Kelinci dan Rubah

Kang Daniel x Hwang Minhyun

storyline : chickenKID & dinodeer


"Dia bukan kelinci" gumamnya pelan.

.

.

Chapter 5. Takut

.

.

Keesokan harinya setelah insiden yang terjadi kemarin, Minhyun tidak berani melihat chat Daniel. Pemuda yang ia kira kelinci itu mengiriminya beberapa pesan, tidak banyak namun konsisten dan Minhyun masih tidak bisa melihatnya. Daniel juga menelepon beberapa kali tapi tentu saja tidak Minhyun angkat.

Ia masih takut dengan kejadian yang ia lihat kemarin. Daniel yang ia anggap seperti kelinci lucu, baik hati ternyata bukanlah seorang kelinci yang ia bayangkan kemarin. Bayangan tentang Daniel dan sorot mata tajamnya membuat Minhyun merinding. Belum lagi suara rendah yang menyeramkan saat ia memukuli orang-orang membuat Minhyun takut.

Minhyun tidak tahu ia bisa berteman dengan Daniel lagi atau tidak.

Hari ini ia berangkat ke sekolah seperti biasa. Saat sampai di kelas ia langsung dihampiri oleh dua teman kecilnya Minki dan Seongwu. Mereka terlihat khawatir padanya.

"Minhyun, kamu kemarin baik-baik aja kan? Ga diapa-apain kan sama si Kang Daniel?" tanya Minki khawatir.

"Minhyun jawab dong, dari kemarin kamu bengong terus aja, kamu ga diapa-apain kan sama Kang Daniel?" tanya Seongwu.

Minhyun menatap kedua temannya lalu tersenyum kecil. "Ga diapa-apain kok."

"Syukur deh kalau engga, abisnya kita takut banget. Sekarang kamu tahu kan kenapa kita larang kamu buat deket sama Daniel itu?" tanya Minki.

Minhyun mengangguk.

"Gapapa Minhyun kamu bisa cari temen lain selain Daniel, kamu sekarang udah liat sendiri kalau dia ga baik buat kamu, jadi jangan sedih ya?" pinta Seongwu.

Minhyun mengangguk lagi.

"Sekarang kita bahas hal lain aja yuk? Kemarin nonton happy together ga?" tanya Minki.

"Ih liat, itu yang ada Mau Satu nya kan? Kocak lah mereka ternyataaaa" timpal Seongwu. Setelah itu Minki dan Seongwu heboh bercerita mengenai variety yang mereka tonton sementara Minhyun masih bingung dengan perasaannya sendiri.

.

"Om makasih ya udah nganterin." Ujar Seongwu dan Minki yang ditimpal oleh ayahnya Minhyun dengan senyum. "Beneran gak apa-apa kalian dianter sampe sini aja? Om bisa anter sampe depan rumah kok."

"Iya gapapa Om, kita mau beli sesuatu dulu di daerah sini." Timpal Minki.

"Minhyun kamu ga ikut nak?" tanya sang ayah.

Minhyun menggeleng pelan. "Enggak Pa, lagi gak mood." Timpalnya. Ayahnya hanya mengangguk mengerti, ia kemudian meminta Seongwu dan Minki untuk berhati-hati saat pulang nanti.

"Dah Minhyun! sampe ketemu besok ya!" seru Seongwu dan Minki sambil melambaikan tangannya pada Minhyun, yang dibalas senyuman kecil oleh Minhyun. "Dah, hati-hati ya."

Mobil ayahnya Minhyun pun melaju meninggalkan kedua teman anaknya.

"Kamu gapapa beneran dek? Adek tadi bilang lagi gak mood."

Minhyun diam. "Minhyun gamau ngobrolin itu sekarang Pa." Jawabnya.

Ayahnya tersenyum kecil kemudian mengusak puncak rambut kepala si bungsu pelan. "Yaudah tapi adek jangan sampai sakit gara-gara gak mood ya." Minhyun hanya mengangguk kecil.

