Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. Di larang mengcopy tanpa seijin author.
.
Catatan :
Terinspirasi dari film goblin, tapi terfokus pada malikat mautnya.
Shinigami = dewa kematian
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
Saran auhtor : Sediakan Tissu saat membaca
.
Enjoy for read
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[ Shinigami ]
~ Chapter 3 0f 3 ~
.
.
.
Sasuke menatap dirinya di cermin, dia sudah selesai mengenakan pakaiannya, tatapan tenang, sorot mata yang seperti tengah kembali mengingat apa yang telah terjadi, terasa aneh, Sasuke masih merasakan sakit pada dada kirinya, mencoba melupakan masalah itu, tapi tetap saja Sasuke terus terbayang.
.
.
Flashback.
Di jaman Edo.
Sebuah kerajaan yang masih di pimpin oleh seorang raja yang begitu di agungkan, pada akhirnya tahtanya akan di turunkan pada satu-satunya putra kerajaan, ya dialah seorang pangeran, wajahnya cukup tampan tapi tidak pada sikap dinginnya, tak satu orang pun tahu bagaimana pola pikir pangeran yang masih berusia 17 tahun ini, kecuali, seorang penasehat kerajaan yang begitu dekat dengannya, bahkan sejak pangeran itu masih sangat kecil, ayahnya yang seorang raja akan selalu sibuk dan hanya penasehat kerajaan itu akan selalu menemaninya.
Saat itu, pangeran ini sudah memutuskan untuk menjadikan seorang gadis desa sebagai putri di kerajaan, hal ini tidak begitu di setujui oleh penasehat itu, berpikiran jika pangeran akan lebih cocok bersama seseorang dari kalangan yang sesuai dengannya, bahkan gadis itu memiliki keluarga yang bekerja di kerajaan sebagai panglima perang.
"Apa pangeran yakin akan bersama gadis desa itu?" Ucap Orochimaru, dialah penasehat kerajaan.
"Hn, aku yakin." Ucap Sasuke, pangeran ini sudah mempermantapkan hatinya pada seorang gadis, dia tidak sengaja bertemu saat gadis itu datang ke kerajaan dan meminta ijin untuk bertemu dengan seorang pria yang merupakan sepupunya.
"Apapun yang pangeran lakukan aku harap akan menjadi yang terbaik." Ucap Orochimaru, tapi tidak dengan wajahnya yang tak terlihat senang.
.
Raja yang sering sakit-sakitan, meminta segera untuk anaknya melangsungkan pernikahan dan segera naik jabatan menjadi raja berikutnya, raja pun tidak keberatan atas pilihan pangeran, lagi pula meskipun gadis desa, dia adalah gadis yang cantik, memiliki sikap yang baik dan bahkan dia pun terlihat pintar, selama pangeran menyukainya, raja tidak berkomentar banyak.
Pernikahan di langsungkan dengan begitu meriah, gadis ini pun tidak menyangka jika pangeran yang di temuinya menyukainya, gadis desa ini juga sangat menyukai pangeran, dia sudah sering melihat pangeran itu dari jauh jika ada acara yang di adakan oleh kerajaan.
Hubungan yang terjalin antara pangeran yang sekarang sudah naik tahta menjadi raja begitu harmonis, sikap ratu padanya membuatnya merasa begitu bahagia, tapi hal itu tidak berlangsung lama, penasehat kerajaan mulai membuat sedikit masalah dengan menyebar berita yang tidak benar.
Brukkk!
Semua barang-barang milik ratu di hamburkan di lantai kamarnya.
"Katakan apa yang aku dengar selama ini hanya berita bohong!" Ucap Sasuke, dia terlihat marah, rasa cintanya pada ratu begitu besar hingga dia sampai tidak menerima adanya berita jika ratu berselingkuh dengan panglima perang yang bukan lain ada sepupunya sendiri, raja pun sangat mempercayai setiap ucapan dari penasehatnya
Sang ratu sangat terpukul, dia bahkan tidak tahu jika hubungannya dengan orang yang sudah di anggapnya sebagai kakak sendiri malah di salah artikan.
"Bagaimana agar bisa aku membuat Yang mulai percaya padaku." Ucap Sakura, nama ratu itu, dia pun mulai meneteskan air matanya, raja yang di cintainya pun tidak mempercayai pada setiap ucapannya.
"Bahkan beberapa pelayan melihatmu sering bertemu dengannya, apa itu tidak cukup menjadi bukti! Kau itu adalah milik ku! Kau seorang ratu! Kenapa kau tidak bisa menjaga sikap!" Sasuke benar-benar marah, nada suaranya pun terus meninggi.
"Dia aku anggap sudah seperti saudara sendiri, aku anak tunggal dan tidak pernah memikirkan untuk hubungan lebih dari sekedar keluarga."
"Aku tidak peduli! Saat ini pria itu akan di eksekusi mati sebagai pengkhianat, perintahku adalah mutlak." Ucap Sasuke, tiba-tiba menjatuhkan hukuman.
"Aku tahu, yang mulai adalah raja, anda berhak atas apapun, tapi anda tidak punya hak untuk membuat seseorang bersalah. Satu-satunya orang yang menjadi kepercayaanmu hanyalah orang yang akan menjadi mata pisau bagi yang mulia."
Plaak...!
Sakura terkejut, untuk pertama kalinya raja menampar wajahnya, pipinya yang sudah memerah tidak membuatnya merasa sakit, namun hatinya yang terluka jauh lebih sakit.
"Ingat ucapanku baik-baik, dia adalah orang yang sudah seperti ayah kedua bagiku, kau berbicara buruk tentangnya, artinya kau melawanku, sekarang seperti kata-kataku, kau harus mendukung apa keputusanku saat ini." Ucap Sasuke dan mencengkeram lengan atas Sakura dengan kuat.
"Sampai kapan pun aku tidak akan mendukung keputusan Yang mulia, kau sekarang jadi terlihat berbeda, kau bukan seperti laki-laki yang ku kenal dulu." Ucap Sakura, dia bahkan mulai berbicara sebagai seorang istri untuk suaminya, bukan sebagai seorang ratu pada rajanya, Sakura merasa jika Sasuke menjadi berubah total semenjak jadi raja dan hanya penasehat yang selalu memasang wajah sinis padanya, menjadi orang yang akan selalu di dengar raja.
Cengkeraman pada lengan Sakura semakin kuat dan dia pun merasakan sakit. "Tidak ada yang berubah, jadi apa kau masih akan bertemu dengan pria itu atau bersikaplah menjadi seorang ratu sebagaimana mestinya."
"Aku akan tetap menganggapnya sebagai saudaraku dan itu tidak akan pernah berubah." Ucap Sakura, air matanya tidak berhenti menuruni pipinya.
Sasuke melepas kasar cengkeraman di tangannya, berjalan keluar kamar ratu dengan perasaan yang sangat marah, ratu tidak mendengar ucapannya dan dia ingin segera pria itu tidak perlu hidup lagi. Ratu menatap sedih akan keputusan raja yang ingin mengeksekusi panglima perangnya, merasa tidak adanya keadilan untuk dirinya, bahkan semua yang di katakan ratu tidak akan di dengar oleh raja.
Pada akhirnya, panglima perang mendapat tuduhan palsu dan akan di eksekusi, ratu sama sekali tidak akan pernah mendukung dan malah menantang raja, mencoba berbicara sekali lagi pada raja, tapi penasehat itu terus berbisik pada telinga raja dengan menampakkan senyum puasnya agar ratu pun bisa di jatuhkan.
"Jika kau masih membangkang, aku pun tidak akan peduli padamu." Ucap Sasuke, hanya amarah yang terus bergejolak, sekarang apapun yang di lihat semuanya adalah kesalahan ratu.
"Begitu rupanya, aku tidak tahu raja akan benar-benar menyalahkanku." Ucap Sakura, di saat terakhir pun sang raja tidak ingin menatapnya, dia mulai berjalan dari tempatnya dan tidak ingin melihat eksekusi yang terjadi pada ratu, panglima perangnya dan bahkan seluruh keluarga ratu ikut di eksekusi, keputusan yang sangat tidak bisa di percayai ratu.
Seluruh keluarga termasuk panglima di penggal, kecuali ratu, dua buah anak panah di lepaskan dan menembus dada ratu, dia pun terjatuh, dalam sisa-sisa napasnya, menatap seluruh keluarganya yang sudah mati dan terakhir yang di lihatnya adalah raja yang berjalan pergi tanpa melihatnya, air matanya menetes, menutup matanya di hembusan napas terakhir.
"Sampai detik ini pun hanya raja, pria akan aku cintai selama hidupku bahkan itu jika kami di pertemukan kembali."
Ending Flashback.
.
.
Sakura terdiam menatap seorang pria yang tengah berbelanja di minimarket, seorang pria dengan rambut hitamnya dan tatapannya yang begitu tenang.
"Tolong cepat lakukan penghitungannya." Tegur pria ini, dia melihat gadis itu hanya mematung dan menatapnya.
"Eh, ma-maaf!" Ucap Sakura dan bergegas menyelesaikan penghitungannya.
Setelah pria itu membayar dan keluar, Sakura terlihat mengela napas, dia merasa cukup aneh saat menatap pria itu, seakan mereka pernah bertemu, tapi Sakura merasa itu adalah pertemuan pertamanya dengan pria itu.
