Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. Di larang mengcopy tanpa seijin author.
.
Catatan :
Terinspirasi dari film goblin, tapi terfokus pada malaikat mautnya.
Shinigami = dewa kematian
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
Enjoy for read
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[ Shinigami ]
~ Chapter 2 0f 3 ~
.
.
.
Sebulan berlalu.
Menyiapkan segala sesuatu keperluannya untuk ke sekolah, sebelumnya berdoa di altar ayah dan ibunya, sebulan pun terasa begitu sulit bagi Sakura setelah di tinggal pergi ibunya, masih merasakan suasana di mana ibunya masih ada, beranggapan jika takdirnya sungguh tak adil, itulah yang di pikirkan Sakura, berusaha untuk mengabaikan semua perasaan itu namun dia masih tidak bisa melupakan segalanya.
Memakai sepatunya dan berjalan keluar, lagi-lagi dia akan bertemu dengan pria yang tinggal di sebelah rumahnya, selalu dengan pakaian yang sama, pria itu suka mengenakan apapun yang berwarna hitam.
"Selamat pagi." Sapa Sakura, tidak ada salahnya untuk menyapa tetangga di pagi hari.
Sasuke berhenti melangkah, pikirnya saat mengenakan topi gadis itu tidak akan melihatnya, namun kemampuan gadis itu tidak hilang, dia masih bisa melihat Sasuke.
"Hn, selamat pagi." Balas Sasuke dengan raut wajah yang tidak berubah, tetap datar dan terkesan dingin, melanjutkan langkahnya.
Gadis itu buru-buru menutup pintunya dan berjalan di sebelah Sasuke, spontan pria itu segera menjaga jarak, melirik gadis itu yang selalu saja melakukan tindakan yang tak terduga, Sasuke menurunkan topinya agar Sakura tidak di anggap gila jika berbicara padanya.
"Jadi paman sudah lama yaa tinggal di apartemen itu?" Ucap Sakura.
Sasuke menatap malas ke arah gadis itu, dia tidak senang berbicara tapi gadis itu yang memulai pembicaraan.
"Mungkin sudah hampir 9 atau 10 bulan aku tinggal." Ucap Sasuke, memperkirakan waktu pindahnya.
"Hoo, apa paman pegawai kantoran?" Tanya Sakura.
"Apa kau tidak terlambat dan terus bertanya macam-macam padaku?" Ucap Sasuke, gadis itu terus bertanya padanya.
Sakura menatap jam tangannya dan dia belum terlambat, bahkan masih ada waktu lama untuk bisa berjalan santai sambil mengobrol.
"Sekarang aku tinggal sendirian, rasanya tidak enak, bahkan sangat jarang ada yang menemaniku berbicara." Ucap Sakura.
"Kau bisa berbicara dengan teman sekolahmu." Ucap Sasuke, dia tidak mengerti, ada banyak orang yang bisa berbicara dengan gadis itu, tapi dia malah berbicara padanya.
"Karena aku tinggal kelas, jadi aku tidak begitu akrab dengan siapapun di kelasku, beberapa tetangga juga, aku tidak begitu mengenal mereka dengan baik apalagi setelah aku sakit dan cukup lama meninggalkan Konoha, jadi karena paman tinggal di sebelahku, tidak ada salahnya kan?" Ucap Sakura dan tersenyum.
"Berusahlah untuk membaur dengan mereka." Ucap Sasuke.
Mereka berpisah setelah keluar dari bangunan apartemen, Sakura berhenti sejenak menatap pria itu yang berjalan terburu-buru itu.
"Wajahnya saja yang tampan tapi sikapnya sangat dingin." Ucap Sakura, tetangganya itu hanya menanggapinya dengan cuek dan seakan tidak peduli. Berhenti memikirkan tetangganya yang sedikit membuatnya penasaran dan berjalan ke arah halte bus.
Sebuah bus berhenti, Sakura dan beberapa orang naik ke dalam bus itu, beberapa menit berlalu dalam perjalanan tiba-tiba saja bus itu mengerem mendadak, seluruh penumpang yang ada di dalamnya terkejut dan terlihat panik, bahkan mereka yang berdiri sempat terdorong dan terhimpit, beramai-ramai mereka melihat ke depan dan terjadi sebuah kecelakaan antara dua mobil sedan, Sakura melihat ke arah dua mobil yang memiliki kerusakan yang cukup parah, salah satunya terbalik dan satunya penyot parah pada bagian depan, pupil hijau zambrut untuk menangkap seseorang yang baru saja di temuinya saat berjalan keluar apartemen, pria yang di panggilnya sebagai 'paman,' beberapa orang mulai berdatangan menyelamatkan seorang pria yang terlihat tidak sadarkan diri di mobil yang terbalik itu, mereka mencoba membalik mobil secara bersamaan, Sakura melihat pria yang sama yang ada di dalam mobil itu dan yang tengah duduk di aspal, berhadapan paman yang selalu berpakaian serba hitam, dia seperti membacakan sesuatu dari buku kecil yang di pegangnya, setelah itu keduanya menghilang, Sakura terkejut, memikirkan jika yang di lihatnya itu bukanlah manusia.
O
O
Sejak apa yang di lihatnya di jalanan, Sakura selalu kepikiran akan tetangganya itu, apa benar dia seorang manusia atau bukan? Beberapa hal menjadinya sangat misterius.
Berjalan-jalan di area yang tidak jauh dari apartemennya, Sakura ingin mencari kerja paruh waktu, meskipun dia mendapat sebuah buku tabungan dari ibunya, Sakura masih harus bekerja untuk kelangsungan hidupnya, tabungan itu tidak mungkin akan bertahan lama jika selalu di gunakannya, dia ingin menyimpannya dan menjadikan sebagai tabungan yang bisa di gunakan jika ada keadaan mendesak.
Berhenti di setiap toko yang bertuliskan mencari pegawai paruh waktu, pada akhirnya dia berhasil mendapat pekerjaan di sebuah minimarket, managernya pun seorang wanita yang ramah, dia mau menerima Sakura untuk bekerja setelah jam sekolahnya berakhir.
