Chanyeol mengulumnya. "No, akhh!" Panggulnya terhentak refleks ketika Chanyeol memasukkannya ke dalam rongga mulut. Mengulum, dan menghisap, seraya tangannya sibuk meremas pantat sintal Baekhyun.
"Yeollie, Yeoolliehh..."
Baekhyun semakin menggelinjang ketika dengan tanpa peringatan apapun, Chanyeol memasukkan jari tengahnya perlahan ke lubangnya yang telah begitu basah.
"Kau sangat basah, Baek. Apa kau begitu menginginkannya, hm? Apa kau menginginkan penisku di dalam lubangmu?"
"Akh... Yeoll..." Baekhyun mulai terisak oleh stimulus kenikmatan yang bertubi-tubi. Merasakan dengan jelas bagaimana jari Chanyeol bergerak di dalam dinding lubangnya yang sensitif. Chanyeol mengangkat tubuhnya sendiri, kembali mengecup bibir Baekhyun dan mengecup matanya yang basah.
"Apakah sakit? Kumohon, katakan padaku ketika kau merasa sakit, dan aku akan berhenti. Oke?"
Baekhyun mengangguk samar, pipinya merona merah, dan tatapannya berkabut. Dengan bernafsu mulai menggerakkan panggulnya, berusaha mendapatkan kenikmatan lebih dari jari Chanyeol yang ada di dalam lubangnya.
Chanyeol cepat mengerti, dan dengan hati-hati memasukkan jari keduanya. Baekhyun melenguh nikmat. Tak butuh waktu yang lama hingga jari ketiga menyusul, dan dengan gerakan seduktif Chanyeol menggerakkan tangannya. Keluar, masuk, bergarak zig zag dengan gerakan menggunting. Lubang Baekhyun harus disiapkan dengan baik untuk bisa siap muat dengan 'benda yang sebenarnya'.
"AKHHH YEOLL!" Baekhyun mendesah keras ketika jari Chanyeol tepat mengenai sebuah titik di dalam lubangnya.
Chanyeol menyeringai paham, menggerakkan jarinya ke titik yang sama; menumbuk prostatnya bertubi-tubi, hingga Baekhyun menggelinjang kenikmatan.
"AH AHH AHHH!" Chanyeol tahu Baekhyun sudah begitu dekat dengan orgasmenya. Namun ketika Baekhyun hendak menyentuh penisnya sendiri, Chanyeol menahannya, mencengkeram kedua tangannya ke atas kepala dengan satu tangan.
Baekhyun melenguh tak berdaya, membiarkan jari-jari Chanyeol mengacak-acak lubangnya tanpa bisa ia berbuat apapun. Merasakan kenikmatan tiap kali jari Chanyeol bergesekan pada dinding lubang serta prostatnya.
Lubangnya terasa penuh, dan ia tidak tahu lagi berapa jumlah jari yang ada di sana. Tiga? Atau mungkin empat? Namun itu semua masih belum cukup bagi Baekhyun. Ia menginginkan yang lebih, sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang mampu memuaskan lubangnya. Mengisinya, memenuhi lubangnya dengan lebih.
"Ch-chanyeol... I need more..."
Baekhyun menggelinjang, berusaha menggesekkan pinggulnya pada kejantanan Chanyeol yang nampak membesar di balik celananya.
Chanyeol menggeram, dan kembali mencium bibirnya dengan buas. Bagai seekor monster yang kelaparan. Seakan berhenti mencium Baekhyun akan membunuh dirinya sendiri.
Dengan tergesa-gesa, Chanyeol menggiring tangan Baekhyun ke pinggang celana yang ia kenakan. Memberi tanda pada hybrid mungil itu untuk melucutinya.
Baekhyun dengan senang hati melakukan apa yang Chanyeol perintahkan. Melepas celana denim yang pria tinggi itu kenakan dengan tergesa-gesa, sementara Chanyeol melepas bajunya. Semuanya dilakukan tanpa melepas ciuman yang mereka lakukan.
Baekhyun kehabisan nafas, tidak berdaya oleh ciuman panas yang Chanyeol berikan. Dan ketika ia menarik tubuhnya sesaat untuk meraup oksigen, ia menemukan dirinya terpesona oleh tubuh yang Chanyeol miliki.
Tubuh Chanyeol tegap dengan abs dan lengan yang berotot. Hingga kemudian ia bisa merasakan mulutnya berair kala pandangannya teralih pada penis besarnya yang ereksi; keras, memerah, dengan urat-urat yang nampak jelas menghiasi batang penis tersebut.
"Menikmati pemandangan yang kau lihat, babe?" Tanya Chanyeol menggoda dengan senyuman di bibirnya.
