- Four

"Kita benar-benar beruntung 'kan hyung? Meskipun bus yang kita naiki sangat penuh tapi aku lega kita bisa sampai sebelum jam 7 malam." Namjoon masih saja terus berbicara sepanjang perjalanan menuju asrama, Seokjin masih terdiam dengan peluh yang sedikit menetes di sekitar dahinya. Dia tidak tahu kalau musim panas bisa sepanas ini. Dia bisa melihat punggung Namjoon yang tidak selebar miliknya tapi terlihat bisa di andalkan, punggung yang terlihat familiar untuk Seokjin. "Hyung─" Panggilan Namjoon mengejutkan Seokjin, matanya mengerjap beberapa kali ketika menyadari wajah Namjoon hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya sendiri.

"Kau tidak mendengarkanku.." Namjoon berkata, membuat Seokjin mundur beberapa langkah sebelum terhenti karena menyadari jari jemarinya masih berada di genggaman Namjoon.

"Ah─Namjoon, bisa k-kau lepaskan tanganku?"

Namjoon terkejut ketika menyadari bahwa sedari tadi dia masih menggenggam tangan Seokjin, dengan canggung dia melepaskannya. "M-maaf hyung, aku─tidak sengaja."

Seokjin mengangguk kaku, berusaha untuk tidak terlihat canggung ataupun tidak nyaman di depan Namjoon yang kini wajahnya memerah. Mereka berdua melanjutkan berjalan menuju asrama dalam diam, Namjoon berjalan lebih dulu di depan dan Seokjin berjalan perlahan agar tidak menyusul atau menjadi sejajar dengannya. Menyebalkan. Seharusnya, Seokjin tidak perlu meminta Namjoon untuk melepaskan pegangannya, biarkan bocah itu saja yang melepaskannya sendiri.

"S-seokjin hyung, aku minta maaf. Itu kebiasaanku─" Namjoon berkata, tanpa berhenti atau menoleh ke arah Seokjin.

"Tidak apa-apa, aku hanya terkejut." Seokjin tertawa di sela kalimatnya, tertawa canggung. Apa-apaan. Dia melihat belakang kepala Namjoon yang mengangguk-angguk, debaran di dadanya terasa sangat kencang, dan tangannya menjadi basah. Sial. Dia tidak bisa mengontrol perasaannya.

"Seokjin?" Sebuah suara kemudian menginterupsi perjalanan mereka, Seokjin dan Namjoon menoleh bersamaan dan mendapati Baekhyun berada di belakang mereka, baru saja keluar dari pintu rahasia asrama yang berjarak sangat dekat dengan gerbang.

"Baekhyun? Kau mau kemana?"

Alih-alih menjawab pertanyaan Seokjin, Baekhyun melirik ke arah Namjoon. "Apa yang kau lakukan dengannya malam-malam begini?" Tanya Baekhyun, menutup pintu rahasia yang tertutup dengan dedaunan.

"Ah─ aku belajar bersama diluar dengannya hari ini, kami pulang terburu-buru karena takut pintu gerbang sudah di tutup." Jelas Seokjin, menghampiri Baekhyun yang meliriknya. "Kau bisa memakai pintu ini, kau bukan anak baru yang tidak tahu mengenai hal itu.."

Seokjin menghela napas. Bagaimana dia bisa ingat mengenai pintu rahasia ini jika sepanjang hari otaknya sibuk memikirkan Namjoon yang berada di depannya.

"Kalau begitu, Namjoon, bisa aku pinjam teman sekamarmu?"

"Eh?" Namjoon dan Seokjin berkata bersamaan.

"Jin, temani aku, ada yang ingin aku bicarakan."

Belum saja Namjoon mengiyakan, Baekhyun sudah menyeret pergi Seokjin dari hadapannya. Namjoon menatap keduanya yang pergi menjauh, dia hanya menatap tanpa berkata apa-apa, menghela napasnya, dia kemudian berjalan pergi menuju gerbang asrama.

Seokjin menatap Baekhyun yang masih saja membolak balik buku pelajaran di depannya, terlebih mereka sedang berada di café. Berduaan. "Heh, apa-apaan ini? Kalau mau belajar kenapa tidak kau ajak aku ke perpustakaan?" Keluh Seokjin.

"Perpustakaan terlalu tenang."

