Chapter 2; Play Smart
"Sena, janji ya sama aku?"
*DOR*
"Suzuna!" teriak Sena, melihat Suzuna terkapar begitu saja setelah bunyi tembakan yang tidak diketahui asal usulnya. Pemilik restoran dan para pegawai hilang begitu saja setelah suara tembakan itu. Sena berusaha mencari-cari seseorang yang bisa membantu, tapi hasilnya nihil. Di dapur tidak ada siapa-siapa, bahkan restoran yang tadinya ramai kini sunyi. Tidak ada siapa-siapa, hanya dirinya, Suzuna, dan..
"Hiruma?!"
Matahari telah mengintip dari gunung yang Sena tidak ketahui namanya sejak ia kuliah di Enma. Dengan santai ia menuju ruang makan, memasak omelette dengan sosis dan daun bawang sebagai isi dari omelette dengan tambahan irisan tomat disekitar piring yang akan disajikan.
Sena masih tidak percaya akan apa yang terjadi kemarin, apakah apartemennya memang yang terbesar yang ada di kota? Karena saat ia pertama kali membeli apartemen itu berkat Bypass Hiruma yang tidak sengaja keluar dari dompet, ia diberitahu oleh Manajer hotel bahwa ruangan yang ditempatinya itu adalah yang terbesar di kota ini.
Awalnya Sena tidak percaya dengan omongan itu, namun setelah kemarin hampir semua anggota Enma Fires menginap di apartemennya, kini ia percaya bahwa apartemen miliknya adalah yang terbesar.
Setelah omelette yang ia buat sudah matang, Sena memakannya sambil mengecek handphone yang ia matikan sejak kemarin malam. Mulai dari pengumuman kelas pengganti, bimbingan dari dosen Pembimbing Akademik, hingga sekitar 999+ pesan dari entah berantah muncul dalam notifikasinya.
Saat ia melihat chat itu, Wajah Sena tiba-tiba berubah menjadi merah gelap dengan kepalanya yang hampir mendidih. "MONTAAA!" ia teriak dengan kencangnya di ruang tengah. Ia tidak menyangka receiver terbaik Enma Fires miliki itu ternyata bermulut ember. Setelah mengetahui ia dan Suzuna melakukan itu, Monta dengan iseng memberitahukannya di grup chat tim Enma Fires.
Mendadak grup chat Enma Fires ramai berkat Monta. Seperti biasanya, Mizumachi, Kotaro, dan Marco berimajinasi ria didalam grup chat itu."Ah sudahlah, setidaknya ia tidak memberitahukannya di grup kelas." Kata Sena dalam hati sembari kembali memakan omelette yang masih hangat. "Lain kali, aku harus lebih berhati-hati jika ditanyakan hal yang berbau privasi! Harus!"
Setelah ia membersihkan piring dan peralatan masak, Sena berangkat menuju kampus untuk memulai latihan pagi. Kebetulan jam kuliahnya siang, jadi bisa sampai ikut sesi latihan dari awal.
Sesampainya di kampus, orang yang pertama kali sampai di kelas bukanlah dirinya.
"Hai Karin!" -Sena
"Hai kapten! Kemarin aku minta maaf karena tidak ikut ke peresmian restorannya Aishi." -Karin
"lebih baik tidak ikut sih." -Sena
"Eh, kenapa?" -Karin
"Ya pokoknya begitulah" -Sena
"Oh, jadi yang dikatakan Monta itu betulan?" -Karin
"Mmhhmm" -Sena
"Kenapa harus malu?" -Karin
"YA HARUS DONG!" -Sena
"Eh?" -Karin
"Kamu tidak mengerti" -Sena
"Kenapa nada kapten tiba-tiba menjadi seorang perempuan?" -Karin
"Eh?" -Sena
"Ih, ikut-ikutan." -Karin
"Memangnya 'eh' itu bahasa ciptaanmu?" -Sena
Perdebatan itu terus berlanjut, argumen-argumen melayang kesana kemari tanpa ada sanggahan dari pihak lawan. Yang awalnya hanya ada mereka berdua di dalam kelas, lama-kelamaan kelas mulai terisi hingga banyak yang menonton perdebatan Sena dan Karin yang sudah keluar jalur topik awal.
Mizumachi yang kebetulan satu kelas dengna mereka berdua berusaha untuk menyudahi perdebatan yang tidak ada manfaatnya itu.
"Sena.." -Mizumachi
"Apa? aku masih debat sama Karin!" -Sena
"Ehm, Iya.." -Mizumachi
"Ehem!" – (?)
