Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. Di larang mengcopy tanpa seijin author.
.
Catatan :
Terinspirasi dari film goblin, tapi terfokus pada malaikat mautnya.
Shinigami = dewa kematian
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
Enjoy for read
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[ Shinigami ]
~ Chapter 1 0f 3 ~
.
.
.
Siapapun yang hidup di dunia ini pastinya akan mati, tentu saja, hal itu sudah pasti akan terjadi dan siapapun tidak mungkin bisa menghindarinya.
Di rumah sakit besar Konoha.
"Tuan Danzo, lahir pada tanggal xx bulan xx tahun xxxx, Tanggal kematian, tanggal 1 maret tahun 2017, semasa hidupnya hanya membuat masalah." Ucap seorang pria, rambut hitam pekatnya yang menjulang kebelakang, terlihat seperti style emo atau rambut dongker, mata kelam dengan tatapan kosong, wajah putih dan rahang yang terbentuk sempurna, dia sangat tampan, tapi tugasnya tidak begitu sesuai dengan wajahnya, dengan pakaian setelan jas hitam, kemeja putih, celana hitam tak lupa dasi dan topi dengan warna yang sama, saat ini dia tengah menatap seorang pria tua yang tengah duduk di atas ranjang di sebuah rumah sakit.
"Aku siap menjalani apapun kesalahanku." Ucap pria tua itu, tanpa ekspresi dan pasrah.
Dokter, suster bahkan keluarganya begitu panik saat alat pendeteksi detak jantung (EKG) berbunyi begitu nyaring, tanda pria tua itu sudah pada akhirnya, meskipun dia terlihat terduduk di atas ranjang, itu hanya rohnya yang sudah keluar dari tubuhnya terbaring tenang.
"Ikut aku sekarang juga." Ucap pria itu, dia menuntun roh itu keluar dari kamar yang penuh dengan orang-orang panik.
Meskipun pemicu jantung di pasangkan, EKGnya tetap memperlihatkan garis panjang, pria itu menatap sejenak keluarganya dan kembali beranjak mengikuti cahaya yang menyilaukan.
"Apa aku akan masuk surga?" Ucap pria itu pada pria yang menuntunnya.
"Kemungkinan kecil kau tidak akan masuk surga, namamu sudah terdaftar pada pintu neraka, tetaplah di sana dan pikirkan semua perbuatan burukmu." Ucap pria itu dan tatapan tanpa ekspresi sungguh sesuai untuknya.
Roh itu hanya tersenyum, berjalan terus ke depan cahaya yang sangat terang hingga dia seakan tertarik ke dalamnya. Pria itu bernapas lega, tugasnya sudah selesai, dia tidak perlu memaksa pria tua itu untuk pergi, dia seakan sudah tenang meskipun banyak sekali dosa yang menumpuk. Menatap sebuah buku kecil berukuran saku, dia masih memiliki beberapa tugas lagi.
Apa kau percaya akan dewa kematian? Pria itu salah satunya, dialah yang akan mendatangi setiap orang-orang yang sudah pada batasnya di dunia, mereka ada banyak dan tersebar di seluruh dunia, tugas mereka hanya untuk mengantarkan mereka dengan tenang meskipun ada beberapa kasus tentang roh yang kabur atau menjadi roh yang jahat dan ada juga roh yang harus di bawa dengan paksa, mereka seakan menolak takdir mereka untuk segera menghilang dari dunia manusia.
Pria bermata onyx itu menatap salah satu pintu sebuah kamar, masih di rumah sakit yang sama, menatap kembali buku catatannya, dia bisa menembus dinding dengan mudah, masuk ke dalam dan melihat seorang gadis berambut softpink, dia duduk dan menatap seorang pria yang terbaring lemah, kembali menatap buku catatannya, pria itu mengalami kecelakaan dan pendarahan pada otak, dokter sudah berupaya untuk menolongnya namun pada catatannya pria itu harus segera di bawanya tepat jam 12 siang, melirik jam tangannya, masih ada 5 menit lagi, berjalan ke depan ranjang pria itu, melirik ke arah gadis yang masih terdiam dan duduk di sana, dia tertidur rupanya, dalam catatannya, pria yang tengah terbaring ini memiliki seorang anak perempuan, gadis ini pun pernah mendapat masalah, hampir sama persis pria itu yang bukan lain adalah ayahnya sendiri, dia pun sempat tertabrak saat masih 10 tahun namun catatan kematiannya belum keluar dengan kata lain gadis ini masih di beri hidup sekali lagi.
"Gawat aku tertidur!" Gadis itu tersentak kaget, terbangun dan menatap ayahnya masih dalam keadaan baik-baik saja, detak jantungnya dan napasnya normal. "Ayah cepatlah sembuh." Ucap gadis itu, dia sangat ingin ayahnya segera sadar, hampir 3 hari ayahnya, Haruno Kizashi, dalam keadaan koma.
"Ayahmu tidak akan hidup lagi, tinggal 1 menit lagi nyawanya akan aku tarik." Ucap dingin pria itu, dia mendengar ucapan gadis yang menurutnya ucapan itu tidak akan terjadi.
Terkejut, gadis itu menatap ke arah suara yang di dengarnya, benar saja, dia melihat seorang pria dengan setelan serba hitamnya, dia seperti pegawai kantoran. Pria itu pun terkejut namun masih tetap terlihat tenang, memikirkan jika gadis itu melihatnya atau hanya perasaannya saja.
