Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. Di larang mengcopy tanpa seijin author.

.

Catatan :

Terinspirasi dari film goblin, tapi terfokus pada malikat mautnya.

Shinigami = dewa kematian

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

Saran auhtor : Sediakan Tissu saat membaca :v

.

Enjoy for read

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

[ Shinigami ]

~ Special ~

.

.

.

Ingatan yang tidak akan pernah hilang,

Ingatan aneh, entah tentang siapa?

Apakah aku? Atau dia wanita yang tengah menjadi ratu? Atau kami orang yang sama?

Kehidupan lampau yang begitu rumit,

Jatuh cinta pada pria yang sama seumur hidup, bahkan itu di kehidupan sekarang,

Saat itu, dia-ratu hanya bisa memandang punggung pria itu, sang raja pergi begitu saja,

Panah itu menembus dada kiri wanita itu, tapi kenapa aku yang merasakan sakit? Aneh?

Rasa penasaran akan wajah sang raja, apakah dia sedih? Atau di senang?

Perintahnya mutlak,

Dia sangat egois dan begitu arogan,

Tapi perasaan cinta ini lebih besar,

Rasa bersalah yang tidak akan pernah terselesaikan,

Minta maaf pun hanya membuatku bingung,

Siapa sebenarnya yang harus di beri maaf?

Aku adalah aku di kehidupan sekarang,

Walaupun dulu, dia memerintah untuk membunuh ratu,

Tapi aku bukan ratu di jaman sekarang,

Aneh?

Seharusnya dia tidak perlu peduli akan kehidupan seseorang di jaman dulu dan jaman sekarang,

Meskipun dia terus tegas akan dirinya yang bersalah,

Tetap saja,

Kami berbeda,

Aku bukan ratu,

Aku hanya gadis biasa dengan kehidupan normalku.

.

.

.

Menatap dirinya di cermin, mengikat rambut softpinknya sudah sangat panjang, dia pun tidak ingin memotongnya dan hanya merapikannya saja.

"Yosh! Baiklah, aku harus cepat." Ucap gadis itu.

Hari ini Sakura akan bergegas ke tempat kerjanya, di sebuah rumah sakit besar di Konoha, dia sudah lulus kuliah dan mengambil jurusan kedokteran, gadis itu belajar keras dan dia ingin menjadi dokter yang bisa menyembuhkan setiap orang yang sakit, tekadnya membawa dirinya dalam kesuksesan, menempati sebuah apartemen baru yang cukup dekat dengan rumah sakit tempatnya bekerja.

Berjalan di sepanjang koridor rumah sakit, beberapa orang akan menyapanya, gadis ini terus berjalan, kemampuannya kini lebih di kendalikannya lagi, kadang beberapa hantu di lihatnya tapi dia tidak peduli dan tetap tenang, tidak menatap mata hantu itu agar mereka tidak sadar jika Sakura melihat mereka, begitu juga dengan orang-orang yang berpakaian serba hitam, Sakura masih mengingat jelas siapa mereka.

Pekerjaannya akan berakhir saat jam 12 siang, jika sedang lembur, dia akan pulang sangat malam, merapikan pakaiannya dan menyimpan dengan rapi jas kerjanya, kadang Sakura akan sering mendatangi minimarket tempatnya dulu bekerja, manager yang memiliki minimarket itu masih sama, memandangi rak yang terdapat diskon ramen, Sakura tersenyum, mengingat akan seseorang yang akan senang memborong ramen-ramen itu.

Berjalan pulang, dia akan segera istirahat sebelum tiba-tiba ada panggilan untuk operasi, memandangi sekitar, matanya melihat pria itu, mengalihkan tatapannya dan tetap berjalan, bahkan seakan tidak peduli jika mereka berpapasan, Sakura akan berpura-pura tidak melihat pria itu.

Sasuke berhenti sejenak, memandangi gadis yang melewatinya begitu saja, mungkin inilah menjadi takdir mereka pada akhirnya, anehnya Sasuke memutar dan mengikuti gadis itu berjalan, dia berhenti di sebuah kafe, sekedar memesan minuman dingin dan kue, setelahnya gadis itu akan kembali berjalan, melihat beberapa penjual pernak-pernik, Sasuke masih terus mengikutinya, dia ingin berhenti, tapi langkahnya terus mengikuti gadis itu, hingga dia berhenti di sebuah jembatan penyeberangan.