Setelah pekerjaannya berakhir, Sakura mendatangi sekolah khusus wanita, pagarnya sudah di tutup, Suiren, hantu yang meminta Sakura untuk membantunya, mencoba mengendalikan petugas yang tengah berjaga, Sakura jadi bebas masuk dan bahkan di antar hingga ke perpustakaan. Suasananya begitu gelap, setelah lampu di nyalakan, Sakura mulai mencari buku yang di katakan hantu itu, dia menunjuk salah satu rak dan Sakura menemukan bukunya, masih ada amplop yang sudah terlihat usang, amplop itu sudah cukup lama di sana dan tidak ada lagi yang meminjam buku itu selain Suiren.
Berjalan keluar dari perpustakaan dan menuju rumah Suiren, Sakura akan memberikan langsung amplop itu pada kedua orang tua Suiren.
"Cari siapa?" Ucap seorang wanita paruh baya, Sakura yakin dia adalah ibu Suiren, wajahnya mereka sedikit mirip.
"Maaf mengganggu anda malam-malam." Ucap Sakura, membungkukkan tubuhnya sedikit, mengambil amplop itu dari sakunya dan memberikan pada wanita itu. "Aku teman Suiren, maaf jika aku baru bisa memberikan ini pada anda, ini adalah ucapan terakhir Suiren." Lanjut Sakura.
"Suiren?" Ucap wanita itu, dia seakan terkejut dan mengambil amlop yang di berikan gadis itu.
"Sudah malam jadi aku akan pulang, selamat malam." Ucap Sakura, pamit sopan dan bergegas pergi.
Suiren yang masih berdiri di depan ibunya, menatap sedih, ibunya pun membuka amplop itu dan membaca semua yang sudah tulis anaknya, air matanya menetes dan tidak percaya jika selama ini anaknya merasa hidupnya tidak tenang dan dia sangat tertekan.
"Terima kasih ibu dan selamat tinggal." Ucap Suiren, hantu itu menghilang.
Kembali pada Sakura, gadis itu berjalan pulang, rumah Suiren tidak terlalu jauh, dia masih bisa pulang dengan berjalan kaki.
"Aku ingin berterima kasih padamu." Ucap Suiren, dia sudah ada di sebelah Sakura.
"Ah, tidak apa-apa, aku pun senang bisa membantumu." Ucap Sakura, seakan sudah berbuat baik.
"Sampai di sini saja, aku tidak akan mengikutimu lagi." Ucap Suiren dan berhenti berjalan.
"Aku harap kau akan tenang sekarang." Ucap Sakura, menatap sejenak ke arah Suiren dan kembali berjalan.
Setelah gadis itu sudah cukup jauh, seorang dewa kematian datang dan mulai melihat buku catatannya.
"Suiren, lahir pada tanggal xx bulan xx tahun xx, tanggal kematian, tanggal 13 bulan april tahun 2015, kau sudah menjadi hantu hingga dua tahun lamanya, kau mempercepat tanggal kematianmu sebelum ajalmu, maka dari itu sekarang kau sudah tercantum dalam buku catatan kematian, pergilah ke arah sana."
"Kau paman yang selalu berada di dekat Sakura 'kan?"
"Aku tidak ada waktu berbicara denganmu." Ucap Sasuke, dingin.
"Dia sungguh tidak percaya jika kau adalah dewa kematian."
"Sudah waktunya, kau tidak harus tinggal di dunia ini lagi."
"Baiklah, terima kasih sudah menuntunku, aku harap kalian bisa menjadi dekat." Ucap Suiren, dia pun mulai berjalan perlahan ke arah cahaya yang sangat terang, sebuah senyum di wajahnya, dia sudah merasakan ketenangannya sekarang.
Sasuke menatap gadis hantu itu, ucapan yang sangat mustahil, dia tidak akan mungkin bersama gadis berambut softpink itu, mengingat mereka berdua ada di dunia yang berbeda, berjalan pulang, melewati jalan dimana Sakura berjalan tadi, gadis itu belum sampai, dia masih berjalan santai dan sesuai ucapan Sasuke, gadis itu berjalan di jalan yang cukup ramai orang, dia tidak ingin terjadi masalah lagi jika bertemu orang jahat jika melewati jalan sepi.
Terus melangkahkan kakinya, Sasuke sempat melirik ke arah pria yang berpapasan dengannya, wajah itu tidak akan pernah di lupakannya, dia tidak menyangka jika akan bertemu pria itu lagi dengan wajah yang sama sebagai kehidupannya di masa sekarang.
"Panglima perang kerajaan Uchiha, Utakata, aku tidak tahu jika rasa benciku sampai sekarang tidak bisa lenyap begitu saja." Ucap Sasuke perlahan setelah pria itu sudah jauh darinya.
masa lampau yang cukup pahit, Sasuke sudah mengingat beberapa hal dan sekarang membuat pikirannya menjadi tidak tenang, ingatan itu seakan balik menyerang dirinya.
"Sasuke!" Panggil seseorang. "Akhirnya aku menemukanmu." Ucap Suigetsu.
"Ada apa?"
Suigetsu mengajak Sasuke di sebuah kafe, mereka seperti tengah berbicara serius.
"Ada hantu yang kabur dan tidak ingin di tuntun." Ucap Suigetsu, memberikan sebuah dokumen pada Sasuke. "Ini adalah tugas untukmu, aku tidak tahu jika ada hantu seperti ini, dia bahkan lolos dari pengejaran dewa kematian untuk waktu yang cukup lama, dalam catatan akhir, dia adalah seorang penasehat di jaman edo saat kerajaan Uchiha masih berdiri." Ucapan Suigetsu cukup membuat Sasuke terkejut. "Anehnya nama hantu itu tidak di temukan." Lanjut Suigetsu.
Sasuke menatap Suigetsu, pria yang sama yang bersamanya saat masih menjadi seorang raja, salah satu anak pelayan yang di angkat menjadi pasukan setelah dia dewasa, Sasuke tidak menyangka dengan hanya menyentuh tangan Sakura, sebagian ingatannya kembali, Suigetsu pun salah satu dari pasukan yang ikut mengekseskusi keluarga sang ratu
"Ada apa Sasuke? Kau hari ini terlihat aneh." Ucap Suigetsu, memandangi wajah Sasuke.
"Kau tahu apa yang menyebabkan kita menjadi dewa kematian?"
"Tentu saja."
"Aku tidak mengerti, apa karena kau pun ikut terlibat hingga membuatmu menjadi dewa kematian?"
"Ha? Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan."
"Ya sudah, aku akan menuliskan nama hantu itu dan kau bawalah ke ketua dewa kematian."
"Wah, kau sudah tahu siapa namanya?"
"Hn."
Sasuke membuka map hitam itu dan mulai menuliskan nama 'Orochimaru' di dalamnya. "Segera setor dokumen ini dan aku harap hantu itu segera di temukan." Ucap Sasuke.
"Baiklah." Ucap Suigetsu dan berjalan pergi.
Sasuke sendiri berdiam diri di kafe, menatap sepasang kekasih yang tengah bertengkar di dalam kafe, beranjak dari kursinya dan mendatangi mereka.
"Kalian, berhentilah berkelahi dan ikut aku. Mei, lahir tanggal xx bulan xx tahun xxxx, dan juga, Zen, lahir tanggal xx bulan xx tahun xx, kalian tengah mengalami kecelakaan bersama di dalam mobil." Ucap Sasuke, menatap buku sakunya.
Sepasang kekasih itu tidak menyadari jika mereka sudah meninggal dan hanya tinggal roh mereka saja. Setelah Sasuke menuntun mereka, dia akan bergegas pulang, lelah, hari ini pun cukup lama Sasuke akan kembali ke rumahnya, mengingat catatannya cukup banyak orang meninggal hari ini.
Membuka pintu kafe dan dia segera tiba di rumahnya, Sasuke malas untuk berjalan dan dia akan mudah berpindah tempat, menatap pintu depan rumahnya, dia merasakan jika Sakura tengah berdiri mematung di depan pintu, membuka pintu rumahnya.
"Ah, paman, maaf, aku tidak bermaksud mengganggumu." Ucap Sakura, terkejut, dia tidak tahu jika Sasuke sudah pulang, gadis ini sejak tadi mengintip dari pintunya dan tidak melihatnya lewat.
Sasuke terdiam, menatap gadis itu, lagi-lagi dadanya terasa sesak, tapi tetap di tahannya.
"Aku ingin minta maaf sudah membuat paman kemarin marah." Ucap Sakura, raut wajahnya pun terlihat sedih.
"Sudahlah, lupakan saja soal kemarin, aku tidak marah padamu."
"Aku membawakan ini, tadi paman tidak ke minimarket, hari ini ada diskon ramen." Ucap Sakura, menyodorkan kantong plastik yang berisikan beberapa cup ramen instan.
"Kenapa kau berikan padaku?" Ucap Sasuke, tatapan yang sedingin es.
"Bukannya paman suka makan ramen instan?"
"Sampai detik ini pun kau masih baik padaku tanpa tahu aku yang sebenarnya." Ucap Sasuke.
"Eh? Maksud paman?" Ucap Sakura, wajahnya terlihat bingung dia tidak mengerti akan ucapan Sasuke.
"Mulai sekarang, kita tidak usah bertemu atau saling menyapa, aku rasa itu jauh lebih baik, anggap saja kita tidak saling mengenal satu sama lain." Ucap Sasuke, menutup pintu rumahnya, bahkan ramen itu tidak di ambilnya.
Sakura kembali mematung, menatap pintu yang sudah di tutup, raut wajahnya menjadi sedih.
"Paman benar-benar marah padaku." Batinnya dan berjalan pulang.