Wajah Baekhyun seketika memerah, dan Chanyeol kembali menindih tubuhnya di atas ranjang. Memberi ciuman lembut pada bibir dan lehernya, membuat Baekhyun ingin berteriak frustrasi.
Karena ia menginginkan yang lebih.
Ia sudah sangat terangsang, dan sentuhan lembut sama sekali bukan yang ia inginkan saat ini.
"Masukkan, Yeollie..." Lirih Baekhyun malu. "Take me hard... Baekkie ingin Chanyeol memasukkannya ke lubang Baekkie. Please..."
Chanyeol menyeringai. "As you wish, Baby."
Chanyeol menempatkan ujung penisnya pada lubang Baekhyun yang memerah basah. Mengerang oleh sensasi ketika ujungnya yang sensitif bergesekan dengan lubangnya yang lembut.
"Aku akan memasukkannya." Bisik Chanyeol.
Dan ia dengan perlahan melesakkan penisnya perlahan dengan geraman.
"Fuck fuck fuuckk."
Lubang Baekhyun sungguh amat sangat ketat. Meski Chanyeol sudah menyiapkannya dengan jari, lubangnya masih tetap begitu ketat, menyelimuti penisnya yang berkedut, menghimpit, dan meremasnya.
Ini bukanlah pengalaman seks pertama Chanyeol, namun ia bersumpah. Ini adalah lubang ternikmat yang pernah ia cicipi. Dengan perlahan ia terus memasukkannya, hingga semua masuk seutuhnya.
Baekhyun mendesah keras oleh sensasi kenikmatan yang menyelimutinya. Chanyeol jelas memiliki ukuran kejantanan yang lebih besar dari orang pada umumnya, dan ini adalah pengalaman pertama Baekhyun melakukan seks. Tapi ia hanya tidak tahu semuanya akan terasa seintens dan seintim ini.
Chanyeol membiarkan penisnya sesaat tertanam di lubang Baekhyun, membiarkan sang hybrid menyesuaikan diri dengan ukurannya. Baekhyun terengah, menggeliat dengan gelisah oleh penis Chanyeol di lubangnya. Sementara itu, Chanyeol mencium bibirnya, melumatnya, berperang dengan lidah di rongga mulutnya untuk mengalihkan perhatian Baekhyun dari rasa sakit.
Dan ketika Baekhyun menggerakkan panggulnya dengan tidak sabar; dalam diam meminta Chanyeol mulai bergerak, Chanyeol pun dengan senang hati mengabulkannya. Dengan gerakan hati-hati ia menarik kejantanannya keluar, dan memasukkannya kembali.
"Fuck, Baek. Kau sungguh sempit, Baby..."
Chanyeol mempertahankan gerakan maju mundurnya. Semula pelan, hingga ia mempercepat gerakannya. Bergerak cepat, dalam, dan keras, hingga tubuh Baekhyun terhentak-hentak oleh gerakan brutal Chanyeol.
"Ahhh, Yeollie.. Ahhh!"
Chanyeol mengangkat kedua kaki Baekhyun ke bahunya, memberikan akses bagi penisnya untuk melesak jauh lebih dalam dari sebelumnya.
"Yeollie, Baekkie akan keluar... No, akh! Yeollie... Ahhh!"
Dan Baekhyun mencapai orgasme pertamanya. Memuncratkan spermanya dengan menggelinjang kuat, tanpa sentuhan sedikitpun pada penisnya.
Namun itu belum cukup bagi Chanyeol. Tidak ketika penisnya masih begitu keras berada di dalam lubang ketat Baekhyun.
Chanyeol membalik tubuh Baekhyun, membuat hybrid itu menjerit kaget. Ia membiarkan Baekhyun menungging dengan tumpuan siku dan lututnya. Dan tanpa aba-aba, Chanyeol kembali membobol lubangnya dalam-dalam.
"Ahh! Yeollie!" Jerit Baekhyun kaget. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menemukan ritme kenikmatannya kembali. "Lebih keras, Yeollie... Harder! Akhh! Ahhh!"
"Fuck, Baek. Aku bersedia untuk melakukan ini siang dan malam jika memang itu yang kau inginkan. Menghajar lubangmu, mengeluarkan spermaku ke dalam lubangmu hingga kau hamil."
"I'm comming, Yeollie.. Eunghh ahhh..."
Baekhyun mulai terisak oleh orgasme keduanya yang mulai ia rasakan.
"Tidak, baby." Chanyeol menyeringai, meremas penis Baekhyun dengan satu tangannya, menutupi lubahnya untuk mencegah orgasmenya yang sudah begitu dekat.
