Harry Potter © J. K. Rowling
Magical Heart © prof. creau
Warning: BL, OC, OOC, bad EYD, No War! (dan di sini mz Tom ikut main wkwk) aaand don't like don't read~
.
Hermione menyenggol bahu tunangannya, Ronald Weasley. Ia beri isyarat untuk mengatakan sesuatu kepada Harry. Biar bagaimanapun Harry sudah berada di depan perapian seharian penuh. Sarapan maupun makan malam juga tak tersentuh. Ah, Harry mereka kini sedang bersedih—siapa juga sih yang tidak sedih jikalau kehilangan anak pertama yang telah ditunggu-tunggu selama enam bulan penuh?
"Harry…"
Panggilan Ron hanya angin lalu. Emerald itu terus saja memandang api merah-oranye yang meluap-luap, menghasilkan panas, memberi kehangatan. Akan tetapi, sehangat apapun ruangan itu, tetap saja Harry merasa dingin… tanpa adanya jiwa lain yang dulu singgah di perutnya. Ron dan Hermione tidak tega melihat sang sahabat yang tengah kacau. Sudah sebulan Harry bersikap seperti ini.
"Harry, Draco bilang kau belum makan sejak kemarin…" Harry diam. Kalau bisa tidak makan sebulan penuh pun Harry juga ingin mencobanya, tapi Draco dan kedua orang tuanya tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ron memanggil Dobby dan meminta peri rumah itu untuk mengambilkan makanan untuk Harry. "Setidaknya, makanlah tiga atau empat suap, mate." Bujuk pemuda bersurai merah itu. Oh tidak, bukannya Draco sudah lelah membujuk Harry, hanya saja pria aristokrat itu sedang sakit. Kedua pasangan ini seperti tidak punya kehidupan. Harry yang kecewa dan sedih karena kehilangan anak pertamanya yang bahkan belum lahir juga Draco yang rasanya sedang mengikuti jejak Harry.
"Ron, aku akan makan kalau sudah lapar."
Hermione meledak. Suaranya seperti banshee yang mengamuk. "KAMU TIDAK AKAN MERASA LAPAR! YANG ADA HANYA KESEDIHAN! HARRY, KAMI SANGAT KHAWATIR!" wajahnya memerah karena amarah. Ron menepuk bahu tunangannya pelan.
"Kau benar, Mione… aku tidak akan merasa lapar. Biar saja aku mengikuti langkah anak—"
"HARRY!" kali ini Ron yang meledak. Hermione memijit pelipisnya. Hal ini tidak boleh berlanjut.
Atau Harry benar-benar akan kehilangan kewarasannya dan lompat dari salah satu gedung pencakar langit di jalanan kota muggle.
Atau Harry akan mengubur dirinya hidup-hidup untuk menemani anak malangnya.
Atau Harry akan menegak ramuan Paman Sev yang berbahaya.
Atau Harry akan mencoba sihir hitam dan menggunakannya pada diri sendiri.
Ah, yang manapun sama-sama buruk. Harry yang malang hanya bisa meratapi nasibnya.
Narcissa yang melihat menantunya hanya menghela napas. Kristal bening tertahan di pelupuk matanya. Harusnya tidak seperti ini. Harusnya Harry dan Draco sedang menghias kamar anak mereka dengan senyuman lebar. Harry ingin kamarnya berwarna merah dan Draco menolak keras. Katanya terlalu gryffindor. Pilihan warna Harry teramat rasis. Ketika Draco memilih warna hijau, giliran Harry yang menolak. Kata Harry itu terlalu kuno dan menyeramkan (dan slytherin, Draco juga rasis sesungguhnya).
Wanita paruh baya itu menatap suaminya yang berdiri kaku di samping. Diantara semuanya, Narcissa berpikir bahwa Lucius lah yang menantikan kehadiran anak pertama keluarga Malfoy itu lahir. Diam-diam pria itu sudah membelikan kuda poni, disembunyikan dengan rapi tanpa ada yang tahu, tapi Narcissa dapat mengendus perbuatan manis suaminya. Pria itu tetap bertampang teguh, seakan tidak pernah terjadi apa-apa.
Suara ketukan tongkat beradu dengan langkah kakinya yang elegan. Lucius Malfoy berdiri tepat di depan Harry yang tengah duduk tanpa ekspresi. "Son…" ucap pria itu. Harry mengangkat kepalanya sedikit untuk menatap manik abu-abu yang persis dengan milik suaminya. "kemasi pakaianmu, kurasa kau dan Draco butuh…" jeda sebentar. Lucius Malfoy memikirkan kata-kata yang tepat. "…lingkungan yang menyejukan untuk menjernihkan pikiranmu."
"Ayah, kau tidak perlu—"
"Berangkatlah dengan Draco sore ini, sepertinya demamnya sudah lebih baik."
"Ayah—"
"Kami akan menyusul besok."
Tepat pukul enam sore Harry dan Draco telah berada di salah satu villa milik keluarga Malfoy. Lokaisnya berada di sebuah pegunungan. Ada air terjun di ujung jalan setapak itu. Sungai yang masih jernih dan sejuk mengalir di sepanjang jalan setapak. Matahari yang akan tenggelam membuat keadan sedikit gelap. Draco menggandeng lengan Harry untuk memasuki villa. Harry menyandarkan kepalanya pada lengan Draco.
