Needed Me

Rated: T

Genre: Romance/Weed/Complicated/Reputation!AU

Length: Oneshot / Drabble.

Pair: TaeKook

Main Cast: Kim Taehyung, Jeon Jungkook.

Warning! BL! YAOI! BOY X BOY

It's BTS VKOOK/TAEKOOK FANFICTION!

MENTIONED! PARK JIMIN & MIN YOONGI

Don't like, Don't read! NO BASH!

Itadakimasu~

.

.

.

I was good on my own, that's the way it was.
You was good on the low for a faded fuck, on some faded love.

Taehyung mencumbu sesaat bibir ranum itu dengan nikmat. Ia tahu hubungan yang ia hadapi ini tidaklah berjalan dengan mudah, tapi setidaknya biarkan dia menyelesaikan masalahnya dengan cara berbeda untuk sekali ini saja. Beri ia waktu berpikir sekali lagi.

Jungkook menyisir ke belakang rambutnya dengan acak menggunakan jarinya. Setelahnya ia kembali menyesap bibir yang baru saja mencumbunya dengan nikmat namun secepat kilat itu. Ia tahu ini tidak mudah bagi mereka.

Jungkook sekali lagi di tolak oleh Taehyung. Entah sudah ke berapa kalinya. Ketika ia mulai menikmati keberadaan Taehyung, Taehyung justru menolaknya. Menolak keberadaannya. Menolak bahwa kenikmatan yang Jungkook berikan itu sama sekali tidak nyata. Ia menolak semua yang Jungkook beri ketika Jungkook mulai menikmatinya.

Hanya karena ia takut akan reputasinya. Ia takut jika tidur bersama Jeon Jungkook akan membuat reputasinya hancur, karena dia gay. Ia takut takkan ada lagi yang menerima dirinya sebagai seorang aktor papan atas.

Padahal yang ia lakukan di luar sana adalah menghamburkan uangnya untuk wanita murahan di lubang tikus pinggiran kota.

Takkan pernah ada kata mudah di hubungan Jeon Jungkook bersama Kim Taehyung.

.

.

Taehyung menyangga sebelah kepalanya yang mulai pening menggunakan sebelah telapak tangannya. Banyak jalang menjijikkan bergelayut manja di sisinya. Ya, dia sedang berada di pub sudut kota yang tidak begitu terkenal namun lumayan mewah untuk sebuah pub tikus seperti ini.

Ia baru saja bercinta dengan kekasihnya, dan sekarang ia memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya di hubungan mereka. Taehyung tak ingin mengakui lekuk tubuh yang menggoda itu, bokong berisi itu, paha yang begitu seksi, dan desahan, teriakan, serta cakarannya yang membuat Taehyung mengerti seperti apa rasanya berada di surga dunia.

Taehyung menenggak segelas vodka lagi dari sloki yang di berikan oleh salah satu jalang yang bergelayut manja di tangannya.

Ia menyulut rokoknya dan menghisapnya pelan. Sungguh, ini tidak benar.

.

.

.

Jungkook menggigit bibir bawahnya, alisnya menyatu, ia bingung, ia marah. Kemana perginya kekasihnya itu? 'Kekasih, huh?' Bullshit.

Ia melajukan lamborghini hitamnya. Ia hanya menggunakan kaus v-neck hitam dengan jeans belel ketat berwarna biru muda serta sepatu boot kesayangannya. Di bangku penumpang sebelahnya ada snipper laras panjang yang sudah ia kokang sebelumnya—siap tembak— yang selalu ia bawa keluar kota, jika ia merasa tidak aman, atau ia sedang tidak bersama Taehyung.

Tidak perlu bertanya soal kemahiran dan kelegalan Jungkook menggunakan senjata.

Jungkook kembali menyisir rambutnya dengan acak menggunakan jarinya. Ia sesekali mengumpat dan memukul stir mobilnya. Menyumpah serapahi kekasihnya yang ia sendiri tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Entah apa yang ia pikirkan.