Seokjin melemparkan tatapan tidak percaya pada Baekhyun yang masih menunduk, membuka halaman perhalaman, Seokjin bisa bertaruh anak itu sama sekali tidak membaca isi bukunya. Sesuatu sedang mengganggu pikirannya, tapi dia tidak tahu harus darimana memulai pembicaraan. Bukan hal yang baru untuk Seokjin melihat gelagat seperti ini dari Byun Baekhyun, dia sudah akrab dengan anak itu semenjak masuk sekolah. Anak yang ceria dan mudah tertawa itu bisa dengan mudah membuat Seokjin terbuka kepadanya, mengenai apapun, sampai-sampai rahasia terbesarnya.

Baekhyun murid yang pintar dalam pelajaran dan pandai bergaul di sekolah, semua siswa maupun guru menyukainya. Humornya bagus dan dia menyenangkan, meskipun terkadang terlalu berisik, tapi jika tanpanya kelas bisa benar-benar sepi. Seokjin mengingat bagaimana pertama kali Baekhyun tahu mengenai rahasianya, Baekhyun tidak ingin berbicara dengannya selama tiga hari dan Seokjin sudah mengantisipasi hal itu.

Kemudian, suatu hari anak itu datang padanya sambil menangis, berkata bahwa tidak dengan sengaja menjauhi Seokjin. Dia hanya tidak ingin menyakiti Seokjin dengan bersikap yang akan menyinggungnya suatu hari nanti, "Mulutku terlalu serampangan ketika bercanda, aku takut kau terluka dengan ucapanku."

Seokjin tersenyum mengingatnya.

"Ini mengenai Chanyeol 'kan?"

Baekhyun mengangkat kepalanya seketika, mata bulatnya menatap Seokjin lekat-lekat. "Bagaimana kau tahu?!"

Seokjin menghela napas. "Kau pernah bertingkah seperti ini, ketika─ kau tahu? Kejadian itu.."

Baekhyun menampilkan wajah depresinya pada Seokjin.

"Jin-ah, Hyosang menyinggung hal itu lagi beberapa hari lalu di depan Namjoon."

Namjoon?

"Chanyeol mengirimkanku pesan dan berkata bahwa Hyosang kembali mengungkit hal itu di depan anak baru dan dia sudah sangat muak. Aku─ tidak tahu apa yang harus aku lakukan." Baekhyun menenggelamkan wajahnya pada buku dengan beberapa kali helaan napas panjang.

Seokjin terdiam, tadi siang Namjoon juga membahas hal ini. Dia tahu bagaimana Hyosang, oranglain tidak akan terbiasa mengimbangi sifat anak itu dan Seokjin tahu, cepat atau lambat mungkin Hyosang dan Chanyeol atau Hyosang dengan murid lain akan terlibat perkelahian dengan sifat buruknya itu. Seokjin melirik ke arah Baekhyun yang masih tidak bergerak, dia mengetuk meja dengan ujung jarinya mencoba menarik perhatian Baekhyun.

"Hei dengar," Ucapnya, "Aku tahu bagaimana Hyosang, dia memang menyebalkan dan aku yakin Chanyeol sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak berkelahi dengannya. Aku meminta maaf sebagai teman kecilnya, tapi Baek─ sebenarnya, tidak ada yang bisa kau lakukan. Kau tidak ada hubungannya dengan Chanyeol. Sama sekali."

Baekhyun mengangkat wajahnya, menampilkan wajah bingungnya.

"Aku tahu, aku tahu. Kejadian itu memang dilakukan oleh kalian berdua, dan kau, hm, bagaimana aku mengatakannya─ merasa menjadi diriku karena hal itu? Tapi ─ apa yang salah dengan itu?"

Baekhyun memperbaiki duduknya dan menatap Seokjin, sebelumnya dia kembali menghela napas panjang. "Dia menyukai perempuan, Jin. Kau tahu itu, dia tidak gay─ seperti kita."

Seokjin menatap Baekhyun, "Dia mempunyai pacar, meskipun berbeda kota tapi Chanyeol sering menemuinya. Aku tahu, saat dia menciumku, dia tidak sadar ─ kita semua di bawah pengaruh alkohol hari itu, tapi aku tidak bisa berbohong kalau aku menyukai ciumannya. Aku benar-benar menyukainya sejak masuk sekolah."