Villa ini tidak berada dalam tempat terpencil. Tidak dipasang sihir anti-muggle—sengaja dilepas oleh sang empunya villa supaya Harry dan Draco mengetahui keadaan sekitar, buat suasana tidak seperti kuburan yang sepi. Tidak apa-apa muggle-muggle itu berseliweran dan bahkan memasuki pekarangan villa yang luas itu. Toh memang sengaja supaya pasangan yang dilanda kesedihan itu bisa berbaur.
"Bunda, aku tidak pernah lihat rumah itu atau sebenarnya memang ada?"
"Mungkin yang tinggal di situ itu penyihir…"
Seketika Harry dan Draco yang tengah berjalan memasuki pekarangan berhenti sejenak. 'Setajam itu kah insting muggle jaman sekarang?' pikir mereka. Tidak jauh dari tempat mereka berdiri ada sekumpulan anak-anak dan seorang wanita tua yang berjalan berlawanan arah dari villa itu.
"Apa sih? Si Freak itu kalau ngomong suka gak jelas."
"Menjauh dari Bunda, Freak! Kau selalu memonopoli Bunda!"
Harry melihat ke belakang sekilas. Sekumpulan anak-anak yang berdiri tak berdosa itu membuat Harry resah, membuat Harry teringat akan anaknya yang belum lahir—tapi nyawanya langsung direnggut begitu saja dalam sekejap mata.
"Sssh, Harry, love, ayo segera ke dalam. Bukan kah di luar itu dingin." Draco coba tenangkan suaminya. Iya, benar. Di luar memang dingin dan anak-anak itu tidak memakai pakaian hangat, hanya beberapa lapis pakaian untuk membuat mereka tetap hangat. Tak ada mantel ataupun jaket. Hanya pakaian yang warnanya sudah pudar dengan beberapa jahitan di sana-sini. Secara fisik yang sedang kedinginan itu sebenarnya anak-anak itu…
Harry dan Draco kembali berjalan.
"Tuan…"
Pasangan itu menoleh ke belakang, dimana suara itu berasal, tapi hasilnya negatif. Mereka tak menemukan siapapun.
"Tuan!" suara yang dinaikan satu oktaf lebih tinggi itu baru menyadarkan Harry dan Draco bahwa yang memanggil itu memang berada di belakang mereka… di bawah lebih spesifiknya. "Sepertinya kalian menjatuhkan ini." Ujar seorang anak perempuan dengan kardigan merah tua. Sebuah cincin emas putih dengan lambang keluarga Malfoy yang diukir dengan elegan berada di tangan anak itu.
Harry memegang jari manisnya. Ah, ia tersadar bahwa cincin miliknya yang menghilang. Sepertinya cincin itu terlepas di jarinya begitu saja. Tubuh Harry semakin kurus semenjak kematian anaknya. Hanya makan sesuap dan itu juga dipaksa. Tidur sebentar karena pikirannya tak bisa berhenti memikirkan anaknya, biasanya ketika ia memikirkan kembali anaknya, tangannya akan refleks mengusap perutnya yang telah rata.
Merasa tak ada respon dari kedua pria dewasa di hadapannya, anak itu memberi inisiatif dengan mengambil tangan Harry dan memasukan kembali cincin itu ke tempat dimana seharusnya. Jari manisnya kini tidak kosong lagi. Cincin itu terpasang. "Semoga hari kalian menyenangkan, Tuan-tuan."
Anak itu kembali berjalan bersama teman-temannya dan seorang wanita tua yang dipanggil 'Bunda'.
"Anak yang baik." Pasangan itu kembali berjalan menuju villa.
.
.
Pagi yang sepi, Harry bangun lebih awal ketimbang Draco. Walaupun demam Draco sudah turun, ia masih membutuhkan banyak istirahat. Biar bagaimanapun mengurusi orang yang dilanda depresi bukan hal yang mudah. Minggu-minggu awal pasca Harry keguguran adalah neraka. Draco yang pada dasarnya merasa sedih, harus mengurus Harry juga yang teramat kacau. Setiap malam Harry akan terbangun dari mimpi buruk dan Draco harus mencari cara untuk membuatnya tenang.
Harry mengelus surai pirang suaminya. Berkata 'Maaf' dalam hati tidak akan bisa membayar semua yang telah Draco lakukan padanya. Draco suaminya yang baik, sementara ia tidak. Menjaga bayi yang belum lahir selama sembilan bulan saja ia tidak bisa, bagian mana dari dirinya yang pantas disebut 'baik'?
Harry beranjak dari kamar dan memakai mantelnya. Jalan-jalan di pagi hari mungkin bisa menjernihkan pikirannya, seperti yang sering dikatakan Narcissa, 'Harry sayang, udara segar bagus untukmu dan malaikat kecil di dalam. Setelah mencari udara segar, jangan lupa minum air, tubuh kalian memerlukan banyak cairan.'
