Tiga hari berlalu semenjak Namjoon menjemput Seokjin di perpustakaan, dan sudah tiga hari juga tiap kali Seokjin bertemu dengan Namjoon irama jantungnya jadi tidak beraturan. Dia berusaha tidak bertatapan dengan Namjoon walaupun bocah itu masih mengganggunya saat istirahat, meminjam barang-barang yang entah di perlukan atau tidak olehnya, meminta makanan dan cemilan Seokjin atau hal-hal lainnya. Untungnya, Seokjin belum berduaan lagi dengan Namjoon di kamar mereka seperti waktu itu karena kegiatan yang bertabrakan jadwalnya. Akhir-akhir ini Namjoon pulang lebih larut dari biasanya dan Seokjin sudah tidur lebih dulu, ketika pagi tiba, Namjoon sudah tidak berada di kamar karena harus mengambil antrian untuk peminjaman buku. Anak-anak kelas akselerasi sedang benar-benar sibuk, bahkan si berisik Hoseok tidak terdengar suaranya.
Seokjin menatap jam dinding di perpustakaan, pukul 9 malam. Hari ini tidak banyak yang dia kerjakan, pekerjaan rumah ataupun persiapan presentasi dan tugas-tugas sekolah lainnya, sedari sore dia asik di perpustakaan untuk membaca buku-buku novel menarik. Seokjin melangkahkan kakinya keluar dari pintu perpustakaan ketika matanya menangkap sosok Hyosang yang tengah berjalan dengan agak tergesa. Pemuda itu mengenakan hoodie hitam kemudian berlalu menuju belakang asrama. Seokjin tahu benar apa yang akan Hyosang lakukan jika pergi ke tempat seperti itu, jadi dia mengikutinya diam-diam dari belakang sampai Hyosang berhenti dan duduk di Bench yang menghadap pagar.
"Kau berjanji padaku untuk berhenti merokok," Seokjin berkata dengan suara keras di belakang Hyosang dan sahabatnya itu terlihat terkejut mendengar suaranya. Hyosang mengumpat di depan wajah Seokjin yang cemberut, dia duduk di sampingnya. Hyosang menyudahi omelannya dan melirik ke arah tangan Seokjin, empat buah buku tebal di genggamannya.
"Anak rajin, kau pasti menghabiskan waktumu lagi di perpustakaan." Ledek Hyosang.
Seokjin mengangkat kedua bahunya, tidak ingin menanggapi ledekan Hyosang. Membuang pandangannya ke arah langit hitam pekat, Seokjin melepaskan kacamata, membuat rileks matanya untuk sesaat. Hyosang menyesap rokoknya, membuang asapnya lewat hidung dan memainkan batang rokok di jari jemarinya, tangan kirinya sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.
"Kau masih ingin bertahan disini?" Suara Hyosang memecah keheningan.
Seokjin menghela napas.
"Kau pikir ayahku akan benar-benar memintaku kembali jika tahun ini aku tidak bisa mempertahankan prestasiku?" Seokjin balik bertanya pada Hyosang.
"Tidak tahu─" Hyosang menjawab, menghisap rokok, menyimpan ponselnya ke dalam saku "Tapi kurasa paman Kim hanya menggertakmu, kau sudah berada di tahun kedua rasanya mustahil memindahkanmu kembali ke kampung halaman."
Seokjin mengangguk-angguk.
"Kau sudah merasa muak karena setiap hari berkutat dengan buku?"
Seokjin tidak menjawab, hanya mengangkat buku-buku tebalnya ke depan wajah Hyosang dan pemuda itu terkekeh geli.
"Aku ingin memiliki sebuah tujuan," Seokjin berkata, menyandarkan punggungnya di kursi dan menatap langit yang kini terlihat jauh lebih terang saat awan hitam mulai pergi dan cahaya bulan terlihat.
"Kau iri padaku?"
