My Little Puppy
A ChanBaek fanfiction story by:
mashedpootato
Cast : Chanyeol, Hybrid!Baekhyun, Kim Jongdae, Zhang Yixing, etc.
Pair : Chanbaek
Genre : Boys Love, fluff, Romance, General
Rate : M
.
.
.
Chapter 6 : My Little Puppy
.
.
.
Warning :
M rated scenes including bareback sex and word of profanities. Feel free to skip that part if you feel uncomfortable.
Enjoy.
.
.
.
.
.
Malam tahun baru itu bersalju. Mungkin karena itulah tak sedikit orang yang memilih menghabiskan malam pergantian tahun dengan berada di rumah, berkumpul bersama teman, keluarga, dan kerabat dengan hidangan istimewa yang tidak bisa dicicipi setiap hari.
Malam itu Chanyeol menghabiskan waktunya di kediaman keluarga Jongdae, bercengkerama satu sama lain bagai bagian dari keluarga yang sesungguhnya.
Keluarga Chanyeol tidak bisa berkumpul malam itu. Kedua orangtuanya beserta Yoora tengah berada di Jeju, menghabiskan tahun baru bersama keluarga besar di private mansion yang mereka miliki. Namun dengan begitu banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan Chanyeol bahkan di musim libur seperti ini, iapun memutuskan untuk tidak bisa turut hadir.
Lagipula, Chanyeol sudah menganggap keluarga Jongdae bagai keluarga keduanya. Belum lagi ditambah dengan suasana rumah yang keluarga itu miliki, yang mana selalu memberi kesan kehangatan tersendiri bagi seorang Park Chanyeol.
Hari itu selepas makan malam, Chanyeol tengah melangkah keluar dari toilet di lantai atas rumah ketika langkahnya seketika terhenti kala menatap sebuah pintu di salah satu sisi koridor.
'Baekhyunie's Room. No Jongdae allows!'
Begitu papan tulisan yang tergantung di pintunya berbunyi.
Chanyeol tersenyum, seketika teringat oleh celotehan Baekhyun mengenai Jongdae yang memiliki kebiasaan memasuki kamarnya tanpa tahu bagaimana cara mengetuk pintu.
Dengan dorongan rasa penasaran yang menghantuinya, Chanyeol meraih kenop pintu, dan membukanya perlahan.
Ruangan kamar itu bernuansa kuning soft dan putih gading. Ukurannya tidak terlalu besar, namun nampak begitu hangat dan tertata rapi.
Ini adalah pertama kalinya Chanyeol memasuki ruang kamar Baekhyun, namun ia tidak bisa mengelak dari rasa nyaman dan rindu yang seketika ia rasakan.
Tiap sudut dan detail ruangan ini begitu mengingatkannya pada sosok Baekhyun, dan itu sedikit banyak membuat hatinya terasa begitu berat. Chanyeol bisa membayangkan bagaimana Baekhyun telah menghabiskan begitu banyak waktuya di ruangan itu; membaca berjudul-judul novel romance cheesy yang ditata rapi di rak tembok, tidur begelung di atas ranjang dan selimut beludru putihnya, menulis bait-bait puisi dan lirik lagu dengan mata berbinar menatap langit dari jendela, serta bergumam lagu favoritnya dengan jemari lentik menari pada tuts keybord di sisi ruangan.
Tiga tahun berlalu sejak Baekhyun pergi, dan Chanyeol tidak menyangka ia masih belum bisa menghapuskan sosok lelaki hybrid bertubuh mungil itu dari pikirannya.
"Chanyeol?" Suara nyaring Nyonya Kim seketika membangunkan Chanyeol dari lamunan, membuatnya menoleh, dan mendapati wanita paruh baya itu berdiri di ambang pintu dengan senyum penuh perhatian.
"Nyonya Kim," sapa Chanyeol kikuk dengan anggukan sopan. "Maafkan kelancangan saya. Saya hanya kebetulan lewat dan-
"It's okay, son. Aku hanya bertanya-tanya apa kau baik-baik saja. Kau menghabiskan waktu cukup lama di toilet, jadi aku bermaksud memastikan apa ada sesuatu yang terjadi. Aku hanya tidak menyangka akan menemukanmu disini. Apa kau sedang memikirkannya?"
Chanyeol sedikit kaget dengan pertanyaan ibu sahabatnya tersebut. "Maksud Anda-
"Baekhyunie. Apa kau sedang memikirkan uri Baekhyunie?"
Chanyeol terdiam sesaat dengan perasaan bingung. Namun ketika matanya menyapu pelan ruangan tersebut, ia pun tersenyum lembut oleh kesadaran dalam dirinya. "Ya, saya merindukannya." Amat sangat merindukannya.
"Kami mengerti perasaanmu, nak. Kami semua merasakan hal yang sama." Nyonya Kim terduduk di atas ranjang, menyapukan jemarinya dengan lembut di permukaannya. "Ia memang seorang anak adopsi, atau seorang anak hybrid lebih tepatnya. Tapi kami seakan bisa merasakan kekuatan istimewa dalam dirinya bahkan sejak pertama kami bertemu. Kekuatan dimana kau hanya perlu waktu sesaat mengenalnya, lalu menemukan dirimu terpesona pada tiap kepribadiaan dan kepolosan yang ia miliki. Dan ketika tersadar, kau kan jatuh hati padanya. Ya, seperti itulah Baekhyunie kami."
Chanyeol memperhatikan tiap kata yang Nyonya Kim ucapkan, dalam hati mengakui bahwa ia merasakan hal yang sama persis seperti apa yang wanita paruh baya itu tuturkan.
Nyonya Kim tersenyum, dan tatapannya penuh dengan kenangan ketika melanjutkan ceritanya.
"Baekhyunie adalah putra kandung sahabat dekat kami. Ayahnya adalah seorang pria yang baik, pekerja keras, dan rendah hati. Jadi ketika ia datang dengan membawa kabar bahwa ia akan menikahi seorang wanita hybrid yang ia cintai, kami tidak perlu berpikir dua kali untuk tahu, wanita itu pastilah begitu istimewa hingga mampu mengambil hati pria sepertinya. Namun kita tidak bisa mengelak pada kenyataan bahwa dunia ini begitu kejam, bukankah begitu?"
Nyonya Kim menghentikan kisahnya sejenak, tersenyum sedih oleh apapun yang ada di pikirannya saat itu.
"Baekhyunie baru menginjak umurnya yang ke enam, ketika ia harus menerima kenyataan bahwa kedua orangtuanya harus pergi meninggalkannya untuk selamanya. Semua yang ia tahu hanyalah kenyataan bahwa kedua orangtuanya saling menyayangi, dan karena itulah keduanya tak ingin terpisahkan bahkan ketika Tuhan memanggil mereka menuju surga. Begitulah yang ia katakan padaku di hari kami memutuskan tuk menjadikannya putra kami," Nyonya Kim tersenyum lembut oleh kenangan hari itu dengan air mata membendung di pelupuk matanya. "Namun saat itu ia hanya belum cukup tahu. Ia belum cukup tahu kebenaran di balik kematian Byun Sanghoon dan Lee Hyesun. Kenyataan yang membuat ia harus kehilangan kedua orangtuanya, kehilangan harta warisan yang seharusnya cukup banyak untuk menghidupi ia seumur hidupnya; kenyataan yang membuatnya harus tinggal di panti asuhan alih-alih mewarisi rumahnya sendiri kala itu. Sanghoon dan Hyesun bukan meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil, melainkan sesuatu yang terencana. Baekhyunie adalah seorang hybrid, namun aku hanya tak mengerti bagian mana yang menjadi kesalahan hingga keluarga Sanghoon tega melakukan ini kepadanya." Kalimat Nyonya Kim melirih, dan air mata menetes pelan dari matanya oleh kenangan yang menyakitkan itu.
Hanya murni rasa sakit yang Chanyeol rasakan kala mendengar semua itu. Semua yang ingin ia lakukan hanyalah memutar balik waktu, dan berada di sana untuk Baekhyun pada masa-masa itu. Memeluknya, dan mengatakan semuanya baik-baik saja. Namun ia tidak akan pernah bisa melakukannya.