Deg—
Harry gelengkan kepalanya.
Hari ini ia harus menyambut pagi dengan senyuman, bukan air mata.
Harry menyusuri jalan setapak. Emerald yang indah itu menatap sekeliling. Ada sekelompok anak di dekat pohon besar itu. Berapa usia pohon itu? Lima puluh? Enam puluh tahun? Berbagai bunga liar tumbuh di sekitar. Anak-anak perempuan menyusun bunga-bunga yang telah dipetik menjadi mahkota. Melihat anak-anak yang sedang bermain itu membuat Harry mengusap perutnya—ah, tidak, ia tidak boleh begini!
"Lihat mereka, begitu senang cuma karena beberapa tangkai bunga yang disusun." Harry berjengit ketika mendapati anak yang kemarin sedang berdiri di sampingnya.
"Merlin's beard! Kau mengagetkanku!" tangan Harry yang semula mengusap perutnya kini berpindah ke dada.
"Maafkan aku, seharusnya aku memberi salam terlebih dahulu. Bunda pasti menasihatiku sampai sejam hanya karena aku lupa memberi salam. Well," tangan kanannya terangkat, seperti ingin menjabat. Harry yang mengerti maksudnya segera mengangkat tangannya dan menjabat tangan anak itu. "Good morning, Sir."
Harry tersenyum kecil. Untuk mengucapkan selamat pagi saja gaya mereka layaknya orang kantoran yang hendak berbisnis. "Good morning to you too."
Anak itu balas dengan senyum bisnis. "Maaf karena sudah mengagetkan. Sebagai gantinya aku akan beri ini." Ia lepas jabatan tangan ala bisnisnya. Dari sakunya ia mengeluarkan bunga liar berukuran kecil dengan warna yang sama dengan rambut keluarga Weasley.
"Oh, tidak perlu repot-repot—"
"Tuan menolak bunga ini? Kenapa? Kecil, ya? Atau Tuan menginginkan mahkota bunga juga?"
"Tidak, tidak, tidak, bukan begitu. Aku menerimanya." Harry mengambil bunga itu dan setelah itu tak ada percakapan sama sekali. Mereka berdua hanya melihat pohon yang besar itu. "Jadi, kau tidak bergabung dengan teman-temanmu?"
"Jadi Tuan menginginkan mahkota bunga juga?"
"Bu-bukan seperti itu maksudku. Aku hanya penasaran kenapa kau tidak bermain dengan teman-temanmu. Kau tidak perlu membuatkan mahkota bunga, aku tidak ingin merepotkanmu tentu saja."
"Wah, kalau pertanyaan seperti itu aku bingung menjawabnya. Setahuku mereka tidak ingin aku dekat-dekat dengan mereka karena aku… menyebalkan? Aneh? entahlah—makanya aku tidak bisa buat mahkota bunga untukmu, Tuan, yah selama ada mereka tentu saja." Anak itu menatap teman-temannya yang menyusun bunga, sedang ia hanya melihat, tak bisa mendekat.
Harry mengernyitkan dahi. Ia juga pernah mengalami hal serupa. Dulu sekali, ketika ia masih tinggal dengan keluarga Dursley, ketika ia memasuki taman kanak-kanak, ia memiliki harapan bahwa tidak semua anak-anak memiliki perangai seperti Dudley yang tidak segan untuk memukul pipinya dan menyebar kebohongan bahwa ia anak aneh. Namun, ketika ia berada di kelas. Semua anak nampak sama. Mereka seperti Dudley.
Mereka bilang Harry anak yang aneh karena sering sekali kejadian aneh terjadi di sekelilingnya. Menara air yang tiba-tiba meledak dengan sedirinya, akuarium yang pecah ketika Harry menangis, pintu yang tertutup sendiri karena Harry tidak ingin berjumpa dengan para guru. Overall, semua terjadi karena sihir—
—astaga!
Harry melebarkan matanya.
"Tuan, aku mau pulang. Tidak boleh melewatkan apple pie buatan Bunda. Have a nice day, Sir."
'Apa mungkin anak itu muggleborn?'
Tap!
Harry memekik tatkala seseorang menepuk pundaknya.
"Harry!" Draco terengah-engah. Ia nampak habis berlari, tapi Draco bukan orang yang menghabiskan paginya dengan jogging. "Love, aku khawatir. Kau tiba-tiba saja menghilang!"
"Draco, aku tidak menghilang, hanya jalan-jalan sebentar. Aku tidak ingin membangunkanmu." Dilihatnya Draco yang hanya memakai baju tidur tipis. 'Setelah bangun pasti ia langsung mencariku dan lupa pakai mantel.' Batin Harry.
"Jangan lakukan itu lagi. Aku khawatir kau tidak ada di kamar—tidak ada di villa dan sebaiknya kita kembali. Udara dingin ini sedikit menyiksaku." Draco melingkarkan tangan kirinya pada pinggang Harry. "Mungkin kau bisa menghangatkanku, hmm?" bisik Draco di telinga Harry yang kini mulai merah.