Seokjin terkekeh mendengar ucapan Hyosang, tapi dia memang mengakuinya. Dia iri pada Hyosang yang memiliki hobi, ia menyukai musik dan mendedikasikan hidupnya untuk musik. Hyosang adalah orang yang bertalenta, karena itulah ketika ia mencoba masuk ke sekolah ini dengan bermodalkan sertifikat penghargaan, sekolah sangat menerimanya, Hyosang tidak perlu menjadi yang pertama untuk beasiswa karena sekolah menggratiskan biayanya terutama ketika pada akhirnya Hyosang mendapatkan penghargaan bergengsi untuk kategori indie pemula. Bahkan sekolah memperkenalkan Hyosang pada CEO sebuah agensi besar dan terkenal hingga pada akhirnya pemuda itu di kontrak untuk menggarap lagu meskipun lagu-lagunya bukanlah lagu utama, tapi beberapa lagu ciptaanya pernah masuk dalam Track List album penyanyi ternama di Negara ini.
"Kau juga bisa menekuni hobimu kalau benar-benar berminat," Seperti bisa menebak monolog yang sedang Seokjin mainkan di benaknya, Hyosang berkata lagi sebelum menghisap lagi rokoknya. "Sayang hobimu tidak ada sangkut pautnya dengan buku-buku tebal itu." Hyosang menunjuk buku-buku di paha Seokjin.
"Memangnya apa hobiku?" Seokjin bertanya.
"Memasak?"
Seokjin memukul bahu Hyosang dengan salah satu buku tebal dan tertawa.
"Bodoh, aku memasak karena ibu memintaku membantunya!"
"Tapi masakanmu benar-benar enak, ini serius!" Hyosang berkata dengan sungguh-sungguh hingga Seokjin kembali tertawa. Hyosang tersenyum, menatap Seokjin dan meninju bahu sahabatnya itu lembut.
"Kau pasti akan menemukan tujuanmu, mungkin tidak sekarang, kau masih punya satu tahun lagi untuk berpikir sebelum wali kelas mendesakmu untuk mengisi rencana masa depan."
Seokjin melirik ke arahnya, pemuda itu mematikan rokoknya yang sudah hampir mencapai filter dan mengajak Seokjin kembali ke asrama sebelum salah satu penjaga menangkapnya merokok di lingkungan asrama sekolah. Keduanya berjalan dengan pelan, berusaha menikmati malam yang lumayan dingin padahal musim panas sudah tinggal menghitung hari.
"Tiga hari lalu Namjoon menjemputku dari perpustakaan,"
Hyosang mengerenyit, "Menjemput? Kau di perpustakaan mana?"
"Perpustakaan sekolah, hanya saja, hujan turun sangat deras malam itu. Ponselku mati dan aku tidak bisa menghubungimu, dia bilang kau sedang ke perusahaan musik."
Hyosang mengangguk-angguk, mengingatnya, hari itu dia memang seharian berada disana untuk diskusi lagu yang baru saja dia rampungkan.
"Lalu?"
Seokjin menghentikan langkahnya, menatap punggung Hyosang yang berada di depannya, "Aku tidak bisa melupakan hari itu bagaimanapun usahanya, aku─Hyosang-ah, rasanya dia seperti orang yang sama.."
Hyosang menghentikan langkahnya, menatap Seokjin yang kini melemparkan tatapan depresi padanya.
"Aku berusaha untuk tidak berduaan saja dengannya, aku benar-benar berusaha untuk tidak berpikir dia orang yang sama atau apapun itu. Tapi, tidak bisa─aku menunggunya selama tujuh tahun dan rasanya benar-benar seperti mimpi dapat bertemu dengannya lagi."
Seokjin terdiam, Hyosang menatapnya namun keduanya tidak berkata apa-apa untuk sesaat.
"Kau senang?" Tanya Hyosang kemudian,
"Ha?"
"Aku bertanya, kau merasa senang?"
Seokjin mengangguk ragu. Hyosang mendekatinya, merangkul bahu Seokjin dan memaksa pemuda itu berjalan.
"Aku tidak tahu bagaimana rasanya mencintai sebelah pihak Jinnie, aku tidak tahu seberapa sakitnya itu tapi melihatmu, sepertinya kau benar-benar tersiksa. Tapi Jin, jika kau merasa bahagia hanya karena hal-hal kecil itu, mengapa tidak?"
Seokjin melirik ke arah Hyosang seolah bertanya 'apa maksudnya?'
"Kalau kau merasa bahagia hanya karena berada di dekatnya, sudah cukup 'kan? Tidak perlu melakukan apapun lagi. Dalam lagu yang aku ciptakan, cinta itu tidak perlu memiliki, bukankah berbahagia untuk seseorang yang kau cintai juga termasuk dalam kategori cinta yang bahagia?" Hyosang menaikkan satu alisnya dan tersenyum lebar, Seokjin tersenyum, menjitak dahi Hyosang.