Mobil mereka pun akhirnya sampai ke kediaman Hwang. Minhyun langsung turun dan berjalan ke kamarnya.

"Adeeeek! Kakak bawa pisang nugget, adek mau-"

"Nanti aja ya Kak." Potong Minhyun.

Sang kakak menatap Minhyun heran. Padahal kemarin-kemarin Minhyun cemberut gara-gara ia tidak membawa pisang nugget saat ia pulang bekerja. Tapi sekarang adiknya itu malah terlihat tidak semangat.

"Pa, itu adek kenapa?" tanya Sujin heran.

"Lagi ga mood katanya, jangan dipaksa ngomong deh Kak nanti malah makin bad mood si adek." Jawab ayahnya.

Sujin pun mengangguk mengerti. Ia pun menyimpan pisang nugget untuk adiknya di meja makan dan bersiap untuk menonton acara sore favoritnya sampai sebuah bel menginterupsi kegiatannya. Dengan langkah malas ia pun berjalan menuju pintu dan mendapati sosok yang membuat adiknya pulang malam dua hari yang lalu itu tengah berdiri di depannya.

"Halo Kak, maaf Minhyunnya ada?" tanyanya.

"Iya ada masuk dulu yuk, bentar kamu tuh kemarin namanya siapa deh lupa." Ujar Sujin.

"Kang Daniel Kak."

Sujin mengangguk mengerti. Setelah itu ia pun mempersilahkan Daniel untuk duduk di kursi ruang tamu.

"Tunggu ya aku panggilin dulu Minhyunnya." Ujar Sujin. Daniel pun mengangguk sambil mengucapkan terima kasih pada kakaknya Minhyun itu.

Beberapa menit kemudian Sujin kembali, tapi tidak ada Minhyun disana. Sujin terlihat tersenyum canggung ia pun duduk dihadapan Daniel dan menatap pemuda itu canggung.

"Em... Daniel maaf ya Minhyun itu emm-"

"Gamau ketemu aku ya Kak?" potong Daniel.

Sujin mengangguk. "Maaf ya, gatau kenapa nih si adek langsung bilang gamau pas aku bilang kamu kesini. Tadi juga katanya dia lagi ga mood gitu, maaf ya."

"Enggak Kak, yang harusnya minta maaf itu aku." Timpal Daniel. "Aku yang bikin Minhyun bad mood Kak." Lanjutnya.

Sujin terlihat bingung.

"Iya Kak, jadi kemarin aku bikin Minhyun salah paham sama tindakan aku, dan aku juga secara gak langsung bohong sama dia dan akhirnya dia tahu tapi dia salah paham. Maaf tapi aku ga bisa cerita detailnya gimana tapi Minhyun jadi ngejauhin aku karena kesalahpahamannya, padahal aku bener-bener serius mau temenan sama dia. Karena itu aku kesini Kak buat ngejelasin ke Minhyun, tapi Minhyunnya ternyata gamau ketemu sama aku." Jelas Daniel.

"Oh jadi ada salah paham antara kamu sama Minhyun?" tanya Sujin.

Daniel mengangguk. "Iya Kak, tapi maaf aku ga bisa jelasin detailnya gimana." Jawab Daniel sedikit tidak enak.

"Gapapa Daniel, tapi aku bisa liat kok kamu sebenernya baik. Si adek emang dia suka terlalu syok gitu kalo tau sesuatu yang beda sama apa yang ada dipikirannya. Yaudah nanti aku coba minta dia buat seenggaknya mau ketemu kamu dan denger alasan kamu." timpal Sujin.

Daniel tersenyum lebar. "Iya Kak makasih ya, tolong bilangin juga aku minta maaf ke Minhyun, tapi aku beneran mau temenan sama dia."

"Iya siap, nanti aku sampein ke Minhyun."

