Hari sudah menjelang siang, aku sudah mempersiapkan diri untuk perburuan kami hari ini.
"Aku pergi!"
"Ya."
Aku memutuskan untuk tidak membawa Mittelt, biarkan dia sendiri menikmati waktunya didalam penginapan.
Setelah mendapatkan uang dari hasil menukar taring Wolfheim kami, aku dan Mittelt memutuskan untuk menyewa penginapan kelas menengah di kota ini.
Menurutku harga penginapan kelas menengah tidak begitu mahal, hanya membutuhkan 2 silver/malamnya dan jika kau menginginkan layanan mandi kami tinggal membayar 500 copper/baknya.
Itu tidak masalah, mengingat kami mengincar penginapan ini hanyalah karena ada sebuah futon untuk memudahkan kami melalui alam mimpi.
Tidur hanya dengan beralaskan lantai dan tikar sudah agak membosankan untukku, aku pikir sudah cukup aku mengalaminya ketika aku masih berada dilubang hitam itu.
Dijalan aku mendapati beberapa karyawan yang berpapasan denganku, mereka menunduk dan aku hanya tersenyum sekaligus membalas sapaan mereka.
Tinggal membuka pintu ini dan akupun akan keluar dari penginapan ini.
Tujuanku adalah kedai yang letaknya tidak jauh dari penginapan ini, karena penginapan kami berbeda, untuk itu Muto memilih kedai tempat kami kemarin makan siang sebagai titik pertemuan kami.
Dalam perjalananku aku melihat kanan dan kiri, melihat pemandangan Manusia membludak memenuhi akses jalan nampaknya sudah biasa terlihat dikota ini. Para pedagang masing-masing berteriak untuk menawarkan dagangannya, para pembeli antri dan sesekali menawar sesuai harga yang diinginkan, beberapa kapilah pedagang yang baru saja memasuki kota dan para bangsawan pemilik strata sosial tinggi berjalan dengan kereta kuda mewah sambil dikawal oleh beberapa prajurit penjaganya.
Pemandangan seperti ini ternyata sangat wajar ditemui dikota dan pusat ekonomi tempat tinggal tuan tanah feodal (Gubernur).
Aku telah sampai didepan kedai yang kumaksud, masuk dan setelah itu aku bisa mendapati Muto dan Satoshi yang melambaikan tangannya memintaku untuk menghampiri mereka.
"Selamat pagi, Naruto?"
"Selamat pagi."
Aku membalas sapaannya sebelum aku mengambil tempat duduk tepat disamping Muto.
"Bagaimana malammu?"
"Menakjubkan, aku tidur dengan sangat nyenyak."
"Sudah pasti kan, kau menginap ditempat luarbiasa yang Marcenary seperti kami akan ragu untuk membayar harga sewa yang tak masuk akal itu."
"Oh, ayolah, apakah kau harus mengatakan hal seperti itu untuk mengolok-oloku?"
"Jangan dianggap seurius, dia hanya sedang bercanda. Mungkin Muto sedang merasa gugup dengan perburuan kita hari ini!"
Percakapan kami tersela oleh kedatangan salah-satu pelayan. Aku meminta satu sendok (baca: centong) gandum dan satu Kentang rebus. Setelah mencocokan pesananku dia berbalik pergi, namun ketika dia hendak melewati kursi Satoshi, Satoshi bertindak jail dengan meremas pantatnya yang membuat pelayan itu berbalik dan mengedipkan matanya menanggapi godaan Satoshi.
"Setelah perburuan hari ini aku akan menidurimu, ingat itu!"
"Selama kau punya 6 perak, aku akan menjadi milikmu malam ini!"
Oh, wow...
...Aku hanya mampu tercengang takjub, aku berpikir jika hal ini adalah hal lumrah dijumpai di dunia ini, jelas dan sangat berbeda dengan di duniaku dulu.
Jika seorang pelayan yang bertugas melayani pelanggan diperlakukan seperti itu, aku yakin dia akan memekik dan berteriak kata 'mesum' dengan suaranya yang menggemaskan. Berbeda dengan didunia ini, aku telah melihat sebagian besar perilaku orang-orang di dunia ini sangatlah terbuka.
