I Love You

Rated: T

Genre: Hurt/One-sidedFriendWithBenefitsAU!

Length: Oneshot. / Drabble.

Pair: Vkook / TaeKook / JiKook

Cast: Kim Taehyung, Jeon Jungkook, Park Jimin.

Warning! BL! YAOI! BOY X BOY!
ALUR TIDAK JELAS!

It's BTS TAEKOOK FANFICTION!

PARK JIMIN! MENTIONED.

Don't like, Don't read! NO BASH!

Itadakimasu~

.

.

.

You say, there's one night that I didn't remember.

Kim Taehyung –namanya, menatap langit-langit kamarnya dengan putus asa. Ada banyak hal terjadi dalam waktu sehari. Dia kehilangan semua hubungan yang di bangunnya dengan hati-hati bersama kekasihnya dalam waktu sekejap.

Dia ingin sekali menertawakan kebodohannya. Entah Jungkook –kekasihnya yang mempermainkannya, atau dia yang justru menyakiti perasaan kekasihnya itu. Taehyung ingin sekali menggigit lidahnya sendiri hingga putus saat tanpa sengaja mengumpati kekasih manisnya itu.

Tapi itu bukan keinginannya. Tidak, dia tidak mungkin tega mengumpati lelaki manis itu, tidak mungkin. Jangan sebut dia Kim Taehyung kalau dia berani mengumpati Jeon Jungkook. Dia takkan mungkin berkata kasar pada lelaki kesayangannya yang berbeda usia dua tahun di bawahnya itu.

Namun pemandangan yang selama ini Taehyung liat dengan mata kepalanya sendiri membuatnya sedikit terbakar hingga ia tak bisa menahan lagi umpatan yang sudah bertengger di ujung lidahnya.

Pemandangan mengerikan kemesraan kekasihnya dan seorang model tampan, Park Jimin yang selalu terjadi tanpa sepengetahuan Taehyung sendiri. Taehyung harus menyebutnya apa? Teman? Sahabat? Selingkuhan? Cih, menjijikkan. Tak bisakah si Park Jimin itu mendatanginya –melangkahi mayatnya— dan merebut Jungkook dengan cara jantan?

Lalu mengapa Jungkook menyelingkuhinya?

Apa Taehyung kurang tampan? Kurang kaya?

Apa satu apartmen mewah yang diberikan Taehyung di bawah nama Jeon Jungkook masih belum cukup?

Apa waktu yang Taehyung berikan kurang untuknya?

Apa bed-service yang Taehyung berikan kurang menggairahkan?

Taehyung menggeram, mengubah posisinya, duduk bersila dengan sebatang rokok di bibir merahnya. Pelarian. Sudah lama ia tidak menyentuh batangan tembakau mematikan itu. Ia mengacak surai merahnya kasar. Tak henti-hentinya menghela nafas panjang, ia menghisap rokoknya sambil memejamkan mata.

.

.

.

.

Taehyung memarkirkan fortuner putihnya di halaman depan rumah Jungkook. Apartmen yang Taehyung berikan kosong, Jungkook memilih kembali ke rumahnya karena pertengkaran mereka.

Namun Taehyung belum menyerah, lima tahun bukanlah waktu yang singkat.

Taehyung menginjak rokoknya yang telah memendek di halaman rumah Jungkook. Ia segera menuju ke lantai dua di depan kamar Jungkook setelah mengetahui dari ibu Jungkook bahwa ia tak mau keluar dari kamarnya selama beberapa hari.

Taehyung mengetuk pintu itu perlahan, memanggil Jungkook dengan suara seraknya namun tak ada respon dari dalam sana. Taehyung memutar gagang pintu itu dan mendorong pintu bercat putih itu perlahan.

"Kook-ah?" panggilnya namun tak ada jawaban, Taehyung melihat wajah lelaki yang sangat dicintainya itu tertidur dengan damai. Sudut bibirnya terangkat dengan sendirinya membentuk ukiran senyuman kecil. Ia mendekati malaikatnya itu dan duduk di sisi tempat tidur Jungkook.

Taehyung menyisiri surai hitam Jungkook dengan jemarinya perlahan. Tersenyum ketika Jungkook menyamankan kepalanya di genggaman Taehyung, lalu menggeliat sebentar sebelum membuka matanya perlahan, mengerjap.

"J-Jimin?" cicitnya pelan. Bibir Taehyung membentuk sebuah garis lurus. Ia melepaskan jemarinya dari rambut Jungkook.

"Sayang sekali, aku Taehyung bukan Jimin." ucap Taehyung dengan seringai kecewanya.

"T-Tae-hyung? K-Kenapa kau—"

"Kenapa? Apa aku tak boleh mengunjungi kekasihku untuk meminta permohonan maaf darinya?" Jungkook terkejut dengan penekanan di setiap kalimat Taehyung.

"Taehyung, ku mohon jangan bahas masalah ini lagi... bukankah kita sudah menyelesaikannya?" Jungkook berdiri di hadapan Taehyung yang masih duduk di sisi tempat tidurnya.

"Apa yang selesai Jeon Jungkook? Bisakah kau jelaskan padaku di bagian mana yang sudah terselesaikan?" Taehyung menggenggam kedua tangan Jungkook.

"Bagian bahwa kau dan aku sudah tak ada hubungan apa-apa lagi, Kim Taehyung." Tegas Jungkook sambil berusaha menarik tangannya dari genggaman Taehyung yang menguat.

"Jungkook-ah..."