"Kau terlalu banyak menuliskan kata-kata puitis untuk lagumu!"
Seokjin berpisah dengan Hyosang di lantai dasar, dia menapaki tangga satu persatu dengan malas. Dia tidak ingin kembali ke kamarnya, dia sedang tidak ingin bertatap muka dengan Namjoon. Seokjin terus menaiki tangga dengan pikiran yang melayang dari satu persoalan ke persoalan lainnya secara acak, sampai kakinya berhenti tepat di depan pintu kamar. Seokjin terdiam sebentar, melirik ke jam di tangan kirinya dia menduga-duga kemungkinan Namjoon sudah tertidur pulas atau belum kembali dari ruang belajar. Seokjin menempelkan telinganya ke pintu, namun tidak ada suara apapun dari dalam.
"Hyung? Apa yang kau lakukan?"
Suara Namjoon yang tepat berada di belakangnya mengejutkan Seokjin, jantungnya hampir saja berhenti berdetak. Dia memegang dadanya dan matanya bertatapan dengan Namjoon, bocah di depannya menatap dengan bingung, dahinya berkerut.
"K-kau mengejutkanku,"
Wajah Seokjin memerah.
"Hyung, kau baik- baik saja?" Tanya Namjoon, Seokjin mengalihkan pandangannya dan mengangguk singkat.
"Kukira kau sudah tertidur, aku─tidak ingin mengganggu makanya aku─"
Belum Seokjin menyelesaikan kalimatnya yang terdengar seperti sebuah alasan, Namjoon membuka pintu kamar dan terlebih dulu masuk, menyimpan tasnya di atas meja belajar.
"Aku baru saja kembali dari ruang komputer, ada yang kukerjakan disana karena laptopku mati. Lagipula, aku sudah berada di belakang hyung sejak di lantai dasar."
Seokjin hanya terdiam, canggung di depan Namjoon. Bocah di depannya duduk di atas kasur, menatap Seokjin. "Hyung, kau terlalu banyak berpikir. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan sangat penting hingga membuat kau kehilangan konsentrasi pada sekitarmu, tapi, itu hal yang buruk."
Namjoon memainkan jarinya, "Menurut pendapatku, murid teladan juga boleh sekali-kali beristirahat. Tidak belajar sekali dua kali dalam sebulan tidak akan membuat beasiswamu langsung di cabut."
Seokjin menatap kedua mata Namjoon yang kini menyipit karena tersenyum, lesung pipi bocah itu kembali mengingatkannya pada hari bersalju tujuh tahun lalu. Perasaan hangat itu menjalar sama seperti saat itu.
"Kau tahu aku murid beasiswa disini?"
Namjoon mengangguk, "Hampir 80% siswa disini masuk dengan beasiswa, bukan hanya karena mereka dari keluarga tidak mampu tapi kebanyakan masuk karena beasiswa prestasi, contohnya sepertiku dan juga hyung sendiri."
Seokjin terdiam, mencerna perkataan Namjoon berusaha untuk tidak fokus pada visual bocah itu.
"K-kau masuk melalu jalur beasiswa?!" Seokjin setengah berteriak begitu menyadari apa yang di katakana Namjoon.
"Aku berada di naungan yang sama dengan Kidoh dan Loey Hyung,"
Kidoh…..Nama Hyosang ketika dia menciptakan lagu dan Loey, Chanyeol. Seokjin menghela napas, si sialan itu tidak mengatakan apa-apa padanya mengenai hal ini. Kalau begitu berarti, Kim Namjoon masuk melalui beasiswa musik.
"Dibanding itu hyung, pertimbangkan lagi ucapanku tadi. Sebaiknya hyung beristirahat dari pelajaran untuk sementara, itu bagus untuk otakmu." Namjoon mengakhiri ucapannya, meninggalkan Seokjin yang masih terdiam di tempat.
Apa yang Namjoon katakan tidak ada yang salah, dia memang perlu sesekali beristirahat. Dia terlalu memforsir otaknya untuk terus mengingat apa saja yang sudah di pelajari seharian, dia sudah beberapa kali mengalami mimisan dan dehidrasi saat keasikan belajar entah di rumah atau di asrama. Maka dari itu, orangtuanya sangat khawatir padanya.