"Baiklah, kau boleh bekerja sekarang jika kau mau." Ucap manager pemilik minimarket itu.
Sakura menggangguk pasti dan ingin segera melakukan pekerjaan pertamanya, mengganti seragamnya dengan seragam pegawai minimarket itu.
Beberapa jam berlalu, Sakura mulai terbiasa untuk melayani setiap pembeli, managernya yang mengawasinya pun merasa gadis itu bisa mengatasi apapun saat ini.
Pintu minimarket itu terbuka, seorang pria yang berpakaian serba hitam itu lagi, Sakura melihat ke arahnya tapi sepertinya pria itu hanya sibuk menatap rak ramen instan yang tengah promo, dia bahkan mengambil ramen instan dalam jumlah yang banyak, menaruhnya di kasir dan sedikit terkejut melihat siapa kasir yang tengah berjaga.
"Kita bertemu lagi paman." Ucap Sakura dan tersenyum lebar.
"Kau bekerja di sini?" Ucap Sasuke, tidak menyangka akan bertemu gadis itu, takdir yang sungguh mengerikan mereka secara tidak langsung bertemu secara kebetulan.
"Sebenarnya ini pertama kalinya aku bekerja dan hari ini adalah hari pertama ku." Ucap Sakura dan mulai menghitung semua ramen instan itu satu persatu. "Apa paman tidak akan mengalami gangguan pada lambung jika terus makan ramen instan ini?" Lanjut gadis itu, melihat ramen instan yang begitu banyak di beli pria di hadapannya.
"Ramen instan lebih mudah untuk di masak." Jawab Sasuke, dia tidak bisa masak dan ramen instan adalah yang paling mudah, lagi pula dia bukan manusia yang akan mengalami masalah lambung jika terus-menerus memakan ramen instan.
"Uhm, jadi paman tidak bisa masak, kenapa tidak memesan makan di luar?"
"Aku tidak menyukai memesan makanan." Ucap Sasuke, cuek.
"Apa paman sudah punya pacar?"
"Aku tidak butuh pacar." Ucap Sasuke, dia mulai terlihat malas, gadis itu akan selalu bertanya banyak hal padanya.
"Wah, sayang sekali yaa, paman itu termasuk orang yang tampan loh, kenapa tidak segera mencari pendamping hidup, dengan begitu paman tidak akan makan ramen instan lagi." Ucap Sakura dan terkekeh.
"Cepatlah lakukan pekerjaanmu." Ucap Sasuke, dia pun bosan meladeni gadis SMA itu.
"Baiklah." Ucap Sakura dan memasang wajah cemberutnya, segera menyelesaikan hitungan seluruh cup ramen itu, paman di hadapannya itu tidak suka banyak bicara, bahkan tatapannya tetap saja sedingin kulkas.
Sasuke bergerak mengambil susu rasa stroberi dalam kemasan kotak yang ada di sebelah kasir, Sakura sudah menghitung semuanya dan menyebutkan jumlah yang harus di bayar Sasuke, semua belanjaan sudah di masukkan ke dalam kantong plastik, tapi kotak susu itu di keluar Sasuke dan menaruhnya di atas meja kasir.
"Untukmu." Ucap Sasuke dan bergegas pergi setelah menyelesaikan pembayarannya.
"Eh? Terima kasih, paman." Ucap Sakura, meskipun Sasuke sudah keluar dari minimarket itu. "Dia paman yang cukup baik." mengambil kotak susu rasa stroberi itu dan terasa dingin, aneh, bukankah kemasan kotak itu di ambil dari rak bagian kasir dan bukan dari dalam lemari pendingin, memikirkannya pun Sakura tidak akan pernah bisa tahu bagaimana itu bisa terjadi dan dia baru saja lupa menanyakan tentang apa yang di lihatnya di jalanan beberapa hari yang lalu pada paman berpakaian serba hitam itu.
Pekerjaan Sakura akan berakhir tepat jam 7 malam, managernya tidak ingin terjadi hal buruk pada gadis SMA itu, dia akan pulang lebih awal dan pegawai yang berjaga malam yang akan menjaga, Sakura berjalan pulang, tidak terlalu jauh dari apartemennya, membawa sebuah kantong belanjaan berisikan bahan-bahan untuk masakan.
"Shiittt... hey, kau." Panggil seseorang.
Sakura berbalik dan melihat seorang wanita dengan wajah pucatnya.
"Anda memanggilku?" Ucap Sakura.
"Tentu saja, siapa lagi yang aku panggil." Ucap wanita itu.
"Ada apa?" Ucap Sakura.
"Jadi kau bisa melihatku?" Ucap Wanita itu.
Sakura akhirnya menyadari sesuatu jika wanita itu bukan manusia, pura-pura tidak melihat dan kembali berjalan.
"Ah, aku ingin segera pulang dan makan." Ucap Sakura, pura-pura tak berbicara pada wanita itu.
"Hey, apa yang kau lakukan? Aku tahu kau bisa melihatku, kau bahkan merespon ucapanku." Protes wanita itu setelah gadis berambut softpink itu mengabaikannya.
Sakura seakan tidak peduli dan terus berjalan, dia tidak ingin di anggap orang aneh jika berbicara sendirian di jalan yang sepi ini. Hantu wanita itu tidak menyerah dan tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapan Sakura, gadis itu cukup terkejut, hantu wanita itu memasang wajah seramnya.
"Dengarkan orang yang lebih tua berbicara!" Ucap hantu wanita itu, dia tidak ingin di abaikan begitu saja.
"Ada apa lagi?" Ucap Sakura, melirik sekitar dan berharap tidak ada orang yang lewat dan melihatnya berbicara sendiri.
"Dasar, aku tahu kau bisa melihatku."
"Iya, aku bisa melihatmu, lalu anda mau apa?"
"Tidak, aku hanya ingin menyapamu saja, sudah lama sekali tidak ada orang bisa menemaniku berbicara."
"Cari saja hantu yang lain." Ucap Sakura.
"Kau begitu jahat padaku."
"Aku tidak jahat, hanya saja aku tidak ingin orang berpikiran buruk padaku, mereka akan menganggapku aneh, berbicara sendirian dan menjauhiku." Ucap Sakura, dia sudah merasakan hal itu saat dia memiliki kelebihan khusus ini.
