Chapter 1; New Challenge (Maaf telat update, author lagi sakit T_T)
*Tepat setelah kekalahan memalukan Enma Fires*
Keesokan hari setelah secara mengejutkan Enma Fires dikalahkan oleh Zokuto Blizzard dalam U'-League, Rektor Universitas Enma memanggil perwakilan Enma Fires untuk menghadap kepadanya.
"Sudah pasti dia akan marah kepada kita…" cetus Sena.
"Sepertinya pak Izuki bukan orang yang seperti itu" jawaban yang meyakinkan dari seorang Sawamura.
Sena, yang merupakan kapten Enma Fires, tentunya adalah orang yang bertanggung jawab atas kekalahan mereka kemarin. Sudah sangat wajar jika dirinya merasa kekalahan ini adalah bukti bahwa dirinya masih belum siap menjadi kapten penerus seorang Unsui Kongo; memang itulah ekspetasi yang diberikan seorang kapten.
Dengan langkah yang berat, Sena dan Sawamura mengetuk pintu rektorat. Terlihat jelas di mata Sawamura bahwa saat ini Sena mengeluarkan keringat dingin, namun ia menyadari bahwa kali ini Sena mampu mengontrol rasa gugupnya itu; prestasi tersendiri tentunya.
"Permisi"
"Oh, UKM American Football ya? Silahkan masuk.."
Mereka berdua pun dipersilahkan masuk, dalam sekejap ruangan terasa mencekam bagi mereka karena tiba-tiba saja mata rektor Enma itu menatap tajam mereka berdua. Kemudian, Bapak Izuki beranjak dari kursinya sembari membawa secarik kertas. Sejenak, Sena bisa mengetahui isi dari kertas itu karena ada kop surat resmi dari asosiasi pusat.
"Yth.
Rektorat Universitas Enma
Di Tempat
Kami selaku badan penyelenggara U' League, ingin memberitahukan bahwa tim anda telah melanggar peraturan yang sudah disetujui oleh semua pihak, dengan rincian dan denda yang harus dibayarkan sebagai berikut:
Perkataan Pemain yang menyerang wasit 300,000 Yen
Pendukung yang berlaku kasar 1,000,000 Yen
Pemain yang menyerang wasit 500,000 Yen
Kerusakan Stadion 3,000,000 Yen
Untuk pembayaran denda, dapat dikirim melalui rekening yang terlampir. Semoga kedepannya kejadian ini tidak terulang lagi, karena tentunya akan merusak nama baik kampus maupun liga. Sekian dari kami, kurang lebihnya mohon maaf.
Tertanda,
Ketua Asosiasi American Football Jepang
Tatame Kinoshita"
Setelah membaca surat yang diberikan oleh bapak Izuki, Sena dan Sawamura hanya mampu menelan ludah mereka sendiri.
"4,8 Juta yen ya?"
gumam Sena dalam hati, sembari melihat isi dompetnya. Sebenarnya bisa saja Sena menggunakan kartu Bypass Hiruma, tapi insting alaminya mengatakan bahwa itu bukanlah hal yang bagus.
"Kamu kenapa malah melihat isi dompetmu nak Sena?"
"Maaf pak, reflek"
"Heheh, Saya tidak akan marah kepada kalian kok."
Kini raut wajah mereka berdua dibuat bingung setelah mendengar pernyataan langsung dari jajaran tertinggi dalam hirarki kampus itu. "Kalian tidak tau ya? Kalau saya menonton langsung pertandingan kalian di Stadion kemarin." Tutur Izuki kepada mereka berdua selagi berusaha mencairkan suasana dengan senyumannya.
Lagi-lagi raut wajah mereka berdua dipaksa berolahraga seakan-akan rektor mereka ini memiliki banyak bahasan yang tentunya tak terlintas dalam benak Sena maupun Sawamura.
"Saya sendiri yang bukan penggemar American Football, bisa berasumsi bahwa pertandingan itu sudah diatur kok."
"Apa tidak bisa mengajukan banding pak?" kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Sawamura.
"Pernahkah kamu melihat klub pro American Football Jepang yang mengajukan banding dan banding mereka diterima?"
Spontan mereka berdua menggeleng-gelengkan kepalanya, karena mereka sudah cukup tau sebusuk apa Asosiasi Liga yang menaungi olahraga American Football di Jepang.