Suara itu semakin membesar, Sena yang masih tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Mizumachi barusan. "Sudah selesai?"
Sena dan Karin dengan kompak menjawab "Belum!" namun teriakan mereka berdua tertahan saat mengetahui yang bertanya bukanlah teman sebaya, tapi dosen mereka.
"Setelah ini, kalian ikut ke ruangan saya." Cetus dosen itu, Sena dan Karin hanya bisa pasrah dengan keadaan. "terima.. kasih.. kapten.." celetuk Karin pada pacar Suzuna. "Sama.. sama.." jawab Sena yang menyudahi perbincangan mereka hari itu.
"Hiruma-san!" teriak Akihiko, salah satu manajer baru rekrutan Mamori untuk membantunya menangani tim. Mamori terpaksa merekrut orang baru karenas 2 manajer sebelumnya mengundurkan diri karena urusan kuliah menjadi berantakan berkat tugas yang menggunung setiap harinya.
"Keh, kenapa?" -Hiruma
"Ini file dari Mamori-san, katanya dia ada kelas tambahan jadi aku diminta untuk memberikan ini." -Akihiko
"Kau tidak melihat isinya kan?" -Hiruma
Pertanyaan Hiruma sebetulnya biasa saja, tapi karena gaya bicara Hiruma yang terkadang mengintimidasi lawan bicara inipun membuat Akihiko tampak sedang diintimidasi dan membuatnya menjadi gagap.
"Tidak! Su… sungguh aku tidak meli… melihatnya!" -Akihiko
"Hmmm?" -Hiruma
"A.. aku per.. permisi!" -Akihiko
"Ya.. terimakasih" -Hiruma
Nampaknya ucapan terimakasih Hiruma yang jarang terlontar dari mulut setan itu tidak terdengar oleh Akihiko yang berlari tunggang-langgang menjauhinya.
Tengok kiri, lihat depan, tengok kanan, lihat belakang.
Hiruma memastikan tidak ada orang yang melihatnya membawa file yang ia pegang saat ini. Setelah diyakini sudah aman, Hiruma lantas masuk ke ruang klub dan menguncinya.
"Oke, Honjo sialan.. show me what you got"
Kini Hiruma membuka isi dari file kiriman Masaru Honjo, ayah dari Taka Honjo dan kandidat ketua asosiasi Jepang pusat.
Dengan seksama, Hiruma menganalisa hasil penemuan Honjo. "Hah? Invitasi itu tidak ada dalam surat masuk mereka?" cetus Hiruma yang mulai tidak mengerti dengan apa yang baru saja ia lihat. Rasionalitas yang selama ini dipercayanya, kini terpaksa harus dikubur terlebih dahulu.
Kapten Saikyoudai Wizard itu ingat betul, ada aturan yang tertulis dalam peraturan asosiasi Jepang pusat yang berbunyi bahwa pihak pemberi dana/sponsor yang hendak menyertakan logo mereka dalam atribut tim yang bernaung dibawah asosiasi Jepang pusat, mengajukan surat perizinan terlebih dahulu dan harus menyertakan lampiran kontrak yang akan diajukan.
"Tapi, mereka memang tidak mensponsori Enma Fires secara langsung, ada UKM Sepakbola juga yang memakai stadion itu bersama-sama. Sedangkan Saikyoudai Wizard memang memiliki MoU dengan sponsor apparel olahraga lokal. Ya, lokal dan tercantum didalam baju tanding sedangakn Enma Fires memang tidak mencamtumkan logo apapun selain logo kampus. Lalu kenapa perusahaan sebesar Hewlett-Packard yang sudah mendunia itu tidak ada MoU-nya? Apa karena mereka tidak mencantumkan logo?"
Masih terselimuti dengan beragam pertanyaan yang tertancap dalam benak, Hiruma membuka file selanjutnya. Kembali Hiruma mencermati dengan seksama isi dari tulisan itu.
"Hah? Mereka mendapat uang 250 Juta Dollar itu hanya karena banyak alumni yang bekerja disana? Alasan yang aneh"
Penasaran dengan pernyataan yang ia baca, Hiruma mencari sumber-sumber terpercaya yang dapat digunakan olehnya untuk mencari data-data asli alumni Enma. Raut wajah Hiruma seakan menjawab apa yang berhasil ditemukan.
