Seokjin rasanya ingin menenggelamkan dirinya sendiri ke danau di belakang sekolah ketika dengan polos Namjoon bertanya apakah mereka pernah bertemu sebelumnya. Kim Namjoon kecil yang dia temui ketika tersesat tidak mengingatnya sama sekali, atau mereka bukanlah orang yang sama?
Memang tidak ada yang spesial dari pertemuan itu, apa spesialnya dari 'bertemu hyung asing yang tersesat' dan mengantarkan ke kantor polisi serta menemaninya sampai si paman tiba, kemudian bersama-sama makan di sebuah warung ramyeon dan di antar pulang ke rumah. Tidak ada yang spesial sama sekali.
"Hei," Tepukan kecil di bahu mengejutkan Seokjin, Hyosang berdiri di belakangnya dengan wajah bangun tidur dan rambut yang acak-acakan.
"Kau terlambat," Seokjin berkata, menyerahkan bungkusan berwarna putih berisi side dish dari ibunya yang di kemas untuk pemuda yang kini duduk di sampingnya itu. Sahabat dan juga tetangganya sejak kecil. Hyosang menguap, tidak menyentuh bungkusan itu dan hanya mengusap wajahnya. Mereka sedang berada di kantin lantai satu.
"Jin, ambilkan air minum." Perintah Hyosang, Seokjin menatapnya sebal, mendengus kasar dan berjalan menuju dispenser di pojok kantin, kemudian menyerahkan gelas plastik berisi air tersebut pada Hyosang dan kembali duduk.
"Kau memotong rambutmu lagi, kalau ada waktu untuk sekedar pergi memotong rambut kenapa tidak pulang sehari saja? Orangtuamu selalu bertanya padaku!" Keluh Seokjin.
"Aku sedang sibuk, aku sudah di kontrak perusahaan besar untuk memproduksi sebuah lagu. Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan, bisa-bisa aku di tuntut jika tidak menyelesaikannya sesuai perjanjian." Hyosang berkata menyesap habis air di dalam gelas.
Seokjin menghela nafas, memandang sahabatnya tersebut. Hyosang memang tidak perlu lagi meminta uang kepada orangtuanya karena meskipun masih sekolah, kemampuan bermusiknya sudah di akui sampai sekolah selalu mengizinkannya untuk tidak mengikuti kelas jika dia sedang bekerja. Hyosang membawa nama baik sekolah dengan bermusik, dia beberapa kali mendapatkan penghargaan bergengsi di indiemusic sebelumnya dan kemudian sekolah mulai memperkenalkannya ke industri yang lebih besar. Seokjin cukup iri karena bagaimanapun dia belajar dan mendapat peringkat terbaik, dia masih belum tahu ingin menjadi apa.
"Kau memikirkan sesuatu?"
Seokjin menatap Hyosang,
"Kau sedang menstruasi?!"
Seokjin menjitak kepala Hyosang dengan cukup keras hingga membuat pemuda itu meringis kesakitan. Hyosang berteriak ia hanya berniat untuk membuat Seokjin tertawa karena kelihatannya sesuatu tengah mengganggu pikirannya.
"Aku dapat teman sekamar," Ucap Seokjin kemudian.
"Anak amerika yang anak-anak ributkan di grup kakao?"
"Kau membacanya? Kupikir kau tidur seharian ini," Seokjin berkata, mengubah posisi duduknya.
"Aku membacanya sekalian menunggumu turun kesini, ada apa dengannya?" Hyosang bertanya lagi, menyandarkan kepalanya ke tembok di belakang kursi yang tengah di dudukinya. Sejujurnya, dia masih setengah mengantuk karena baru saja tidur menjelang pagi merampungkan pekerjaannya.
"Kau ingat Kim Namjoon?"
Dahi Hyosang mengerenyit mendengar nama itu, tentu saja dia mengingatnya, karena anak itulah yang membuat sahabatnya akhirnya mengakui sebuah rahasia hingga Hyosang terkejut setengah mati ketika di Sekolah Menengah Pertama dulu.