"Yasudah, mau bagaimana lagi? dan yang terpenting, bagaimana kalian menghadapi ini semua?"
"Maksud bapak?"
"Stadion baru," Dengan gestur tangan pak rektor yang menunjuk ke arah stadion.
"ekspetasi tinggi," berlanjut menunjuk ke atas.
"lalu langsung gugur begitu saja." dan menjatuhkan tangannya ke meja dengan cepat tanpa menggebrak mejanya, ia mencoba menjelaskannya secara halus versi Izuki.
"Paham maksud saya?"
Kali ini Sena dibuat bingung dengan penjelasan yang disampaikan. Sedangkan Sawamura dengan mantap mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti dengan apa yang baru saja dijelaskan.
"Semoga saja media tidak menyudutkan kekalahan kita."
Kemudian Sawamura dan Sena mohon pamit kepada rektor mereka. Setidaknya rektor mereka yang sekarang jauh lebih baik daripada rektor sebelumnya. Lebih tepatnya, dewan rektorat terdahulu yang membuat anggota Enma Fires ingin menggiring orang-orang itu ke tiang gantung.
Esok hari setelah pemanggilan, latihan kembali diadakan seperti biasa. Ariyo selaku pelatih kembali melatih dasar-dasar American Football yang nampaknya disambut dengan kakunya badan para pemain mengikuti arahan dasar itu.
Kurita yang melampiaskan tangisannya dengan makan sebanyak mulut menyanggupi makanan yang tersaji.
Monta yang dari dulu sangat heboh ketika makan pisang, kini ia memakannya tanpa ekspresi dan gerakan aneh-aneh lainnya.
Riku juga hanya berdiam diri, tidak menyapa siapa-siapa. Padahla dia adalah orang yang dikenal sangat ramah.
Terakhir, Sena. Setelah pertandingan debut kemarin, ia terus-terusan melamun. Berkhayal layaknya penggemar novel yang diaduk-aduk imajinasinya oleh sang pengarang novel.
"Apa aku ini adalah pemimpin yang gagal?" Terucap begitu saja dari mulut kapten Enma itu.
*PLAK*
Runningback bernomor 21 itupun terbangun dari lamunannya berkat tamparan Suzuna yang selalu memerhatikannya sejak kemarin.
"Sena, jangan terus-terusan terpuruk dong!" Suzuna berdiri dihadapan Sena yang menatapnya. Namun kosong.
"Hanya karena satu kekalahan, masa kamu menyerah semudah itu? Dimana Sena Kobayakawa yang aku kenal dulu?"
"Tapi itu-"
"DENGARKAN AKU DULU!" Kini Suzuna membentak Sena agar ia segera sadar.
"Maaf.." katanya dengan nada yang pelan dan tidak menatap kekasihnya itu.
"Apa artinya sebuah kekakalan kecil seperti itu? Semua juga pasti merasakannya, saat kamu masih di Deimon situasinya tak jauh berbeda kan?"
Sena hanya mengangguk-anggukan kepalanya sebagai tanda mengerti.
"Tinggal bagaimana figur seorang pemimpin yang ada dalam dirimu itu menanganinya."
Sena tersentak dengan kata-kata kapten cheerleader itu.
"Dan jangan pernah menyimpulkan diri kamu sendiri Sena" Sekarang Suzuna mencoba menatap mata Sena yang daritadi menatap ke bawah.
Suzuna memegang kepala Sena dengan kedua tangannya mengajaknya beradu mata. "Jadikan introspeksi ini untuk membuat kamu menjadi lebih baik dan berusaha menyelesaikan masalah yang ada, bukan malah menghindar. Belajarlah dari Hiruma-senpai.."
Kepala Sena yang masih dipengangi oleh Suzuna itu akhirnya mengeluarkan suaranya kembali. "Sejak kapan kamu sopan seperti ini?"
"Semua orang bisa berubah Sena.." Senyum Suzuna, "Huh dasar.." Suzuna pun pergi dan menghilang bagai asap di dalam HP Stadium yang megah itu.
*2 Minggu kemudian*
Sore hari, ruang rektorat kian memanas karena media yang mulai menyebarkan berita kekalahan Enma Fires dengan kalimat-kalimat pedas dan sangat membunuh citra seluruh keluarga besar Universitas Enma. "Dimana logika para jurnalis yang berani-beraninya menulis artikel seperti ini!? Ini mencoreng nama baik almamater!" Teriak salah satu perwakilan alumni yang hadir dalam rapat upacara Dies Natalis Universitas Enma yang ke-5.
