Kelinci dan Rubah

Kang Daniel x Hwang Minhyun

storyline : chickenKID & dinodeer

maaf kalo ada typo ya hehe


"WOY KANG DANIEL, SERIUS NIH LO NINGGALIN GUE?" teriak Woojin yang malah mendapatkan tatapan dari para pengunjung di sana tanpa ada respon dari orang yang namanya ia teriakan.

"Shit" gumam Woojin, ia hanya bisa menyeruput kopi di hadapannya dengan rasa jengkel karena ditinggalkan oleh Daniel tanpa penjelasan.

.

.

Chapter 3. Senyuman itu...

.

.

"Jadi kamu mau pesen yang mana? Aku yang traktir" Daniel menawarkan pada Minhyun dan Minhyun terlihat tengah berpikir. Matanya menggerayang semua menu yang terpampang di sana. Kini mereka berdua tengah berada di kedai eskrim. Karena sesaat setelah Minhyun berkata ia ingin makan eskrim, Daniel langsung membawanya ke kedai eskrim ini.

"Aku pengennya eskrim yang itu" jawab Minhyun seraya menunjuk menu yang memperlihatkan gambar eksrim porsi besar di sana.

"Beneran nih gapapa di traktir kamu?" tanya Minhyun setelahnya. Daniel hanya menjawabnya dengan senyuman.

"Mbak, pesen yang itu yaa satu" ujar Daniel kepada penjual eskrim di sana. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Minhyun.

"Gapapa kok, anggep aja ini permintaan maaf soalnya aku ga bales chat kamu" Daniel tersenyum lagi pada Minhyun yang membuat Minhyun ikut tersenyum.

"Makasih lho yaa, eh kamu ga pesen?" tanya Minhyun. Daniel menggeleng, karena sebenarnya ia tak terlalu suka yang manis-manis. Tapi untuk lelaki manis di hadapannya ini pengecualian (mungkin ia sudah terjebak pada pesonanya Hwang Minhyun sedari awal).

"Ini pesanannya" ujar perempuan tadi yang Daniel sebut dengan sebutan "mbak". Daniel pun membawa pesanan eksrim tersebut yang ternyata porsinya memang sangat besar.

"Mbak boleh minta sendoknya satu lagi ga?" pinta Minhyun, dan perempuan penjual eskrim tersebut hanya mengangguk, lalu memberikan satu sendok lagi pada Minhyun.

"Porsinya gede, jadi kita makan berdua aja ya" ujar Minhyun tersenyum kepada Daniel. Daniel hanya mengangguk, kemudian Minhyun menarik tangan Daniel memilah kursi yang akan mereka tempati. Entah kenapa sedari tadi senyum selalu terpampang di wajah mereka berdua.

Merekapun memakan eskrim yang diinginkan Minhyun. Daniel terkekeh saat melihat Minhyun yang memakan eskrim dengan penuh semangat. Dan kemudian Daniel berinisiatif untuk mengusap lembut sudut bibir Minhyun saat ia melihat ada eskrim yang tertinggal di sana.

Deg deg deg

Itu suara detak jantungnya Daniel. Entah mengapa jantungnya berpacu lebih cepat saat ia melakukannya. Sementara Minhyun hanya tersenyum lembut, kemudian dengan lucunya ia langsung mengusap seluruh permukaan bibirnya oleh punggung tangannya.

"Sori aku kayak anak kecil ya" Minhyun terkekeh. Daniel hanya menjawab dengan tersenyum, setelah tadi ia mengusap sudur bibirnya Minhyun kini tangannya naik ke kepala Minhyun dan mengusapnya lembut.

"Ngga papa kok, kamu gemesin" jawab Daniel. Minhyun hanya ber'hehe' ria, ia kemudian melanjutkan kegiatannya memakan eskrim.

Tanpa mereka sadari, tak jauh dari tempat mereka duduk, seorang pria tengah tercengang setelah melihat adegan mengusap sudut bibir dan adegan mengusap pucuk kepala yang dilakukan Daniel pada Minhyun. Tangannya tengah memegang sebuah ponsel yang ia arahkan ke tempat dimana Daniel dan Minhyun berada. Itu Park Woojin, kawan satu gengnya Daniel. Setelah ia ditinggalkan oleh Daniel dan Minhyun rupanya ia mengikuti mereka berdua. Lalu ia iseng berdiam di tempat yang tak jauh dari Daniel dan Minhyun berada, mengeluarkan ponsel dan merekam video mereka yang tengah memakan eskrim. Namun ia tak menyangka dengan adegan usap mengusap tadi. Mulutnya masih terbuka lebar dengan mata yang melotot hampir keluar dari tempatnya.