Karena kedua paman tua didepanku ini sudah makan, mereka disini hanya menungguku sekaligus menikmati sake murahan di atas meja kami.
-Line Break!
"Setiap Wolfheim akan memimpin 8-14 Serigala, untuk itu kita harus siap menghadapi mereka."
Ditengah perjalanan kami bertiga menuju pos perburuan yang terletak di gerbang sebelah barat kota Muto kembali menjelaskan cara kerja tentang perburuan.
"Itu bagus. Semakin banyak jumlah kawanan, berarti kita juga akan memiliki tambahan uang yang sangat banyak."
"Tidak semudah itu. Sebuah party yang bertemu dengan kawanan Serigala itu berarti akan ada yang terluka atau meninggal dunia, karena itulah setelah kita sampai di pos kita akan mencari Marcenary lain untuk menambah kuota pasukan kita!"
"Tunggu dulu, bukankah lebih baik mengurangi mulut untuk diberi makan? Maksudku, kami bertiga saja pasti sudah cukup!"
Aku mencoba mengatakan sesuatu yang membuat Satoshi melotot horror kearahku.
"Mengalahkan Wolfheim membutuhkan 3-5 orang, belum lagi untuk mengatasi kawanan Serigala yang lainnya, kita membutuhkan beberapa orang untuk membantu peperangan kami."
"Hey, Satoshi, jika kita berniat mencari Marcenary lain, aku berharap kita akan hati-hati memilih mereka!"
"Kenapa kita harus hati-hati?"
Aku bertanya heran, mendengar nada suara Muto yang sedatar itu pasti ada sesuatu yang tidak menyenangkan dibalik kata-katanya.
"Tujuan kami memang sama-sama berburu taring Wolfheim, tapi asal kau tahu, tidak semua Marcenary sejujur itu! Sebagian besar Marcenary menyukai uang, untuk itu kita harus berhati-hati dengan jenis Marcenary yang tidak segan menjadikan kita Human Shields!"
Human Shields? Kau akan menjadi tumbal untuk keselamatannya sendiri, dan itu termasuk jenis penghianatan paling lazim dilakukan dikehidupan Marcenary,
Dalam acara perburuan seperti ini sudah pasti akan dijumpai praktek tersebut, apalagi jika dalam sebuah party mereka memiliki terlalu banyak anggota yang memaksa mereka untuk berbagi penghasilan.
Tidak terasa kami telah sampai di pos perburuan, dan disana aku bisa melihat beberapa Marcenary yang berkumpul dalam satu kelompok besar party untuk melakukan perburuan ini.
"Tunggu disini, aku akan melapor keterlibatan kita untuk perburuan ini!"
Muto berjalan maju, dia menghampiri pos dan langsung berbicara kepada seorang pria setengah baya berambut hitam berpakaian baju besi tentara resmi dari kerajaan (Soldier).
"Ada begitu banyak orang disini."
"Karena kota ini sangat rawan serangan Wolfheim maka setiap menjelang musim dingin Gubernur mengundang hampir semua Marcenary dari Provinsi Alicus untuk berpartisipasi dengan perburuan ini."
Serigala membutuhkan persediaan makanan untuk menghadapi musim dingin, jadi masuk akal jika sebelum musim dingin itu tiba mereka akan berburu persediaan makanan untuk mempertahankan hidupnya nanti.
"Kau tadi mengatakan Provinsi Alicus? Apakah ini nama kota yang sekarang kita tempati?"
"Nama kota ini adalah Voleil, sedangkan Alicus adalah nama yang dipilih oleh Gubernur untuk daerah kekuasaannya (Provinsi)."
Eastonia Empire, Provinsi Alicus dan kota Voleil. Aku baru saja mengetahui lokasi tempat diriku sendiri berada.
Hah...
...Ternyata aku membutuhkan beberapa wawasan lain untuk bertahan hidup di dunia asing ini, dan mungkin saja aku perlu bepergian kesana-kemari untuk menambah wawasanku ini.
"Apakah ini kelompok party milikmu?"
Muto datang kembali membawa Capt. Soldier di belakangnya.
"Aku tahu jumlahnya hanya sedikit, Sir, untuk itu kami berencana untuk mencari Marcenary lain untuk bergabung dalam perburuan kami."