"Siapa kau?" Ucap Sakura, Haruno Sakura, nama gadis itu.
Sasuke, nama pria itu, dia melirik kesana dan kemari, bahkan berbalik ke belakang untuk memastikan jika ada seseorang yang sedang berdiri di belakangnya, kosong, hanya ada dirinya, masih berwajah tenang namun dia merasa aneh, gadis itu bertanya pada siapa? Dia pun kebingungan.
"Kau ini sungguh aneh, aku bertanya padamu, kau siapa?" Ucap Sakura lagi, dia pun bingung, kenapa ada orang yang berada di ruang ayahnya dan dia seperti orang bego melihat ke sana dan kemari.
"Kau berbicara padaku?" Ucap Sasuke dan menunjuk dirinya.
"Siapa lagi? Hanya kau hanya ada di hadapanku." Ucap Sakura, menatap curiga pada pria itu.
"Jadi kau bisa melihatku!" Ucap Sasuke, tidak percaya, ada manusia yang bisa melihatnya secara langsung.
"Tentu saja, aku melihatmu, maka dari itu aku berbicara padamu." Ucap Sakura, dia semakin kesal di buat pria itu.
Sesuai jadwal, Sasuke melirik jam tangannya dan sudah tepat jam 12, dia harus menarik roh ayah gadis itu keluar, menggerakkan tangannya seakan memanggil pria yang masih terbaring itu. Sakura memperhatikan gerak-gerik pria aneh yang masih tetap berdiri di depan ranjang ayahnya, dia seakan tengah memanggil, Sakura bisa melihat roh ayahnya yang keluar dari tubuhnya, terkejut, dia sangat terkejut melihat hal itu, melihat ke arah pria berjas hitam itu dan juga melihat ayahnya, spontan Sakura mendorong Sasuke dan membuatnya terjatuh, gadis itu berdiri tepat di hadapan ranjang ayahnya.
"Apa yang kau lakukan!" Teriak Sakura, marah.
"Cik, apa yang kau lakukan!" Ucap Sasuke, kesal, seumur hidupnya selama menjadi dewa kematian, tidak ada manusia yang berani padanya bahkan mendorongnya dengan sangat keras.
"Kenapa balik bertanya! Aku bertanya padamu!" Ucap Sakura.
"Sepertinya ini tidak akan mudah." Ucap Sasuke, berdiri dan merapikan setelan jasnya yang terlihat mahal, dia pun terlihat seperti orang yang berkelas. "Sudah saatnya ayahmu pergi, dia tidak bisa berada di dunia ini lagi." Sasuke mencoba menjelaskan pada gadis itu.
"Apa? Ayahku baik-baik saja, dia bahkan berhasil menjalankan operasi, dokter yang menanganinya mengatakan jika dia sudah melewati masa kritis dan sekarang sedang masa pemulihan, bagaimana bisa jika dia harus mati begitu saja." Ucap Sakura, dia tidak ingin ayahnya di bawa pergi kemana pun bahkan dengan orang asing yang di temuinya.
Sasuke menatap kesal gadis itu, berjalan menghampirinya dan detik berikutnya, gadis itu menjambak rambutnya dan berteriak-teriak seperti orang kerasukan.
"TOLONG! SIAPA SAJA TOLONG AKU! ADA ORANG GILA YANG INGIN MEMBUNUH AYAHKU!" Teriak Sakura dengan sangat keras, dia berusaha menghalangi Sasuke.
Pria itu pun di buat susah, bahkan rambutnya yang terlihat keren itu di jambak dan di tarik-tarik, terkesan seperti perkelahian para gadis, namun hanya seorang gadis yang menjambak rambut seorang pria, Sasuke mencoba melepaskan tangan Sakura namun jambakannya semakin kuat, gadis itu berusaha keras melindungi ayahnya.
Kesal, Sasuke benar-benar kesal, berlari keluar jendela, tubuhnya menembus dinding namun apa yang terjadi pada gadis yang berusaha melawannya, dia seperti terlempar keluar jendela dan ruangan itu berlantai tiga, Sakura syok, dirinya seperti terhempas keluar jendela dan tubuhnya terjun ke bawah.
Bughht.
"Kyaaaaaaaaaaaaaaa...!"
Teriak beberapa orang yang melihat seorang gadis yang jatuh dari lantai 2, tubuhnya mendarat tepat di aspal dan darah segar mulai mengalir dari tubuhnya.
Sasuke merapikan rambut dan jasnya yang sudah berantakan, melihat ke bawah, Sasuke menembus dinding dan bisa melayang di udara namun gadis itu tidak mungkin, bahkan tubuh gadis itu sempat menabrak kaca jendela dengan sangat keras, jika orang lain melihatnya seakan gadis itu membuang dirinya. "Ini akan menjadi masalah." Ucap Sasuke, menatap gadis itu.
Sakura akhirnya tidak sadarkan diri, luka benturan pada tubuhnya cukup parah. Pegawai rumah sakit berlarian keluar setelah mendengar orang-orang teriak jika ada yang bunuh diri. Sasuke akan mengurusi masalah itu, dia akan telat jika tidak segera mengerjakan tugasnya, masuk kembali ke dalam ruangan tadi.
"Tuan Haruno Kizashi, Lahir pada tanggal xx bulan xx tahun xxxx, tanggal kematian, tanggal 1 maret tahun 2017, semasa hidupnya menjadi orang baik dan ramah pada siapapun, termasuk orang yang memiliki sikap yang penyayang dan peduli, ikut aku sekarang juga." Ucap Sasuke, setelah membaca buku catatan kecilnya.
