CHAPTER TWO: REDEMPTION
.
.
"Oh Lord. Give me one more chance."
x
"My Lord. Once more, I shall raise this flag, for this country's—no, this world's salvation."
.
.
Setelah kedua matanya terpejam begitu melihat master yang disayanginya meregang nyawa di atas kedua tangannya...
...Amakusa Shiro Tokisada tak pernah menyangka dia akan membukanya dan melihat tempat yang berbeda.
Berdiri di tengah balutan cahaya yang memanggilnya, Shiro memegang sarung pedang miliknya dengan erat. Kemudian dia melihat ke sekelilingnya. Orang-orang di sana yang dia perkirakan adalah manusia 'masa depan' atau bahkan mungkin para calon master-nya itu memperhatikannya dalam diam. Di sekitar mereka ada banyak mesin-mesin berbentuk kotak hingga bulat dengan layar bercahaya yang tidak dimengerti oleh Shiro.
Teknologi... sudah semakin maju, huh?
Kejadian ini bukan pengalaman yang aneh untuk arwah pahlawan yang seharusnya sudah mati ratusan tahun yang lalu seperti dirinya. Sejak dirinya setuju menjadi servant di depan para penguasa cawan suci, Shiro siap dipanggil kapanpun dan dimanapun selama ada master yang bisa memanggilnya.
Walau sejujurnya, Shiro sedikit merasa tak terima karena kali ini dia dipanggil tepat setelah melihat kematian Einzbern—master-nya dulu.
Saat laki-laki berambut putih itu terdiam tanpa tahu harus melakukan atau menanyakan apa, salah satu dari manusia yang mengenakan baju putih dengan sabuk hitam di bagian depannya itu berjalan mendekatinya. Menjulurkan sebelah tangannya, dia tersenyum pada Shiro yang masih melihatnya dengan ekspresi datar.
"Selamat datang, Amakusa Shiro Tokisada." Ucap pria itu dengan senyuman ramah. Shiro tidak membalasnya, dia hanya melihat ke arah tangan yang dijulurkan kepadanya itu. Menyadari Shiro tidak akan membalas jabatan tangannya, pria misterius tersebut beralih menyentuh dada bidangnya, "Ah maaf, saya lancang sekali. Biarkan saya memperbaiki kata-kata saya."
Dia kini sedikit membungkuk pada mantan pahlawan di masa lalu tersebut.
"Selamat datang, Ruler."
Mendengar nama kelas itu membuat Shiro membulatkan kedua bola matanya dan sedikit membuka mulutnya. Setelah pria di depannya berdiri tegak lagi, Shiro bergumam pelan, "...Begitu. Di dunia ini pun aku adalah ruler, huh..." senyuman pria di depannya yang seakan menyetujuinya membuat Shiro ikut tersenyum kecil.
"Yah, aku memang masih bisa merasakannya di tubuhku. Tapi, diucapkan langsung seperti itu tetap lebih meyakinkan," ujar Shiro dengan tenang. Dia melangkah maju mendekati pria di depannya, "lalu, apa yang harus kulakukan di sini?" tanyanya entah pada siapa ketika kedua matanya menangkap mata-mata lain yang memperhatikannya.
"...Siapa master-ku?"
Pertanyaan yang jelas.
Namun, tak ada yang langsung menjawab. Pemuda beriris biru tua yang tadi menghampirinya kini ikut berjalan di dekatnya, "Aku... master-mu."
"...Kau?"
"Ya, namaku Ritsuka Fujimaru," ucap laki-laki yang juga berambut hitam tersebut. Saat dia memegang dadanya, Shiro dapat melirik banyaknya segel kontrak yang terletak di tangannya... dan mungkin masih ada lagi di balik baju lengan panjangnya tersebut.
Shiro menggerakkan tubuhnya, berdiri sejajar dengan pria yang sedari tadi mengajaknya bicara. Sementara dia bisa melihat orang lain di sekelilingnya mulai sibuk sendiri dengan pekerjaan mereka masing-masing, seakan akhirnya mereka bisa melakukan tahap selanjutnya setelah berhasil memanggil servant kelas ruler tersebut.
Aneh sekali.
Sebenarnya sudah berapa tahun berlalu... sejak perang besar cawan suci ketiga?
Seolah mencoba menjawab pertanyaannya, Ritsuka tersenyum ramah melihat Shiro, "Tempat ini adalah organisasi keamanan yang disebut Chaldea," dia berjalan menuju salah satu jendela besar di ujung yang memperlihatkan pemandangan di luar gedung yang dikelilingi oleh salju, "kami telah berhasil membuat sistem yang mengizinkan kami untuk melakukan panggilan servant kapanpun kami membutuhkannya. Dan kau adalah salah satunya, Amakusa Shiro—"
"Sejujurnya, daripada nama itu, aku lebih mengharapkanmu untuk memanggilku Kotomine Shiro." Potong Shiro cepat. Meski dengan senyum di wajahnya, lawan bicaranya dengan cepat menangkap nada mengancam dari suaranya yang terdengar tenang, "Sedari tadi kata-katamu tidak ada yang kumengerti. Tapi, jika aku tidak salah tangkap, ini berarti aku tidak dipanggil untuk cawan suci, benar, 'kan?"
Ritsuka hanya diam dan mengangguk.
"Kalau begitu, bagaimana dengan memanggilku bisa membuat organisasi ini menyelamatkan dunia?"
Jeda sejenak sebelum pria berambut hitam spike di depannya menjawab, "Sesuai perkataanmu, ruler. Organisasi ini tidak bertujuan untuk mengincar cawan suci seperti yang selalu dilakukan di perang-perang sebelumnya. Tapi, bukan berarti cawan suci sama sekali tidak ada kaitannya dengan tujuan kami," dia membuka tangannya lalu melakukan gerakan yang mengiringi setiap penjelasannya.
"Selain menjadi markas, tempat ini juga merupakan laboratorium organisasi teknologi yang semakin maju, kami juga telah menemukan cara untuk melakukan perjalanan waktu."
Mendengar ini, Shiro bisa merasakan kedua bola matanya membulat sekilas.
"Dari penemuan ini kami juga menemukan kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa terjadi selama cawan suci ada di dunia ini," wajah pria yang menjelaskan itu perlahan tapi pasti berubah menjadi serius, "fakta yang paling mengerikan adalah bahwa cawan suci bisa dimanipulasi oleh kekuatan jahat. Dan hal ini menyebabkan para servant yang terlibat dengan cawan suci tersebut terkorupsi. Pikiran mereka diambil alih dan kesadaran mereka diputar balikkan sehingga mereka memiliki kepribadian yang berbeda 180 derajat dari aslinya."
Anggota Chaldeaitu menahan napasnya.
"...Para servant yang terkorupsi itu disebut alter."
Dia mengernyitkan kedua alisnya dan menatap Shiro yang mulai mengerti ke arah mana pembicaraan ini akan berakhir.
"Dan para servant alter itulah yang harus kau lawan."
Shiro tidak menyela, membiarkan pembicara itu mengambil waktunya, "Mereka hanyalah pahlawan terkorupsi yang membiarkan jati diri mereka menjadi hitam sepenuhnya. Bahkan mungkin tak pantas menyebut mereka pahlawan karena yang ada di kepala mereka hanyalah keinginan untuk menghancurkan. Menginginkan akhir dari peradaban umat manusia."
"Tujuan kami adalah mencegah hal itu terjadi," akhirnya dia tersenyum lagi, "organisasi Chaldeabisa mendeteksi kekacauan yang dapat mengganggu masa depan. Lalu kami akan mencari tahu penyebabnya di masa lalu dan mengirim para servant yang kami panggil untuk pergi ke sana dan melakukan tugas mereka. Para master bisa mengawasi gerakan kalian dari sini atau ikut bertarung bersama kalian kemudian memberi arahan yang dapat membantu kalian menyelesaikan misi yang diberikan."
"...Kalian?" tanya Shiro pelan.
Kata itu membuat pria misterius tersebut berhenti seolah menyadari apa yang baru saja dia katakan. Lalu dia tertawa kecil, "Tentu saja. Kau tidak mungkin mengira bahwa hanya kau yang dipanggil 'kan, ruler?"
Shiro menggeleng pelan dan tersenyum, "Memang tidak. Tapi..."
Pria berambut putih itu memejamkan kedua matanya. Sejak datang ke dunia ini... rasanya ada lagi yang aneh selain kemajuan teknologi yang sedikit mengganggunya.
Ingatan... yang seharusnya tidak pernah dimilikinya.
Kembali terbayang pemandangan samar-samar yang entah bagaimana bisa berada di dalam kepalanya. Saat suatu perang cawan suci yang cukup besar terjadi, bagaimana kubu saat itu terbagi dua, para servant dan master yang berpartisipasi, semua pertarungan yang telah terjadi di depan matanya, hingga para manusia yang dibunuhnya karena telah menghalangi tujuannya.
Lalu kekalahannya yang telak berkat dua manusia dari kubu lawan yang di luar perkiraannya.
Ya. Dua manusia namun juga bukan 'manusia'.
Yang salah satunya memang dipanggil... untuk menghentikannya.
Tapi, gambar yang dilihatnya ini bukanlah ingatan selama dia berada di perang cawan suci ketiga. Kalau begitu, kemungkinan yang paling besar adalah—
"...tidak. Bukan apa-apa. "
—ini ingatan dari perang yang seharusnya terjadi di antara perang cawan suci ketiga dan dunia Grand Order tempatnya berada sekarang.
