Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: Alternate Universe, OOC, Detective, Mystery, Supernatural, Attempted Humor, detective!sasuke, ghost!sakura.
…
a lady in pink
chapter 3
…
"Setan pink? Dasar tidak sopan, kau manusia pantat ayam!"
Perempatan siku-siku imajiner seketika muncul di dahi Sasuke. Beraninya makhluk ini menyebut dirinya pantat ayam! Apakah dia tidak tahu kalau potongan rambut seperti ini sedang tren?
Detektif Uchiha itu pun memijat pangkal hidungnya pelan kemudian melirik kembali pada gadis pink yang masih menatapnya dengan sebal. Sesekali ia melihat gadis itu menggumamkan sesuatu yang tidak dapat ia dengar dengan jelas.
Malam semakin larut dan udara terasa semakin dingin. Setelah gerutuan gadis ber-tittle 'setan pink' tadi reda, keheningan pun menyelimuti ruangan tersebut.
"Jadi, kau bisa melihatku?" ucapnya beberapa saat kemudian. "Tapi... bagaimana?"
Tch
Kalau ditanya bagaimana, Sasuke juga tidak tahu. Bukankah seharusnya dialah yang bertanya pada gadis—atau entah makhluk apa di hadapannya ini? Contohnya, seperti siapa dirimu? Bagaimana kau ada di sini? Jadi kau... adalah hantu atau? Atau mungkin semacam apakah semua setan itu cantik seperti dirimu?
Tch
Sasuke kembali memijat pangkal hidungnya—kali ini lebih keras.
"Bukankah seharusnya aku yang bertanya padamu, Nona?"
Sasuke melihat gadis pink itu menggelembungkan pipinya sebal. Ia tak berkomentar apapun saat melihat gadis itu—menghentakkan kakinya?—dengan kesal lalu pergi—melayang?—semakin mendekati dirinya. Pria itu tetap diam memperhatikan bagaimana gadis itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Aku... aku tidak pernah bertemu dengan orang yang bisa melihatku sepertimu. Kau yang pertama," ujar gadis itu pelan. Manik emerald-nya tampak sendu.
"Hn, tentu saja. Kalau tidak, aku yakin seluruh departemen sudah heboh sejak lama." Sasuke menimpali, masih memperhatikan tubuh mungil gadis di hadapannya.
"Tch." Gadis itu berdecak sebal. Manik sendunya berubah sinis lalu memandang datar ke arah Sasuke. "Ya, ya, seperti aku ingin berada di sini saja."
Detektif Uchiha itu mengangguk paham. Pikirannya mulai berkelana pada beberapa kemungkinan gila—yang beberapa di antaranya tentu saja sangat tidak ilmiah—tentang mengapa gadis itu bisa berada di sini atau mengapa baru saat ini ia melihatnya. Sasuke bukan pertama kalinya berada di kamar mayat sementara ini malam-malam. Seperti yang sebelumnya Temari bilang, pria itu sepertinya memang punya hobi kencan dengan para mayat.
Ah
Atau apakah kehadiran gadis ini ada kaitannya dengan kasus yang sedang ditanganinya?
Sasuke memang sering berada di sini, tapi malam ini adalah pertama kalinya ia mengunjungi korban bunuh diri kedua tersebut sendirian. Pada kasus sebelumnya, pria itu hanya sempat melihat mayat korban sebentar, itu juga bersama dengan rekan setimnya yang lain. Sasuke pada saat itu sedang sibuk mengurus proses transfernya dari divisi lain.
Hanya saja, untuk ia bisa melihat makhluk halus cantik itu di sini sekarang, bagaimana caranya? Heh. Sasuke hanya menggelengkan kepalanya bingung.
"Jadi sejak kapan kau ada di sini, Nona?"