"Baiklah, aku tidak akan berbicara denganmu jika ada orang, lagi pula di jalan sini begitu sepi, apa mau aku menemanimu?" Ucap hantu itu dan tersenyum lebar, meskipun masih tampak seram jika dia tersenyum.
"Terserah saja." Ucap Sakura, pasrah, hantu wanita itu tidak bisa di usirnya.
Kembali berjalan bersama hantu wanita itu, setidaknya dia tidak akan sendirian.
"Uhm... apa kau pernah melihat seorang hantu pria yang selalu memakai pakaian serba hitam?" Ucap Sakura, mungkin dia bisa mendapat informasi dari hantu wanita itu.
"Hantu yang berpakaian serba hitam? Ah, bukannya itu dewa kematian."
"Dewa kematian?"
"Iya, mereka selalu memakai pakaian serba hitam dan topi hitam, mereka akan menuntun orang-orang yang sudah mati." Jelas hantu itu.
"Dewa kematian? Jadi apa benar yang aku lihat itu, paman yang tinggal di sebelah itu adalah dewa kematian? Hahaha konyol, mana mungkin dewa kematian hidup layaknya manusia."
Masih memikirkan jika benar pria itu adalah dewa kematian atau tidak, tapi sikapnya biasa-biasa saja.
"Sebaiknya jangan terlalu dekat dengan mereka, kau bisa saja di bawa mereka." Ucap hantu wanita itu, mengucapkan hal yang tidak benar, dewa kematian hanya membawa roh yang sudah keluar dari tubuhnya dan bukan bertugas untuk memaksa roh yang belum tercatat pada bukunya untuk keluar dari tubuhnya.
"Yaa, aku tahu sedikit akan hal itu, jangan sampai namamu di ketahui oleh dewa kematian-" Ucapan Sakura terputus dan dia tiba-tiba saja berhenti berjalan, syok, mengingat saat itu dia sudah berkenalan dengan pria itu dan bahkan menyebutkan namanya dengannya jelas. "Gawat! Apa yang sudah aku lakukan!" Ucap Sakura, panik.
"Ada apa?"
"Aku sudah mengatakan namaku padanya!" Panik Sakura.
"Wah, kau harus berhati-hati padanya dan juga jangan tatap matanya."
"Apa!" Sakura menjadi murung sendiri, dia bahkan sudah berani memandang wajah pria itu, mata mereka beberapa kali akan saling bertemu.
"Tenanglah, aku yakin kau akan baik-baik saja." Ucap hantu wanita itu.
Hantu wanita itu merasa seperti mendapat teman baru, melambaikan tangan ke arah gadis yang sudah masuk ke dalam apartemennya. Sakura sudah berdiri di depan pintu rumahnya, melirik ke arah pintu yang tidak jauh darinya.
"Apa benar paman itu dewa kematian?"
Sakura masih memikirkannya dan merinding sendiri.
"Hey, kau menghalangi jalan." Ucap seseorang.
Sakura malah terkejut dan menempel-bersandar pada pintu rumahnya. Sasuke yang melihat tingkah gadis itu pun kebingungan, tidak biasanya dia akan terkejut seperti itu, lagi-lagi bertemu.
"Pa-pa-paman membuatku kaget." Gugup Sakura, detik berikutnya dia menundukkan wajahnya dan berusaha tidak menatapnya.
"Apa? Aku tidak bisa lewat jika kau terus berdiri di depan pintumu." Ucap Sasuke.
"A-aku akan segera masuk." Ucap Sakura, seakan berwajah takut, buru-buru memasukkan password rumahnya dan segera masuk.
Sasuke semakin bingung di buatnya, memandang pintu yang sudah tertutup, bahkan detak jantung gadis itu berdetak lebih cepat, seakan dia sudah berlari mengelilingi lapangan.
"Gadis aneh."Gumam Sasuke.
O
O
Hari-hari berikutnya, gadis itu semakin menjaga jarak dan takut pada Sasuke, bahkan jika mereka berpapasan gadis itu malah kabur secepat mungkin.
"Selamat datang." Ucap Sakura, ramah.
Pikirannya tentang dewa kematian itu harus di hilangkan sejenak, Sakura tengah bekerja dan harus fokus pada pekerjaannya, pembeli tengah mengantri satu persatu, antrian berikutnya membuatnya harus segera menundukkan wajahnya lagi. Sasuke melihat tingkah gadis itu, hari ini dia tidak banyak bicara seperti biasanya, tapi dia sudah seperti itu beberapa hari yang lalu, kadang jika mereka berpapasan, gadis itu langsung saja kabur.
"Mati aku, tetaplah terlihat normal." Ucap Sakura dalam hati. Tapi sia-sia, Sasuke bisa membaca pikirannya itu.
"Totalnya 150 ribu." Ucap Sakura, masih senantiasa menundukkan wajahnya, menatap barang belanjaan pria itu, beberapa kaleng bir dan lagi ramen instan, Sasuke tidak pernah melewatkan jika ada diskon ramen.
Sasuke membayar dan tidak bertanya apa-apa pada sikap gadis SMA itu, terasa begitu damai, dia tidak harus menjawab setiap pertanyaan macam-macam yang dia ajukannya lagi.
Tetangganya itu telah pergi dan Sakura bernapas lega, dia begitu takut, mengingat kembali akan ucapan hantu wanita yang di temuinya, tapi semua itu masih belum di pastikannya, kembali melayani setiap pembeli yang telah mengantri.
Tepat jam 7 malam, pekerjaannya berakhir, berjalan di jalur jalanan yang sama.
"Kau sudah pulang?" Ucap seseorang dari arah belakang Sakura.
"Ah, kau lagi." Ucap Sakura, lagi-lagi hantu wanita itu akan mengikutinya.
"Memangnya kenapa? Aku tidak menghantuimu atau mengganggumu."