Sasuke merosotkan dirinya di balik pintu, dadanya semakin sesak dan lagi-lagi dia menangis, perasaan aneh yang terus melanda dirinya, sebagian ingatan hanya sampai dimana Sasuke mengeksekusi ratunya yang dalam pandangannya ratu itu bersalah, tapi tetap saja ada hal yang membuatnya merasa jika ratu tidak bersalah.
.
.
Beberapa hari berlalu, Sakura benar-benar tidak pernah bertemu lagi paman yang tinggal bersebelahan dengannya, berjalan dengan lesu ke arah sekolahnya..
"Ternyata kau baik juga, kau bahkan sudah membuat Suiren tenang untuk pergi." Ucap hantu wanita yang pertama kali menegur Sakura, dia tengah berdiri di jalur menuju sekolah Sakura.
Sakura terus berjalan dan tidak memperdulikan kedua hantu itu, suasana di jalan ini tengah ramai dengan murid yang satu sekolah dengan Sakura, mengabaikan hantu-hantu itu tapi tidak dengan perasaannya yang tidak bisa di abaikan, dia sedikit merindukan paman itu.
Beberapa jam terlewatkan, Sakura kembali bekerja, managernya meminta Sakura untuk mengecek barang di gudang, dia pun mulai menuliskan stok barang.
"Sakura...~ Sakura...~" Sapa para hantu yang biasa mendatangi Sakura.
"Jangan menggangguku." Ucap Sakura, kedua hantu itu datang lagi dan malah sibuk berbicara dengannya.
"Tenang saja, kami selalu melihat situasinya, sekarang tidak ada siapa-siapa di sini, kita bebas berbicara."
"Ada apa lagi? Aku sedang sibuk?" Ucap Sakura dan masih sibuk menghitung stok.
"Kami ingin kau bertemu dengan hantu yang baru kami temui."
"Kenapa kalian selalu membawa han-" Sakura tiba-tiba terdiam, hantu itu berjalan dan berdiri di sebelah kedua hantu wanita itu. "A-aku sudah katakan jangan menggangguku." Ucap Sakura, entah mengapa dia menjadi sedikit takut menatap hantu pria itu, mengalihkan tatapan dan menatap kertas-kertas yang bertuliskan stok barang.
"Jadi dia gadis yang bisa melihat kalian, senang bertemu denganmu nona, panggil saja aku Orochimaru." Ucap pria yang berwajah putih pucat itu, rambut hitamnya panjang tergerai dan pupil matanya begitu tajam, bahkan saat dia tersenyum pun Sakura tidak menyukainya.
"Y-ya sudah, aku ingin kembali bekerja." Ucap Sakura, segera mengalihkan tatapannya dan kembali sibuk menghitung stok barang, perasaannya tidak enak saat menatap hantu itu.
.
Sementara itu, Sasuke menatap buku catatannya.
Haruno Sakura, lahir tanggal xx bulan xx tahun xxxx
Tanggal kematian, tanggal 10 januari 2018.
Sasuke menatap heran pada buku catatannya itu, Sakura akan meninggal sebentar lagi, tepat jam 7 malam, itu adalah jam dimana dia pulang kerja, tatapannya tidak senang dan perasaannya menjadi aneh.
.
Setelah selesai dengan pekerjaannya di minimarket, Sakura berjalan pulang, dia sudah lelah dan ingin segera tiba di rumah, saat itu, Sasuke mulai memperhatikan Sakura, beberapa menit lagi gadis itu akan pergi, dia tidak tahu jika Sakura akan pergi secepat ini di usianya yang masih muda, menatap jam tangannya, hingga jam itu menunjukkan angka 7, Sasuke melihat sekitar dan anehnya tidak hal yang membuat Sakura akan meninggal, gadis itu masih berjalan santai, Sasuke kembali melihat buku catatannya, nama Sakura masih tertera di sana.
Tiba-tiba saja sebuah papan reklame beserta tiangnya miring dan mulai terjatuh, Sasuke bisa melihatnya, papan dengan ukuran yang cukup besar dan berbahan besi itu mengarah pada Sakura, hal lain yang di lihatnya adalah hantu yang berada di atas gedung, Sasuke mengingat jelas wajah itu, Sakura melihat ke atas dan cukup terkejut, tidak ada waktunya untuk menghindar, Sasuke spontan bergerak, menghilang dan muncul tepat di belakang Sakura, memeluk gadis itu dan menariknya menjauh dari papan reklame itu.
Bruuaakkk..!
Papan reklame itu jatuh ke tanah dengan cukup keras, siapa saja yang di timpahnya akan meninggal seketika. Sasuke merasakan jika Sakura gemetaran, dia bahkan menangis, saat itu tubuhnya seakan membeku dan tidak bergerak, kembali memeluk Sakura dan mencoba menenangkan gadis itu.
"Kau sudah aman sekarang." Ucap Sasuke, mengabaikan tugasnya dan malah menolong gadis itu, nama Sakura di catatannya pun menghilang.
Sakura membalas pelukan Sasuke, dia pun ketakutan, tapi hal yang paling di rasakannya adalah dia merindukan Sasuke.
.
Berdiri di depan pintu rumahnya dan belum juga masuk, saat ini di hadapan Sakura, Sasuke masih menatapnya, Sakura tidak juga membiarkannya pergi.
"Kenapa paman menolongku? Aku pikir paman tidak ingin kita bertemu lagi atau saling mengenal." Ucap Sakura, dia butuh alasan Sasuke.
"Hanya kebetulan."
"Hanya kebetulan? Apa tidak ada alasan lain? Paman selalu saja berkata seperti itu, beberapa kali menolongku dan mengatakan hanya kebetulan." Protes Sakura, dia tidak senang akan jawaban enteng dari Sasuke.
Sasuke terus memandangi wajah Sakura, wajah yang tetap sama, wajah wanita yang begitu di cintainya di masa lampau tapi dia hanya mendapat sebuah pengkhianatan.
"Sejujurnya aku senang bisa bertemu kembali dengannya, tapi aku malah marah-marah padanya, ada apa denganku!" Batin Sakura.
Pria itu mendengar apa yang di pikirkan Sakura, dia tidak tahu jika Sakura merasa sebaliknya, dia sangat senang.
"Masuk dan beristirahatlah." Ucap Sasuke.
"Tunggu."
"Hn?"
"Bisakah kita bertemu kembali?" Ucap Sakura, menatap Sasuke penuh harap.
"Terserah kau saja." Ucap Sasuke dan berjalan pergi, saat ini dia pun ingin istirahat.
Gadis itu terus menatap Sasuke, setelahnya berjalan masuk ke rumahnya dan kegirangan, mendapat respon yang baik dari Sasuke, akhirnya dia bisa bertemu kembali dengan Sasuke seperti biasanya.
.
.
Mengecek setiap dokumen, kembali mengingat hantu yang di lihat Sasuke, dia akhirnya menemukan hantu yang kabur itu, tapi dia segera menghilang setelah melihat Sasuke dan melakukan perbuatannya, dia seperti ingin membunuh Sakura, menyimpan dengan rapi map-map hitam itu dan menatap buku catatannya, nama Sakura sudah menghilang, beranggapan jika dia sudah menentang garis takdir gadis itu.
Bel pintu rumah Sasuke berbunyi, menghentikan kegiatannya sejenak dan membuka pintu, menghela napas, setelah mengucapkan sesuatu pada gadis itu, dia kembali menjadi seperti biasanya.
Kali ini untuk yang terakhir kali saja, aku tidak bisa memakan cup ramen sebanyak ini, jadi tolong terimalah. Aku berharap paman tidak marah lagi padaku.
Menatap secarik kertas itu, entah mengapa ini membuat Sasuke senang, gadis itu masih ngotot ingin memberikan cup ramen itu padanya, mengambil kantong plastik yang berisikan cup ramen itu, dia yakin jika gadis itu akan semakin keras kepala jika Sasuke tidak segera mengambilnya.
.
.
"Selamat pagi, paman!" Sapa Sakura, dia begitu senang meskipun hanya menyapa Sasuke saat mereka berangkat bersama keluar dari apartemen.
"Hn, selamat pagi." Balas Sasuke, sekedar untuk ikut menyapa Sakura.
"Paman selalu saja sibuk, bahkan di hari minggu, paman ini sebenarnya bekerja apa?" Sakura menjadi penasaran.
"Anggap saja pegawai kantoran." Ucap Sasuke, dia jadi mendapat pertanyaan macam-macam lagi.
"Hoo, neh, aku sebenarnya sudah tahu paman itu siapa." Ucapan Sakura sukses menghentikan langkah Sasuke dan menatap gadis itu, dia percaya jika Sakura akhirnya mengetahui Sasuke sebenarnya siapa. "Paman tahu, gara-gara aksi paman menolongku saat itu, aku pikir paman adalah..." Sasuke mengutuk dirinya sendiri, saat itu seharusnya dia membuat Sakura lupa akan apa yang sudah di lakukannya. "...Seorang superman!" Ucap polos Sakura.
Sasuke memandang malas gadis yang terus berwajah ceria itu, pikirnya jika Sakura akhirnya tahu dia adalah seorang dewa kematian.
"Saat itu paman tiba-tiba saja sudah berada di belakangku dan melompat cukup jauh untuk menghindari papan reklame itu." Ucap Sakura, meskipun dalam keadaan ketakutan dia sadar akan hal yang di lakukan Sasuke.
