Sakura's POV
Setelah kejadian di perpustakaan tadi, aku segera pulang. Meninggalkan Ino yang masih menungguku. Beralasan bahwa aku lupa datang ke sana bersamanya. Ino kesal tentu saja. Tapi, biarlah. Aku tak ingin ia melihat jejak air mataku. Ia seorang Interogator sejati. Awalnya aku berencana pulang naik bus. Tapi, Itachi-nii menawariku tumpangan. Tak apalah. Jadi, orang-orang di bus tak akan menatap heran pada wajahku yang masih sembab.
Tapi, seorang pewaris Haruno Corp pulang naik bus? Apa itu yang ada di benak kalian? Kalian bepikir aku sosok sederhana atau pura-pura sederhana? Kenyataannya tidak juga. Aku memang selalu pulang bersama Ino. Ia bukan orang berkecukupan. Ia datang kemari untuk melanjutkan pendidikan yang sudah ia tekuni sejak di desanya. Setiap malam selalu memiliki jadwal kerja paruh waktu di sebuah kafe. Ia harus memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Sekolah di sini saja karena beasiswa. Kasihan? Tapi, ia tidak merasa sedih dengan itu. Ia sosok yang kuat. Membuatku berpikir aku ingin menjadi sekuat dirinya. Lagipula ia merasa bersyukur. Dengan kehidupannya ini, Ia berhasil menemukan pangerannya. Benar. Shikamaru adalah pelanggan di café tempatnya bekerja.
Sekarang kalian berpikir kenapa aku tidak memberinya tumpangan dengan mobilku? Kalian harus dengar saat ia bilang, "Aku sudah memperhitungan semua pemasukan dan pengeluaranku. Dan itu sudah termasuk hiburanku. Itu cukup. Lagipula ibuku akan marah jika tahu aku memanfaatkan temanku sendiri…" see? Betapa ia juga sosok wanita idaman seperti Karin-nee.
Jadi, kenapa tidak aku saja yang pulang sendiri dengan mobilku? Emnn… Harus kuakuitanpa Ino rasanya begitu sepi. Ia bahkan dapat meluruhkan emosiku saat bahkan ia tak tahu bahwa aku marah. Bukan padanya tentu saja. Pada diriku. Yang bodoh dan menyedihkan.
Aku segera masuk ke kamar setelah sampai di rumah. Tak ada sambutan nee-san kali ini. Ia punya jadwal check up. Kuakui rumah cukup sepi tanpanya. Biasanya, saat pulang ada saja yang ia masak. Tentu saja ia menawariku. Tapi, aku jarang menerimanya. Aku selalu makan bersama Ino sebelum pulang.
Destinasiku kali ini adalah meja belajarku. Tepatnya pada laptop silver di atasnya. Kutekan tombol power di sana. Segera saja tombol-tombol di keyboardnya menyala terang namun tidak menusuk. Seolah menunjukkan lebih jelas identitas mereka. Sehingga aku dapat lebih mudah mengetahui letak huruf A dan abjad-abjad lain beserta tombol-tombol perintah lainnya seperti enter dan delete.
Tanganku mulai membuka buku-buku tebal yang tadi kupinjam di perpustakaan kampus. Membolak-balik lembar demi lembarnya dengan perhatian penuh pada buku itu. Tugas ini harus segera selesai. Ah, rasanya aku sudah merindukan tempat tidurku.
If Something happen to me, will you afraid?
I don't know.
To be continued
a/n. Hai, saya muncul dari persembunyian. wkwk. Rasanya udh lama banget nggak sentuh fic ini. Tapi saya tetep jadi reader aktif sih... Btw, saya tiba2 kepikir update fic ini setelah adek saya ngritik keluhan saya tentang author yg gk kunjung update cerita mereka. Saya review minta yg lain update tapi saya sendiri nggak pernah update. Saya minta maaf untuk yg merasa ter-PHPkan #halah Sekaligus saya berterima kasih untuk yg udh ngefollow dan ngefave baik cerita maupun akun saya. Dan maaf untuk yg reviewnya blm saya bales. Laptop saya rusak jadi gk bisa log in pke laptop dan cuma pke hp. Saya nggak paham siap aja yg blm saya bales klo liat di hp.
Oya, maaf ya, klo chapter kali ini pendek banget. Saya buat note singkat di bio about something. Yg ada waktu, monggo mampir...
Akhir kata,
Arigatou Gozaimasu.
~Arletta Lou~
Yogyakarta, 1 Februari 2018