"Apakah... Baekhyun kini telah mengetahuinya? Semua kenyataan di balik kematian orangtuanya?" Suara Chanyeol terdengar kering dan kaku.
Nyonya Kim menggeleng. "Keluarga Byun Sanghoon melakukan segala cara untuk menutupi kenyataan itu dari publik. Kami menemukan keberadaan Baekhyun sedikit terlambat. Saat itu ia telah empat bulan tinggal di panti asuhan. Dan menjadi satu-satunya anak hybrid yang ada di tempat itu, ia mendapat cukup banyak perlakuan tak mengenakkan dari lingkungan sosial di sana. Ketika kami menemukannya, dan berkata bahwa kami akan membawanya pulang bersama kami, ia menangis. Aku tahu, membayangkan kemungkinan apa yang akan dilakukan sepasang manusia pada hybrid kecil seperti dirinya tentu amat sangat menakutkan. Namun ketika aku meraih tubuhnya, memeluk tubuh mungil yang rapuh itu dan berkata bahwa ia akan menjadi bagian dari keluarga kami, ia tak bisa melakukan apapun kecuali membalas pelukanku. Ia menangis meraung-raung dalam dekapan dadaku, dan seketika aku tahu seberapa besar rasa rindu yang ia miliki pada kedua orangtuanya. Dan kenyataan bahwa ia memendamnya seorang diri selama itu sungguh menyakiti naluriku sebagai seorang ibu. Kami memutuskan untuk tidak mengatakannya. Kami tidak bisa mengatakan kebenaran mengenai orangtuanya. Tidak ketika itu hanya akan menambah luka pada dirinya. Kami hanya ingin ia berhenti merasa tidak diinginkan. Ia terlalu berharga untuk menganggap dirinya seperti itu."
.
.
.
"Sudah selesai mendengarkan kisah ibuku?" Itu adalah sapaan pertama Jongdae ketika Chanyeol bergabung dengannya di balkon ruang tengah. Sahabatnya itu tengah menumpukan sikunya di pagar pembatas balkon, menghisap sebatang rokok, sementara matanya memandang jauh ke pemandangan kota malam itu.
"Aku kira kau sudah memutuskan berhenti merokok." Komentar Chanyeol, menyandarkan punggungnya pada pagar.
Jongdae tersenyum. "Baekhyun yang memaksaku untuk berhenti. Ia sangat benci dengan asap dan baunya. Tapi ketika ia tidak ada di sini sekarang, secara otomatis aku kehilangan alasan untuk tidak merokok lagi."
"Kau berharap dengan kau merokok Baekhyun akan cepat kembali dan mencegahmu?"
"Mungkin." Jawab Jongdae singkat, dalam hati merindukan rentetan nasehat cerewet yang Baekhyun biasa berikan padanya tiap kali ia tertangkap basah menghisap rokok.
"Kau tahu Chanyeol, seberapapun aku merindukan Baekhyun, aku lebih daripada tahu untuk tidak terlalu berharap. Ia adalah saudaraku, kami tumbuh besar bersama dengan memahami satu sama lain. Ia adalah hybrid keras kepala yang meletakkan keinginannya jauh di bawah keinginan orang lain. Ia tidak pernah benar-benar mengucapkan hal yang ia inginkan; tidak untuk sebuah hal sepele seperti mainan sekalipun. Jadi ketika hari itu ia datang padaku dan berkata dia ingin pergi, aku langsung mengerti ia sungguh serius menginginkannya. Lebih dari apapun."
Chanyeol mendengarkan semua ucapan Jongdae dalam diam dengan sesosok wajah hybrid manis itu di benaknya dan menghela nafas sebelum berbicara. "Mendengar kalian semua menceritakan banyak hal tentangnya sungguh membuatku iri. Kalian tahu begitu banyak tentangnya. Sungguh tidak sebanding dengan diriku yang tak tahu apa-apa."
"Tapi ia sangat menyukaimu, Chanyeol. Lebih daripada yang kau ketahui."
Chanyeol menoleh pada Jongdae, tak mengerti dengan ucapannya.
"Selama satu minggu ia tinggal bersamamu beberapa waktu lalu, ia sungguh tidak memiliki topik obrolan selain 'Yeollie ini, Yeollie itu, Baekkie dan Yeollie', serta hal-hal semacamnya." Ujar Jongdae seraya memutar bola mata. "Ia sungguh pemalu, jadi kenyataan bahwa ia bisa begitu terbuka dengan orang lain di luar keluarganya, terlebih hanya dalam hitungan jam sungguh bukanlah hal yang biasa. Ia tidak akan bisa melakukannya kecuali ia begitu nyaman denganmu," Jongdae menoleh pada Chanyeol. "Atau amat sangat menyukaimu."
Chanyeol memperhatikan seringai penuh arti di wajah Jongdae, namun kemudian lelaki yang lebih tinggi itu mengalihkan wajahnya dengan dengusan tawa.
"Kau pasti bercanda, Dae." Desisnya, dalam hati bersyukur tempat itu cukup gelap sehingga Jongdae tidak bisa melihat telinganya yang seketika memerah.
.
.
.
"Chanyeol, Mr. Wu sudah tiba untuk meeting hari ini." Ujar Yixing, muncul di ruangan Chanyeol setelah sebelumnya mengetuk pintu.
"Aku mengerti. Aku akan segera ke bawah untuk menemuinya. Dan Yixing, tolong periksakan data proyek pembangunan di area Daegu lalu tandai semua file sesuai dengan waktu pelaksanaan rapat kerja. Aku akan lanjut memeriksa dan merevisinya di rumah sore nanti." Ujar Chanyeol menutup file dan berdiri untuk mengenakan jas kerjanya.
"Kau yakin tidak ingin aku saja yang memeriksanya? Tidakkah itu terlalu berlebihan? Kau perlu untuk istirahat, Chanyeol." Yixing menanggapi dengan ekspresi khawatir, berjalan menuju meja Chanyeol untuk meraih berkas-berkas yang bosnya itu maksudkan.
"Oh please, hentikan nasehat cerewetmu itu sebelum aku terlambat meeting siang ini. Lagipula aku mulai bosan dan kebal dengan semua kosakatamu itu. Carilah cara lain yang lebih mempan untuk membujukku." Chanyeol sekilas menepuk bahu Yixing, memberi seringai puas sebelum keluar dari ruangan, yang mana ditanggapi dengan tawa pelan dan gelengan kepala oleh sang asisten.
Chanyeol tidak berbohong. Ia sungguh mulai bosan dengan semua nasehat kesehatan yang diterimanya akhir-akhir ini. Beberapa hari lalu Chanyeol jatuh sakit akibat kelelahan serta jadwal makan yang tidak teratur, dan agaknya itu membuat Yixing semakin gencar membujuknya untuk banyak beristirahat.
Tapi Chanyeol tidak bisa mematuhinya. Terlebih ketika bekerja adalah satu-satunya cara baginya untuk lari dari rasa sepi yang sering kali ia rasakan selama ini.
.
.
.
Chanyeol bukan seseorang yang banyak menghabisakan waktu di luar ruangan. Rutinitas hariannya terdiri dari bangun tidur, berangkat kerja, pulang, istirahat, dan begitu seterusnya. Jadi sore itu, ia sendiri tidak terlalu mengerti mengapa ia dengan tiba-tiba ingin menghabiskan waktu di luar untuk menghirup udara segar.
Ia sengaja pulang kerja lebih awal sore itu, menerima senyuman puas dari sekretarisnya dan mengemudikan mobilnya menuju taman kota.
Jalanan Seoul nampak ramai, mengingat itu adalah jam pulang kerja. Orang-orang memilih menghabiskan waktu dengan orang-orang terdekat; berbelanja, makan di restoran, ataupun sekedar bercengkerama setelah seharian menghabiskan waktu dengan pekerjaan.
Chanyeol memarkir mobilnya satu blok dari lokasi taman berada, memilih untuk berjalan kaki sekaligus menghirup udara segar dan memperhatikan pemandangan sekitar.