"Secara tidak langsung kau menghantuiku." Ucap Sakura dan menoleh, mendapati ada dua hantu lainnya, yang satu masih muda dia mungkin seumuran dengan Sakura, memakai seragam SMA, satu lagi hantu yang sepertinya seumuran dengan hantu yang selalu bersama Sakura jika pulang. "Kenapa tiba-tiba kalian menjadi banyak?" Ucap Sakura.
"Hehehe, aku mengajak mereka."
"Senang bisa bertemu denganmu." Ucap kedua hantu baru itu.
"Haa..~ kalian ini, kenapa tidak pergi saja dengan tenang, apa kalian masih memiliki hal yang belum terselesaikan di dunia ini?"
"Mungkin seperti itu." Ucap salah satu dari mereka.
"Sepertinya hari ini aku sedang sial, bertemu dewa kematian dan juga hantu." Ucap Sakura dan kembali berjalan.
"Apa! Dewa kematian, jad apa yang terjadi padamu?"
"Tidak terjadi apa-apa."
"Syukurlah, tapi pun kau sangat jahat pada kami."
"Aku tidak jahat, tapi jika berbicara dengan kalian aku ini akan di anggap aneh, uhk, mau di katakan berapa kali pun kau akan kembali mengatakan aku jahat." Ucap Sakura, sedikit kesal.
"Hei." Panggil seseorang dan seketika ketiga hantu itu segera menghilang.
Sakura membatu dan segera menundukkan wajahnya, mundur perlahan dan mengambil jarak yang cukup jauh, tidak mengerti kenapa bisa bertemu dengan tetangganya itu.
"A-ada apa?" Ucap Sakura. "Aku sungguh sial." Batinnya.
"Kau berbicara sendiri seperti orang gila." Ucap Sasuke.
"Apa! Ka-kau melihatku tadi?" Ucap Sakura dan segera mengangkat wajahnya.
"Tentu saja, dasar aneh." Ucap Sasuke, sejujurnya dia tengah mencoba berbohong pada Sakura agar gadis itu tidak memikirkan lagi siapa dirinya yang sebenarnya.
"Jika dia tidak melihat ketiga hantu tadi, jadi apa benar dia ini bukan dewa kematian, uhk, dasar, hantu itu berbohong padaku." Batin Sakura.
"Kau sangat aneh akhir-akhir ini." Ucap Sasuke.
"Aku tidak aneh, ta-tadi aku hanya berbicara pada diriku sendiri." Ucap Sakura dan kembali berjalan. "Apa paman baru saja pulang kerja?" Tanyanya, memandangi pria itu yang masih lengkap dengan pakaian serba hitamnya.
"Hn." Jawab singkat Sasuke.
Mereka pun berjalan bersama menuju apartemen.
"Apa aku tanya saja yaa? Ah tidak-tidak, dia akan menganggapku aneh lagi, tapi aku sangat penasaran, apa benar paman ini dewa kematian?" Sakura melirik ke arah Sasuke, dia terlihat tenang dan terus berjalan.
Sasuke mendengar setiap ucapan dalam pikiran gadis itu, ini akan rumit jika dia terus memikirkan hal itu. Hingga tiba di apartemen, Sakura akhirnya tidak bertanya apapun, dia tidak ingin di anggap aneh dan menghilangkan rasa penasarannya itu, mungkin saja dia melihat hantu yang mirip dan bukan seorang dewa kematian.
Suasana bangunan apartemen sangat gelap, Sakura menanyakan apa yang terjadi pada petugas keamanan apartemen, dia hanya mengatakan jika sedang terjadi korslet di beberapa rumah dan tengah ada perbaikan, mau tidak mau mereka harus menaiki tangga darurat, masih ada lampu emergency yang akan menyala jika sedang mati lampu, menerangi tangga darurat. Sakura berjalan malas, dia tengah lelah dan harus naik tangga lagi, menatap area tangga darurat itu, dia tidak menyangka jika akan bertemu hantu seorang pria, tapi hantu itu segera menghilang saat melihat ke arah Sasuke, dia seakan takut, Sasuke pun tidak ambil pusing, selama dia tidak memiliki catatan kematian hantu itu, dia tidak akan bertindak sesuka hatinya, Sakura mengabaikan apapun yang di lihatnya di tangga.
O
O
Pagi harinya, listrik masih juga padam, mereka tetap harus menggunakan tangga darurat, Sakura sibuk melihat bukunya dan tak melihat langkah di depannya, merasakan jika tidak ada lagi sesuatu yang di pijakinya, Sakura spontan menutup matanya, pasrah jika dia akan jatuh dari tangga, terkejut dengan arah jatuhnya, Sakura terjatuh ke belakang dan bukan ke depan, bokongnya cukup sakit, membuka mata dan melihat wajah datar tetangganya itu.
"Apa kau ini manusia paling bodoh? Kau bisa saja mengalami patah tulang atau bahkan kematian jika jatuh dari tangga ini." Ucap Sasuke, dia cukup kesal melihat tingkah ceroboh gadis itu, bisa-bisa bantuannya akan pil penyembuh itu sia-sia.
"Te-terima kasih." Ucap Sakura, dia bahkan bersujud di hadapan Sasuke, memikirkan jika saja dia memang hampir kehilangan nyawa, meskipun bokongnya sakit, Sasuke telah menyelamatkannya.
"Jangan pernah membaca saat berjalan." Ucap Sasuke dan bergegas pergi, saat itu untung saja dia baru akan menuju tangga dan melihat Sakura yang hampir saja terjatuh, segera mungkin Sasuke menarik tas gadis itu dan tidak menyentuhnya.
"Ah, paman, tunggu!" Ucap Sakura, segera mengikuti Sasuke turun. "Aku sungguh beruntung hari ini, sekali lagi terima kasih." Tambahnya.
Sasuke hanya meliriknya dan kembali fokus akan jalannya, tidak ada tanggapannya setelah mereka berpisah.
"Semoga harimu menyenangkan, paman." Ucap Sakura dan melambaikan tangan ke arah Sasuke, tapi tetap saja dia di acuhkan.
Gadis itu tersenyum, mereka selalu saja bertemu, Sakura pun merasakan jika paman yang tinggal di sebelahnya itu sangat tampan, hanya saja umurnya mereka terlampau jauh darinya.