'Anjir itu si Kang Daniel ngapain' batinnya. Acara merekam yang dilakukan oleh Woojin terhenti saat tiba-tiba ada bunyi panggilan masuk di ponselnya.

Nama Donghyun tertera di sana.

"Hallo..."

"Iyaa bentar lagi gue kesana..."

"Iya bawel banget anjir lo kayak cewek aja..."

"Siap-siap, oke" setelah panggilan selesai, Woojin memasukan ponselnya pada saku celananya. Kemudian ia kembali menatap kedua sejoli yang masih menikmati eskrimnya.

"Ini sih berita gede, gimana ya kalo anak-anak tau" Woojin menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian melangkah pergi dari tempatnya.

_SKIP TIME_

Daniel dan Minhyun kini tengah berada di game centre. Setelah tadi menghabiskan eskrim jumbo, Daniel mengajak Minhyun ke game centre. Sejujurnya Daniel hanya modus mengajak Minhyun ke game centre agar mereka bisa bersama lebih lama lagi. Namun reaksi Minhyun setelah memasuki game centre sungguh tidak dapat dipercaya, namun bisa menjadi momen yang tak boleh dilupakan oleh Kang Daniel seumur hidupnya.

Lihatlah betapa menggemaskannya seorang Hwang Minhyun saat ia mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya melihat pemandangan yang baru pertama ia lihat. Lihatlah betapa menggemaskannya seorang Hwang Minhyun saat matanya berbinar-binar melihat permainan yang ada di sana. Lihatlah betapa menggemaskannya seorang Hwang Minhyun yang beberapa kali berucap "woaah" dengan takjubnya melihat orang-orang yang tengah memainkan permainan di sana. Daniel tersenyum melihat betapa menggemaskannya seorang Hwang Minhyun. Rasanya ia ingin mencubit pipi Minhyun gemas.

Seorang Hwang Minhyun seumur hidupnya memang tidak pernah ke game centre. Ia tak pernah diajak oleh dua sahabatnya (Ong dan Minki) ke game centre. Kata mereka berdua game centre tempat yang ramai, itu tak baik untuk seseorang yang polos seperti Minhyun. Dan mereka berdua juga menjaga agar sahabatnya itu tidak kecanduan game.

Maka dari itu sekarang ini Minhyun tengah merasa takjub terhadap apa yang ia lihat sekarang. Mihyun merutuk dalam hati kenapa kedua sahabatnya itu tidak pernah mengajaknya bermain ke game centre. Bahkan kedua sahabatnya pernah mengatakan bahwa game centre adalah tempat berbahaya.

Minhyun menoleh pada Daniel yang ternyata tengah memandanginya dengan senyuman terpampang di wajahnya.

'Duh kelinci imut' batin Minhyun dalam hati. Ia sangat berterimakasih pada Daniel yang mau mengajaknya ke game centre ini. Ia jadi tahu ternyata game centre tidak semenyeramkan yang dikatakan oleh dua sahabatnya.

"Jadi kamu mau main permainan yang mana?" tanya Daniel. Minhyun segera mengedarkan pandangannya. Ia tengah memilah dan memilih kira-kira permainan apa yang akan dimainkannya.

"Aku pengen coba permainan yang itu" jawab Minhyun seraya menunjuk game yang tengah dimainkan oleh seorang lelaki. Lelaki itu tengah menembak-nembak ke layar kaca di hadapannya.

"Itu juga" tunjuk Minhyun ke arah permainan yang tengah dimainkan oleh bocah lelaki kira-kira anak SD yang tengah sibuk memukul-mukul kepala tupai yang keluar masuk lubang di hadapannya.

"Aduh aku bingung, banyak banget yang seru" ujar Minhyun seraya mengerucutkan bibirnya imut. Mungkin sekarang pemandangan itu sudah menjadi candu bagi Daniel. Setiap Minhyun mengercutkan bibirnya lucu membuat Daniel tersenyum dan ribuan kupu-kupu menari di perutnya. Sungguh Daniel sangat suka melihat Minhyun yang tengah mengerucutkan bibirnya itu.

'Kapan gue bisa ngemut, eh maksudnya nyubit itu bibir monyongnya sih, gemesin banget' batin Daniel.