"Dia-"
Seokjin mengangguk dengan cepat bahkan sebelum Hyosang menyelesaikan kalimat tanya tersebut.
"Kau yakin dia orang yang sama? Anak laki-laki yang kau temui saat masih kecil?" Tanya Hyosang, mencoba meyakinkan kalau-kalau pertanyaannya yang belum selesai tadi ternyata salah.
"A-aku tidak terlalu yakin, tapi dia sangat mirip sekali dengannya."
"Dia mengenalmu?" Tanya Hyosang kemudian,
Seokjin menggeleng lagi, "Tapi- aku rasa aku tidak mungkin salah mengenali orang, aku benar-benar mengingat wajah kecilnya."
Hyosang menghela napas, menatap Seokjin yang kini sedang cemberut di hadapannya. Ia tahu betul apa yang sedang Seokjin pikirkan dan mungkin tahu apa yang tengah Seokjin rasakan, sahabatnya itu pasti sangat kecewa mengetahui fakta bahwa pertemuan yang dia anggap istimewa, nyatanya tidak memiliki arti apapun untuk seorang Kim Namjoon. Fakta bahwa hanya Seokjin satu-satunya yang mengingat siapa yang dia temui saat itu pasti membuatnya sedikit sedih. Karena Kim Namjoon adalah orang yang membuatnya mengambil keputusan untuk mengambil beasiswa di Seoul.
"Lalu…kau mau apa jika dia memang benar-benar Kim Namjoon?" Pertanyaan Hyosang mengejutkan Seokjin. "Kau tidak mungkin mengakui padanya kalau selama tujuh tahun ini kau diam-diam berharap bertemu lagi dengannya. Terutama Jin, kau tidak mungkin mengakui terang-terangan pada dia kalau kau menyukainya."
Seokjin menatap Hyosang, "─Kau tidak bisa memberitahu orang lain kalau kau menyukai sesama jenis, kau seorang Gay. Kau tahu? Beberapa orang tidak bisa menerima hal-hal seperti itu terjadi pada mereka─maksudku, beberapa orang mungkin tidak menyukainya bahkan bisa-bisa membenci itu."
Seokjin terdiam ketika dengan terang-terangan Hyosang mengungkit kembali mengenai masalah yang pernah dia sampaikan pada sahabatnya itu ketika mereka masih di Sekolah Menengah Pertama. Hyosang adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa Seokjin seorang Gay, bahwa pada kenyataannya pemuda itu menyukai sesama jenis. Dulu, ketika Seokjin mengakui hal itu pada Hyosang dia sudah sangat siap jika Hyosang menjauhinya. Tapi, dia harus mengatakan yang sejujurnya pada Hyosang karena dia tidak ingin memiliki rahasia apapun pada sahabatnya itu. Hyosang tentu saja terkejut, selama bertahun-tahun mengenal Seokjin dia melihat sahabatnya tersebut tumbuh seperti laki-laki pada umumnya. Pengakuan Seokjin bahwa dia menyukai seorang anak laki-laki yang dia temui di Seoul dan ingin bersekolah di Seoul karena berharap untuk bertemu lagi membuat Hyosang tidak habis pikir, karena anak laki-laki itu juga yang membuat Seokjin menentang keinginan keluarganya untuk tidak pergi ke Seoul dan berakhir dengan Hyosang ikut pergi ke sekolah elite ini agar keluarganya tidak terlalu khawatir.
"Dengar, jangan berpikiran bodoh hanya karena dia mempunya nama yang sama dengannya, ataupun kalau benar itu dia, aku hanya ingin kau memikirkannya lagi jika ingin mengakui perasaanmu."
