I Never Thought To Be With You

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pair : Sasuke X Hinata

CHAPTER 3 : SASUKE X HINATA

They are reunited

Sore itu hujan deras turun di perkotaan, sasuke habis berkeliling untuk membeli beberapa barang dan kini sedang berteduh di stasiun kereta. BUK! Seseorang menabraknya dari belakang.

"maafkan aku," suara lembut keluar dari belakang punggungnya.

Sasuke tersenyum mendengar suara itu, "kau masih saja ceroboh, hinata?" katanya ketika membalikan badan. Gadis itu Nampak terkejut melihatnya saat ini, "kau baru pulang kuliah?"

"mm… ya, tadi temanku minta di temani untuk berbelanja beberapa barang dan baru saja pulang" jawab hinata dengan wajah tersipu.

Sasuke merasa sedikit canggung, beberapa saat tidak bertemu dengan hinata dan sekarang gadis ini berada di depanya. Rambutnya agak sedikit panjang, kata sasuke di dalam hati. "hujanya sangat deras, berkenan jika aku mampir ke apartemenmu? Pakaianku basah semua."

Hinata terlihat agak ragu, "mm.. baiklah" jawabnya akhirnya. Mereka pergi naik subway yang menuju kearah apartemen hinata, sasuke tidak bisa mengalihkan pandanganya dari hinata.

Mereka sampai di apartemen hinata, sasuke melihat beberapa perubahan di dalam apartemen itu. banyak barang baru dan beberapa letak yang berubah. "tunggu di sana aku akan ambil handuk utnuk mengeringkan" kata hinata yang langsung cepat berlari ke dalam mengambil handuk, "pakai handuk ini untuk mengeringkan" kata hinata memberikan sehelai handuk kepada sasuke.

"banyak yang berubah," gumam sasuke tapi sepertinya gumamanya cukup keras sampai membuat hinata agak kaget, "ganti suasana?"

"begitulah" jawab hinata.

Hujan tak juga reda selama beberapa saat ini dan malah bertambah deras. "aku akan menelpon shikamaru untuk menjemputku" kata sasuke mengambil ponselnya di dalam kantong celananya, tapi ternyata ponselnya basah karena hujan.

"kau bisa pakai ponselku" kata hinata,

"bukan itu masalahnya, tapi aku tidak hafal nomor telfon shikamaru" kata sasuke.

Hinata terlihat ragu melihat sasuke, "kau bisa bermalam disini jika kau mau. Aku akan mengambil selimut untukmu" tawar hinata.

"terimakasih, hinata" jawab sasuke. sasuke bisa merasakan kecanggungan hinata kepadanya, tapi dia juga bisa merasakan kalau hinata masih menyayanginya. Hinata bukan tipikal orang yang akan membiarkan laki – laki masuk begitu saja ke dalam apartemenya dia.

"ini bir untukmu" kata hinata memberikan sekaleng bir untuk sasuke, "aku ingin menonton tv, acara hari ni sedang bagus."

Mereka berdua diam menonton acara televise, sesekali hinata tertawa karena acara televise itu dan sasuke yang tersenyum melihat gadis disampingnya itu tertawa. Jam menunjukan pukul sebelas malam dan sudah saatnya untuk tidur.

"aku akan pergi tidur, selamat malam" kata hinata merapikan semua makanan yang ada di meja ruang tengah agar sasuke juga bisa tertidur.

Sasuke memperhatikan hinata masuk kedalam kamarnya lalu dia menyandarkan diri di sofa, menyesali apa yang tidak bisa dia katakana sejak tadi. Dia ingin tahu bagaimana kabar gadis itu, ingin tahu siapa laki – laki yang bersamanya kemarin, ingin tahu apakah dia masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu. "bodoh," gumam sasuke yang menenggelamkan wajahnya kedalam bantal.

Hinata berbaring di ranjangnya, menaikan selimut hingga kedadanya lalu meremas kerah kausnya. Dia sudah berusaha menahanya selama ini, dia sendiri tidak pernah menyangka kalau akan bertemu lagi dengan sasuke, membawanya kembali ke apartemen membuat semua kenangan yang sudah berusaha dia lupakan beberapa bulan ini kembali dalam sekejap, namun dia juga tidak bisa menolak sasuke yang basah kuyup kehujanan, masih butuh waktu sekitar 2 jam bagi sasuke untuk sampai ke rumah shikamaru jika menggunakan transportasi umum.