"Dengarkan aku." Ucap Sasuke, menatap Sakura. "Tatap mataku baik-baik, dan setelah ini kau lupa dengan apa yang aku lakukan padamu kemarin." Lanjut Sasuke, dia memantrai Sakura untuk lupa akan aksi heroiknya itu. Sasuke selesai membuat Sakura lupa. Gadis itu tersadar dari lamunannya, menatap Sasuke dan tidak sadar jika dia sudah bersama Sasuke di luar apartemen.
"Kenapa tiba-tiba aku di luar?" Ucap Sakura, bingung.
"Kau harus bergegas ke sekolah."
"Oh iya, aku harus bergegas!" Ucap Sakura dan terburu-buru, tak lupa berbalik melambaikan tangan pada Sasuke, bahkan senyum lebar di wajahnya seperti sinar hangat matahari di pagi hari, kembali berlari ke arah halte.
.
.
Berjalan santai setelah kegiatan sekolahnya berakhir.
"Hey, aku juga ingin minta bantuanmu." Ucap hantu wanita yang selalu mendatangi Sakura, kali ini dia sendirian.
Melirik ke sana dan kemari, memastikan jika tidak ada orang di sekitarnya. "Bantuan apa?" Ucap Sakura.
"Sebenarnya, aku sudah memiliki seorang anak laki-laki, saat itu ingin membahagiakan anakku di hari ulang tahunnya, tapi aku malah mengalami kecelakaan dan tidak sempat merayakan ulang tahun anakku."
Sakura tengah menimbang-nimbang, ingin membantu hantu wanita itu atau tidak, tapi jika dia membantu, hantu itu tidak akan mendatanginya.
"Kapan ulang tahunnya?"
"Tanggal 28 maret."
"Wah, anakmu memiliki tanggal lahir yang sama denganku."
"Benarkah?"
"Aku akan mencobanya, berikan aku alamatmu."
Hantu itu mulai berbisik dan Sakura menyimpan alamatnya di ponselnya, tanggal yang sama dengan ulang tahun Sakura, dia akan berumur 20 tahun saat itu.
Hantu wanita itu berterima kasih, setelahnya Sakura akan kembali berjalan menuju minimarket dan sibuk bekerja.
"Selamat datang di mini- ah paman!" Ucap Sakura, dia sangat senang melihat siapa yang berbelanja hari ini.
Sasuke menoleh ke arahnya sejenak, dia begitu ceria melihat Sasuke, berjalan menuju rak, mengambil beberapa bir dan juga membeli perlengkapan lainnya, menaruh semua belanjaan itu dan tak lupa dia akan mengambil sebuah minuman yogurt.
"Setelah kau bekerja, lewatlah di jalan lain, jangan melewati jalan yang biasanya kau lewati." Ucap Sasuke.
"Kenapa?" Ucap Sakura, mulai menghitung barang belanjaan Sasuke.
"Hanya untuk menghindar dari hal-hal buruk, ah, dan juga jangan sering membantu sesuatu yang tidak kau kenal, biarkan saja mereka dan anggap kau tidak tahu apa-apa." Tegur Sasuke, selama ini dia tahu jika Sakura terus di ganggu oleh beberapa hantu dan mereka seakan memanfaatkan Sakura sebagai manusia yang masih hidup.
"Aku tidak mengerti."
"Lakukan saja apa yang aku katakan padamu, ini demi kau." Ucap Sasuke.
Wajah Sakura tiba-tiba merona. "Pa-paman terlalu mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja." Ucap Sakura, mengalihkan tatapannya dan segera melakukan pekerjaannya dengan cepat.
"Ya, aku khawatir padamu."
Deg.
Sakura menghentikan kegiatannya dan menatap Sasuke, dia pun tidak percaya jika pria di hadapannya bersikap tidak biasanya.
Menundukkan wajah dan segera menyelesaikan penghitungan. "A-akan aku lakukan apa yang paman katakan." Ucap Sakura, sejujurnya saat ini dia benar-benar malu, pria yang cukup di sukainya memperhatikannya.
"Kau tidak mengenakan cincinnya?" Ucap Sasuke, menyadari jika di jari gadis itu tidak ada cincin yang di berikannya.
"Ah, aku menaruhnya di sini." Ucap Sakura, mengeluarkan sebuah kalung dan di sana dia menempatkan cincinnya sebagai hiasan kalung itu. "Di sekolah di larang menggunakan perhiasan apalagi cincin jadi aku menjadikannya kalung agar tidak di lihat oleh guru." Tambah Sakura.
Sasuke hanya bergumam, membayar semua belanjaannya, menaruh sebotol yogurt dan beranjak pergi.
"Terima kasih, paman." Ucap Sakura, lagi-lagi dia mendapat sebuah hadiah kecil dari Sasuke.
.
Meregangkan otot-otot tangannya, berjalan keluar dari minimarket setelah pekerjaannya berakhir, menatap sejenak jalan yang selalu di lewatinya, mengingat kembali ucapan Sasuke, dia mengambil rute jalan lain dan wajahnya sedikit merona, memikirkan jika tetangganya itu seperti menaruh hati padanya.
"Uhm... apa maksudnya paman mengatakan jangan sering membantu sesuatu yang tidak kau kenal? Aku masih belum mengerti akan hal itu, aku jarang membantu orang sih." Ucap Sakura, dia pun bingung akan teguran Sasuke.
Memilih untuk mengabaikannya, menatap layar ponselnya, sebentar lagi tanggal lahirnya, Sakura begitu senang, dia ingin sedikit merayakan ulang tahunnya, meskipun tahun ini akhirnya Sakura merayakannya sendirian, ibu sudah tidak ada dan cukup membuatnya sedih mengingat kepergian ibunya yang seakan baru saja meninggalkannya. Mengingat kembali jika Sakura berjanji akan membantu hantu wanita itu untuk ikut merayakan hari ulang tahun anak laki-lakinya.
.
.
Menatap beberapa kue enak di sebuah toko kue, orang-orang merekomendasi toko itu menjadi toko yang memiliki rasa kue terenak, Sakura ingin membeli strawberry shortcake dan juga sebuah kue lagi untuk anak kecil itu.
"Dia sangat menyukai kue coklat." Ucap hantu yang berada di sebelah Sakura, dia pun turut memilihkan kue itu.
Membawa kue coklat itu terlebih dahulu sebelum mengambil kue miliknya, menatap secarik kertas menuju alamat rumah hantu wanita itu, tiba di sebuah pagar besi dan rumahnya terlihat sederhana, memencet bel dan pagar itu terbuka, seorang pria yang membukanya, dia menatap gadis yang tengah berseragam sekolah.
"Aku mencari Konohamaru, apa benar dia tinggal di sini?" Ucap Sakura, cukup gugup, sedikit takut akan pria di hadapannya.
"Konohamaru ada yang mencarimu." Panggil pria itu dan masih menatap Sakura, dia tidak kenal gadis di hadapannya itu.
"Ada apa ayah?" Ucap seorang anak kecil, dia memanggil ayah pada pria di hadapan Sakura, gadis itu sontak membungkuk perlahan dan berusaha bersikap sopan, anak laki-laki itu sudah berdiri di sebelah ayahnya dan menatap seorang kakak perempuan.
"A-aku ke sini untuk memberimu kue ini, katanya kau hari ini berulang tahun." Ucap Sakura.
"Bagaimana kakak tahu kalau aku berulang tahun hari ini?"
Sakura terdiam, memikirkan jawaban yang sesuai untuk pertanyaan anak kecil itu, mana mungkin dia mengatakan jika ini permintaan ibunya yang sudah lama meninggal.
"Hey, nona, aku tidak mengenalmu dan jangan coba-coba membuatnya yang tidak-tidak pada anakku." Pria itu berusaha melindungi anaknya.
"Eh? A-aku tidak berniat jahat, seseorang memintaku untuk memberikannya pada Konohamaru dan juga-" Sakura mengambil kartu ucapan selamat dalam sakunya dan memberikan pada anak kecil itu. "-Ini untukmu, katanya aku harus memberikannya padamu." Ucap Sakura.
Anak kecil itu membuka kartu dan kalimat pertama yang di lihatnya adalah, Untuk anakku tersayang Konohamaru. "I-ini tulisan ibu." Ucap Konohamaru, dia begitu mengenal tulisan ibunya.
"Apa maksudmu?" Ucap ayahnya, dia tidak mengerti dan mengambil kartu itu, menatapnya baik-baik dan tersadar jika benar itu adalah tulisan istrinya yang sudah lama meninggal. "Apa kau berusaha membuat tulisanmu mirip dengan istriku!" Ucap pria itu dan malah menjadi marah.
"Tu-tunggu, aku tidak bisa meniru tulisan, itu sungguh di titipkan padaku untuk di berikan pada Konohamaru." Ucap Sakura, merasa jika bantuannya kali ini sedikit rumit.
"Ayah, apa ibu sengaja mengirimkan ini dari surga? Dia masih mengingat ulang tahunku." Ucap polos anak kecil itu.
Ayahnya menatap anak kecil itu, dia terharu akan ucapan putra semata wayangnya.
"Kakak apa benar ini dari ibuku?" Ucap Konohamaru, bahkan menatap Sakura dengan penuh harap.
"Mungkin saja, aku hanya mengantarnya." Ucap Sakura.
"Terima kasih, aku berterima kasih pada kakak." Sebuah senyum lebar di wajah anak kecil itu.
"Maaf atas cara bicaraku yang tidak sopan, aku hanya tidak menyangka jika istriku mungkin mendatangimu untuk meminta hal ini, siapa pun dirimu, aku ucapkan terima kasih."