Seokjin mengangguk kecil, ada rasa khawatir dalam diri Hyosang melihat Seokjin yang sedih dan frustasi, namun dia harus mengatakan hal itu secara terang-terangan agar sahabatnya jauh lebih berhati-hati mengenai rahasianya. Sejujurnya, di antara murid kelas dua dan kelas tiga di sekolah ini, beberapa memiliki masalah yang sama seperti Seokjin. Beberapa memacari teman sebangku, teman sekamar atau kakak kelas mereka, tapi Hyosang pikir itu hanya karena mereka terjebak dan bergaul dengan orang yang sama setiap hari, berbulan-bulan dengan hormon yang sedang memuncak, Hyosang tidak berpikir itu perasaan sesungguhnya, toh, jika nanti mereka sudah lulus mereka bergaul lagi dengan perempuan, insting pria akan tetap sama, mereka memang menyukai pantat dan dada.
"Sudah sana kembali ke kamarmu, aku harus kembali bekerja. Terima kasih untuk bingkisannya, aku akan menelepon ibumu.." Hyosang berkata, mengelus puncak kepala Seokjin yang masih menunduk.
"Jangan lupa menelepon ibumu juga!" Seokjin setengah berteriak ketika Hyosang sudah berjalan meninggalkannya.
"Berisik, aku tahu!"
Seokjin berjalan pergi meninggalkan kantin, menaiki tangga demi tangga menuju lantai empat. Rasanya dia enggan kembali ke kamar setelah mendengar ucapan Hyosang, memang benar dia tidak mungkin bisa mengakui terang-terangan mengenai perasaannya pada Kim Namjoon. Tidak semua orang sama sepertinya, tidak semua orang menerima apa yang berbeda darinya, tidak semua merasa biasa saja dengan hal ini, beberapa orang akan jijik dan bahkan tidak ingin melihat wajah orang-orang sepertinya. Hanya saja, Seokjin sudah menunggu selama tujuh tahun untuk kembali bertemu Kim Namjoon.
Dia merindukannya.
Seokjin menatap pintu kamarnya, ada rasa ragu dalam dirinya untuk masuk kamar tersebut. Apa yang akan dia lakukan jika dia bertemu Namjoon? Seokjin menghela napasnya sekali lagi dengan keras, dia membuka pintu dan mendapati kamarnya penuh dengan baju-baju berserakan di lantai. Matanya membulat tak percaya, kamarnya yang selama ini rapi dan bersih menjadi amburadul tak karuan, padahal dia hanya meninggalkannya beberapa menit untuk mengobrol.
"A-apa-apaan ini?" Tanya Seokjin, masuk ke kamar dan mendapati Namjoon tengah duduk di antara tumpukkan baju-baju.
"Oh, hai hyung! Aku sedang melipat baju-bajuku untuk di masukan ke lemari. Tapi sepertinya banyak sekali dan memakan waktu lama,"
Seokjin menatap Namjoon, rasa kaku dan canggungnya mendadak menguap begitu saja melihat kelakuan menyebalkan bocah di hadapannya. Dia mencoba menarik napas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan untuk menetralisir kemarahannya, Seokjin mengambil baju-baju Namjoon yang berserakan dan duduk di lantai, "Aku akan membantumu─kali ini saja"
Namjoon menatap Seokjin dan kemudian senyumnya mengembang, Seokjin menatap senyum itu lagi, senyum yang sama, senyum yang membuatnya sadar bahwa dia berbeda dari anak laki-laki kebanyakan, senyum yang membuatnya rindu. Entah dia Namjoon yang pernah dia temui ketika masih kecil atau bukan yang pasti dia dan anak itu kini menjadi teman sekamar. Mereka akan bertemu setiap hari, tidur di ruangan yang sama dan bahkan mandi di tempat yang sama. Tapi, semoga saja, dia berharap pemuda di hadapannya sekarang bukan Namjoon yang dia temui dulu, dia tidak ingin memori cinta pertamanya rusak hanya karena sikap bar-bar pemuda itu.