"Chanyeoll... Aahhh... Yeollie!" Baekhyun terisak, sementara Chanyeol terus menyodokkan penisnya. Tepat mengenai prostatnya dengan tanpa ampun, memberi gelombang kenikmatan tiada henti pada diri Baekhyun. Ini semua amat sangat nikmat.
Chanyeol melepaskan tangannya, dan penis Baekhyun berkedut kuat, menumpahkan spermanya dengan isak kenikmatan. Sementara Chanyeol masih menghajar lubangnya, mengejar orgasmenya yang semakin dekat.
"EUNGHHH AHHH!'
"FUCK, AHHHHH!" Chanyeol menumpahkan spermanya dalam-dalam. Memenuhi lubang Baekhyun, hingga beberapa di antaranya meluap keluar.
.
.
.
Baekhyun terbiasa melepas nafsu selama heatnya dengan bermain menggunakan seks toy dan meminum obat suppressant. Hybrid pada umumnya akan melakukan seks dengan pasangan untuk melepas nafsu yang mereka miliki, namun bagi Baekhyun yang tidak memiliki pasangan, itu semua adalah hal yang mustahil.
Pengalaman seks yang ia lakukan bersama Chanyeol adalah hal yang sepenuhnya baru bagi Baekhyun. Ia tidak pernah tahu seks akan terasa senikmat itu. Dan dengan Chanyeol yang senang hati memenuhi permintaannya bermain sepanjang malam, ia merasa bagai seorang hybrid yang amat sangat beruntung.
Tapi ada satu hal yang sedikit mengganjal di hati Baekhyun. Malam itu, ketika keduanya telah melakukan seks yang entah telah keberapa ronde, Chanyeol berujar padanya.
"Aku akan membantumu melewati masa heatmu, Baek. Jadi kau tidak perlu meminum obat itu lagi. Kau mengerti?"
Ya. Chanyeol bersedia untuk menjadi pelampiasan dorongan seksualnya. Dan itu semua pria itu lakukan tanpa Baekhyun memintanya terlebih dulu.
Semua itu hanya sebuah hubungan antara seorang hybrid horny dan teman baik yang bersedia menjadi pelampiasan. Hanya itu.
.
.
.
Chanyeol sama sekali tidak merasa keberatan melakukan itu semua.
Damn.
Jika Chanyeol diperbolehkan jujur, ia justru sungguh menikmatinya.
Baekhyun yang ia kenal selama masa heatnya berlangsung sedikit membuat Chanyeol kaget. Ia tetaplah seorang hybrid anjing yang polos dan manis, namun Chanyeol hanya tidak percaya ia memiliki sisi yang begitu seksi dan panas di atas ranjang.
Tubuh mungilnya begitu fleksibel, mengijinkan Chanyeol untuk melakukan posisi apa saja selama keduanya melakukan seks. Baekhyun juga mampu melewati orgasm berkali-kali dalam satu kali ronde.
Chanyeol pernah mendengar beberapa hal mengenai masa heat hybrid, namun ia hanya tidak menyangka dorongan melakukan seks yang hybrid miliki bisa seintens itu.
Seperti yang mereka lakukan saat ini. Keduanya baru saja bercinta di atas sofa, dengan Chanyeol mencengkeram pinggang Baekhyun, dan tanpa ampun membobol lubangnya dari belakang. Namun nyatanya itu tidak cukup.
Keduanya kini bercinta di jendela kaca lebar, yang mana tepat menghadap balkon apartemen. Punggung Baekhyun bersandar pada dada Chanyeol sementara kejantanan si CEO tertanam dalam di lubangnya, bergerak brutal, menghajar prostatnya bertubi-tubi.
"Yeol... Yeollie... Ahhhh! D-deeper.. Harder! Ahhh!"
Baekhyun orgasm untuk yang kesekian kali, menyemprotkan spermanya ke kaca, dan terengah. Tubuhnya sudah akan jatuh ke lantai jika bukan tangan Chanyeol yang menyangga tubuhnya.
Chanyeol membalikkan tubuh Baekhyun, menyandarkan tubuh sang hybrid ke kaca. Tubuhnya sesaat berjengit oleh rasa dingin kaca di punggungnya. Namun semua itu terlupakan segera setelah Chanyeol mengangkat tubuhnya, memasukkan kejantanan besarnya kembali ke dalam lubangnya yang sudah penuh oleh sperma dan cairan pelumas.
"Ahhhhh!" Baekhyun melenguh keras oleh kejantanan Chanyeol yang masih mengeras. Dapat merasakan penis besar itu menggesek dinding lubangnya yang masih begitu sensistif pasca orgasme, menimbulkan friksi yang begitu nikmat.