Akhir-akhir ini ia semakin sering melihat hybrid muncul di publik. Mereka semakin berani menampakkan telinga hewan mereka dengan gencarnya berbagai demo kesetaraan hak antara manusia dan hybrid akhir-akhir ini. Agaknya begitu banyaknya kasus pelanggaran hak asasi mulai membuat aktivis kemanusiaan geram, dan berani menyuarakan pendapat mereka.
Tatapannya jauh memandang seorang hybrid dan seorang pria yang duduk bersama di tepi air mancur taman, tertawa oleh topik obrolan yang tengah mereka bicarakan. Dalam hati Chanyeol berpikir apa jadinya jika saat itu Baekhyun masih bersama di sisinya. Apakah mereka akan menghabiskan waktu bersama di taman sore itu? Atau malah Chanyeol tidak akan berada di taman sama sekali karena memilih untuk segera pulang dan bertemu dengan Baekhyun?
Tengah sibuk oleh pikirannya sendiri, ia terkaget ketika dengan tiba-tiba seorang bocah laki-laki berlari di dekatnya. Dengan langkah tertatih bocah itu berlari dengan tawa di bibirnya, hingga kemudian terjatuh tak jauh dari tempat Chanyeol berada.
"Hey, kau tak apa, jagoan?" Chanyeol segera bangkit dan berjalan menuju si bocah kecil, berlutut untuk membantunya berdiri.
Bocah mungil itu mendongakkan kepalanya, membuat hoodie jaketnya terjatuh dari puncak kepalanya, menampakkan sepasang telinga anjing corgi di antara rambut coklat gelap yang ia miliki. Chanyeol tertegun, seketika teringat oleh sepasang telinga serupa ketika sebuah langkah cepat terdengar menghampiri mereka.
"Eunsoo!" Sebuah suara terdengar tak jauh dari mereka, membuat bocah itu menoleh pada sumber suara.
Chanyeol melakukan hal yang sama, namun ketika ia melakukannya, seketika darahnya membeku. Dilihatnya seorang lalaki berlari ke arah mereka. Seorang hybrid anjing yang sangat ia kenal, dan tak mungkin pernah ia lupakan seumur hidupnya.
"Oh, my God. Dari mana saja, eum? Bukankah sudah kubilang untuk tidak bermain terlalu jauh?" Lelaki hybrid itu meraih si balita dengan kedua tangannya, membawanya ke dalam gendongan tangan dengan rentetan omelan di bibirnya. "Maafkan kami sudah mengganggu Anda tuan, anak ini memang selalu-
Kalimat itu terhenti begitu saja ketika si hybrid mengangkat kepala dan bertemu pandang dengan pria di hadapannya.
"Chanyeol..." Lirihnya pelan dengan mata melebar kaget.
Byun Baekhyun. Sudah sejak lama mereka tak bertemu dan Chanyeol menyadari bahwa tak banyak hal yang berubah darinya. Tubuhnya yang mungil serta fiturnya yang lembut sama seperti apa yang Chanyeol ingat. Rambutnya berubah menjadi sedikit lebih terang, kini berwarna soft brown yang begitu cocok dengan kulitnya yang masih seputih susu. Ia masih sama mempesonanya dengan sosok hybrid mungil yang ada di kepalanya, jika tidak jauh lebih mempesona. Fitur kedewasaan yang ia miliki kini pun hanya membuat dirinya makin cantik dari sebelumnya.
"Hai," ujar Chanyeol pada akhirnya, tersenyum samar pada Baekhyun.
Hybrid itu nampak tidak nyaman, seakan masih belum sembuh dari rasa kanget oleh semua kebetulan itu.
"H-hai, senang bertemu denganmu, Chanyeol." Ujar Baekhyun setelah beberapa saat merasa bingung dengan apa yang akan ia ucapkan.
"Ya, senang bertemu lagi denganmu." Balas Chanyeol, pandangan tak bisa berhenti melihat bagaimana tangan Baekhyun dengan sayang mengelus punggung bocah hybrid yang ia gendong.
"Aku harus segera pergi, Chanyeol. Um, kurasa... sampai bertemu lagi?" Tanya Baekhyun ragu, mata berbinar yang mana takut telah Chanyeol salah artikan sebagai tatapan penuh harap.
Chanyeol memandang wajah yang amat dirindukannya itu sedikit lebih lama, berusaha menahan ribuan hal yang ia ingin ucapkan saat itu. Namun alih-alih melakukannya, ia hanya mengangguk, mengalihkan pandangannya secepat mungkin.
"Ya, sampai jumpa." Ucapannya, terdengar lebih dingin dari apa yang ia niatkan.
Baekhyun berbalik dan berlalu pergi. Dan dari tempatnya, Chanyeol bisa mendengar suara pelan bocah hybrid di gendongannya bertanya mengenai siapa pria yang mengajaknya bicara tadi. Namun sebelum Chanyeol bisa mendengar jawaban yang diberikan, Baekhyun sudah berjalan terlalu jauh untuk bisa ia menangkap ucapannya.
Malam itu, Chanyeol memutuskan menghubungi Jongdae untuk meminta penjelasan.
"Hai, bung! Lama kau tidak menghubungiku," sapa Jongdae di sambungan telepon, terdengar ceria seperti biasanya.
"Berhenti bersikap seolah kau tidak punya kesalahan apapun, Kim Jongdae. Beraninya kau tidak mengatakan padaku bahwa Baekhyun kembali ke Korea. Seriously, dude?!" Ujar Chanyeol tanpa banyak basa-basi.
"Kau bertemu dengan Baekhyun hari ini? Dimana?" Tanya Jongdae kaget.
Chanyeol mengusap wajahnya kasar dengan helaan nafas. "Di taman kota. Aku hanya bermaksud jalan-jalan dan nyaris terkena serangan jantung ketika tiba-tiba bertemu ia di sana."
Jongdae tertawa mendengar ucapan Chanyeol. "Ya, ia memang pulang seminggu yang lalu. Tapi ia sekarang memilih tinggal di sebuah apartemen di pusat kota karena beberapa urusan pekerjaan. Aku tidak memberitahumu karena kupikir kau sudah mengetahuinya. Apa ia tidak menghubungimu?"
"Nope, tidak sama sekali." Jawab Chanyeol, seketika merasa kecewa.
"Itu aneh. Ia sempat bertanya apakah kau mengganti nomor ponselmu yang lama, dan aku bilang kau tidak mengganti nomormu. Kupikir ia akan menghubungi setelah itu."
Chanyeol menggeleng, tersenyum pahit dan merasa tak mengerti dengan apa yang ada di kepala Baekhyun.
"Aku akan memberimu nomor ponsel dan alamat tempat tinggalnya jika kau mau." Tambah Jongdae ketika ia tahu Chanyeol tidak sempat memintanya kala bertemu dengan Baekhyun sore tadi.
"Um, Jongdae-ya."
"Hm?"
Chanyeol menelan ludahnya ragu. Ia ingin bertanya mengenai kehidupan Baekhyun selama ini. Apa ia sudah memiliki pasangan? Apa bocah hybrid yang ada di taman tadi benar adalah milih Baekhyun?
Chanyeol menggeleng pada dirinya sendiri. Tidak. Bertanya hal semacam itu pada Jongdae hanya akan membuatnya terdengar bodoh dan posesif.
"Nothing. Aku akan menghubungimu lagi lain waktu, ok? Thanks, Dae." Ujar Chanyeol pada akhirnya.
"Anytime, dude." Jawab Jongdae, sebelum sambungan terputus, meninggalkan Chanyeol yang berdiam seorang diri dengan berbagai pikiran di kepalanya.
Chanyeol teringat oleh wajah Baekhyun sore tadi, dan hatinya seketika bagai teremas oleh rasa rindu di dadanya. Ada berbagai hal yang ingin ia ucapkan. Ada banyak hal yang ingin ia lakukan. Ia ingin bertanya bagaimana kabarnya selama ini, dan apakah ia merindukan Chanyeol sebagaimana ia merindukan sang lelaki hybrid. Ia ingin meraihnya, memeluknya dan mengecup wajahnya seperti apa yang ia lakukan padanya bertahun-tahun lalu.