Sasuke berpura-pura untuk sekedar melihat kendaraan dari atas jembatan penyeberangan.

"Aku tidak tahu jika ada pria aneh yang terus mengikutiku." Ucap Sakura, berbalik dan menatap pria itu, setelah sekian lama sejak Sasuke tiba-tiba pindah Sakura mulai kembali dengan hidupnya sendiri, mereka kembali bertemu.

"Aku tidak mengikutimu, hanya tidak sengaja jalur kita sama." Ucap Sasuke, tenang, beranggapan jika Sakura sudah melupakannya.

"Dasar paman yang aneh."

Sasuke terkejut, bagaimana mungkin Sakura masih memanggilnya 'paman' dia sudah memantrai gadis itu agar melupakan segalanya.

"Kau?"

"Kau salah mengucapkan mantra paman." Ucap Sakura, dia bahkan tersenyum melihat tingkah bingung Sasuke. "Kau memintaku lupa akan semua hal sulit dan susah bersamamu, tapi aku menyukai semua hal apapun bersamamu, itu sangat bertolak belakang. Mungkin akhirnya aku bisa percaya akan takdir, bahkan di kehidupan sekarang pun kita masih di pertemukan dan kembali aku jatuh cinta padamu." Sakura terus menatap Sasuke, tatapan hampa dan wajahnya mulai terlihat sedih.

"Aku tidak mengerti, mungkin ini memang sebuah hukuman yang pantas untukku, setiap harinya hanya ada rasa yang penuh kerinduan padamu." Ucap Sasuke.

"Aku sedikit kasihan padamu, kau masih akan terus menjalani hukumanmu, melihatmu sekarang yang begitu muda, kelihatannya kau tidak bisa berumur panjang dulunya."

Sakura yang sudah mengenakan cincin giok itu di jari manisnya, mengeluarkan cincin itu dari jarinya, menatap sejenak cincin itu dan menatap Sasuke.

"Di kehidupan sekarang akan ada baiknya kita menjalani kehidupan kita masing-masing, aku memang tidak pernah mengatakan suka padamu sejak bertemu denganmu sebagai paman yang bersikap dingin, tapi aku ingin kita benar-benar berpisah dan tidak akan bertemu lagi." Ucap Sakura, memasukkan cincin itu di saku jas Sasuke.

Sakura masih menahan diri untuk tidak menangis.

"Sampai detik ini pun hanya Yang mulia, pria akan aku cintai selama hidupku bahkan itu jika kami di pertemukan kembali. Aku sempat mengucap kalimat itu." Ucap Sakura, dia mengingat akan ucapannya di kehidupan lampau itu, meskipun tidak yakin jika itu dirinya atau bukan.

"Terima kasih." Sasuke semakin memandang sedih ke arah Sakura, hatinya seakan menjerit mendengar ucapan Sakura.

"Aku akan hidup dengan baik dan mencari pria tampan lainnya, membangun kehidupan baru bersamanya, jadi tenanglah." Ucap Sakura dan berusaha tersenyum.

Mundur perlahan menjauh dari Sasuke.

"Selamat tinggal Yang mulia." Ucap Sakura, berbalik dan berjalan pergi, air matanya pun menetes, dia sungguh tidak bisa menahannya lagi, berpura-pura tegar di hadapan Sasuke, tapi itu hanya ingin membuat Sasuke tenang.

Pria itu menatap sedih ke arah Sakura. Rasa sesak itu tidak akan mudah di hilangkannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Beberapa tahun berlalu.

"Aku tidak tahu kenapa catatan ini ada padaku, tapi aku harus memberikannya padamu." Ucap Suigetsu, memberi sebuah buku catatan pada Sasuke. "Apa kau sudah mengecek buku catatanmu?"