"Oh hyung? Kau sudah bangun?" Pertanyaan itu mampir di telinga Seokjin ketika dia baru saja membuka matanya, dia menguap dan menggeliat, duduk di atas kasur, helaan nafasnya terdengar sangat frustasi. Melirik ke arah jam, dia tidak habis pikir kenapa anak laki-laki itu sudah bangun dan sibuk dengan pengering rambut sepagi ini. Seokjin mengamati Namjoon yang sedang mengeringkan rambut, anak itu hanya memakai boxer dan kaos dalam. Harum sabun milik Namjoon meruak masuk ke hidungnya, wanginya lembut dan juga menenangkan. Ini kali pertama Seokjin melihat Namjoon selesai mandi setelah selama dua minggu menjadi teman sekamar, mereka tidak pernah bertemu di jam-jam seperti ini. Biasanya ketika Seokjin bangun, Namjoon sudah tidak berada di tempat tidurnya karena pergi ke perpustakaan untuk mengambil antrian penyewaan buku atau Namjoon sudah pergi ke kelas terlebih dahulu karena ada tugas yang belum dia rampungkan. Seokjin juga menghindari berduaan dengan Namjoon terlalu lama.
"Kau memotong rambutmu?" Seokjin bertanya ketika baru saja menyadari rambut Namjoon tidak panjang dan tidak merah muda lagi.
"Iya- kepala sekolah menegurku karena warnanya terlalu mencolok,"
Seokjin mengangguk-angguk sambil berjalan masuk ke dalam kamar mandi, rambut anak itu jauh lebih rapi ketimbang kemarin. Potongannya pendek dengan warna Ash-grey, cocok sekali dengan wajahnya. Jadi, terlihat sangat tampan.
"Sialan." Seokjin bergumam sebelum menutup pintu kamar mandi. Dia menatap sekeliling kamar mandi, aroma Namjoon masih tertinggal disini, melirik ke arah wastafel, Razor yang baru saja Namjoon gunakan masih tergeletak disana dengan berantakan, di tambah sikat gigi dan ceceran sabun yang mungkin dia pakai dengan terburu-buru. Seokjin menyimpan barang-barang Namjoon di kotak milik anak itu, menatap dirinya sendiri ke cermin sebenarnya hari-hari tenang milik Kim Seokjin telah terampas begitu saja semenjak kedatangan si pembuat onar itu.
Pertama, Namjoon senang mendengarkan musik dengan volume yang luar biasa memekakan telinga dan lagu-lagu yang bocah itu putar sama sekali tidak Seokjin mengerti. Dia senang dengan musik-musik rock dan juga hip hop, meskipun terkadang bocah itu memutar lagu-lagu band indie yang tenang di waktu-waktu tertentu tetap saja Seokjin merasa volume yang dia setel terlalu kencang. Kedua, Namjoon benar-benar tidak bisa membuat kamar mereka rapi. Kamar Seokjin jadi serupa dengan kamar Chanyeol dan Hyunwoo yang penuh baju kotor ─entah bersih─ di lantai. Seokjinlah satu-satunya orang yang akan membereskan kekacauan itu karena jam pulang kelas biasa dan kelas akselerasi berbeda dua jam. Ketiga, Namjoon selalu mengganggunya dengan memanggil namanya keras-keras ketika istirahat tiba. Bagaikan seorang anak kecil memanggil ibunya, pemuda itu yang kelasnya ternyata berada tepat di sebelah Seokjin selalu dan selalu saja memanggil Seokjin dengan melambaikan tangannya dari luar jendela kelas.
"Seokjin hyung! Seokjin hyung! Kau membawa sumpit? Bisa aku pinjam? Sumpitku patah oleh Yugyeom!"
"Seokjin hyung! Kau membawa botol minum? Bisa aku minta? Aku malas ke kantin, aku haus!"
"Seokjin hyung!"
"Seokjin hyung!"
Seokjin seperti sedang mengasuh seorang anak berusia lima tahun.
Terakhir, Namjoon mendengkur dengan sangat kencang ketika tidur. Setiap malam, Seokjin kesulitan memejamkan matanya lebih cepat karena hal ini.
"Apa kau yakin dia cinta pertamamu? Orang yang membuat kau membongkar rahasiamu padaku?" Tanya Hyosang pada Seokjin, "Anak itu selalu saja menempel padamu, apa yang kau lakukan padanya?"