Seokjin menepuk bahu Baekhyun yang kini menunduk, dia tahu beberapa saat lagi anak itu akan menangis. Percakapan seperti ini bukan kali pertama untuk mereka, Baekhyun yang baru saja menyadari apa yang salah pada dirinya selama ini selalu saja merasa terbebani dengan kehadiran Chanyeol. Anak itu terlalu menyukai Chanyeol sampai-sampai dia tidak tahu harus berbuat apa, Seokjin tahu rasanya karena ketika akhirnya dia dan Namjoon bertemu, kata-kata yang selama ini ingin dia katakan tidak bisa dengan mudah dia ungkapkan begitu saja.

"Jangan menangis, ini bukan di perpustakaan. Cengeng." Ucap Seokin pada Baekhyun yang masih menunduk.

"Aku ingin Hyosang berhenti mengungkit hal itu, itu tidak lucu sama sekali bahkan untuk bahan bercandaan. Kau tahu bagaimana Chanyeol marah padaku ketika Hyosang menunjukkan video itu untuk pertama kali padanya 'kan? Dia bahkan sempat tidak ingin menatapku dan bilang bahwa aku menjijikan sebelum akhirnya kau menjelaskan padanya kalau aku juga berada di bawah pengaruh alcohol dan tidak ingat apa yang terjadi." Seokjin terdiam. "Aku sudah cukup seperti ini, menyukainya diam-diam. Gay terlalu tabu untuk orang banyak, menjadi gay bukanlah hal yang bagus di mata masyarakat. Kita menjijikan."

Seokjin menyesap Es Americano di depannya, menghabiskannya sebelum menimpali ucapan Baekhyun.

"Aku tidak merasa bahwa aku menjijikan, jatuh cinta, itu emosi yang terjadi pada setiap umat manusia, dan itu normal. Sayangnya, ketika dilahirkan kita tidak bisa memilih gender, jika bisa, aku ingin memilih sesuai dengan hukum yang ada. Menjadi laki-laki yang menyukai perempuan atau sebaliknya. Kau tidak menjijikan, kita tidak menjijikan. Itu hanya karena pandangan setiap manusia berbeda-beda."

Baekhyun terdiam, Seokjin mengetuk dahi pemuda itu.

"Ayo kembali ke asrama, jam malam dimulai satu jam lagi, kita bisa kena hukuman jika ketahuan."


Seokjin mampir ke kamar Hyosang sebelum kembali ke kamarnya, namun dia tidak menemukan pemuda itu dimanapun. Dia pergi ke ruang musik dan tetap tidak menemukannya. Dimanapun. Mungkin Hyosang sedang pergi ke perusahaan musik, maka dari itu dia kembali ke kamarnya dan tidak ada siapa-siapa. Namjoon tidak ada di kamar mereka. Dia menghela napas.

Syukurlah, kejadian barusan masih membuatnya agak canggung pada bocah itu. Genggaman tangannya membuat Seokjin jadi salah tingkah, dia benar-benar seperti anak gadis yang sedang jatuh cinta. Menggelikan. Bagaimana bisa sikapnya jadi seperti itu. Lucu sekali. Tapi, tidak bisa berbohong, Seokjin setengah mati dengan genggaman itu, genggaman yang terjadi selama satu jam lebih itu tidak bisa hilang dari pikirannya.

"Sepertinya aku tidak ingin mandi, aku tidak ingin mencuci tanganku." Dia berbisik kemudian dan beberapa saat kemudian menertawai kebodohannya sendiri.

Suara ponsel mengalihkan perhatiannya, sebuah pesan dari Hyosang.

Hyochaaang~ :

Sayang~~~~~

Me :

Menjijikan

Hyochaaang~ :

[emot tertawa]

Kudengar kau mencariku? Penting?

Me :

50:50

Hyochaaang~ :

Ini pasti tentang orang lain.

Siapa?

Anak baru?

Me :

Bukan, kau dimana?

Hyochaaang~ :

Depan kamarmu, cepat buka, aku ingin buang air kecil!

Seokjin terdiam setelah membaca pesan terakhir Hyosang, memutar bola matanya dia tidak habis pikir kenapa anak itu tidak langsung masuk atau mengetuk pintu sedari tadi? Dia berjalan dan membuka pintu, Hyosang tersenyum lebar di depannya dan terburu-buru masuk melewatinya menuju kamar mandi.