Pemuda Chaldeaitu memiringkan kepalanya dengan bingung, "Oh? Baiklah, kalau begitu ada pertanyaan lagi?"
"Tidak juga." Ruler yang memakai pakaian pendeta tersebut menghilangkan pedang di tangannya sebagai tanda bahwa dia telah sedikit melonggarkan kewaspadaannya pada master-nya tersebut, "Aku yakin kau sudah tahu apa tujuanku sehingga bisa memanggilku ke dunia ini untuk membantu kalian, 'kan?"
"Menyelamatkan seluruh umat manusia."
"Benar," Shiro tersenyum, "selain itu, kau tetap master-ku, jadi aku akan melakukan apapun perintahmu." Jeda sejenak, "Meski itu artinya aku harus bekerja sama dengan para servant yang sedikit menyusahkan." Ucap Shiro lagi untuk menyindir banyaknya segel kontrak di tubuh Ritsuka.
Mendengar kata-kata ini, pemuda tersebut kehilangan senyumannya—meski dia tidak menangkap maksud sindiran Shiro, "Ah, apakah ada servant dari masa lalu yang tidak ingin kau temui?" tanyanya polos.
Pertanyaan yang membuat Shiro membuka sedikit mulutnya. Sementara anggota Chaldeadi depannya terlihat bingung, wajah seseorang terlewat di kepala Shiro, tersenyum sedih dan memanggil nama pendeta tersebut. Wajahnya tidak terlihat begitu jelas karena suatu bayangan hitam yang seperti menutupi kedua matanya.
Wanita berambut pirang dan dikepang panjang itu menjulurkan tangannya ketika dia meminta Shiro untuk menghentikan ambisinya selama enam puluh tahun.
"Amakusa Shiro."
...dan suaranya menggema dengan sangat jelas mengenai gendang telinga pria suci berambut putih itu.
Untuk yang ke sekian kalinya, Shiro menyipitkan kedua matanya dan tertawa kecil.
"Tidak ada. Justru sebaliknya."
Meraih kalung salib yang menggantung di depan dadanya, Shiro menggenggamnya dengan erat menggunakan kedua tangannya. Menundukkan sedikit kepalanya, dia justru memejamkan kedua matanya dan memasang ekspresi serius.
Seolah dia sedang berdoa pada yang Maha Kuasa di atas sana...
"Jika aku diberi kesempatan lagi..."
...mengharapkan segala kebaikan. Untuk dirinya, untuk para master barunya, untuk dunia ini, untuk seluruh umat manusia.
Dan untuk—
"...aku ingin menebus dosa ini."
.
.
.
.
.
Fate/Apocrypha & Fate/Grand Order © TYPE-MOON
Story (crack-missing-scene) © Kira Desuke
Main Pair : ShiroJeanne (Amakusa Shiro Tokisada x Jeanne d'Arc)
Genres : Romance/Angst/Hurt/Comfort
Rate : M
Warnings : Sexual & Violence scene, semi-OOC, harsh languages
.
Fanfic Commission for Rei
.
.
.
"Next time, I will not forget the bigger picture."
x
"Order has gone up in flames and so much purpose has been lost."
.
.
.
SAINTS
.
.
.
Walau pada awalnya kedatangan Shiro terlihat disambut baik, pada akhirnya semua yang terlibat segera menyadari bahwa sosok ruler berambut putih yang dalam sejarah sempat mengacaukan the Great Holy Grail war itu... keberadaannya ternyata menimbulkan kontradiksi di dalam dunia Grand Order.
Kotomine Shiro belum pernah melihat langsung master yang memanggilnya, bahkan dia sudah berhasil mengerjakan cukup banyak misi. Namun kini dia harus melihat para manusia yang mengaku sebagai 'master'-nya itu seenaknya memperdebatkan eksistensinya.
Tapi, sebagai servant yang masih belum menemukan tujuan sejatinya di dunia ini, Shiro hanya bisa diam dan menghela napas mendengarkan pendapat mereka semua.
Pada dasarnya keinginan Shiro tak pernah berubah yaitu kepemilikan cawan suci sendiri demi mengabulkan keinginannya yang tertahan sejak masa lalu menyakitkan yang pernah dialaminya di perang cawan suci Fuyuki yang ketiga. Hanya saja selama dia terjebak di dunia Grand Order dimana dia hanya bisa kembali ke masa-masa dimana cawan suci tersedia itu dengan bantuan teknologi canggih, dia tak akan bisa melakukan apapun.
Akhirnya yang bisa Shiro lakukan hanyalah diam dan menunggu.
Dia adalah servant yang bahkan bisa sabar menunggu enam puluh tahun untuk ambisinya. Tidak mungkin dia tidak bisa melakukan itu untuk yang kedua kalinya.
Lagipula seharusnya kali ini... tidak akan ada yang bisa menghalanginya—
"Bagaimana dengan perang Orleans?"
"Seharusnya dia sudah dipanggil ke sini sekarang dan akan menyusul. Ritsuka Fujimaru dan Mash Kyrielight sudah melakukan perjalanan mereka dari organisasi Chaldea di London."
"Dia?"
"Kau tahu, pahlawan besar yang terkenal dari Perancis itu—"
Shiro mengalihkan perhatiannya dari pembicaraan orang-orang yang sibuk berdebat di depannya itu ke arah dua anggota Chaldea lain di belakangnya. Entah kenapa pembicaraan mereka terdengar lebih menarik. Membuka mulutnya sedikit, pemuda yang mengenakan pakaian pendeta itu berjalan mendekat tanpa diketahui pria dan wanita yang bersangkutan.
"Itu artinya dia dipanggil di laboratorium ini?"
"Ya, jika lancar seharusnya dia sudah berada di ruang pemanggil servant sekarang."
"Tapi, sedari tadi belum terdengar bel penanda kehadiran, 'kan?"
"Mungkin sebentar lagi."
Lalu tepat setelah mengatakan itu, bel tanda bahwa servant baru telah hadir akhirnya dibunyikan. Keduanya reflek mengangkat kepala, menoleh ke arah sumber suara. Begitu pula Shiro.
"Oh, itu—" sang pria yang baru saja akan mengatakan apa isi pikirannya itu tersentak melihat Shiro yang tiba-tiba berjalan cepat ke arah ruang tempat servant biasa dipanggil, "—eh tunggu, ruler?" ucapnya yang tentu saja tidak dihiraukan oleh Shiro yang terus berjalan menjauh.
Perlahan tapi pasti langkah Shiro semakin cepat. Kedua iris matanya yang berwarna hitam keemasan itu terus menatap lurus jalan yang telah dihafalnya. Tanpa dia ketahui, kedua orang yang menyadari kepergiannya itu kembali melanjutkan pembicaraan mereka.
"Hei, soal servant baru yang akan datang membantu Ritsuka dan Mash itu..."
Kata-kata wanita di sampingnya membuat pria yang sedari tadi masih mengamati punggung Shiro tersebut menoleh ke arahnya.
"...aku dengar dari atasanku, kelasnya juga..."
Di sisi lain, Shiro telah sampai di depan pintu ruangan tujuannya lalu dia membukanya perlahan. Dari sudut ini, Shiro dapat melihat punggung dengan rambut pirang panjang yang dikenalinya. Sosok itu berdiri dengan para anggota Chaldea yang mendampinginya di sisi kanan dan kirinya.
Mendengar suara pintu yang terbuka membuat orang-orang di dalam sana menoleh.
Begitu pula dengan wanita yang membelakanginya tersebut. Saat dia hendak membalikkan tubuhnya, Shiro juga berjalan mendekat untuk melihat lebih jelas... dan memastikan bahwa perkiraannya benar.
Iris violet yang indah milik wanita itu menatapnya dalam. Ornamen topeng kepala yang dia kenakan bergerak mengikuti gerakannya ketika dia berdiri menghadap Shiro yang telah berhenti melangkah, "Kau..."
Benar. Suara itu.
Suara yang selalu menghantuinya... sejak dipanggil ke dunia ini.
Shiro sedikit mengernyitkan kedua alisnya. Entah kenapa ada perasaan asing yang sedikit mengusiknya. Dia merasa pernah merasakan ini sebelumnya namun di sisi lain... tidak juga, "Apa kita... pernah bertemu sebelumnya?" tanyanya dengan nada yang berusaha sopan.
Pertanyaan tersebut membuat wanita cantik itu mengerjapkan kedua matanya. Tersenyum sedih, dia sedikit menundukkan kepalanya, "Begitu... kau memang tidak ingat ternyata." Gumamnya. Shiro menaikkan sebelah alisnya.
"...Maaf?" tanya Shiro ketika tak dapat mendengar kata-kata wanita di depannya dengan jelas.
Servant wanita itu kehilangan senyumannya meski hanya sesaat. Dia kembali melirik Shiro yang memiringkan kepalanya dengan bingung. Lama dia memperhatikan wajah Shiro sampai akhirnya dia menyipitkan kedua matanya dan tertawa kecil.
"Yah, cepat atau lambat kau juga akan ingat," ucapnya dengan nada ambigu. Shiro membuka mulutnya sesaat sebelum menutupnya lagi. Tidak tahu apa yang perlu ditanyakan ketika dia sendiri tidak tahu pasti topik apa yang mereka bicarakan.
Mereka terus terdiam dengan posisi yang saling berhadapan itu, sampai suara bel kembali berbunyi. Shiro dan wanita tersebut menoleh lalu beberapa anggota Chaldea mendatangi mereka dan memberi tahu soal kabar Orleans yang Shiro dengar sebelumnya. Wanita itu mengernyitkan kedua alisnya serius dan mengangguk.