Menghela nafasnya, Seokjin teringat pertanyaan yang Hyosang lontarkan tadi malam. Dia sendiri tidak tahu mengapa, Namjoon sama sekali tidak merasa canggung pada Seokjin, padahal mereka tidak seumuran dan posisi Seokjin adalah sunbae si bocah berisik itu. Setiap kali percakapan antara dia dan Namjoon terjalin, semuanya kelihatan natural seolah-olah mereka memang sudah saling mengenal cukup lama.
"Atau karena aku lembek padanya?" Gumam Seokjin kemudian.
KNOCK KNOCK!
Ketukan kasar di pintu kamar mandi mengejutkannya, "Hyung, aku berangkat duluan. Kau akan ke perpustakaan sepulang sekolah?" Suara Namjoon terdengar di balik pintu.
"Ya," Seokjin menjawab singkat, melucuti pakaiannya satu persatu.
"Kau mau membawa payung? Aku lihat di ramalan cuaca, hari ini hujan."
Seokjin menyalakan kran shower, "Tidak," Dia menjawab sekenanya. Anak itu benar-benar menganggunya bahkan di pagi hari.
Sekolah di mulai kembali semenjak seminggu lalu, Seokjin tidak lagi punya waktu untuk memikirkan hal-hal tidak beguna, dia harus fokus pada studinya demi mempertahankan nilai dan rankingnya di sekolah. Dia tidak ingin hanya karena satu orang, beasiswanya harus terpaksa di cabut begitu saja. Siang ini, Seokjin tidak mendengar Namjoon berteriak-teriak memanggil namanya, dia sempat mendengar Jongdae berbicara dengan Hoseok si ketua kelas akselerasi kalau hari ini kelas mereka akan melakukan riset ke luar sekolah. Seokjin bisa bernafas lega, setidaknya hari ini, kehidupan sekolahnya yang tenang kembali. Pukul 3 Seokjin kembali ke asrama untuk mandi dan mengerjakan beberapa pekerjaan rumah, Seokjin bertemu dengan Baekhyun di kantin pukul setengah lima sore. Mereka makan bersama Sun Woo dan Jongdae, di sela makan keempatnya masih membicarakan tugas kelompok. Mereka akan membuat presentasi untuk pertemuan berikutnya, Sun Woo mulai membagi tugas untuk di kerjakan.
Seokjin mengunyah makanannya dengan malas, hari ini selera makannya menurun drastis karena tugas sekolah yang menanti untuk di kerjakan menyita sebagian isi otaknya. Mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin, dia bisa melihat teman-teman seangkatannya membicarakan hal yang sama selagi makan, tugas sekolah. Sebagian siswa berfokus pada buku di bandingkan makanan mereka, beberapa lainnya sibuk membicarakan pertandingan sepak bola, dan yang lainnya sibuk mengobrol sambil terus mengunyah makanan mereka.
Menjadi seorang murid di sekolahan ternama bukanlah hal yang mudah, terlebih lagi jika masuk dengan jalur beasiswa, dia harus mempertahankan prestasinya dengan belajar terus menerus karena bagaimanapun dia tidak terlahir sebagai seorang jenius. Terkadang, Seokjin ingin menikmati masa-masa sekolahnya, bermain bersama teman-temannya, membicarakan hal-hal tidak berguna di kakao seperti Jongdae dan yang lainnya. Apa mungkin, dia terlalu kaku?
Pandangan Seokjin berhenti tepat ketika si rambut Ash-grey yang sedang mengunyah makanannya dan duduk di pojok kantin menatapnya lekat-lekat, mata keduanya bertemu untuk beberapa saat sebelum Seokjin mengalihkannya ke arah lain. Dadanya berdegup dengan sangat kencang.
Apakah itu Kim Namjoon sedang menatapnya?
Dia terdiam sesaat, menelan makanannya secara paksa, kemudian diam-diam mengintip di balik poni untuk melihat apakah bocah itu benar-benar menatapnya atau hanya perasaannya saja. Tapi, dia tidak bisa menemukan Namjoon dimanapun.