"Pak, harap tenang." Cetus sang rektor pada salah satu alumni tersebut. "Mereka melakukan itu karena dunia mereka seperti itu, kalau beritanya hambar siapa juga yang mau membaca?" Jawab Wakil Rektor 2 dengan cerdas namun blak-blak an. Kini, Wakil Rektor 1 yang angkat bicara untuk rapat Dies Natalis.
Namun ada salah satu perwakilan alumni memotong pembicaraan Wakil Rektor 1. "Tunggu dulu pak, sebelum kita melaksanakan Dies Natalis tersebut, alangkah baiknya kita membahas masalah yang dihadapi Enma Fires saat ini. Saya dan rekan-rekan disini mana mungkin marah dengan adik-adik kita di Enma Fires"
Sebelum Wakil Rektor 1 kembali berbicara, alumni ini memegang logo kebanggaan Enma di dadanya dengan penuh khidmat. "Mereka tidak bersalah."
"Terimakasih sebelumnya pak, karena sudah tidak mempermasalahkan kekalahan Enma Fires kemarin."
Para alumni yang hadir tentunya menganggukkan kepala mereka. Rapat Dies Natalis pun dilanjutkan kembali dengan tenang.
"Jadi, adakah langkah untuk membantu adik-adik kita ini?" kali ini giliran Rektor Enma yang langsung bertanya, berharap ada yang mau menyambar pertanyaannya.
"Mungkin ini bisa membantu"
Setelah sekian lama mimpinya terpendam, akhirnya Aishi membuka restoran padang pertama di kota tempat ia menuntut ilmu. Karena ia adalah manajer dari tim Utsumiya Cheetahs, tempat bernaungnya Hiroshi bersaudara, Hiroshi Onishi dan Hiroshi Ohira, serta lineman terbaik Shinryuji Naga pada masanya, Gondayū Yamabushi, jadi sekalian saja ia mengajak anggota tim Utsumiya untuk datang ke acara peresmian restoran yang ia bangun.
Saat ini Utsumiya Cheetahs sudah memastikan diri lolos ke babak Koshien Bowl dimana mereka dipertemukan melawan Saikyoudai Wizard, ujian untuk Aishi Hanabi dan Jumonji yang akan menjadi lawan didalam lapangan.
Hiroshi Ohira dan Hiroshi Ohira yang tampak paling antusias dengan peresmian restoran padang yang di buka oleh manager mereka inipun memilih tempat duduk yang pas untuk tim, karena restoran yang Aishi bangun cukup luas.
"Disini saja duduknya"
"Sebelah sini"
"disini!"
"disini!"
Bukan Onishi dan Ohira namanya kalau kehidupan mereka tidak ada perkelaian yang mewarnai, anggota tim yang lain hanya bisa mempasrahkan diri melihat aksi konyol mereka berdua. Urat nadi Yamabushi sudah nampak ke permukaan muka, sementara Aishi dengan tenaga tersisanya berusaha menenangkan Hiroshi bersaudara itu.
Mereka semua larut dalam canda tawa, sementara Aishi beserta para pekerja yang ia rekrut terus melayani para pelanggan baru. Tiba-tiba saja ada 2 orang yang sepertinya bukan berasal dari daerah sekitar, masuk tanpa permisi dan semena-mena.
*BRAK*
Meja makan yang saat itu sudah ada yang menempati, terpaksa menjadi korban dari aksi 2 orang asing itu. Suasana restoran yang tadinya ramai bak festival musiman berubah menjadi sepi bagai kuburan tua angker.
"Apa-apaan ini?! Ini namanya penghinaan!" dengan nada tinggi mereka berbicara, namun masih terbata-bata karena mungkin masih belajar bahasa. Aishi dengan tenangnya menghampiri kedua orang tersebut.
"Maaf pak, ada apa?"
"Rendang dari Sumatra Utara katamu? Itu erasal dari kampung halamanku Sumatra Barat G #%&K!"