Roh Kizashi terbangun dan melihat sekeliling ruangannya, dia bisa merasakan jika anak dan istrinya selalu datang dan menunggunya untuk sadar, tapi takdir berkata lain.
"Aku akan mengikuti anda." Ucap roh itu. Berjalan mengikuti Sasuke yang menuntunnya ke cahaya yang begitu terang.
"Kau akan di masukkan ke surga karena sikap dan perilakumu selama hidup di dunia, nikmatilah apa yang sudah kau perbuat selama di dunia ini." Ucap Sasuke.
Roh itu tersenyum dan seakan berkata 'sampaikan salam perpisahan pada keluarganya' Sasuke mengangguk pelan, kali ini dia sedikit mendapat masalah, melirik buku catatannya, nama gadis yang jatuh tadi tidak muncul pada buku catatannya, sepertinya dia belum mati, berjalan ke ruangan di mana gadis itu di tangani, dia di operasi, tulang pada tubuhnya banyak yang patah, jatuhnya pun cukup keras, sepertinya dia kembali mendapat keberuntungan.
"Ini semua kesalahanmu, jika saja kau tidak melakukan hal yang konyol itu kau tidak akan menderita seperti ini." Ucap Sasuke.
Ruangan yang di datanginya penuh dengan dokter yang berusaha untuk menyelamatkan gadis itu, cukup beresiko, dia bisa saja mengalami kematian, tapi namanya masih belum muncul di buku catatan dewa kematian, Sasuke tahu dia tidak akan mati dan masih tetap hidup meskipun akan sedikit menderita.
Sasuke pergi setelah melihat hasil perbuatannya, namun itu bukan salahnya, gadis itu sendiri yang membuatnya kesusahan, menganggap jika ini bukan urusannya dan dia masih punya banyak jadwal untuk menuntun roh lainnya, beranjak dari ruangan operasi itu, berjalan menembus dinding, dia sempat melihat seorang wanita yang menangis, wanita itu mirip dengan gadis yang tadi menjambak rambutnya, tatapan yang sedingin es, tetap saja dia tidak merasa bersalah, melangkahkan kakinya dan dia menghilang seketika.
Haruno Mebuki, wanita itu awalnya ingin menjenguk suaminya namun apa yang di lihatnya, anaknya terjun dari kamar ayahnya dan setelah melihat suaminya, dokter mengatakan jika suaminya telah tiada, seakan mendapat kesialan berturut-turut, suaminya pergi dan anaknya dalam keadaan kritis bahkan dokter mendiagnosakan jika dia akan lumpuh seumur hidupnya
O
O
Hari yang cukup buruk, Sasuke menunggu dan tengah duduk di sebuah kursi, semua hal yang di lakukan tidak akan bisa tertutupi bahkan bagi seseorang yang memiliki kedudukan tertinggi pada area akhirat, pria itu menatap malas sekelilingnya, dia tidak tahu jika akan mendapat teguran sekeras ini.
"Dewa kematian Sasuke, masuk." Ucap sebuah suara dari dalam ruangan.
Sasuke berjalan perlahan dan membuka sebuah pintu berwarna coklat yang cukup besar, di sana hanya ada seorang pria yang selalu mengatur apapun yang terjadi pada seorang dewa kematian, dia tengah membaca catatan laporan dari Sasuke.
"Melibatkan manusia dalam pekerjaan, ini sungguh masalah yang berat." Ucap pria itu.
"Dia mengganggu pekerjaanku." Ucap Sasuke, tenang.
"Kau adalah dewa kematian, memiliki kekuatan khusus dan kau pun memiliki akal untuk berpikir, kenapa kau tidak buat saja dia pingsan dan menjalankan tugasmu."
Sasuke terdiam, dia sungguh salah dalam hal ini, saat itu dia pun panik baru saja bertemu dengan manusia yang bisa melihatnya.
"Dengar, manusia yang bisa melihat kita adalah wajar, mereka adalah manusia yang memiliki kelebihan, kau seharusnya sudah menyadari hal itu dan jangan bertindak gegabah, gadis itu bisa saja mati karena ulahmu, tapi sepertinya pengawas dewa kematian lebih cepat bertindak, dia tidak mengirimkan nama gadis itu karena ini salahmu, pada akhirnya dia hanya akan menjalani hidup dengan penderitaan."
"Maaf atas kelancanganku, aku tidak akan berbuat seperti itu lagi."
"Ah, dasar kalian ini, pantas saja di pertemukan kembali, takdir terkadang cukup mengerikan."
"Maksudnya?"
"Sudahlah, ini tidak ada hubungannya dengan apa-apa, sekarang kau adalah dewa kematian dan jalani saja apa yang sudah menjadi takdirmu, jangan sampai bertemu dengan gadis itu lagi, sepertinya dia sudah di buat lupa oleh petugas dewa kematian yang lain, karena masalah ini kau ku pindah tugaskan ke area B, di sana adalah area untukmu bertugas, berkemaslah dan kami sudah memberikan tempat tinggal yang baru."
Sasuke hanya mengangguk pasrah dan pamit untuk pergi, memikirkan ucapan pria yang bisa di katakan sebagai kepala dari dewa kematian, tugasnya hanya mengawasi dan memberi teguran jika dewa kematian melakukan kesalahan, tapi ucapannya 'pantas saja kalian di pertemukan' hal itu cukup membuat Sasuke penasaran, kenapa jika mereka bertemu kembali? Bahkan pria itu memperingati Sasuke untuk tidak bertemu dengan gadis itu lagi.