Chanyeol menggeram. "Fuck, Baek. Aku sudah berkali-kali membobolmu, dan kau masih seketat ini. Apa kau sengaja melakukannya, hah?"
Chanyeol menyodokkan panggulnya, dan Baekhyun mejerit nikmat kala ujung penis Chanyeol tepat mengenai titik prostat yang ia miliki. Dalam posisi seperti ini, ia dapat merasakan penis Chanyeol melesak begitu dalam di lubangnya.
Chanyeol menyeringai. Memposisikan penisnya dan menghajar titik yang sama bertubi-tubi, tepat pada area yang sama.
"Ahhh! Yeolliee! Di sana... Please, don't stop..." Baekhyun semakin terisak, memohon agar Chanyeol tidak berhenti. Tidak ketika ia tengah berada di puncak kenikmatan dunia.
"I'm comming, Baekhyun.I'm comming. Eunghhh!" Dan dalam sekali sodokan, Chanyeolpun mendapatkan orgasmenya. Menyemburkan spermanya yang begitu banyak ke dalam lubang Baekhyun.
"Ahhhhhh!" Baekhyun menjerit keras, mendapatkan orgasmenya untuk yang kesekian kali pada saat yang bersamaan. Merasakan lubangnya terisi penuh oleh sperma pria di hadapannya.
Chanyeol menggerakkan pinggulnya pelan, mengejar sisa-sisa orgasme dalam dirinya, dan mengecup bibir hybrid itu lembut.
"Yeollie..." Ujar Baekhyun lemas, dan Chanyeol tersenyum oleh pemandangan itu.
"Sebaiknya kita mandi, dan setelah itu kau bisa beristirahat. Bagaimana, hm?" Tanya Chanyeol, dan Baekhyun mengangguk lemah; melingkarkan lengannya ke leher Chanyeol dan membiarkan pria itu menyangga berat tubuhnya.
Chanyeol baru hendak mencabut kejantanannya yang masih berada di lubang Baekhyun, ketika hybrid itu menghentikannya.
"J-jangan dikeluarkan," lirihnya malu. "Biarkan saja di dalam dulu."
Chanyeol tersenyum dan mengecup puncak hidungnya. "Apa kau menyukainya? Penisku di dalam lubangmu?"
Baekhyun mengangguk, menyembunyikan wajahnya ke balik ceruk leher Chanyeol, membuat pria tersebut tertawa pelan.
Keduanya berakhir melakukan beberapa ronde tambahan di kamar mandi dan ranjang setelahnya.
.
.
.
Chanyeol tidak mengerti.
Baekhyun mengabaikannya, dan bahkan seakan tidak menganggap keberadaannya. Ia menghindari tiap kali Chanyeol berusaha membuka pembicaraan, dan sengaja mengalihkan pandangan kala tatapan mereka bertemu.
Baekhyun mengabaikannya. Dan itu semua membuat Chanyeol menggila.
Chanyeol masih teringat bagaimana hubungan keduanya masih baik-baik saja semalam. Mereka melakukan seks untuk yang kesekian kalinya selama dua hari itu, dan berakhir tertidur di ranjang yang sama semalaman, memeluk tubuh satu sama lain.
Chanyeol masih mengingat bagaimana ia mengecup lembut bibir si hybrid mungil, membelai wajahnya, dan membantunya membersihkan tubuh dengan sehelai handuk basah. Namun memang mungkin ada sesuatu yang berbeda dengan seks malam lalu.
Seakan-akan mereka melakukannya bukan atas dorongan nafsu heat yang Baekhyun rasakan, dan Chanyeol melakukannya bukan atas dasar rasa tanggung jawabnya membantu Baekhyun terlepas dari heat nya. Yang Chanyeol tahu, semalam ia menginginkannya. Ia ingin menyentuh Baekhyunie-nya, membuatnya merasakan kenikmatan, dan merasa dicintai. Dan ia hanya berharap Baekhyun menyadarinya.
Chanyeol mengira keduanya akan memiliki pagi yang normal, mengingat heat Baekhyun telah mereda. Tapi melihat Baekhyun yang justru menghindarinya, ia rasa perkiraannya telah salah.
Itu adalah hari terakhir keduanya bersama, dan dalam beberapa saat lagi, Jongdae akan segera tiba untuk menjemput Baekhyun pulang.
"Hei." Sapa Jongdae ketika Chanyeol membukakan pintu untuknya, dan memeluk sahabatnya itu sesaat.
"Masuklah. Kau pasti lelah. Kau langsung kemari selepas dari bandara?" Tanya Chanyeol.
Jongdae mengangguk. "Aku sudah tidak sabar bertemu Baekhyun. Dan... Ah sial. Aku sungguh merasa bersalah padanya. Aku sungguh saudara yang buruk."