"Yaudah, kamu tunggu di sini, aku beli koinnya dulu ya" ujar Daniel, dan Minhyun hanya mengangguk patuh. Ia sebenarnya tak mengerti apa maksud Daniel, tapi ia menurut saja, menunggu Daniel yang tengah mengantri untuk membeli koin.

Setelah membeli koin Daniel langsung mengajak Minhyun bermain berbagai macam permainan. Dari yang disebutkan oleh Minhyun tadi, sampai permainan yang diusulkan oleh Daniel. Terpancar kebahagiaan di wajah Minhyun. Ia benar-benar bahagia saat ini, baru pertama di dalam hidupnya ia merasa sebahagia ini. Dan itu berkat Kang Daniel.

Di saat Minhyun tidak bisa memainkan permainan yang dipilihnya, Daniel akan dengan sabar mengajarkan Minhyun hingga ia bisa memainkannya. Saat mereka memainkan permainan yang harus dilakukan oleh berdua, mereka bekerja sama dengan baik hingga mendapatkan kupon yang banyak. Minhyun sangat bersyukur mendapatkan teman sebaik dan semenyenangkan Daniel.

Setelah mencoba beberapa macam permainan, kini wajah Minhyun tengah serius memainkan permainan di hadapannya. Ia berkonsentrasi penuh untuk mendapatkan satu boneka. Ya, Minhyun kini tengah fokus di depan mesin boneka. Ini sudah percobaan ke tiga kali, dan Minhyun merasa kali ini ia harus berhasil. Tapi ternyata itu hanya harapannya saja, karena ia gagal untuk yang ke tiga kalinya.

"Yaaah, aduh, kenapa sih susah banget" keluh Minhyun. Raut sedih kini terpampang di wajahnya. Daniel tak tega melihat raut sedih di wajah Minhyun.

"Coba aku nyobain" ujar Daniel, dan Minhyun kemudian menggeser tubuhnya mempersilahkan Daniel untuk memainkannya. Daniel memasukan koin, dan mulai berkonsentrasi menjalankan mesin itu.

"Kamu mau boneka yang mana?" tanya Daniel.

"Yang kelinci itu tuh, daritadi aku gagal terus kan" jawab Minhyun. Ia gemas karena kegagalannya. Ia benar-benar ingin mendapatkan boneka tersebut.

"Iya, iya sedikit lagi, ya, kamu bisa, sedikit lagi" Minhyun meracau saat Daniel tengah berkonsentrasi untuk mendapatkan boneka itu.

"YAK, YES, BERHASIL!" Minhyun berteriak senang ketika Daniel berhasil mendapatkan boneka yang ia inginkan. Raut wajah sendu yang tadi terpampang kini berganti dengan wajah bahagia. Ia dengan tak sabaran mengambil bonekanya. Daniel terkekeh dibuatnya.

"Liat boneka kelinci, kayak kamu" ujar Minhyun dengan nada ceria.

"Lho emang aku kayak kelinci?" tanya Daniel. Minhyun mengangguk.

"Coba deh kamu senyum" titah Minhyun.

"Kayak gini?" Dan kemudian Daniel tersenyum, matanya hilang saat ia tersenyum dan gigi kelinci terpampang jelas di sana.

"Ih iya iya, lucuu kayak gitu, aku suka banget kalo liat kamu senyum"

Deg

Hati Daniel berdesir.

Perkataan tersebut terlontar dari mulut Minhyun dengan ringannya. Kemudian ia mensejajarkan bonekanya dengan wajah Daniel. Ia membawa ponsel yang ada di sakunya lalu ia mengambil foto kelinci tersebut bersama wajah Daniel yang sedang tersenyum.

"Tuh kan lucu" Minhyun tersenyum senang, ia benar-benar gemas melihat hasil fotonya. Ia tak sadar bahwa segala tingkah lakunya kini sedikit membuat wajah seorang Kang Daniel merona.

'Gila, gue culik juga ni anak' batin Daniel dalam hati. Ia mencoba menenangkan detak jantugnnya yang tak karuan.

Tak terasa hari sudah semakin gelap. Minhyun sebenarnya saat ini masih asyik memainkan game memukul tupai namun mengingat Minhyun yang katanya jarang pulang malam Daniel pun memutuskan untuk mengajaknya pulang.

"Ehh? Pulang sekarang? Tapi aku masih mau maiiin~" rengeknya.

Ingin rasanya Daniel menguyel-uyel pipinya yang mengembung karena kesal.

"Katanya kan kamu biasanya ga pulang sore, nanti kalo orangtua kamu khawatir gimana?" tanya Daniel. Tangannya mengusak pelan rambut Minhyun –mungkin pipi akan jadi sasaran selanjutnya setelah mereka lebih dekat.

