Wildest Dreams

Rated: M / for mentioned of sex and anything bad.

Genre: Romance/One-sided/FriendWithBenefitsAU!

Length: Oneshot. / Drabble.

Pair: MinYoon.

Cast: Min Yoongi, Park Jimin.

Warning! BL! YAOI! BOY X BOY

It's BTS YOONMIN FANFICTION!

Don't like, Don't read! NO BASH!

Itadakimasu~

.

.

.

Some day when you leave me,
I bet these memories hunt you around.

His hands are in my hair, his clothes are in my rooms.

Yoongi memandangi wajah pria tampan yang sedang memeluknya erat setelah pergumulan mereka setengah jam yang lalu. Yoongi sungguh lelah, pria itu menggagahinya dengan nakal namun ia tahu dengan baik dimana titik sensitif yang bisa membuat Yoongi berada di cloud nine.

Yoongi mengelus pelan rahang tajam pria itu, Park Jimin –namanya.

Jujur saja Yoongi justru tak bisa tertidur jika dipeluk dengan erat seperti ini. Jadi ia berakhir memandangi wajah tampan Jimin. Yoongi mengangkat tangannya perlahan dan mengelus pipi pria itu, dan semakin naik hingga ke pelipisnya. Mengelusnya, lalu mengecupnya lembut.

Jimin mengerang dalam tidurnya, merasakan hangatnya telapak tangan mungil itu diwajahnya, Jimin membawa telapak tangan itu ke hadapan wajahnya lalu mengecupnya sayang beberapa kali.

"Apa yang sedang mengganggu pikiranmu, sayang?" suara itu serak, Yoongi hampir saja meledak mendengarnya.

Yoongi menggeleng pelan sambil membalas tatapan tajam namun tidak mengintimidasi itu.

"Tak ada, Jimin. Aku hanya sedang ingin memandangi wajahmu..."

Jimin hanya bergumam sambil terus mengendus telapak tangan mungil itu diwajahnya. Ia semakin mengeratkan pelukannya dipinggang Yoongi sambil berbisik rendah dan menjilati telinga yang sedikit memerah itu.

"Jangan terus-terusan mengelusku sayang, aku jadi keras lagi, aku jadi menginginkanmu lagi..."

.

.

.

.

.

"I just wanna know if pain and pleasure are really exist..."
"Nothing last
forever. But this is gettin' good now..."

Jimin mengelus pinggang Yoongi dan meremasnya pelan, sambil terus memberi kecupan manis di tengkuknya.

"Ji-Jiminhh..." desahan halus mengalir dari bibir sehalus sutera milik Yoongi. Jimin tersenyum senang.

"Ada apa, sayang?" bisik Jimin di telinga Yoongi.

"A-Apa kau benar-benar akan pergi?" Jimin menghentikan kecupannya dileher putih Yoongi yang masih dihiasi tanda api dari Jimin.

"Iya, sayang. Tenang saja, aku takkan lama..."

.

.

.

Say you'll remember me...

Jimin melangkahkan kakinya masuk ke dalam pub besar di sudut kota besar Los Angeles. Musik berdentum kencang ditelinganya. Begitu banyak mata kosong yang dikuasai nafsu sedang menari, mencari kepuasan.

Parfum jalang yang menyengat, membuatnya sedikit mabuk dan pusing.

Jimin duduk di sofa panjang disana setelah disuguhi sebotol Vodka keluaran tahun 1935. Jimin tersenyum nakal pada seekor jalang yang mendatanginya dan duduk di pangkuannya dengan mini-dress berwarna hitam, kontras dengan warna lipstick dan high-heels yang ia kenakan.

"Kau butuh sesuatu, hm? Tuan muda?" jalang itu mengecupi rahang tajam Jimin dengan bibirnya yang merah, membakar Jimin.

"Entahlah. Aku akan lebih menyukai sesuatu yang gratisan, kitten." Jimin menyeringai di jenjang leher jalang itu.

"Bagaimana dengan vice-versa?" bisik jalang itu sambil melakukan slow lap-dance untuk Jimin.

"Hmm?" Jimin masih sibuk menodai leher jalang itu.

Jalang itu terkekeh pelan, "Kau tak perlu membayarku, master. Just do a one night-stand with me until tomorrow morning."