"A-aku bi-sa membuat coklat panas untukmu, Draco." Sudah lama ia tidak berinteraksi seperti ini dengan Draco. Biasanya ketika Draco menemui Harry, pria itu hanya akan menyuruhnya makan dan istirahat. Harry tidak akan mendengarkan nasihat Draco dan terus saja berkabung dan lambat laun Draco juga mengikuti jejak Harry.
"Aku ingin yang lebih manis dari coklat panas." Tangan Draco berpindah ke paha Harry, membuat muka Harry sangat merah.
"Memang ada yang lebih manis dari coklat panas?" pertanyaan polos dari seorang anak perempuan membuat pasangan itu menjauhkan diri. Semoga saja anak itu tidak melihat perbuatan tidak senonoh Draco. Hah! Pria aristokrat itu memang tidak pandang waktu dan tempat jikalau menggoda Harry-nya.
Draco berdehem. "Bukankah tidak sopan ketika bertemu seseorang dan tidak menyapa terlebih dahulu?"
"Astaga! Tentu saja!" anak itu mengulurkan tangannya sama seperti ketika ia ingin menjabat tangan Harry. Draco hanya mengernyit dan memperhatikan tangan kecil anak itu. Sesungguhnya, ia tidak mengerti maksud anak ini.
"Pfft—"
Draco dan anak itu menatap Harry yang menahan tawa. Harry tutup mulutnya dengan punggung tangan. "Ada yang lucu, Mr. Malfoy?" Tanya Draco. Ada sedikit rasa kesal karena Harry terlihat sedang menertawai dirinya, tapi semua itu tertutupi oleh rasa senang karena untuk pertama kalinya dalam dua bulan ini Harry tertawa, menunjukan emosi lain selain berkabung.
"Maaf, maaf. Aku tidak ada maksud untuk menertawaimu."
"Kau baru saja mengungkapkan apa yang telah kau lakukan."
"Apa? Aku? Tidak—"
"Mencoba mengelak, Mr. Scarhead?"
"Aku tidak mengelak, ferret."
"Oh, tentu saja, kau tidak mengelak. Kau kan selalu benar karena kau adalah Saint Potter."
"Kukira namanya Malfoy? Tuan tadi memanggilnya Malfoy."
Mendadak hening.
"Namanya yang sekarang adalah Malfoy. Potter adalah nama gadisnya."
"Hei!"
"So… Tuan ingin menerima jabatan tanganku atau tidak?" tangan anak itu masih terjulur, bahkan setelah perdebatan kecil itu selesai.
"Oh iya, maksud anak itu ia ingin berjabat tangan… dalam memberi salam." Kata Harry meluruskan. Melihat Draco yang tidak mengerti tindakan anak kecil itu membuatnya ingin tertawa lagi.
Ah, sekarang Draco mengerti, walau sebenarnya agak berlebihan karena harus berjabat tangan untuk sekedar memberi salam. Ia menerima uluran tangan anak itu dan mereka berjabat tangan. "Good morning, Sir." Kata anak itu dan Draco juga membalas sapaannya. "Maaf karena telah mengejutkan…"
"Tidak perlu minta maaf, Draco memang berlebihan."
"…dan maaf juga karena melihat hal yang anak kecil tidak boleh lihat."
Pats!
Kedua orang dewasa itu memiliki pipi yang kemerahan sekarang. Kenapa anak-anak bisa mengatakan hal seperti itu? Apa ia mengerti maksud tindakan Draco yang mera—oh, lupakan! Harry menatap Draco dengan pandangan 'ini-salahmu-Draco' dan Draco membalas pandangan Harry dengan 'ini-salahmu-yang-sangat-irresistable-yum' disertai seringai khas Malfoy-nya.
Harry pukul pundak Draco. Bisa-bisanya Draco menggodanya lagi di depan anak kecil.
"Uhum," anak itu berdehem lucu karena ia ingin terlihat seperti seorang businessman tapi gagal. Hal ini membuat pasangan itu sadar bahwa masih ada anak kecil di bawah sini. "Lama-lama aku seperti obat nyamuk di sini. Perdebatan kalian, seperti pasangan yang baru menikah."
Draco tidak tahu pasti apa itu obat nyamuk dan apa yang sedang diumpamakan ucapan anak itu, tapi yang pasti ia jadi malu sekali kalau ketahuan sedang menggoda Harry-nya. Harry yang sama malunya dengan Draco segera mengalihkan topik pembicaraan. "Bu-bukannya kamu ingin makan apple pie, hmm? Kenapa kembali lagi?"
"Oh iya! Bunda suruh aku untuk memanggil mereka." Anak itu menunjuk sekumpulan anak yang sedang menyusun bunga. "Aku tidak boleh memakan apple pie sendirian, katanya."
'Polos sekali anak kecil, perhatiannya mudah teralihkan.' Kata Draco dalam hati.
"Tadi Tuan ini belum menjawab pertanyaanku, apa yang lebih manis dari coklat panas?"
"Sepertinya kau harus segera memanggil teman-temanmu, sebelum apple pie-nya dicuri goblin." Ujar Draco cepat seraya mengarahkan anak itu untuk menghampiri teman-temannya. Ia harus menarik kembali ucapannya. Mereka tidak mudah untuk dialihkan perhatiannya.