Namanya dewa kematian, tapi mereka tidak benar-benar seorang dewa, dewa kematian hanya gelar yang di berikan pada mereka, orang-orang yang semasa hidupnya memiliki sebuah masalah yang cukup rumit dan pernah melakukan dosa besar hingga ajal menjemput mereka, saat kematian mereka, perasaan dan ingatan semuanya di hilangkan, mereka terbangun dengan ingatan sebagai dewa kematian yang bertugas menuntun setiap orang yang sudah mati.
Kehidupan mereka pun selayaknya manusia, tinggal, makan, minum, tidur, dan bekerja, namun bekerja hanya menjadi dewa kematian. Sasuke berjalan keluar, membuka pintu dan dia bisa tiba di manapun dia mau, saat ini di tengah berada di sebuah rumah sakit dan beberapa dewa kematian terlihat tengah bekerja, berjalan di sepanjang lorong rumah sakit itu, tidak ada satu pun yang akan melihatnya, tak lupa sebuah topi yang mereka kenakan agar manusia tidak bisa melihatnya, kecuali manusia yang memiliki kelebihan dalam hal melihat sesuatu yang berbau gaib.
"Baru kali ini aku melihatmu di tegur." Ucap seorang dewa kematian, berjalan beriringan bersama Sasuke.
"Hanya teguran kecil." Ucap Sasuke, santai.
"Benarkah, teguran kecil hingga kau di pindah tugaskan? Hahahah, ini lucu sekali."
Sasuke menatap kesal ke arah dewa kematian yang banyak bicara itu, dia pun sedang dalam kondisi yang tidak senang, mengabaikannya dan terus berjalan keluar.
"Baiklah, sampai nanti Sasuke." Ucap dewa kematian itu dan terkekeh, dia tengah mengejek dewa kematian yang terlihat sangat profesional itu tapi tetap juga mendapat teguran dari atasan mereka.
Berhenti saat berada di luar bangunan rumah sakit, Sasuke menatap ke atas ke arah ruangan yang kaca jendelanya masih dalam perbaikan, dia tidak tahu kabar gadis itu lagi, cukup sibuk untuk mengerjakan tugasnya, dia akan sibuk bekerja dan tidak perlu mengingat gadis itu lagi.
O
O
O
O
O
O
7 bulan kemudian.
Menempati sebuah apartemen baru, kali ini Sasuke tidak mendapatkan sebuah rumah tapi sebuah apartemen, katanya untuk mengurus sebuah pindahan rumah lebih rumit dan terlalu banyak hal yang harus di urus agar seorang dewa kematian seperti mendapat tempat layaknya manusia.
Setelah rapi dengan setelan pakaian kerjanya, berjalan keluar dengan menembus dinding, dia tidak perlu mengetahui password apartemennya, Sasuke bisa menembus apapun dan bisa masuk seenaknya, berhenti sejenak dan menatap pintu yang bersebelahan dengan pintu apartemennya, kata orang-orang di sekitar situ pemiliknya tengah keluar negeri untuk membawa anaknya yang tengah sakit.
"Aku sudah tidak apa-apa, bu."
Sasuke mendengar sebuah suara dari dalam apartemen itu.
Deg.
Perasaan aneh menyelimuti dirinya, entah apa yang membuatnya harus berhenti dan menekan bel pada pintu itu.
"Cik, dasar bodoh, apa yang ku lakukan!"
Ceklek.
Pintu terbuka dan seorang wanita keluar, Sasuke sudah menurunkan topinya, mengingat jika manusia biasa tidak akan melihatnya jika tengah memakai topi dewa kematiannya. Sasuke cukup terkejut dan dia masih mengingat jelas wajah wanita itu, jika dia adalah pemilik kamar apartemen ini, maka suara gadis yang di dengarnya tadi adalah..., Sasuke bisa melihat menembus ke dalam dan benar saja, dia kembali bertemu gadis itu, sayangnya sekarang gadis itu hanya berada di kursi roda, tulang punggung, kedua kaki dan tangannya patah, pengobatan luar negeri tidak bisa mengobatinya dengan mudah meskipun pada tubuhnya sudah di pasang banyak peyangga tulang.
"Aku tidak sengaja memencetnya." Ucap spontan Sasuke dan hanya membuatnya malu, merasa ucapannya itu sangat-sangat bodoh. "Bu-bukan itu maksudku, ah maaf, aku tidak bermaksud memencetnya, aku hanya berpikir untuk...untuk..." ayolah berpikir Sasuke! "-Aku pindahan di kamar sebelah dan ku pikiran jika di sebelahku tidak ada siapa-siapa, apa nyonya orang baru yang menempati kamar ini?" Rasanya Sasuke ingin menghajar dirinya sendiri.
"Oh, ah maaf, karena anakku sedang sakit jadi kami tidak menempati apartemen ini dalam waktu yang cukup lama." Ucap ramah wanita itu.
"Begitu yaa, meskipun kita baru saja bertemu, aku hanya ingin mengucapkan selamat datang kembali." Ucap Sasuke, berusaha berwajah ramah, namun saat ini dia ingin segera kabur, seperti orang yang bersikap bodoh.
"Terima kasih, kau pria yang cukup baik, aku senang memiliki tetangga sepertimu." Ucap Mebuki, dia pun tidak menyangka jika pria berwajah yang cukup tampan ini, sudah repot-repot mau menyapa mereka walaupun baru saja bertemu.