"Jin, kau mendengarkan?" Pertanyaan Baekhyun menghentikan kegiatan Seokjin, dia menatap Baekhyun, Jongdae, dan Sun Woo bergantian kemudian menampilkan senyum kaku sebelum jitakan Baekhyun melayang ke puncak kepalanya.
"Bisa kau konsentrasi pada kegiatan ini?" Jongdae mendengus.
Baekhyun menyudahi diskusi bersama kelompoknya pukul sembilan malam, setelah banyak perdebatan yang mereka layangkan untuk membuat sebuah presentasi menarik akhirnya setengah tugas tersebut selesai meskipun beosk mereka harus kembali bertemu di perpustakaan setelah makan malam untuk mencari bahan-bahan pengisinya. Seokjin masih berada di perpustakaan ketika ketiga temannya memutuskan kembali ke asrama, Seokjin berniat melanjutkan novel yang kemarin dia baca sebelum liburan, ceritanya menarik dan dia menyukainya. Dia baru keluar dari perpustakaan pukul sepuluh malam dan baru menyadari jika hujan ternyata sudah sedari tadi turun dengan lumayan deras, jarak asrama ke perpustakaan cukup jauh, jika dia memaksa pergi, dia pasti kebasahan. Merogoh sakunya, dia menatap getir ponselnya yang sama sekali tidak bisa menyala. Dia harus menghubungi Hyosang untuk menjemputnya.
Seokjin terdiam, mengamati para pelajar yang masih mondar-mandir keluar masuk perpustakaan. Sekolah besar ini menyediakan segala macam fasilitas yang tidak di miliki sekolah lain, wajar saja kalau biaya pertahunnya sangat besar, keluarganya hanyalah keluarga biasa yang mungkin akan kesulitan jika harus membiayainya disini untuk beberapa tahun ke depan kalau dia tidak bisa mempertahankan beasiswanya. Menghela nafas. Seokjin benci karena lagi-lagi pikiran itu yang terlintas di benaknya. Dia terlalu banyak berpikir hal-hal buruk.
"Ayo pulang,"
Sebuah suara mengejutkan Seokjin, dia mengalihkan pandangannya, menatap figur yang sangat dia kenal tengah berdiri di sampingnya membawa payung di tangan kanan, bocah berisik itu memakai baju hitam dengan cardigan abu-abu, di padu dengan syal hitam melingkari lehernya.
"K-kau sedang apa!?"
Namjoon membuka payung transparan yang ada di genggamannya, "Aku bertemu Sun Woo hyung tadi, dan mereka bilang tidak bisa menghubungimu karena ponselmu mati, mereka takut kau terjebak hujan dan tidak bisa kembali ke asrama sampai tengah malam." Jelas Namjoon.
"Lalu kenapa kau kesini?" Tanya Seokjin, masih tidak bisa mengerti.
"Menjemputmu, aku sudah menunggu satu jam hyung. Kau asik sekali membaca, aku tidak ingin mengganggu." Namjoon tersenyum, memperlihatkan kedua lesung pipinya yang dalam.
"A-aku tidak perlu- aku akan menghubungi Hyo─" Belum selesai Seokjin berbicara, Namjoon sudah menarik tangannya untuk berjalan bersama. Tubuh Seokjin bereaksi ketika terkena air hujan, dengan spontan menghindar dan berlindung di bawah payung yang di bawa Namjoon.
"Hyosang hyung sedang tidak ada disini, dia pergi ke perusahaan musik. Lagipula, aku 'kan teman sekamarmu,"
Seokjin melirik ke arah Namjoon, dadanya berdegup dengan sangat keras, wajahnya memerah begitupun telinganya. Dia benar-benar gugup.
"Aku akan berjalan pelan-pelan, dan─" Namjoon menarik lengan Seokjin agar pemuda itu mendekat padanya, "Kau harus menempel padaku hyung, biar kita berdua tidak kebasahan,"
Seokjin menelan ludahnya, rasanya nafasnya berhenti seketika, dia berjalan sangat pelan di tengah guyuran hujan. Satu payung bersama Kim Namjoon.