"Hmm, Sakura, kau bisa memanggilku, Sakura, err—" gadis itu melihat nametag Sasuke yang masih tergantung di lehernya, "—Detektif Uchiha. Aku di sini, entahlah sudah lama sekali. Aku tidak benar-benar ingat bagaimana aku ada di sini atau siapa aku? Aku juga tidak bisa pergi ke mana pun selain berputar-putar di gedung ini."
"Tapi kau ingat namamu?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Huft, tentu saja. Hanya nama dan kejadian sebelum aku mati. Itu saja," jawab gadis itu sambil menggerutu sebal.
Sasuke mengangguk paham. Netra kelamnya memperhatikan tubuh Sakura dengan lebih detail. Tubuh mungil gadis itu berbalut dress berwarna peach bercorak bunga abstrak, sepatu kets putih tanpa kaus kaki, dan tentu saja helaian pink panjang yang gadis itu biarkan tergerai bebas di pundaknya. Secara keseluruhan—dan perlu pria itu tekankan sekali lagi adalah gadis ini cantik, tidak ada yang aneh, tidak ada bekas luka, jejak darah atau apapun itu yang menandakan kalau Sakura adalah 'hantu'.
Lagi-lagi, pria itu menghela napas berat. "Jadi kau juga bunuh diri seperti dia?"
"Umm, ya?" jawab gadis itu ragu. "Aku hanya ingat sebelum aku terbangun di sini, aku berada di atas sebuah gedung tinggi. Menunggu seseorang, sepertinya. Namun, karena orang tersebut tidak kunjung datang akhirnya aku memutuskan untuk kembali masuk ke dalam. Tapi sayangnya, setelah aku membalikkan badan, tubuhku seperti tertarik ke belakang lalu terpeleset dan jatuh dari atas gedung tersebut. Dan ketika kesadaranku kembali, tahu-tahu aku sudah ada di sini saja."
"Jadi kau tidak berniat untuk bunuh diri?"
"Tentu saja tidak, Tuan," ucap gadis itu gemas. "Aku tidak ingat apapun tapi aku yakin aku tidak sebodoh itu untuk bunuh diri. Lihat, aku baru berumur dua puluh dua tahun!"
'Menarik' gumam Sasuke dalam hati. Gadis ini, siapakah dia? Kapan dia meninggal? Yang jelas, dia bukan korban sebelumnya. Tapi seingatnya juga, tidak ada kasus bunuh diri dari atas gedung beberapa waktu terakhir ini. Kasus bunuh diri atau pembunuhan, semuanya tidak ada.
Ini mungkin gila, tapi Sasuke rasa kehadiran makhluk pink tersebut ada hubungannya dengan kasus bunuh diri Sara. Atau setidaknya, gadis itu memang dikirimkan untuk memberinya petunjuk bahwa kasus ini bukanlah kasus bunuh diri biasa. Sakura mungkin saja bisa menjadi kunci ia menyelesaikan kasus ini. Meski 'kesaksian dari seorang hantu' terdengar sangat tidak meyakinkan—dan tentu saja, gila. Tapi, tidak ada salahnya 'kan untuk dicoba?
"Sakura, mau membantuku?"
...
Setelah melewati malam yang sangat aneh di kamar mayat dan diakhiri dengan kesepakatan untuk saling membantu, Sasuke pun meninggalkan Sakura sendirian dan kembali ke apartemennya sekitar pukul dua malam. Dengan mata yang masih berat akibat tidak langsung tidur, Sasuke tetap melangkahkan kakinya menuju kantor kepolisian Konoha tepat pada pukul tujuh pagi. Satu jam sebelum jadwal pertemuan antara Divisi Satu dengan tim forensik untuk membahas hasil autopsi sementara Sara dimulai.
Suasana kantor sudah cukup ramai ketika pria itu tiba di lantai tujuh, lantai tempat biro utama penyelidikan kejahatan umum berada. Sebelum masuk ke dalam ruangan Divisi Satu, seperti biasa, Sasuke terlebih dahulu menyeduh kopi hitam tanpa gulanya di dalam pantry yang terletak di sebelah kanan lift. Sesekali ia juga menganggukkan kepalanya sopan ketika ada pegawai atau polisi lain yang menyapa.