"Tapi Tuan belum jawab pertanyaanku—dan goblin tidak akan mencuri apple pie karena dia kaya dan tampan! Aku harus jadi pengantin goblin!"[1]
"Ayo, cepat-cepat jemput teman-temanmu!"
"Baik, Tuan, baik. Tidak perlu mendorongku!"
Ketika anak itu menjauh, Draco segera menggandeng tangan Harry kembali ke villa. Sesekali Draco menatap ke belakang, mengira-ngira apakah anak itu akan mengikuti mereka. Setelah sampai di dalam villa, Draco menghembuskan napas lega. Harry tertawa kecil dan Draco mendengarnya.
"Happy now, Mr. Malfoy?"
"Haha—yes, of course."
"Kemari kau!" Draco menggelitik Harry hingga Harry-nya tersayang menyerah. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak seperti ini. Saran dari ayahnya memang tepat untuk menjernihkan pikiran di sini.
.
.
Besoknya mereka mendapat fire call dari Narcissa bahwa Lucius harus menghadiri pertemuan di Perancis sore ini. Narcissa sebagai istri tidak ingin membiarkan Lucius pergi sendiri. Apalagi Lucius juga masih agak kacau mengenai gagalnya ia menjadi kakek.
"Tak apa, Ibu. Kalau bisa ajak Ayah ke tempat romantis di Perancis, bukan cuma aku dan Harry yang butuh liburan."
"Sampaikan salamku untuk Harry, Draco."
Panggilan ditutup setelah Narcissa mengucapkan sampai jumpa.
Suara panci yang beradu dengan sendok sayur menjadi irama siang ini. Wangi masakan Harry hingga ke ruang utama. Semenjak tiba di sini, Harry memang selalu memasak dan ia juga selalu menolak untuk mengisi perutnya. Ia bilang tidak lapar dan kembali ke kamar. Menyisakan Draco yang menatap meja makan dengan tatapan kosong. Harry hanya melaksanakan kewajibannya karena sesungguhnya Draco tidak bisa memasak. Ia tidak tega melihat suaminya itu kelaparan.
Akan tetapi, melihat tingkah Harry yang belum berubah membuat Draco kehilangan nafsu makannya. Draco pikir Harry akan berubah. Padahal kemarin mereka tertawa ria—hanya karena pertanyaan polos anak-anak.
Makan siang sudah terhidang. Harry mengambil dompet dan keluar dari villa. Ia bilang ingin membeli persedian makanan dan roti gandum mereka habis. Ia juga menolak ketika Draco ingin mengantarnya. Draco menghela napas panjang, siapa juga yang mau makan kalau suaminya sendiri tidak mau makan. Ia memutuskan untuk kembali ke perpustakaan, mengisi pikirannya dengan buku ramuan tua yang belum sempat ia baca.
Ketika di perjalan pulang setelah belanja, kantung plastik Harry robek, membuat jeruk-jeruk segar itu bergelindingan di jalan setapak yang sepi. Ingin rasanya ia menyihir kantung yang robek itu. Tangan kanannya menaruh belanjaan agar ia bisa mengambil tongkat sihirnya—
"Tuan Malfoy, jeruk-jeruk Anda bergelindingan."
—hampir saja ia mengeluarkan tongkat sihirnya. Ia kira hanya ada dia seorang di jalan yang sepi ini. Anak yang ia temui kemarin nampak mengumpulkan jeruk-jeruk yang belum berhenti bergelindingan itu. Ia memeluk tujuh buah jeruk dan memasukannya ke dalam tas selempang lusuh yang ia kenakan. Harry juga ikut mengumpulkan jeruknya tentu saja. Setelah semua terkumpul, barulah ia berterima kasih.
Anak itu kembali mengulurkan tangannya dan Harry menjabatnya. Sapaan 'selamat siang' membuka mulut Harry. Anak itu menawarkan diri untuk mengantar jeruk-jeruk yang ada di tas selempangnya. "Maaf merepotkan." Ujar Harry seraya menggaruk tengkuknya. Mereka berjalan bersama tanpa percakapan. Harry memperhatikan bagaimana anak ini berjalan. Kaki kanannya diseret-seret, sehingga menimbulkan suara berisik tiap kali melangkah.
Harry memfokuskan matanya pada jeans yang dikenakan anak itu. Ada noda merah—'Apa itu darah?'
"Oh, jadi Tuan Malfoy tinggal di villa ini! Wah!"
"Begitulah… ayo, masuk." Harry menaruh belanjaannya di dapur. Anak itu menaruh jeruk-jeruk segar pada keranjang buah di meja makan yang menghidangkan banyak makanan.
Harry mengambil handuk kecil di salah satu laci dan membasahinya dengan air keran. "Angkat jeans-mu. Aku tahu kau terluka." Anak itu menurut, memperlihatkan lututnya yang berdarah. Memang tidak parah, tapi terlihat perih. Oh, andai saja Harry bisa memberikan ia ramuan untuk menghilangkan lukanya…
"Apa aku mengganggumu, Tuan Malfoy?"