Minhyun mengerucutkan bibirnya lalu dengan enggan mengangguk pelan.

"Iya ayo pulang."

Daniel mengambil napas panjang. Sepertinya bibir Minhyun memang sangat berbahaya. Berbahaya bagi pikiran dan hatinya.

"Ayo, aku anter."

Mereka pun akhirnya keluar dari game center tersebut dan menaiki bus ke arah rumah Minhyun. Di dalam bus Minhyun tertidur dengan kapala yang terhuyung-huyung karena pergerakan bus, sepertinya ia kelelahan karena habis bermain hampir selama dua jam penuh. Daniel yang melihat itu langsung menarik kepala Minhyun dan membuatnya menyandar di pundak Daniel.

"Hhh Niel shshs seru hihi."

Igauan Minhyun membuat Daniel terkikik kecil. Sepertinya rubahnya (err, sejak kapan Minhyun menjadi hak milik Daniel ya?) sangat senang hari ini sampai mengigau seperti itu.

Daniel mengelus-elus lembut surai hitam Minhyun. Entah sudah berapa kali Daniel tersenyum dan tertawa hari ini. Padahal Daniel sebenarnya termasuk orang yang jarang menampakkan senyumnya pada orang lain, namun pada Minhyun yang baru ia kenal kemarin Daniel sudah lebih dari siap jika Minhyun memintanya tersenyum sepanjang hari. Oh! Dan jangan lupakan fakta bahwa jantungnya berdebar karena pemuda manis disebelahnya.

Daniel tahu ia tertarik pada pemuda ini, sejak pertama bertemu. Ia tidak menyangka bahwa cinta pada pandangan pertama itu benar-benar nyata.

.

.

"Minhyun... Minhyun, ayo bangun."

"Hmmh..."

Daniel terkikik gemas karena reaksi Minhyun yang justru semakin menyembunyikan kepalanya di leher Daniel.

"Minhyun... sebentar lagi bisnya sampai." Bisik Daniel lagi. Ia masih tidak berhenti mengelus rambut halus Minhyun dengan tangannya.

"Hei, ayo bangun rubah pemalas."

Minhyun langsung terbangun dengan bibirnya yang sudah ia kerucutkan. "Aku bukan pemalas, dan aku manusia Niel, bukan rubah, ck."

"Iya, iya Hwang Minhyun yang manusia dan bukan pemalas. Ayo siap-siap turun."

Daniel dan Minhyun pun langsung berdiri di dekat pintu keluar bis. Sampai akhirnya mereka pun turun dan berjalan beriringan menuju rumah Minhyun. Tangan mereka saling terjuntai dan terkadang bahkan punggung tangan mereka bersentuhan.

Ingin rasanya Daniel menggenggam tangan itu tapi ia tidak ingin Minhyun merasa kalau Daniel sangat terburu-buru jadi ia pun mengurungkan niatnya dan memasukkan tangannya ke saku celananya.

"Hwang Minhyun! Kamu kemana aja?! Mama udah nelponin kamu beberapa kali tapi ga kamu angkat! Ya ampun sayang jangan bikin Mama takut gini dong!"

Mereka bahkan belum mengucapkan salam tapi Orangtua Minhyun yang sedang menunggu di teras rumah Minhyun langsung berteriak.

"Oh! Minhyun lupa ngeganti mode hape Minhyun hehe." Jawabnya polos.

"Ya ampun Mama tuh udah khawatir terus kamu malah jawabnya gitu aja? Mama-"

"Halo Tante, Om. Maaf nyela omongan Tante saya Daniel temennya Minhyun. Sebelumnya saya minta maaf dulu karena yang bikin Minhyun pulang malam itu saya Tante. Saya minta maaf karena ga ingat buat ngehubungin Om sama Tante, maaf ya Tante."

Mama Hwang langsung terdiam. Sepertinya ia baru menyadari kalau Minhyun tidak pulang sendirian.

"Kamu siapa?" tanya Papa Hwang dengan nada sedikit tajam.

"Saya Kang Daniel, temennya Minhyun Om." Jawab Daniel.

"Tapi kamu ga satu sekolahan sama anak saya-"

"Ih Papa udah deh jangan galak-galak gitu sama Daniel. Dia tuh temen Minhyun, emangnya kalau ga satu sekolah ga boleh jadi temen ya?"

Papa Hwang tergelak. "Bukan gitu sayang, Papa kan cuma penasaran aja."