"Masih kosong dan tidak ada jadwal kematian." Ucap Sasuke, hari ini sedikit aneh, dia tidak menerima catatan kematian seseorang.

"Kali ini aku akan yang menjadi pahlawan untukmu."

Sasuke tidak mengerti akan ucapan Suigetsu, membuka buku catatan itu dan nama Haruno Sakura tercantum di sana, dia bahkan masih memiliki marga yang sama.

"Ini tugas terakhirmu dan temuilah dia." Suigetsu tersenyum lebar, dia pun senang melihat akhirnya mereka akan bersama kembali.

"Terima kasih banyak, kau selalu membantuku, bahkan di kehidupan sekarang."

"Tidak perlu mengucapkan hal seperti itu, aku harap kau pergilah dengan damai, raja ku, aku rasa aku pun sudah melakukan tugasku yang seharusnya aku lakukan dulu."

Sasuke melangkah pergi, keluar dari kafe itu, membuka pintu dan dia sudah tiba di sebuah rumah sakit, seorang wanita tua yang tengah berdiri tidak jauh dari ranjang, wajahnya sudah sangat tua dan rambut softpinknya sudah memudar menjadi putih tubuh aslinya sudah terlihat damai dan di tutup kain putih oleh seorang perawat.

"Nona Haruno Sakura, lahir pada tanggal xx bulan xx tahun xx."

"Kau bahkan tidak berubah." Ucap Sakura.

"Kau yang tidak berubah, nona, aku masih mengingat jelas akan ucapan bohongmu, sampai akhir pun kau menolak semua pria yang menginginkamu." Ucap Sasuke.

"Kau tahu, mereka tidak cocok denganku. Aku hanya merindukan rajaku." Ucap Sakura dan tersenyum.

"Hn, aku juga, aku sangat merindukanmu."

"Jadi setelah ini aku akan kemana?"

"Entalah, yang di atas yang akan menentukannya, hari ini pun adalah akhir dari hukumanku, aku mendapat hukuman dua kali lipat." Ucap Sasuke, dia pun mendapat hukuman dari Sakura.

Sakura tertawa pelan, menatap Sasuke, pria itu berjalan lebih dekat ke arahnya, mengambil sesuatu di saku jasnya, itu adalah cincin giok yang Sakura kembalikan padanya.

"Di saat terakhir pun aku ingin memasangkan cincin ini dengan benar walaupun hanya sekali." Ucap Sasuke.

Wajah wanita tua itu berubah menjadi seorang gadis yang sangat di ingat Sasuke, gadis muda yang cerewet dan begitu hyperaktif padanya.

"Aku sudah pindah jauh dan kau masih mendapat kabar kematianku."

"Lagi-lagi takdir seperti ingin mempermainkan kita."

"Aku sungguh merindukanmu." Ucap Sakura dan memeluk Sasuke, pelukannya pun di balas oleh pria tinggi itu.

"Sekarang sudah waktunya." Ucap Sasuke.

"Hmm, baiklah."

Sasuke menggenggam tangan Sakura, menuntunnya ke cahaya yang terang, begitu juga dirinya, dia akan pergi bersama Sakura, tidak akan ada yang tahu bagaimana selanjutnya, keduanya pun pasrah akan diri mereka yang terlahir kembali di kehidupan berikutnya atau tidak ada kehidupan berikutnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

[ Omake ]

.

.

.

"Hey anak kecil, ini sudah bukanlah jam untuk anak sekolah berkeliaran." Ucap seorang pria yang lengkap dengan seragam polisinya, dia tengah berpatroli dan menemukan seorang gadis yang berjalan sendirian di waktu yang sudah pukul 10 malam.

"A-apa! Apa maksudmu mengatakan aku anak kecil dan anak sekolahan!" Protes gadis itu, dia memang memiliki tubuh yang kecil, bahkan hanya setinggi dada pria berseragam itu, tapi gadis itu sudah berumur 25 tahun, tubuhnya dan wajahnya imut, tapi tidak dengan umurnya.

"Ya-ya, mereka kadang akan protes jika tidak segera di periksa, keluarkan KTPmu." Ucap pria itu.