"…Tidak. Kenapa bertanya seperti itu?"
"Meja makan Anda penuh sekali, banyak makanan, jadi aku berpikir mungkin sebenarnya Anda sedang merayakan pesta atau semacamnya dan Anda malah membersihkan lukaku." Raut wajahnya terlihat menyesal. Teman-temannya sering bilang bahwa ia pengganggu dan ternyata memang benar.
Harry tersenyum karena mengingat untuk siapa ia memasak. "Itu untuk suami saya." Ia tak menyangka Draco belum menyentuh makanan yang telah ia buat. Padahal suaminya itu sangat suka dengan apapun yang dimasak Harry.
"Wah, suami Anda ada banyak, ya."
"APA? Tidak! Bukan seperti itu!" Harry kalang kabut, mau meluruskan ucapan anak itu, tapi terlalu syok membayangkan dirinya dengan banyak suami. Demi Merlin! Ia tak pernah memikirkan hal itu! Mana bisa ia menduakan—atau menduabelaskan Draco! "Masakan sebanyak itu untuk suami saya dan suami saya hanya satu!" jawabnya dengan pipi yang merah.
"Oh, kirain… soalnya di daerah Timur Tengah banyak yang poligami jadi—"
"—AH! Aku penasaran dari mana kau dapatkan luka itu?"
'DARI MANA ANAK INI BELAJAR KATA-KATA SEPRTI ITU?!' teriak Harry dalam hati tentu saja. Ia coba alihkan perhatian anak itu. Setelah luka itu bersih, Harry membalutnya dengan sapu tangan. Ia tidak punya obat muggle kalau boleh jujur.
"Yah… secara teknis aku terjatuh."
Harry mengernyit tak mengerti. "Kau tidak bisa tiba-tiba saja terjatuh."
"Benar. Teman-temanku mendorongku di kebun belakang sekolah."
"Jengg—Astaga! Itu tidak baik." Harry tidak boleh membuatnya curiga mengapa Harry sering sekali menyebut nama Merlin, bisa-bisa anak itu bertanya macam-macam lagi.
Suara perut anak itu terdengar hingga telinga Harry.
"Secara teknis juga ini jam makan siang. Aku harus kembali." Anak itu membetulkan tas selempangnya. "Have a nice day, Sir."
"Wait!" sebelum anak itu keluar dari ruang makan, Harry menawarkan, "Kau bisa makan siang di sini, kalau kau mau tentu saja—dan tidak, aku tidak sedang merayakan hari penting jadi kedatanganmu bukan hal yang mengganggu."
"Benarkah?"
"Ya, kemarilah." Harry menyiapkan dua set piring untuk mereka berdua. Anak itu menghampiri tatkala Harry menepuk kursi kosong di sampingnya dan tak lama kemudian suara denting alat-alat makan beradu—Harry tidak bermaksud mengatakan bahwa anak ini tidak sopan. Hanya saja, table maner-nya memang kurang. Melihatnya bersusah payah memotong—atau mungkin memutilasi? Merlin's beard!—ayam itu membuat Harry mengambil alih piring anak itu dan memotongkan ayam untuknya.
"Tuan, dimana suami Anda? Memang tidak apa kalau kita makan duluan?"
"Well… seharusnya juga ia sudah makan…"
"Kalian tidak makan bersama?"
Selesai memotongkan ayam, wajah Harry bersedih. Mereka memang sudah lama tidak makan bersama—sering kali Harry menolak untuk makan. Ia hanya ingin berdiam diri di kamar, berkabung sampai hatinya merasa puas. Kapan ia akan merasa puas? Setahun kemudian? Sepuluh tahun kemudian? Dia tidak boleh terus mengabaikan perhatian Draco, dia tidak boleh terus mengabaikan dunia. Kapan terakhir kali mereka makan bersama, ngomong-ngomong?
Harry tersenyum dengan mata sayu. "Mungkin sore ini… kita akan makan bersama. Ayo, habiskan ayammu. Ah, ambil kentangnya lagi."
.
.
Draco keluar dari perpustakaan tepat pukul tujuh. Langit sudah gelap, ia baru mengetahuinya karena tak sengaja mata abu-abu itu menatap jendela. Perutnya merengek minta diisi. Melewatkan makan siang memang ide buruk.
"Dray, baru aku akan memanggilmu untuk makan malam."
Harry dengan celemek hijau toska menghampiri pandangannya. Ia mengeluarkan kue dari dalam oven. Wangi apple pie mencemari ruangan—tunggu dulu… barusan Harry akan mengajaknya makan malam? Apa ia tidak salah dengar?
"Kupikir apple pie adalah dessert yang tepat? Duduklah." Harry melepas celemeknya. Ia memotongkan apple pie itu dan menaruhnya di atas piring. Ada beberapa masakan baru yang dimasak Harry. Kentang dan ayam panggang kesukaannya hilang! Padahal, tadi siang ia yakin bahwa ia belum menyentuh masakan Harry. Seharusnya masih ada, kan? Apa Harry memakan semua itu? Ah, tidak apa sih kalau itu terjadi. Mungkin Harry sangat kelaparan?