"Kau membuatku gila, Byun Baekhyun... Kau membuatku gila..."
.
.
.
"Aku akan pulang awal sore ini." Ujar Chanyeol di suatu sore ketika ia baru menyelesaikan pertemuannya dengan para petinggi perusahaan.
"What?" Yixing terdengar kaget dengan ucapan tiba-tiba bosnya.
Chanyeol mengangkat alis tak mengerti. "Kenapa? Apa ada yang salah?"
"Tidak. Tidak ada yang salah sama sekali. Aku hanya sedikit kaget kau sering berinisiatif untuk pulang awal akhir-akhir ini."
"Excuse you, Zhang Yixing. Tapi bukankah kau sendiri yang beberapa waktu selalu memintaku untuk pulang lebih awal? Lagipula ini akhir pekan. Kau pun boleh pulang awal jika memang kau mau."
Yixing tertawa lepas ketika mendengar ucapan sahabatnya. "Ya, I know, I know. Aku pun tidak bilang bahwa itu hal buruk, kan? Aku hanya sedikit kaget kau mau melakukannya tanpa perlu aku memaksa-maksamu lagi. Apa yang terjadi? Apa kau sedang berkencan dengan seseorang saat ini?" Tanyanya dengan wajah penasaran.
"Shut up, Xing. Selesaikan saja pekerjaanmu. Aku akan pulang sekarang." Chanyeol memutar bola matanya, berharap telinganya tidak memerah oleh godaan Yixing.
Sang asisten mengangkat alisnya dengan mengedikkan bahu. "Oke."
Jika kalian berpikir Chanyeol akan menghubungi nomor ponsel atau mendatangi rumah Baekhyun, kalian salah kira. Setelah berpikir beberapa waktu, Chanyeol merasa itu bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan. Selain karena ia tak ingin nampak posesif, ia juga tak ingin kehadirannya yang tiba-tiba membuat Baekhyun merasa tak nyaman. Karena itulah, hari ini ia memutuskan untuk kembali mengunjungi taman kota di area sekitar apartemen Baekhyun sepertihalnya yang ia lakukan beberapa waktu lalu. Jika memang Baekhyun bertempat tinggal di area itu, kemungkinan untuk bertemu dengannya tentu tidaklah terlalu kecil.
Chanyeol menunggu di bangku taman yang sama seperti beberapa hari lalu. Menoleh pada tiap hybrid anjing yang ada, atau pada lelaki dengan warna rambut yang serupa seperti Baekhyun. Tapi pada nyatanya, sosok yang ditunggu-tunggu tidak juga muncul.
Hari semakin gelap, dan ia mulai merasakan ujung-ujung jarinya seakan membeku ketika ia memutuskan untuk menyudahi usahanya hari ini. Mungkin ia bisa kembali ke tempat yang sama besok, atau mungkin menghabiskan waktu di area sekitar rumah Baekhyun sambil berharap lelaki hybrid itu 'tanpa sengaja' akan bertemu dengannya.
Chanyeol tersenyum getir. Berjalan keluar gerbang taman dengan menggosokkan kedua tangannya. Ia baru hendak berjalan menuju area dimana mobilnya terparkir ketika seseorang dari persimpangan trotoar jalan tanpa sengaja menabraknya, membuat ia jatuh terjerembab ke belakang.
"Oh, shit..." Lirih Chanyeol menumpu tubuhnya yang terjatuh pada siku dan lengannya, dengan tubuh seseorang yang menabrak berada di atas tubuhnya.
"Astaga, maafkan saya!" Pekik lelaki yang segera menjauhkan dari atas tubuh Chanyeol, membuat Chanyeol seketika membeku oleh suara yang sangat ia kenal itu.
Apakah mungkin takdir bisa sekebetulan ini?
"Anda baik-baik saja? Maafkan saya. Saya terburu-buru karena udara dingin dan tidak melihat ada orang dari arah belokan, dan-
Kalimat Baekhyun seketika terhenti ketika ia mengangkat kepalanya, dan menemukan wajah Chanyeol di hadapannya; memandang dengan tatapan yang sama kagetnya.
Bibir lelaki hybrid itu sedikit terbuka, seketika kehilangan semua kata-kata.
"Kau tak apa?" Tanya Chanyeol terlebih dahulu, bangkit berdiri, dan mengulurkan kedua tangan untuk membantu si hybrid untuk berdiri.
Baekhyun mengangguk dan meraih kedua tangan itu dengan kepala tertunduk, seketika merasa bodoh oleh kecerobohan yang ia lakukan. Dan lebih daripada itu, ia melakukan semuanya di hadapan Park Chanyeol. Sungguh, takdir pasti sedang bercanda dengannya saat ini.
"Eum, m-maafkan aku, Chanyeol. Aku sungguh-sungguh tidak melihatmu dari arah berlawanan." Lirih Baekhyun dengan suara pelan. Kepalanya tertunduk, dan dalam hati Chanyeol ingin meraih wajah itu, meminta ia untuk memandangnya.
"It's okay. Cuaca memang sangat dingin malam ini. Sudah seharusnya kau berjalan tergesa untuk pulang. Lagipula kau tidak seharusnya hanya mengenakan sweater untuk keluar rumah di cuaca sedingin ini." Komentar Chanyeol dengan sedikit nada perhatian dan khawatir di ucapannya.
Baekhyun mengangguk, namun alih alih segera pulang, ia tetap tertunduk di tempatnya berdiri. Keduanya ragu untuk pergi, namun juga tak tahu apa yang harus diucapkan untuk membuat satu sama lain tetap tinggal.
"Baek-
"Kau terluka."
"A-apa?" Tanya Chanyeol bingung.
Baekhyun mengangkat wajahnya, dengan ragu menunjuk telapak tangan Chanyeol.
Lelaki yang lebih tinggi memperhatikan apa yang ditunjukkan Baekhyun, dan ketika itulah ia baru tersadar oleh luka di sisi telapak tangannya. Itu adalah luka goresan pada trotoar akibat terjatuh tadi, yang mana kini mulai semakin banyak mengeluarkan darah.
"Ah, ya. Ini hanya luka gores-
"Jangan diusap!" Baekhyun menghentikan tangan lain Chanyeol yang hendak menyeka luka tersebut. "Kau hanya akan membuatnya semakin kotor. Kau harus segera membersihkannya."
"A-ah, baiklah. Aku akan segera melakukannya." Jawab Chanyeol, sedikit kaget dengan ucapan spontan Baekhyun.
"Apa kau mau aku membersihkannya?" tanya Baekhyun ragu, nampak malu ketika Chanyeol tak bisa menyembunyikan ekspresi kekagetannya kala mendengar pertanyaan itu. "M-maksudku, apartemen tempatku tinggal tidak terlalu jauh dari sini, dan lukamu harus dibersihkan sesegera mungkin. T-tapi, aku tidak memaksa, aku hanya-
"Baiklah." Chanyeol memotong ucapan Baekhyun, berusaha sebaik mungkin menahan senyuman kala melihat ekspresi malu hybrid mungil di hadapannya.
.
.
.
Chanyeol berdiri di ruang tengah, memandang tiap sudut apartemen Baekhyun yang mampu terjangkau pandangannya. Apartemen itu tidak terlalu besar, namun tertata rapi dan entah mengapa terasa begitu sesuai dengan karakter yang Baekhyun miliki. Setiap detail yang ada; furniture, perkakas, serta detail kecil hiasan, semuanya seakan meneriakkan karakter lelaki hybrid yang ia kenal itu.
"Duduklah di sini, aku akan mengobati lukamu." Ujar Baekhyun sebelum dirinya menghilang ke kamar mandi untuk mengambil obat penyembuh luka.
Chanyeol terduduk di salah satu kursi tinggi meja counter dapur, dan tanpa menunggu lama Baekhyun sudah kembali dengan sebuah kotak P3K kecil di tangannya.