"Alumni Enma yang bekerja disana hanya ada 6 orang. Itu juga baru bekerja selama 1 sampai 3 tahun, apa-apaan ini? Jika alumni itu sudah berada di posisi yang cukup untuk memegang kekuasaan sih mudah. Direktur saja belum, kenapa bisa mensponsori sebuah tim baru? Andai saja alsannya karena pihak Enma yang meminta bantuan sih itu lebih masuk akal."
Kenapa? Hiruma terus bertanya-tanya dengan banyaknya kemungkinan, uang sebanyak itu tentu bisa membeli 2 klub sepakbola professional jepang yang selalu masuk kejuaraan Asia Champions League atau membeli klub yang baru saja promosi, bahkan bisa membuat tim baru dan siap untuk mengacak-acak posisi puncak.
"Aku.. harus bisa mengetahui siapa dalangnya. Perasaanku sudah tidak karuan lagi."
Dengan cekatan, Hiruma berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang berhubungan dengan aktivitas Hewlett-Packard dan Enma Fires selama 3 bulan terakhir. Lagi-lagi hasil yang didapat membuat pria berambut kuning ini harus mengeksplorasi dunia fantasi yang selama ini tidak pernah sekalipun ia masuki secara tidak sengaja maupun sengaja.
"I'll outsmart this man, rasanya aku tau siapa yang merencanakannya."
Hiruma kembali tenggelam dalam dunia digital yang merupakan dunia kedua untuknya, menuangkan ide-ide apa yang bisa membantunya menguak siapa dalang dibalik ini semua. Prosesnya cukup memakan waktu hingga berjam-jam lamanya hingga tak sadar bahwa hari sudah malam.
"Tidak ada pilihan lain"
Quarterback Saikyoudai itu akhirnya mempasrahkan diri setelah mencoba mengurutkan semua rencana apa yang bisa ia baca saat ini, satu-satunya cara untuk mengungkap pelaku adalah dengan mengikutinya terlebih dahulu. Dengan kata lain Enma Fires harus berangkat ke turnamen itu; tidak ada pilihan lain.
Latihan sudah dimulai sejak jam delapan pagi, dan kini sudah satu setengah jam telah berlalu. Karin yang duduk di bangku cadangna terus mengamati pergerakan Unsui, dan tentunya mengkoreksi kesalahan yang dibuatnya. Begitu juga sebaliknya.
Hingga Ariyo memutuskan mengganti menara kontrol offense Enma untuk ke dua kalinya dalam latihan kali ini. Karin masuk kembali menggantikan Unsui. Pemain berambut pirang itupun memberikan instruksi untuk menggunakan formasi tradisional, Pro Set Formation.
Biasanya, tight end berada sejajar dengan 5 lineman sehingga ada 6 orang yang menjadi lineman, ditambah dengan 2 runningback berada di belakang quarterback, dan receiver berada di posisi yang ditentukan oleh pengatur serangan. Tergantung situasi dan kondisi.
Matanya liar melihat-lihat, menyapu semua sudut lapangan. Siapa yang harus ia berikan pass? Monta? Dia dijaga 2 orang, Riku? Ia tidak berlari sesuai rutenya. Daniel? "Iya, Daniel!" gumamnya singkat. Namun sebelum bola berhasil Karin lempar, Haishi dan Mizumachi dengan beringasnya merobohkan menara kontrol terindah yang pernah berdiri di lapangan hijau dengan angka-angka yang tercetak dengan besarnya.
Karin kira perkataan Hiruma di majalah olahraga bulanan itu hanya bualan belaka. Ternyata Karin merasakannya sendiri bahwa menjadi menara kontrol itu tidak semudah kita melihatnya dari tribun penonton. Satu kesalahan kalkulasi akan berdampak pada permainan tim.
"Daniel, maaf!"
Karin membungkuk kea rah Daniel yang sudah berada di dekatnya, tentu saja membuat Daniel dan yang lain bingung dengan sikap Quarterback wanita yang satu ini. Tingkahnya terkadang susah ditebak. "Tidak apa Karin." Kata Daniel mencoba menyemangatinya dengan mengusap kepala Karin. Bagi yang lain, itu wajar karena Karin perempuan. Tidak mungkin kan menepuknya di punggung seperti pada umumnya untuk menyemangati yang lain?
Tapi tidak bagi Karin. Baginya, usapan yang dilakukan Daniel seakan berkata aku menyukaimu. Sebelum yang lain melihat wajahnya yang memerah, ia menepuk kepalanya sendiri untuk menutupi rasa malunya. "terimakasih, Daniel" balas Karin pada Daniel dengan riang.