"Makasih ya Kak Sujin. Kalau gitu aku pamit pulang dulu ya, maaf ngeganggu ya Kak."

Sujin menggeleng. "Engga kok Daniel, yaudah hati-hati dijalan ya."

Setelah itu Daniel pun pulang. Sementara Sujin kembali ke kamar adiknya. Ia melihat Minhyun tengah tiduran diatas tempat tidur sambil menatap ponselnya.

"Dek, Danielnya udah pergi tuh." Ujarnya.

Minhyun meliriknya sebentar kemudian kembali beralih ke ponselnya.

"Katanya kamu salah paham sama dia, dia ga jelasin sih salah pahamnya gimana, tapi Kakak yakin deh Daniel tuh sebenernya baik." tutur Sujin.

"Salah paham gimana coba Kak, kemarin dia tuh mu- ya itu pokoknya Kakak ga akan ngerti." Timpal Minhyun.

Sujin duduk di pinggir tempat tidur Minhyun.

"Kamu sendiri udah denger penjelasan dari Daniel belum?" tanya Sujin.

Minhyun menggeleng.

"Tuh kan kamu aja belum denger alasan dia tapi udah main jauh-jauhin dia aja." Ujar Sujin lagi.

"Kakak juga kenapa sok tahu banget sih Daniel itu baik atau engga?" timpal Minhyun kesal.

Sujin menyentil kening Minhyun pelan. "Daniel tuh sampe repot-repot dateng ke rumah buat ketemu kamu tahu, kalo dia gak baik mah ngapain sampe kayak gitu, kenal sama kamunya aja baru kan?"

"Dia juga bilang kalau dia emang serius pengen temenan sama kamu, terus dia juga minta maaf. Kalau emang adek ga suka sama Daniel ya Kakak ga maksa tapi kasih Daniel kesempatan buat jelasin dong ya?" pinta Sujin.

"Gimana nanti aja." Jawab Minhyun.

Sujin pun mengusak rambut Minhyun dan membiarkan Minhyun berpikir dengan tenang.

.

"Pokoknya kita harus bisa ngalahin anak sebelas, parah banget sih mereka berani main belakang." Geram salah satu pemuda yang tengah berada di sebuah ruangan cukup luas.

"Gimana nih Bang?" tanya anak yang lain sambil menatap Daniel.

"Kemarin kan udah gue bilang ke tuh anak buat bilangin ke si Dongho, gue ga mau kita kemakan emosi, kalo mereka yang butuh ya mereka yang dateng ke kita, ngapain kita repot-repot buang tenang datengin mereka." Timpal Daniel. "Lagian diantara kita kemarin ga ada yang luka kan?"

"Iya sih Bang, tapi mereka kan curang kemarin." Protes anak lainnya.

Daniel menatap tajam semua orang yang sedang berada di ruangan itu. "Emang, mereka juga tau, kita tau, tapi gue gamau kita serendah itu kayak mereka ngelakuin hal yang sama. Pokoknya jangan ada yang maju kalo kata gue jangan, kecuali kalo lo emang pecundang dan lo siap gue tendang dari kelompok gue." Ujarnya dengan tajam.

Semua orang yang ada di ruangan langsung menelan ludahnya. Daniel memang sering terlihat santai dan tidak mudah terpancing emosi. Ia akan bertindak jika ada anak buahnya yang terluka karena orang lain. Sekali kau membuat Daniel marah, pupus sudah jangan harap Daniel akan memaafkanmu dan siap-siap saja babak belur.

"Kita maju kalo mereka curang lagi buat yang kedua kalinya, ngerti?"

"Ngerti Bang!"

Setelah itu beberapa anggotanya pun berpamitan pulang namun ada juga beberapa yang masih ingin nongkrong di basecamp mereka.

"Bang gimana si anak polos itu?" tanya Woojin.

Daniel diam tidak menjawab.

"Kata gue juga apa jangan deketin dia, kemarin dia keliatan takut banget sama lo Bang." Lanjut Woojin.