O
O
Beberapa jam berlalu, Sakura sudah sibuk dengan pekerjaannya, melirik jam tangannya, sudah jam 9 malam dan pegawai yang jaga malam belum juga datang, Sakura mendapat telpon dari teman kerjanya itu jika dia ada keperluan mendadak dan meminta Sakura untuk menunggunya sedikit lebih lama, hari ini pun managernya sedang tidak ada di toko, jika dia melihat Sakura masih menjaga hingga jam segini, Sakura akan langsung di suruh pulang, menghela napas.
Sejam berlalu dan tepat jam 10 malam, akhirnya Sakura bisa pulang, seorang mahasiswa yang menjaga malam itu pun meminta maaf pada Sakura jika dia terlambat dan berjanji akan memberi sebagian gajinya untuk menggantikan waktu Sakura, gadis itu merasa tidak masalah, menganggap jika dia pun tengah membantu.
Berjalan sendirian, suasana begitu sepi, mengingat sudah jam 10 lewat, Sakura masih harus berjalan, beberapa anjing akan terdengar menggonggong.
"Wah, kenapa anak berseragam SMA masih berada di jalan jam segini?" Ucap seseorang yang tiba-tiba merangkul Sakura, gadis itu terkejut, berbalik dan menjauhkan diri, dia bisa melihat dua orang pria berbadan besar dan berwajah cukup galak, mereka seperti memperhatikan Sakura.
"To-tolong jangan menggangguku." Ucap Sakura, berbalik dan berusaha kabur, sayangnya tas punggungnya di tarik dan membuatnya terjatuh- terduduk.
"Aiish... kau ini tidak punya sopan santun jika berbicara dengan orang yang lebih tua yaa." Ucap salah satu dari mereka.
"Aku mohon, biarkan aku pergi." Sakura memohon, suasana yang sepi dan tidak terlihat orang akan berlalu-lalang di jalanan itu, takut melihat kedua pria itu, Sakura pun tidak punya ide untuk bisa kabur.
"Baiklah, beri kami uangmu dan pergilah."
"U-uang? Aku tidak membawa uang." Ucap Sakura, uangnya sudah di pakai untuk makan di luar sebelum pulang.
"Jangan berbohong, geledah tasnya."
"Jangan! Aku mohon, aku tidak membawa uang, hiks." Ucap Sakura, dia pun menangis dan mencoba menahan tas ranselnya, lagi-lagi dia harus pasrah, para pria itu begitu kuat dan membongkar isi tasnya, Sakura sudah berkata jujur, mereka tidak menemukan uang atau barang berharga selain buku pelajaran yang ada di dalamnya.
"Sial, dia tidak punya uang."
Keduanya menatap Sakura dan berbisik.
"Ya sudah, ikut kami, mungkin kau bisa di jual." Ucap salah satu dari mereka dan sontak membuat Sakura kaget.
"Apa! Tidak! Aku tidak mau!" Teriak Sakura.
Kedua pria itu memaksa Sakura untuk mengikutinya, gadis itu mati-matian menahan diri, mereka terus menarik Sakura, keduanya tiba-tiba berhenti dan melepaskan tarikan mereka, terasa seperti wajah mereka tengah di tampar dan membuat mereka terkejut, melepaskan tangan mereka dari lengan gadis itu, Sakura mengambil kesempatan ini dengan berlari dan bersembunyi, dia sungguh ketakutan dan terus menangis.
"Apa kau yang melakukannya? Mau coba menjadi sok pahlawan!" Gertak mereka.
"Aku benci mencampuri masalah manusia, tapi kalian membawa seseorang yang aku kenal." Ucap Sasuke. Setelah dia menuntun sebuah roh pergi dan berjalan pulang, Sasuke mendengar suara Sakura, dia berteriak dan jaraknya tidak terlalu jauh, pria ini bergegas dan benar saja, menemukan dua pria yang memaksa Sakura mengikuti mereka.
"Memangnya kau siapa? Ha! Beraninya kau mengganggu kami."
"Aku? Kau tanya siapa aku?" Ucap Sasuke, berjalan lebih dekat ke arah kedua pria itu dengan santainya, mata kelam yang terlihat menggelap, dia seperti merasa di remehkan. "Dengarkan aku baik-baik, tatap mataku." Lanjut Sasuke.
"Kenapa harus menatap mata-mu."
Kedua pria itu yang berwajah sombong kini terlihat seperti orang bengong menatap Sasuke.
"kalian sungguh membuatku kesal, aku tidak berkelahi secara fisik, jika saja aku tahu nama kalian, aku sudah membuat kalian ke akhirat sekarang juga." Ucap Sasuke, menatap sejenak ke arah Sakura yang berlarian tadi, berharap dia tidak melihat apa yang sedang di lakukannya sekarang, memperhatikan setiap sudut dan menemukan gadis itu tengah ketakutan, bahkan tubuhnya gemetaran, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan seakan tidak bisa di temukan jika bersembunyi seperti itu.
Sasuke kembali menatap kedua pria yang masih terfokus menatap mata Sasuke, salah satu kekuatan khusus seorang dewa kematian, mereka seakan menghipnotis siapapun dan dengan mudah memerintah mereka.
"Kalian berdua, larilah ke kantor polisi terdekat, lalu berkelahilah di depan kantor polisi itu, oh jangan lupa, sambil berucap kami akan menjual seorang gadis sekolahan, sudah, pergilah." Ucap Sasuke.
Kedua pria itu tiba-tiba berlari sekuat tenaga, tujuan mereka seperti apa yang di ucapkan Sasuke.
Sementara itu, Sasuke memungut satu persatu barang Sakura dan memasukannya ke dalam tas, berjalan perlahan, gadis itu masih bersembunyi.
"Sebaiknya kau melewati area yang ramai saat pulang tengah malam, area di sini selalu sepi dan jarang di lewati siapapun." Ucap Sasuke.
Sakura sangat hapal akan suara khas itu, mengangkat wajahnya dan menatap Sasuke yang memegang tasnya.
"Paman, hueee...~" Sakura menangis begitu keras, berlari ke arah Sasuke seperti ingin memeluknya, tapi hal itu menjadi sia-sia, Sasuke menghindar dan Sakura merasa bodoh sendiri.
