EP 3 – Coincidence?


Menembus malam Atlanta yang indah, Sena dan Suzuna setelah sekian lama akhirnya bisa melakukan kencan lagi dengan tenang karena tidak ada waktu yang mengekang dua insan yang saat ini seperti membawa plang yang terikat dikepala bertuliskan AKU CINTA DIA.

Tapi situasi menjadi canggung karena tidak ada obrolan yang layak untuk diperbincangkan. Enma Fires gagal mendapat piala setelah tumbang dari tim tuan rumah. Lalu harus bagaimana?

"Kamu masih ingat foto-foto polaroid yang waktu itu aku kasih kan?" -Sena

"Yang kamu bilang dari kak Yuki?" -Suzuna

"Mmhmm" -Sena

"Kenapa?" -Suzuna

"Aku tidak menyangka ada yang mengabadikan momen itu, mone dimana kita sama-sama berlari demi menghindar dari kejaran wartawan aneh itu." -Sena

"Hihihi! Mengingatnya saja sudah bikin aku geli!" -Suzuna

Mereka berdua pun tertawa lepas setelah beberapa saat sebelumnya situasi yang tidak terduga terjadi di Stadion Sun Devil, tempat perhelatan pertandingan terakhir turnamen digelar. Saksi bisu dimana sebuah klub Universitas Swasta asal Jepang yang sedang mengais-ngais indentitas permainan American Football mereka yang masih berada di tahap trial-and-error tanpa tau arah dan tujuan yang ingin dicapai.

"Hei, lagu apa itu?" Tanya Sena menunjuk suara yang berasal dari jaket tebal Suzuna.

"Lagu ini? Dari tetangga sebelah.." -Suzuna

"Tetangga? Korea?" -Sena

"Mmmhhmmm" -Suzuna

"Enak lagunya?" -Sena

Suzuna membesarkan bola matanya, ia pikir Sena akan menghardiknya habis-habisan karena menyukai oppa yang tampan dari negara tetangga sebelah.

"Kamu gak ngejek kan?" -Suzuna

"Untuk apa? Selera orang bermacam-macam, tidak perlu disama ratakan kan? Lagian, musik itu universal" -Sena

Dari situlah sisi fangirl Suzuna terpelatuk untuk meracuni Sena yang masih awam dengan dunia dimana sekali terjerat, akan sulit untuk keluar.

"Kamu harus dengerin ini!" -Suzuna

Suzuna menyodorkan handphone miliknya beserta earphone yang masih menempel pada lubang telinga Suzuna, dan ia memutar lagu yang berjudul DAY*6 – I*Smile karena saat ini itu adalah lagu favoritnya.

"Whoaa enak! Ada koreografinya?" -Sena

"Eh? Mereka itu band tau!" -Suzuna

"Mmmhhmmm, Masih enak produk lokal" -Sena

"Hihihi, aku tidak akan berdebat soal itu" -Suzuna

"Aku lapar" -Sena

"Sama" -Suzuna

"Makan di kedai itu yuk!" Sena menunjuk kedai dengan lampu yang terang benderang, menegaskan bahwa makanan yang ditawarkan memiliki karakteristik yang kuat; tidak bisa dilupakan.


"MoU baru ditandatangani setelah Enma Fires berangkat ke Amerika untuk mengikuti HP Cup, tapi yang menjadi pertanyaan. Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak saat Enma Fires kesana baru tandatangan? Kan perlu ada pihak yang disponsori, ini kenapa malah saat mereka pergi, staff dari HP pusat baru datang?" pikir Hiruma dalam hati.

Berbagai macam rencana yang Hiruma coba susun dengan sedemikian rupa, sesaat harus berhenti bergerak karena ada hal yang harus ia selesaikan dengan kepala dingin. Walaupun ia tau itu tidak akan berjalan dengan baik; menyelesaikan urusannya bersama Malaikatnya.

"Mamori, aku mohon dengan sangat.. tolong rahasiakan ini.."

Sudah kesekian kalinya Hiruma memohon kepada Mamori. Keduanya sangat sadar, apabila Hiruma memohon sesuatu yang tidak berhubungan dengan American Football, selalu saja ada masalah serius yang timbul.

"Tapi.."