Sasuke segera mengakhiri percakapan konyolnya, dia tidak tahu kenapa dia harus berhenti dan memencet bel di rumah itu, memikirkan kembali jika dia bahkan tinggal bersebelahan dengan gadis itu.
"Ibu berbicara dengan siapa?" Ucap Sakura.
Putri satu-satunya itu hanya bisa pasrah dengan keadaannya sekarang, sejujurnya Sakura merasa ingin segera mengakhiri hidupnya saja dari pada harus melihat wajah letih ibunya yang terus merawatnya.
"Dia tetangga kita, pria yang baik dan cukup ramah." Ucap Mebuki.
"Uhm... ibu hati-hati berbicara dengan orang asing." Tegur Sakura, saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk ibunya.
"Kau tidak perlu khawatir seperti itu, ibu pandai menebak seseorang, dan menurut ibu dia memang orang yang baik, dia bahkan menyapa kita."
"Ibu istirahatlah, kita baru saja tiba di rumah, ibu pasti lelah." Ucap Sakura.
"Ibu tidak apa-apa, apa kau ingin ke kamar?"
"Iya, aku ingin berbaring saja." Ucap Sakura, memilih untuk di kamar dari pada harus membuat ibunya susah jika dia terus di kursi roda.
Mebuki mendorong pelan kursi roda Sakura menuju kamarnya, Sakura menatap meja belajarnya dan buku yang tersusun rapi, setelah kecelakaan yang menimpah dirinya, Sakura tidak pernah masuk sekolah, sekarang teman-temannya sudah naik ke kelas tiga, Sakura tinggal kelas dan masih pada kelas dua SMA, entah dia masih bisa melanjutkan sekolahnya atau hanya akan terbaring lemah di rumah, ibunya pun tidak mengatakan apa-apa tentang dirinya yang sudah menjalani berbagai operasi, Sakura tidak tahu jika dia tidak memiliki kesempatan untuk bisa bergerak bebas lagi seumur hidupnya.
Kadang saat Sakura menutup mata, selalu terbayang akan dirinya yang melompat dari jendela, Sakura tidak tahu kenapa dia harus melakukan hal itu, dia tidak mengerit, ingatannya tentang dirinya yang bergerak sendiri untuk lompat dari kamar ayahnya. Kekuatan dewa kematian sudah membuatnya lupa tentang hal yang sudah terjadi sebenarnya, dia bertemu dengan dewa kematian yang ingin mengambil roh ayahnya dan membuatnya terjatuh dari lantai 2, semua hal itu tidak ingatnya lagi.
O
O
Sasuke tengah menikmati ice coffeenya setelah bekerja di sebuah kafe favoritya, salah satu dewa kematian yang sering bersamanya berjalan menghampiri Sasuke, melihat tingkah Sasuke yang seakan sedang kesal.
"Apa yang terjadi padamu?" Ucap Suigetsu, dewa kematian yang cukup dekat dengan Sasuke.
"Apa maumu?" Ucap Sasuke, tatapannya sedingin es.
"Aku hanya menyapamu." Ucap Suigetsu, Sasuke seakan tidak ingin di ganggu.
"Aku sedang sial, jadi jangan menggangguku."
"Apa? katakan saja padaku."
Sasuke terlihat menghela napas, meneguk ice coffeenya dan menatap serius ke arah Suigtesu. "Aku bertemu orang yang tidak ingin ku temui." Ucap Sasuke.
"Uhm.., cukup tinggalkan saja dan jangan dekat-dekat dengannya."
"Dia tinggal di sebelahku dan aku tidak mengerti kenapa ketua dewa kematian memintaku untuk tidak bertemu dengannya lagi, ini sungguh aneh, padahal mereka sendiri yang menentukan tempat tinggalku."
"Apa kau percaya takdir?"
"Takdir?"
"Iya, takdir, kau tahu kan, hal itu siapa saja tidak bisa memperkirakannya, bahkan dewa kematian sendiri dan para stafnya pun tidak bisa mengetahui semua itu dengan jelas."
"Ah sudahlah, aku tidak akan peduli lagi."
"Jadi orang itu siapa? Atau seorang gadis? Mungkinkah dia cintamu di masa lalu."
"Berisik, pergilah bekerja dan jangan menggangguku." Ucap Sasuke.
"Baik, aku akan pergi, dah." Ucap Suigetsu, dia tidak bisa mengobrol dengan Sasuke saat ini, waktunya kurang tepat.
Menyelesaikan waktu istirahatnya dan bergegas pulang, tiba di apartemen dan kembali langkahnya akan terhenti setiap melewati pintu tetangganya, melihat ke arah dinding dan gadis itu tengah sendirian di dalam rumah dan ibunya tidak ada, wajahnya terlihat sedih, Sasuke bahkan membaca pikirannya, gadis itu tidak berharap apa-apa, dia hanya ingin segera mendapatkan hidup yang tenang dan tidak perlu menyusahkan ibunya. Sasuke menutup matanya sejenak dan menghela napas, gadis itu tidak akan mati muda, dia belum mendapat catatan kematiannya, kembali memikirkan jika ini adalah salahnya, mau tidak peduli seperti apapun Sasuke seakan tergerak sendiri untuk mencoba memperbaiki kesalahannya.