Daniel masih tidak menimpali ucapan Woojin, ia malah mengeluarkan ponselnya dan bermain-main dengan ponselnya itu.

"Bang, jangan bilang lo serius sama dia?" tanya Woojin kaget. Habisnya jarang Daniel terlihat diam dan galau begini karena seseorang. Dulu sih yang ada orang lain yang galau gara-gara dia, Daniel mana pernah mikirin pacar-pacarnya dulu. Dia malah pernah lupa pacarnya sendiri saking tidak pedulinya.

"Bacot banget sih lo." Timpal Daniel.

"Oke lo beneran serius ini mah. Oke, tenang Bang tenang, lo udah hubungin dia belum?" tanya Woojin.

"Ga dibales."

"Coba nemuin dia?" tanya Woojin lagi.

Daniel mendesah frustasi. "Udah ke rumahnya tapi ketemu gue aja gamau dianya." Jawabnya.

"Oke serahin ke gue Bang, gue tahu caranya gimana, lo tenang aja, gue ahli kalo soal ginian Bang." Ujar Woojin meyakinkan. Sementara Daniel hanya menatapnya sangsi.

"Terserah lo aja deh."

.

.

"Woy woy kalian, sini kumpul, gue ada berita penting, kumpul sekarang juga!" Woojin berteriak di basecampnya dan memerintahkan teman-teman satu geng nya untuk berkumpul di sana. Beberapa orang yang masih tertinggal di basecamp menurut dan langsung berkumpul mengelilingi Woojin yang berada di tenagh-tengah.

"Apaan sih lu nyuruh-nyuruh?" protes Donghyun setelah ia terduduk di dekat Jihoon. Walaupun ia protes, namun ia tetap menurut dan ikut berkumpul dengan anak-anak yang lain.

"Ini penting banget sob" jawab Woojin meyakinkan.

"Awas aja kalo ini ga penting sama sekali" kali ini giliran Jihoon yang terlihat protes. Woojin hanya tersenyum simpul.

"Jadi gini, ketua kita nih si abang lagi kasmaran sama seseorang"

BRAK

Baru saja Woojin mengatakan satu kalimat, seseorang menggebrak meja memotong ucapan Woojin. Donghyun pelakunya, ia yang menggebrak meja dan sekarang menunjuk Woojin dengan wajah tak percaya

"Lu jangan ngarang Jin, masa iya ketua kita yang ga pernah serius pacaran itu kasmaran?" Telunjuk Donghyun masih menunjuk ke arah Woojin. Dan Woojin langsung menyingkirkan jari telunjuk Donghyun.

"Elah, ngapain gue ngarang? Lagian gue bukan pengarang. Nih ya, gue serius! Ini buktinya kalo kalian ga percaya" jawab Woojin. Kemudian ia mengelurkan smartphone nya dan memperlihatkan video yang ia ambil tempo hari, saat Daniel tengah mengusap bibir Minhyun yang belepotan eskrim di kedai eksrim. Video tersebut berhasil membuat semua orang yang melihat membulatkan matanya tak percaya.

"Ih anjir, ini serius gue ga salah liat? Mana ada si abang natep orang lembut begini. Gue merinding njir" Jihoon bergidik mengusap kedua lengannya, merasa kedinginan tiba-tiba setelah melihat adegan di video tersebut yang sama sekali tidak bisa dipercaya.

"Nah kan gue bilang juga apa, si abang ini lagi kasmaran sama orang yang ada di video itu. Dia anak sebelas, dan kemaren dia ngeliat si abang lagi ngehajar anak sebelas" jelas Woojin.

"Jadi hubungannya apa nih sama elu yang ngumpulin kita di sini?" tanya Donghyun.

"Bentaran napa, lu mah motong mulu, gue kan lagi jelasin!" Donghyun hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.