"Baik! jika kau tidak percaya akan aku perlihatkan!" Gadis itu mulai membongkar tasnya, di mencari dompetnya dan sama sekali tidak ada. "Dompetku?" Teringat akan dompetnya yang ketinggalan di kantornya. "Begini pak polisi, aku bekerja di perusahaan perabot yang ada di sana, dompetku ketinggalan, aku akan ke sana dan kembali lagi ke sini."

"Karangan alasan yang bagus, berapa nomer telpon orang tuamu atau alamatmu, aku akan mengantarmu pulang."

"Eh? Kau masih tidak percaya juga, aku ini wanita yang sudah bekerja, aku bukan anak sekolahan lagi, polisi macam apa kau!" Kesal gadis ini.

"Menghina polisi, baiklah kau mungkin bisa ku sel semalaman."

"Apa! Tidak, aku tidak mengejekmu, aku mohon, kalau begitu temani saja aku ke gedung perusahaan di sana, aku tidak akan lari, aku janji!"

"Kau gadis yang aneh, aku tidak terima alasan apapun, ke kantorku sekarang juga."

Pada akhirnya gadis itu di seret ke kantor polisi terdekat, pria itu terus menatap gadis berambut softpink sebahu itu, dia masih ngotot akan identitas dirinya yang sudah seorang pegawai dan bukan anak sekolahan lagi, pria itu masih sibuk menanyakan identitasnya tapi tetap saja dia menjawab tidak sesuai yang di harapkan.

"Namamu?"

"Sakura."

"Umur?"

"25 tahun dan aku seorang pegawai."

"Kau tidak akan pulang jika tidak berkata jujur."

"Terserah! Kau boleh menahanku sampai kau puas pun tidak masalah, tapi ingat jika aku sudah mendapat dompetku dan memperlihatkan KTPku, aku yang akan menuntutmu pak polisi!" Ucap kesal Sakura.

Dia pun tidak di biarkan pergi dan menunggu hingga seseorang bisa membawakan dompetnya kembali padanya, melirik polisi yang reseh itu, dia masih tenang menulis sesuatu pada kertas di mejanya, wajahnya cukup tampan, tapi Sakura tidak akan tergoda hanya karena wajah tampannya, melirik ke arah papan namanya, tertera nama 'Sasuke' disana.

Menatap ponselnya, kantor sudah tutup dan tidak ada yang bisa di hubunginya, gadis ini pun tinggal sendirian di kota besar ini, orang tuanya jauh darinya, lama kelamaan hanya membuatnya ngantuk, jam di ponselnya sudah menunjukkan jam 12 malam, dia harus bangun pagi untuk bekerja tapi saat ini dia pun masih di tahan.

"Hey, pak polisi, besok aku harus kerja pagi, jika kau terus menahanku seperti ini, kapan akubisa beristirahat, baiklah, jika kau masih tidak percaya juga, kita ke rumahku, aku punya kartu keluarga yang bisa ku buktikan." Ucap Sakura, masih berusaha membuat polisi itu mendengarnya.

"Sudahlah Sasuke, biarkan saja dia pergi, mungkin memang tubuhnya saja seperti anak kecil, tapi dia mungkin sudah tua." Ucap seorang polisi lainnya.

Kata 'tua' itu pun tak enak di dengar Sakura, dia masih berumur 25 tahun dan belum tergolong segitu. Sakura melihat tingkah polisi itu, dia membereskan meja dan seperti akan pulang.

"Tunggu, kau akan pergi dan membiarkanku disini? Masalah kita belum selesai."

"Cerewet, aku akan mengantarmu hingga rumahmu, kau bisa memperlihatkan kartu keluargamu padaku." Ucap Sasuke, tatapan tenang yang Sakura tak bisa artikan.

.

Sakura membawa polisi itu ke apartemennya dan memperlihatkan kartu keluarganya, hanya ada namanya saja di sana.

"Kau tinggal sendirian?"

"Apu pertanyaan introgasi itu yang wajib aku jawab?" Ucap Sakura dan menatap malas pada polisi itu.

"Tentu."

"Iya, aku tinggal sendirian, orang tua berada di kota lain, apa anda sudah puas?"