Berputar dan berjalan keluar dari apartemen ini, membuka sebuah pintu dan dia tiba di sebuah gedung, memasuki salah satu ruangan dan melihat seorang wanita dengan pakaian serba hitamnya, seperti pakaian yang di kenakan Sasuke.
"Aku perlu sebuah obat untuk menyembuhkan tulang yang patah." Ucap Sasuke.
"Wah, ada apa denganmu, tiba-tiba datang dan meminta obat begitu saja, kau pikir aku ini seorang apoteker, aku juga dewa kematian, tapi tugasku malah menyediakan obat." Ucap Shiho.
"Aku butuh obat seperti itu." Tegas Sasuke.
"Tidak ada obat seperti itu, kau ini dewa kematian, mana mungkin kau bisa memiliki tulang yang patah, aneh."
"Lalu untuk apa pekerjaanmu menyediakan obat?"
"Tentu saja untuk dewa kematian yang membuat masalah."
"Aku sungguh menginginkan obatnya."
"Dengar Sasuke, kau benar, tidak ada obat yang tidak mustahil berada di sini, tapi jika atasan tahu obatnya di gunakan untuk membantu manusia, kau akan mendapat hukuman."
"Tidak masalah."
"Apa!"
"Hn, aku sudah mendapat teguran, mungkin mendapat hukuman lagi akan jauh lebih baik." Ucap Sasuke dan wajahnya begitu damai, seakan-akan tidak peduli jika dia harus di hukum.
"Kau ini sungguh aneh, baiklah, ini demi kau, dewa kematian yang tampan, tapi aku tidak ingin terlibat, ambillah pil yang berada di rak sana, aku tidak ingin menyentuhnya, semua akan mudah di ketahui oleh ketua." Ucap Shiho.
Sasuke mengikuti ucapan wanita itu, berjalan ke arah rak dan mengambil sebuah toples kaca berisi beberapa butir pil yang berwarna merah dan berbentuk bulat, seukuran bola kelereng kecil.
"Sejujurnya itu bukan pil untuk menyembuhkan patah tulang, tapi itu adalah pil untuk menyembuhkan penyakit apapun tolong gunakan dengan bijak." Ucap Shiho.
"Hn."
"Oh iya, pilnya mudah larut dalam apapun." Ucap Shiho sebelum Sasuke keluar.
Sasuke sudah beranjak dari ruangan itu, Shiho tidak akan bertanggung jawab jika pengawas dewa kematian mencurigai hal itu, Sasuke menolong seorang manusia, Shiho pun penasaran, untuk apa Sasuke yang merupakan dewa kematian yang cuek pada apapun ingin membantu seorang manusia.
Sejak kembali, Sasuke hanya mondar-mandir di depan pintu apartemen gadis itu, memikirkan cara untuk memberikan pil itu dan Sasuke sama sekali tidak memiliki ide yang baik, gadis berambut softpink itu tengah berbaring di kasurnya, dia tertidur dan akan menghabiskan waktu di kasurnya saat ibunya pergi.
Berkali-kali Sasuke akan memikirkan ide-ide yang sesuai tapi hasilnya malah akan membuatnya menjadi orang aneh, jika di beri langsung, pertama gadis itu tidak bisa bergerak dan tidak bisa membuka pintu, kedua, jika Sasuke masuk dan memberinya obat, gadis itu malah akan teriak histeris dengan seorang pria yang tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya, seakan-akan dia seorang pencuri, ketiga, jika di beri langsung, gadis itu malah akan curiga jika Sasuke memberikan obat yang macam-macam, yang ada malah Sasuke terkesan seperti orang jahat memberi sembarangan pil pada gadis itu, kehabisan ide, tiba-tiba ide lain muncul, Sasuke berjalan masuk dan menembus dinding, masuk ke kamar gadis itu perlahan-lahan, dia masih tertidur, Sasuke menaruh pil itu ke dalam air minum gadis itu, pil itu segera larut setelah masuk ke dalam air, Sasuke baru mengingat pesan Shiho sebelum keluar, pil ini akan mudah larut di makanan atau di minuman, bergegas pergi sebelum gadis itu bangun.
Sakura membuka matanya, merasa jika tadi ada seseorang di kamarnya, namun hanya perasaannya saja, tidak beberapa lama kemudian ibunya sudah pulang, ibunya adalah pegawai kantoran.
"Apa kau baru bangun?" Ucap Mebuki, kamar Sakura akan menjadi tujuan utamanya saat pulang.
"Baru saja bu."
"Ibu akan mengambilkan air untukmu." Ucap Mebuki, melihat segelas air di dekat meja tempat tidur Sakura, membantu anaknya untuk bangun perlahan dan memberikannya air itu.
Sasuke memastikan jika air itu sudah di minum, meskipun hanya beberapa teguk, tapi air yang bercampur obat itu sudah di minum Sakura, seakan rasa bersalahnya sedikit terangkat, Sasuke akan bisa beristirahat sekarang, melakukan pekerjaan dewa kematian pun mereka butuh istirahat.
O
O
Tiba-tiba terbangun di tengah malam, Sakura merasa dia tengah mendapat mimpi buruk, bahkan wajahnya penuh keringat, tapi hal aneh telah terjadi padanya, dia menatap tangannya yang di angkatnya, mencoba berdiri perlahan dan Sakura bisa melakukannya, dia berdiri bahkan bisa menggerakkan seluruh tubuhnya yang mengalami patah tulang, wajahnya terlihat begitu senang, berlari keluar dari kamarnya dan mendatangi kamar ibunya.