"Aku turut senang membantunya dan juga selamat ulang tahu Konohamaru, kau tahu, ulang tahun kita sama." Ucap Sakura dan tersenyum.
"Benarkah? Bagaimana kalau rayakan bersama?"
"Tidak, terima kasih, aku masih harus pergi, maaf sudah mengganggu." Ucap Sakura dan pamit pada keluarga kecil itu.
Rasanya pun menjadi senang, lagi-lagi Sakura bisa membantu hantu itu untuk tenang.
"Terima kasih, Sakura, sekarang aku sudah bisa tenang dan juga selamat ulang tahu untukmu." Ucap hantu wanita itu.
Keadaan yang sedang ramai, Sakura hanya mendengarnya dan tersenyum, dia pun ingin berterima kasih atas ucapan hantu wanita itu, setelah Sakura cukup jauh seorang dewa kematian mendatanginya, bukan area Sasuke, area itu adalah milik Suigetsu, dia yang menuntun hantu wanita itu, menatap gadis yang sudah cukup jauh, Suigetsu merasa tidak asing akan gadis yang berpakaian seragam SMU itu dan rambut softpinknya.
"Dunia ini memang aneh, mungkin hanya perasaanku saja." Ucap Suigetsu, langkahnya terhenti saat melihat hantu yang berdiri di hadapannya.
"Suigetsu, wajah yang tidak berubah bahkan di masa sekarang, aku tidak terkejut kau menjadi dewa kematian."
"Ka-kau! Kau hantu yang kabur itu!" Ucap Suigetsu, dia hanya sendirian dan bukan tugasnya untuk menangkap hantu itu.
"Kenapa? Kalian saja yang lalai tidak bisa menangkapku." Ucap Orochimaru.
"Kau, pergilah dengan tenang, kau sudah tidak bisa tinggal di dunia manusia lagi!" Ucap Suigetsu, berusaha menangkap hantu itu namun hantu itu menghilang dan menjauh darinya.
"Dengar, kau pun terlibat dalam masa lalu Yang mulai Sasuke, temuilah gadis yang bernama Haruno Sakura, kau akan mengetahui segalanya." Ucap Orochimaru dan segera menghilang.
"Sial! Kenapa aku tidak bisa menangkapnya? Lagi pula siapa Yang mulia Sasuke? Eh? Sasuke? Apa Sasuke dulunya seorang raja? Wah, dia memiliki masa lalu yang begitu hebat, tapi apa perlunya aku tahu masa lalu seorang dewa kematian, lagi pula masa lalu tidak ada gunanya sekarang, dan juga siapa gadis bernama Sakura itu, menyebalkan, hantu itu benar-benar harus segera di tangkap." Ucap Suigetsu dan dia pun menghilang, dia harus kembali bekerja.
.
Sakura akan mengambil kuenya setelah pekerjaannya berakhir, mulai melayani setiap pembeli yang tengah datang. Hari ini cukup ramai, Sakura bekerja lebih giat lagi, saat pergantian jam kerja, Sakura mendapat sebuah kejutan kecil dari manager dan juga teman kerjanya, sebuah kue kecil dan ucapan dari mereka, hari ini seakan mendapat banyak kebahagiaan.
Berjalan pulang, kue yang di pesannya sudah di ambil, membeli beberapa minuman dan makanan, merayakan pesta ulang tahun sendirian, berhenti sejenak, Sakura melihat Sasuke yang baru saja akan masuk apartemen.
"Paman!" Teriak ceria gadis itu, suaranya yang keras dan cempreng cukup membuat langkah pria itu terhenti, Sakura bergegas menghampiri Sasuke. "Hari ini aku sangat beruntung, paman mau 'kah ke rumahku?" Ucap Sakura, berharap Sasuke mau ikut merayakan ulang tahun bersamanya.
"Maaf, aku tidak bisa, ada yang harus aku kerjakan." Tolak Sasuke.
Menghela napas kecewa, bahkan wajah cerianya menghilang begitu saja. "Baiklah, aku duluan." Ucap Sakura, menunduk perlahan dan lebih dulu berjalan.
Sasuke menatapnya, dia membuat gadis itu sangat-sangat kecewa, Sasuke sudah tahu apa yang terlintas di pikiran gadis itu, dia ingin merayakan ulang tahunnya bersama Sasuke. sekedar memberi alasan bohong dan gadis itu langsung percaya, berjalan cepat dan membuka pintu masuk apartemen, Sasuke tiba di sebuah toko hadiah, dia hanya berbohong untuk mengambil waktu, Sasuke tidak ingin datang dengan tangan kosong, mencari sesuatu yang bisa di berikan pada Sakura.
"Tuan sedang mencari hadiah seperti apa?" Ucap ramah seorang pegawai yang tengah melayani Sasuke.
"Aku tidak begitu tahu hadiah yang cocoknya, kira-kira hadiah yang sesuai untuk anak SMA." Ucap Sasuke, dia pun tidak tahu apa yang harus di berikan pada Sakura.
"Untuk anak SMA, wah, kami ada banyak hadiah yang sesuai, anak-anak SMA jaman sekarang suka benda-benda seperti ini." Ucap pegawai itu dan mengajak Sasuk ke arah perhiasan, harganya pun tak main-main. "Ini yang terbaru dan sedang jadi favorit."
Sasuke menatap setiap perhiasan itu, kembali mengingat akan dirinya di yang dulu, sebagai raja, dia sama sekali tidak begitu memahami apa yang di suka ratunya, Sasuke selalu memberikannya perhiasan yang mewah dan indah, namun ratu sangat jarang menggunakan perhiasan, dia selalu saja menyimpan perhiasan-perhiasan itu, membuyarkan lamunannya, bukan saatnya Sasuke memikirkan masa lalunya.
Kembali benda-benda yang di jual di toko itu, Sasuke rasa perhiasan tidak cocok untuk Sakura, bahkan cincin yang di berikannya di gunakan sebagai hiasan kalung.
"Aku pilih yang itu saja." Ucap Sasuke.
"Eh? Tuan hanya akan membeli itu?"
"Hn, aku rasa itu jauh lebih cocok untuk anak sekolahan, oh iya tolong di bungkus dengan rapi." Ucap Sasuke.
"Ba-baiklah, terima kasih." Tampan tapi hanya membeli benda yang biasa. Batin pegawai itu dan Sasuke tidak peduli, dia bahkan bisa membeli perhiasan apa saja yang di dalam toko ini, tapi itu akan sia-sia jika Sakura tidak memakainya.
.
Setelah mengganti pakaian seragamnya, menata makanan, minuman dan menyalakan lilin di kue ulang tahunnya, dia sudah siap untuk merayakan ulang tahunnya.
Ting...tongg...
Bunyi bel di depan rumahnya, tidak biasanya ada yang bertamu di saat jam segini, Sakura harus bergegas, dia sudah terlanjur menyalakan lilinnya dan tidak bisa di tinggal lama, membuka pintu dan sedikit terkejut dengan seseorang yang datang, dia pria yang tengah memakai kaos hitam dan celana kain hitamnya, menatap Sakura dengan tatapan tenang.
"Aku sedikit berbohong tentang masalah sibuk, sejujurnya aku tidak sibuk." Ucap Sasuke, satu tangannya yang memegang hadiah masih di sembunyikan di belakangnya.
"Kau sungguh sulit di tebak, paman." Ucap Sakura. mempersilahkan Sasuke masuk.
Di ruang tamu Sasuke bisa melihat makanan dan kue yang di tata Sakura, lilinnya pun sudah mulai meleleh.
"Happy birthday." Ucap Sasuke dan memberikan hadiahnya, hanya kotak kecil dan panjang.
"Untukku?" Ucap Sakura, tidak percaya jika dia akan mendapatkan hadiah.
"Jika kau tidak mau akan ku buang."
"Ja-jangan! aku mau." Ucap Sakura.
Sasuke memintanya untuk menadahkan tangan dan hadiah kecil itu di taruh di tangan Sakura.
"Terima kasih." Ucap Sakura, wajahnya terlihat senang.
Mengajak Sasuke untuk ikut duduk dan dia akan meniup lilinnya, Sakura menutup matanya dan mulai berdoa, tentu saja setiap doa itu akan di dengar Sasuke, mulai dari dia mendoakan kedua orang tuanya agar tetap bahagia di atas sana, kesehatan dan rejeki untuknya, dan doa terakhir, Sakura berharap paman yang ada di hadapannya bisa menjadi pacarnya, walaupun umur mereka terlampau jauh, Sakura sangat menyukai Sasuke.
Tanpa sadar sudut bibir dari pria berwajah dingin itu sedikit tertarik, dia tersenyum tipis mendengar doa terakhir gadis itu, setelahnya Sakura membuka mata dan meniup lilinnya, memotong kue dan potongan pertama di berinya untuk Sasuke.
"Sekali lagi terima kasih, paman begitu baik padaku." Ucap Sakura.
"Hn, sama-sama, terima kasih juga sudah mengajakku makan." Balas Sasuke.
"Boleh aku membuka hadiahnya?" Ucap Sakura, tidak sabar dengan apa yang di berikan Sasuke.
"Buka saja."
Sakura membukanya dan yang di lihatnya hanya sebuah pulpen dengan kemasan yang sedikit unik, berwarna pink dengan ukuran bunga Sakura, memandang pulpen itu dan memandang Sasuke, jelas saja pria itu tahu apa yang di pikirkan Sakura.