Jongdae sudah mengetahui semuanya. Pagi hari setelah keributan antara Jieun dan Baekhyun di bar, Chanyeol menceritakan kebenaran yang terjadi. Tentang bagaimana Jieun memfitnah Baekhyun, menjebak, dan berusaha menyakitinya. Semuanya, kecuali poin dimana Baekhyun mengalami heat dan Chanyeol memutuskan untuk membantu melampiaskan nafsu birahinya.
"Apa ia di kamar?" Tanya Jongdae khawatir.
Untuk sesaat Chanyeol sedikit ragu. Ada sebuah perasaan tak rela ketika ia kambali tersadar oleh kenyataan. Jongdae akan membawa Baekhyun pergi darinya. Selamanya.
Chanyeol mengangguk. "Ya, ia sedang membereskan barang-barangnya. Kau ingin aku memanggilkannya untuk-
Sebelum Chanyeol menyelesaikan kalimatnya, pintu kamarnya terbuka dan Baekhyun muncul dengan duffel bag di tangan.
"Hai." Sapanya lirih, untuk sesaat bertemu pandang pada Chanyeol sebelum dengan cepat mengalihkannya. "Ummm, apa aku bisa memasukkan tasku langsung ke mobil sekarang, Jongdae?" Tanyanya lirih, dan Jongdae meraih tas yang ada di tangannya.
"Apa kau baik-baik saja? Aku akan bawakan tasmu ke mobil. Kau selesaikan beres-beresmu, dan aku akan menunggu di luar, oke?" Jongdae memeluknya sesaat, dan Baekhyun mengangguk sebelum kembali masuk ke dalam kamar.
"Apa kalian memang biasanya sedingin ini satu sama lain? Ini sama sekali tidak seperti apa yang biasa Baekhyun ceritakan di telepon. Dia bilang kalian sangat akrab. Apa sesuatu terjadi?" Tanya Jongdae begitu ia dan Chanyeol tiba di lantai bawah, membawa tas Baekhyun ke bagasi mobil.
Chanyeol memandang Jongdae sesaat. Dalam hati membayangkan bagaimana reaksi sahabatnya itu jika Chanyeol menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi.
'Aku melakukan seks dengan saudara hybridmu untuk melampiaskan birahi heat nya. Berkali kali. Dengan berbagai posisi di setiap sudut apartemenku.'
Damn, kau pasti bercanda.
Chanyeol tidak mungkin mengatakannya. Tidak ketika ia tahu nyawanya akan terancam jika ia berani mengucapkan itu semua.
"Aku juga tidak terlalu mengerti. Jongdae, jika boleh, apakah aku bisa berbicara empat mata dengan Baekhyun sebentar sebelum kalian pergi?"
Jongdae memadang Chanyeol, seakan menimbang-nimbang jawaban.
"Tentu. Hanya saja, Chanyeol." Jongdae menahan bahu sahabatnya sebelum ia kembali memasuki pintu gedung apartemen. "Jangan berani-berani menyakiti Baekhyun. Kau mengerti, kan?"
.
.
.
Baekhyun memasukkan buku novelnya ke dalam ransel, yang mana menjadi barang terakhir yang perlu ia bereskan sebelum pulang.
Ia akan merindukan apartemen ini. Hanya seminggu, namun Baekhyun tidak percaya ia sudah begitu jatuh hati dengan suasana yang ada.
Setiap detail kecil. Ruang tempat dia biasa menghabiskan waktu, baju yang sering ia kenakan, dan aroma ruangan itu. Aroma khas yang sama seperti yang Chanyeol miliki...
Ah, Chanyeol...
Dibanding hal yang lain, Baekhyun tahu ia akan merindukan pria itu lebih dari segalanya.
Pintu kamar terbuka, dan Baekhyun mengira akan mendapati Jongdae yang berdiri di sana. Namun apa yang tidak ia duga adalah sebuah tubuh tegap yang yang mendorongnya dari belakang, membalik tubuhnya sehingga terlentang pada ranjang di bawah kungkungan pria tinggi itu.
"Y-Yeollie..."
"Katakan padaku apa salahku." Ujar Chanyeol pelan, dengan suaranya yang berat.
"Apa yang Yeollie katakan? Baekkie tidak mengerti." Baekhyun berusaha melepas cengkeraman Chanyeol.
"Katakan padaku, apa aku menyakitimu? Katakan apa yang membuatmu menjauh dariku. Apa aku berbuat kesalahan yang tidak aku sadari?!"
Baekhyun menggeleng. "Yeollie tidak salah..."
"Lalu mengapa...? Mengapa kau menjauhiku?" Tanya Chanyeol tidak mengerti.