"Ini akan sedikit perih, tahan sebentar, oke?" Lirih Baekhyun seraya mengambil posisi berdiri di sebelahnya, dan mulai mengusapkan kapas beralkohol dengan hati-hati.
Selama hybrid itu melakukannya, Chanyeol menggunakan kesempatan itu untuk memperhatikan wajah Baekhyun dari jarak dekat. Hanya Tuhan yang tahu seberapa besar Chanyeol ingin merengkuh wajah itu, meraih bibirnya dan memberikan sebuah pagutan lembut nan dalam di sana.
"Apa sakit?" Tanya Baekhyun khawatir ketika Chanyeol dengan reflek mendesis oleh rasa perih yang menyengat.
Chanyeol menggeleng, tapi Baekhyun tak bisa melepaskan ekspresi kekhawatirannya. Ia meniup luka Chanyeol pelan, berharap akan membuatnya merasa lebih baik.
Tidak tahan oleh kesunyian yang canggung di antara mereka, Chanyeol pun memutuskan untuk kembali melihat sekelilingnya. Memperhatikan koleksi novel klasik Jane Austen dan Anne Bronte di atas rak, serta mainan puzzle anak di karpet depan televisi. Chanyeol bertanya-tanya apakah mainan itu milik bocah hybrid yang beberapa waktu lalu ia temui bersama Baekhyun. Namun kemudian pikiran Chanyeol terhenti ketika tatapannya menangkap sesuatu yang menarik di atas meja ruang tengah.
Sebuah majalah fashion dengan Chanyeol sebagai model cover nampak tergeletak di atas meja. Chanyeol ingat bagaimana ia menerima tawaran pemotretan itu, menjadikannya issue utama dalam majalah sebagai seorang pengusaha muda sukses dengan paras dan fashion style yang sangat digandrungi akhir-akhir ini. Dan Baekhyun memiliki salah satu copy majalahnya.
Menyadari senyuman kecil di bibir Chanyeol, Baekhyun mengerutkan dahi penasaran. "Apa yang membuatmu tersenyum? Kau bertingkah aneh sedari tadi."
"Kau membaca Vogue." Jawab Chanyeol singkat, memberikan sebuah senyum arogan yang menggoda ke arah Baekhyun.
Lelaki hybrid itu sontak mengikuti arah pandangnya, seketika merona merah melihat objek yang dimaksudkan Chanyeol.
"Y-ya, mereka mempunyai kolom artikel fashion yang cukup bagus." Pipinya semakin memerah, dengan gugup berusaha memberi alasan yang tak akan membuatnya semakin malu.
"Apa kau membaca issue utama majalah musim ini?" Tanya Chanyeol dengan tatapan menggoda.
Baekhyun menelan ludah, berusaha memfokuskan diri membebat luka di tangan Chanyeol. "Entahlah. Aku tidak yakin sudah membaca semua isinya."
Merasa perlu untuk segera menyudahi percakapan memalukan itu, Baekhyun dengan terburu-buru membebat luka yang ada. Namun ketika ia telah selesai membereskan semua dan bermaksud menjauh sesegera mungkin, Chanyeol menghentikannya.
Chanyeol tidak tahu dorongan adrenalin macam apa yang mendorong dirinya, namun ia menemukan dirinya mengulurkan tangan dan merengkuh wajah mungil di hadapannya.
"Kau tahu, aku juga melihatmu dalam kolom artikel majalah beberapa waktu lalu." Ujar Chanyeol lembut tanpa melepaskan rengkuhannya di wajah si hybrid. "Byun Baekhyun, seorang hybrid pertama yang terpilih menjadi salah satu pembicara pada seminar kemanusiaan PBB. Seorang hybrid yang telah berhasil menjadi aktifis kemanusiaan yang cukup berpengaruh, dengan berbagai tulisannya yang menarik banyak perhatian publik mengenai kesetaraan hak di Amerika. Kau tak tahu seberapa bangganya aku padamu, Byun Baekhyun." Chanyeol berujar lembut, dan Baekhyun menemukan dirinya jatuh pada tatapan hangat yang pria itu berikan.
Baekhyun tertunduk malu, dengan susah payah menyembunyikan pandangannya. "A-aku tidaklah sehebat itu. Aku bertemu dan bekerjasama dengan orang-orang hebat di sana. Dan itu amat sangat membantuku."
"Tetap saja, itu semua sangat membanggakan." Ujar Chanyeol menanggapi, mengusap rambut Baekhyun dengan senyuman bangga.
"Bagaimana denganmu? Salah satu CEO perusahaan termuda dan terkaya di Korea Selatan, dan 'pemikat hati semua pria dan wanita'; apa title itu tidak perlu dibanggakan?" Tanya Baekhyun tak mau kalah, mereferensikan ucapannya pada salah satu kutipan pada majalah Vogue musim ini.
Chanyeol tertawa lepas, menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya. "Jadi kau benar-benar membaca majalah itu, hm?" Goda Chanyeol.
Baekhyun mencebikkan bibirnya, pipi merona merah bagaikan buah cherry. "Tentu saja. Aku sudah terlanjur mengeluarkan uang untuk membelinya." Gumam si hybrid, kembali mencari alasan.
Chanyeol tersenyum oleh pemandangan manis itu, dan dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya.
"Aku sangat merindukanmu, Baek." Bisiknya pelan seraya satu tangannya terulur untuk mengusap pipi Baekhyun yang terasa begitu lembut. "Amat sangat merindukanmu."
Baekhyun mengerjapkan mata, nafas tercekat oleh luapan kehangatan yang seketika merasuki dadanya. Seakan jutaan perasaan yang telah susah payah ia pendam selama ini meluap begitu saja, mengisi hatinya yang selama ini terasa kosong.
Chanyeol semakin mendekatkan wajahnya, dan ketika ia melihat sepasang mata Baekhyun terpejam dengan penuh antisipasi, ia pun mengecup pelan bibir tipis itu. Membiarkan dirinya teringat kembali oleh betapa manis dan menggairahkannya bibir tersebut.
Baekhyun tersengal oleh sebuah ciuman lembut yang polos, membuka mata untuk menemukan tatapan Chanyeol yang nampak memujanya.
"Kau... masih single?" Tanya Baekhyun, lirih dan tiba-tiba.
Chanyeol memandangnya tak mengerti.
"Di majalah itu. Kau mengatakan bahwa kau masih single dan masih belum menginginkan suatu hubungan untuk saat ini. Apa itu benar? Mengapa?" Tanya Baekhyun, meletakkan kedua tangannya di dada Chanyeol dengan tatapan ingin tahu.
Chanyeol tersenyum tipis. "Karena seorang hybrid anjing telah pergi meninggalkanku, dan aku tidak tahu kapan ia akan kembali untuk memberikan hatinya sebagai pengganti hatiku yang telah ia bawa bersamanya." Bisik Chanyeol, tersenyum, dan menyandarkan dahinya pada dahi si hybrid.
Baekhyun tertawa lembut, merasa malu sekaligus senang dengan jawaban cheesy yang pria di hadapannya berikan.
"Bagaimana dengan dirimu, Baek? Apa kau masih single? Tanya Chanyeol tak lama setelahnya.
Baekhyun menaikkan alisnya, tak percaya dengan pertanyaan yang baru saja ia dengar. "Dear, God. Apa kau sungguh bertanya pertanyaan semacam itu padaku?"
Chanyeol mengedikkan bahu. "Entahlah. Sangat mungkin untuk seorang hybrid manis sepertimu mendapatkan godaan dari sana-sini. Dan sejujurnya, Byun Baekhyun, aku sungguh berpikir bahwa anak laki-laki yang ada di taman bersamamu beberapa waktu lalu adalah milikmu. Kau tahu, aku akan mundur jika kau lebih memilih suami atau istrimu, tapi jika kau mengijinkan, aku dengan senang hati akan berusaha merebutmu darinya, karena sungguh, aku-
"Park Chanyeol!" Teriak Baekhyun, seketika menghentikan rentetan kereta kalimat sang CEO. Baekhyun menyandarkan tubuhnya pada Chanyeol tanpa mampu menghentikan tawa terbahak dari dirinya. Baekhyun mengusap air di pelupuk matanya, menyelesaikan tawanya sebelum berbicara.