Mamori ingin menahan Hiruma pergi untuk fokus pada Saikyoudai, namun rasa cinta yang sudah mendarah daging itu membuatnya buta.

"this is my battlefield"

Dengan suara lirih Hiruma mengucapkan kata-kata yang tidak ingin ia katakan di ruang klub Saikyoudai Wizard. Ia sendiri juga tidak yakin dengan keputusan itu, tapi ada dorongan yang kuat untuk melakukannya. Sudah naluriah Hiruma merespon dorongan itu.

"Aku cuman tidak mau kamu seperti dulu lagi"

Sekali lagi, akhirnya Mamori menerima keputusan sepihak itu. Manajer Saikyoudai itu terhenyak. Ingin rasanya ia menangis kembali, meminta Kami-sama untuk memutar ulang waktu dari sedia kala, pasti semua ini tidak akan terjadi.

"Maaf"

Hiruma dengan perlahan mendekap Mamori dengan lembut. Dekapannya mengundang air mata untuk melintas, satu persatu berjalan dengan pasti seperti sudah diseleksi oleh alam. Momen itu berlangsung cukup lama, karena bisa jadi ini adalah pertanda bahwa petualangan yang terlukis oleh takdir akan sampai pada akhir cerita.

Mereka berdua pada akhirnya tidak dapat melepaskan pelukan, kedua bibir mereka lalu saling bertemu. Bibir mereka juga enggan melepas cengkramannya. Aliran air mata pun tidak bisa lagi ditahan oleh mata keduanya, baik oleh Sang Komandan Setan maupun Sang Malaikat Terindah di ruangan yang sudah dianggap sebagai ruangan sakral oleh keduanya.


Malam itu, trio pendek Enma Fires; Sena, Monta, dan Riku. Memutuskan untuk menginap sekaligus mengerjakan tugas kuliah di apartemen Sena yang terlampau luas untuk ukuran mahasiswa yang tinggal sendiri.

Satu jam berlalu dan semua tugas yang diberikan oleh dosen satu persatu terselesaikan. Monta yang seperti sudah gelisah, beranjak dari tempat duduk dan membuka kulkas untuk mengambil kudapan yang bisa dilahap olehnya.

Monta mengambil ore*o dengan rasa pisang bersama dengan segelas susu hangat hasil racikan tangan emasnya.

"Pisang lagi pisang lagi.." sahut Sena dan Riku secara bersamaan tanpa menandang ke arah Monta yang sudah kembali ke tempat duduknya, kembali mengumpulkan niat mengerjakan tugas yang mengambang di angkasa. Hingga akhirnya Monta malah bertanya hal lain yang tidak ada kaitannya dengan tugas. "Sena, kamu tidak takut ya?"

"Takut kenapa Monta?" -Sena

"Soal kemarin.." -Monta

"Iya, aku heran kenapa kamu masih bisa bersikap biasa saja. Tidak ada rasa haus untuk menjadi yang terbaik, ataupun gelisah karena berbagai alasan yang menghalangi untuk merealisasikan mimpi yang kamu inginkan" -Riku

"Begitukah? Aku pikir malah jangan terlalu dipikirkan, nanti menjadi beban" -Sena

"Bagaimana kalau.." -Riku

"Riku, sudahlah. Tidak perlu dipikirkan, lebih baik selesaikan tugas ini." -Sena

"Sena, ini bagaimana mengerjakannya?" -Monta

"Tanya Riku" -Sena

Pada akhirnya andalan receiver Enma Fires itupun bertanya mengenai mata kuliah yang ia tidak mengerti pada RunningBack berambut perak itu.

"Lihat catatanmu, ada penjelasannya tinggal diikuti" Dengan ketus Riku merebut buku catatan milik Monta dan mencari-cari halaman yang ia maksud, lalu setelah ia temukan langsung diberikan pada Monta dengan telunjuknya masih menempel pada bagian yang Monta maksud.

"Ah! Kamu benar!" -Monta

"Makanya jangan hanya makan pisang, Monta perlu kita ajak ke kantin tempat ibu-ibu yang menjual Gyudon!" -Riku

"Aku setuju!" –Sena

Malam itu, hanya pernyataan sederhana mengenai Gyudon-lah yang dapat menyatukan Sena dan Riku setelah kekalahan yang mengejutkan beberapa hari yang lalu.