"Karena ini semua sudah berakhir, Yeollie. Seperti yang Yeollie bilang, Yeollie hanya membantu untuk melewati masa heat Baekkie. Hanya itu! Jadi behenti membuat Baekkie bingung dan umph-"
Chanyeol membungkam bibir Baekhyun sebelum hybrid itu menyelesaikan kalimatnya. Lelaki yang lebih mungil meronta, mengepalkan tangan mungilnya untuk memukul dada Chanyeol, berusaha menjauhkannya. Namun percuma. Chanyeol terlalu kuat. Atau mungkin, hati kecil Baekhyun juga menginginkan itu semua.
Chanyeol mencium bibir Baekhyun kasar, penuh dominasi, seakan berusaha mengingatkan siapa yang seharusnya memimpin dalam permainan itu. Namun seiring Baekhyun yang kehilangan resistensinya, ciuman itu melembut, berganti dengan pagutan-pagutan seduktif dan lumatan hangat di bibir tipis merona tersebut.
Baekhyun melenguh, terbawa suasana yang sebelumnya sekuat tenaga ia lawan. Dan Chanyeol menggunakan kesempatan itu untuk menyeruakkan lidahnya masuk ke gua bibir Baekhyun yang hangat, mengeksplorasi, membiarkan nafas keduanya beradu satu sama lain.
Baekhyun melenguh, mencengkeram bahu Chanyeol erat. Ia tidak ingin Chanyeol pergi, dan tidak pula Baekhyun ingin melepaskannya.
Tapi ia hanya seorang hybrid. Keberadaannya hanya akan menyakiti Chanyeol. Karena selamanya Baekhyun tidak akan cukup pantas bersanding dengannya.
Dan bagai merasakan sengatan bara api, Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol sekuat mungkin. Dan sebuah tamparan mendarat di pipi pria tinggi itu.
"Stop..." Lirih Baekhyun. "Baekkie mohon, hentikan semua ini, Yeollie..."
'Berhenti membuat ini semua semakin sulit bagi Baekkie melupakan Yeollie...'
"Ini semua tidak benar. Ini sama sekali tidak seharusnya terjadi." Lirih Baekhyun. Namun alih-alih melihat kemarahan, Chanyeol melihat semua itu bagai sebuah rintih kesakitan.
Dan Baekhyun pergi meninggalkannya begitu saja.
Rasa sakit tamparan itu masih begitu terasa di pipi Chanyeol. Namun itu sama sekali bukan apa-apa dibandingkan rasa sakit yang ia rasakan di dadanya.
Ia pergi. Baekhyun sungguh-sungguh pergi.
.
.
.
Satu bulan berlalu sejak kepergian Baekhyun dari rumahnya, dan Chanyeol masih belum bisa menghilangkan sosok si lelaki hybrid dari kepalanya. Pulang ke rumah menjadi hal yang paling Chanyeol benci, karena itu berarti kembali ke tempat dimana hanya sepi dan dingin yang menyapa.
Terkadang, ada saat dimana ia membuka pintu, dan berharap sebuah pelukan hangat dari seorang hybrid mungil kan menyambutnya, mencecarnya dengan rententan cerita kegiatannya seharian, yang mana sedikit melepaskan lelah di pundak sang CEO.
Ia merindukannya. Ia menginginkan Baekhyun untuk kembali di sisinya.
Tapi ia bisa apa. Ia tidak mungkin datang begitu saja menemui Baekhyun, terlebih ketika si hybrid telah mengatakannya dengan cukup jelas. Ia tidak ingin melihat wajah Chanyeol lagi di hadapannya.
Chanyeol memejamkan mata, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi ketika ponsel pribadinya berdering.
Incomming call. Kim Jongdae.
Akhirnya. Setelah sekian lama menunggu kabar, sepertinya ia akan bisa mendengar sesuatu dari seorang Kim Jongdae.
Chanyeol menekan tombol hijau di layar ponsel tanpa perlu menunggu lama.
"Hya, Kim Jongdae. Sesibuk itukah kau dengan penelitianmu hingga jarang sekali menghubungiku?"
Kalimat Chanyeol dijawab Jongdae dengan kekehan. "Begitulah. Aku memang sedang memiliki banyak pekerjaan. Tapi selain itu, aku juga tidak mau mengganggu sahabatku yang sedang super sibuk ini. Kau pikir aku tak tahu dengan project baru yang perusahaanmu lakukan? Kau memenuhi semua halaman utama surat kabar, Chanyeol. Hingga bahkan aku cukup muak tanpa perlu menemuimu secara langsung."
Chanyeol tertawa menjawabnya.
"Hey, Chanyeol. Sebenarnya... aku menelepon untuk menanyakan sesuatu."