Lampu merah pertama dan kedua ia lewati begitu saja, lalu ia sengaja berhenti di depan sebuah cafe hanya untuk menyulut rokok Taehyung yang ia temukan di dasbor mobilnya dan menyesapnya. Lalu ia memperhatikan rokok itu sesaat dan tertawa, kemudian ia mendecih dan kembali menyesap rokok itu dalam-dalam sebelum mengepulkan asap yang lebih banyak dibandingkan rokok pada umumnya.

Itu bukan hanya rokok, itu ganja.

.

.

.

Saat tiba di sebuah pub tikus di pinggiran kota, Jungkook menggandeng snipper di tangan kirinya, memasukkan ponsel di saku jeansnya lalu menyesap ganja di tangan kanannya.

Pub tikus pinggiran kota, siapa yang akan melirik tempat menjijikan seperti itu? Orang-orang bermata merah dan jalan terhuyung takkan menyadari apa yang Jungkook bawa di tangan kirinya.

Jungkook menendang pintu kecil kumuh berwarna biru dihadapannya, lalu ia menginjakkan boot nya dilantai kotor penuh sampah, botol minuman, pecahan gelas, bahkan ada pants disana, Jungkook meludah. Ia membenci tempat ini.

Bartender muda menyenderkan dirinya konter bar, menatap Jungkook dengan senyuman, tertarik pada apa yang ia lihat dihadapannya.

Jungkook balas menatap bartender bersurai orange itu dengan jijik, "Aku benci karena harus berbicara dengan orang sepertimu, tapi dimana ruangan VIP lubang tikus ini?"

"Kau ingin minum sesuatu, Sir?" suara merdu bartender muda bersurai orange itu membuat Jungkook mendelik tak suka. Pertanyaannya dialihkan.

Jungkook menodongkan snippernya dengan satu tangan ke hadapan bartender itu, "Jangan mengalihkan pertanyaanku."

Jika boleh jujur, bartender itu adalah satu-satunya orang yang berpakaian bersih yang Jungkook lihat di lubang tikus ini.

Bartender itu masih tersenyum, ia masih sibuk dengan minuman dikedua tangannya, tidak peduli pada snipper laras panjang yang bisa merenggut nyawanya kapan saja.

"Kau tahu, aku sudah sering di todongkan sesuatu seperti itu... dan sebagian besar tak berpelatuk." ucap bartender itu, Jungkook membaca tag namanya— Park Jimin.

Tuk

Sang bartender— Jimin, membolakan kedua matanya. Sesuatu yang panas baru saja melesat melewati wajahnya, membuat beberapa helai rambut di dekat telinganya jatuh, ia menatap Jungkook lalu berbalik ke dinding di belakangnya. Peluru. Sebuah peluru.

Jimin membisu. Sebuah snipper laras panjang yang senyap namun mematikan.

Ia kembali menatap wajah Jungkook, mata itu berkabut. Ia tampak begitu marah. Jimin masih mematung, wajahnya mulai pucat.

"Membuatku mengulangi pertanyaanku sama dengan peluru kedua dari senjata tak berpelatuk ku," ucap Jungkook dengan suara dinginnya sambil kembali mengokang snippernya.

Jimin merilekskan pundaknya, dan membuang nafasnya yang entah sejak kapan ia tahan, "Lantai dua, pintu hijau, sebelah kiri."

.

.

Jungkook menghembuskan nafas panjang di hadapan pintu berwarna hijau tersebut. Sekali lagi ia menyesap rokoknya dan menendang pintu itu dengan bootnya.

Ruangan VIP lubang tikus ini lebih teratur dibandingkan dengan lantai dasarnya. Ada banyak sofa dan jalang disana, ada sebuah panggung dengan tiang besi ditengahnya. Jungkook kembali menyesap rokoknya. Disana juga ada tirai-tirai, tempat orang-orang meredam isu dan masalah mereka dengan para jalang menjijikan.

Jungkook melangkah mendekati bartender disana, bartender kali ini sedikit lebih atraktif dengan kulit pucat, surai kelabu, tatto di lehernya dan banyak tindik ditelinga serta bibirnya.

Kali ini ia tidak menodongkan snippernya, ia hanya diam memperhatikan betapa cekatannya tangan bartender satu ini.