"Aku harus segera pergi," ucapnya. Dia kemudian tersenyum lembut pada Shiro, "jika kau ingin bertanya, aku akan mencoba menjawab sebisaku. Sampai bertemu lagi nanti, Amakusa Shiro."
Setelah mengucapkan itu, wanita yang membawa tiang bendera dengan kain yang dilipat di bagian atasnya tersebut mulai lari ke arah pintu diikuti para petugas di Chaldea. Shiro mengerti bahwa wanita itu akan pergi sebagai bala bantuan yang dikirim untuk membantu master-nya sendiri di sana. Namun, sebelum itu—
"Tunggu dulu," panggil Shiro cepat. Wanita yang mengenakan kain biru tua yang dipadukan dengan armor tersebut berhenti dan menoleh, "siapa namamu? Bagaimana kau bisa tahu... namaku?" tanyanya sedikit ragu di akhir. Bersamaan dengan suara yang langsung muncul di kepalanya.
"Tentu saja dia tahu. Sebagaimana kau yang juga seharusnya tahu namanya."
Kedua bola mata Shiro membulat kaget. Tangannya bergerak untuk menggapai wanita itu yang telah berdiri beberapa meter di depannya.
Perasaan berdosa ini... muncul lagi.
Bagaimana bisa?
Dosa apa yang sebenarnya telah dia lakukan?
Wanita itu tersenyum lagi perlahan tapi pasti. Dia menyipitkan kedua matanya senang.
"Nama asliku Jeanne d'Arc." Berdiri tegap dan meletakkan ujung bendera di atas lantai, Jeanne sedikit memiringkan kepalanya, "Aku juga ruler. Sama sepertimu, Shiro."
Lalu Shiro membuka mulutnya. Kepalanya terasa sakit seketika begitu dia merasakan tusukan ingatan yang sangat kuat.
Sosok wanita—bukan—sosok Jeanne d'Arc yang terbaring setelah dia melemparkan jurusnya. Dan juga api yang berkobar di sekitar mereka.
Pria berambut putih itu masih membulatkan kedua bola matanya sebelum dia menarik kembali tangannya ketika Jeanne menghilang di balik pintu. Meninggalkan Shiro yang tenggelam dengan pikirannya sendiri. Pria itu menatap kedua tangannya sendiri dan menutup rapat mulutnya.
"Apa kau ingat sekarang?"
Suara asing itu kembali menggema di dalam kepalanya
"Kau yang membunuhnya, Shiro."
Tidak.
Ini tidak... mungkin.
Terkesiap, entah mengapa mendadak Shiro berlari dengan cepat. Para anggota Chaldea yang ada di sana melihatnya kebingungan namun tak dapat menghentikannya. Jeanne sendiri terlihat kaget dan reflek memasang posisi siap bertarung dengan kedua kaki yang terbuka lebar dan tiang bendera yang dia genggam dengan erat.
"Tunggu dulu, Amakusa Shiro! Sekarang bukan—"
Namun, Jeanne tak bisa melanjutkan kata-katanya ketika Shiro yang dia pikir akan menyerangnya itu mendadak memegang kedua bahunya dengan erat. Ujung hidung mereka bahkan nyaris bersentuhan ketika Shiro memajukan wajahnya untuk menatap Jeanne lebih dalam.
Iris hitam keemasan itu menenggelamkan dirinya pada violet di depannya.
Ekspresi Shiro terlihat datar, meski dengan bibir atas dan bawahnya sedikit terpisah. Pendeta itu terus berusaha memperhatikan wajah di depannya, seolah mencoba menilai dan memahami sepenuhnya setiap lekuk dan titik di wajah Jeanne yang baru ditemuinya.
Kedua mata Jeanne bergetar dan mengerjap beberapa kali. Perlahan tapi pasti, pada akhirnya holy virgin itu tidak tahan dan menunjukkan wajahnya yang memerah. Dia tak pernah ditatap selekat dan sedekat ini sebelumnya oleh lawan jenisnya tersebut. Bahkan tidak sebelum dia menjadi salah satu arwah pahlawan.
...Apalagi pria ini adalah seseorang yang menjadi musuh di kehidupannya sebagai servant di perang sebelumnya.
"Shi-Shiro—"
Dengan sedikit gerakan berontak tak nyaman dari Jeanne, Shiro segera menyadari apa yang baru saja dia lakukan lalu melepaskan tangannya dari bahu Jeanne, "Oh... maaf," gumam Shiro pelan. Dia menurunkan kedua tangannya dan mulai melihat ke arah lain dengan salah tingkah. Tak beda jauh dengan Jeanne yang juga ikut menundukkan kepalanya dan memainkan kedua tangannya sendiri.
Seperti dua anak kecil yang baru saja bertemu setelah sekian lama hingga lupa bagaimana caranya menyapa satu sama lain dengan benar.
Keduanya segera menyadari mereka ada di situasi yang kaku tanpa tahu siapa dulu yang harus memulai. Yang pasti... dari sentuhan dan tatapan Shiro sebelumnya, Jeanne tahu dia menyadari sesuatu.
"Kau... ingat?"
Shiro terlihat menahan napasnya sesaat sebelum dia mendengus pelan. Senyuman di bibirnya terlihat ambigu ketika dia menatap Jeanne yang balik melihatnya dengan kedua alis yang tertarik ke sudutnya masing-masing karena penasaran. Terlebih ketika Shiro tiba-tiba tertawa kecil hingga menyipitkan kedua matanya.
"A-Apa sih?" Jeanne bertanya dengan wajah memerah antara kesal dan malu. Bingung apa yang membuat Shiro tertawa. Sebelah tangannya mengepal di depan dadanya yang tertutupi armor miliknya, "Kenapa kau tertawa!? Aku bertanya padamu, apa kau sudah ingat?"
Shiro berhenti tertawa lalu membuka mulutnya, "Bagaimana menurutmu?" jawaban yang terdengar menggantung itu membuat Jeanne nyaris jengkel dan hendak menekan ruler di depannya tersebut sampai Shiro kembali memotongnya, "Apa kau yakin ingin lebih lama lagi di sini? Kau harus segera pergi, 'kan?" tanyanya.
"Master-ku... bukan—"
Shiro tersenyum lembut lalu mengangkat sebelah tangannya. Dia menepuk kepala Jeanne yang tidak tertutup armor dan mengelusnya pelan.
"—master kita sudah menunggumu."
Ucapan pendeta berambut putih di depannya membuat Jeanne tersadar. Warna merah di kedua pipinya menghilang dan dia kembali memasang ekspresi seriusnya. Wanita berambut pirang panjang dan dikepang itu mengangguk.
"Aku akan segera kembali," ucap Jeanne pelan. Shiro menarik tangannya dan di saat yang bersamaan Jeanne tersenyum lalu menunjuknya, "nanti jelaskan padaku apa maksud jawabanmu, Amakusa Shiro!" teriaknya.
Lalu sebelum Jeanne benar-benar pergi, Shiro kembali memanggilnya, "Jeanne."
Berhenti lagi, Jeanne hanya menolehkan kepalanya ke belakang.
"...Maaf ya."
Kata-kata itu membuat Jeanne membuka mulutnya kemudian menutupnya lagi. Sekilas, dia tersenyum penuh arti sebelum berlari keluar melanjutkan perjalanannya bersama dua anggota Chaldea yang mengiringinya.
Shiro menatap kepergian Jeanne lalu melambaikan tangannya pelan tanpa menghilangkan senyuman dari wajah teduhnya. Wanita itu pergi menuju perang Orleans. Dimana Jeanne akan dipertemukan dengan lawan yang hanya bisa dihadapi olehnya. Jeanne d'Arc versi alter. Ruler yang telah terkontaminasi oleh kebencian para manusia di waktu yang lain dan akhirnya menjadikannya sebagai servant kelas avenger.
Walau situasinya cukup darurat, entah kenapa Shiro percaya dari lubuk hatinya yang terdalam bahwa Jeanne pasti bisa mengatasi semuanya. Baik melindungi master mereka maupun mengalahkan Jeanne alter. Dia percaya Jeanne akan kembali karena itu dia akan menunggu sampai kapanpun.
Tanpa ada yang bisa melihatnya, Shiro tersenyum lembut.
Ya.
Sekarang situasi mereka telah berbeda.
Sekarang semua bisa mereka mulai kembali.
Mungkinkah... Tuhan mengabulkan permohonannya kali ini?
#
.
"I will remove all obstacles, enemies, and suffering in my path."
x
"Our future vanished in but a second."
.
#
Menurut catatan sejarah yang diberikan padanya di organisasi Chaldea ini... Kotomine Shiro pernah dipanggil setelah perang ketiga cawan suci—saat Einzbern terbunuh—untuk mengikuti perang yang lebih besar dan terdiri dari dua kubu, yaitu kubu merah dan hitam.
Lalu berdasarkan catatan itu pula, dia berkhianat dan menjadi coretan sejarah besar yang membuat keberadaannya menimbulkan konflik di antara para master di Chaldea.
Meski begitu, Shiro akhirnya bisa memastikan bahwa potongan ingatan yang dia dapat memang benar adanya. Setelah dia mempercayai itu, perlahan tapi pasti serpihan memorinya telah terkumpul sehingga Shiro bisa mengingat keseluruhannya.
Dan tentu saja... Shiro sekarang ingat apa dosanya.
Sudah beberapa waktu berjalan sejak perang Orleans selesai dan kemenangan diraih oleh pihak Chaldea yang diwakilkan Ritsuka, Mash, Jeanne, dan para servant pendukung lainnya. Sampai misi berikutnya ditentukan, mereka semua bisa bersantai terlebih dahulu di markas dengan fasilitas lengkap.