"Yo, Sasuke!"
Detektif Uchiha itu mengangkat alisnya heran saat menemukan sahabat pirangnya sedang duduk manis di dalam ruangan Divisi Satu. Ia terlihat sedang mengobrol santai dengan rekannya yang bernama Yamanaka Sai. Sasuke hanya mendengus pelan lalu berjalan mendekati meja panjang yang terletak di ujung ruangan.
"Sedang apa kau di sini?" ucap Sasuke kemudian. Sambil menyender santai di kursinya, ia memperhatikan kesibukan rekan sedivisinya yang tengah mempersiapkan bahan rapat bersama tim forensik nanti. "Sai, di mana Suigetsu?"
"Dia—nah!" ucapan pria berambut klimis itu terpotong ketika orang yang baru saja disebutkan Sasuke masuk ke dalam ruangan tersebut sambil melambaikan tangannya.
"Yo!" sapa Suigetsu dilengkapi dengan senyum lebarnya yang khas. Pria itu kemudian mendudukkan dirinya di atas meja panjang di depan Sasuke.
Yamanaka Sai dan Hozuki Suigetsu adalah bagian dari Divisi Satu. Walaupun secara hierarki kedua pria itu berada di bawah Sasuke dan Kakashi, mereka berempat tetap bisa saling mem-back up pekerjaan satu sama lain dengan baik. Dinamika tim mereka juga dapat dibilang unik. Jika Sai adalah orang yang tenang dan Sasuke pendiam, Suigetsu adalah kebalikannya. Pria yang juga mengecat rambutnya menjadi perak keunguan itu memiliki kepribadian yang cukup mirip dengan Naruto—atau 'berisik' dalam versi Sasuke. Namun perbedaan itulah yang akhirnya membuat tim ini memiliki ikatan yang kuat.
Settt
Sasuke mendorong sebuah gantungan kunci ke arah Suigetsu. "Keluarkan board yang semalam dan bawa juga berkas kasus yang ada di atas meja."
"Oke, bos!" Pria itu langsung mengambil kunci tersebut kemudian membuka ruangan pribadi Sasuke dan masuk ke dalamnya. Tanpa kesulitan, pemuda beriris violet itu mendorong board yang semalam dilihat oleh Sasuke dan Naruto keluar lalu menyimpannya di pojok ruangan menghadap ke arah meja. Ia pun kembali lagi ke dalam ruangan sebentar untuk mengambil setumpuk berkas yang terdapat di atas meja Sasuke.
"Hei, jangan abaikan aku!" ujar Naruto sebal lalu berjalan mendekati sahabatnya yang tengah khidmat menikmati kopi paginya. "'Kan sudah kubilang kalau aku akan datang pagi ini."
"Hn. Tapi rapatnya baru akan mulai jam delapan?" tanya Sasuke dengan suara datarnya seperti biasa.
"Memangnya kenapa, tidak boleh datang lebih awal?"
"Tidak."
"Kenapa tidak boleh?"
"Kau berisik."
Kali ini perempatan siku-siku imajiner muncul pada jidat Naruto. Tangannya mengepal kesal, tapi sebisa mungkin ia coba tahan amarahnya dengan hanya mendengus kasar. Bisa-bisanya pemuda Uchiha itu menyulut emosinya sepagi ini.
"Morning boys!"
Suara seorang perempuan dari arah pintu menginterupsi kegiatan mereka. Terlihat Temari dengan jas lab kebanggaannya berjalan menghampiri meja Sasuke. Di belakangnya terlihat perempuan lain bersurai merah yang juga berjas lab berjalan mengikuti Temari. Di tangannya terdapat setumpuk berkas yang ia duga adalah hasil autopsi Sara.