Mungkin benar, dia terlalu kaku.
"Oh hyung," Kepala Namjoon menyembul keluar dari pintu kamar mandi, "Aku dengar Hyung pintar matematika dan fisika?"
Seokjin mengangguk kecil,
"Bisa ajari aku? Kemarin aku gagal di ujian keduanya dan di minta mengulang minggu depan." Cengiran lebar Namjoon membuat Seokjin terdiam. Entah dia harus merasa bahagia atau kesal. Anak itu tahu dia masuk melalui jalur beasiswa pasti karena mencari tahu seseorang yang bisa membantunya belajar di kedua mata pelajaran itu.
"Sialan."
"Hei anak baru,"
Hyosang masuk kedalam studio musik yang terletak di bangunan barat sekolah, bangunan bertingkat dua dengan delapan ruangan itu khusus untuk anak-anak yang berfokus di bidangnya. Sekolah menyediakan banyak peralatan pendukung untuk anak-anak berbakat itu menciptakan lagu dan merekamnya, biasanya anak-anak kelas 1 akan memakai ruangan tersebut pada siang hari dan sore serta malam hari ruangan tersebut di buka untuk para murid kelas 2 dan kelas 3. Namun, untuk Hyosang, Jiho, Hyuk dan Chanyeol mereka memiliki ruangan tersendiri yang kuncinya boleh mereka bawa karena keempatnya sudah menjalin kontrak dengan perusahaan-perusahaan besar.
"Oh, Kidoh hyung!" Namjoon tersenyum lebar, menyambut Hyosang yang melesak masuk tanpa permisi.
"Kau melihat Dean?"
Namjoon menatap Hyosang bingung, bocah itu belum terlalu kenal nama-nama alias para komposer tersebut.
"Kwon Hyuk, kau melihatnya?" Kemudian Hyosang kembali bertanya,
"Ah- dia sedang pergi ke perusahaan musik bersama Zico Hyung,"
Hyosang mengangguk-angguk, kemudian menarik kursi di sebelah Namjoon, dan memainkan ponselnya. Namjoon sedikit canggung, namun pada akhirnya dia melanjutkan apa yang tengah dia kerjakan sebelumnya. Hyosang mendengarkan pilihan-pilihan nada yang bocah itu mainkan, sesekali bocah di depannya itu bergumam, menulis sesuatu di atas kertas dan mencoret tulisan di kertas sebelumnya.
"Kau membuat lagu?" Pertanyaan Hyosang menginterupsi Namjoon.
"Ya, Jae-ssaem memintaku membuat dua lagu baru untuk di nilai akhir bulan ini."
Hyosang menatap Namjoon, "Kau baru saja beberapa minggu berada disini 'kan?"
Namjoon mengangguk, merasa ada sesuatu yang salah. Apakah membuat lagu baru untuk penilaian artinya sangat buruk? Dia akan di keluarkan jika hasilnya tidak sesuai?
"A-apa sesuatu yang buruk akan terjadi hyung?" Dia bertanya ragu pada Hyosang yang dengan cepat menggeleng, menepuk bahu Namjoon yang kini memucat karena takut.
Hanya anak-anak kelas 1 semester akhir yang di minta membuat lagu baru untuk di setor pada perusahaan musik. Biasanya untuk siswa akselerasi ada pengecualian meskipun mereka masuk melalui jalur beasiswa di bidang ini, mereka masih harus mempertahankan nilai pelajaran lainnya dan sekolah membebani hal-hal seperti mmebuat lagu baru ketika para murid akselerasi memasuki kelas 3 untuk persiapan kuliah dan bekerja. Fakta bahwa Jae-ssaem yang langsung meminta Namjoon untuk membuatnya, itu berarti bakat bocah di depannya ini tidak bisa di remehkan begitu saja. Seokjin tidak terlalu buruk untuk memilih seseorang yang dia sukai.
"Kau, kenal Kim Seokjin?"
Namjoon memalingkan wajahnya ke arah Hyosang ketika tiba-tiba kakak kelasnya itu bertanya mengenai teman sekamarnya.