Tentu saja untuk sebagian besar anggota, hal ini adalah sesuatu yang sangat menguntungkan. Tapi, ada juga sebagian anggota Chaldea yang khawatir terutama pada para servant yang memiliki latar belakang buruk terhadap satu sama lain. Kalau tidak diawasi, bukan hal yang tidak mungkin para servant tersebut bertarung hingga menghancurkan markas mereka yang seharusnya aman, tentram, dan damai.
Amakusa Shiro Tokisada dan Jeanne d'Arc seharusnya adalah salah satunya.
Semua anggota Chaldea sudah mempersiapkan diri jikalau terjadi kemungkinan-kemungkinan terburuk di antara pasangan ruler tersebut. Begitu pula dengan Ritsuka selaku master mereka berdua. Tapi—
"Kau ini terlalu santai! Bagaimana kalau tiba-tiba cawan suci terkorupsi lagi dan kita belum siap!?"
"Jeanne, kau sendiri yang bilang bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Kita semua akan baik-baik saja selama kita percaya pada-Nya."
"Tapi, bukan berarti kita hanya bisa menyerahkan diri pada-Nya! Kita juga harus bisa—"
"Ah ah, coba lihat jam berapa ini. Kita belum berdoa lho."
"Eh? Tunggu, Shiro! Aku belum selesai bicara!"
"Sudahlah, sudah. Kau tidak akan mau doamu terpotong jika tiba-tiba master membutuhkan kita, 'kan?"
"Uuh..."
Pada akhirnya perdebatan keduanya terselesaikan setelah Shiro mendorong bahu Jeanne. Berjalan mengarah ke ruang doa yang telah disediakan oleh pihak Chaldea. Entah keduanya sadar atau tidak saat semua orang melihat ke mereka dengan ekspresi yang campur aduk meski akhirnya menghela napas dan tersenyum lega.
—yah, setidaknya mereka lebih akur dari dugaan.
Merasa tak ada yang perlu diperhatikan lagi, orang-orang di sekitar mereka mulai menyebar untuk mengurusi urusan masing-masing. Setelah tak ada lagi yang memperhatikan mereka, Shiro sedikit melihat keadaannya sebelum dia tertawa kecil dan melepaskan bahu Jeanne. Berjalan di samping wanita yang telah mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana legging yang menyesuaikan bentuk kakinya tersebut.
Melihat Shiro di sampingnya, Jeanne sempat menoleh sebelum kembali melihat depan. Mereka berdua tenggelam dalam keheningan. Shiro masih terlihat tersenyum tanpa mengalihkan perhatiannya dari depan, kedua anting yang berbentuk seperti segel kontrak itu terlihat bergerak di setiap langkahnya.
Menyadari Jeanne terus memperhatikannya, Shiro akhirnya menoleh, "Ada sesuatu di wajahku?"
Sedikit terkejut karena tertangkap basah, Jeanne terkesiap dan buru-buru menghadap depan. Sementara Shiro memiringkan kepalanya bingung, Jeanne memainkan kedua jari telunjuknya, "Tidak, itu... anu..." wajah wanita yang pernah menjadi pahlawan Perancis itu terus memerah. Kedua matanya melihat ke kanan dan kiri hingga atas ke bawah, "...ingatanmu sudah benar-benar kembali semua, 'kan?" tanyanya terbata.
"Hm..." Shiro melihat ke arah lain seperti memikirkan pertanyaan tersebut, "...sepertinya iya."
"Ka-Kalau begitu—" mendadak Jeanne mengambil langkah cepat ke depan Shiro dan mendongakkan kepalanya untuk melihat pemuda berambut putih tersebut, "—aku harus menanyakan padamu dan kau harus menjawabnya. Mengerti!?" teriak Jeanne tiba-tiba.
Shiro hanya mengangguk dengan bingung. Lalu Jeanne menarik napas sembari melihat sekelilingnya kemudian mengeluarkannya, "Waktu itu... kenapa kau..." suaranya semakin pelan di akhir hingga tak terdengar sama sekali.
Menaikkan sebelah alisnya, Shiro berkata, "Kau... apa?"
"Kenapa..."
"...Apa?"
"..."
"Aku tidak bisa mendengarmu, Jeanne."
Akhirnya Jeanne mengepalkan kedua tangannya dengan erat lalu berteriak kencang, "KENAPA KAU ME-ME-MENCIUM BIBIRKU!?"
Setelah teriakan itu, wajah Jeanne memerah dan mulutnya terbuka lebar untuk mengatur napasnya. Shiro masih memasang ekspresi awalnya hanya saja kini mulutnya juga ikut terbuka sebelum dia menutupnya lagi. Dia melirik ke sudut kanan atas lalu memegang dagunya sendiri.
"Hm..." lama dia diam seperti itu sampai akhirnya ekspresinya mengatakan bahwa dia baru saja mengingatnya, "oh. Yang di atas padang rumput itu?" tanyanya balik.
Wajah Jeanne semakin memerah, "I-Iya," Shiro bergumam pelan kemudian menganggukkan kepalanya. Jeanne menunduk dan mengaitkan tangannya dan berbisik pelan, "ja-jangan mengulangnya. Itu terdengar memalukan."
Shiro tertawa kecil lalu mengusap kepala Jeanne, "Kau sendiri yang menyinggungnya lebih dulu." Dia melepaskan kepala Jeanne dan kembali melanjutkan perjalanannya. Saat Jeanne melihat punggungnya, dia menjawab tenang, "Waktu itu, aku hanya ingin mendiamkanmu saja agar tidak melawanku balik."
"H-Hah?" Jeanne mengernyitkan kedua alisnya kesal lalu berlari kecil agar dia bisa berjalan cepat di samping Shiro, "Kau! Sangat tidak bertanggung jawab! I-Itu ciuman pertamaku!" omelnya lagi.
Tanpa menoleh, Shiro menjawab, "Tapi, bukankah kita berdua adalah orang suci?Itu berarti ciuman di antara kita tidak dihitung."
"Mana bisa begitu!" teriak Jeanne protes. Meski tahu Shiro tidak benar-benar serius menjawab seperti itu, "Hei—"
Shiro hanya tersenyum lalu membuka pintu ruang doa di depan mereka. Suara yang ditimbulkan membuat Jeanne menoleh dan membuka mulutnya. Melihat tanda salib besar yang ditempel di dinding tepat searah dari posisi mereka berada. Melihat Shiro kembali, pria itu telah menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
Tanpa perlu bertanya, Jeanne langsung mengerti maksudnya. Dia membuang mukanya yang memerah dan kembali menghadap depan. Keduanya berjalan menuju barisan terdepan yang dekat dengan meja tengah dimana mereka bisa menyandarkan kedua siku mereka dan mengaitkan kesepuluh jari mereka.
Keduanya mulai berdoa dengan khusyuk. Jeanne memejamkan kedua matanya perlahan tapi pasti. Memohon segala jenis kebaikan yang dapat membimbing mereka semua menuju jalan yang benar.
Jeanne terus seperti itu tanpa menyadari Shiro telah lebih dulu menyelesaikan doanya. Shiro menoleh melihat Jeanne dan tersenyum kecil memperhatikan ekspresi serius wanita itu ketika menghadap Tuhan mereka. Dia kembali melihat patung salib di depannya yang membelakangi cahaya, tenggelam di dalam keheningan, dia menyadari Jeanne di sampingnya telah menyelesaikan doanya.
"Aku bilang... kita berdua adalah orang suci yang dipilih Tuhan," Jeanne menurunkan tangannya yang masih saling mengait itu dan menoleh melihat Shiro yang telah berdiri di sampingnya, "tapi, apakah aku masih pantas disebut seperti itu?" tanyanya dengan nada ambigu.
Mendengar ini, Jeanne ikut berdiri dan membuka mulutnya untuk protes, "Shiro—"
"Kau boleh menyebutku suci sesuka hatimu. Tapi, percayalah." Pria dengan rambut putih itu menatap Jeanne dalam. Seolah dia ingin menyampaikan kata-kata dari dalam hatinya tanpa senyuman palsu di wajahnya.
"Aku sudah kotor."
Jeanne mengernyitkan kedua alisnya.
"Sejak aku memimpin pemberontakan Shimabara di kehidupanku sebelumnya, kupikir... aku membela yang benar. Membela mereka yang meminta pertolongan adalah jalan yang diberikan Tuhan padaku."
Kedua tangan Shiro mengepal erat di balik lengan panjangnya.
"Tapi ternyata, Tuhan hanya memberiku pilihan dan aku telah memilih pilihan yang salah."
Shiro bergumam pelan tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun dari tanda salib di depannya. Kedua iris hitam keemasannya sekilas mengilat ketika menatap sosok yang sangat dia puja tersebut. Perlahan tapi pasti, sudut bibirnya mulai tertarik, menunjukkan senyuman tipis.
"Walau begitu Jeanne, aku sama sekali tidak menyesal memilih jalan ini." Menoleh melihat wanita yang masih diam memperhatikannya, Shiro melanjutkan, "Apapun yang terjadi, meski aku harus dipenggal untuk yang kedua kalinya, tujuanku adalah menyelamatkan seluruh umat manusia."
Bibir atas dan bawah Jeanne sedikit terpisah sebelum dia menutupnya rapat lagi. Wanita itu menatap Shiro datar, "Jadi, kau akan melakukan segala cara? Tak peduli meski itu cara yang salah sekalipun?"