"Sayang sekali, Muto, semua sudah mendaftarkan diri sebagai party. Mungkin kalian bisa menunggu Marcenary yang belum datang untuk memintanya bergabung bersama kalian!"
"Maaf, Sir, apakah ada batasan untuk jumlah anggota party itu?"
Aku hanya ingin tahu tentang jumlah anggota party untuk perburuan ini.
"Jumlah ideal untuk perburuan ini adalah 5-7 orang, lebih dari itu biasanya perburuan tidak akan membuahkan hasil yang maksimal."
Aku mengerti. Berburu tidak harus dilakukan oleh banyak orang, semakin banyak kau menumpuk pasukan, semakin kecil target buruanmu menampakan diri.
"Jika dalam waktu keberangkatan kita kau belum menemukan anggota tambahan, aku menyarankan untukmu membatalkan perburuan hari ini. Mengingat waktu perburuan masih semingggu lagi, kita tidak perlu membuang nyawa sia-sia!"
"Kami tentu tidak ingin ditendang pergi dari penginapan, Sir. Tapi maaf, kami akan bersikeras untuk ikut perburuan hari ini!"
Captain mencoba memperingati kami, namun Muto menjawab dengan bersikukuh jika meskipun kami hanya 3 orang kita akan tetap ikut dalam perburuan ini.
"Sir, orang itu tidak mau mencari anggota party, dia bilang dia ingin berburu sendiri!"
Salah-satu bawahan dari Soldier itu datang membawa kabar mencengangkan.
"Orang bodoh itu!"
Captain meminta bawahan untuk menunjukan orang itu, dan Muto sendiri langsung bergerak cepat mengikuti mereka untuk mencoba menarik orang itu bergabung bersama kedalam party kami.
Hanya butuh waktu 3 menit untuk mereka kembali, bawahan Captain menyeret seorang wanita kira-kira 20 tahunan yang merengek minta dilepaskan.
"Nah, apa yang mendasarimu ingin melakukan perburuan sendiri, young lady?"
Captain bertanya menyipitkan pandangan menatap wanita muda yang memiliki rambut coklat sebahu itu.
"Aku adalah putri dari keluarga pemburu Inuzuka, kami memiliki keterampilan berburu yang tidak ada duanya, kau pasti tahu kan tentang reputasi kami itu?"
Captain mengangguk sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Ya, aku tahu. Rumor menyebutkan bahwa Inuzuka dikatakan sebagai keluarga keturunan langsung dari Anjing Inugami, mereka diberkati dengan kemampuan indra yang sangat berguna untuk berburu. Tapi yang aku tahu, tidak ada Inuzuka yang pernah bergabung dengan perburuan milikku, karena itulah aku yakin kau juga belum tahu seberapa berbahayanya perburuan ini!"
"A- Apa? Kau meremehkan kami?"
"Aku tidak mengatakan itu! Begini saja, untuk hari ini aku ingin kau bergabung bersama ketiga orang ini sebagai pembelajaran agar kau tahu situasi perburuan ini. Kalaupun hari ini kau berhasil selamat, besok aku akan mengijinkanmu berburu sendirian."
"Kenapa aku harus berbagi hasil buruanku dengan oranglain jika aku bisa menguasai semuanya sendiri?"
Ya, aku sendiri setuju dengan pemikiran itu. Kita tidak perlu menambah mulut yang harus kita beri makan.
"Ini adalah acara milikku dan akulah yang memiliki semua peraturan dalam perburuan ini! Kau harus mau menerima kondisi ini atau aku sendiri tidak akan mengijinkanmu mengikuti perburuan ini!"
Setelah mengatakan itu Captain menoleh dan berbicara dengan Muto.
"Aku memberimu satu anggota tambahan, meskipun masih kurang aku hanya bisa berharap kalian tidak mati diluarsana!"
"Terimakasih atas kemurahan hatimu, Sir!"
Setelah mengatakan seperti itu kepada Muto dia beranjak pergi meninggalkan kami berempat.
"Jadi bagaimana, young lady?"
"Kau lihat sendiri jika aku tidak punya pilihan lain, jadi aku akan mengikuti apa yang dikatakan bandot tua yang menamakan dirinya sebagai Captain!"