"Kau masih pelajar, pulpen itu akan sangat berguna untukmu." Ucap Sasuke, dia sudah sangat bangga akan pilihannya sendiri sebagai hadiah.
"Paman memang pria yang lebih rasional dalam memberikan sesuatu." Ucap Sakura, dia pun memahami arti dari hadiah itu, lagi pula satu-satunya hadiah yang paling di sukai Sakura adalah cincin giok itu. "Uhm... paman sejujurnya ada yang ingin aku katakan, tapi aku takut, jika paman pun menganggapku gadis aneh." Sakura menatap Sasuke, dia ingin mengatakan jika di bisa melihat sesuatu semacam makhluk halus-hantu.
"Katakan saja, aku tidak akan pernah menganggapmu aneh." Ucap Sasuke, dia pun tahu akan kelebihan khusus gadis itu.
"Sebenarnya aku uhm...aku bisa melihat sesuatu seperti makhluk halus, tapi paman jangan khawatir, aku tidak bermaksud menakut-nakuti paman tentang kelebihanku ini, aku hanya bingung ingin bercerita pada siapa." Ucap Sakura, dia pun menundukkan wajahnya.
"Tidak apa-apa, aku tidak peduli akan kelebihanmu itu." Ucapan Sasuke membuat Sakura menatapnya tidak percaya, baru kali ini Sakura menemukan orang yang tidak ambil pusing akan kelebihan anehnya.
"Paman sungguh pria yang sangat berbeda." Uhk! Aku makin jatuh cinta padanya, batin Sakura. "Tapi bukan hal itu yang aku ceritakan, akhir-akhir ini aku bertemu hantu yang entah mengapa hanya dia yang membuatku takut, aku sangat takut padanya, padahal hantu lain tidak begitu membuatku takut, aku sudah terbiasa."
"Bagaimana penampakkan hantu itu?" Sasuke jadi penasaran dengan hantu yang di maksudkan Sakura.
"Paman penasaran?"
"Katakan saja."
"Dia berpakaian seperti orang di jaman kuno, mungkin seorang bangsawan kerajaan, rambutnya hitam terurai, aku tidak suka tatapannya dan wajahnya begitu putih pucat, dia membuatku takut, aku tidak ingin melihat atau bertemu dengannya lagi."
Sasuke terdiam, ciri-ciri hantu itu menunjukkan jika dia seperti Orochimaru, penasehatnya di jaman dulu, sekarang pun dia mengincar Sakura di jaman sekarang, mungkin seperti menghantuinya atau dia pun memiliki ide jahat.
"Paman?" Tegur Sakura, Sasuke melamun.
"Ah, maaf."
"Ada apa? Paman hanya terdiam setelah mendengar ceritaku, lupakan, paman lupakan saja apa yang sudah aku ceritakan, aku ini memang sangat aneh, heheheh." Ucap Sakura dan tertawa garing.
"Mulai sekarang, berhati-hatilah jika bertemu hantu seperti itu, kau haru menghindarinya." Ucap Sasuke, dia tidak ingin hal buruk terjadi pada Sakura, sudah cukup saat paman reklame itu hampir menindih Sakura.
"Ba-baiklah." Walaupun tidak begitu mengerti, Sakura akan mengikuti saran Sasuke.
.
.
Berjalan ke halte bus, kembali memandangi pulpen pemberian Sasuke, itu hanya pulpen, tapi sangat istimewa bagi Sakura, beberapa orang mulai berdatangan, mereka masih menunggu bus yang lewat.
"Hari ini akan ramai." Ucap seorang pria di sebelah Sakura, gadis itu melirik dan melihat pakaian yang tidak asing, pakaian yang seperti di pakaian Sasuke, setelan hitam dan topi aneh, pria itu tengah membuka sebuah buku catatan kecilnya. "Kecelakaan besar-besaran, tugasku jadi banyak hari ini." Lanjut Suigetsu.
"Apa maksud paman dengan kecelakaan?" Tanya Sakura, pria itu cukup berisik dan tidak bisa diam, dia terang-terangan mengatakan kecelakaan.
Suigetus terkejut, seorang gadis di sebelahnya menatap ke arahnya, Sakura pun terkejut, orang-orang di sekitarnya bingung dengan gadis yang berbicara entah pada siapa, Sakura segera menundukkan wajahnya dan berjalan perlahan, sedikit menjauh dari orang-orang yang menunggu bus, dia sama sekali tidak tahu jika pria yang di lihatnya tidak bisa di lihat orang lain.
"Oh-hoo..~ jadi kau bisa melihatku gadis kecil?" Ucap Suigetsu, dia pun terus menempel pada Sakura.
"Bodohnya, aku pikir dia manusia." Batin Sakura, berpura-pura tidak mendengar ucapan Suigetsu.
"Aku mendengar setiap ucapan di dalam kepalamu, kau tahu, aku ini adalah dewa kematian, jarang sekali ada yang bisa melihatku, jadi gadis dengan kemampuan khusus yaa." Ucap Suigetsu, masih mengamati Sakura.
"Apa! De-dewa kematian! Jangan tatap matanya, jangan tatap matanya."
Bus sudah datang dan berhenti, Sakura mulai kabur namun langkahnya terhenti, Suigetsu menahannya, pria itu melihat papan nama gadis itu, Haruno Sakura, dia mengingat ucapan hantu itu.
Sakura sudah sangat terkejut, dewa kematian itu menahannya, berpikiran jika hari ini adalah hari kematiannya, dia baru saja berulang tahun kemarin dan sekarang sudah ada dewa kematian yang ingin menjemputnya.
Sugitsu terdiam, dia menahan tangan Sakura dan melihat segalanya, melihat masa lampuanya. Suigetsu dan bersama beberapa orang dengan pakaian yang sama dengannya mereka seperti prajurit dengan memegang pedang tajam dan siap memenggal kepala orang-orang yang berlutut di hadapan mereka, pria itu pun melihat Sasuke, sebagai raja yang memerintahnya untuk memenggal kepala mereka.
Segera melepas tangannya, Suigetsu sampai tidak bisa berbicara apapun, masa lalu yang begitu gelap, dia sudah membantai banyak orang di masa lalunya, pengkhianatan, kebohongan, dan juga rasa bersalah yang tidak pernah terselesaikan.
Sakura mengambil kesempatan ini dengan bergegas berlari, dia sangat takut, berharap bukan hari ini adalah kematiannya, menatap dari kaca bus, dewa kematian itu masih terdiam dan mematung.
.
"Aku tidak sengaja memegang tangan seorang gadis." Ucap Suigetsu, hari itu pun dia buru-buru mencari Sasuke, menemukan pria itu di kafe favoritnya.
"Jadi apa sebenarnya yang ingin kau katakan padaku." Ucap Sasuke, bingung akan sikap Suigetsu, biasanya dia akan jahil atau bersikap sangat ceria, tapi kali ini tatapannya begitu tenang, dia bahkan mulai terlihat takut.
"Masa lalu kita memang sangat-sangat gelap, mungkin ini alasan kenapa kita menjadi dewa kematian." Ucap Suigetsu.
"Kau sengaja memegang tangan gadis itu untuk melihat masa lalumu?" Ucap Sasuke, menatap serius ke arah Suigetsu, mungkin yang di pikirkan Sasuke benar, Suigetsu sudah mengetahui dirinya yang sebenarnya.
"Aku tidak sengaja, tapi gara-gara hantu yang kabur itu aku jadi penasaran."
"Apa? Dimana kau bertemu hantu itu?"
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya di area bertugasku, dia mengatakan padaku untuk menemui gadis yang bernama Haruno Sakura, saat itu aku menemukannya di halte bus, gadis itu menyimpan masa lalumu dan juga masa laluku." Ucap Sigetsu.
"Dia gadis yang aku ceritakan, dulu."
"He? Gadis takdirmu?"
"Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, aku bertemu dengannya dan dia memang adalah seseorang yang bersamaku di jaman dulu."
"Ini benar-benar gawat, jika kepala dewa kematian tahu, kita berdua bisa kena hukuman."
"Tenang saja, biar aku yang menanganinya, kau cukup diam saja."
"Kau begitu peduli padaku, sebenarnya aku sangat menghargaimu, dulu, di masa kau menjadi raja dan aku prajuritmu, aku melihat kita berbicara tentang ratu yang tidak bersalah, ah mungkin aku tidak harus menceritakannya."
"Katakan saja, aku akan mendengarnya." Ucap Sasuke, dia terkejut akan ucapan Suigetsu, ratu tidak bersalah, kepingan ingatan Sasuke yang belum lengkap.
.
Flashback.
Setelah eksekusi mati satu keluarga ratu, raja menjadi orang yang sangat dingin dan begitu arogan, tidak peduli pada siapapun, hingga akhirnya salah satu prajuritnya yang dulunya anak pelayan kerajaan mulai angkat suara, dia merasa bersalah tidak menceritakan segalanya pada raja, penasehat itu terus menekannya dan mengancam keluarganya, kapan saja keluarganya bisa di eksekusi secara tiba-tiba seperti kasus ratu yang begitu naas, sekarang penasehat itu sudah meninggal dan Suigetsu bebas membeberkan kebenarannya, mendatangi raja yang tengah bersantai, itu bukan sebuah keadaan di mana raja benar-benar bersantai, dia selalu mengingat ratunya, bayangan dan wajah ratunya terus menghantui pikirannya, kembali mengingat jika apa yang di lakukannya itu sudah benar atau salah.