Tanpa ragu, Shiro mengangguk.
"Kalau begitu, Shiro... aku juga akan selalu ada untuk menghentikanmu." Tersenyum penuh keyakinan yang dipercayainya tanpa gentar sedikitpun, Jeanne membalikkan tubuhnya sehingga dia berdiri tepat menghadap tubuh Shiro. Kedua alisnya mulai tertarik ketika dia menatap Shiro dengan lembut.
"...Meski aku harus mati di tanganmu untuk yang kedua kalinya."
Kalimat yang dilontarkan Jeanne membuat ekspresi Shiro juga ikut melembut, "Ah... padahal aku berharap kau mau mengerti." Namun, ekspresi Jeanne terlihat tidak goyah sedikitpun. Wanita itu justru mengernyitkan kedua alisnya lebih dalam—tanda bahwa dia sudah cukup marah, "Jangan melihatku seperti itu. Aku tidak pernah benar-benar berniat untuk membunuhmu."
"Tapi, kau akan melakukannya jika harus, 'kan?" Shiro tidak menjawab, hanya tersenyum dan melirik ke arah lain. Jeanne mendengus dan melipat kedua tangannya di depan dada, "Tuh." Gerutunya pelan.
Shiro tetap tersenyum penuh arti lalu tertawa, "Baiklah, kalau begitu... aku berharap waktu itu tidak akan pernah datang." Kembali menyentuh kepala Jeanne, Shiro tak bisa berhenti tersenyum melihat Jeanne memejamkan sebelah matanya merasakan elusan di atas kepalanya dengan wajah memerah.
"Mohon bimbingannya, ruler." Ucap pria itu.
Jeanne sedikit memajukan bibirnya ketika dia mencibir pelan, "Kau juga ruler." Mendengar ini, Shiro kembali tertawa dan menarik tangannya. Menatap lagi sosok perwakilan bentuk Tuhan di depan mereka sampai Jeanne bertanya, "Tapi, sebelum ini... apa yang kau harapkan di dalam doamu?"
Lama Shiro tidak menjawab, Jeanne pikir mungkin pertanyaan itu terlalu privasi. Sampai akhirnya Shiro mendengus sebelum menjawab, "Meminta izin pada Tuhan."
"Eh? Untuk apa?"
"Untuk menyentuh salah satu wanita-Nya."
Jeanne masih tidak mengerti. Dia memasang wajah bingung ketika Shiro akhirnya memejamkan kedua matanya dan menoleh kembali padanya.
"Aku ingin menyentuhmu."
Tentu saja tanpa menyembunyikannya sedikitpun, Jeanne memasang ekspresi terkejutnya. Kedua pipinya kembali memerah, kedua tangannya yang saling berpegangan di depan tubuhnya meremas semakin erat. Pria itu kembali menatap tanda salib di depan mereka sementara dia sendiri melanjutkan...
"Jeanne, alasanku menciummu adalah..." jeda sejenak, Shiro tersenyum entah pada siapa, "...aku ingin merasakan bagaimana rasanya menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak boleh kusentuh. Mungkin... rasa penasaran terlalu menyelimutiku waktu itu." Tambahnya lalu dia tertawa pelan dan memegang kalung salibnya sendiri.
"Apakah terdengar aneh? Aku seperti... jatuh cinta pada wanita yang dipanggil untuk menghalangi tujuanku."
Jeanne tidak dapat mengatakan apapun. Ekspresi kedua matanya tertutupi oleh bayangan poninya.
"...Pada akhirnya aku hanya manusia biasa." Bisikan Shiro terakhir sebelum pria itu sedikit menundukkan kepalanya dan menutupi ekspresi kedua matanya pula, "Maaf. Lupakan apa yang baru saja kukatakan, Jeanne."
Dia kembali menegakkan kepalanya dan menoleh pada Jeanne dengan senyuman palsunya.
"Setidaknya jika aku adalah contoh yang gagal... kau sendiri harus tetap suci." Ucapnya seraya menyipitkan kedua matanya, "Aku selalu mengharapkan jalan yang terbaik untukmu, Jeanne." Lanjutnya lagi sembari membalikkan tubuhnya membelakangi meja doa. Bersiap meninggalkan ruangan ini dan juga wanita yang sedari tadi enggan membalas perkataannya.
Wajar saja... dia pasti syok.
Namun, pegangan seseorang di lengan baju Shiro mematahkan persepsi yang telah muncul di kepala pendeta tersebut. Shiro menoleh dan melihat Jeanne masih menundukkan kepalanya. Sedikit bingung, Shiro nyaris menyebut nama Jeanne seandainya wanita itu tidak membuka mulutnya.
"Shiro, aku juga masih manusia."
Mengangkat kepalanya, Shiro sedikit terkejut melihat air mata yang bening itu mengalir dengan lancarnya melewati pipi bersih sang holy virgin. Kedua pipinya memerah menahan segala rasa yang sungguh menyiksa. Pegangannya pada baju pria berambut putih tersebut semakin erat hingga kainnya terlihat semakin kusut.
Untuk yang ke sekian kalinya, Kotomine Shiro bisa merasakan dadanya seolah dicubit oleh sesuatu.
Kedua mata berwarna hitam keemasan itu mulai memperhatikan wajah Jeanne dalam diam. Kelopak matanya turun, melihat Jeanne dengan setengah terpejam namun lebih intens dari sebelumnya.
"Aku masih memiliki keinginan terdalam sebagai makhluk yang tak sempurna."
Ah, sosok wanita ini...
...bukankah biasanya dia terlihat jauh lebih kuat?
Dan mungkin sang wanita juga berpikir sama. Dia menggertakkan giginya lalu mengusap air matanya dalam sekali usapan kasar. Kini kedua iris violet-nya yang indah itu menatap tajam kedua mata Shiro yang memperhatikannya dengan ekspresi datar.
"Perasaan ini juga membebaniku... maukah kau menyelamatkanku?"
Pertanyaan itu membuat Shiro membuka mulutnya sedikit sebelum pria itu sendiri menggigit bibir bawahnya. Kedua pipi pria itu juga sempat mengeluarkan semburat merah tipis sebelum dia menelan ludahnya sendiri. Shiro akhirnya menarik tangannya dari pegangan Jeanne lalu berbalik arah dan memegang sisi-sisi wajah Jeanne yang memiliki tubuh lebih kecil darinya.
Menahan wajah pahlawan besar Perancis tersebut, Shiro menundukkan kepalanya dan mempertemukan bibir mereka kembali... setelah sekian lamanya.
Di hadapan Tuhan yang dapat menghakimi mereka kapanpun dan dimanapun—
—keduanya memejamkan mata mereka, mendalamkan ciuman yang masih tidak jelas diperbolehkan atau tidak.
Berlindung di balik kehangatan yang mereka dapatkan dengan cara mengotori satu sama lain.
#
.
.
"Next time, I will get all the good in this world."
X
"Listen to my words, brave warriors gathered here, legion of heroic spirits who retain their reason!"
.
.
#
Pada dasarnya, mereka berdua sudah tidak tahu lagi berada dimana sekarang...
...namun keduanya sudah terlalu sibuk untuk peduli.
Deritan kasur terdengar setiap mereka bergerak. Pemandangan baju-baju casual mereka—bukan baju untuk bertarung—tergeletak berantakan di atas lantai dan sprei putih yang digunakan untuk menutup kasur terlihat begitu kusut. Dari belakang, kedua kaki wanita yang putih dan mulus terlihat di sisi-sisi punggung pria berkulit lebih gelap darinya. Sesekali mengejang dan menarik sprei dengan kelima jari kakinya ketika dia merasakan sesuatu menyentuh bagian sensitif tubuhnya.
Kotomine Shiro tidak ingat bagaimana awalnya mereka berada di sini sekarang. Kedua matanya menatap sosok Jeanne d'Arc di bawah tubuhnya yang berusaha menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Rambut pirangnya yang biasa dikepang telah terbuka dan tergerai di atas kasur mereka. Tubuhnya penuh peluh di setiap bagian, terutama yang sebelumnya sempat dicapai oleh bibir dan tangan pria di atasnya.
Mungkin Shiro akan tenggelam lagi di pikirannya sendiri seandainya Jeanne tidak memanggil namanya, "Shiro..." mengedipkan kedua matanya, Shiro menatap Jeanne yang memperhatikannya dengan kedua mata sayu, "...ada apa?"
"...Tidak," jawab Shiro apa adanya. Pria itu tersenyum kecil sebelum menyentuh pipi Jeanne di bawahnya, "masih sedikit tidak percaya kita benar-benar melakukan ini. Tidak. Mungkin lebih tepatnya... kau memberiku izin untuk melakukan ini." Lanjutnya dengan suara serak.
Jeanne sedikit membuka mulutnya sebelum dia tersenyum lalu menyentuh tangan Shiro di pipinya, "Kau sendiri yang bilang," menggerakkan tangannya untuk mengelus tangan Shiro yang lebih besar darinya, "kita berdua adalah saint. Jadi, ini tidak masuk hitungan." Ucapnya geli.
Mendengar ini, Shiro menarik kedua alisnya, "Kau tahu aku bercanda, 'kan?"
Jeanne tertawa kecil, "Tentu saja," menggenggam punggung tangan Shiro di pipinya, wanita itu menghilangkan senyumannya, "kau benar-benar mau berhenti sekarang?" tanyanya pelan.