"Tolong jelaskan padaku... apa yang kurang dari ku? Apa yang tak bisa ku berikan untukmu? Kau memiliki seluruh hatiku. Kau memiliki seluruh cintaku. Apa yang membuatmu memutuskan hubungan lima tahun kita ini Kook-ah?" Taehyung semakin mengeratkan genggamannya namun tak berniat menyakiti tangan itu.

"Karena... karena aku mencintai Park Jimin dari jauh sebelum aku mengenalmu."

Taehyung tak percaya dengan jawaban Jungkook, ia berusaha mencari kebohongan di mata itu namun ia tak menemukannya.

"Jadi, selama ini kau bukanlah teman model itu, namun kekasih nya?" Jungkook menggigit bibirnya, merasa sedikit bersalah karena telah mengkhianati Taehyung.

"Selama ini kau menatapnya, berbicara dengannya, jalan bersama dengannya bukan karena kalian teman lama atau sejenisnya, tapi karena kalian sepasang kekasih?" Taehyung melepaskan genggaman tangannya perlahan.

"Aku sangat mencintaimu Jeon Jungkook. Aku tak bisa berkutik saat melihatmu memeluk Jimin di apartmen mu saat itu, kau berkata bahwa ingin pulang lebih awal dari kencan kita karena harus membantu ibumu, namun kau pergi bersama orang lain."

"Jimin bukan orang lain!" Jungkook setengah berteriak sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

"A-Aku... aku sangat mencintainya. Dia meninggalkanku untuk karirnya di Itali, aku tak bisa melakukan apa-apa selain merindukannya dan berusaha mencari pelepasan. Aku menemukanmu dan kau tampak sangat baik padaku, aku hanya menganggapmu seperti kakakku, bestfriend with benefits, selama lima tahun terakhir aku selalu berpikir untuk mencari cara agar dapat tetap bisa bersama dengan Jimin dan tetap menjaga perasaa—"

"Baiklah. Jeon Jungkook. Aku tak perlu mendengar semua pengakuan kebohonganmu. Karena seburuk apapun kelakuanmu terhadapku, aku tetap mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, sangat sulit untu melepaskanmu, Kook."

"Taehyung-ah, ku mohon mengertilah..." Jungkook sama sekali tak membalas tatapan Taehyung.

"Kau tahu Jungkook, aku merubah kepribadian burukku yang melakukan one night stand pada semua orang yang membutuhkanku. Aku mengubah diriku menjadi seperti yang kau inginkan, dan aku mersa lebih baik. Semua tatto yang ku buat di tubuhku hanyalah pengakuan cintaku padamu, Jeon. Aku menyukai semua yang berhubungan denganmu, aromamu, senyummu, tawamu, caramu berbicara, bercanda, kecupanmu, semuanya. Aku sudah tahu sejak lama bahwa kau dan model itu ada hubungan khusus, aku hanya pernah bertanya padamu sekali soal itu," Taehyung menopangkan sebelah tangan dikepalanya.

"Sisanya, aku tak berani mengucapkan apa-apa padamu karena aku tak ingin kita hancur dan jadi seperti ini. Namun mendengar alasanmu tadi membuatku benar-benar hancur, Kook-ah. Kau tahu aku, aku bukan orang yang mudah menyerah. Namun untukmu, untuk kebahagiaanmu, I'll try to let my hand off of you, I'll let you go although you bring all of my love and spirit." Taehyung menyisir surai merahnya dengan jemari kebelakang.

Di kedua pergelangan tangannya melingkar nama Jeon Jungkook dengan tinta permanen. Seakan Jungkook telah memborgolnya, mengunci semua pergerakan hatinya.

Taehyung beranjak dari tempatnya, ia menunduk sebentar sebelum menatap Jungkook yang telah meneteskan air matanya. Taehyung tersenyum, memegang kedua pundak Jungkook yang sedikit menegang karena sentuhannya dan mengecup pelipisnya lama, hingga Jungkook gemetar dan sesenggukan.

Taehyung mengelus jejak ciumannya dengan ibu jarinya. Ia mengelus pipi ranum Jungkook.

Jungkook balas menatap Taehyung dan menaikkan kedua tangannya di rahang Taehyung, membuat Taehyung lemas dan menuruti tangan Jungkook. Sebelah tangan Jungkook menyentuh piercing yang ada di alis Taehyung, lalu ia menyentuh tulisan I'm always tired but never of you dengan tinta permanen yang melingkar seperti choker di leher Taehyung.

Lalu ia menarik Taehyung ke dalam pelukannya. Taehyung yang lemah hanya karena sentuhannya. Taehyung yang ia tahu sangat mencintainya. Taehyung yang pantas mendapatkan seseorang yang lebih daripada dirinya.

Jungkook menenggelamkan wajahnya di tengkuk Taehyung yang bertatokan namanya, terukir dengan indah tepat di atas tulang belakangnya. Jeon Jungkook.

Tak henti-hentinya ia berbisik kata maaf. Sampai Taehyung melepaskan pelukannya dan berkata bahwa ia akan baik-baik saja selama Jungkook bahagia.

.

.

.

Taehyung akan baik-baik saja. Namun ia tak tahu, kapan ia akan baik-baik saja.

.

.

.

Lonceng gereja berbunyi pertanda pasangan baru akan segera di satukan.

Taehyung memutuskan untuk berangkat setelah mengirim sepaket bunga, dan kartu ucapan;

"Kook-ah,
I've never hated the fact that I've ever loves you."

- KTH

.

.

.

Wedding Invitation

Park Jimin & Jeon Jungkook

.

.

.

END