"Ah, aku ada pertanyaan! Tolong dijawab." –Monta

"Hai(?)" –Sena & Riku

"Nama aslinya Julie itu Juri Sawai kan?" Tanya receiver #80 itu dengan polos. Baik Sena dan Riku yang awalnya serius mendengarkan dimana mereka berdua mengira akan mendapat pertanyaan mengenai tugas, ekspresi keduannya seketika berubah drastic menjadi acuh tak acuh dengan teman mereka yagn satu itu.

"Gak penting, silahkan kembali kerjakan tugasnya dengan baik, saudara Raimon Taro" Jawab Sena dengan ketus tanpa mengalihkan pandangannya pada layar laptop yang ia dapat dari hasil menang undian.


Suara pisau yang memotong bahan makanan di dapur menjadi suarau yang dominan ditengah proses memasak seorang Sena dalam menyiapkan sarapannya di pagi hari. Ia membuat 2 omelet dengan isian jamur, bayam, alfalfa sprouts, dan lelehan keju. Beruntung hari ini adalah jadwal libur kuliah dan latihan sehingga Sena bisa bersantai di apartemen miliknya dengan menyaksikan pertandingan NFL musim terbaru.

di tengah serunya pertandingan, handphone Sena berdering. "Siapa yang mengganggu waktu liburku?" Tanya Sena yang menatap layar handphone miliknya, kemudian tanpa ragu mengangkat panggilan telepon tersebut.

"Tumben kak Hiruma menelpon, ada apa?" -Sena

"Cebol, aku dengar Enma Fires akan pergi ke Amerika? Apa itu benar?" -Hiruma

"Kak Hiruma, kok jadi pakai bahasa formal sih?" Tanya Sena yang sedikit bingung dengan tingkah kakak kelasnya dulu itu yang tak pernah bisa ia pahami apa yang ada di dalam pikirannya.

"Jawab aku Cebol!" -Hiruma

"Baik baik! Iya kami akan pergi ke Amerika, memangnya kenapa?" -Sena

"Oh, tidak apa-apa. Aku hanya ingin bertanya" -Hiruma

"Harusnya kak Hiruma tak perlu bertanya, bukankah kak Hiruma ada banyak agen tersembunyi?" -Sena

"Oi.." -Hiruma

"Sampai nanti!" Tutup Sena pada percakapan mereka kali ini. Hiruma hanya menatap layar handphone nya, ingin tertawa dengan perkataan Sena namun Hiruma seperti lupa bagaimana caranya ia tertawa lepas. Kenapa semua orang percaya bahwa Hiruma memiliki begitu banyak agen rahasia? Padahal itu hanya karangannya sendiri.

Memang benar Hiruma saat ini membawahi beberapa agen rahasia, tapi tidak sebanyak itu. Tidak mungkin juga ia menyuruh agen rahasia untuk menjaga rekan-rekan lamanya di Deimon Devil Bats 24 jam.

"Ah sudahlah" lalu Hiruma menelisik berita yang baru saja diterbitkan di situs berita langganannya. Dari judul beritanya saja sudah membuatnya tidak berminat untuk menelusuri berita itu, tapi hati berkata lain. Tangan itu meluncur dengan gesit melihat berita itu.

"Eh? Clickbait sekali. Tapi.."

Apa yang baru saja Hiruma baca, tidak bisa membuatnya berpikir jernih lagi. Sekali lagi, ia harus berpikir diluar nalar untuk memahami berita itu.

"UKM Sepakbola dan American Football Enma dan Hewlett-Packard belum menandatangani kesepakatan kontrak terkait dengan sponsor. Dari data kemarin, belum masuk database yang diberikan si Honjo itu. Tapi kenapa sekarang? Mereka mencuat di media dan melakukan penandatanganan kontrak hanya dengan UKM Sepakbola tanpa ada satu orang dari pihak Enma Fires selaku tim lain yang disponsori?"

Melayang kesana-kemari, menerawang korelasi untuk mendapat kesimpulan dari permasalahan-permasalahan yang ada. Untuk berjaga-jaga, Hiruma menghubungi Honjo terkait dengan berita yang baru saja dibaca.