"Dia teman sekamarku,"
"Kau akrab dengannya? Kudengar kau menjemputnya di perpustakaan ketika aku tidak ada?"
Namjoon mengerenyitkan dahinya, tidak mengerti apa yang salah dengan itu tapi dia mengangguk kaku untuk mengiyakan.
"Jangan terlalu baik pada seseorang, mereka akan salah paham."
"Tapi Jin hyung teman sekamarku, dia temanku- kami berteman." Jawab Namjoon.
Hyosang menatap Namjoon, kemudian berdiri, berjalan mendekati Namjoon yang masih terduduk di kursinya.
"Ini sekolah khusus laki-laki, disini tidak ada perempuan, isinya hanya para anak laki-laki yang hormonnya sedang berada di puncak. Jika terlalu dekat dengan seseorang, kau akan di curigai memiliki─"
"Kidoh!"
Belum menyelesaikan kalimatnya, panggilan Chanyeol membuat ucapan Hyosang terhenti. Dia menatap Hyosang yang juga sedang menatapnya terkejut. "Keluar! Hyunsik memanggilmu."
Hyosang terdiam, kemudian tersenyum kecil, berjalan mendekati Chanyeol yang masih memegang gagang pintu. Hyosang menepuk bahu Chanyeol, "Aku hanya tidak ingin teman kecilku terlibat hal yang sama seperti kau─ dan Baekhyun."
Chanyeol mengeratkan pegangannya di gagang pintu dan menelan ludahnya kasar, berusaha menahan amarahnya pada Hyosang. Dia menatap Namjoon yang masih terbengong di tempatnya tidak mengerti.
"Jangan dengarkan apa yang dia katakan, maaf sudah mengganggumu, RM."
Pintu studio di tutup, Namjoon masih terdiam mengingat apa yang di katakan Hyosang.
Kim Seokjin menghela napas untuk kesekian kalinya, merogoh saku celana untuk mengambil ponsel dia lakukan berkali-kali juga hanya sekedar mengecek apakah ada pesan baru dari orang yang sedang di tunggunya. Tak ada. Masih sama seperti lima belas menit lalu. Membenarkan topi dan kacamata bulat yang dia kenakan, Seokjin merasa benar-benar jengah karena tatapan orang-orang, beberapa sampai berhenti dan bertanya apakah dia seorang idol atau aktor. Bukan. Dia hanyalah seorang anak SMA yang sedang menunggu teman sekamarnya datang di depan sebuah café tempat janji temu mereka. Semalam Namjoon menagih janji Seokjin untuk mengajarinya matematika dan fisika, Seokjin mengiyakan permintaan tersebut dan meminta Namjoon untuk pergi ke perpustakaan sekolah. Sayangnya, bocah itu harus pergi ke perusahaan musik dan lebih memilih untuk bertemu Seokjin di luar lingkungan asrama sekolah.
Lagi-lagi beberapa anak perempuan berbisik di depannya, Seokjin menatap dengan penuh keheranan, melirik penampilannya di jendela café dia merasa tidak ada yang salah, ini baju yang sering dia pakai. Kaos merah muda tangan pendek yang bagian depannya dia masukkan ke celana agar ikat pinggangnya terlihat, celana jeans hitam robek di bagian paha dan lutut, topi pink, kacamata bulat, tas hitam, sepatu hitam, jam tangan hitam dan beberapa aksesoris. Ini yang selalu dia pakai untuk keluar.
"Hyung!"
Ketika dia sedang mengamati penampilannya sendiri, suara Namjoon terdengar dari kejauhan, tangan bocah itu melambai-lambai dengan wajah sumringah mendekat ke arah Seokjin.
"Woah, penampilanmu─" Namjoon menatap takjub Seokjin dari atas sampai bawah, matanya membulat.
"K-kenapa? Apakah aku memakai sesuatu yang aneh? Sedari tadi orang-orang memperhatikanku.." Seokjin jadi merasa penampilannya hari ini buruk sekali setelah melihat reaksi Namjoon.
"Tidak, bukan begitu.. kau─ kau benar-benar sangat tampan, kau terlihat berbeda sekali.."
Tiba-tiba Seokjin bisa merasakan pipinya memanas, tanpa sadar kupingnya memerah, jantungnya berdetak lebih cepat karena ucapan Namjoon. Itu pujian. Kim Namjoon sedang memujinya.
