Kelinci dan Rubah
Kang Daniel x Hwang Minhyun
storyline by : chickenKID & dinodeer
"Kita kan temen? Jadi boleh dong aku nge add line kamu, jadi kita bisa komunikasi lagi nanti" jawab Daniel. Minhyun pun ikut tersenyum, ia merasa senang mendapatkan teman baru.
"Aku bakal ngehubungin kamu lagi nanti ya, dah" lanjut Daniel, kemudian ia melangkah pergi seraya melambaikan tangannya pada Minhyun. Minhyun pun ikut melambaikan tangannya pada Daniel. Setelah ia melihat punggung Daniel yang semakin lama semakin jauh dari pandangannya, barulah ia melangkah masuk rumahnya. Dengan bersenandung ria ia melihat layar ponselnya.
"Teman baru yang lucu" gumam Minhyun seraya tersenyum.
.
Chapter 2. AKU?! KAMU?!
.
.
Keesokan harinya.
Minhyun kini tengah berada kantin sekolahnya. Kedua teman kecilnya kini tengah sibuk bertengkar untuk makan siang apa, namun Minhyun justru tengah mengerucutkan bibirnya tanda ia sedikit kesal. Tangannya tengah menggenggam ponsel yang layarnya tengah menampil chatroom line dengan seseorang yang ia namai kelinci.
"Minhyunnie, kamu mau makan apa?" tanya salah satu temannya. Namun Minhyun sedang sibuk di dunianya sendiri sambil menggerutu pelan lalu menekan-nekan layar ponselnya.
"Minhyunnie?" panggil temannya yang satu lagi.
"Katanya mau line tapi sampe sekarang belum ngeline juga." Gerutunya pelan.
"Minhyunnie!" teriak keduanya dan membuat Minhyun terlonjak kaget.
"H-hah, a-apa?" tanyanya.
Kedua temannya menatapnya sambil memicingkan matanya. "Kenapa sibuk sama hape sih? Daritadi kita nanya mau makan sama apa malah ga denger." Ujar seorang temannya yang memiliki tiga tahi lalat di pipinya.
"Euh.. ngga apa-apa kok." Jawab Minhyun sambil memasukkan ponselnya ke saku seragamnya.
Teman yang ia panggil Ong itu mengangguk kecil namun temannya yang satu lagi masih terlihat curiga pada Minhyun.
"Apa sih Minki ngeliatin mulu?" gerutu Minhyun kesal.
Minki masih menatap Minhyun curiga.
"U-udah ayo kita pesen makan nanti keburu abis coba." Ujar Minhyun mencoba mengalihkan perhatian.
Perhatian Seongwu dan Minki pun teralihkan karena mereka sebenarnya sudah sangat lapar. Akhirnya mereka pun memesan nasi goreng untuk Minhyun dan Seongwu kemudian bakmie untuk Minki. Seongwu dan Minki kini terlibat percakapan serius tentang beberapa gosip namun Minhyun kini kembali sibuk berkutat dengan ponselnya.
Bibirnya mengerucut lagi melihat chatroomnya dengan kelinci masih belum bertambah. Masih hanya berisi satu pesan yang dikirimkan olehnya –walaupun diketik oleh Kang Daniel kemarin.
"Dasar pembohong." Gerutunya kesal.
Minhyun kembali mengetuk-ngetukkan tangannya ke layar ponsel miliknya.
"Kelinci harusnya kan ngga boleh bohong." Gerutunya lagi.
"Adek-adek ini pesenennya, minumnya mau apa?" tanya salah satu pedagang di kantin sekolah mereka.
"Ngga Pak, kita udah bawa air sendiri hehe." Jawab Minki.
Setelah bapak pedagang itu meninggalkan mereka, Minki dan Seongwu sudah bersiap-siap untuk makan namun kegiatan mereka terhenti karena lagi-lagi melihat Minhyun tengah menatap ponselnya sambil mengerucutkan bibirnya, persis seperti beberapa menit yang lalu.