Tak perlu mengeluarkan sepatah-katapun, Jimin meminta seorang petugas untuk membukakan satu kamar untuk Jimin dan wanita semalam-nya.

.

.

.

.

"He's so tall and handsome as hell,
he is so bad, but he does it so well."

Yoongi memeluk gulingnya dan tersenyum disana ketika mengingat kegiatan-kegiatan yang ia dan Jimin lakukan.

Ia sangat mencintai Jimin. Mencintai cara Jimin memperlakukannya, menggagahinya.

Namun sudah seminggu Jimin meninggalkannya entah kemana. Los Angeles bukan kota kecil. Ia mengikuti ide Jimin ketika ia berkata akan membawa Yoongi ke tempat yang aman, yang hanya ada mereka berdua.

Jimin bukanlah berandalan atau semacamnya. Jimin adalah anak orang kaya, pemilik beberapa perusahaan, namun ia tidak begitu ambil pusing soal takhta yang dimiliki orang tuanya.

Yang ia inginkan hanyalah; pain and pleasure.

.

Yoongi mengenal Jimin di bar, Yoongi adalah seorang bartender dulu. Jimin berkata bahwa ia sangat cantik dan menawan. Membuat nafsu menguasai Jimin dengan cepat dan perasaan ingin 'menawan' Yoongi-nya menjadi sangat kuat.

.

.

.

And he said, "No one has to know what we do..."

Jimin kembali ke pelukan Yoongi dua minggu kemudian, membawakan Yoongi banyak makanan dan pakaian. Yoongi tersenyum senang.

Jimin tak bisa menahan rasa lapar-nya melihat Yoongi hanya mengenakan kemeja tipis berwarna putih tanpa apapun lagi didalamnya.

Malam itu Yoongi kembali mendengar suara familiar Jimin yang membuatnya jatuh cinta, lagi, lagi, dan lagi.

Meski Yoongi sudah tau akhir dari cerita ini dari awal.

.

.

.

.

And we've had our very last kiss...

Seminggu lalu Yoongi mendapati Jimin membawa wanita di apartment mereka...

Yoongi membiarkan Jimin melakukan apapun semaunya malam itu.

Hingga keesokan harinya, Yoongi menamparnya, memberi ciuman liar disetiap inch tubuhnya, meyakinkan bahwa Park Jimin hanyalah miliknya seorang, bukan milik orang lain.

Ia mengucapkan itu disetiap kecupannya. Bahwa Jimin hanya miliknya.

I can see the end as it begins...

Hingga mereka mencapai climax. Yoongi yang berada di atasnya, mengatur nafas kewalahan, ia mengecup pelan bibir Jimin dan berkata bahwa Jimin hanyalah miliknya.

Namun tatapan Jimin menolak.

"Kau tahu bukan hubungan seperti ini yang aku inginkan, Min Yoongi..."

"A-Apa—"

"Kita tak saling memiliki, Yoongi."

Jimin membersihkan tubuhnya dikamar mandi dan pergi meninggalkan Yoongi yang masih mematung di atas tempat tidur.

.

.

Setelah kejadian itu, Jimin kembali hanya untuk bertengkar dengannya. Have a rough-sex-night. Have a mad-sex dengan Yoongi. Melampiaskan seluruh kemarahannya ditubuh Yoongi hingga ia yakin pain and pleasure is true.

"You see me in hindsight. We're just tangled up every night."

.

Hingga Yoongi kewalahan, ia membawa Jimin yang marah dan kalap kedalam pelukannya...

"Say you'll see me again...
even when it's just pretends."

Yoongi membiarkan Jimin pergi, dengan perasaan bercampur aduk dihatinya. Ia ingat bagaimana wajah itu, ciuman panasnya, ketika tubuh mereka menyatu, ketika Jimin membisikkan kata cinta yang tak bermakna apa-apa.

.

.

.

.

Say you'll see me again...

Jimin melangkahkan kakinya di pub yang sama setelah dua tahun lamanya.

Pub yang sama, parfum jalang yang menyengat, para pencari dosa, dan kenikmatan, serta bartender cantik dengan kulit seputih susu bersurai smoke-grey.

Even if it's just in your wildest dreams...

.

.

.

END.