Percakapan terjadi antara Hiruma dan Honjo terkait Enma Fires yang akhir-akhir ini disorot habis oleh wartawan olahraga jepang, bahkan luar negeri. Hingga pada suatu titik, nada bicara Hiruma berubah 180 derajat.

"HAAH?! JANGAN BERCANDA!"

Hiruma berteriak dengan kerasnya tanpa peduli dengan sekitar. Perbincangan dengan Masaru Honjo membuat Hiruma semakin yakin, bahwa memang benar ada yang bertanggung jawab atas semua rentetan kejadian ini.

Hewlett-Packard menjadi sponsor Enma Fires hanya karena didasarkan oleh alumni yang baru bekerja beberapa tahun di perusahaan tersebut, kalah melawan Zokuto Blizzard dengan tidak wajar, pembunuhan di dekat stadion pertandingan Saikyoudai Wizard, undangan dari pihak sponsor yang belum sah secara hukum, hingga tidak ada surat pengajuan resmi dari Hewlett-Packard yang masuk ke asosiasi pusat hingga terakhir ia menghubungi Honjo barusan.

Butuh waktu untuk Hiruma menarik kesimpulan yang berujung pada pertanyaan terbesarnya.

"Apa jangan-jangan, memang dari awal kontrak untuk Enma Fires itu tidak ada?!"

Komandan Setan itu lantas mencoba menghubungi orang yang ia percaya di Amerika. Tak butuh waktu lama untuk orang itu menjawab panggilan darurat dari Hiruma.

"Halo, bocah!" -Hiruma

"Sudah kubilang aku bukan bocah, Sensei…"


Hewlett-Packard Cup, ajang American Football pertama yang diselenggarakan oleh perusahaan teknologi asal Negeri Paman Sam tersebut. Yang mempertemukan tim-tim Universitas yang telah disponsori lansung oleh perusahaan berlogo biru bulat dengan tulisan HP terpampang didalamnya.

Ditengah persiapan turnamen yang sebentar lagi rampung, di sebuah ruangan stadion sedang terjadi adu mulut antara 2 pemain mega rookie NFL.

"Totalitasmu berlebihan Don" kata Clifford dengan menatap serius kawan lamanya itu.

"Terserah kamu mau berkata apa Clifford, ini demi negara" ujar Don layaknya seorang penjahat berdasi yang sangat senang bersilat lidah.

"Ini bukan saatnya kau untuk berlaku sesukamu dengan mengatasnamakan negara seperti para politikus bang**t itu!" *BRAK!* Clifford menggebrak meja yang berada didepannya dengan tangan kirinya dan berteriak, "Ini konyol!"

"Lebih konyol lagi bahwa mantan rekan satu tim dan mega bintang rookie NFL tidak mendukung keinginan yang mulia ini" balas Don dengan dingin sembari menatap layar laptop tanpa melirik Clifford yang sedang berada di dalam ruangan.

"Mulia? MULIA KATAMU!? Kau sudah buta, sejarah biarlah seperti itu. Kita hanya perlu membuatnya lagi dengan tangan kita!" Teriak Clifford dengan menunjuk-nunjuk Mr. Don yang enggan beranjak dari kursi kesayangannya.

"Justru aku sedang membuat sebuah sejarah baru" Don berkata demikian seraya melepaskan tatapannya ke layar laptop untuk melihat reaksi wajah kawan lamanya itu.

"Tapi bukan seperti ini!" lirih Clifford, yang sudah tidak habis pikir lagi untuk apa seseorang membalas dendam dengan repot-repot membuat turnamen American Football demi mengalahkan segelintir pemain yang kebetulan berada dalam tim yang sama.

Pembicaraan mereka yang sudah tidak bisa diluruskan lagi, membuat Clifford keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Don yang menyeringai dengan tingkah laku Quarterback timnas Amerika yang digadang-gadang akan melebihi seniornya di tim yang saat ini Clifford bela.


Next Chapter; EP 4 – The Tournament


Akhirnya update setelah sekian lama! *yeay*
Terimakasih sudah menunggu, tapi tidak janji juga kapan bisa update :(