Sret, sasuke masuk kedalam selimut hinata dan membuat gadis itu terkejut. "Sasuke?" tubuh laki – laki itu memeluknya dari belakang, sama persis seperti saat mereka di rumah sakit. Sasuke menenggelamkan wajahnya ke leher hinata.

"diluar sangat dingin," katanya memeluk erat hinata dari belakang, "biarkan aku tidur disini."

Hinata menarik nafasnya, "sasuke kau mabuk?"

Sasuke makin menenggelamkan kepalanya ke leher hinata, "hm? Aku tidak akan mabuk hanya dengan satu kaleng bir," sasuke diam sesaat, "tolong biarkan aku seperti ini. banyak hal yang ingin aku bicarakan tapi aku tidak pernah bisa memulainya."

"Sasuke…"

"aku tidak pernah bisa berkata apapun ketika aku sudah melihat wajahmu," lanjut sasuke "aku tidak pernah mengucapkan salam sebelumnya, tidak pernah tersenyum padamu, tidak pernah menciumu, aku juga yang melepaskanmu dan tiba – tiba aku muncul kembali ke hadapamu."

"lupakanlah" kata hinata memotong perkataan sasuke, "waktu 'itu' adalah kesalahan."

Sasuke mengencangkan genggamanya terhadap tangan hinata, membalikan tubuh gadis itu dan menatap lurus kearah matanya. Dia tahu gadisnya sedang menahan airmata yang hendak jatuh, "tidak pernah ada kesalahan. Bukan salahmu yang menerimaku malam itu, bukan salah alcohol juga. Aku memang menginginkanmu. Hanya saja aku tidak berani bersikap untuk menghadapimu, aku takut aku melukaimu."

"kenapa? Kenapa kau mengatakanya sekarang?" air mata hinata jatuh, dia berusaha untuk tidak mengeluarkan isak tangisnya tapi tidak bisa, sentuhan sasuke di kepalanya membuatnya nyaman. Sasuke menarik hinata kedalam pelukanya. "kenapa kau mengatakanya disaat aku sudah bisa merelakan semuanya? kau yang dari awal ingin status pertemanan kita tidak berubah."

"maafkan aku, itu memang kesalahan terbesarku."

Hinata tidak bisa berhenti menangis semalaman dan sasuke tidak pernah melepaskan pelukanya kepada hinata sampai akhirnya gadis itu bisa terlelap.

Pagi menjelang dan hinata terbangun dari tidurnya, sampingnya kosong dan terdengar suara berisik dari dapur. Dia turun dari ranjang dan mendapati sasuke tengah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua.

"pagi," sapa sasuke sambil tersenyum.

Hinata merasa agak sedikit canggung dengan hal ini, "aku tidak apa, sungguh. Kau tidak perlu…"

"apa yang kau katakan?" tanya sasuke sambil menatap hinata yang berdiri di pintu dapur. "cuci wajahmu, sikat gigi dan kita sarapan."

Hinata melakukan apa yang sasuke minta, pergi ke kamar mandi, mencuci wajahnya lali sikat gigi. Sesaat hinata melihat dirinya di cermin, matanya bengkak karena langsung tetidur setelah menangis. "haruskah aku senang?" tanyanya pada dirinya snediri di hadapan cermin, "aku takut hal seperti ini akan pergi."

"hinata kau sudah selesai?" sasuke tibat – tiba muncuk di pintu kamar mandi, "ayo makan."

"hn," hinata berjalan mengikuti sasuke ke meja makan. Sasuke pandai memasak, itu yang hinata pikirkan ketika berbagai makanan terhidang di atas meja makannya.

Tidak banyak percakapan diantara mereka ketika menyantap sarapan pagi kala itu. Sesekali saling melirik kemudian membuang pandangan ketika mata saling bertemu. Hinata tidak akan pergi kemana – mana, dia langsung menyetel tv setelah selesai makan. Sasuke menyusulnya sesudah merapikan alat makan.

Tidak ada yang membuka percakapan diantara mereka. "Sasuke kau boleh pergi," kata hinata dengan wajah datarnya.

Sasuke tidak menanggapinya.

"aku baik – baik saja. Aku sudah memaafkanmu jika kau merasa bersalah" air mata hianta kembali terbendung, "kita bisa kembali menjadi teman."

Sasuke menoleh kearah hinata, memutar kepala hinata kemudian menempelkan bibirnya ke bibir hinata, ciumanya lembut dan dalam selama beberapa menit. "Hinata, ayo kita menikah."

"eh?"

=TAMAT=