"Pak tenang, ini ujian.. ujian dari-"
"SAYA SEDANG SERIUS BOCAH INGUSAN!?" Yamabushi -dengan badannya yang tergolong jumbo untuk ukuran orang normal- yang hendak membantu melerai keributan, dibuat diam oleh orang yang masih berdiri di depan pintu restoran dengan wajah sangar yang dimiliki.
Aishi bingung apa yang seharusnya ia lakukan, pacarnya belum datang juga untuk menengok restoran barunya. Saat ini ia tidak ada yang mampu melindungi. Berharap ada keajaiban yang membantunya.
Doanya terkabul. Hiruma dan Jumonji berdiri tepat dibelakang 2 orang tersebut.
"Permisi, kami mau masuk."
"BERISIK BANGET SIH?!"
Jumonji bertanya dengan sopan, namun orang tersebut membalas pertanyaan Jumonji dengan nadanya yang semakin tinggi dari sebelumnya. Memang benar apa yang orang bilang; bunga mawar belum tentu dibalas dengan bunga mawar, bisa saja dengan bunga bangkai.
Hiruma dengan tenangnya menunjukkan AK-47 kesayangan miliknya didepan restoran Aishi, yang tentu saja membuat suasanan semakin mencekam didalam restoran. Pemain Utsumiya Cheetahs saja tidak ada yang bergerak kala melihat Jumonji dan Hiruma menatap kedua orang yang telah membuat kerusuhan tersebut dengan tatapan tajam.
"Bapak darimana?"
"Saya sedang liburan disini!?"
"Saya tanya bapak darimana?"
"Indonesia!"
Tatapan tajam Jumonji lenyap begitu saja begitu mendengar Indonesia. karena yang Jumonji ketahui tentang perilaku orang Indonesia, mereka selalu mempermasalahkan hal-hal yang sebenarnya bisa diperbaiki saat itu juga. "Oooh.."
Memang harus di akui, mereka kesal lantaran kesalahan yang dilakukan AIshi itu memang sudah tidka wajar karena banyak sumber yang menguatkan pendapat mereka. Tapi, masa harus dengan kekerasan? Tinggal bilang baik-baik nanti juga diperbaiki.
"Jumonji, ada apa ini?"
"Beginilah Hiruma-san, bisa dilihat sendiri"
Sama seperti yang dialami Jumonji, sorot mata Hiruma yang tadinya tajam kini juga ikut lenyap terbawa suasana aneh yang ia rasakan. AK-47 yang ia tenteng kembali disimpan. "Hmmm.."
"Bapak tau ini apa?"
"Apaan tuh?"
"Wah, buku Hiruma yang satu ini keluar juga akhirnya" Batin Jumonji, karena sudah lama sekali ia tidak meliht buku ancaman yang selalu Hiruma bawa sejak SMP itu.
"Memangnya saya takut sama anda?!"
"Oh? Beneran nih tidak takut?"
Hiruma sedikit terkejut dengan reaksi mereka, berarti ia harus menggunakan cara lain untuk menggertak balik dua orang yang berdiri dihadapannya.
"Dia belum tau kita dari ormas FPI! hahaha"
"FPI?"
"Front Pembela Indonesia! payah orang jepang kurang update"
"Begitu ya?" tanpa berpikir panjang
"Eh, dia telepon siapa?"
Percakapan panjang terjadi di ruangan, Hiruma menelpon bukan dalam bahasa yagn mereka kenal, tapi kedua orang itu mengerti apa yang Hiruma bicarakan karena ia bisa Bahasa Indonesia dengan lancer dan fasih. Sementara seisi ruangan dibuat takjub dengan fasihnya Hiruma berbicara.
"Aku baru saja telepon instansi terkait di negaramu. Tidak ada nama Front Pembela Indonesia dalam daftar mereka."
Seakan segel yang mereka pasang terlepas, bulu kuduk kedua orang itu langsung berdiri kala Hiruma memberitahukan sesuatu diluar dugaan mereka.
"Jadi, masih berani?"
"Permisi om, kita mau pulang aja.. TAPI ITU HARUS DIGANTI!"
"TOA SIALAN! PERGI KALIAN?!" Kedua laki-laki itu akhirnya pergi meninggalkan restoran yang sejak awal kedatangan mereka sudah menjadi kuburan tua yang hening. Hiruma tak lupa memberitahu Aishi untuk melepas nama restorannya sementara, karena kedua orang tadi kesal karena Aishi salah menuliskan asal daerah makanan tersohor asal Indonesia tersebut.