-Line Break!
Kami telah memasuki hutan tenggara kota Voleil, dan dengan deteksi penciuman dari seorang Inuzuka kami berjalan lurus kearah barat dari tempat pertama kami memasuki hutan.
"Hey, Inuzuka, apakah kau tidak salah? Bukankah dengan berjalan sejauh ini kita semua akan sangat sulit untuk kembali? Bagaimana kalau nanti kita disergap oleh tidak hanya satu kawanan Wolfheim?"
"Jika ingin sukses dalam berburu adalah tidak takut mengambil resiko, dan kalaupun kita disergap, kita hanya harus membunuh mereka semua!"
"Berbicara tentang membunuh kawanan Wolfheim... Mungkin ini sudah terlambat, tapi bisakah penghasilan yang kita peroleh dibagi sama rata?"
"Maksudmu kita tidak akan memakai aturan lama?"
"Ya, tidak peduli siapa yang paling banyak membunuh seharusnya kita semua akan mendapatkan hasil yang sama."
Aku mengerti tentang ini. Setiap hasil perburuan biasanya akan dibagi sesuai dengan seberapa banyak dia membunuh, itu perarturan lama yang masih dianut oleh kebanyakan Marcenary.
"Oh, ayolah, apakah aku harus berbagi semua penghasilanku untuk orang tolol seperti kalian?"
"Ah, apa nyonya pemburu masih keberatan dengan usulan ini? Apakah nyonya pemburu merasa sangat percaya diri bisa membunuh lebih banyak dari kami semua?"
"Tentu saja, ini akan sangat merugikan untukku jika harus berbagi dengan orang tolol yang sama sekali tidak tahu dengan seni berburu!"
Kata-kata Inuzuka-san itu cukup mengerikan, dia sendiri mampu membuat kesabaran Satoshi surut dan hendak membuka sarung pedangnya.
Sangat disayangkan jika Inuzuka-san harus mati disini, namun jika dia tidak bisa diajak bekerja-sama, membunuhnya akan menjadi ide yang sangat bagus.
Kita tidak perlu menunggunya untuk melakukan penghianatan.
Satoshi mengeluarkan pedangnya dan hendak menebas Inuzuka-san. Inuzuka-san tidak tinggal diam, dia mengeluarkan senjata berupa pisau cakar dan memasangkannya di kedua tangannya.
Spraaat!
Darah berceceran dimana-mana, namun yang lebih mengejutkan adalah kehadiran dua ekor Serigala yang teronggok mati tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Semua bersiap! Mereka datang!"
Eh, jadi mereka tidak sedang mencoba saling membunuh? Aku menggaruk bagian belakang kepalaku, dan karena aku mendengar aba-aba itu akupun lekas meraih Kubikiribocho.
"Mereka ada dibalik semak-semak itu! 4 ditengah, 2 di kanan dan dua lagi di kiri!"
Jadi ini adalah apa yang dia sebut sebagai kebanggaan sebagai penglihatan seorang pemburu?
Aku sendiri sulit untuk melihat mereka, aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menyiapkan Kubikirbocho dan mendengarkan dengan seksama arahan yang Inuzuka-san itu katakan.
"Dia datang padamu! Raven, 2 dikanan sedang berlari menuju kearahmu! 2 sebelah kiri bergabung dengan barisan tengah, kau akan menghadapi 6 Serigala secara langsung Blondie..."
"...3 ...2 ...1 ...SEKARANG!"
Bersamaan dengan nyonya Inuzuka yang berteriak, 3 ekor Serigala langsung keluar dari semak-semak dan melompat hendak menerkamku.
Aku menebas satu Serigala yang sangat dekat dengan posisiku dan dua lainnya langsung terhempas jatuh menerima panah diantara matanya, menggelepar lalu mati.
"Berikutnya! Masih ada 3 dari mereka yang masih bersembunyi dibalik semak-semak!"
"Apakah mereka berniat untuk menyerang?"