"Dua loyang apple pie? Seriously? Kau ingin membuat suamimu yang tampan ini menambah berat badannya?"
Harry tertawa kecil. "Well… aku sedang merasa ingin makan apple pie yang banyak saat ini."
Mendengar tawa Harry membuat Draco mengecup singkat bibir Harry. "Aku juga ingin memakannya asal kau yang menyuapiniku." Mereka menyantap hidangan diselingi canda dan tawa—yah, sebenarnya kebanyakan Draco yang menggoda Harry.
"Draco, aku berpikir untuk… menambah anggota keluarga kita."
"Tapi kau membutuhkan banyak istirahat setelah…" ucapan Draco tak kuasa ia lanjutkan.
"Keguguran. Aku tahu." Harry mengelap bibirnya dengan serbet. "Aku berencana untuk… mengadopsi."
Draco menghentikan kegiatan menyendok sup jagungnya. Hening sebentar. Sang Kepala Keluarga itu menatap emerald yang teguh akan pernyataannya. "Kau yakin?"
"Absolutely."
"Entahlah, Harry. Mengadopsi anak itu perlu pemikiran yang matang, tidak bisa langsung tiba-tiba 'aku ingin mengadopsi anak' dan kemudian melakukannya. Bukankah para healer bilang kita bisa punya anak lagi dalam setahun ke depan? Apa kau tak bisa menunggu, Love?"
"Kau benar, Dray… hatiku yang kosong ini tidak bisa tiba-tiba diisi. Biarkan saja hingga setahun ke depan." Harry yang pada dasarnya telah menghabiskan makan malamnya, beranjak dari sana. Draco tahu ini situasi yang sulit. Ia juga bangkit dan menghampiri Harry di kamar.
Harry melepas sandalnya dan menyelimuti dirinya. Malam ini ia hanya ingin tidur. Mengadopsi anak bukan ide bagus, kata Draco. Tunggu setahun lagi, kata Draco. Pikirkan matang-matang, kata Draco. Memang pikiran dan perasaan bisa disamakan? Ia tutupi kepalanya dengan selimut.
"Love… kau butuh waktu berpikir."
Ia butuh waktu berpikir, kata Draco.
"Saat ini emosimu lebih menguasai akal sehatmu."
Ia mulai gila, kata Draco.
Draco menghela napas panjang. "Aku bersungguh-sungguh, Harry. Jernihkan pikiranmu." Pria itu mengambil posisi di samping Harry dan mengucapkan selamat malam yang tak dibalas Harry.
Aku sungguh yakin kau mulai gila, kata Draco.
.
.
Harry kembali pada titik semula, dimana ia mengabaikan dunia, dimana ia mengenang anaknya yang sudah keluar, tapi tak bernyawa. Ia menatap roti bakarnya tak berselera. Draco memang payah dalam kehidupan dapur. Rotinya terlalu gosong. Harry bangun siang jadi, Draco yang mengambil alih dapur.
"Atau kau ingin roti selai, Love? Aku memakai sihir ketika memanggangnya… jadi…"
Harry berdiri. "Aku akan keluar sebentar."
"Sebentar? Benarkah? Minggu lalu kau mengatakan itu dan tidak kembali dua belas jam kemudian."
"Tenanglah, tidak sampai setahun, Draco."
Draco membiarkan Harry pergi. Tentu saja ia khawatir dengan keadaan Harry—dan ia sudah punya solusi untuk hal ini. Draco memasang sihir pada tubuh Harry untuk mendeteksi kemana suaminya itu pergi. Ia baru mendapat ide ini setelah dari perpustkaan kemarin. Melihat Harry yang masih berkabung dan kesal perihal makan malam kemarin membuat Draco memijit pelipisnya.
Kenapa mood Harry mudah sekali berubah? Sebelumnya mereka bisa saling menggelitik kemudian ia kembali murung. Sebelumnya juga mereka makan malam dengan damai, tapi sekarang seakan tidak ingin satu meja dengannya. Kepalanya bisa meledak memikirkan orang tersayangnya. Kalau sudah begini, hanya ada satu orang yang akan Draco tuju.
"Halo, Ibu…"
.
.
Harry termenung di depan sungai. Jikalau ia melompat dari sini, apa ia akan mati?
Matanya menangkap segerombolan anak-anak yang tengah berlari saling mengejar. Ia tidak mengerti kenapa Draco menolak idenya ini. Bukankah semua anak berhak mendapat kebahagiaan? Apa bedanya dengan memberikan cinta kepada anak yatim piatu? Anak yatim piatu membutuhkan cinta dari orang tua juga, kan? Mereka bisa menjadi orang tua dan memberikan cinta.
Demi jenggot Merlin! Harry tidak mengerti jalan pikiran suaminya.
"Dor!"
"Merlin's beard!"
"Ahahaha…"
Harry menatap anak itu dengan cemberut. Ia tidak suka dikagetkan. "Kau datang lagi?"
"Habis Tuan Malfoy kayak kesepian."