"Penasaran tapi nadanya galak banget."

"Habisnya kan salah kamu sendiri ga ngabarin ke Papa sama Mama dan bikin kita khawatir. Salah siapa coba?"

Minhyun terdiam. "Iya, Minhyun minta maaf ya Pa. Lain kali Minhyun bilang dulu kalau mau kemana-mana."

"Saya juga minta maaf ya Om."

Melihat Daniel yang sudah bertanggung jawab dan mengantarkan Minhyun dengan selamat ke rumah, Orangtua Minhyun pun melunak.

"Iya lain kali kamu harus lapor ke saya kalau mau ngajak main anak saya." Ujar Papa Hwang.

"Iya saya ngerti Om. Makasih ya Om."

"Kesannya kok kayak baru dikasih ijin buat kencan ya?" batin Daniel.

"Udah sana masuk aja ih, Minhyun mau bicara dulu sama Daniel."

Setelah yakin kalau Daniel adalah orang baik –melihat Minhyun sangat percaya padanya. Orangtua Minhyun pun masuk ke rumah dan menyisakan Minhyun dan Daniel di tepi pagar.

"Aku ga ngajak kamu masuk soalnya udah malem, kamu harus pulang terus belajar ya."

Daniel terkikik. "Iya, iya."

"Terus nanti kalau aku line jangan dibaca doang."

Daniel tertawa.

"Ih jangan cuma ketawa doang Niel! Jangan sampe aku nunggu balesan dari kamu seudah baca kata read."

"Oh, jadi kamu nunggu?" tanya Daniel senang –namun tentunya tidak terlalu ia perlihatkan.

"Iyalah, pokoknya balesnya jangan lama-lama!" seru Minhyun lagi sambil mengerucutkan bibirnya.

Daniel hanya bisa tertawa lagi. "Iya Hwang Minhyun, iyaaa~" ia kemudian mengusak puncak kepala Minhyun gemas.

"Sial, beneran gue culik juga ni anak"

.

.

Minhyun baru saja hendak naik ke tempat tidurnya sampai ia mendengar dering ponselnya.

Kelinci.

Minhyun tersenyum senang kemudian mengangkat telepon dari teman barunya itu.

"Halo?"

"Minhyun? Udah tidur?"

Minhyun naik ke tempat tidurnya. "Kalo udah tidur ini yang ngangkat telepon siapa coba?"

Daniel terdengar terkikik kecil.

"Ganti deh pertanyaannya, udah mau tidur?"

Minhyun menggeleng kecil, kemudian ia tertawa karena sadar kalau Daniel tidak akan melihatnya. "Baru mau hehe."

"Kamu kenapa ketawa tadi?"

"Tadi aku ngegeleng gitu terus sadar kalo kamu ga akan liat, oon ya?"

Daniel ikut tertawa kecil. "Gemesin itu mah."

"Ih gemes apanya sih Niel... Oh iya, kamu udah belajar?"

"Udah, yaudah teleponnya aku tutup ya, kan kamunya mau tidur."

"Terus kamu nelepon buat apa?" tanya Minhyun heran.

Ada jeda sebentar. "Pengen aja."

"Ohh... tapi aku hoaaaam mau tidur." Ujar Minhyun sambil menguap.

"Iya manis, makanya aku tutup ya? Malem Minhyun, mimpi indah yaa."

"Eh Niel! Besok kita ketemu lagi?" tanya Minhyun tiba-tiba.

Daniel terdiam sebentar. "Kita liat besok ya, nanti aku line."

Minhyun tersenyum kecil. "Oke! Malem Niel, jangan lupa sikat gigi ya nanti!"

"Hahaha, iya iya nanti aku sikat gigi. Malem Minhyun."

Setelah menutup sambungan telepon line nya dengan Daniel, Minhyun langsung menyimpan ponselnya dan tersenyum tipis.

"Aku pengen cepet besok." Gumamnya.

Sepertinya Daniel sudah menjadi eksistensi yang penting di kehidupan Minhyun.

.

.

TBC

.

.

Halooo terimakasih ya buat yang udah review fanfic ini hehe

makasih juga buat woooozzii yang ngasih tau kesalahan di fanfic iniiiii, makasih yaaaa :)))

maaf belum aku bales ya reviewnya huhu belum sempet soalnya :( dan akhir-akhir ini sinyal internetnya jelek mulu huhu :(

tapi nanti aku bales kok hehe

sampe ketemu di chap selanjutnya

chickendKID & dinodeer.