Kelinci dan Rubah
Kang Daniel x Hwang Minhyun
storyline by : chickenKID & dinodeer
Setelah menutup sambungan telepon line nya dengan Daniel, Minhyun langsung menyimpan ponselnya dan tersenyum tipis.
"Aku pengen cepet besok." Gumamnya.
Sepertinya Daniel sudah menjadi eksistensi yang penting di kehidupan Minhyun.
.
.
Chapter 4 : Kelinci?
.
.
"Hahaha, iya iya nanti aku sikat gigi. Malem Minhyun."
Setelah mengucapkan itu Daniel langsung menutup sambungan telepon dengan rubah cantik itu. Sebuah senyum tipis kini tercetak di bibirnya, mengingat kejadian tadi siang dan juga isi percakapan telepon tadi yang menggemaskan.
Ia sampai tidak sadar kalau Woojin sudah berada di depannya dan melihat Daniel senyum-senyum tidak jelas.
"Jadi dia siapa Bang?"
Daniel mendelik saat melihat Woojin tengah berada di hadapannya sambil memasang tampang ingin tahu.
"Dia yang mana?" tanya Daniel pura-pura tidak tahu.
"Aku? Serius 'aku' Bang?" ujarnya mendramatisir. Sementara Daniel pura-pura tidak mendengar.
"Kamu? Serius 'kamu'?" lanjutnya lagi. Matanya sudah ikut membelalak karena ucapan berlebihannya.
Pletak.
Daniel langsung memukul kepala Woojin, pelan sih tapi tetap saja lumayan sakit.
"Berisik lo." Geram Daniel. Woojin hanya tertawa sambil mengusap-usap bagian kepalanya yang baru saja dipukul Daniel. Ia pun memilih duduk di samping pemuda yang baru memukulnya itu.
"Btw dia keliatan polos gitu Bang, please jangan rusak anak orang Bang."
"Ngga lah gila aja lo." Timpal Daniel.
Woojin mendengus. "Abisnya lo kan pacaran, tinggalin, pacaran, tinggalin, bilang putus aja kagak. Jangan sampe baperin anak orang terus lo tinggalin, kasian dia keliatan rapuh gitu Bang." Ungkap Woojin.
Daniel balas mendengus pada Woojin. "Ngga lah belum dipacarin juga."
"Tapi lo udah niat kan?"
Daniel terdiam mendengar ucapan Woojin sambil berdiri ia pun menjawab, "liat aja nanti." Dan meninggalkan Woojin yang masih duduk di bangku basecamp mereka.
.
.
Keesokan harinya.
Minhyun baru saja hendak turun dari mobil ayahnya yang memang selalu mengantarnya sejak pagi, sampai ayahnya bersuara.
"Jangan lupa makan siang ya, kalau nanti mau pergi sama temenmu itu yang kemarin siapa namanya?"
"Daniel Pa."
"Iya sama Daniel, bilang dulu ke Papa atau Mama oke?" titah Papa Hwang.
Minhyun mengangguk kecil. "Iya Pa."
"Kalau mau pergi sama Seongwu atau Minki juga tetep harus bilang oke?" titah ayahnya lagi.
"Iya Papa ih bawel banget. Minhyun sekolah dulu ya, dah Papa!"
Minhyun pun langsung turun tanpa peduli ayahnya sudah menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah putranya itu.
"HAI KALIAN!" seru Minhyun tiba-tiba sambil memeluk kedua sahabatnya dari belakang.
"IH ANJIR MINHYUN NGAGETIN!" seru Minki sambil mukul pundak Minhyun.
Minhyun tertawa sementara Seongwu ikut memukul kepala Minhyun.
"Hehehe." Si pelaku pengejutan hanya berhehe ria membuat kedua temannya mendecak kesal.
Tiba-tiba Minki terlihat teringat sesuatu, ia langsung menunjuk Minhyun dan menatapnya kesal.
"Kemarin kemana?! Mama kamu nyariin tau!" serunya.
Seongwu ikut menatap Minhyun kesal. "Iya! Mama kamu kedengeran khawatir banget tau!" timpalnya.
Bukannya menyalak kesal, Minhyun justru tersenyum lebar. "Oh! Kemarin aku main ke game center sama temen baru aku itu loh." Jawabnya.