"Ada apa? Kau sampai mencariku ke ruang musik, kupikir itu hal yang penting." Hyosang berkata setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi, dia berjalan dan duduk di kasur Namjoon. "Wah, anak ini lumayan rapi juga, pantas kau tidak mengoceh di grup kelas." Hyosang melirik Seokjin yang baru saja mengganti bajunya dengan kaos kebesaran.

"Kau baru pulang?"

Seokjin mengalihkan pandangannya ke arah Hyosang dan mengangguk.

"Dari mana?"

"Apa pedulimu?"

Hyosang mengangkat kedua bahunya. "Tidak ada sih, hanya saja aneh sekali melihatmu pergi ke suatu tempat di hari libur."

Seokjin duduk di depan Hyosang, menyimpan handuknya di atas kasur. "Hari ini aku bertemu dengan Baekhyun.." Dan Hyosang tahu akan kemana arah pembicaraan ini melihat bagaimana seriusnya wajah Seokjin, jadi sebelum sahabatnya itu melanjutkan dia sudah menyelanya terlebih dahulu, "Dengar, aku tidak memberitahu si anak baru tentang apa yang terjadi dan siapa yang melakukannya."

Seokjin menatap Hyosang, "Chanyeol mengancam Baekhyun lagi?" Hyosang sedikit meninggikan nada suaranya.

"Hyosang, dengar. Bisakah kau berhenti melakukan hal itu?! Ada apa denganmu!? Kau pikir itu lucu?!" Seokjin membentak Hyosang.

"Tidak─ tidak lucu sama sekali. Seokjin, bagaimana bisa aku menjadikan hal itu sebagai bahan bercanda kalau sahabatku sendiri adalah seorang Gay?" Keduanya saling bertatapan, rahang Seokjin mengeras, dia sedang menahan amarahnya begitupun dengan Hyosang. "Seokjin─ aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuat Baekhyun tertekan dengan hal itu, kau juga tahu di sekolah ini berapa banyak murid yang menjalin hubungan. Aku hanya tidak ingin Baekhyun semakin menyukai Chanyeol, itu tidak baik untuknya. Chanyeol sudah memiliki pacar, tidak─ mereka bahkan sudah bertunangan karena orangtua. Tidak ada celah untuk Baekhyun masuk kesana."

Seokjin menelan ludahnya, "Lalu, kenapa kau masih terus mengungkit hal itu?"

"Aku ingin Chanyeol menyadari perasaannya sendiri."

Seokjin terdiam.

"Aku bersama Chanyeol setiap hari, meskipun aku tidak mengenal latar belakang keluarganya tapi aku tahu bagaimana sifatnya. Aku tahu kebiasaannya, kami bersama 24 jam selama seminggu penuh disini. Aku tahu dia memiliki perasaan yang sama pada Baekhyun."

Seokjin menutup wajahnya dengan kedua tangan, menunduk "Hyosang, itu bukan urusanmu. Apa yang terjadi di sekolah kita, hubungan antar murid, itu tidak ada hubungannya denganmu. Kau tidak berhak ikut campur meskipun itu adalah temanmu sendiri. Kau semakin memperburuk keadaan, kau membuat Chanyeol membenci Baekhyun."

Hyosang mengeratkan kepalannya.

"Aku tidak ikut campur dengan urusanmu, Jin. Aku bahkan tidak repot-repot memberitahu Namjoon kalau kau menyukainya. Aku ─ hanya tidak ingin kalian terluka karena hal ini. Baik kau, Chanyeol, Baekhyun.. Kalian sahabatku." Hyosang menyelesaikan kalimatnya dan bergegas keluar dari kamar Seokjin. Seokjin masih duduk di kasurnya, menunduk, tidak tahu harus berbuat apa. Dia tahu Hyosang hanya khawatir, tapi dia tidak ingin Hyosang di pandang buruk oleh Chanyeol dan Baekhyun mengenai hal ini.

Hyosang tidak mencampuri urusannya, Hyosang juga tidak menjaga rahasianya dan Baekhyun dengan rapi. Hanya saja terkadang anak itu bertindak dengan gegabah hingga membuat dirinya terlihat salah.

"Sial." Seokjin berbisik. Tidak tahu harus berbuat apa. Tidak tahu harus bagaimana jika dia bertemu dengan Hyosang besok.