"Baiklah, Park Chanyeol. Yang pertama, ya, aku masih single. Dan yang kedua, apa kau bercanda, Yeol?" Tawa Baekhyun kembali pecah, dan Chanyeol memandangnya bingung. "Tidak, tidak. Bocah itu bukan anakku. Ia adalah putra salah satu kenalanku di kedutaan, dan aku sering membantu ia menjaganya selama ia sibuk. Oh God, apa kau sungguh berpikir ia anakku? Aku pergi selama tiga tahun, dan kau sungguh mengira aku akan pulang dengan seorang anak yang sudah sebesar itu?" Baekhyun kembali tertawa.
"Hya, berhenti tertawa! Kau menjatuhkan harga diriku!" Ujar Chanyeol, membiarkan Baekhyun bersandar padanya, dalam hati tersenyum puas oleh kenyataan bahwa dugaannya tidaklah benar.
"Kau tahu, aku bahkan tidak 'melalukannya' dengan siapapun selama aku di Amerika." Baekhyun mengaku malu-malu setelahnya, dan Chanyeol mengangkat tubuh ringan si hybrid untuk duduk di pangkuannya.
"Sungguh? Lalu... bagaimana dengan siklus heatmu?"
"Aku kembali menggunakan sex toy dan barang-barang lainnya. Lagipula, kerabat tempatku tinggal adalah sebuah keluarga hybrid yang cukup berada dan berpendidikan. Aku menerima banyak pengetahuan tentang hybrid yang ibu asuhku ajarkan padaku di sana." Ujar Baekhyun dengan nada bangga seraya tangannya bermain-main dengan kerah v neck yang Chanyeol kenakan.
"Jadi yang kau lakukan bersamaku adalah satu-satunya pengalaman kau melakukannya dengan seseorang?" Chanyeol meraih dagu Baekhyun lembut dan memberikan tatapan penuh harap.
"Ya, begitulah." Bisik Baekhyun, memandang wajah Chanyeol yang semakin dekat menginfasi area pribadinya.
Tatapan mereka bertemu, dan dengan lembut Chanyeol menelusurkan ibu jarinya pada bibir tipis yang Baekhyun miliki.
"Aku ingin menciummu." Bisik Chanyeol, dan Baekhyun membalasnya dengan anggukan pelan, memejamkan matanya dengan pasrah sebelum Chanyeol memberikan sebuah kecupan dalam di bibirnya.
.
.
.
Keduanya tidak terlalu ingat dengan apa yang terjadi, namun tiap sentuhan dan kecupan polos itu kini berakhir dengan Baekhyun yang terbaring di atas meja counter dapur, terlentang dengan Chanyeol yang mengungkung tubuhnya yang sudah polos tanpa balutan sehelaipun kain.
"Ahhhh, there... Chanyeol..." Lenguh Baekhyun ketika Chanyeol memasukkan jari ketiga ke dalam lubangnya.
Chanyeol menyeringai, memberikan stimulus yang bertubi-tubi dengan melonggarkan lubang Baekhyun, sekaligus mencari titik kenikmatan yang hybrid itu miliki.
"AHHHHH!" Seketika Baekhyun menjerit nikmat, dan Chanyeol lebih dari pada tahu untuk menargetkan titik tersebut lagi dan lagi, membuat tubuh telanjang Baekhyun menggelinjang dengan kuat.
"Aku akan memasukkannya, Baek." Bisik Chanyeol, memberikan kecupan di bibir Baekhyun sebelum memasukkan kejantanannya yang sudah begitu besar dan mengeras, nampak memerah dengan precum serta urat-urat yang nampak jelas di sekelilingnya.
"Ahhh... Chanyeol.. Lebih dalam... Eunghh!" Baekhyun menggeliat nikmat, merasakan bagaimana lubangnya melebar kala penis Chanyeol perlahan memenuhinya.
"Chanyeol..." Rintihnya kala sang dominan mulai menggerakkan panggulnya.
"Kau tidak memanggilku dengan panggilan Yeollie lagi Baek," Chanyeol menyeringai, menggerakkan panggulnya lebih tajam dan dalam. Tubuh Baekhyun menggelinjang oleh rasa nikmat yang menyergapnya bertubi-tubi. Melenguh dan mendesah nikmat oleh tiap tusukan dalam yang Chanyeol berikan.
Baekhyun menggeleng. "Itu... Ahhh! Sudah kubilang itu kekanak-kanakan, eungh!"
Chanyeol tersenyum, mencium wajah di bawah tubuhnya tersebut. "Tapi aku menyukainya. Call me, Baek."
"Yeollie—akhh!"
Chanyeol menyodok lubangnya begitu dalam, tepat mengenai titik kenikmatan Baekhyun.
"Yeol... ahhh I'm comming! Ahhh please—let me cum, Chanyeol." Baekhyun berusaha meraih penisnya yang memerah dan basah oleh precum. Tapi Chanyeol lebih dulu meraih tangan tersebut, dan kembali menguncinya di kedua sisi kepalanya.
"Then cum, baby. Keluarkan semuanya hanya dari kenikmatan yang aku berikan pada lubangmu." Ujar Chanyeol dengan suara beratnya.
Lelaki itu kemudian memberi sodokan bertubi-tubi pada prostat Baekhyun, mengerang nikmat oleh sensasi remasan yang dinding ketat Baekhyun berikan. Baekhyun menggelinjang, menjerit dan mendesah oleh stimulus yang begitu tak tertahankan.
"More...Yeollie... I'm comming - eunghh! Yeol... eunghhh AHHHHHHH!" Baekhyun menggelinjang kuat, orgasme dengan menyemburkan cairan sperma dari penisnya. "Ahhh... eungh..."
Chanyeol merasakan dinding rektum Baekhyun yang meremas-remas penisnya. Beberapa kali sodokan, dan iapun juga mencapai orgasmenya. Mengerang, seraya mengeluarkan spermanya di lubang Baekhyun.
"Fuck, Baek.. Argh..." Geram Chanyeol, terus menggerakkan paggulnya hingga ia mengeluarkan semua cairannya.
Setelah selesai, Chanyeol tersenyum pada wajah lelah Baekhyun, menyingkirkan anak rambutnya yang jatuh menutupi dahinya. Baekhyun membuka matanya pelan, dan Chanyeol menghadiahinya dengan sebuah kecupan lembut nan singkat di bibir.
"Haruskah kita melanjutkannya di kamar? Aku khawatir punggungmu akan sakit jika kita terus melakukannya di sini." Chanyeol terus-menerus mengecup pelan wajah merona Baekhyun, dan hybrid itu mengangguk malu.
"Ngomong-ngomong, Baek, kapan jadwal heat-mu yang selanjutnya?" Tanya Chanyeol seraya membaringkan tubuh mungil si hybrid di atas ranjang.
"Sekitar tiga hingga empat hari lagi. Kenapa?"
Chanyeol tersenyum, berbaring di sisi kosong sebelahnya dan menyusupkan wajah ke ceruk leher Baekhyun. "Aku hanya bertanya-tanya kapan aku harus menyiapkan tenaga ekstra untuk melakukan maraton seks denganmu. Ingat untuk tidak meminum obat suppressant, Baek. Ada aku yang siap memenuhi hasratmu siang dan malam. Dan siapa yang tahu, mungkin aku akan bisa membuatmu hamil kali ini."
"Hya!" Baekhyun memukul lengan Chanyeol pelan, menyembunyikan wajah memerahnya ke dalam dekapan dada Chanyeol.
Malam itu, ketika keduanya telah terbaring, tubuh polos memeluk satu sama lain di bawah selimut hangat, Chanyeol memutuskan untuk bertanya mengenai hal yang menghantui pikirannya selama ini.