Kedua sahabatnya itu hanya bisa menatap Minhyun tidak percaya. "Jadi kamu ngehubungin dia?!" seru mereka berbarengan.
Minhyun mengangguk kecil. "Iya hehe, btw kenapa kalian suka ngelarang aku ke game center? Padahal tempat itu rame banget! Kalian ga mau aku seneng-seneng ya?!" serunya kesal.
"Ih bukan gitu! Nanti kalau kamu kecanduan nanti ga belajar, terus ga masuk ke FK lagi." timpal Minki.
"Iya gitu, tapi bukan itu yang penting! Yang penting itu kamu kenapa pergi sama dia padahal kita udah bilang jangan?!" ujar Seongwu.
Minhyun mengerucutkan bibirnya. "Dia itu baik banget, kemarin waku ke game center dia ngajarin aku buat main permainan disana, kesukaan aku tuh yang tembak-tembakkan sama mukulin tupai! Oh iya dia jago banget bisa mainin semua permainannya, terus dia main mesin yang ngambil boneka itu loh, terus ngasihin bonekanya ke aku. Lucu bangeeeet." Ujar Minhyun dengan bahagianya.
Minki dan Seongwu hanya bisa bertatapan satu sama lain. "Gawat banget ini anjir, baru ketemu sekali aja udah ngajakin ke game center, terus pulang malem lagi, ga baik banget." Bisik Minki. Seongwu mengangguk setuju, "harus kita awasin ini mah." Timpalnya.
"Siapa sih kelinci tuh? Kita aja gatau dia yang mana orangnya tapi kamu udah main aja sama dia."
"Oh! Aku punya fotonya!" serunya girang. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan mengetuk-ngetuk layar smartphonenya itu. "Kemarin waktu dapet boneka kelinci aku foto dia sama boneka itu, kan dia mirip kelinci." Gumamnya.
"Ini fotonya!" seru Minhyun kemudian menyerahkan ponselnya.
Seongwu dan Minki langsung membelalakkan matanya, mulut mereka juga membulat karena terkejut.
"Lucu kan?" tanya Minhyun.
Seongwu menelan ludahnya. "Ini temen kamu yang kata kamu kelinci itu?" tanyanya
Minhyun mengangguk. "Eung."
"Jadi temen kamu itu Kang Daniel?" tanya Minki.
"Oh, emang aku belum pernah bilang namanya ya? Iya dia Kang Daniel, sekolahnya di SMA 101."
Minki langsung memegang pundak Minhyun dan mencengkeramnya. "Minhyun, kamu ga boleh ketemu dia lagi." ujarnya serius.
"Iya, dia itu berbahaya." Timpal Seongwu.
Minhyun mengerutkan keningnya bingung. "Bahaya kenapa?"
"Pokoknya dia itu berbahaya, jahat, dia ga baik kayak yang kamu bilang!" seru Minki. Seongwu mengangguk setuju. "Aku ga bisa jelasin detailnya tapi dia itu kejam sama orang lain, dia itu berandalan, ga cocok sama kamu."
"Tapi dia baik!" kilah Minhyun.
"Ga Minhyun, pokoknya kamu harus nurut ke kita kali ini. Jangan pernah ketemu sama Kang Daniel lagi!"
Minhyun malah mendecak kesal. "Dia itu baik tau, kalian belum kenal aja sama dia, apa kalian mau kenalan sama dia? Nanti aku kenalin deh, biar kalian tau kalau Daniel itu orang baik." Terang Minhyun.
"GA MAKASIH!" seru keduanya membuat Minhyun terkejut. "O-oh, yaudah kalo gamau, tapi kalian ga akan tau dia aslinya gimana kalo kalian ga temenan sama dia."
"Ga pokoknya kita gamau kenal sama dia dan kamu jangan deket-"
Teng-Teng-Teng.
Bel masuk tiba-tiba berbunyi dan Minhyun tanpa menghiraukan Seongwu dan Minki langsung berlari –karena mereka masih berada di dekat lapangan sekolah.
"Hei ayo ke kelas!" serunya.
Minki dan Seongwu hanya bisa mendesah lelah. Kemudian mereka menatap satu lain.
"Pokoknya kita jangan ngebiarin dia ketemu lagi sama Kang Daniel." Ujar Minki.
"Iya ga boleh, dia belum tau aja Kang Daniel itu siapa anjir, gue sampe merinding pas tau kelinci itu Kang Daniel." Timpal Seongwu.