Kini, apa yang dirasakan Karin sebelumnya, Daniel juga merasakannya. Cepat-cepat Daniel memakai kembali helmnya sebelum ketahuan oleh yang lain. Sesi latihan kembali berlanjut.
Kali ini Karin hanya bermain aman. Ia memberikan bola kepada Sena dengan Daniel sebagai lead blocker. Cukup efektif apabila Daniel dijadikan lead blocker karena tim offense mampu maju sebanyak 25yard, catatan terbaik untuk latihan bulan ini.
Perkataan Ariyo tadi membuat Karin memberikan instruksi untuk menggunakan I-Formation, salah satu formasi sederhana dalam American Football. Andrea-Mario-Karin berada di posisi terdekat dengan lineman, sementara itu sisanya berjaga di samping lineman dengan tambahan Daniel dan Marco berada di barisan lineman.
Play pun dimulai kembali dengan bola yang mengalir terlebih dahulu ke tangan Andrea, dengan cepat ia men-toss bola pada Karin. Quarterback cantik itupun melangkah mundur beberapa langkah sembari menunggu Andrea dan Mario yang berlari memutari barisan lineman. Karin yang melihat posisi Mario yang kosong membuat ia yakin untuk melempar long pass dengan floral shoot. Bola pun dilempar kearah Mario.
Mario yang tidak dikawal, dengan tangkas menangkap long pass yang dilempar Quarterback. Tapi tentu saja tim defense tidak tinggal diam, dengan beringas Sawamura menabrakkan dirinya ke badan Mario yang masih melayang diudara sehingga bola yang sudah ditangkap oleh Receiver asal Jerman itu terlepas.
Utsoshi yang sudah menunggu terkaman Sawamura, langsung merebut bola. Membuat tim defense sukses men-intercept bola, "Tahan dia!" teriak Karin kepada rekan-rekan tim offense. Sena dan Riku dengan cepat berusaha menutupi area kosong yang ditinggalkan lineman di sebelah kiri lapangan.
"Aku.. tidak.. selemah.. itu!" Utsoshi dengan tangannya yang kekar, dengan mudah menjatuhkan Sena dan Riku dengan hanya menggunakan tangan kanannya. Utsoshi pun dengan mudah berlari menuju end zone tanpa kawalan yang berarti. Saat semua orang mengira tim defense akan mencetak touchdown pertama, tiba-tiba saja dari belakang punggung Utsoshi, ia merasakan tarikan mundur yang sangat kuat.
"Maaf senpai! Aku hanya menganggap ini pertandingan sungguhan!" Teriak Mizumachi yang berlari menuju end zone dari posisinya, Utsoshi hanya bisa pasrah dan menyeringai kala ia dijatuhkan. "Seandainya saja Sena dan RIku tidak menghadang, Mizumachi tidak akan sempat menahanku." Gumam Utsoshi yang tergeletak tepat di depan garis end zone.
Latihan terus berlanjut. Karin mencoba pola serangan shotgun andalan timnas Jepang saat ini, dimana posisi receiver berada di satu sisi lapangan. Dengan Monta-Marco-Sena-Riku berada di sisi kanan lapangan, dengan sendirinya tim bertahan juga menutup sisi kanan lapangan. Dari sini ada banyak kemungkinan apa yang akan dilakukan Karin.
Pertama, Ia akan melakukan pass kepada 4 receiver yang berada di sisi kanan lapangan. Ini adalah yang paling sering digunakan dengna tingkat presentase terbesar dari semua kemungkinan.
Kedua, salah satu dari barisan lineman melakukan motion play, play dimana salah satu pemain boleh bergerak sebelum center memberikan bola kepada pemain yang berada dibelakangnya, biasanya Quarterback yang ada dibelakang center meskipun tidak selalu hanya 1 orang yagn berada dibelakang center.
Nantinya bola tersebut akan dilempar kepada pemain yang melakukan motion play itu, lazimnya yang melakukan tugas itu adalah Tight End tim yang harus mampu menjadi Receiver disaat yang bersamaan apabila tim membutuhkan tenaga ekstra. Rute lari tidak ditentukan jadi bisa saja Tight End berlari ke sisi yang berlawanan dimana lawan tidka menjaga daerah tersebut atau malah sebaliknya, tergantung situasi.
Ketiga, Karin akan menggunakannya apabila benar-benar terdesak. Quarterback akan membawa lari bola tersebut tanpa melakukan passing, atau biasanya disebut QB Draw. Tentunya masih banyak lagi kemungkinan yang terjadi nanti di lapangan.