"Baekhyun-ah. Sebenarnya... mengapa dulu kau meninggalkanku?" Tanya Chanyeol ketika keduanya telah berbaring di atas ranjang. Tangan terulur untuk menyingkirkan anak rambut yang menutupi kedua mata Baekhyun.
Baekhyun menyandarkan wajahnya pada sentuhan lembut itu, menikmati momen yang sudah begitu lama ia rindukan.
"Baekkie memikirkan banyak hal..." Lirihnya dengan mata terpejam. "Tentang hidupku, tentang orang-orang yang aku sayangi; keluarga kandungku, keluarga Kim, dan dirimu." Baekhyun membuka perlahan kedua matanya, memandang Chanyeol dan memberikan sentuhan-sentuhan kecil nan lembut di wajah pria tersebut.
"Keluarga Kim mungkin tidak tahu ini, tapi pada nyatanya aku mengetahui fakta di balik kematian orangtuaku. Aku tahu mereka bukan meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil, melainkan oleh sebuah percobaan pembunuhan yang keluarga ayahku rencanakan. Mereka berencana menyingkirkan ibuku, namun ayahku ada di sana dan memilih mati bersamanya." Baekhyun menggigit bibir bawahnya dalam-dalam, seakan menahan rasa sakit kala mengucapkan itu semua. "Aku... Aku hanya berpikir, bagaimana mungkin seserang bisa berbuat sejauh itu hanya untuk memisahkan sepasang insan yang jatuh cinta? Ibuku memang bukan manusia, ia adalah seorang hybrid. Namun itu tidak mengubah fakta bahwa ia amat mencintai ayahku. Namun bagi beberapa orang, itu adalah hal yang salah untuk terjadi." Ujar Baekhyun lirih, bibir tergetar oleh kata yang terucap olehnya. Chanyeol menarik nafas dalam, meraihnya dalam pelukan ketika ia tak sanggup berkata apapun.
"Malam itu, di hari terakhir aku bermalam di rumah Yeollie, aku memikirkan banyak hal. Aku memikirkan perasaan yang perlahan tumbuh dalam diriku, dan seketika aku merasa takut. Aku merasa takut mencintai Yeollie adalah sesuatu yang salah." Bisik Baekhyun di dalam dekapannya.
"Apa yang kau katakan, Baek. Tidak ada yang salah dengan mencintai seseorang, kau tahu itu." Chanyeol sedikit menjauhkan Baekhyun dari pelukannya, memberikan sedikit ruang untuk mereka memandang wajah satu sama lain.
"I know. Tapi ada beberapa hal yang membuatku tak bisa berhenti berpikir." Baekhyun membelai lembut wajah Chanyeol, memberi tatapan yang ia harap kan membuat pria di hadapannya mengerti.
"Ibuku adalah seorang pekerja rendahan, dan ayahku adalah seorang pengusaha yang cukup sukses kala keduanya menikah. Dan ketika aku sadar telah jatuh cinta pada Yeollie, satu-satunya hal yang aku takutkan adalah apa yang terjadi pada kedua orangtuaku akan terjadi pula padaku dan pasangan hidupku. Aku ketakutan oleh kemungkinan bahwa orang-orang akan berusaha menghancurkan perasaan yang aku miliki, dan berusaha menjauhkanku dari orang yang kusayangi. Karena itulah aku ingin memiliki sesuatu yang cukup untuk bisa kuperlihatkan pada dunia bahwa aku cukup layak mencintai seseorang sepertimu. Sesuatu yang sederhana, contohnya yaitu keberhasilanku mencapai mimpi. Hingga kelak, aku ingin orang akan melihatku bukan karena telinga anjing mencolok yang kumiliki, namun melihat pada prestasi apa yang sudah bisa aku raih hingga membuatku cukup layak untuk memilikimu."
Chanyeol menghela nafas dalam, membiarkan jemari lentik Baekhyun terus menelusuri wajahnya dengan mata terpejam.
"Kau berhasil melakukannya, Baek. Kau berhasil meraih posisi yang orang-orang kira tak mungkin seorang hybrid sanggup miliki." Chanyeol berujar tulus.
"Ya, dan aku bersyukur pada semua itu. Dan Yeollie, kau tak tahu seberapa bahagianya aku kala pulang dan menemukan fakta dari majalah itu bahwa kau belum memiliki siapapun saat ini." Ujar Baekhyun dengan pout mungil di bibirnya, menundukkan pandangannya dari tatapan intens yang Chanyeol berikan.
Sang CEO muda tertawa pelan. "Siapa bilang aku belum menemukan siapapun, hm?"
"Eh?" Baekhyun mengangkat wajahnya kaget, seketika membuat Chanyeol tersenyum.
"Kau." Chanyeol mengecup bibir tipis merona itu. "Kau telah lama berada di hatiku, Byun Baekhyun. Melihatmu seperti ini membuatku bangga, tapi rasa cinta ini sudah terlanjur ada sejak lama. Dan tidak akan mudah bagi seseorang yang lain tuk menggantikanmu."
.
.
.
Perasaan Baekhyun sangat tidak menentu. Gelisah, gugup, dan ragu bercampur menjadi satu di dalam hatinya. Berkali-kali tatapannya teralih pada langit berawan gelap, dan dalam hati ia bertanya-tanya apakah hujan akan turun hari itu.
"Hey." Sapaan Chanyeol membangungkan Baekhyun dari lamunan, dan ia menoleh untuk mendapatkan sebuah kecupan lembut di bibirnya. "Kau baik-baik saja?" Tanya Chanyeol dengan kekhawatiran yang nampak terdengar jelas di suaranya.
Baekhyun tersenyum, berbalik untuk menyandarkan kepalanya pada dada bidang pria tersebut.
"Ya. Baekkie hanya... sedikit gugup. Tapi semuanya baik-baik saja. Yeollie ada di sini bersamaku."
"Kau tahu, kau bisa menundanya dan kita bisa kembali kapanpun saat kau siap, Baek. Kau tidak perlu memaksakan diri." Ujar Chanyeol lembut dengan tatapan khawatir.
Baekhyun menggeleng, menarik nafas melalui hidungnya, menghirup aroma samar mint dan musky Chanyeol dengan mata terpejam. Sebuah aroma yang selalu bisa menenangkannya. Aroma yang mengingatkannya bahwa ia tidak sendirian.
"It's okay. Lagipula... sudah lama Baekkie tidak datang berkunjung. Baekkie merindukan mereka. Sangat."
Chanyeol mengecup lembut puncak kepalanya, memberikan genggaman erat pada jemari Baekhyun. Dan ketika Baekhyun mengangkat kepalanya, ia menemukan pria itu tersenyum lembut, seakan memberikan kepastian bahwa ia tidak akan pergi selamanya.
Tangan mereka bertautan kala berjalan pelan menyusuri perbukitan tenang pemakaman, dengan sebuket Wild Lilly dan Daisy erat di dekapan Baekhyun.
Keduanya berhenti di depan pusara makam dengan nama yang tak asing; membungkuk dan memberikan salam penghormatan.
Sudah bertahun-tahun lamanya Baekhyun tidak mengunjungi tempat ini, dan ada rasa sakit yang terasa dari luka yang belum sembuh di hatinya kala melihat nama kedua orangtuanya di sana.
"Eomma, Appa, ini aku; Baekhyunie." Bisiknya lembut, bibir bergetar di tiap suku kata yang terucap. Chanyeol menggenggam erat tangannya, dan Baekhyun menarik nafas dalam sebelum kembali menemukan suaranya.
"Sudah lama sejak Baekkie kemari, iya kan?" Kenang Baekhyun dengan tersenyum sedih. "Maaf karena membutuhkan waktu yang lama bagi Baekkie untuk mengunjungi Appa dan Eomma. Baekkie harap, itu semua tidak membuat kalian berdua kecewa."
Baekhyun kembali menarik nafas panjang, dan memasang sebuah senyuman di bibirnya.
"Appa, Eomma, Baekkie menjalani hidup dengan sangat baik. Kalian pasti sulit percaya, namun putra kecil kalian yang nakal ini telah berhasil mencapai beberapa mimpinya. Baekkie bertemu banyak orang baik, orang-orang yang menjadi alasan Baekkie tetap kuat hingga saat ini. Dan kalian harus tahu, bahwa Baekkie akan selalu berdoa untuk kebaikan kalian di atas sana."