"Main hape terus ih, emang ada apaan di hape kamu sih?" tanya Seongwu.
"Ngga ada apa-apa kok." Timpal Minhyun.
Minki berdecak. "Bohong!" ujarnya sambil merebut ponsel Minhyun dan langsung membukanya. Tentunya ia tahu sandi yang dipakai Minhyun, ia dan Seongwu sering memeriksa isi ponsel Minhyun. Takutnya ada sesuatu yang kurang pantas ada di dalam ponselnya, walaupun mereka berdua yakin Minhyun tidak mungkin memiliki hal yang semacam itu mengingat betapa polosnya teman mereka yang satu ini.
"Kelinci?" tanya Minki heran.
"Hah? Kelinci?" timpal Seongwu sambil ikut menatap ponsel Minhyun.
"Iya kelinci." Jawab Minhyun dengan ceria.
Minki mengerutkan keningnya. "Kelinci itu siapa?" tanyanya.
"Oh, aku sebenernya mau ngomongin ini tapi nanti kalau dia udah chat aku, tapi karena ketauan kalian jadinya aku ceritanya sekarang aja berarti ya..."
Minki dan Seongwu masih menatap Minhyun dengan kening mereka yang mengerut.
"Iya, jadi kemarin tuh aku ketemu sama kelinci ini di kedai kopi gitu-"
"Kamu ke kedai kopi? Ngapain?" tanya Minki heran. Seingatnya temannya yang satu ini tidak menyukai kopi.
"Aku kemarin kalah dari Kak Sujin terus disuruh sama dia beliin kopi buat dia tapi pas baru masuk aku nabrak orang gitu, terus kopi dia tumpah ke kemeja aku. Karena aku salah ya aku minta maaf tapi dianya baik malah jadi bantuin aku ngebersihin noda kopi di kemeja aku, sama nawarin jaket gitu soalnya kan kemeja akunya jadi basah gitu."
"Dia nawarin jaket? Tapi dia orang asing Minhyun!" potong Seongwu.
"Ih ngga kok, kan kita kenalan dulu kemarin jadi dia bukan orang asing." Timpal Minhyun.
Ingin rasanya Minki dan Seongwu memukul kepala temannya yang terlalu polos ini. Kenapa temannya itu mudah percaya pada orang lain? Padahal mereka sudah sering memperingatkan Minhyun tentang bahaya orang asing, tapi sepertinya Minhyun menganggap asal sudah berkenalan berarti mereka bukan orang asing.
"Tapi kalian kan baru kenalan kemarin kenapa kamu percaya sama dia sih?" tanya Minki.
Minhyun tersenyum lebar. "Dia baik! Terus dia kayak kelinci kalau lagi senyum! Orang yang kayak kelinci ga mungkin orang jahat!"
Seongwu dan Minki menghela napasnya. "Kita harus memberikan pelajaran tentang orang asing lagi." ujar mereka pada diri mereka sendiri.
"Oh iya terus akhirnya aku pulang pake jaket dia, dan ternyata rumah dia tuh deket rumah aku gitu, jadinya kita kemarin pulang bareng deh. Nah sebelum dia pulang dia ngeadd line dia di hape aku gitu dan katanya mau jadi temen aku, yaudah jadinya kemarin kita temenan. Tapi sampe sekarang dia belum ngeline lagi padahal kemarin dia sendiri yang bilang mau ngeline aku. Nyebelin kan?"
"Bentar dia emang tinggal di daerah rumah kamu?" tanya Minki.
Minhyun mengangguk kecil. "Eung, kata dia rumahnya deket situ sih kenapa emang?"
"Kenapa percaya sih Minhyun? Kalo misalnya dia bohong gimana coba?" tanya Minki lagi.
"Ngapain dia harus bohong?" tanya Minhyun heran.
Minki mendesah kasar. "Bisa aja dia bohong supaya bisa tau rumah kamu dimana." Jawabnya.
"Hah? Lagian sekarang dia udah jadi temen aku berarti gapapa dong tahu rumah aku." Timpal Minhyun.