"Jadi gegara kemaren, ntu orang salah paham gitu ke ketua kita. Dan kayaknya si anak sebelas itu ngambek ke ketua kita. Gue ga tega liat ketua kita galau mulu. Terus gue punya niatan buat bikin mereka baikan. Makanya gue ngumpulin lu pada, buat bantuin gue bikin mereka baikan" terang Woojin panjang lebar.

"Caranya?" seseorang bertanya. Woojin tersenyum kembali.

"Gue ada ide" ujar Woojin, dan anak-anak yang lain hanya saling pandang karena belum tahu ide apa yang di maksud Woojin.

_Skip Time_

Teng teng teng

Bel pulang sekolah berbunyi.

Minhyun membereskan bukunya bersiap untuk pulang ke rumah. Kebetulan hari ini ia tidak pulang bersama dengan kedua sahabatnya, Minki dan Seongwo karena Minki ada kegiatan ekstrakulikuler sementara Seongwo sudah pulang duluan, katanya ia harus menjemput adiknya dulu.

Minhyun menghela napas panjang, entah mengapa ia merasa sangat lelah. Mood yang buruk sejak kemarin benar-benar tidak pulih sama sekali. Ia bahkan di omeli oleh Minki tadi siang karena ia tidak memakan makanannya dan hanya mengaduk-aduk bekal makan siangnya. Perasaannya campur aduk hanya karena lelaki yang belum lama ia kenal bernama Kang Daniel.

Minhyun segera menggeleng-gelengkan kepalanya ketika nama itu terlintas di pikirannya. Ia benar-benar berniat untuk memutuskan hubungan dengan lelaki bernama Kang Daniel itu. Bahkan pesannya dari kemarin belum ia buka, ia tidak berani membukanya. Tapi entah mengapa Kang Daniel selalu melintas di pikirannya. Semakin ia tak mau memikirkannya, semakin sering pula Kang Daniel mampir di pikirannya.

"Kang Daniel bukan kelinci, inget itu Hwang Minhyun" Minhyun bergumam, menegaskan kepada dirinya sendiri. Kembali ia menghela napas sebelum kemudian beranjak dari kelasnya, keluar menuju gerbang sekolah.

Setelah di gerbang sekolah Minhyun menunggu ayahnya menjemputnya. Karena tadi pagi ayahnya mengatakan untuk menjemput Minhyun pulang seperti hari kemarin. Ayahnya Minhyun sangat mengkhawatirkan anaknya yang masih dalam mood yang buruk.

Minhyun memainkan kerikil yang berada di bawah dengan kakinya, kemudian ia melihat ke arah jam tangannya. Ia menghela napas lagi, sepertinya hari ini ayahnya sedikit terlambat menjemputnya. Karena sudah lima belas menit Minhyun menunggu sang ayah di gerbang sekolah dan masih tak kunjung datang menjemput.

Tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Pintu mobil itu terbuka, kemudian Minhyun ditarik ke dalam mobil tersebut. Minhyun kaget, tidak tahu apa yang sedang terjadi, namun semuanya begitu cepat. Ia tiba-tiba sudah berada di dalam mobil, dan mobilpun melaju kencang. Minhyun yang terkaget baru sadar apa yang sedang terjadi, otaknya mengatakan ia sedang di culik, karena itulah ia berteriak meminta pertolongan.

"TOLONG TOLONG TOLONG" Minhyun berteriak, ia berusaha melepaskan cengkraman orang yang tidak dikenalnya.

"Ih anjir berisik banget ni orang, serius ketua kita suka sama yang begini?" ternyata itu suara Donghyun, teman satu gengnya Kang Daniel, ia sedang berusaha menutup mulut Minhyun yang terus saja berteriak tidak karuan. Sementara itu di sisi lain Jihoon juga berusaha untuk menenangkan Minhyun yang sama sekali tidak bisa diam, ia terus saja berontak tidak ingin di pegangi oleh keduanya. Minhyun sama sekali tidak mendengar perkataan Donghyun, otaknya sekarang hanya memikirkan bagaimana caranya ia keluar dari mobil asing tersebut, dan lepas dari cengkraman kedua orang asing yang masih setia mencengkram lengannya.