Baekhyun menggigit bibir bawahnya, berusaha memasangkan sebuah senyuman meski dengan lelehan air mata di pipinya.
"Appa! Eomma! Kalian lihat pria yang disebelahku ini?" Ujar Baekhyun keras, mengangkat kepalanya dan memandang Chanyeol seakan sedang memamerkannya di hadapan kedua orantuanya. "Ini adalah Chanyeolie. Ia... Ia adalah seseorang yang sangat berarti bagi Baekkie..."
Chanyeol merasakan genggaman jemari lentik di tangannya mengerat, dan ia menemukan dirinya membalas senyum Baekhyun dengan lembut. Ia memejamkan mata, membungkuk dalam-dalam pada pusara makam di hadapannya.
"Senang bertemu Anda; Aboji, Eommoni." Lirih Chanyeol khidmad, selayaknya kedua sosok itu tengah berdiri di hadapan mereka saat itu.
"Seperti yang Anda ketahui, saya sangat mencintai putra Anda, Byun Baekhyun. Jadi ijinkan saya mendapatkan restu untuk bersamanya, menjaganya, dan melindunginya." Ujar Chanyeol dengan kepala tertunduk sopan. Ia bisa mendengar isakan samar oleh lelaki hybrid di sebelahnya, dan Chanyeol secara insting menggenggam tangannya semakin erat.
"Ia adalah lelaki yang baik." Lirih Chanyeol dengan senyuman di bibirnya. "Sedikit cengeng dan kekanakan, namun amat sangat baik dan sempurna, hingga saya berharap selamanya ia tak kan pernah berubah. Ia adalah seorang hybrid, namun ia memperlakukan saya sebagai seorang manusia lebih daripada siapun yang saya kenal dalam hidup ini. Dengan kepolosannya ia memberikan saya perhatian, senyuman, dan kehangatan yang tidak pernah saya ketahui ada di dunia. Ia adalah sosok yang istimewa, dan ia membuat saya merasakan hal yang sama." Chanyeol mengangkat kepalanya, membuka matanya untuk melihat Baekhyun menangis di sisinya, hidung memerah dengan air mata yang tak berhenti mengalir di pipinya. Dan Chanyeol bertanya-tanya bagaimana mungkin tangisan tak bisa menghapuskan kecantikan dari paras hybrid mungil di sisinya.
"Aboji, Eommoni, terimakasih banyak." Ujar Chanyeol, menghadap kembali ke depan dengan sebuah senyuman tulus. "Terimakasih karena telah melahirkan, dan membesarkan Baekhyunie di dunia ini. Terimakasih karena telah mewariskan jiwa yang begitu suci, kepribadian yang begitu mulia, dan paras yang begitu mempersona kepadanya. Terimakasih karena telah membiarkannya hadir dalam hidup saya, karena saya percaya semua ini semua adalah hadiah Aboji dan Eommoni yang diberikan kepada kami. Mulai saat ini, mohon biarkan saya ikut melindungi Baekhyunie di sisinya. Menjaganya, melindunginya, dan memastikan ia menghadapi harinya dengan senyum kebahagiaan. Dengan segala hormat, saya mohon restu dan ijin Aboji dan Eommoni. Doa saya akan selalu menyertai anda berdua." Chanyeol menunduk dalam, memohon. Untuk terakhir kalinya memberikan penghormatan dengan bersujud, dan kembali bangkit berdiri beberapa saat setelahnya.
Baekhyun memandangnya dengan sepasang matanya yang memerah oleh tangis, dan Chanyeol tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak tersenyum pada pemandangan mempesona di hadapannya itu. Tangannya terulur untuk menghapus bekas air mata yang ada, lalu memberikan sebuah kecupan lembut di dahi sang hybrid.
Chanyeol dan Baekhyun berdoa untuk yang terakhir kalinya, meletakkan rangkaian bunga, dan memberikan salam perpisahan terakhir sebelum pergi.
Keduanya berjalan dalam diam, namun genggaman tangan mereka satu sama lain berbicara lebih keras dari bahasa apapun yang ada. Mereka berada di sisi satu sama lain, dan bagi mereka itu lebih dari sebuah kesempurnaan.
Angin dingin berhembus, dan tak ada hal lain yang lebih Baekhyun syukuri selain tangan yang menggenggamnya hangat.
Dari balik awan gelap perlahan mentari muncul, dan seketika senyuman hadir di bibir Baekhyun.
"Apa kau memikirkan sesuatu? Kau tersenyum sejak tadi." Kometar Chanyeol, turut tersenyum oleh wajah cerah yang kekasihnya miliki.
Baekhyun menggelengkan kepalanya, memandang Chanyeol dengan sebuah senyum manis yang lebih lebar dari sebelumnya.
"Bukan apa-apa. Hanya... memikirkan sesuatu tentang kita." Ujar Baekhyun sok rahasia.
Chanyeol menaikkan sebelah alisnya. "Well, Byun Baekhyun. Aku harap itu bukan sesuatu yang nakal."
"Yha! Park Chanyeol!" Teriak Baekhyun, mengejar kekasihnya yang sudah berlari terlebih dulu dengan tawa di bibirnya.
.
.
.
Bagai sebuah hari yang berawan, orang-orang akan memperkirakan adanya hujan dan badai yang akan datang.
Namun tidak selamanya mendung menyelimuti langit; iya kan?
Karena kelak akan ada saat dimana hari menjadi cerah dengan mentari yang bersinar terik.
Begitu pula dengan kehidupan kami. Mungkin orang akan memperkirakan banyaknya permasalahan yang kan kami hadapi. Tapi satu yang pasti; kelak kebahagiaan akan kembali, sebagaimana cahaya mentari yang datang setelah hujan.
Lagipula, semuanya akan baik-baik saja,
selagi kami terus bersama.
.
.
.
.
.
"Baekhyun-ah."
"Hm?"
"Will you marry me?"
.
.
.
.
.
- THE END -
.
.
.
.
.
Author's Note:
Dengan chapter ini, aku resmi menandai MY LITTLE PUPPY sebagai ff completed. Endingnya mungkin ga sesuai ekspektasi, tapi beginilah adanya yg ada di kepala dan sanggup aku tuliskan.
"Ini bakal jadi ff MPREG nggak sih?"
Honestly, aku sama sekali nggak kepikiran buat bikin ini jadi ff MPREG sejak pertama bikin storyline nya, jadi karena itulah aku nggak menyertakan tag MPREG di ff ini. Tapi berhubung aku orangnya suka banget sama MPREG dan domestic scenes dalam cerita, aku sendiri jadi pengen nulis chapter khusus untuk hal-hal itu. Berbagai scene dan ide cerita bermunculan di kepala aku; tapi semuanya masih belum pasti.
Aku sendiri sedang kepikiran untuk bikin chapter pendek, semacam bonus chapter yg berisi sneak peak kehidupan Chanbaek pasca chapter terakhir ini. How do u think?
Ini niatnya ff iseng buat kalo bosen nulis yang terlalu serius, dan aku sama sekali ngga nyangka bakal nemuin diriku jatuh hati makin dalam sama sosok Yeollie and Baekkie di dalam cerita ini. Ini semua ngga lepas dari segala dukungan yang kalian berikan.
Aku orang yang cenderung memikirkan apa pendapat orang. Seberapapun teman berusaha meyakinkan kalo aku ga seharusnya peduli, aku tetep nggak bisa ngelakuin itu. I know it's a bad habit of me, but I can't just change it easily. Tanggapan positif kalian dalam ff ini membantu banget mempertahankan mood aku buat terus lanjut. And I'm so glad I did so.
Last but not least, aku nggak bakal bosen buat ngucapin terimakasih untuk kalian semua yang udah ngasih aku dukungan, semangat, dan dorongan selama aku nulis ff ini. Love you all, really.
Well, see you on the next story/update?
Love,
mashedpootato