Chanyeol tidak melewatkan nada ragu dibalik kalimat Jongdae.
"Ini soal Baekhyun. Ia memutuskan untuk pergi, dan tinggal terpisah dengan keluarga kami."
Butuh waktu beberapa saat bagi Chanyeol untuk mencerna ucapan Jongdae, sebelum menemukan suaranya kembali. "Apa maksudmu?"
"Ia sedikit berubah sejak ia kembali dari kediamanmu. Kami menduga itu ada hubungannya dengan insiden yang berkaitan dengan Jieun saat itu. Ia banyak diam, dan tiba-tiba ia berbicara pada kami saat makan malam beberapa hari lalu. Ia menyampaikan keinginannya untuk menetap di Amerika bersama relatif jauh ayah kandungnya, dan mungkin untuk sementara meneruskan pendidikan di sana."
Chanyeol mengernyitkan dahinya kaget. "M-mengapa? Maksudku, tidakkah itu terlalu tiba-tiba?"
"Ya, kamipun berpikir sama. Tapi Baekhyun tidak pernah sekeras ini dalam meminta sesuatu. Ia begitu yakin seakan telah merencanakan dan memikirkan kepergian ini sejak lama."
Chanyeol menelan ludah. Ini semua karena salahnya, kan? Karena kesalahannya lah Baekhyun memutuskan pergi; iya kan?
"Kapan waktu keberangkatannya?" Tanya Chanyeol.
"Kemungkinan akhir pekan ini. Ia sudah selesai mengurus visa dan surat-surat keberangkatannya beberapa waktu yang lalu."
Chanyeol memejamkan matanya, dan menarik helaan nafas panjang. Seriously, Byun Baekhyun. Apa yang kau lakukan...
"Aku akan berusaha menemuinya, Dae. Mungkin aku bisa mengajaknya bicara. Dan mungkin merubah pikirannya."
"Thank you, Chanyeol."
.
.
.
"Apa Jongdae yang menyuruhmu kemari?" Tanya Baekhyun segera setelah keduanya duduk berhadapan satu sama lain.
Chanyeol tidak menjawabnya.
"Jika Jongdae menyuruhmu untuk membujukku tidak pergi, aku katakan padamu. Itu tidak akan mempan." Ujar Baekhyun keras kepala, merapatkan beanie coklat yang menutup telinga anjingnya.
"Apa yang terjadi dengan nama panggilan Baekkie dan Yeollie?" Tanya Chanyeol alih-alih menanggapi ucapan Baekhyun, tersadar bahwa Baekhyun tak lagi memanggilnya Yeollie serta dirinya sendiri dengan panggilan Baekkie.
"Itu... terlalu kekanak-kanakan." Jawab Baekhyun, menghindar dari tatapan Chanyeol dengan berusaha sok sibuk pada gelas chocolate frappe nya.
Hari itu adalah dua hari sejak Jongdae menghubungi Chanyeol mengenai rencana kepergian Baekhyun. Dan setelah susah payah berusaha membujuk untuk bertemu, pada akhirnya Baekhyun menuruti apa yang pria itu inginkan. Kini keduanya tengah berada di sebuah kafe kecil di sudut kota. Sebuah kafe yang menjual menu sarapan dan kopi yang cukup terkenal. Chanyeol mengingat bagaimana Baekhyun membenci keramaian, dan ia rasa memilih tempat itu di jam makan siang yang sepi bukanlah pilihan yang buruk.
Chanyeol memijat pelipisnya, dan menghela nafas dalam. "Apa keputusanmu untuk pergi ada hubungannya dengan kesalahan yang kuperbuat?" Tanya Chanyeol.
Baekhyun menggeleng. "Ini bukan kesalahanmu. Aku hanya... butuh sedikit ruang dan waktu untuk berpikir."
"Tapi tidakkah ini berlebihan? Amerika? Apa kau serius, Byun Baekhyun?!"
Baekhyun menggeleng lemah, dan kala ia mengangkat pandangannya, tatapannya mengeras oleh rasa yakin yang belum pernah Chanyeol lihat sebelumnya.
"Justru karena itu. Semua orang menganggapku sebagai sosok yang lemah. Semuanya menganggap aku tidak bisa melakukan apapun tanpa bantuan dan perlindungan orang lain. Mengapa? Apa karena aku seorang hybrid? Apakah itu yang membuat kalian melihatku sebagai sosok yang tidak bisa melakukan apapun seorang diri? Yang tidak bisa melakukan apapun tanpa bantuan manusia?!"