-Inuzuka POV
Serangan kejutan mereka telah gagal, tapi apa ini? Bagaimana bisa mereka melakukan hal seperti ini? Mereka mundur? Itu tidak mungkin! Sekali mereka memutuskan untuk menyerang, maka naluri mereka sebagai binatang liar tentu akan terus maju untuk mendapatkan mangsa mereka.
"Guys, aku tidak tahu apa artinya ini, tapi mereka bertiga sepertinya memutuskan untuk mundur."
Mereka seolah memiliki kecerdasan sendiri untuk tidak mengambil resiko.
"Ini adalah karakteristik Serigala ini, mereka selalu menyerang tiba-tiba dan ketika serangan mereka gagal, mereka akan secepatnya mundur ketempat pemimpin mereka berada."
Mendengar kata 'pemimpin' yang dikatakan oleh Muto itu berarti Wolfheim.
Dia adalah target dan alasanku pergi sangat jauh dari rumah untuk mengikuti perburuan ini.
Aku mendengar tentang Wolfheim yang dikatakan memiliki ukuran tubuh yang sangat tidak wajar, dia hampir menyamai tubuh seekor Kuda dan disetiap kemunculannya dia akan mengakibatkan malapetaka untuk beberapa party perburuan ini.
Aku bukan Inuzuka lemah seperti yang para bajingan tua itu katakan, karena itulah aku perlu mendapatkan kepala Wolfheim untuk membuktikan kelayakanku.
-End
Setelah mendengar Inuzuka-san menyebutkan jika situasi sudah aman kamipun cepat mengumpulkan hasil buruan kami.
Aku mengeluarkan pisau dan memotong taring-taring Serigala yang sebelumnya kami bunuh, dan setelah aku selesai memotong taring ketiga Serigala itu akupun memutuskan untuk menyerahkannya pada Inuzuka-san untuk dikumpulkan.
"Baru putaran pertama, dan kita sudah mendapatkan 7 Serigala."
"Ya, sama sekali tidak buruk!"
Satoshi datang dan menyerahkan taring yang dia dapatkan dari 2 Serigala yang sudah dia bunuh.
"Aku ingin mendapatkan kepala Wolfheim, untuk itu kita harus semakin maju masuk kedalam hutan!"
"K- Kau bercanda?"
Satoshi menanggapi dengan nada penuh ketidakpercayaan.
"Apa kau tidak melihat hasil pertama yang kita dapatkan ini?" Inuzuka-san mengangkat kantong penuh dengan taring Serigala yang sebelumnya kami kumpulkan. "Seperti yang sebelumnya aku katakan, jika kita ingin sukses, kita harus berani mengambil resiko!"
"Meskipun aku sudah pernah membunuh Wolfheim, aku sendiri masih sedikit penasaran dengan Wolfheim ditempat ini."
Kataku mengingat kembali Serigala jejadian yang aku temui ditengah pelarian.
"Apakah itu benar? Kau pernah membunuh Wolfheim?"
"Tanyakan sendiri pada mereka!"
Aku menunjuk kedua teman perjalananku dan mereka menganggyk membenarkan.
"Bagaimana kau bisa bertemu dengannya? Aku dengar sangat sulit berjumpa dengan Serigala ini."
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya diperjalanan, dia kuat, sedikit sulit untuk membunuhnya!"
Itu memang benar. Tubuhnya sangat keras, ditambah dengan kecepatannya bereaksi membuatku sangat sulit untuk mengincar lehernya.
"Sudah aku putuskan."
Inuzuka-san mengatakan teka-teki yang sama sekali tidak kita pahami. Apa yang dia pikirkan? Mungkin hanya dia sendiri yang tahu jawabannya.
Kami kembali melanjutkan pencarian kami, dan seperti yang telah direncanakan, kami maju semakin masuk kedalam hutan.
Ditengah perjalanan kami menemukan dua onggok kepala Marcenary, kedua matanya melotot memandang seolah merasakan sebuah kesakitan yang tidak ada duanya.
Mereka mati dengan sangat mengenaskan, tidak ada tubuh dan hanya menyisakan kepalanya saja.
Tempat ini hancur dengan hiasan darah dan isi perut yang berceceran, aku bisa menyimpulkan bahwa serangan besar-besaran pasti sudah terjadi ditempat ini.
"Hoek~ Aku rasanya ingin muntah!"