Tak lupa Jumonji dan Yamabushi meminta maaf kepada para pelanggan yang masih bertahan di ruangan. Staff yang bekerja kini juga kembal bekerja normal. Kegiatan masak-memasak kembali terdengar dari belakang dapur.
Semua sudah kembali normal sedia kala; tapi badai belum usai.
Tamu berikutnya adalah sekawanan api yang membara bukan pada tempatnya, begitu salah satu kawanan itu masuk melalui pintu restoran, orang itu tidak muat masuk kedalam pintu. Aishi yang mengetahui keadaan salah satu pelanggannya langsung sigap membantu orang itu masuk kedalam, dibantu juga dorongan teman-temannya dari luar.
"HIRUMAA!"
"Oi Gendut Sia-"
"Aku kangen banget sama Hiruma!" Kurita yang tadinya terjepit di pintu, langsung bisa melongos masuk beserta dengan pintu dan batu bata yang masih menancap di perut raksasa lineman kebanggan Enma Fires. Aishi yang belum move-on dari kedua orang asal Indonesia itu akhirnya tidak kuat dan jatuh pingsan karena gerai barunya baru saja dirusak dengan mudahnya oleh lineman jumbo itu.
"Kok kenapa makin kurus?!"
"Gendut sialan.. su.. susah ber.."
Kurita tidak peduli apa yang Hiruma katakana, ia juga sudah cukup tau tentang gertakan yang biasa dilayangkan dari mulut jahatnya. Namun nampaknya Hiruma tidak sedang menggertak.
"Kuritan-senpai! Hiruma tidak bisa bernapas ituuu…"
"EEH? MAAF HIRUMA-"
"B%#&H"
Akhirnya Kurita melepas pelukan mautnya. Sementara Hiruma masih terus berusaha untuk mencoba mendapatkan oksigen sebisanya. "Percuma mau mencari udara, semuanya tersedot sama si gendut sialan!"
Malam pun berlalu, anggota Enma Fires terbangun di apartemen Sena yang memang cukup untuk menampung semuanya. Mulai dari Suzuna dan Sena yang tidur bersama dalam satu ranjang dengna kondisi mengenakan baju seadanya, Julie dan Kotaro yang tidur tepat disamping Sena, Monta dan Akeno yang ternyata tidak bisa tidur, serta sisanya yang menggelar kasur seadanya dengan bantal alami yang berpusat pada perut ekstra Kurita di ruang tengah.
Satu per satu mereka bangun, saling sapa dan membuat sarapan masing-masing. Ada yang turun ke bawah untuk membeli makan di supermarker, ada pula yang mencoba meramu bahan pangan yang ada di kulkas kapten mereka. Dan ada juga yang memulai percakapan yang menyimpang; Kalian harusnya mengerti.
"Nee, Sena." -Monta
"Hmmm" -Sena
"Kok kemarin di kamar berisik sekali? Udah gitu suaranya mengerang, tapi bukan seperti sedang sakit. Kamu kan tidak sakit.." -Monta
Mendapat pertanyaan dari sahabatnya sendiri, membuat keringat dingin dalam tubuh Sena keluar dari persembunyian tanpa diminta, tak dapat dipungkiri kalau ia dan Suzuna memang melakukan nya tanpa ada halangan.
"Pagi Sena!"
Suzuna memeluk Sena dari belakang dengan cerianya seakan kemarin malam tidak terjadi apa-apa.
"Suzuna" -Monta
"Ya Monta?" -Suzuna
"Kalian berdua kemarin malam tidak tahan lagi ya?" -Monta
"Hehehe, Monta dengar ya?" -Suzuna ;p
"Betulan?" -Monta
Suzuna hanya mengangguk dengan senyuman tipisnya. Sudah cukup menjawab pertanyaan Monta yang terus terbesit sejak tadi malam. Ia hanya bisa tepuk tangan tanpa berkomentar apa-apa, sementara Akeno bingung dengan sikap Monta yang hari ini kelihatan aneh dimatanya.
Sena sendiri hanya bisa pasrah dengan keadaan. Semoga mengalir seperti air.
