Seseorang berkata, jatuh cinta terasa seperti kilatan petir dan satuan cahaya sehingga tak ada yang bisa menandingi kecepatannya, walau bagi Elvis Presley, orang-orang bijak berkata "only fools rush in," tapi tetap saja, "i can't help falling in love with you."
Maka begitulah, mungkin di usia yang hampir sedikit lebih dari enam belas tahun, Porco terlalu cepat dan terburu-buru untuk menyimpulkan bahwa jatuh cinta itu merepotkan. Hanya saja, ia tak bisa berpaling, ketika matanya melihat Pieck tersenyum, di antara senandungnya yang begitu merdu, petikan gitarnya yang berganti genre tiba-tiba (melankolis romantis), dan sudut mata yang selalu memperhatikan setiap gerak-gerik gadis manis sahabatnya itu.
Porco pikir, pelan-pelan saja. Meski Porco mengerti rasa itu datang lebih cepat dari interjeksi pikirannya, tapi yang Porco tahu; pelan-pelan saja, takes our time.
Tapi, ternyata, waktu tidak memihak kepada mereka.
"Aku membuatkanmu sebuah lagu."
Pieck tersenyum, pipinya memerah dan Porco menyadari itu. "Apa judulnya?"
"Things We've Shared."
Mereka naif, dan muda. Dan cinta hanyalah adjektif absurd juga analogi tak terwujud.
.
paper planes.
—look how far we've gone.
.
chapter 2
Pieck menutup jendela aplikasi pengolah kata itu dengan pelan. Sedikit gusar, ia tutup laptopnya dan meletakkan pada meja kerjanya yang agak terlalu berantakan pagi ini. Berantakan—seperti perasaannya dan isi kepalanya. Berantakan, walau pagi ini ia terbangun dengan Zeke masih di sampingnya, masih memeluknya erat dan tidak meninggalkannya di pagi hari buta, di tengah-tengah kesibukannya dan waktu kerja penuhnya sebagai direktur music company besar di kota mereka.
Suara pintu diketuk dan Pieck tahu ia akan menemukan kepala pirang lainnya di sana. Annie Leonhart; wajah datarnya sedikit berekpresi khawatir pagi ini. Pieck terlalu lama berteman dengannya hingga ia tak perlu lagi bertanya tentang alasan-alasan mengapa sahabatnya itu mengunjunginya pagi ini.
"Pertama-tama, Zeke bermalam lagi di sini?"
Pieck mengangguk dan memutar kedua matanya. "Sudah berangkat tiga puluh menit yang lalu."
"Bagus." Annie mengujar. Setengah gusar dan mendekat kepada Pieck yang mengantisipasi ekspresinya dengan pokerface. Pagi ini sedikit mendung, waktu yang tepat jika Pieck ingin mengeluh dan merutuki cuacanya. Atau, mungkin, merutuki hal lainnya.
"—jadi?"
"Annie, please."
Tepat ketika Annie hendak meneruskan ucapannya, Pieck berpaling darinya. Ia menatap pada kaca jendela yang mulai berembun dan memburam perlahan dalam hitungan detik. Sudah lama Pieck tidak memerhatikan hal-hal kecil yang membuat perasaannya ikut terpengaruh perkiraan cuaca. Ia selalu punya pertahanan diri dan penopang yang ampuh untuk menjaga perasaannya tetap di tempat, statis pada adjektif "cukup" dalam kehidupannya. Ia sudah cukup bahagia, cukup kaya, cukup akan hal-hal trivial maupun yang lebih besar dari itu. Cukup dengan keluarganya, dengan Annie dan beberapa sahabatnya yang lain. Cukup dengan Zeke. Cukup dengan segalanya yang ia punya.
Sebab Pieck berhenti mencari, setidaknya, sampai lima tahun yang lalu.
"Kutebak kau sudah melihat berita itu berarti." Annie akhirnya menghela napas.
Pieck tak ingin impulsif dan cuaca hari ini menguasai dirinya. Maka ia berbalik dan menatap Annie, menggigit bibir dan membuang segala potongan-potongan memori yang memberatkan hatinya. Pieck adalah perempuan realistis dan bukannya naif, ia repetisi di kepalanya agar membentuk pola yang tak tersubtitusikan. Maka ketika pandangannya memberat, ia angkat dagunya tinggi-tinggi.
"Yeah ... mereka trending topic di seluruh media sosial sepagian ini," Pieck akhirnya berbicara. "Bahkan Ibu mengirimiku pesan pagi ini."
Yeah. Paper Planes.
Paper Planes akan menggelar konser tur pertamanya.
Dan kota pertama yang mereka kunjungi adalah Marley.
Paper Planes, yang berarti—Porco Galliard.
"Pieck ...," Annie mendekat dan menatapnya penuh pandang-pandang khawatir.
Pieck tersenyum. "Aku tak apa-apa, Annie." Getir. Dan Annie tak perlu satu-dua kalimat lagi untuk segera memahami, bahwa 'tak apa-apa' bukanlah kalimat yang tepat. "It's been ten years, no?" Pieck kemudia terkekeh. "Kau tahu aku sudah melewati masa-masa itu."