"Ibu." Panggil Sakura, membangunkan ibunya dengan perlahan, sejujurnya dia tidak enak membangunkan ibunya terlihat lelah, tapi dia pun tidak sabar ingin memberitahukan berita baik ini pada ibunya.
"Ada apa Sakura?" Ucap Mebuki, belum menyadari sebuah keajaiban pada anaknya.
"Ibu, aku sudah bisa bergerak lagi, bahkan tulangku yang patah pulih begitu saja." Ucap Sakura, berdiri dan bergerak berputar di hadapan ibunya.
Mebuki mulai menyadarinya, dia hanya bisa menutup mulut dengan kedua tangannya dan menangis begitu saja, menarik Sakura untuk di peluknya, dia begitu bersyukur atas keajaiban ini, anaknya sembuh begitu saja.
O
O
O
O
O
Sakura akan memulai sekolahnya kembali, Mebuki sudah menghubungi wali kelas Sakura, dia masih bisa bersekolah meskipun harus mengulang kembali di kelas 2, Sakura merasa tidak masalah meskipun harus tertinggal, dia ingin menyelesaikan masa SMAnya, Mebuki memberinya ijin ke sekolah setelah memeriksa keadaan Sakura ke rumah sakit, dokter yang menangani Sakura pun merasa ini sebuah keajaiban, bagaimana bisa seseorang yang jatuh dari lantai 2, mengalami patah tulang yang berat dan sembuh seketika.
"Aku berangkat yaa bu." Ucap Sakura, semangat, seakan ini menjadi hari pertamanya di bangku kelas 2.
"Hati-hati." Ucap Mebuki.
"Baik bu." Ucap Sakura, saat membuka pintu, langkahnya terhenti, seorang pria berjalan melewatinya, gadis itu hanya termenung dan memperhatikan pria yang berpakaian serbah hitam itu bahkan topinya juga.
Sasuke akan melakukan pekerjaannya, dia tidak peduli dengan gadis yang menatapnya begitu lama, dia pun menyadari jika gadis itu tidak mengingatnya, dia sudah melupakan apapun yang telah terjadi.
Pria itu sudah menghilang, dia masuk ke dalam lif dan turun ke bawah, Sakura masih terdiam, merasa tidak asing pada pria itu, tapi satu-satunya yang membuatnya merasa aneh.
"Pria yang tadi tidak cocok menggunakan topi itu." Ucap Sakura. merasa aneh akan topi yang di kenakan pria tadi, hanya hal itu yang di koreksinya.
"Pria siapa?"
Terkejut, Sakura berbalik dan mendapati ibunya yang menatapnya heran, dia belum beranjak dari pintu.
"Apa ibu tahu seorang pria yang memakai pakaian serba hitam, bahkan wajahnya begitu pucat seperti mayat hidup." Ucap Sakura.
"Ah, mungkin saja tetangga kita, dia tinggal di sebelah, huss.. jangan berkata seperti itu." Ucap Mebuki dan menegur ucapan putrinya.
"Hehehe, maaf bu, Uhm.. penghuni baru?"
"Dia pindah saat kita berada luar Konoha." Ucap Mebuki.
"Begitu yaa, baiklah, aku berangkat bu." Ucap Sakura dan bergegas.
Sakura senang kembali ke sekolah, meskipun teman-temannya tidak bersamanya lagi, dia harus rela satu kelas dengan para juniornya, mengulang setahun tidak membuatnya berat, tapi suasananya cukup canggung hanya dia yang jauh lebih tua dari murid lain.
"Karena Haruno baru saja sembuh, dia akan kembali mengejar ketinggalannya di kelas dua." Jelas seorang guru kepada murid-murid yang baru melihat Sakura, beberapa sudah mengetahuinya jika Sakura adalah senior mereka.
"Mohon kerja samanya." Ucap Sakura dan membungkuk perlahan.
O
O
"Tuan Sarutobi, lahir tanggal xx bulann xx tahun xx, tanggal kematian tanggal 23 oktober 2017 kau harus ikut aku." Ucap Sasuke terhadap seorang kakek tua, dia mengalami serangan jantung dan Sasuke yang bertugas menuntunnya.
"Terima kasih untuk membantuku." Ucap kakek tua itu, berjalan ke arah yang tunjuk Sasuke.
Tugasnya sudah selesai, berjalan kembali ke apartemennya, menatap buku catatannya dan tidak ada lagi tugas untuk hari ini.
"Tu-tunggu!" Teriak seorang gadis dan menahan pintu lif.
Sasuke yang terkejut spontan mundur dan menjauh, mengambil jarak dari gadis itu.
"Ah, untung saja." Ucap Sakura, hari ini dia pulang sedikit terlambat, teman-teman sekelasnya yang sudah berada di kelas tiga mengajak untuk berjalan-jalan, mereka merindukan Sakura yang akhirnya kembali ke sekolah, kabar terakhir yang mereka dengar Sakura tidak akan pulih kembali seumur hidupnya, namun sepertinya gadis itu mendapat keajaiban. "Kau paman yang tinggal di sebelah rumahku yaa." Sakura masih mengingat pria itu, menatap wajahnya dia terlihat lebih tua dari Sakura, mungkin sekitar 30an tahun.
"Hn." Jawab singkat Sasuke.
"Aku Haruno Sakura, salam kenal, aku sempat melihatmu lewat tadi pagi, kau sepertinya sedang sibuk." Ucap Sakura dan mengulurkan tangannya ke arah Sasuke.