"Semuanya, aku minta perhatiannya dong.." -Julie
"perhatiannya Kotaro kurang?" -Utsoshi
"AKU SERIUS!" Seisi ruangan mematung. Julie memberikan aura hitam yang dari dulu ia simpan untuk momen-momen seperti ini; walapun tidak berguna.
"Aku dapat pesan dari kak Ariyo. Dia bilang persiapkan diri untuk turnamen berikutnya" -Julie
"tapi kan masih lama? Memangnya turnamen apa?" -Riku
"Hewlett-Packard Cup di Los Angeles" –Julie
Raut wajah yang ada di dalam apartemen kembali mematung. Sangat tidak logis ada turnamen yang seperti itu, ditambah lagi undangannya diberikan kepada tim yang kalah di putaran pertama.
"HAAAH?! Kamu tidak sedang bergurau kan?" -Mario
"Untuk apa? Kak Ariyo mendapat undangan ini dari rektorat. Katanya ini dari alumni." -Julie
"Tunggu dulu, apa kalian tidak merasa aneh?" –Shanen
Shanen akhirnya berbicara setelah sekian lama terpendam. Mencoba menganalisa apa yang sebenarnya terjadi sembari melihat undangan yang dikirim Unsui padanya via email.
"Tepat setelah kita keluar dari U'-League, mereka dengan entengnya mengirim undangan.." -Shanen
"Namanya juga sponsor" -Daniel
"Seharusnya kan beberapa bulan setelahnya. Ada prosedurnya. Yang mensponsori kita bukan perusahaan baru berdiri kemarin sore kawan." -Shanen
"Lucunya, tidak ada lampiran kita akan disana selama berapa hari" celetuk Mizumachi entah darimana, dan kali ini celetukannya masuk akal dalam pembicaraan serius yang sedang terjadi.
"Ditambah lagi, kita tidak perlu membayar biaya pulang-pergi dan akomodasi yagn biasanya ditanggung pihak kampus." -Shanen
"Mencurigakan" -Andrea
"Kan mereka sudah resmi menjadi sponsor kita, lihatlah baju training yang baru saja datang." Kotaro tiba-tiba saja datang dengan seragam baru yang baru saja ia temukan di depan pintu. Entah belum sempat dimasukkan ke apartemen atau memang baru saja datang, karena masih terbungkus rapih.
"Logo Hewlett-Packard.." -Shanen
"Kenapa aku malah merasa takut ya?" -Daniel
"Aku juga" -Riku
"Hei! Kenapa kalian takut? Memangnya disini ada hantu?" dan kini ruangan semakin sesak saat Unsui membuka pintu sehabis sarapan di Famil**art.
"Tapi, memangnya kamu tau siapa yang memesan? Kita tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk membeli baju baru ini." -Julie
"Kan mereka sponsor.." -Unsui
"Sejak kapan? MoU saja tidak ada." -Marco
"Hah? Tidak ada MoU dengan kita selaku penerima?" -Unsui
Serempak seisi ruangan menggelengkan kepala mereka sebagai tanda ketidaktahuan mereka tentang sponsor asal Paman Sam itu.
"Kini aku juga ikut takut." -Unsui
"Tunggu dulu, ada yang aneh" -Mizumachi
"Apa, Mizumachi?" -Sena
"MoU itu apa?" -Mizumachi
Semua pasang muka yang ada di ruangan menjadi lesu setelah mendengar pertanyaan konyol yang dilontarkan seorang mahasiswa Universitas Enma bernama Kengo Mizumachi.
"Memorandum of Understanding atau biasanya orang bilang dengan MoU. Nota kesepakatan, nota kesepahaman, perjanjian kerja sama. Kira-kira begitu." Dengan sabar Julie memberitahukannya kepada member terbodoh yang Enma Fires miliki. Untunglah yang bersangkutan mengerti apa yang dijelaskan.
Malam hari yang indah, ditemani dengan para pelacur bertubuh gitar spanyol. Sungguh American Dreams yang selama ini ingin dirasakan oleh salah satu staff dari orang terpenting di Amerika itu.
"Ada yang menelpon" kata salah satu pelacur yang menyadari kalau handphone milik staff itu menerima panggilan telepon. Ia pun dengan sigap mengangkat teleponnya setelah mengetahui siapa yang berani menelpon tengah malam.
"Sudah diberikan?"
"Sudah." Singkat, padat, jelas.
"Bagus."
Next Up - Chapter 2; Play Smart