Minki megangguk setuju. "Kelinci darimananya coba itu si Kang Daniel, yang ada malah beruang liar itu mah, heran gue sama otak Minhyun." ujarnya.
"Tapi dia beneran Kang Daniel yang itu? Yang anak 101?" tanya Minki lagi.
Seongwu mengangguk pelan. "Iya Kang Daniel yang itu."
Ada jeda hening sebentar.
"Dan tadi Minhyun nawarin kita buat temenan sama dia." Ujar Minki. Tiba-tiba saja mereka merinding karena sebuah bayangan di pikiran mereka.
"Ga, ga anjir, masuk aja lah, gausah bayangin hal yang nakutin gitu." Timpal Seongwu. Mereka pun langsung berlari mengejar Minhyun yang ternyata sudah duduk manis di kelasnya sejak tadi.
.
.
Bel pulang sekolah berbunyi. Minhyun masih terdiam di tempat duduknya. Ia mengeluarkan smartphonenya, kemudian membuka palikasi Line dan dia mengetikan sesuatu di sana.
"Hai Daniel"
Hanya satu kalimat singkat, tapi Minhyun tak menyangka tulisan 'read' sudah terpampang di sana. Yang artinya si pemilik akun sudah membacanya. Ia tersenyum, menunggu balasan dari Daniel, teman barunya yang mirip kelinci itu. Namun beberapa menit menunggu tak ada balasan apapun dari Daniel. Kemudian Minhyun menghela napas, dan mengerucutkan bibirnya. Ia sedikit kesal kenapa line nya selalu hanya di read oleh Daniel. Apa memang sapaannya yang hanya basa-basi itu tidak begitu penting? Apa ia harus langsung to the pointuntuk mengajak Daniel bermain bersama lagi?
"Oy Minhyun, mau sampe kapan duduk di situ? Kamu ga akan pulang?" suara seseorang mengintrupsi Minhyun yang tengah memikirkan sesuatu. Minhyun kemudian mengalihkan pandangannya dari smartphone ke arah sumber suara dan ternyata di sana ada Minki dan Seongwoo yang tengah berada di pintu kelas. Dan tadi yang berteriak itu suara Seongwoo, mereka sedang menunggu Minhyun.
"Oh iya, ayo pulang" ujar Minhyun seraya beranjak dari tempat duduknya, menghampiri dua sahabatnya itu.
Sepanjang perjalanan menuju gerbang sekolah Minhyun hanya melihat layar smartphonenya. Ia bahkan tidak mendengar apa yang diperbincangkan oleh dua sahabatnya. Setelah beberapa saat, ia memutuskan untuk menelepon Daniel karena tak kunjung mendapat balasan darinya. Baru satu kali dering panggilan, teleponnya langsung di angkat oleh Daniel. Namun baru saja ia akan membuka mulutnya untuk berbicara, satu kalimat cepat dari sebrang sana mengakhiri percakapan singkat mereka.
"Sori aku lagi sibuk"
Tuut tuut tuut
Minhyun terdiam, kemudian ia melihat layar smartphonenya. Itu memang suara Kang Daniel, dan ia memutuskan sepihak telepon Minhyun padahal Minhyun belum sempat mengatakan apa-apa.
"Ih apa-apaan deh, sebel" gerutu Minhyun. Ia langsung memasukan smartphonenya ke dalam saku, kemudian menyusul Minki dan Seongwoo yang ternyata sudah berada di gerbang sekolah.
"Ih si Minhyun, kirain dari tadi ngikutin di belakang" ujar Minki saat Minhyun baru saja sampai di gerbang sekolah.
"Ini juga ngikutin" jawab Minhyun, raut wajah sebal masih terpampang di sana.
"Kenapa sih? Tiba-tiba wajahnya ga enak diliat gitu" tanya Minki, Minhyun mengangkat satu alisnya.
"Hah? Masa? Enggak kok, ga kenapa napa" jawab Minhyun sekenanya. Sebenarnya Minhyun tidak mengira bahwa kekesalannya pada Daniel bisa terlihat oleh sahabatnya itu.
"Jadi gais, hari ini kita mau kemana?" tanya Minhyun mengalihkan pembicaraan.