Ekspresi Jeanne membuat Shiro perlahan tapi pasti juga kehilangan senyumannya. Pria itu memejamkan kedua matanya lalu menurunkan tubuhnya, dia menaikkan poni Jeanne dan mencium dahi wanita itu dengan penuh kasih sayang. Ciumannya terus turun sehingga dia mencium mata Jeanne, tulang hidungnya, pipinya, bibirnya, hingga dagunya.
Wanita Perancis itu hanya tersenyum lembut dan memeluk tubuh Shiro yang sangat dekat dengannya. Dia mengelus punggung kekar yang selama ini tersembunyi di balik baju pendeta yang selalu dikenakannya. Jari-jari lentiknya menyentuh bekas-bekas luka di punggung Shiro, mengikuti setiap lekuknya dari bagian kasar hingga ke halusnya. Seolah mencoba menutupi bekas luka yang tak akan pernah hilang tersebut.
"Mengerikan ya?" suara Shiro yang sangat dekat dengan telinganya membuat Jeanne melirik pelan. Namun tanpa perlu bertanya, Jeanne langsung mengerti apa maksudnya dan berhenti mengusap.
"Tidak, hanya sedikit heran," jawab Jeanne pelan dengan jujur. Shiro hanya diam mendengarkan. Dengan posisi tubuh mereka tanpa sehelai benang pun berpelukan seperti ini, kehangatan langsung tersalurkan dari tubuh mereka satu sama lain, "padahal kita sama-sama pahlawan yang berjuang demi kebaikan rakyat tapi..."
Jeda sejenak, Jeanne menundukkan kepalanya dan mencium tengkuk Shiro di atasnya. Kedua matanya terpejam.
"...kenapa aku tidak memiliki bekas luka sepertmu?"
Shiro tidak menjawab dan hanya menatap kosong apa yang ada di hadapannya. Dia menenggelamkan wajahnya pada tengkuk Jeanne, menghirup dalam-dalam wangi lemon yang entah kenapa begitu memabukkannya. Ciri khas tubuh wanita yang selama ini hanya bertarung untuk memperjuangkan keadilan...
...meski harus berakhir dengan cap pengkhianat yang diberikan oleh rakyatnya sendiri.
"Aku iri padamu," bisik Shiro lagi. Meraba lekuk tubuh Jeanne hingga dia bergetar. Shiro memejamkan kedua matanya, "kita memiliki akhir yang kurang lebih sama... tapi kenapa kau sama sekali tidak berubah?" tanyanya. Benar-benar jauh dari lubuk hati yang terdalam.
Wanita ini jauh lebih suci dari perkiraannya.
Shiro tahu itu... tapi...
Pria itu melepaskan pelukannya dan menahan tubuhnya dengan kedua tangannya berada di sisi-sisi kepala Jeanne. Kedua alisnya mengernyit dalam melihat Jeanne yang menatapnya balik dengan kedua iris violet yang sangat jernih.
Terlalu jernih untuk dunia yang busuk ini.
Shiro menggigit bibir bawahnya lalu membuka mulutnya lagi, "Sebelum aku mendapat hukuman mati berkat pemberontakan Shimabara yang kulakukan, aku melihat rekan-rekanku terbunuh, para orang tua dipenggal kepalanya, orang-orang disembelih seperti binatang, bayi-bayi ditusuk tombak, serta anak perempuan yang diperkosa hanya untuk melampiaskan nafsu lalu dibuang begitu saja."
Jeanne terdiam dan membiarkan dirinya terkurung di bawah bayangan pria berambut putih itu.
"Kau sendiri juga, 'kan? Tak peduli berapa banyak darah yang kau korbankan, pada akhirnya kau tetap harus dieksekusi mati hanya karena politik bodoh yang dibuat oleh manusia-manusia yang rakus akan kekuasaan. Mereka menuduhmu penyihir dan membakarmu hidup-hidup di depan orang-orang yang seharusnya kau lindungi."
Mendengar ini, kedua mata Jeanne sempat berkedut meski hanya sekilas. Tapi, dia tetap mempertahankan bibirnya terkatup rapat.
"Bukankah seharusnya kau marah? Bukankah seharusnya kedua matamu terbuka sekarang? Yang salah bukan kita yang ingin melindungi orang-orang jahat seperti mereka..." Shiro menaikkan volume suaranya lebih keras, "...tapi karena apapun yang kita lakukan tetap percuma. Selama manusia tidak bisa 'baik' sepenuhnya, maka mereka tidak akan berhenti. Tidakkah kau mengerti, Jeanne?" tanyanya.
Setelah berkata panjang lebar, Shiro mengatur napasnya. Kedua tangannya meremas sprei yang berada tepat di samping kepala Jeanne. Wanita itu memejamkan kedua matanya lalu tersenyum lagi.
"Aku mengerti, Shiro."
Dengan kedua tangannya, dia menyentuh wajah pria di atasnya.
"Tapi, justru karena itu... aku ada di sini, 'kan?"
Kedua iris hitam keemasan itu membulat sempurna. Jempol Jeanne mulai mengelus pipinya lembut.
"Kebaikan selalu ada di dalam hati manusia meskipun sedikit. Hal itulah yang dapat merubah dunia ini. Kalau kau sudah tidak bisa mempercayai mereka lagi, maka aku yang akan mempercayai mereka untukmu." Menarik kepala Shiro ke bawah, ujung hidung mereka telah bertemu, "Dan jika tidak ada yang bisa mempercayaimu lagi, maka aku seorang yang akan mempercayaimu."
Jeanne mengecup bibir dingin Shiro sekilas.
"Apakah itu masih belum cukup?"
Kata-kata itu membuat Shiro terpaku untuk beberapa saat. Sampai akhirnya dia mendengus pelan dan tersenyum penuh arti, "Kau ini... benar-benar..." Jeanne hanya memiringkan kepalanya bingung. Apalagi ketika Shiro memegang tangannya dan menggenggamnya erat, "...aku kalah, Jeanne."
Tersenyum kecil, Jeanne menatap lembut servant ruler selain dirinya tersebut, "Bukankah sudah sejak perang sebelumnya?"
"Yang mengalahkanku adalah Sieg, nona."
Jeanne reflek mendengus kesal, "Tanpa kematianku, dia tidak akan terpicu untuk mengalahkanmu. Sieg adalah sosok yang jauh lebih baik darimu jadi kekalahanmu itu sudah sewajarnya."
"Oh, aku terkesan?"
"Shiro!"
Melihat ekspresi marah yang menggemaskan di bawahnya itu, Shiro tak bisa menahan diri untuk terus menggodanya. Tapi, dia tahu dia harus berhenti sekarang. Bagaimanapun juga mereka sedang di tengah melakukan suatu kegiatan.
Shiro meraih buah dada kanan milik Jeanne dan meremasnya pelan, membuat wanita itu mendesah tertahan. Dia langsung menarik tangannya untuk menutupi mulutnya. Wajahnya kembali memerah dengan kedua mata setengah terpejam.
"Maaf, perdebatan akan kita lanjutkan nanti," ucap Shiro tenang dan mulai memijat buah dada yang cukup besar untuk wanita seukuran Jeanne tersebut. Shiro menurunkan tubuhnya lalu mencium leher jenjang Jeanne, "biarkan aku membuatmu merasa lebih baik." Bisiknya seduktif.
Wanita beriris violet tersebut mengangguk pelan dan meremas rambut Shiro yang mulai turun dan menciumi buah dadanya. Memberi beberapa tanda yang mungkin akan membekas untuk beberapa hari ke depan. Terus turun, menciumi perut datar Jeanne, hingga kedua pahanya yang dia angkat dengan tangannya. Shiro merabanya pelan, mengelusnya dengan lembut, seolah tubuh Jeanne adalah kaca rapuh yang bisa pecah kapan saja.
Walau begitu, di sisi lain... tubuh Jeanne juga bak kanvas putih yang sangat menggoda untuk dicoret dengan kuas yang penuh warna.
Engahan napas Jeanne terdengar semakin keras di dalam ruangan berbentuk persegi ini. Shiro mengangkat kepalanya dan menatap Jeanne dengan pandangan untuk bertanya apakah mereka akan benar-benar melakukan ini. Anggukan Jeanne seolah lebih dari cukup untuk menjadi izin yang dapat membuatnya bergerak maju.
"Tahan."
Perintah Shiro yang diucapkan bersamaan dengan tangan pria itu yang menyentuh pinggangnya membuat Jeanne memejamkan kedua matanya erat. Kedua tangannya meremas kuat bantal di bawahnya. Berusaha mengatur napasnya yang memburu karena tegang oleh berbagai hal. Termasuk fakta bahwa dia tidak akan benar-benar bisa suci lagi dalam arti yang sebenarnya.
Tapi... tidak apa-apa, 'kan wahai Sang Penguasa?
Lagipula, mereka berdua sudah bukan lagi bagian dari dunia yang fana ini.
Suara teriakan Jeanne sedikit tertahan ketika Shiro telah selesai menyiapkan dirinya sendiri lalu masuk ke dalam tubuhnya. Shiro juga terlihat berusaha sabar dan menggertakkan giginya, mendorong tubuhnya masuk perlahan tapi pasti. Menyesuaikan ritme dengan Jeanne yang mencoba membiasakan dirinya.
Hingga Shiro telah sepenuhnya berada di dalam tubuh wanita tersebut. Keduanya segera mengambil napas dan mengeluarkannya. Suara napas mereka beradu mengisi keheningan ruangan ini. Kali pertama bagi keduanya membuat mereka berdua harus membiasakan diri terlebih dahulu, belum lagi jika mereka masih merasakan sakit. Sampai akhirnya Jeanne meraih leher Shiro dan memeluknya.