"Maaf, Yang mulai, aku tidak bermaksud mengganggu anda." Ucap sopan Suigetsu, berlutut di hadapan Sasuke.
"Ada apa?"
"Aku rasa ini sudah sangat terlambat, tapi raja harus tahu kebenarannya."
"Kebenaran?"
"Iya, Kebenaran tentang ratu."
Sang raja terkejut, dia pun memerintahkan Suigetsu untuk berbicara sejujur-jujurnya, mengungkapkan semua hal yang tidak di ketahuinya dan alasan kenapa baru sekarang dia berbicara.
Memegang dada kirinya yang sakit, sang raja akhirnya mengetahui semuanya, kelicikan, masalah ratu dan penasehatnya, sikap penasehat yang bertentangan dengannya dan ancaman untuk Suigetsu. Rasa bersalah yang semakin besar, sang raja menjadi menutup diri, dia bersedih akan tindakan egoisnya, orang yang di cintainya sudah di bunuhnya sendiri.
Ending Flashback.
.
"Aku harus pergi." Ucap Sasuke, dadanya semakin sakit, tidak seperti biasanya, sakitnya semakin membuatnya tersiksa.
Suigetsu hanya membiarkan Sasuke pergi, dia memahaminya, rasa bersalah yang tidak akan pernah terbayarkan, tidak akan bisa mengembalikan seperti dulu, jaman sudah berbeda, mereka pun sudah berbeda, selama bertahun-tahun lamanya dewa kematian yang tidak di beri ingatan, seakan hanya menutup mata mereka dengan rasa penyesalan yang terus menempel pada mereka selama mereka hidup.
Langkah Sasuke terhenti, dua orang dewa kematian yang di utus dari ketua dewa kematian meminta Sasuke untuk mengikuti mereka, Sasuke sudah mendapat teguran dan sekarang dia akan mendapat hukum lagi.
"Dewa kematian Sasuke, menggunakan kekuatan dewa kematian seenaknya, melihat masa lampaunya, mengambil pil kesembuhan untuk membantu manusia, dan juga membantu manusia untuk menghindar dari masa kematiannya, kau sungguh melanggar banyak peraturan untuk dewa kematian, dengan begini kami akan menghukummu, sekarang lanjutkan tugasmu menjadi dewa kematian dan semua ingatan penyesalanmu yang tidak akan pernah berakhir kami kembalikan, ingatlah masa-masa kelam itu selamanya hingga kau sadar tidak akan bisa memperbaiki keadaan itu seumur hidup!"
Sasuke berteriak, semua ingatannya kembali, raja yang begitu arogan, pendendam, dan penuh kebencian, dia akan terus menjadi dewa kematian dengan mengingat masa lampuanya, itu sungguh hal yang sangat-sangat menyakitkan, pria itu sampai meneteskan air matanya, kesalahan terbesarnya menyia-nyiakan rasa cinta ratu yang besar padanya dan mengeksekusi mati seluruh keluarga ratu.
.
.
"Eh? Hujan!" Sakura berlari mencari tempat perlindungan, saat ini dia akan pergi bekerja, namun hujan tiba-tiba turun dengan derasnya, jika dia tidak segera berlindung, pakaian dan tasnya akan basah.
Berteduh di sebuah toko yang tengah tutup, memandangi hujan yang semakin deras saja, wajahnya cemberut, dia akan terlambat bekerja dan managernya mungkin sedang mencarinya, di jalanan, gadis itu memicingkan matanya, dia seperti melihat seseorang yang tengah berjalan, tatapannya membulat dan mundur perlahan, mengalihkan tatapannya dan berpura-pura tidak melihat hantu itu, hantu yang tidak ingin di lihatnya.
"Kenapa hari ini tiba-tiba hujan yaaa." Ucap Orochimaru, berdiri tepat di hadapan Sakura, senyum licik itu terus terpampang di wajahnya, gadis itu tidak menatapnya, dia terus menundukkan wajahnya. "Kau tahu, jika hantu bisa merasuki seseorang, dan sejak dulu, aku ingin sekali menemukanmu di jaman berikutnya dan sekali lagi bisa menghancurkanmu, wahai ratu Uchiha Sakura."
Sakura mengangkat wajahnya dan menatap hantu itu, dia tidak percaya akan ucapan yang di dengar hantu itu. "A-apa maksudmu? Aku tidak mengenalmu sama sekali, dan juga namaku bukan Uchiha Sakura, tapi Haruno Sakura!" Tegas Sakura, walaupun saat ini dia sangat takut.
"Kau tetap saja membuatku kesal hingga sekarang, sampai kapanpun, raja Sasuke akan tetap mendengar ucapanku dan dia akan selalu membenci ratu seperti itu." Ucap Orochimaru, belum sempat Sakura membalas ucapannya, hantu itu merasukinya.
Sakura terkejut, hantu itu menggerakkan tubuhnya untuk bergerak, hujan masih turun dengan derasnya, Sakura terus berjalan, di sadar, tapi gerakan tubuhnya tidak bisa di hentikan, gadis itu berjalan ke arah jalan raya yang ramai dengan kendaraan, hujan yang turun membuat orang-orang yang berkendara sulit untuk melihat dari kejauhan.
"A-apa yang kau lakukan! Aku mohon! Aku tidak ingin mati." Ucap Sakura, dia sangat takut, tubuhnya masih sulit untuk di gerakannya sendiri, seragamnya sudah basah begitu juga tasnya, gadis itu mulai menangis dan memaksakan diri untuk mengambil alih tubuhnya namun hantu itu begitu kuat, terus menangis dan memohon pada hantu pria itu.
Langkahnya sudah pada jalan beraspal, kendaraan dari arah sampingnya melaju cukup kencang, gadis itu bisa melihat lampu sorot lampu, menutup matanya, dia akan mati hari ini juga, satu hal yang di ingatnya, paman yang di sukainya, dia belum menyatakan perasaannya dan hari ini dia akan pergi jauh.
Terdengar suara mobil yang mengerem mendadak, namun jalan yang licin dan pengendara yang sulit menguasai mobil, dia akan menabrak gadis itu, berkali-kali memencet klakson namun gadis itu tidak bergerak sama sekali.
"Kau akan baik-baik saja."
Detik-detik mobil itu akan menabrak, Sakura merasa jika dia seperti di gendong seseorang dan berpindah tempat.
"Keluar!" Teriak Sasuke.
Gadis itu membuka matanya, dia melihat Sasuke berdiri di hadapannya, tatapannya terlihat marah, hujan masih turun dan membuat pakaian pria di hadapannya pun ikut basah.
"Pa-paman."
"Wahai rajaku, hari ini pun aku ingin kau kembali membuat ratu untuk pergi selama-lamanya." Ucap Orochimaru yang masih berada di dalam tubuh Sakura.
"Kau hantu yang tidak tahu diri, hari ini pun juga kau tidak akan bisa kabur, keluar kataku, atau kau ingin aku memaksamu." Ancam Sasuke dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Hmm? Ada apa rajaku? Aku pikir kau akan selalu berpihak padaku."
"Orochimaru!" Teriak Sasuke.
"Kau mengancamku? Kau tahu, aku bisa berbuat apa saja pada tubuh gadis ini."
"Orochimaru!" Teriakan kedua, Sasuke tidak main-main, dia akan menyelesaikan masalahnya ini dengan segera.
Orochimaru bergerak dia akan kabur, namun itu tidak akan berguna, dia tidak bisa lari lagi.
"Sebagai dewa kematian, aku perintahkan kau untuk keluar dari tubuh gadis itu, Orochimaru!" Teriak ketiga.
Orochimaru terlempar keluar dari tubuh Sakura, gadis itu berlutut, tubuhnya lemas setelah di rasuki oleh seorang roh jahat.
"Orochimaru, lahir pada tanggal xx bulan xx tahun xxxx, catatan kematianmu sudah muncul dan kau tidak bisa seenaknya lagi kabur."
Tiba-tiba beberapa orang dengan berpakaian hitam datang, mereka melempar rantai besi yang terbakar ke arah Orochimaru, Kedua kaki, tangan dan lehernya di rantai, mau berusaha kabur pun Orochimaru tidak bisa bergerak, dia di tarik paksa dengan api yang terus membakar rantai itu, sakit, Orochimaru merasa kesakitan pada sekujur tubuhnya.
"Tetaplah di neraka seumur hidupmu." Ucap Sasuke.
Sebuah pintu terbuka dengan cahaya sangat terang, Orochimaru tertarik ke sana, "Tidaaakk! Tidaaak! Tuan! Rajaku! Arrrrghhhh...!" Teriak Orochimaru.
Blaam!
Pintu raksasa itu tertutup, orang-orang yang menarik paksa Orochimaru pun menghilang seketika. Sasuke bergegas berlari menghampiri Sakura, gadis itu masih berlutut dan menundukkan wajahnya, tubuhnya bergetar, dia amat sangat ketakutan, hampir saja dia akan mati tertabrak.
"Sakura." Panggil Sasuke, gadis itu menatapnya, Sasuke merasa lega, jika saja dia terlambat, Sakura sudah akan meninggal, Sasuke mendapat catatan kematian Sakura, lagi-lagi dia melanggar peraturan tapi pria itu sudah tidak peduli.
"Pamaaan..." Sakura menangis, dia tidak bisa melupakan hal yang hampir saja di alaminya.
.