"TOLONG LEPASIN, AKU GA MAU DI CULIK, TOLONG" Minhyun masih saja berteriak, walaupun Donghyun berusaha untuk menutup mulutnya.

"Kasian bener njirr yang begini disukain ketua kita, rapuh begini" ujar Jihoon, tangan kirinya masih mencengkram lengan Minhyun yang berontak, sementara tangan kanannya ia gunakan untuk menutup telinga kanannya, karena ia merasa suara Minhyun yang melengking itu sangat tidak baik untuk telinganya.

"Plis banget ini mah, jangan berisik, kita ga akan ngapa-ngapain elu" Donghyun dengan geram meminta Minhyun diam, karena ia pun tidak bisa menahan lengkingan suara Minhyun yang meminta tolong. Sementara itu Woojin sedang berada di bangku kemudi, ia tengah konsentrasi agar mobil tersebut segera sampai di tempat tujuan yakni basecamp mereka.

"TOLONG" teriakan masih saja terdengar.

"Sumpah kalo bukan orang yang ditaksir si abang gue udah pengen nyumpel itu mulut pake kaos kaki gue" Jihoon mendesah kesal.

"Woy jangan sampe dia kenapa-napa njirr, kalo dia lecet dikit aja kita bisa mati ditangan abang" ujar Woojin, walaupun ia sedang berkonsentrasi dengan jalanan, namun ia khawatir, takut kedua kawannya yang tidak sabaran itu melukai lelaki polos yang ditaksir oleh sang ketua gengnya. Kedua kawannya mengangguk mengerti, meskipun Woojin tidak bisa melihatnya.

Tak lama kemudian Minhyun mulai tenang, suaranya sudah serak hampir habis. Ia sudah lelah, walaupun berteriak sekeras mungkin dan berontak sekuat tenaga, namun usahanya sia-sia. Ia masih tidak bisa melepaskan diri, dan tak ada orang yang bisa membantunya. Minhyun ingin menangis sekarang juga. Ia menyesali kenapa ayahnya telat menjemputnya, ia menyesali kenapa Minki harus ikut ekstrakulikuler dan Seongwo menjemput adiknya sehingga kedua kawannya itu tidak bisa menemaninya pulang. Kini Minhyun ketakutan, ia hanya bisa berdo'a agar orang-orang asing ini tak menyakitinya.

Setelah sampai di basecamp, Jihoon menarik keluar Minhyun. Donghyun mendorongnya, dan mereka membawa Minhyun ke sebuah ruangan. Minhyun yang tidak mengerti mereka berada di mana dan ia hanya bisa pasrah mengikuti orang-orang asing itu. Setelah sampai di sebuah ruangan kemudian pintu itu di tutup, Minhyun membulatkan matanya. Ia kemudian menuju pintu dan berusaha membukanya. Ternyata pintunya dikunci.

"TOLONG BUKA PINTUNYA, JANGAN TINGGALIN AKU SENDIRI" suaranya yang sudah serak itu kini ia pakai untuk berteriak lagi. Air mata yang sedari tadi ditahan kini tumpah begitu saja.

Buk buk buk

Minhyun memukul-mukul pintu yang terkunci itu. Dan masih berteriak meminta tolong. Tangisannya tak kunjung berhenti. Minhyun benar-benar sangat ketakutan sekarang. Namun tiba-tiba sebuah suara terdengar di belakangnya.

"Akhirnya kita ketemu juga" suara itu suara yang Minhyun kenal. Dengan perlahan ia membalikan tubuhnya

Deg

Dan orang yang memiliki suara tersebut berhasil membuat Minhyun membeku seketika.

.

.

TBC

.

.

Terimakasih buat yang udah review

Sampe ketemu di chapter selanjutnya