"Berhentilah menangis, orang-orang akan salah paham." Tegur Sasuke.
Sakura segera menutup mulutnya dan melap air matanya, dia sungguh takut, hari ini kembali dia bernasib baik, Sasuke menolongnya lagi.
"Ambil tasmu, aku akan mengantarmu pulang." Ucap Sasuke, menyodorkan tas ke arah gadis itu.
Sakura mulai berdiri, dan mengambil tasnya, hampir saja tangan mereka tersentuh dan spontan membuat Sasuke menjatuhkan tas gadis itu ke tanah.
"Apa yang paman lakukan? Kenapa membuang tasku?" Ucap Sakura.
"Aku tidak suka di sentuh." Ucap Sasuke.
Wajah sedih gadis itu berubah menjadi sedikit kesal, tasnya menjadi lebih kotor, Sasuke menjatuhkannya begitu saja, bahkan pria di hadapannya tidak begitu peka.
"Maaf." Ucap Sakura, mengingat kembali bahkan Sasuke tidak suka berjabat tangan.
Berjalan bersama menuju apartemen, Sakura merasa tertolong, paman yang memakai pakaian serba hitam ini selalu menolongnya.
"Paman seakan menjadi dewa pelindungku, seharian ini dua kali paman sudah menolongku, terima kasih." Ucap Sakura.
"Hanya kebetulan saja." Ucap Sasuke, menganggap jika benar dia hanya kebetulan mendapati gadis itu dalam keadaan yang berbahaya, tapi jauh di lubuk hatinya, entah kenapa membuatnya pun sedikit senang, bahkan tidak rela jika gadis ini di ganggu pria-pria tadi.
O
O
Sakura melipat kedua tangannya ke dada, menatap malas ke arah ketiga hantu yang lagi-lagi mendatanginya saat pulang.
"Kemana saja kalian?" Ucap Sakura, kemarin, dia dalam bahaya dan ketiga hantu ini tidak ada, Sakura sangat berharap jika salah satu dari mereka bisa menolongnya.
"Kami tidak tahu jika kau di ganggu preman."
"Setidaknya kalian bisa menamaniku pulang." Ucap Sakura, kesal.
"Maaf, sejujurnya saat itu kami ingin menolong mu, tapi dewa kematian itu sudah datang lebih dulu."
"Jangan menggangguku lagi, aku sudah tidak percaya pada kalian, oh iya, dia bukan dewa kematian, kalian jangan berbohong lagi, mana ada dewa kematian yang tidak bisa melihat hantu." Ucap Sakura, melangkah pergi secepat mungkin, berurusan dengan hantu-hantu hanya membuatnya kesal.
"Kenapa kau tidak percaya pada kami! Dia memang dewa kematian!" Teriak salah satu dari mereka.
Sakura segera memakai headsed dan sengaja mengeras suara musik dari ponselnya.
"Dia jadi marah pada kita."
Ketiga hantu itu menatap sedih ke arah Sakura dan menghilang.
Gadis berambut softpink ini masih berjalan menuju apartemennya, langkahnya terhenti, dari arah parkiran apartemen, Sakura melihat Sasuke yang tengah berbicara dengan seorang wanita, bahkan pakaian mereka terlihat sama, sama-sama berwarna hitam dan lagi topi yang pegang wanita itu mirip dengan milik Sasuke.
"Apa dia pacar paman? Seleranya ternyata yang sama dengannya paman yaa, dia suka wanita yang menggunakan pakaian serba hitam, bahkan topi mereka terlihat sama." Batin Sakura.
Mereka seperti sudah selesai berbicara, Wanita itu berjalan pergi dan Sasuke berjalan ke arah apartemen, Sakura kembali melangkahkan kaki, dia sempat berpapasan dengan wanita itu, tapi wajah wanita itu terlihat cuek bahkan tidak menatap Sakura, wanita itu berjalan terus, Sakura sempat menoleh ke arahnya dan berjalan lebih cepat sebelum Sasuke jauh. Wanita berhenti berjalan dan berbalik, menatap gadis SMA yang berjalan cepat itu.
"Dia bisa melihatku? Manusia khusus ternyata." Ucap wanita itu dan kembali berjalan.
Sakura berhasil menyusul Sasuke, listrik di apartemen sudah selesai mendapat perbaikan, mereka jadi bisa kembali naik lif, Sasuke melihat gadis itu, mereka bertemu lagi.
"Akhirnya aku melihat pacar paman." Ucap Sakura.
"Kami tidak pacaran." Ucap Sasuke, cuek.
"Benarkah? Aku tidak percaya pada paman."
"Kami hanya rekan kerja." Ucap Sasuke, wajah yang selalu terlihat tenang.
"Aku pikir dia wanita tipe paman, kalian sama-sama menggunakan apapun serba hitam." Ucap Sakura.
Sasuke terdiam, dia tidak perlu membalas ucapan gadis itu. Sakura melirik ke arah Sasuke, mau di lihat berapa kali pun, pria di sebelahnya ini yang kini tengah naik lif bersama sangat tampan.
"Ada apa?" Ucap Sasuke, dia sadar jika gadis ini terus menatapnya.
"Ti-tidak!" Ucap Sakura, segera mengalihkan tatapannya, wajahnya bahkan sempat merona.
O
O
Setelah turun dari sebuah bus, Sakura berjalan menuju minimarket, langkahnya terhenti menatap seorang nenek yang tengah membuka lapak dengan beberapa perhiasan dan barang antik, menatap setiap benda yang di jual nenek itu.
"Belilah sesuatu yang kau suka." Ucap nenek itu, tersenyum menatap gadis SMA yang sibuk memperhatikan barang yang di jualnya.
Sebuah pantulan kilauan dari sebuah cincin hijau, Sakura tertarik akan cincin itu, mengambil dan melihat baik-baik.
"Wah, ini cincin yang sangat indah." Ucap Sakura, entah mengapa dia sangat menginginkan cincin itu.
"Cincin itu termasuk benda kuno, sejak jaman edo dan di pakai oleh seorang ratu di jaman itu." Cerita singkat dari nenek itu.