Inuzuka-san memalingkan kepalanya, tangannya menutupi mulut dan tidak lagi melihat mayat tersebut.
Aku melangkah kedepan, mengambil Kubikiribocho dan menggali tanah dengan cara mencungkil permukaan tanah dengan ujung bilah tajam Kubikiribocho.
Setelah galian tanah sudah selesai aku lekas mengambil dua kepala dan isi jeroan yang berhamburan dengan daun untuk disatukan, aku akan menguburkan mereka dengan layak. Meskipun tanpa tubuhnya, aku harap ini akan cukup membuat mereka merasakan sedikit kedamaian dialam sana.
Setelah aku menancapkan batang tanaman yang aku bentuk menjadi sebuah 'Salib' aku duduk bersimpuh dan segera memanjatkan doa untuk kedamaian mereka yang telah meninggalkan dunia ini.
Dunia ini memang kejam, namun aku harap kalian akan merasakan kedamaian disamping Bapa', amin!
Selesai berdoa aku kembali berdiri dan berkumpul dengan angggota party-ku.
"Apa yang barusan kau lakukan?"
"Apa?"
Apa ada yang salah dengan apa yang aku lakukan? Tatapan mereka yang memandangku bingung membuatku bertanya-tanya dan tertular menjadi bingung sendiri.
"Sudahlah, sebaiknya kita cepat bergerak! Aroma darah akan menarik perhatian Wolfheim, dan kita tidak ingin berakhir dikelilingi sehingga membuat kita sulit untuk melawan!"
Inuzuka-san berseru dan meminta kami terus bergerak.
Pencarian kami dilanjutkan, dan hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk kami kembali bertemu kawanan Wolfheim.
Kawanan ini lebih besar dari sebelumnya, aku berhasil membunuh 2 Serigala dalam satu kali kesempatan.
"Berikutnya, mereka datang dari kedua sisi!"
Lebih cepat dari teriakan Inuzuka-san, 2 Serigala melompat dari kedua sisi untuk menyerang kami.
Satoshi yang berdiri disamping kananku memasang perisai sehingga membuat Serigala yang menyerang dari sisi kanan kami membentur perisai sebelum dia mati dengan kepala yang terputus akibat sabetan Kubikiribocho.
Satu lagi, Muto dan Inuzuka-san yang bertarung dengan busur panahnya berhasil mengenai telak kedua mata Serigala tersebut.
"Ini belum selesai! Empat lainnya kembali menyerang! Oh, tidak, apakah ini Wolfheim? Dua diantara mereka berukuran sangat besar!"
Empat Serigala yang dua diantaranya berbeda ukuran menerobos maju.
Satoshi mengangkat perisainya untuk menghalau Wolfheim, namun itu tidak berguna, kecepatannya tidak masuk akal sehingga membuat Satoshi terlempar ke belakang sebelum Wolfheim merobeknya dengan taringnya yang kuat.
Suara teriakan menggema, kami semua mulai panik ketika pertahanan yang dijaga Satoshi ditembus dengan mudah.
"Sial, Satoshi!"
Muto melepaskan beberapa anak panah untuk menyingkirkan Wolfheim yang sedang menumpuk tubuhnya diatas Satoshi.
-Inuzuka POV
Wolfheim sedang berlari mendatangiku, aku terus melepaskan anak panah namun itu tidak berguna karena Wolfheim sendiri terus melaju cepat dengan beberapa anak panahku melapisi tubuhnya.
Dia tidak mudah mati! Aku hanya menjerit tak mengerti.
Dua Serigala kecil melompat hendak menerkamku, dan aku hanya bisa membuang busurku dan bertarung dengan pisau cakar meilikku untuk membunuh mereka.
Serigala pertama berhasil dibunuh oleh Blonde-san, sehingga menyisakan satu lainnya untuk aku bunuh menembus dadanya dengan pisau cakarku.
Sekarang tinggal dua, dan mereka semua adalah Wolfheim.
Sangat cepat, Wolfheim yang sedari tadi aku dan paman tua ini serang berhasil menembus pertahanan disisi kanan.
Dengan mudah salah-satu dari mereka mengalahkan sipemegang perisai.