Hujan yang masih turun dengan derasnya. Sakura menatap cangkir teh hangatnya, Sasuke duduk berhadapan dengannya, mereka tengah berada di rumah Sakura, sudah berganti pakaian dan Sakura pun sudah membersihkan dirinya, hal yang pertama dalam pikiran Sakura, dia di selamatkan Sasuke, sebuah keberuntungan, hal lainnya lagi, Sakura akhirnya tahu jika Sasuke benar adalah seorang dewa kematian.
Sasuke menatap Sakura, ada berbagai macam pertanyaan yang ingin di katakan Sakura padanya, tapi gadis itu hanya termenung dan tidak juga berbicara.
"Seharusnya aku percaya dengan ucapan para hantu itu." Ucap Sakura, dia telah menganggap mereka bohong.
"Ini sesuatu yang tidak perlu kau tahu." Ucap Sasuke.
"Haa..~ Aku tidak sadar jika selama ini nyawaku terancam, dewa kematian selalu ada di dekatku." Ucap Sakura, dia ingin menertawakan dirinya sendiri.
"Kami tidak akan mengambil nyawa siapapun jika belum pada waktu kematian mereka."
"Aku bahkan sudah mengatakan namaku dengan jelas." Keluh Sakura.
"Huuff..~ dengar, Aku tidak berniat untuk membuatmu meninggal, semuanya sudah di atur sama yang di atas dan kami hanya bertugas menuntun." Jelas Sasuke.
Sakura mengabaikan ucapan Sasuke, wajahnya merona, dia baru sadar jika selama ini dia jatuh cinta pada seorang dewa kematian.
"Sakura." Tegur Sasuke, gadis itu masih mengabaikannya.
"A-apa! Tolong jangan memanggil namaku sampai tiga kali!" Protes Sakura, dia baru saja selamat dari kematian dan tidak ingin segera menerima ajalnya kembali.
"Hal itu pun tidak akan terjadi jika namamu tidak muncul dalam catatan."
"Maaf." Sakura menunduk malu, dia jadi salah paham.
"Tidak, seharusnya aku yang minta maaf." Ucap Sasuke, tatapan sedih, dia harus meminta maaf dengan baik.
"Kenapa paman meminta maaf, paman begitu baik padaku, padahal kau itu dewa kematian, kau menolongku berkali-kali, hooo...! Apa paman menolongku karena namaku muncul dalam catatanmu?" Ucap Sakura, lagi-lagi menyadari hal lain.
"Mungkin."
"Paman, kau ini dewa kematian, atau malaikat penyelamat?"
"Yang mana saja aku tidak peduli." Cuek Sasuke, kembali menatap serius pada Sakura. "Aku sungguh-sungguh ingin minta maaf padamu, aku rasa, rasa bersalah ini tidak akan hilang dengan mudah." Ucap Sasuke, kembali dadanya terasa nyeri.
"Apa yang terjadi? Apa dewa kematian pun akan sakit?" Ucap polos Sakura.
"Tidak, kami tidak akan sakit." Sasuke menggenggam tangan Sakura. "Kau, ratuku di masa lampau, aku ingin mengucapkan maaf dari lubuk hatiku yang terdalam, semua yang ku lakukan padamu benar-benar salah, pada akhirnya aku akan hidup dengan mengingat semua rasa bersalah itu, aku rasa ini sangat pantas untukku." Wajah Sasuke berubah menjadi sedih.
"Aku tidak mengerti, kenapa paman mengatakan aku 'ratu'? Ucapan paman sama seperti hantu menakutkan itu." Sakura masih bingung.
"Kau tahu, sebuah ciuman dari dewa kematian akan membuatmu ingat akan kehidupan lampaumu, aku harap kau hanya mengingat hal yang baik saja." Ucap Sasuke.
Gadis itu di tuntun untuk mendekat ke arah Sasuke, Sakura sedikit takut, tapi rasa penasaran jauh lebih besar dan juga tatapan sedih Sasuke, Sakura tidak mengerti, hal yang membuat Sasuke sampai meminta maaf padanya, kehidupan lampau? Jika benar, Sakura mungkin akan melihat semua yang terjadi seperti kata Sasuke.
[insert song : Soyou (Sistar) - I Miss You ]
Sasuke memegang kedua pipi Sakura, gadis itu sedikit gugup, ini adalah ciuman pertama untuknya, walaupun sudah mengetahui hal yang sebenarnya, tetap saja, dia masih menyukai Sasuke.
Sebuah ciuman lembut di bibir Sakura, itu hanya ciuman menempelkan bibir, detik berikutnya mata gadis itu membulat dan air mata mulai membendung, dia sangat-sangat terkejut dengan apa yang di lihatnya, seorang ratu yang terlihat seperti dirinya, raja yang terlihat seperti Sasuke, hantu yang di lihatnya dan seluruh orang-orang yang tidak ketahui Sakura, eksekusi mati, kemarahan dan kebencian raja.
Wajah Sasuke menjauh, dia sudah memperlihatkan masa lampau Sakura padanya. Meneteskan air mata, gadis itu masih tidak memahaminya, dadanya pun terasa sakit.
"A-apa itu?" Sakura masih belum mengerti.
"Itu adalah kehidupan lampaumu?"
"Kehidupan lampauku?"
"Hn, mungkin semuanya akan terjawab dari apa yang kau ingin tanyakan, hantu yang mengganggumu dan juga takdir ini."
Sakura terus menetes air matanya, jadi yang di ucapkan hantu itu pun benar, dia adalah ratu di kehidupannya dulu, Sasuke adalah raja yang begitu di cintai sang ratu, hingga akibat kebohongan sang penasehat raja yang membenci ratu, akhirnya ratu kalah dan raja lebih mendengarkan semua ucapan penasehat itu.
"Maaf atas segalanya." Lagi-lagi Sasuke meminta maaf, mendekap Sakura dan memeluknya erat, sampai kapan pun rasa bersalah ini tidak akan hilang darinya, dia akan menanggungnya sendiri dan Sakura tidak perlu menanggung apapun.
Melonggarkan pelukannya dan meminta Sakura untuk menatapnya, hari ini pun Sasuke akan mengakhiri segalanya, dia ingin Sakura terbebas dari apapun, dia akan mulai membacakan mantra pelupa untuk Sakura.
"Semoga kebahagiaan akan selalu terus bersamamu, keadaan yang sulit dan susah, lupakan mereka, apakah itu kehidupan lampau maupun kehidupan sekarang, dan juga..." Sasuke menggantungkan ucapannya, menatap Sakura yang masih meneteskan air matanya. "...Lupakan aku." Lanjut Sasuke, menyentuh pipi Sakura, dia pun meneteskan air matanya, wanita yang begitu cintainya seumur hidupnya, dia tidak akan pernah melihat wajah bahagia wanita itu. "Setidaknya, kau akan memiliki akhir yang bahagia, tidak sepertiku." Batin Sasuke.
Sakura semakin terpukul mendengar setiap ucapan Sasuke, hatinya begitu sakit, dia tidak tahu jika kehidupan lampaunya begitu rumit, orang yang di cintainya dulu hingga sekarang masih tetap sama, takdir sangat mengerikan, mereka di pertemukan kembali dalam keadaan yang berbeda.
Sasuke mulai berdiri dan beranjak pergi, menetapkan hatinya untuk membiarkan wanita yang di cintainya hidup tenang tanpa kembali mengingat dirinya, berjalan keluar, menatap sejenak ke arah Sakura dan kembali melangkah pergi. Sakura masih meneteskan air matanya, memegang dada kirinya yang semakin sakit, aneh, dia merasa sangat sakit di sana, terus menangis dalam keheningan malam, hujan pun masih belum redah seakan ikut menangis bersamanya.
.
.
TAMAT
.
.
update...
sesuai yang author katakan di chapter pertama, ini hanya berisikan 3 chapter, tapi... ada tapinya..., ini belum tamat, author membuat chapter spesial, semacam sequel lah, so tenang saja, fic ini tidak akan menggantung, dan emang author pengen buat seperti di film aslinya, namanya juga terinspirasi dari sana.
oh iya, author tidak balas review yaa, cuma mau bilang terima kasih, ternyata sampai sekarang pun masih ada yang suka film goblin, XD
eh, ada yang bertanya yaa. khusus ceexia author bakalan jawab, apartemennya itu seperti apa yaa, nggak mirip rumah si sunny sih, itu terlalu kecil, ini apartemennya besar, seperti hotel gitu, soalnya ada sampai 7 lantai, *ini tidak di cantumkan* XD, jalanan ke setiap pintu apartemen nggak sempit2 amat sih, cuma posisi Sakura yang berdiri di depan pintunya itu berada tepat di tengah-tengah, jalanannya jadi semacam koridor hotel, Sasuke sendiri kan nggak bisa asal nyentuh orang dan butuh area yang sedikit luas agar bisa lewat tanpa tersentuh, jadi posisi Sakura seperti menghalangi jalan, apa ini sudah sesuai dengan apa yang ingin di jelaskan, kalau masih belum paham, author jelasin lagi di chapter spesial, ehehehehe...
.
.
untuk fic yang lain, TOMATO dan GADIS KUIL, dengan berat hati author belum bisa update-kan, XD sorry, author sekarang jadi mood-mood-tan untuk lanjut fic, biasanya faktor malas dan sedang jenuh, selalu kabur dari tanggung jawab melanjutkan fic, tetap sabar aja untuk di tunggu kelanjutannya, ehehehe, sekali lagi author cuma akan katakan, tidak ada fic Sasuke fans yang tidak pernah tamat, semuanya pasti akan tamat, :)
.
.
okey, segitu aja,
see next chapter... ^^