Baekhyun nampak ingin menangis, namun Chanyeol tidak bisa menggerakkan tubuhnya untuk memeluk tubuh itu. Ia takut Baekhyun akan salah mengartikan gestur itu sebagai rasa iba padanya. Chanyeol khawatir memeluknya hanya akan semakin menyakiti egonya saat ini. Jadi ia bertahan diam, memandang sepasang mata itu dan berusaha menemukan jawaban untuk ia ucapkan.
"Baiklah." Chanyeol mengangguk, menarik sebuah nafas panjang. "Kau boleh pergi jika memang itu yang kau mau." Chanyeol berujar dingin.
Sesaat keduanya hanya saling bertukar pandang. Seakan ada jutaan hal yang ingin mereka sampaikan satu sama lain, namun tak mampu untuk dilakukan. Tangan Chanyeol terulur ragu, mengusap rambut Baekhyun pelan, sepertihalnya yang ia lakukan pada malam mereka pertama bertemu. Hari dimana Baekhyun merasa sulit tidur oleh suara petir yang menyambar malam itu.
"Jaga dirimu baik-baik. Promise me." Bisik Chanyeol. Untuk yang terakhir kali memberikan sebuah kecupan lembut ke bibir si hybrid. "Good bye, Baek."
Lalu Chanyeol pun bangkit berdiri dari kursinya, meraih jaketnya dan berlalu dari tempat itu tanpa menoleh kembali ke belakang.
Karena ia tak yakin kan mampu melepas Baekhyun jika ia melihat wajahnya lebih lama.
Membiarkan Baekhyun pergi seorang diri mungkin kan memberikan kemungkinan bagi hybrid itu tuk terluka. Tapi paling tidak, itu adalah apa yang Baekhyun inginkan.
Menahan Baekhyun tetap tinggal hanya akan semakin menyakitinya.
Dan oleh karena itulah Chanyeol melepasnya pergi.
.
.
.
"Eomma, apa itu cinta?"
"Cinta adalah ketika Baekkie bukan hanya mengharap sebuah kasih sayang dari seseorang, namun juga bersedia memberikan sesuatu yang sama. Terkadang cinta berbentuk pengorbanan. Terkadang pula cinta berarti melepaskan seseorang untuk pergi."
"Tapi... bukankah itu sesuatu yang menyakitkan? Melepaskan seseorang yang kita sayang?"
"Baekkie akan memahaminya suatu saat nanti, sayang. Suatu hari nanti."
.
.
.
Jika mencintaimu membuatku harus melepas jati diriku sebagai seorang hybrid, maka lebih baik aku melepasmu...
Yeollie, apakah mungkin bagiku mencintaimu dengan jiwa separuh hewan yang aku miliki?
Ataukah ini adalah perasaan yang salah sepertihalnya yang orang lain bilang?
Yeollie, kelak di masa depan, akankah ada waktu dimana aku bisa mencintaimu tanpa perlu mengubah jati diri ini?
.
.
.
- TBC -
.
.
.
About this fic:
Dalam Alternative Universe ff ini, hybrid mengalami siklus heat. Mungkin kalian yang sering baca wolf!au atau ABO universe sudah nggak asing lagi sama istilah ini. Heat yaitu siklus reproduksi dimana hybrid akan merasakan dorongan seksual yang tinggi dan menginginkan untuk mating/berhubungan seks demi menghasilkan keturunan (dalam ABO vers disebut knotting).
Di ff ini aku juga menyebutkan obat suppressant yaitu obat yang memiliki efek untuk menurunkan horman selama heat berlangsung, sehingga dorongan seksual yang hybrid miliki dapat sedikit berkurang.
Aku harap kalian nggak bingung.
.
.
.
Author's note :
Satu chapter lagi sebelum ff ini (kemungkinan) tamat.
Aku nggak tau gimana pendapat kalian soal chapter ini. Walaupun aku penikmat ff rated M, aku sama sekali ga berpengalaman bikin adegan seks ekslisit. Dibandingkan sama ff rated M yang lain, tentu ini berantakan dan ga hot sama sekali, I know. Jadi tolong tinggalkan pendapat kalian.
Ff ini unbetaed, jadi mohon maklum kalo banyak typos ataupun kesalahan struktur kalimat.
Btw, please follow my new IG, (since ig decide to be a bitch and suspended my last acc, idek why). Ini acc IG buat fangirling dan share pemikiran aku soal chanbaek, exo, dan fanfic. Kemungkinan aku bakal share fic rec, prompt, short fic dan imagine juga di sana.
Instagram : mashedpootato11
Untuk sekarang isinya masih kosong, tapi aku bakal mulai aktif posting daily update di sana. Dan juga jangan takut buat dm for some questions, karena sebisa mungkin aku akan selalu jawab pertanyaan-pertanyaan dari kalian.
Please stay healty. See ya!
mashedpootato