Suara teriakan kembali menggema, Wolfheim meraih tempat si paman tua dan membunuhnya.
Kedua rekan berburu kami berguguran, kini hanya tinggal aku dan Blonde-san yang terlihat sibuk bertarung dengan satu Wolfheim yang ikut menyerang kami.
Kita tidak bisa melawan mereka! Kita semua akan mati disini!
-End
Aku mengangkat Kubikiribochoku dengan sangat erat, aku bersiap menghadapi Wolfheim yang masih memutari tubuhku mencari celah untuk menurunkanku.
Satoshi...
...Aku tidak tahu, apakah dia sudah mati?
Aku pernah sekali menghadapi Serigala seperti ini, dia akan mendorong kedepan dengan cakar dan taringnya yang siap akan merobekku. Jadi kesempatanku satu-satunya adalah menghindar dan mengerahkan serangan balik untuk merobek lehernya.
Tapi ini tidak akan mudah, mereka begitu cepat sehingga jika aku sedikit lengah, aku akan berakhir mati ditangannya.
Dia datang...
...Melompat tinggi dia mererkam.
Aku bergeser kesamping untuk menghindarinya dan dalam waktu sepersekian detik aku mengayunkan Kubikiribocho untuk merobek lehernya.
Gagal...
...Seperti yang aku katakan, responnya sangat cepat sehingga Wolfheim berhasil menghindar terlebih dahulu dengan cara melompat kesamping kiri.
Ditengah pertempuran aku lagi-lagi mendengar teriakan horror, kali ini berasal dari tempat Muto.
Aku tidak perlu melihat situasi yang terjadi ditempat itu, aku tidak mungkin membiarkan Wolfheim didepanku memanfaatkan kelengahan itu untuk menyerangku dengan tiba-tiba.
Mereka telah memilih untuk mengikuti perburuan ini, itu berarti mereka juga sudah siap untuk mati.
Aku tidak boleh diam menunggunya untuk menyerang kembali, aku harus bergerak terlebih dahulu menyerang dan mengejutkannya.
-Inuzuka POV
Aku seorang pemburu, aku tidak boleh takut dengan target buruanku sendiri! Tapi...
...Kenapa tubuhku malah gemetar?
Wolfheim itu... Dia dengan kejam merobek leher paman tua, memisahkan kepala dari tubuhnya sendiri dia meraung seolah merasakan kesenangan tersendiri dari hasil tindakannya.
Setelah membunuh paman tua dia menoleh dan menatapku. Melihat kedua mata Wolfheim yang berwarna merah akupun cepat menarik Wakizashi dari belakang punggungku.
Aku mengacungkan Wakizashi didepan tubuhku, namun karena tubuhku yang gemetar membuat bilah Wakizashi itu bergoyang dan tak pokus.
Aku tidak mungkin bisa membunuh Monster itu seorang diri!
Aku dibuat terkejut dengan Wolfheim yang tiba-tiba berlari maju dan meraung memamerkan taringnya.
Aku melangkah mundur untuk menjaga jarak, namun karena sebongkah batang kayu yang tidak sengaja aku injak membuatku terjerembab jatuh ketanah.
Aku akan mati!
Wolfheim melompat untuk menerkam, namun pada saat bersamaan dia tiba-tiba berhenti dengan kepalanya terbang menyisakan tubuh besarnya yang jatuh tepat didepan kedua mataku.
"Jackpot!"
Aku mendongkak dan mendapati Blonde-san yang menumpu pedang besar berdarahnya diatas bahu.
Tadi...
...Kekuatan macam apa itu?
-End
Aku menarik Kubikiribocho yang masih tertanam dileher Wolfheim.
Seperti yang aku duga, mereka tidak terbiasa dengan lawan yang agresif.
Setelah aku selesai membunuh Wolfheim yang menjadi lawanku aku segera menoleh kearah Wolfheim lainnya masih bergerak bebas.
Melihat Wolfheim yang berjalan mengincar Inuzuka-san aku langsung bergerak cepat memotong jarak dengannya, dan ketika Wolfheim itu melompat menerkam aku langsung menebas lehernya dengan seluruh kekuatanku.