"Apa ini asli?" Ucap Sakura.
"Tentu saja, barang-barang yang aku jual semuanya asli."
"Nenek sangat beruntung bisa mendapat benda seperti ini, kenapa tidak simpan saja?" Ucap Sakura.
"Tidak-tidak, aku butuh uang dan mau tidak mau harus menjualnya."
"Sayang sekali, kira-kira harganya berapa?"
"500 ribu."
"Apa! Li-lima ratus ribu!" Ucap Sakura, cukup terkejut dengan harganya.
"Itu cincin langkah, berbahan giok dan ada ukiran naganya di dalam, kau tidak bisa menemukan benda yang sama seperti itu di dunia ini."
Sakura masih menatap cincin itu, dia ingin sekali memilikinya, tapi harganya sangat mahal, dia tidak bisa begitu saja mengeluarkan uang yang di kumpulkannya.
"Hanya benda rongsokan kenapa begitu mahal kau menjualnya." Ucap Sebuah suara. Sakura menoleh dan melihat Sasuke.
"Apa maksudmu barang rongsokan? Di sini benda-benda yang jarang ada terjual." Ucap nenek itu.
"Jika kau tidak punya uang, kembalikan saja cincin itu." Ucap Sasuke pada Sakura.
Berwajah cemberut, Sakura menyimpan kembali cincin itu, niatnya tidak akan terjadi.
"Nenek, bisakah kau menyimpan cincin ini? Mungkin beberapa hari lagi aku akan datang menebusnya." Ucap Sakura, dia masih ingin memilikinya.
"Aku bisa menurunkan harga untukmu gadis manis."
"Berapa?" Sakura terlihat begitu senang.
"200 ribu."
Seketika raut senangnya menjadi pudar, harganya masih tetap saja mahal.
"Lalu kau ingin harga berapa?" Ucap Sasuke, dia bisa membaca pikiran gadis itu.
"Aku ingin harganya 50 ribu!" Tegas Sakura, dia pun tidak sadar jika Sasuke sudah membaca pikirannya.
"Maaf, aku tidak bisa menjualnya dengan harga segitu." Tolak nenek itu.
Lagi-lagi Sakura di buat putus asa, selamanya benda itu tidak akan bisa di milikinya.
"200 ribu, aku ambil benda ini." Ucap Sasuke.
Membayar pada nenek itu dan berjalan pergi. Sakura menatap tidak percaya, pria itu sudah membeli cincinnya, tapi anehnya dia pergi meninggalkan cincin itu.
"Pa-paman! Kau melupakan cincinmu!" Ucap Sakura, meneriaki Sasuke berkali-kali namun tidak mendapat respon apa-apa.
Sasuke terus berjalan dan tidak memperdulikan ucapan gadis itu, entah mengapa dia pun ingin membelikan cincin itu untuk Sakura, terasa aneh, memikirkan jika itu bukan apa-apa.
"Pria itu baik juga, dia membelikan cincin itu untukmu." Ucap nenek itu.
"U-untukku?"
"Siapa lagi? Dia sudah membayarnya dan sekarang cincin itu menjadi milikmu, ambillah."
Sedikit tidak percaya, tetangganya itu membelikan sebuah cincin untuknya, bahkan sudah repot-repot membayar dengan jumlah yang cukup banyak, Sakura mengambil cincin itu dan menatap ke arah Sasuke pergi, dia sudah menghilang entah kemana, berpikir jika jalan pria itu sangat cepat. Nenek tua itu terus menatap gadis yang masih berpakaian SMA ini.
"Takdir cukup mengerikan, bahkan jika itu sudah atur, siapa yang bisa menghindarinya."
"Nenek berkata apa?"
"Bukan apa-apa, hanya bagaimana kau menjalankan takdirmu sekarang." Ucap nenek itu dan tersenyum.
Sakura memandang bingung wajah nenek itu, menatapnya sejenak dan bergegas, dia sampai lupa dengan jadwal kerjanya.
O
O
Sesekali Sakura akan menatap cincin hijau yang sudah di pasangnya di jari manis, cincin itu muat pada jarinya. Jam kerjanya sudah selesai, saat ini dia tengah berjalan pulang.
"Hari ini kau tampak senang sekali."
Sakura menoleh ke samping dan melihat hantu yang berpakaian seragam sekolah.
"Aku tidak ingin bicara pada kalian lagi." Ucap Sakura, masih mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, dia pun tidak ingin berurusan lagi dengan para hantu itu.
"Kami sudah minta maaf."
"Lalu, dimana yang lain? Kalian biasanya bertiga." Ucap Sakura, saat ini hanya hantu yang berseragam sekolah.
"Entahlah, aku tidak bertemu mereka." Ucap Hantu itu dan menatap Sakura. "Namaku Suiren, aku belum memperkenalkan diri saat pertama kali bertemu denganmu."
"Dari seragammu, kau murid dari sekolah khusus wanita kan?"
Hantu itu mengangguk, membenarkan jika dia adalah murid dari sekolah khusus wanita.
"Sayang sekali, kenapa kau begitu cepat mati? Apa karena sebuah kecelakaan?"
"Sejujurnya, aku bunuh diri."
Sakura berhenti berjalan dan menatap hantu itu, ucapannya sungguh membuatnya sedikit terkejut.
"Pada akhirnya, aku benar-benar menyesali perbuatanku sendiri." Raut wajah Suiren terlihat sedih.
"Kenapa kau melakukan itu?"
"Aku sudah lelah mendapat tekanan dari beberapa murid, bahkan orang tua ingin yang terbaik, aku tidak bisa lagi melanjutkan hidup dan memilih untuk mengakhirinya."
Merasa prihatin akan cerita singkat hantu itu, Sakura pun merasa sedikit kasihan padanya.
"Kemarin, maaf sudah marah pada kalian, uhm.. jika kau butuh bantuan, mungkin aku bisa sedikit membantu."
"Benarkah?"
"Tapi bantuan yang mudah, aku tidak ingin melakukan hal yang aneh-aneh."
"Kau sungguh baik, terima kasih banyak." Ucap Suiren.