Seongwu mendesah lelah. "Kalau dia orang jahat gimana?"
"Kelinci itu ngga mungkin jahat." Timpal Minhyun.
"Gawat banget sih ini, kita tinggalin sehari bentar aja udah cerita punya temen baru dan sekarang ngebelain temen baru yang entah asal usulnya setengah mati." Bisik Seongwu pada Minki.
"Bener anjir, polos banget sih, gampang banget buat diculik emang si Minhyun. Pokoknya kita harus tahu kelinci itu siapa." Balas Minki sambil berbisik pada Seongwu.
Seongwu dan Minki ini memang teman kecil Minhyun. Mereka tahu kalau keluarga Minhyun benar-benar menjaga Minhyun dari hal yang buruk-buruk yang biasa anak SMA lakukan. Merokok, pulang malam, balapan, mabuk, menonton video porno dan kelakuan nakal lainnya. Minhyun yang senang-senang saja dimanja oleh keluarganya membuat Seongwu dan Minki pun ikut menjaga Minhyun sehingga Minhyun benar-benar polos tidak seperti anak SMA kebanyakan.
"Lagian aku yang punya temen baru kok kalian yang ribut sih?" gerutu Minhyun kesal.
"Jelas lah, kamu itu di sekolah aja mainnya sama kita terus, nah sekarang tiba-tiba kamu bilang kamu punya temen baru, pastinya kita harus waspada dong, siapa tahu kan dia jahat." Timpal Minki.
Minhyun mendengus. "Aku juga main sama temen yang lain kok, cuma emang seringnya sama kalian, dan kelincin itu ngga jahat!"
"Coba Ki, lihat foto profilnya si kelinci sama homenya." Ujar Seongwu tanpa mempedulikan Minhyun yang jadi kesal dan malah mulai memakan nasi gorengnya.
"Ga pake foto asli Ong, hmm... dia juga ngga pernah nge post apa-apa. Kita no clue banget ini." Timpal Minki. Minhyun pun langsung merebut ponselnya dari tangan Minki.
"Terus ini jadinya gimana? Dia belum ngechat apa-apa." Ujar Minhyun.
"Yaudah chat aja hai gitu." Ucap Seongwu.
Plak.
"Ih kan kita belum tahu dia itu baik atau engga, malah disuruh di chat lagi, tadi padahal larang-larang, labil banget anjir lo." Ujar Minki sedikit kesal.
Seongwu terkekeh pelan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mereka pun mulai memakan makan siang mereka yang sudah cukup dingin karena mereka sejak tadi sibuk mengobrol.
Tanpa mereka tahu Minhyun sudah mengetikkan 'hai' ke kelinci yang tadi mereka perdebatkan.
_SKIP TIME_
Daniel tersenyum seraya menatap layar ponselnya, ia baru saja membuka pesan masuk di aplikasi LINE dari lelaki yang baru bertemu dengannya kemarin.
"Woy udah belum? Lama bener ngerjainnya" suara lelaki lain menghilangkan senyum yang tadi terpampang di wajah Daniel. Kini ia sedang berada di sekolah bersama teman-teman satu gengnya. Ada Woojin, Wonwoo, Donghyun, Ten, Samuel, dan teman-teman satu gengnya yang lain.
"Lo ini beneran pinter ga sih? Seriusan deh lama banget, gue kayaknya bisa ngerjain lebih cepet" lelaki yang menghilangkan senyum Daniel tadi berbicara lagi, lebih tepatnya berteriak pada lelaki baik hati berkacamata yang kini tengah mengerjakan tugasnya.
"Park Woojin, lo cuman bisanya ngomel doang! Berisik banget tau ga?" ya, lelaki tadi yang berteriak pada lelaki baik hati berkacamata itu Woojin, dan baru saja ia dapat protes dari teman satu gengnya Donghyun. Yang lain tertawa dan menganguk-ngangguk menyetujui perkataan Donghyun.
"Eh gue serius, ni anak lama banget timbang ngerjain tugas kita doang. Gue juga bisa sendiri kalo cuman ngerjain soal ini" jawab Woojin.