Annie mengerti, sebab ia ada di sana. Di masa-masa Pieck hanya menatap kosong pada hidup-hidupnya. Di masa Pieck menutup telinga pada setiap lagu favoritnya. Di masa Pieck menatap sedih pada pintu apartemen di sebelah kamarnya.
Di masa-masa Porco Galliard meninggalkannya.
Pieck seperti tak lagi mengenal kehidupan, sedangkan Paper Planes semakin dikenal di tahun-tahun berikutnya.
Ada beberapa hal yang mereka pahami. Sebab ini bukan hanya tentang Porco yang meninggalkan Pieck. Tapi, bagaimana lelaki itu meninggalkan Pieck dan segala mimpi-mimpi mereka. Dan bagaimana Porco membawa mimpi itu dan menerbangkannya sendiri, bahkan tanpa kabar di tahun-tahun berikutnya.
Porco tak hanya meninggalkan Pieck dalam keadaan patah hati—namun hampir putus asa karena tak memiliki mimpi.
"Cepat atau lambat, ia pasti akan kembali kan, Annie?"
Annie mendekat, merengkuh pundaknya erat.
Porco pasti kembali, meskipun kali ini, bukan untuk Pieck.
Ketika Zeke mengajaknya keluar sore itu, Pieck tak banyak melontar pertanyaan. Terlalu kasual untuknya yang memang hampir setiap hari bertemu Zeke, makan di luar dengannya, jalan-jalan dengannya, berkunjung ke kantornya. Pieck hanya sedikit lebih diam, tapi Zeke terlalu tak peka untuk memikirkan bahwa Pieck memikirkan hal lain selain tulisan-tulisannya yang belum selesai mendekati deadline.
"Mau makan dulu? Aku ada urusan sebentar dengan salah satu klien-ku di sekitaran sini." Zeke melirik Pieck dari sudut matanya yang biru. Berkata dengan tenang di balik kemudi mobil.
"Aku belum lapar," Pieck menggeleng singkat. "Mengunjungi klien-mu dulu tidak apa-apa."
Bertahun-tahun bersama Zeke, tak pernah dalam satu hari pun Pieck merasa ditinggalkan. Zeke mungkin adalah satu-satunya pria yang masuk begitu jauh ke dalam kehidupan Pieck selama ini. Dan Pieck tak apa-apa. Ia menerimanya sebagaimana Zeke menawarkan semua mimpi-mimpi yang saat itu terlalu semu untuknya. Zeke yang menangkap perasaannya, menggenggam jemarinya, mendekapnya erat, memberinya nyaman bahkan di malam-malam terdingin sekali pun.
Dan Pieck menyambutnya.
Sampai ketika mesin mobil berhenti, Zeke turun terlebih dahulu, membukakan pintu untuk Pieck dan menawarkan satu genggamannya.
Dan Pieck menyambutnya. Selalu menyambutnya.
Mereka berjalan beriringan. Jemari Pieck pada tautan Zeke. Kegiatan kasual yang lagi-lagi sudah biasa mereka lakukan. Sampai hari ini—setidaknya pagi tadi, Pieck masih merasa bahwa hidupnya sangat sempurna. Pada akhirnya ia menemukan tujuan lain yang tak kalah penting dari mimpi; cinta. Yang mungkin belum pernah terlontar dari bibirnya, namun sering Zeke bisikkan di waktu-waktu mereka bersama di antara kubikel-kubikel kamar dan terang bulan yang memancar. Pieck memutuskan, ia tak apa-apa jika dengan Zeke selamanya. Mungkin, ia akan menjawab pertanyaan Zeke tentang kesiapannya melangkah lebih jauh. Ia akan meminta cincin darinya, menyiapkan waktu dan tanggal pernikahannya, berkeluarga dan memiliki anak dengan rambut pirang dan mata gelap miliknya, atau, rambut gelap dengan mata sebiru Zeke.
Sempurna sekali.
Setidaknya, sampai saat itu saja.
Sampai ketika Pieck melangkah melewati pintu, mendengar sapaan santai namun formal dari Zeke pada beberapa pria dewasa muda di hadapannya.
"Paper Planes, senang akhirnya bisa bertemu kalian secara langsung di sini."
Itu kalimat pertama yang Zeke ucapkan.
Disusul dengan beberapa jabatan tangan telampau formal, garis-garis senyum yang dipaksakan, dan beberapa mata. Mata itu. Sampailah ia pada mata tajam pemilik mimpi-mimpinya di memori terdalam Pieck. Yang tersegel rapi dan disimpannya erat-erat, tepat di sudut hatinya yang ia pikir, masih memiliki ruang untuk hal-hal lain selain mimpinya dengan pemilik mata itu.
"Porco Galliard."
—and if it's right.
Detik itu, ia melepaskan genggam-genggam Zeke pada kelima jemarinya.
.
.
[tbc]
Disclaimer: All characters belong to Hajime Isayama. But this story purely mine. I don't take any material profit from this work. It's just because I love it.
Warning: T plus rated, au, miss typo(s), and other stuffs. jikupiku slighted. and also, it's important to keep an open mind because few things are needed for plot and character developing.
Note: me; not so good at promising huhu. but thanku for always having me and hope u like it! :)