"Ga kemana-mana, kita berdua mau anterin kamu pulang, soalnya kemaren kamu maen sampe sore" jawab Seongwoo. Minhyun mengerucutkan bibirnya. Dia kesal karena Kang Daniel tidak mengacuhkannya, chat di line hanya di read saja, ia telepon malah lansung ditutup dengan alasan sibuk. Sekarang Seongwoo malah menyuruhnya pulang. Sungguh hari ini semua hal membuat mood Minhyun memburuk.
Minhyun hanya mengangguk kemudian berjalan bersama kedua sahabatnya itu, menuju halte bus. Namun saat melewati taman yang tak jauh dari sekolahannya ia dan kedua sahabatnya melihat ada kerumunan orang di sana. ia melihat banyak anak-anak sekolah yang memakai seragam 101 di sana. Dan tak sedikit juga yang memakai seragam sekolah sepertinya, mungkin ada bentrokan antar pelajar pikir Minhyun. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, takut untuk membayangkan apa yang terjadi di sana. Jadi lebih baik ia segera pergi dari sana, pikir Minhyun. Namun tidak dengan sahabatnya Minki, dia termasuk orang yang penuh dengan rasa ingin tahu.
"Eh di sana ada apaan ya?" tanya Minki bingung.
"Kayaknya ada tawuran deh" jawab Seongwoo.
"Tapi masa tawuran cuman kumpul-kumpul gitu doang?" Minki keheranan. Seongwoo hanya menggedikan bahu acuh tak acuh.
"Ke sana yuk" ajak Minki dan berhasil membuat mata Minhyun melebar.
"Enggak ah serem" jawaban Minhyun sangat singkat, padat, dan jelas. Minhyun tidak ingin menghampiri kerumunan orang-orang di taman itu.
"Tenang, ada kita berdua kok" ujar Minki. Kemudian ia menarik Minhyun dan Seongwoo tanpa persetujuan mereka berdua.
Setelah sampai kerumunan, Minki dengan heboh melewati beberapa orang karena penasaran dengan apa yang terjadi.
"Permisi...permisi...maaf permisi" ujarnya melewati beberapa orang. Kedua tangannya masih menarik Minhyun dan Seongwoo yang otomatis mereka berdua pun harus melwati beberapa orang dalam kerumunan tersebut. Setelah mereka sampai paling depan, Minki terdiam, disusul oleh Minhyun dan Seongwoo.
DEG
Minhyun membulatkan matanya tak percaya. Dadanya berdebar, tangannya gemetar. Ia sungguh tidak mempercayai apa yang tengah ia lihat sekarang.
"Bilangin. Ke. Si. Dongho. Kalo. Ada. Urusan. Tuh. Ngomong. Langsung. Ke. Gue!"
Di sana Minhyun melihat Kang Daniel, tengah menarik kerah seseorang yang seragamnya sama dengan yang sedang dipakai Minhyun. Wajah orang tersebut sudah tidak jelas karena berlumuran darah. Setiap kata yang terucap dari mulut Kang Daniel ia jeda dengan satu pukulan yang ia layangkan pada wajah orang itu. Seragamnya juga sudah berlumur darah.
"Ngerti ga woy, kalo gue ngomong di jawab !"
Suaranya dingin penuh penekanan. Minhyun tidak pernah mendengar Kang Daniel berbicara dengan nada seperti itu. Sorot matanya tajam mengintimidasi. Daniel kembali memukul lelaki tersebut.
"A..ampuun..ampunn" lelaki yang berlumur darah hanya bisa meringis dan memohon ampun pada Daniel.
Minhyun menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya tiba-tiba mengering. Ia mengepalkan tangannya yang tak berhenti gemetar. Ia benar-benar ketakutan. Kemudian ia melihat sesosok lelaki lain mendekati Daniel, sosok lelaki yang ia lihat tempo hari di kedai kopi. Minhyun menyimpulkan Daniel telah berbohong padanya karena berkata ia tak mengenali lelaki itu. Entah mengapa hati Minhyun sakit.
Minhyun melihat lelaki tersebut berbisik pada Daniel. Daniel melepaskan genggaman tangannya dari kerah lelaki yang sudah babak belur itu, kemudian menoleh.
Mata mereka bertemu.
Minhyun terkaget kemudian ia segera pergi darisana dan berlari sekuat tenaga.