PLAK
Satu pukulan telak mengenai kepala Woojin. Itu pukulan dari Daniel yang gemas mendengar perkataan teman satu gengnya itu.
"Sekali lagi lo ngomong, gue jait mulut lo!" ancam Daniel dan Woojin hanya tersenyum memperlihatkan gigi gingsulnya, lalu ia melakukan gerakan seperti mengunci mulutnya rapat-rapat.
Sementara itu lelaki baik hati berkacamata yang sedang mengerjakan tugas geng Daniel gemetar. Ia membenarkan letak kacamatanya,kini ia mulai ketakutan, dan hal tersebut sangat tidak membantu menyelesaikan tugas dengan cepat. Sebab tangannya yang ia pakai untuk menulis ikut bergetar, membuat tulisannya tidak rapi sama sekali.
PLAK
Kini pukulan Daniel beralih pada lelaki baik hati berkacamata tadi.
"Kalo lo gemeteran kayak gitu kapan bakal kelarnya tugas kita-kita?" suara serak Daniel penuh penekanan. Lelaki berkacamata tadi hanya menelan ludah dengan susah payah. Ia kembali membenarkan letak kacamatanya. Kemudian kembali menulis, kali ini lebih cepat karena ia ingin segera kabur dari geng Daniel.
Setelah lelaki itu selesai mengerjakan tugas kepunyaan gengnya Daniel, iapun disuruh mengumpulkannya ke ruang guru. Dengan peluh membasahi keningnya, ia terpaksa harus menuruti perintah Daniel dan kawan-kawannya, walaupun sebenarnya ia lelah. Tapi demi keselamatan nyawanya ia pun pergi dengan setumpuk buku ke ruang guru untuk mengumpulkan tugas Daniel dan kawan-kawannya.
"Masih siang nih, ke basecamp yuk" ajak Woojin kepada kawan-kawannya. Yang lain hanya mengangguk tanda setuju kemudian beranjak dari tempat masing-masing menuju basecamp yang dimaksud oleh Woojin.
Sementara itu di sisi lain, lelaki bermata sipit bak rubah tengah gusar di tempatnya. Ia melihat pesan yang ia kirim di aplikasi LINE kepada Daniel sudah ada tanda 'read'. Namun setelah lama menunggu, pesannya itu sama sekali tidak ada balasannya. Dan mood dia pun memburuk.
"Katanya temen, tapi cuman nge read doang, huh nyebelin!" gumam Minhyun, ia mengerucutkan bibirnya yang sepertinya itu memang hobinya.
"Hah? Jadi kamu udah nge chat dia?" tanya Minki, mungkin ia mendengar gumaman pelan Minhyun.
"Abisnya tadi kalian berisik sih, yaudah aku nurutin saran Ong buat ngechat duluan, ngechat hai doang sih" ujar Minhyun tersenyum sambil menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Minki segera memukul Seongwo, karena saran darinya Minhyun sekarang dalam bahaya pikir Minki. Dan merekapun terlibat dalam perdebatan, Minhyun yang bingung tidak mempedulikan mereka berdua dan hanya kembali menatap sendu layar ponselnya yang tak kunjung ada balasan dari si kelinci teman barunya.
_SKIP TIME_
Bel pulang berbunyi, Minhyun membereskan semua peralatan belajarnya.
"Yuk pulang bareng" ajak Minki, ia mengalungkan lengannya pada leher Minhyun dan tersenyum lebar. Minhyun terdiam sejenak seraya berpikir. Karena ia tak kunjung mendapat balasan dari si kelinci teman barunya itu, ia berniat untuk mencarinya di kedai kopi kemarin. Tapi kalau ia jujur mengatakan hal tersebut pada Minki dan Seongwo, sudah pasti ia tak akan diberikan ijin. Maka dari itu ia harus berpikir alasan apa yang akan diberikannya.