"Hai cantik, sini biar kubantu!" ucap Suigetsu mendekati perempuan bersurai merah tadi. Yang didekati hanya mendengus sebal lalu menghindar dari Suigetsu dan meletakkan berkas tersebut di atas meja.
"Ouch, kau dingin seperti biasanya," ucap pria itu lagi sambil mengerucutkan bibirnya merajuk. Namun, perempuan tadi masih mengabaikannya dan malah memilih untuk segera duduk di kursi sebelah Temari. Sambil membetulkan kaca matanya, perempuan tersebut lalu mengambil satu rangkap berkas dan mendorongnya ke arah Sasuke.
"Seperti yang kau minta, aku juga membawa hasil autopsi Uzuki Yugao." Temari menyerahkan satu rangkap berkas lain yang dibawanya pada pria itu. Sasuke hanya mengangguk dan langsung mensejajarkan kedua hasil autopsi tersebut di atas meja.
"Hai sepupu, long time no see!" Naruto menghampiri perempuan bersurai merah tadi lalu duduk di sebelahnya. Uzumaki Karin, sepupu jauh Naruto, seorang dokter forensik yang saat ini bekerja bersama tim CSI kepolisian dan bertugas sebagai teknisi lapangan. Unit Crime Scene Investigation (CSI) merupakan tim khusus yang berfungsi untuk membantu jalannya penyelidikan. Unit ini juga merupakan unit khusus yang tergabung ke dalam Departemen Forensik NRIPS.
Sebagai unit spesial, setiap anggota yang tergabung ke dalam CSI memiliki keahlian khusus dengan tugas yang spesifik. Temari dan Karin adalah tim yang ditugaskan untuk membantu penyelidikan di bagian Divisi Kejahatan Umum, dengan Temari berperan sebagai ketua tim. Namun, dibandingkan dengan Temari, keberadaan Karin seringkali lebih dibutuhkan sebab sebagai ahli forensik, ia merupakan bagian penting dalam memeriksa dan menganalisis tempat kejadian perkara.
"Heh, sedang apa kau di sini?" ujar Karin sambil menghempaskan tangan Naruto yang ingin merangkulnya. "Kantor polisi bukan tempat bermain anak kecil."
"Hih," Naruto mendengus sebal. Tangannya ia tarik kembali lalu menyilangkannya di depan dada. "Pertama, jangan lupa kalau aku ini lebih tua darimu, Nona Merah. Dan kedua, tenang saja aku di sini bukan untukmu. Aku hanya ingin mengetahui perkembangan kasus Sara."
Karin yang ikut sebal melihat tingkah sepupu pirangnya itu langsung menekan dada Naruto dengan jari telunjuknya. "Itu bukan urusanmu."
"Tentu saja urusanku. Dia adik sepupuku."
"Ya, ya, tentu saja sepupu kesayangan semua orang."
"Karin—!"
"Sudah cukup." Sasuke melemparkan berkas yang tadi dibacanya ke atas meja dan suasana pun menjadi hening seketika. "Jika ingin bertengkar silakan di luar. Rapatnya akan langsung dimulai segera setelah Kakashi datang."
Dua Uzumaki yang tadi ribut pun mengangguk kaku dan langsung memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan. Sedangkan rekannya yang lain sambil meneguk ludah gugup, segera menyelesaikan kegiatan masing-masing lalu ikut bergabung bersama Sasuke di meja rapat. Tidak lama kemudian, Kakashi tiba dengan secangkir kopi di tangan kirinya.
"Yo! Pagi semuanya!"
"Pagi, Taichou!" jawab mereka kompak. Kakashi yang melihat keadaan canggung tersebut menaikkan alisnya heran. Mengabaikan hal tersebut, ia pun melihat ke arah Sasuke yang sedang membaca hasil autopsi tadi tak acuh. Pria itu menghela napas pasrah lalu segera duduk di sebelahnya.
"Apa semuanya sudah di sini?"
"Sudah, Taichou."