Hanya angin yang berhembus diantara mereka. "Kau benar… aku kesepian…" Harry kembali menatap sungai dengan tatapan kosong. Tangan kecil terjulur di hadapannya. Ia sedang tidak dalam kondisi membalas sapaan anak ini.
Akan tetapi, bukannya menyapa dengan sapaan khasnya, anak ini malah berkata, "Kalau begitu, mau main sama kami? Anak-anak panti asuhan bagian selatan datang berkunjung dan mereka mengajakku bermain."
Emerald bertemu emerald.
"…Bolehkah?"
"Aku kan yang mengajak Tuan Malfoy. Ayo!" Ujarnya disertai cengiran.
Tangan Harry menggenggam tangan kecil itu.
.
.
Selama berhari-hari, Draco tidak bisa tidur nyenyak. Bukannya selama dua bulan ini ia bisa tidur nyenyak, hanya saja ia masih mempertimbangkan perkataan ibunya. Ibunya tersayang, dalam tiga hari ini baru bisa datang.
"Kalau itu membuat Harry kembali ceria, kenapa tidak?"
Oh, tentu saja Harry akan senang jika mereka jadi mengadopsi… akan tetapi, yakin kah mereka menyayangi anak itu sepenuh hati—bukan semata-mata pelampiasan karena anak mereka yang telah tiada?
Apakah mereka akan memandang anak itu sebagai 'pengganti'
—atau memang benar-benar karena sangat mencintainya?
Bagaimana perasaan anak angkatnya bila tahu perannya hanya sebagai 'pengganti'?
Draco ragu kalau boleh jujur.
"Kau akan menyayanginya, Son… kalian akan menyayanginya—dan anak angkat kalian tidak akan pernah menjadi 'pengganti' karena anak kalian yang sudah pergi tak tergantikan."
Haruskah ia mengikuti nasihat ibunya?
"Tapi… tentu saja pilihan tetap di tanganmu, Draco. Ikuti kata hatimu."
"Pagi, Dray! Hari ini aku membuat roti mentega!"
Harry menaruh sarapan pagi mereka di atas meja makan. Hari ini Harry bahagia sekali. Entah karena apa. Setelah perdebatan mereka beberapa hari yang lalu, sikap Harry kembali normal. Normal dalam artian sikapnya sebelum kehilangan anak mereka. Draco merasa Harry mulai berubah secara perlahan. Ia tersenyum kecil melihat Harry dengan wajah berseri-seri.
Sepertinya tidak perlu sampai mengadopsi anak, kan?
Harry mengeluarkan appe pie dari dalam oven.
"Tiga loyang apple pie?" Draco berkedip tak percaya. "Aku memang suka apple pie, sayang, tapi…" ia melihat apple pie yang mengepulkan asap. Wanginya menggoda, tapi bukan berarti Draco bisa menghabiskan semuanya!
Ketika Draco akan memotong pai itu untuk dirinya sendiri, tangannya ditepis Harry. "Hush! Bukan untukmu, Dray!"
Lah? Kalau bukan untuk suaminya yang tampan dan elegan ini lantas untuk siapa—
Knock! Knock! Knock!
"PERMISI! AKU BUKAN SALESMAN ATAUPUN DARI ASURANSI JADI TUAN MALFOY BISA BUKA PINTUNYA!"
—?
"TUNGGU SEBENTAR!"
'KENAPA JUGA HARRY HARUS TERIAK-TERIAK?'
Harry membuka pintu utama, Draco mengintip dari ruang makan, tapi tidak kelihatan karena tertutupi tubuh Harry. Sependek apa tamu mereka memangnya?
Harry menggeser tubuhnya supaya sang tamu bisa masuk. Kemudian mereka berjabat tangan. "Good morning, Mr. Malfoy." Harry juga membalas, "Good morning."
"Mana janji Anda, Tuan Malfoy?"
"Masih hangat di ruang makan. Bantu aku membungkusnya, oke?"
"Okeee!"
'Itu bukannya anak yang waktu itu? Anak yang melihat aku bermesraan dengan Harry? Kenapa Harry terlihat… sangat mengenalnya?' mata kiri Draco berkedut. Ia tidak terlalu suka dengan anak yang tidak sopan itu—walau sesungguhnya dalam kasus ini, dirinya lah yang tidak sopan karena bermesraan di tempat umum.
Harry sibuk membungkus, mengabaikan eksistensi Draco yang sedari tadi memperhatikannya. "Uhm, Harry… kau tidak… mengenalkanku… pada tamumu?"
"Nanti, Draco. Tunggu setahun lagi, aku akan mengenalkannya sebagai teman anak kita."
Oke, Harry masih sensi perihal memiliki anak yang ditunda.
Setelah itu, mereka pergi, meninggalkan Draco sendiri, bagai debu-debu tak berarti.
Haruskah ia setuju untuk mengadopsi?
Bersumbang.
Minggu lalu lagi seneng bangeet~ kakak saya akhirnya udah sidang~ /nangisharu /akhirnyayalord jadi sebagai perayaan (?) sidangnya kakak, dilanjutin deh draft ini wkwk tapi kakak saya ga traktiran masa :') /inigapenting /abaiakan
Kritik dan saran diterimaaa~ :*