"Hyung? Kau kepanasan? Wajahmu memerah," Namjoon mendekatkan wajahnya pada Seokjin yang dengan reflek mundur menjauh karena terkejut.
"A-aku menunggumu 20 menit disini, wa-wajar saja jika aku kepanasan!" Ceracau Jin.
Namjoon mengangguk-angguk, memajukan dagunya dan membuka pintu café tanpa mengomentari omongan Seokjin. Seokjin mengekor bocah di depannya yang berjalan lebih dulu, hari ini Namjoon juga terlihat berbeda dari biasanya, dia memakai celana pendek hitam selutut dengan sleeveless hitam, headband hitam, kacamata dan sepatu hitam. Dia terlihat seperti anak-anak muda Amerika di bandingkan anak-anak muda Korea.
"Kau pergi ke perusahaan musik dengan penampilan seperti ini?" Seokjin bertanya ketika Namjoon sudah berhenti di meja yang di tujukan oleh pelayan.
"Ya, memang kenapa?"
"─Tidak, hanya, Hyosang selalu memakai baju sangat rapi untuk pergi kesana.."
Namjoon tertawa, meletakan tasnya di salah satu kursi dan duduk di depan Seokjin, "Aku tidak bertemu orang-orang dari level Kidoh hyung, aku hanya bertemu beberapa orang yang menurut Jae-ssaem tidak terlalu berpengaruh. Jadi, aku memakai pakaian seadanya, lagipula udaranya sangat panas sekali."
Seokjin mengangguk, ini musim panas, hawa apa yang kau harapkan?
Setelah memesan minuman keduanya mulai membahas beberapa persoalan dari buku-buku yang di bawa Seokjin. Mengajari Namjoon tidaklah susah, bocah ini cepat tanggap dan bisa membuat 'jalan' sendiri untuk mengerjakan soal-soal tersebut. Namun, Namjoon adalah tipe ceroboh yang berpikir 'jalan' yang dia gunakan akan cocok dengan soal manapun hingga akhirnya jawabannya tidak dia temukan dan mengambil metode lain yang jauh lebih sulit.
Keduanya sangat asik mengerjakan soal-soal, Seokjin ikut bertanya mengenai soal Bahasa Inggris yang tidak di kuasainya pada Namjoon. Tanpa terasa satu jam sudah mereka berada disana, dua gelas minuman dingin dan tiga piring kue sudah mereka habiskan bersama.
"Ah! Yang ini benar-benar susah! Aku minta istirahat!" Keluh Namjoon kemudian, Seokjin yang sedang asik mengisi buku-buku soal berhenti dan melirik ke arah buku soal di depan bocah itu.
"Itu sama dengan soal nomor empat puluh,"
"─Hyung, aku sudah mengerjakan 125 soal.." Namjoon menatap kesal Seokjin yang kemudian mengangguk-angguk, memperbolehkan bocah itu beristirahat. Bocah itu mengambil gelas plastik di sampingnya dan menyedot habis latte di dalamnya.
"Hyung, did you play soccer?"
Seokjin menggeleng, "Aku tidak main permainan yang membuatku lelah,"
Namjoon tertawa dan mengangguk, "Aku juga, aku tidak terlalu suka PE. Tapi jika di haruskan memilih antara PE atau matematika dan fisika, aku lebih memilih PE."
Seokjin tersenyum kecil.
"Hyung, sepertinya kau sangat dekat dengan Kidoh hyung.."
"Kami teman kecil,"
"Ah- pantas saja.."
Seokjin mengalihkan tatapannya dari buku pada Namjoon, "Kenapa?"
"Beberapa hari lalu, dia mampir ke studio ketika aku sedang berada disana. Kemudian dia bertanya apa aku pernah menjemput Jin hyung ketika dia tidak ada di asrama dan memintaku untuk tidak dekat-dekat denganmu.."
Seokjin mengerenyitkan dahinya, "Kenapa?"
Namjoon memotong kue terakhir di depannya, kemudian memakannya sebelum menjawab pertanyaan Seokjin. "Dia bilang sesuatu seperti─orang-orang akan mencurigaiku?"
DEG. Hati Seokjin menjadi tidak karuan mendengarnya, apa maksudnya Hyosang berkata seperti itu?