"Oke kalau begitu kita mulai rapatnya," ucap Kakashi lalu berdiri kembali dan menghampiri board kasus yang dikeluarkan oleh Suigetsu. Karin yang bertanggung jawab atas bagian autopsi pun segera membagikan berkas yang tadi dibawanya.
"Ehem," Sai berdehem pelan mengalihkan atensi semua orang yang hadir pada rapat tersebut. "Jadi seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, korban bunuh diri semalam bernama Uzumaki Sara, berumur dua puluh dua tahun, perkiraan waktu kematian pukul delapan pagi di gedung apartemennya sendiri. Korban diduga melompat langsung dari balkon kamarnya yang berada di lantai lima belas."
Pria berambut klimis itu pun menjelaskan kembali hasil olah TKP yang kemarin sudah dibahas, sebelum nantinya akan dilanjutkan oleh Temari dan Karin untuk memaparkan hasil autopsi.
"Jadi, dugaan sejauh ini adalah murni kasus bunuh diri."
Semua orang mengangguk paham.
"Untuk hasil autopsi, seperti yang terlihat pada berkas yang telah kalian terima, kesimpulannya kurang lebih juga sama," ucap Temari sambil mengangkat kertas yang dipegangnya.
"Patah tulang di bagian leher, tangan dan kaki. Tulang rusuk korban juga patah dan melukai sebagian paru-paru sebelah kirinya. Tengkorak kepala retak lebih parah dari bagian lainnya, bisa disimpulkan jika pada saat jatuh bagian atas korban menghantam beton terlebih dahulu. Benturan ini dan retakan di bagian leher tadi menyebabkan korban tewas seketika," tambah Karin.
Semua orang mengangguk paham.
"Terakhir, tidak ada indikasi apapun yang mengarah pada kekerasan. Luka pada tubuh korban semuanya murni akibat terjatuh. Hasil tes darah korban juga normal, tidak sedag dalam pengaruh alkohol ataupun mengkonsumsi obat-obatan," ujar Temari menyimpulkan. "Dengan ini tim forensik menyimpulkan jika tidak ada kejanggalan pada kematian korban."
"Hmm." Kakashi mengetukkan jarinya pelan di atas meja, sedangkan iris gelapnya tampak menerawang jauh. "Jadi, bunuh diri lagi?"
"Keterangan yang diberikan oleh tetangga dan keluarga korban juga sama, tidak ada yang janggal. Menurut teman kampusnya, mungkin Sara memang melakukan bunuh diri sebab belakangan ini sepertinya gadis itu menjadi sedikit lebih stress, terutama setelah wisudanya kemarin," Suigetsu menambahkan. Ia menganggukkan kepalanya pelan sambil membaca hasil investigasinya kemarin sore. "Hanya saja keluarganya masih tidak percaya Sara bunuh diri, sebab—yah menurut mereka gadis itu masih ceria seperti biasanya."
"Hmm."
Sasuke tampak menimang semua laporan yang diterimanya tersebut. Irisnya sesekali melirik laporan kasus miliki Uzuki Yugao—korban bunuh diri sebelumnya. Ia adalah seorang pengacara berusia tiga puluh dua tahun, belum menikah tetapi sudah menjalin hubungan romantis dengan kekasihnya saat ini sejak tiga tahun yang lalu. Kematian Yugao juga dianggap kasus bunuh diri, mirip dengan kasus kematian Sara kemarin. Selain fakta bahwa keduanya adalah perempuan, tidak ada satu pun kejanggalan dalam kedua kasus tersebut.
Pria bermarga Uchiha itu pun memijit pelipisnya pelan. Sangat mudah, sangat umum, dan sangat membuatnya bingung. Benarkah hanya copycat suicide? Benarkah Sara sefrustasi itu hingga kematian Yugao menginspirasinya untuk melakukan bunuh diri juga? Tapi kenapa intuisinya mengatakan kalau ada sesuatu yang lain? Terutama dengan kehadiran tiba-tiba Sakura kemarin. Ah, Sakura...