"Ber...geraklah." Bisiknya dengan suara parau.
Shiro mengernyitkan kedua alisnya dan mengangguk. Dia mulai menggerakkan tubuhnya, maju-mundur, mencari satu titik yang bisa membuat wanita di bawahnya merasa nyaman. Hingga akhirnya dia menemukannya dan membuat desahan Jeanne terdengar keras.
"Ah! Ha..." wajah Jeanne sepenuhnya memerah. Dia berniat menutup wajahnya lagi sampai Shiro menahan kedua tangannya agar tetap memeluk leher laki-laki itu. Shiro menjedukkan dahinya di bahu Jeanne sementara wanita tersebut mulai meraba bahu Shiro yang terasa lebih besar dari biasanya, "...Shiro! Shiro—" bisik Jeanne berulang kali mengucapkan nama pria di atasnya.
Tubuh keduanya terus bergerak dan beradu dengan kasur yang juga ikut mengeluarkan suara deritan dengan keras. Shiro yang awalnya berniat mengimbangi gerakan Jeanne kini justru bergerak sendiri hingga membuat Jeanne yang mengimbangi gerakannya. Kenikmatan ini belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Tidak. Lebih tepatnya, ini kenikmatan yang seharusnya tidak boleh mereka rasakan sebelumnya.
Namun, untuk sesaat... meski hanya untuk sesaat...
...mereka ingin melupakan segalanya.
Teriakan Jeanne menjadi tanda bahwa kegiatan ini akan menemui akhir pertamanya. Memeluk tubuh wanita di bawahnya semakin erat, Shiro membuka mulutnya lalu reflek menggigit tengkuk Jeanne, tidak terlalu keras namun cukup meninggalkan tanda.
"Jeanne," bisik Shiro pelan namun penuh geraman yang memberi tanda bahwa pria itu juga akan menemui klimaksnya.
Shiro mendorong punggung Jeanne dari bawah sehingga mereka berpelukan erat seiring dengan dorongan Shiro yang semakin keras hingga dia melepaskan segalanya membuat Jeanne membulatkan kedua bola matanya kaget dan berteriak kencang. Reflek mencakar bahu Shiro dan sedikit menjambak rambut putih itu.
Perlahan tapi pasti teriakan Jeanne mereda. Tubuh keduanya pun sudah lebih rileks. Shiro akhirnya menjatuhkan tubuhnya di samping Jeanne. Memeluk tubuh wanita itu yang baru saja sampai ke puncak bersamanya. Mereka masih mengatur napas masing-masing, tahu bahwa mereka akan berhenti dulu sampai sini karena masih membiasakan diri dengan kegiatan baru yang tak pernah terpikirkan oleh mereka sebelumnya.
Jeanne yang lebih dulu membuka matanya, dia menatap Shiro di sampingnya yang juga ikut membuka kedua matanya pelan. Shiro tersenyum dan mengusap keringat di pipi Jeanne, memegang wajah cantik itu erat dengan kedua tangannya yang besar lalu memajukan wajahnya. Mereka berdua berciuman lagi dengan penuh tekanan yang penuh dengan kehangatan.
"Aku... tidak mau melukaimu, Jeanne," bisik Shiro setelah mereka melepaskan ciuman. Dia memeluk Jeanne agar wanita itu menghadap dada bidangnya. Pria itu menyembunyikan wajahnya yang menyedihkan, "tolong... jangan biarkan aku melakukannya lagi." Ucapnya pelan berulang kali. Memeluk erat kepala Jeanne tepat di depan lehernya.
Jeanne tidak membalas apapun. Dia sempat tersentak mendengar ini, namun dengan cepat dia dapat mengendalikan emosinya kembali. Tersenyum kecil, wanita berambut pirang panjang itu membalas pelukan Shiro. Menghirup bau khas pria itu dengan dalam.
"Ya... tenang saja." Balas Jeanne pelan pada akhirnya. Tertawa kecil memikirkan siapa yang sesungguhnya adalah anak kecil di antara mereka, "Aku di sini, Shiro."
Baru saja beberapa waktu lalu mereka masih merupakan dua manusia suci yang bahkan tidak tahu caranya mengungkapkan perasaan mereka masing-masing...
...lalu di sinilah mereka sekarang, tidur berdua dan saling berpelukan membagi kehangatan tubuh satu sama lain.
Setidaknya... detak jantung ini terdengar begitu nyata.
#
.
.
"A world where everyone is happy, everyone is good, and everyone is perfect."
x
"No matter if you were sworn enemies or no matter how far your time periods apart, now you must entrust your backs to one another!"
.
.
#
Setelah berbagai misi yang berhasil mereka kerjakan secara bergantian—tergantung siapa pilihan sang master—pada akhirnya tiba perang besar yang membuat organisasi Chaldea mau tak mau menurunkan semua servant yang berhasil mereka panggil.
Solomon: The Grand Time Temple adalah nama misi mereka kali ini.
Ritsuka Fujimaru beserta para servant-nya harus mengalahkan pilar-pilar Demon Gods yang merupakan bidak Solomon. Musuh utama yang harus mereka kalahkan pilar yang ada adalah tujuh puluh dua, memiliki kemampuan masing-masing yang tidak dapat dianggap remeh. Setiap pilar memiliki kelebihan dan kelemahannya sendiri dalam melawan servant tertentu sehingga mereka harus benar-benar bisa mengatur strategi dalam menurunkan servant dengan mempertimbangkan kemampuan mereka.
"Ugh... HAAAAAAAAA!"
Teriakan salah satu wanita di deretan servant yang sedang bertarung sekarang terdengar. Jeanne d'Arc mengernyitkan kedua alisnya dalam dan mengayunkan benderanya untuk menebas aura sihir yang datang menyerang ke arahnya. Dia berlari cepat ke arah Demon God Forneus—salah satu pilar—dengan melewati setiap rintangan yang dilemparkan padanya. Mulai dari sihir berupa kabut, ranting, air, dan berbagai macam elemen lainnya.
Dengan berbagai gerakan lincah melewati seluruh serangan itu, Jeanne akhirnya sampai tepat di depan Forneus. Pilar tersebut telah mengumpulkan energi untuk serangan berikutnya dan siap menyerang begitu Jeanne tepat di depannya.
"Luminosité Eternelle!"
Begitu serangan akan diberikan, noble phantasm yang diteriakkan Jeanne berhasil membuat cahaya yang melindungi sekujur tubuhnya. Begitu serangan sang pilar selesai, Jeanne segera melepaskan kekuatannya tersebut dan tongkat bendera yang dia pegang telah diarahkan di depan pilar tersebut.
"SELESAI!" teriak Jeanne lalu dia menebas penuh tubuh Forneus hingga terbelah menjadi dua. Getaran tanah semakin menguat seiring dengan tubuh musuh yang hancur berkeping-keping setelah energi di dalamnya meledak.
Mellihat ini, Jeanne menghela napas lalu kembali berdiri tegak dengan benderanya yang dia tancapkan di atas tanah. Mengira urusannya telah selesai, Jeanne mendengus lalu membalikkan tubuhnya. Berdiri menghadap Ritsuka yang berada sekitar sepuluh meter di depannya, "Forneus telah—"
KRAAAK
Suara tanah itu tidak diperkirakan oleh Jeanne begitu pula yang lain. Ruler itu menunduk dan melihat sesuatu semacam akar keluar dari tanah di bawahnya. Mungkin sisa kehidupan dari Forneus yang masih ingin melawan meski di detik-detik terakhir kehidupannya.
"JEANNE!" teriak Ritsuka histeris. Mash di sampingnya juga telah lari meski dia mulai kesal karena merasa tidak akan berhasil menolong salah satu rekan servant-nya tersebut.
Rasanya seperti slow motion ketika Jeanne menyadari dia tidak akan bisa menghindar tepat waktu. Ujung akar itu telah berada tepat di depan mata Jeanne. Bersiap menusuk iris dengan warna indah tersebut.
Tapi—
ZRAAASH—BRUK
"AAAKH!"
KRAAAAAK
"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" teriakan melengking entah dari mana membuat yang di sana reflek menutup telinga mereka.
Begitu suara tersebut berhenti, semuanya melihat ke arah sumber suara. Dimana akar Forneus itu telah bergeliyat memberontak di tangan seseorang.
Yang pasti bukan Jeanne. Karena wanita itu terlihat jatuh terbaring tepat di belakang seseorang itu. Ritsuka dan yang lainnya tak bisa melihat jelas karena debu menutupi pandangan mereka.
Jeanne merasakan sakit yang cukup nyeri meski belum cukup untuk menghalanginya. Dia menutup sebelah matanya yang terluka karena terkena sayatan dari ujung akar itu. Jeanne mendongakkan kepalanya dan melihat punggung seseorang yang menyelamatkannya.
Ah, punggung ini... dia mengenalnya.
"Kau terluka, ruler?" tanyanya dengan suara tenang seperti biasa. Jeanne tak perlu menjawab karena pria berambut putih itu menoleh ke belakang dan melihat darah yang mengalir dari balik tangan Jeanne yang menutupi mata kanannya.
"Ya, tapi... ini belum sebe—"
"Kau terluka." Ucap Shiro lagi dengan datar meski bibirnya masih tersenyum penuh arti, "Fakta itu saja sudah cukup."
Kata-kata itu membuat darah Jeanne berdesir entah mengapa.
Dan selanjutnya, dia melihat sendiri bagaimana Shiro yang menggunakan salah satu noble phantasm miliknya, meremas erat akar malang tersebut semakin kuat ketika cahaya berwarna hitam merah mengelilingi tangan kanannya.