Semua itu dicoba, baik oleh Karin maupun Unsui. Hingga tak terasa pagi sudah berganti menjadi siang, inilah salah satu momen yang ditunggu Kurita; memasak dan makan.
"Kurita-senpaaai!" -Mizumachi
"Percuma, dia tidak akan mendengar" -Julie
"Kenapa tiba-tiba Kurita jadi kurus?"-Andrea
"Masa sih?" -Sena
"Itu lihat!" -Andrea
Mereka berempat melihat Kurita yang asyik memasak masakan untuk makan siang. Tapi mereka sama sekali tidak melihat badan gigantis milik Kurita di dapur stadion, melainkan sosok lain yang berada di dapur.
"LOH KOK ISAMI ALDINI DISINI?" -Mizumachi
"SALAH LAPAK PAK, ISAMI ADA DI LAPAK SEBELAH!" -Hiashi
"OIYA MAAF" -Mizumachi
"Tolong jangan berisik." -Kurita
Sorot matanya berubah menjadi tajam kala merasa terganggu, orang yang saat ini berdiri dihadapan mereka berempat; adalah Kurita yang kita semua kenal. Badannya yang sangat gempal berubah menjadi badan yang proporsional dengan wajahnya yang juga ikut-ikutan proporsional.
Sena, Andrea, Julie, dan Mizumachi perlahan meninggalkan ruang dapur, berharap itu adalah mimpi. Sekitar 30 menit menunggu, akhirnya Kurita keluar dari dapur dengan membawa makanan yang sudah ia masak dengan segenap jiwa dan lemaknya yang sudah kembali setelah menghilang dan membuatnya menjadi seorang chef anime sebelah.
"Makanannya sudah siap!"
Aroma dari nasi dengan tambahan jagung sebanyak ¼ dari nasi, ditambah dengan chicken teriyaki lengkap dengan salad dan mayonnaise nya sudah menunggu Sena dan kawan-kawan untuk dicicipi. Kurita yang sudah kembali ke mode awal, dengan cepat ia mengambil nasi jagung, chicken teriyaki, dan salad dengan mayonnaise sebanyak yang ia bisa, mendaratkan badannya yang lelah karena memasak ke bangku terdekat. Terakhir, tentu saja makan-makan.
Menjadi seorang agen untuk klien yang sangat perfeksionis tentunya cukup membuat tenaga terkuras lebih banyak dari biasanya, beruntungnya sang klien selalu memberikan kebutuhan agen seperti dirinya. Mendapat penginapan hotel berbintang 5 sebetulnya sudah berlebihan, tapi karena ini adalah pemberian dari klien, mau tak mau harus dinikmati selagi menutupi identitas asli.
Singkat cerita, pada malam hari dimana kehidupan malam sudah mulai menyelimuti kota. Klien spesial itu meneleponnya disaat sai agen sedang menikmati semangkuk Niku Udon yang kenyal dan memiliki rasa yang tak terdefinisikan bagi si agen. Mau tak mau ia harus mengangkat telepon itu.
"Bagaimana? Rencana sudah dieksekusi?" -Klien
"Sudah, agen yang bertugas sudah mengatur semuanya. Tinggal tunggu saat Enma Fires datang ke Amerika." -Agen
"Aku tidak sabar memulai perang dingin ini." -Klien
"Anda harus bersabar tuan, kunci dari kemenangan adalah bersabar." -Agen
"Kata-kata Ieyasu Tokugawa dari Samu*ai Warr*ors ya?" -Klien
"Hehehe, begitulah" -Agen
"Ada benarnya juga. Yasudah, rencana selanjutnya tolong dieksekusi." -Klien
"Siap, 86!" -Agen
"Kamu kebanyakan nonton tv ya? Itukan serial kepolisian itu kan?" -Klien
"Hehehe, begitulah" -Agen
"Aku tunggu kabar baik darimu, Joe" -Klien
Percakapan singkat itu berakhir ketika Klien nya menutup telepon terlebih dahulu, dan si agen dengan inisial Joe itu kembali menyeruput kuah yang belum pernah ia cicipi seumur hidupnya menjadi seorang mata-mata bayaran.
Note: Rasanya judul chapter ini enggak sesuai sama jalan cerita ya? maafkanlah.. dan maaf juga baru bisa up karena dapet kerjaan buat ngisi waktu luang libur kuliah :v
Next Up - Chapter 3; Coincidence?