Pikiran Sasuke memutar kembali kejadian aneh yang dialaminya semalam. Bertemu dengan seorang arwah? Hantu? Makhluk? Atau apalah itu yang sukses membuat logikanya jadi berantakan. Ia adalah seorang pria yang logis, yang selalu mengedepankan sains dan selalu skeptis terhadap hal-hal yang berbau mistis. Namun, kehadiran Sakura kemarin bukan saja mengacaukan logikanya, tapi sepertinya juga membuatnya gila. Entah apa yang dipikirkannya semalam hingga berani mengajak hantu cantik itu untuk bekerja sama.
"Hmm…"
Bulu kuduk Sasuke meremang ketika mendengar suara feminin yang terus menghuni pikirannya sejak semalam. Ia pun tersentak kaget saat melihat Sakura berada di sampingnya—dengan badan yang hampir menempel pada punggungnya—tengah memperhatikan berkas Yugao dan Sara dengan serius.
Sasuke pun refleks berdiri dan menjauhkan badannya dari gadis tersebut. Sedangkan Sakura sambil bersidekap dada memandang pria itu bingung. Netra hijaunya seketika membola saat menyadari sedang berada di mana dirinya saat ini.
"Teme, kau kenapa?" tanya Naruto bingung melihat raut kaget Sasuke. "Kau terlihat seperti habis melihat hantu saja."
Sasuke mengontrol kembali ekspresinya menjadi datar lalu berdecak sebal. 'Memang ada hantu di sini, heh.'
"Apakah kau menemukan sesuatu?" Kakashi kembali bertanya saat Sasuke masih diam tidak menjawab pertanyaan Naruto tadi.
"Tidak ada," jawab detektif itu singkat. Ia menggeserkan kursinya pelan menjauhi Sakura lalu kembali duduk dengan tenang—setenang yang dia bisa sebab jantungnya saat ini masih berpacu dengan cepat.
'Bagaimana gadis itu bisa ada di sini? Bukankah dia bilang dia tidak bisa meninggalkan gedung NRIPS?'
"Wow, Sasuke-san apa yang kau lakukan hingga aku bisa ada di sini?" ucap Sakura sambil menahan geli melihat wajah Sasuke yang sejak kemunculannya terlihat sedikit memucat. Tanpa rasa bersalah gadis itu pun berjalan-jalan di sekitar Sasuke dan rekan setimnya yang lain.
"Ah, mau pura-pura tak melihatku?" ucap Sakura lagi dengan nada menggoda.
Sasuke hanya melihat tajam ke arah Sakura seolah berkata 'diam, jangan menggangguku.' Namun, raut bahagia yang muncul pada wajah cantik gadis itu sedikit meredakan kekesalan Sasuke. Ia pada akhirnya tak bisa lagi fokus pada obrolan rekan setimnya yang lain. Netra gelapnya terus memperhatikan Sakura yang tengah berjalan kecil di sekitar meja rapat sambil sesekali mengejek Sasuke dengan menjulurkan lidahnya.
'Bagaimana dia bisa ada di sini?' Sasuke bergumam dalam hati. 'Aku hanya tidak sengaja memikirkannya dan—ah!'
Tanpa Detektif Uchiha itu sadari, Sakura sudah kembali berada di hadapannya dengan punggung yang tengah menyender santai pada tepian meja.
"Sasuke-san…" Suara lembut gadis itu kembali membawa Sasuke pada kenyataan. Iris gelapnya lalu bersirobok dengan tatapan tak berbaca iris hijau di hadapannya. "Apakah kau sedang memikirkanku?"
.
.
'do you think the universe fights for souls to be together? some things are too strange and strong to be'
.
.
.
tbc
A/N
Terima kasih buat yang sudah fave/follow/review!
Kindly lemme know your thoughts about this chapter!