"Hn, baiklah, selamat malam." Ucap Sasuke dan pergi.

Gadis itu terus menatap pak polisi itu, sedikit terkejut, kamar apartemen yang berada paling ujung dari deretan apartemennya adalah rumah pak polisi itu.

.

.

Apartemen yang sama dan akhir-akhir ini mereka jadi sering bertemu, awalnya Sakura cukup benci akan sikap polisi itu, tapi sikapnya jadi berubah.

"Aku rasa ini milikmu." Ucap Sasuke, memegang sebuah cincin giok di tangannya.

"Tidak, aku tidak pernah memiliki perhiasan cincin seperti itu." Ucap Sakura, lagi-lagi dia akan bertemu di depan apartemen.

"Aku yakin ini cincin milikmu yang kau jatuhkan."

"Dia selalu saja keras kepala, pak polisi menyebalkan!" Batin Sakura.

"Dengar, aku sungguh tidak pernah memilikinya."

"Jika ini pas pada jarimu berarti cincin itu milikmu." Ucap Sasuke.

Sakura terkejut, tangannya tiba-tiba di pegang begitu saja, bahkan cincin itu sudah di pasang pada jari manisnya dan itu sangat pas.

"Ternyata benar ini milikmu."

"Sudah aku katakan jika ini bu-"

"-Ini milikmu, aku yang memberikannya." Ucap Sasuke.

"Eh?" Sakura malah memasang wajah bingung. "Tapi-"

"Tidak menyangka jika akan pas." Ucap Sasuke, sejujurnya dia mulai menaruh hati pada gadis itu, memberikannya hadiah, hanya iseng, dia tidak tahu ukuran lingkaran jari manis gadis itu, cincinnya pun pas.

Sakura terdiam, melihat cincin giok itu, semacam benda kuno tapi tetap masih indah, seketika wajahnya merona dan baru saja menyadari sesuatu.

"Kau harus mengosongkan jadwalmu untuk besok malam." Ucap Sasuke.

"Besok malam? Memangnya ada apa?"

"Kau selalu saja cerewet, pokoknya besok malam aku akan mengajakmu makan malam dan jangan protes, aku bisa saja menahanmu di tahanan semalaman." Ucap Sasuke dan berlalu begitu saja, dia tersenyum akan ancamannya sendiri, tapi tidak akan di lihat Sakura, hanya punggungnya kini yang terlihat oleh gadis itu.

Wajah Sakura semakin merona, pria itu mengajaknya kencan setelah memberikan hadiah cincin, hal yang tak terduga, dia menemukan seorang pria yang lebih dulu jatuh cinta padanya.

"Apa ini takdir? Mungkin saja."

Sakura tersenyum, senang.

.

.

TAMAT

.

.


ini hanya chapter tambahan jadi tidak banyak-banyak amat.

akhirnya, fic ini pun selesai, semoga puas aja baca fic yang mengikuti alur drako goblin ini.

endingnya di buat berbeda dengan yang aslinya, author pengen ada cerita tersendiri untuk mereka di masa yang akan datang, tapi entah ini sudah bagus atau nggak, emang sih seperti menggantung, tapi emang kan harus happy ending, author rasa ini sudah happy end, walaupun beberapa scene di atas dan sebelumnya bikin banjir air mata, sumpah, author sampai nangis sendiri bacanya sambil dengar OST. yang sudah author cantumkan. *lebay* XD

terima kasih untuk terus membaca fic singkat ini sampai selesai..., tolong jangan kecewa ama endingnya yaa, kalau ada yang masih pengen kecewa, ya udah, kecewa ajalah, XD

kalau pun masih pengen di lanjut, haa..~ baca fic lain saja yaa, author ada punya banyak fic yang masih enak untuk di baca, *emang makanan yaa* hehehehe.

akhirnya kata...

makasih kembali untuk semua reader yang udah repot-repot tinggalkan review, jika ada masih bertanya, pake akun reviewnya biar author bisa balas lewat inbox. Baik kan author... jadiin favorit juga boleh, XD

.

.

See another fic.

_SASUKE FANS_