"Hari ini aku dijemput Kak Sujin, soalnya kemaren aku ga jadi beliin dia kopi, hari ini dia minta anter buat beli kopi" jawab Minhyun. Dan Minki langsung melepaskan lengannya dari leher Minhyun.
"Yah padahal tadinya aku mau ngajak kamu buat jalan-jalan sebentar, tapi ga apa-apa deh kalo sama Kak Sujin, aku ga khawatir" ujar Minki. Seongwo hanya mengangguk-ngangguk. Kemudian mereka sama-sama berjalan pulang dan berpisah saat di gerbang sekolah karena Minhyun beralasan untuk menunggu jemputan kakak perempuannya Sujin. Minki dan Seongwo hanya melambaikan tangan pada Minhyun dan dibalas oleh Minhyun. Setelah punggung mereka berdua sudah menghilang dari pandangan mata Minhyun, ia pun segera bergegas berjalan menuju kedai kopi kemarin yang jaraknya memang tidak terlalu jauh dari sekolahannya.
Saat ia sudah sampai dan membuka pintu toko menyebabkan bunyi 'cring' dari pintu itu, Minhyun mengedarkan pandangannya. Dan ia menangkap sesosok tubuh laki-laki bersurai coklat sedang memunggunginya. Namun Minhyun tahu itu Daniel, si kelinci teman barunya itu. Ia berjalan menuju meja di mana Daniel duduk.
Minhyun menepuk pundak Daniel pelan, dan iapun menoleh.
"Kamu kok ga bales line aku sih?" Daniel sedikit terkejut saat ia melihat Minhyun di hadapannya. Kemudian ia tersenyum saat melihat Minhyun sedikit cemberut mengerucutkan bibirnya setelah bertanya tadi. Membuat Daniel gemas ingin menyubit bibirnya, lagi. Daniel selalu memikirkan hal ini jika Minhyun sudah mengerucutkan bibirnya lucu.
"Oh maaf, tadi aku agak sibuk" jawab Daniel masih tersenyum menghadap Minhyun.
"AKU?" suara laki-laki mengintrupsi mereka. Minhyun mengalihkan pandanganya pada lelaki yang baru saja berteriak 'Aku'. Laki-laki yang tengah duduk berhadapan dengan Daniel, laki-laki itu Park Woojin, teman satu geng Kang Daniel.
"SERIUS AKU?" ulang Woojin dengan nada tinggi, ia terlihat terkejut ketika Daniel mengucapkan kata 'aku'.
"Kalian saling kenal?" tanya Minhyun bingung seraya menunjuk mereka berdua.
Daniel menggelengkan kepalanya "Ngga kok, oh iya kamu mau pesen apa?" tanya Daniel.
"Hah? Kamu? Serius gue ga salah denger?" ocehan Woojin sama sekali tidak dihiraukan oleh Daniel ataupun Minhyun.
"Aku ga suka kopi" jawaban singkat Minhyun membuat Daniel sedikit terkejut. Jika Minhyun tak suka kopi, lalu untuk apa dia ke kedai kopi? Begitulah kira-kira yang ada dalam benak Daniel.
"Jadi kamu maunya apa?" tanya Daniel.
"Aku maunya eskrim" jawab Minhyun, membuat Daniel mengangguk mengerti. Kemudian ia beranjak dari duduknya dan segera menggengam tangan Minhyun.
"Yaudah ayo kita beli eskrim sekarang" ajak Daniel, dan iapun menarik tangan Minhyun yang pasrah mengikutinya. Meninggalkan Woojin yang bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
"WOY KANG DANIEL, SERIUS NIH LO NINGGALIN GUE?" teriak Woojin yang malah mendapatkan tatapan dari para pengunjung di sana tanpa ada respon dari orang yang namanya ia teriakan.
"Shit" gumam Woojin, ia hanya bisa menyeruput kopi di hadapannya dengan rasa jengkel karena ditinggalkan oleh Daniel tanpa penjelasan.
.
.
TBC
.
.
Danielnya soft buat Minhyun haha
semoga suka yaaa
sampe ketemu di chap selanjutnya
chickenKID & dinodeer.