Sakura mendengar keinginan hantu itu selama perjalanan pulang, dia hanya ingin Sakura mendatangi sekolahnya, mengambil sebuah surat yang Suiren simpan di salah satu buku di perpustakaan, isinya hanya sebuah ungkapan perasaan Suiren selama ini yang di pendamnya, surat itu pun di tujukan pada kedua orang hantu itu, tapi selama ini dia tidak bisa melakukannya.
"Jika ada waktu luang, aku akan melakukannya untukmu." Ucap Sakura.
"Sekali lagi terima kasih." Ucap Suiren dan menghilang.
Di samping itu, Sasuke menatap Sakura yang tidak jauh darinya, gadis itu lagi-lagi berbicara dengan hantu dan kali ini Sasuke bisa mendengar pembicaraan mereka, hantu itu bahkan melibatkan manusia untuk masalahnya. Berjalan sedikit cepat hingga tepat di belakang gadis SMA yang kembali menatap cincin di jarinya.
"Apa cincin itu begitu penting?"
Terkejut.
Sakura benar-benar terkejut, berbalik dan melihat paman berpakaian serba hitam lagi.
"Pa-paman! Apa ku bisa tidak mengagetkanku!" Protes Sakura.
"Oh, aku pikir kau sadar jika ada orang di belakangmu." Ucap Sasuke, wajahnya begitu tenang, berpikiran jika Sakura menyadari kehadirannya.
"Mana aku tahu kalau paman ada di belakang." Sakura menjadi kesal sendiri.
"Uhm..."
"Ah, maaf, aku jadi marah begini." Ucap Sakura, mengalihkan tatapannya dan jari-jarinya sibuk menyentuh cincin itu. "Terima kasih." Lanjut Sakura, dia belum berterima kasih setelah mendapat cincin itu.
"Hn?"
"Paman ternyata orang yang baik yaa... aku tidak menyangka."
"Tidak perlu membahasnya lagi."
"Oh iya, apa paman suka makanan pedas? Atau paman suka makan apa?" Ucap Sakura, penuh harap untuk mendapat jawaban Sasuke.
"Aku suka makanan apapun, asal tidak makanan yang manis-manis." Ucap Sasuke.
"Baiklah."
O
O
Hari berikutnya.
Ting..tong..ting...tong
Sasuke membuka pintunya dengan malas, pagi-pagi sekali seseorang sudah membunyikan bel rumahnya, melirik ke sana dan kemari tidak ada siapa-siapa, belnya sempat berbunyi tapi tidak ada orang, pandangannya menuju ke lantai dan sebuah panci mini dan sebuah tulisan di atas penutup panci itu.
Sarapan untuk paman, terima kasih atas cincinnya.
Menghela napas dan sebuah senyum di wajahnya, gadis itu sampai repot-repot membuatkan sarapan untuknya, mengambil panci itu dan membawanya masuk, masih hangat, Sakura membuatnya sebelum berangkat ke sekolah.
Berikutnya.
Kembali bunyi bel rumah Sasuke di malam hari, lagi-lagi tidak ada orang, hanya ada sebuah kotak makanan dan berisikan beberapa jenis masakan di dalamnya, tak lupa secarik kertas lagi.
Semoga paman suka dengan ini.
Setiap harinya Sasuke akan mendapat makan dengan tulisan di secarik kertas, ini tidak mengganggu, tapi Sasuke merasa gadis itu terlalu repot, dia sudah hampir memberikan sarapan dan makan malam untuk Sasuke sampai 3 hari berturut-turut, hingga di saat Sasuke memergokiknya masih berada di depan pintu dan akan menaruh sepiring kare.
Pintu terbuka. "Kau melakukannya lagi?" Ucap Sasuke.
"Hoaah!" Sakura terkejut.
Praangg..!
Sakura tidak sadar sampai menjatuhkan piring di tangannya, kare itu masih panas dan mengenai tangannya.
Sasuke spontan memegang tangan Sakura yang terkena kare panas itu, Sakura masih terkejut dan menahan perih pada tangannya, dia pun tidak menyangka jika Sasuke akan langsung memegang tangannya.
Pria bermata onxy itu terdiam, dia hanya memegang tangan Sakura agar membuatnya menjadi dingin dengan kekuatannya, gadis itu menatap Sasuke, mereka saling bertatapan dan yang paling membuat Sakura terkejut adalah tatapan Sasuke yang tiba-tiba berubah, raut wajahnya terlihat sedih dan air mata menuruni pipinya.
"Paman kenapa?" Ucap Sakura.
Sasuke segera melepaskan tangannya dari tangan Sakura, memikirkan jika dia sudah melakukan tindakan yang sangat ceroboh. Sakura merasakan jika perih terkena panas pada tangannya tiba-tiba menghilang dan tangannya terasa dingin.
"Kembalilah ke rumahmu, tidak perlu membereskannya." Ucap Sasuke, meminta gadis itu agar segera pulang.
"Biar aku saja."
"Apa kau tidak bisa mendengar apa kata orang yang lebih tua darimu!" Ucap Sasuke, kesal.
Membuang muka dan berwajah cemberut. "Maaf." Ucap singkat Sakura dan bergegas pergi, dia tidak tahu jika suasana hati tetangganya itu sedang tidak mendukung, dia bahkan terlihat marah, tapi Sakura pun penasaran, dengan Sasuke yang sempat tiba-tiba menangis. "Dasar paman yang aneh" Batinnya.
Setelah Sakura pergi, Sasuke membersihkan piring pecah dan kare yang berhamburan di depan pintunya, saat ini pikirannya sedang kacau, dia sudah memegang tangan Sakura dan sebuah ingatan di masa lalu terbayang olehnya, ingatan yang entah kenapa membuat dadanya terasa sakit dan seakan teriris.
Sasuke melihat sepintas dirinya dan Sakura di masa lampu.
.
.
TBC
.
.
update...
terima kasih atas reviewnya, ternyata ada yang sesuai pikiran saya, ehehe, emang sih malaikat mautnya jauh menarik perhatian, ehehehehe...
next semoga chapter akhir bisa cepat update lagi...,
see next chapter...