"Tapi Kidoh hyung tidak melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba Loey hyung datang dan memintanya keluar untuk bertemu Hyunsik hyung, keduanya saling berbisik dan kemudian Loey hyung meminta aku tidak memikirkan ucapan Kidoh hyung.."
Seokjin menghindari tatapan Namjoon, dia membolak balik bukunya berusaha untuk tidak menanggapi ucapan Namjoon. Si sialan Hyosang. Namjoon bertanya pada Seokjin apa dia mengerti apa maksud Hyosang, tapi Seokjin mengelak untuk menjawabnya, dia hanya berkata pada Namjoon untuk tidak terlalu dekat-dekat dengan Hyosang, dia tidak banyak memiliki teman jadi ketika bertemu dengan orang baru kata-katanya kadang terdengar seram.
Seokjin mengalihkan pikiran Namjoon ke hal lain dengan bertanya bagaimana dan apa yang dia lakukan selama di perusahaan musik. Dia benar-benar tidak habis pikir untuk apa Hyosang mengatakan hal-hal itu, walaupun nantinya juga Namjoon akan tahu ada sesuatu di sekolah mereka. Sekolah yang isinya hanya para laki-laki dengan pengamanan luar biasa hingga tidak ada yang bisa kau ajak masuk diam-diam terutama di bagian asrama, jam malam yang ketat juga membuat para murid malas untuk sekedar keluar bersenang-senang, adrenalin dan hormon mereka perlu disalurkan ke hal lain selain belajar. Dan─ yang mereka punya hanyalah teman sesama laki-laki.
"Ini sudah jam 5 sore, ayo pulang hyung, gerbang akan di tutup jam 7 'kan? Lebih dari itu kita pasti kena hukuman dari kepala asrama." Namjoon berkata setelah mereka melanjutkan belajar bersama selama satu setengah jam.
Keduanya sibuk memasukkan buku masing-masing ke dalam tas dan berjalan beriringan keluar café.
"AH! Angin malamnya sejuk!" Namjoon meregangkan tubuhnya setelah keluar dari café, Seokjin hanya menatapnya, berjalan di samping Namjoon menuju halte bus. Dia jadi teringat masa-masa ketika dia pertama kali bertemu Kim Namjoon kecil, mereka berjalan dari gang menuju kantor polisi bersama-sama, sejujurnya Namjoon kecil yang dia temui itu tidak tahu dimana arah kantor polisi tapi dengan berani dia bertanya pada orang-orang dan berkata bahwa dia tersesat, hal yang tidak bisa Seokjin lakukan jika sendirian. Dia terlalu pemalu.
"Hyung! Hyung! Cepat! Cepat! Itu bis kita!" Teriakan Namjoon mengejutkan Seokjin, bocah itu berteriak sambil berlari dan melambai-lambaikan tangannya, Seokjin terdiam, mencerna apa yang terjadi hingga akhirnya Namjoon berbalik dan menarik tangannya, "Ayo lari hyung! Kita akan ketinggalan bis!" Pekik Namjoon, jadi, Seokjin ikut berlari, menggenggam tangan Namjoon dengan erat. Mereka berlari mengejar bus, bus yang Seokjin yakini akan datang lima menit lagi setelah kepergiannya karena sekolah mereka berada di tengah kota, bis manapun tidak masalah untuk di naiki. Tapi, dia tidak berkata apapun dan hanya mengikuti Namjoon berlari, hingga akhirnya bus itu berhenti dan memperbolehkan keduanya untuk naik.
Dengan nafas yang terengah-engah Namjoon berkata di dalam bus, "A-aku kira kita akan ketinggalan bus, kita bisa kena hukuman!" Kemudian berpegangan pada tiang karena bus yang mereka naiki penuh.
Seokjin mengatur nafas, peluhnya menetes, di balik kacamata bulatnya dia menatap Namjoon yang berkeringat di sebelahnya. Wajah Seokjin memerah, mungkin karena cuaca yang sangat panas, mungkin karena keringat yang dia keluarkan terlalu banyak, mungkin karena, jari jemari Namjoon masih dengan erat saling bertautan dengan jari jemarinya. Untuk hari ini, Seokjin benar-benar menyukai PE. Dia tidak pernah tahu jika sesuatu yang membuatnya lelah bisa juga membuatnya bahagia setengah mati.