Sasuke menatap tangan gadis itu dan menatap wajahnya, mengalihkan tatapannya, sebagai dewa kematian dia tidak bisa asal menyentuh manusia, mereka pun memiliki pantangan, jika menyentuhnya, dewa kematian itu akan melihat masa lampau manusia yang di sentuhnya, hal itu bisa menjadi pelanggaran dewa kematian.
Hening, Sasuke memilih mengabaikan gadis itu, Sakura merasa terabaikan dan menyerah untuk mencoba berkenalan.
"Dasar paman yang sombong." Batin Sakura dan ucapan dalam pikirannya itu bisa di dengar jelas oleh Sasuke.
"Aku tidak terbiasa berjabat tangan dengan siapapun." Ucap Sasuke, untuk mengubah pandangan gadis itu padanya.
"Apa umurmu 30an? Aku hanya penasaran, jika benar, aku bisa memanggilmu paman?" Ucap Sakura, dia masih 19 tahun.
"Umurku sudah 300 tahun, ma-maksudku umurku 34 tahun, yaa... Terserah kau mau memanggil apa." Ucap Sasuke.
Sakura tertawa, memikir ucapan pria itu, dia sempat mengatakan 300 tahun, itu sungguh umur yang tidak mungkin untuk seorang manusia.
"Kau paman yang sungguh lucu." Ucap Sakura dan tertawa.
Sasuke menatap malas anak kecil itu, menurut pandangannya, dia masih di bawah umur dan Sasuke tidak akan peduli akan tawanya itu. Pintu lif terbuka Sasuke membiarkan gadis itu berjalan lebih dulu, dia tidak ingin ada sentuhan secara tiba-tiba dari gadis itu, langkah Sasuke terhenti, membuka buku catatannya, setelahnya menatap gadis itu yang sudah berdiri depan pintu rumahnya. Hal yang tidak sangkanya, hari ini tepat pukul 10 malam, ibu Sakura akan meninggal, kembali menatap gadis itu dia bahkan tersenyum dan melambaikan tangan pada Sasuke sebelum masuk ke dalam rumahnya, wajah ceria yang sebentar lagi akan padam.
Ini adalah tugasnya dan Sasuke tidak bisa menghindari dari apapun, hari ini juga dia harus membawa ibu gadis itu.
O
O
Tepat pukul 10 malam
Sakura tertidur di kamarnya, sedangkan Mebuki seakan sudah menyiapkan segala sesuatu, seperti menyimpan sebuah buku tabungan di atas meja rias yang ada di kamarnya, saat ini bukan dirinya yang melakukannya, tubuh aslinya tengah terbaring tenang di atas kasur, rohnya sudah keluar dan Sasuke menunggunya.
"Aku tidak menyangka jika anda adalah dewa kematian." Ucap Mebuki, merasa sudah selesai menyiapkan apapun.
"Haruno Mebuki, lahir pada tanggal xx bulan xx tahun xx, tanggal kematian, tanggal 23 oktober tahun 2017 kali ini aku tidak akan mengantar anda." Ucap Sasuke, dia mempersilahkan seseorang berjalan ke arah Mebuki.
"Akhirnya kita bertemu kembali, aku sudah menunggu cukup lama." Ucap Kizashi, Haruno Kizashi.
"Aku sudah mempersiapkan apapun untuk Sakura, semoga dia bisa menerima segalanya. Tuan dewa kematian, tolong jaga anakku." Ucap Mebuki,
Sasuke hanya dewa kematian, tidak ada hal yang bisa di janjikannnya dan tidak bisa terikat pada manusia, mengangguk perlahan hanya untuk membuat wanita itu senang. Mereka pun akhirnya pergi bersama, siapa yang bisa memikirkan takdir seseorang? Siapapun tidak akan bisa menebaknya.
O
O
Keesokan harinya, hanya ada isak tangis dari gadis berambut softpink itu, meskipun sudah memanggil dokter, dokter itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, ibu Sakura mengalami serangan jantung dan kelelahan, dia meninggal saat malam hari, gadis itu tak kuasa untuk menahan diri, dia menangis sejadi-jadinya, para tetangga berkumpul di rumah gadis itu dan mencoba menguatkan dirinya, kini dia hanya tinggal sendiri tanpa kedua orang tuanya.
Di tengah keramaian iring-iringan peti mati Mebuki, Sasuke berdiri tidak jauh dari acara pemakaman itu, menurunkan topinya dan turut berduka atas kepergian wanita yang ramah itu.
O
O
TBC
O
O
new fic.
fic ini hanya memiliki 3 chapter
sejak awal sudah katakan fic ini terispirasi dari drako goblin, sampai sekarang author masih suka drama korea itu hingga nonton berulang-ulang kali, author suka dengan karekter goblin (gong yoo) tapi yang menarik perhatian author itu adalah malaikat mautnya (Lee dong wook) sikap dan tingkahnya itu unik gara-gara tugasnya, pada akhirnya author dapat sebuah ide untuk membuat fic ini, agak sulit sih, soalnya harus membuat kisah baru tentang malaikat mautnya dan juga pengen di hubungankan dengan masa lalu si dewa kematian, semacam reinkarnasi sebelumnya.
semoga fic ini tetap menghibur dan berharap updatenya cepat, kalau ada typo bisalah di kabari, author akan selalu perbaruhi setiap ada penulisan yang salah, hehehe.
akhir kata, plisss review, di jadikan favorit juga boleh.
See next chapter.
=SASUKE FANS-