Tidak peduli seberapa cepat dan kuatnya dia, dia tidak akan bisa mengatasi lawan yang menyerangnya dari samping.
Dengan leluasa aku menyelinap dan menerbangkan kepalanya sehingga membuat Wolfheim itu langsung mati.
"Jackpot!"
Aku berseru membuat Inuzuka-san menatapku dengan pandangan terkejut.
"Apa kau baik-baik saja?"
Aku bertanya dan mengulurkan tanganku untuk membantunya berdiri.
"T- Terimakasih..."
Situasi sudah aman terkendali, dan setelah membantu Inuzuka-san berdiri akupun lekas mengumpulkan taring Serigala yang sebelumnya kami bunuh.
"Perburuan ini sudah tidak masuk akal lagi, sebaiknya kita segera pergi dan keluar dari hutan ini!"
Aku mengerti, untuk itu aku setuju dengan usulannya agar menghentikan perburuan ini. Kita hanya berdua, dan dengan hanya kami berdua resiko kematian menjadi sangat begitu tinggi.
Kita harus pergi keluar dari hutan. Tapi sebelum itu aku perlu mengumpulkan taring dan menguburkan dengan layak rekan seperjuangan kami, berdoa untuknya dan setelah itu kami siap pergi untuk keluar dari hutan ini.
Ketika kami berdua bersiap untuk pergi, Inuzuka-san berseru seolah melihat sesuatu yang aneh.
"Hey, lihat apa itu!?"
Aku mengikuti tatapannya, tidak jauh darisini aku bisa melihat sebuah asap merah mengepul yang membumbung tinggi dilangit.
"Bukankah itu suar asap?"
Ada 1 kemungkinan suar asap merah diledakan, kau sedang ada dalam bahaya dan membutuhkan sebuah bantuan.
"Kau pasti bercanda!"
Bukan hanya satu, suar asap merah kembali terlihat dari sebelah kiri kami.
"Ada dua party yang sedang mengalami kesulitan."
"Mereka terlalu dekat, apapun yang membuat party lain diambang krisis, cepat atau lambat mereka akan datang kesini!"
"Apa yang harus kita lakukan?"
Inuzuka-san mulai panik dan aku hanya terdiam.
"Kita hanya harus bersiap dan waspada!"
Kataku mengungkap situasi seurius yang melanda perburuan ini.
Aku meraih perisai milik Satoshi dan menggenggamnya ditangan kiriku. Ketika Serigala menerkam aku bisa menghalau dengan perisai ini, dan setelah itu aku akan menghabisi mereka satu persatu dengan Kubikiribocho.
"Mereka datang dari semak-semak samping kiri kita, jumlahnya um..."
"Sangat banyak, cara semak-semak bergoyang bisa memberitahu kami!"
Inuzuka-san langsung sigap memungut anak panah yang tercecer diatas tanah, dia menempatkannya diwadah belakang sedangkan dia menyisakan satu untuk dia lepaskan terlebih dahulu.
"Kau akan mati lebih dulu, aku bisa menunggu dibelakangmu!"
Inuzuka-san berkata dengan kata-kata yang memiliki arti bahwa dia akan menjadi pilar pendukung dengan busurnya.
"Aku tidak akan mati!"
Aku mengeratkan peganganku untuk kedua senjataku.
Mereka semakin dekat, tidak seperti kawanan sebelumnya. Mereka memiliki jumlah hampir 30 ekor, kemungkinan 1 atau 2 Wolfheim berada diantara mereka.
Aku pernah melalui keadaan yang hampir serupa dengan ini, aku telah melalui permainan Royal Rumble 2x di lubang hitam itu, dan bagiku...
...Kawanan Serigala tanpa otak tidak akan bisa menghentikanku.
xxxxxxxxxxxxxxxxTO BE CONTINUEDxxxxxxxxxxxxxxxxxx
-Biodata-
Nama: Naruto.
Usia: 17 tahun.
Uang: 1 gold, 72 silver, 43 copper.
Senjata: Kubikiribocho.
Armor: Pakaian dalam berjaring besi, sarung tangan kulit, sepatu kulit dan perisai (Satoshi).
Mitra: Mittle (Hidup), Inuzuka (Hidup), Satoshi (Mati), Muto (Mati).