Sementara itu orang-orang di sana heran melihat Kang Daniel tiba-tiba beranjak darisana, dan berlari entah kemana.
Mereka tidak tahu bahwa Daniel sekarang ini tengah mengejar Minhyun yang berusaha menghindarinya. Sayang langkah kaki Minhyun kalah cepat oleh Daniel. Hingga Daniel menggapai tangannya, kemudian ia malah menyeret Minhyun, berbelok ke gang sempit tak jauh darisana.
Setelah masuk gang sempit, Daniel menghempaskan tubuh Minhyun pada dinding, kedua tangannya tepat berada di kedua sisi tubuh Minhyun. Minhyun kembali menelan ludahnya. Seluruh tubuhnya masih gemetar, di tambah sekarang ia terkurung oleh tubuh Daniel. Minhyun dengan sedikit takut, ia mencoba menatap Daniel. Napas keduanya masih sama-sama tidak stabil. Mereka masih terengah setelah berlari tadi.
"Kamu ga bales lagi line aku." Dari sekian banyak pertanyaan yang ada di kepala Minhyun, yang keluar dari mulutnya hanya sebuah kalimat itu. Namun gemetar di tubuhnya masih belum bisa hilang, walopun ia sudah bisa menatap mata Daniel. Ia melihat mata Daniel membalas tatapan matanya dengan lembut. Minhyun bahkan bingung apa orang yang di depannya ini sama dengan orang yang tadi tengah memukuli seseorang dengan tidak manusiawi.
Sementara itu kini Kang Daniel tengah berdebat dengan batinnya. Ia bingung mau menjawab apa.
"Umm, iyaa, maaf aku sibuk" jawabnya kemudian.
"Kemaren kan aku udah bilang jangan sampe ga bales line aku" Minhyun sebenarnya masih sangat ketakutan di sana, tetapi ia bingung mau berbicara apa, karena itulah hanya tentang balas membalas line yang bisa ia bahas. Padahal hatinya masih berdegup kencang, tubuhnya masih gemetar. Ia kembali mengepalkan tangannya, berusaha untuk mengusir rasa takut yang tak kunjung hilang. Padahal sorot mata Daniel sudah berubah menjadi lebih lembut.
"Iya, maaf yaa" jawab Daniel. Kemudian tangannya terangkat, baru saja ia akan membawa daun kecil yang tertempel di rambut Minhyun (mungkin daun yang jatuh dari pohon di taman), namun Minhyun langsung menutup matanya ketakutan. Daniel mengepalkan tangannya.
"Kamu takut sama aku?" tanya Daniel. Minhyun terdiam, kemudian ia sedikit demi sedikit membuka matanya.
"Aku tanya, kamu takut?" ulang Daniel. Minhyun masih terdiam, ia melihat raut kekecewaan di wajah Daniel.
"Bang, anak sebelas udah pada dateng! Buruan!" suara seseorang mengintrupsi mereka, membuat keduanya menoleh ke arah sumber suara. Itu suara Park Woojin.
"Seriusan Bang, sori ganggu yee, tapi lu kudu ikut gue sekarang!" ajak Woojin. Daniel mengangguk, kemudian ia menoleh kembali menatap Minhyun.
"Nanti aku hubungin kamu. Coba kamu hubungin dua temen kamu itu, jangan sampe pulang sendirian, aku pergi dulu" baru saja Daniel mengangkat tangannya lagi, ia berniat untuk mengusak kepala Minhyun, namun Minhyun kembali menutup matanya takut. Daniel menelan ludahnya, ia mengepalkan tanganya yang menggantung di udara.
"Aku pergi" ujar Daniel, kemudian ia melangkah pergi meninggalkan Minhyun yang masih menutup matanya. Ia mendengar langkah seseorang menjauh darisana.
Setelah di rasa tidak ada suara lagi. Minhyun membuka matanya, menatap ke arah jalan yang sekarang sudah kosong. Kemudian tubuhnya merosot, ia terduduk di gang sempit tersebut. Minhyun memegang dadanya yang masih berdetak tak karuan, dengan tangan yang masih gemetar, ia bergumam
"Dia bukan kelinci" gumamnya pelan.
.
.
TBC
.
.
Terungkap sudah Daniel ternyata bukan seperti kelinci yang Minhyun pikirin...
Sampe ketemu di chap selanjutnya ya
Ditunggu reviewnyaa~