"Migiude - Akugyaku Hoshoku."
Seluruh energi jahat berkumpul, memasuki akar Forneus, merambat hingga sampai ke tubuh utamanya yang telah berkeping-keping. Bagaikan tubuh manusia yang terkena racun pembengkak tubuh. Pilar Forneus menggembung besar lalu—
DHUAAAAR
Dalam sekejap hilang. Menjadi butiran pasir yang kemudian ditelan black hole entah kemana.
Setelah Forneus menghilang, Shiro langsung membalikkan tubuhnya menghadap Jeanne yang masih terkejut. Pria itu terlihat marah tanpa senyuman di wajahnya, entah kenapa, "Shi-Shiro?" panggil Jeanne pelan.
Namun, Shiro tak menjawab. Dia hanya memegang tangan Jeanne yang masih menutupi mata kanannya. Dengan tangan kiri, Shiro kemudian memegang sisi wajah Jeanne yang terluka. Cahaya berwarna putih kebiruan segera muncul ketika Shiro membuka mulutnya dengan ekspresi serius.
"Hidariude - Tenkei Kiban."
Cahaya baru muncul dan menutupi bagian luka di wajah Jeanne. Bahkan membersihkan darah di sana. Jeanne tak sempat menyimak apa yang terjadi karena di detik berikutnya, semua lukanya telah menghilang entah kemana. Bahkan tanpa perlu perintah dari master-nya sekalipun.
Ekspresi Jeanne jelas menunjukkan betapa takjubnya dia dengan kekuatan Shiro yang belum pernah benar-benar dia perhatikan sebelumnya. Hanya saja sebelum dia sempat mengucapkan terima kasih, Shiro sudah lebih dulu membalikkan tubuhnya.
"...Shiro?" panggil Jeanne bingung.
Lama mereka terdiam sampai Shiro terlihat menghela napas dari gerakan bahunya, "Aah, kau benar-benar ceroboh, Jeanne," menolehkan kepalanya ke belakang, Shiro menunjukkan senyuman tanpa dosanya, "aku tidak bisa meninggalkanmu barang sedetik saja, hm?"
Wajah Jeanne memerah jengkel mendengar ini, "A-Apa—aku juga bisa mengatasinya sendiri meskipun kau tak datang!" teriaknya kesal.
"Oh ya?"
"Ugh—"
"Shiro!" teriakan seseorang menghentikan pembicaraan keduanya. Ritsuka datang dengan senyum lega di wajahnya, "kau datang tepat waktu," ucapnya.
Shiro kembali menghadap master-nya itu dan tersenyum, "Ya, aku akan ikut membantumu melawan pilar-pilar ini, master," jawabnya tenang. Dia melirik Jeanne yang masih mengawasinya dengan jengkel, "kau tidak keberatan dengan adanya dua ruler di dalam satu tempat, 'kan?" tanyanya pada sang master. Meski mengundang reaksi juga dari Jeanne yang ikut melihat keduanya bergantian.
Ritsuka tertawa kecil, "Tentu saja tidak." Dia menyipitkan kedua matanya, "Terima kasih sudah melindungi Jeanne." Ucapnya tulus.
"Tujuan utamaku tetap melindungi anda, master." Jawab Shiro dengan cepat. Dia menoleh dan melihat Jeanne, "Jangan menghalangiku, ruler." Ucapnya dengan senyum yang entah kenapa berkali lipat lebih menyebalkan.
Tentu saja Jeanne langsung tak terima dan membalas sindiran itu. Bahkan meskipun Shiro sudah berjalan menjauh, Jeanne tetap berjalan di sampingnya dengan setiap protes yang keluar dari mulutnya. Seperti bagaimana mereka harus waspada dan jangan terlalu santai hanya karena baru mengalahkan satu dari beberapa pilar lagi yang tersisa.
Meski begitu, layaknya Shiro yang biasa. Pria berambut putih itu hanya diam memasang senyumannya dan menepuk kepala Jeanne setiap wanita itu mulai semakin kesal. Memperhatikan mereka berdua dari belakang, Ritsuka dan Mash bertatapan sebelum mereka mendengus dengan senyuman lalu ikut berjalan di belakang mereka.
"Senpai," Mash memanggil master-nya tersebut, "apa kau yang memanggil Shiro dengan segel perintahmu?"
Ritsuka membuka sedikit mulutnya sebelum dia tersenyum penuh arti dan menggeleng pelan.
"...Begitu," gumam gadis kecil berambut putih pendek tersebut. Dia kembali melihat Shiro dan Jeanne yang telah berjalan jauh di depan mereka, "sebenarnya ada hubungan apa di antara mereka?" tanyanya pelan.
"Entahlah," jawab Ritsuka dengan ambigu. Dia mengerti mengapa Mash sampai penasaran. Bagaimanapun juga, pasti aneh jika ada servant yang bisa mendeteksi keberadaan servant lain yang sedang terancam bahaya. Seolah salah satu dari mereka selalu mengawasi yang lain dari jauh, "yang kutahu pasti adalah... kata-kata yang tadi Shiro ucapkan padaku itu bohong."
"Eh?"
Setelah kata-kata itu, mereka tiba di tempat asing yang baru. Seketika kumpulan sihir padat datang menyerang dua servant terdepan mereka. Berdua, Shiro dan Jeanne saling menempelkan punggung mereka masing-masing lalu membantai habis segala serangan yang diarahkan ke mereka.
Mash tentu juga langsung menampikkan serangan musuh yang mengarah padanya dan sang master. Setelah serangan itu, dia bisa melihat Shiro dan Jeanne yang melindungi punggung satu sama lain dari serangan-serangan berikutnya. Semua jurus yang mereka keluarkan terlihat begitu indah hingga membuat mata Mash yang tidak tertutup rambutnya terlihat berbinar.
"Senpai," panggilan Mash membuat Ritsuka menoleh namun Mash masih belum sepenuhnya mengalihkan pandangannya, "apa maksudmu tadi?" tanyanya dengan nada menuntut.
Mendengar ini, Ritsuka Fujimaru hanya tersenyum penuh arti. Dia melihat Mash lembut sebelum memperhatikan Shiro dan Jeanne kembali.
Dari kejauhan, Jeanne d'Arc entah kenapa terlihat kesal. Dia memegang kedua pipi Shiro lalu menjedukkan dahi mereka berdua. Meski sedikit terhalang karena ada armor besi yang menutupi bagian depan kepala Jeanne.
"Karena bagi Kotomine—tidak—Amakusa Shiro Tokisada..."
Meski sekilas, Ritsuka dan Mash bisa melihat kedua pipi rulers itu memerah. Setidaknya sampai Jeanne kembali mengeluarkan protesnya dengan jengkel sementara Shiro hanya tersenyum kaku dan tertawa kecil. Posisi mereka masih belum berubah, seolah mereka lupa bahwa tidak hanya ada mereka berdua saja di ruangan ini.
Walau hanya sekedar momen kecil, Ritsuka tak bisa menahan dirinya untuk tersenyum lega melihat kebahagiaan dua servant-nya.
Kebahagiaan yang tertunda selama puluhan tahun.
"...yang paling penting di dunia ini adalah penebusan dosa terbesarnya."
.
.
"I will annihilate all evil and create a pure new world."
X
"My true name is Joan of Arc. In the name of my lord, I shall stand as your shield!"
.
.
.
.
.
People falling into the seven deadly sins
After persistently wandering, I've arrived
I'm seeking light. Grant my wish
I'll go beyond every sin
.
Those who wander searching for answers
Those who question in confusion
The pain and the pleasure all come together
.
There is no reason why
- MAN WITH A MISSION (Seven Deadly Sins)
.
.
.
The End
.
.
.
Oke, halo ;v;)/ Kelar yeey, I have nothing much to say actually aaaah. Maafkan kalau ada beberapa bagian yang berbeda dari urutan game-nya atau bagaimana, aku gak ngikutin game-nya. Semua pure hasil riset baca dari wiki-wiki yang ada ehehehe~
Anyway untuk pertanyaan yang mungkin muncul: Kenapa Shiro dibikin lupa ingatan?
Aku baca di wiki pas bagian FGO, ada tulisan, 'Amakusa Shirou is the same individual that was reincarnated in "Apocrypha". He possesses his memories in the Third Holy Grail War. His presence is completely contradictory with the records of the "Grand Order" world.'
Dari yang kutangkap di penjelasan ini sih, berarti Shiro di FGO itu bukan Shiro yang dipanggil dari Apocrypha, melainkan Shiro dari perang sebelum Apocrypha. Pas dia masih punya master yaitu Einzbern.
Apa itu kata-kata yang muncul di setiap dua bait paragraf?
Itu adalah bait doa yang diucapkan Amakusa Shiro Tokisada dan Jeanne d'Arc dari sejarah di dalam dunia Fate-nya. Bait doa Shiro bagian atas dan doa Jeanne bagian bawah.
#
Nah, sisanya aku gak tahu lagi apa yang perlu dijelaskan. Bisa ditanyakan langsung saja, ntar aku kasih bagian mana yang bikin aku terinspirasi bikin bagian tertentu orz. Selebihnya semoga para readers sukaa dan feel-nya kerasa. Makasih banyak buat kak Rei yang mau commish! Semoga chapter ini memuaskan ya _(:"3
Maaf jika ada typo yang terlewat dan segala jenis kekurangan yang tidak bisa dihindarkan. Fave, review, and alert are really appreciated! Thanks before! :D