"Kau butuh sesuatu, kid?" ucap bartender itu yang Jungkook dengan sengaja membaca tag namanya –Min Yoongi.

"Kau kenal seseorang bernama Kim Taehyung? Ia bersurai merah dengan lensa mata yang berbeda dikedua matanya, kiri –biru dan kanan –merah. Apa kau mengenalnya?" Jungkook jadi sedikit lebih rileks saat berbicara dengan bartender ini.

"Tirai ungu ke tiga, ku pastikan kau tak ingin masuk karena ia sedang melakukan ini," Yoongi mengisyaratkan kata ini dengan jari tengahnya mengetuk pantat gelas yang tertelungkup di atas konter barnya.

"Sialan." Maki Jungkook.

.

Jungkook menghempas tirai ungu itu dengan kasar, dan benar apa kata bartender—Min Yoongi tadi. Taehyung yang setengah telanjang sedang memainkan jari-jarinya di lubang salah satu jalang disana, dan jalang lainnya sedang mencumbuinya.

Jungkook mengarahkan snippernya ke arah salah satu jalang disana dan menembaknya tepat di kepalanya.

Taehyung terkejut, ia menghampiri Jungkook setelah membersihkan tangannya di rok mini jalang disana.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Taehyung menggeram rendah saat berbicara dengan Jungkook.

Jungkook menyesap ganja yang mulai memendek, dan mengepulkan asapnya di wajah Taehyung. Siapa yang tidak tahu maksud seseorang yang mengepulkan asap ganja pada lawan mainnya?

"Kau bisa memperkosa semua orang yang ada di sini," Jungkook memberi jarak dengan snippernya yang berada tepat di dada telanjang Taehyung.

"Tapi kau tak bisa berbohong, kau tak bisa mengelak, that you needed me."

"Jungkook..." Taehyung menahan snipper Jungkook dengan sebelah tangannya dan menarik pinggang Jungkook untuk mendekatinya.

"Kau tahu aku benci jika harus mengucapkannya..." ia mengeratkan kedua tangannya di pinggang Jungkook dan sedikit meremas bokong padat itu.

Jungkook melingkarkan kedua tangannya di leher Taehyung setelah menghisap ganjanya. Snippernya ia arahkan pada salah satu jalang yang akan berjalan mendekati mereka. Jungkook menatap satu-satu jalang disana dengan ganas.

Satu persatu jalang disana menghilang. Hanya Taehyung dan Jungkook disana.

"Aku tak ingin melukaimu, Tae. Jangan buat aku terpaksa melukaimu."

"Jungkook, kau tahu ini tidaklah benar." Taehyung mengecupi permukaan leher Jungkook.

"Tidak benar? Bahwa kita adalah gay? Kita semua ciptaan Tuhan yang terlahir seperti ini, Tae. Tak bisakah kau bersyukur?" Jungkook menggeram rendah ditelinga Taehyung saat Taehyung menggigit, menjilat dan menyesap kulit lehernya dengan liar. Meninggalkan bekas disana.

"Aku bersyukur. Aku sangat bersyukur bisa memilikimu, Jeon. Tapi..."

"Kau masih memikirkan reputasimu?" Jungkook melepas pelukannya, memberi sedikit jarak untuk menatap wajah tampan yang terpahat dengan indah dihadapannya, mencari sebuah jawaban.

Jungkook tahu jawabannya.

"Tak bisakah kau melupakan reputasimu demi diriku? Mereka juga akan menerima dirimu meskipun kau gay, Taehyung." Jungkook mengusap sebelah pipi Taehyung dan Taehyung mengikuti arah telapak tangan halus itu, ia memegang tangan Jungkook dan menciumi telapak tangannya, lalu ia tersadar ada rokok terapit di sela jari Jungkook.

Ia baru saja akan mengambilnya dari Jungkook, namun Jungkook menahannya.

Jungkook menyesap ganja itu dan kembali mengepulkan asapnya di wajah Taehyung.

"Terserah apa yang akan kau lakukan Taehyung. Kau cukup mengatakannya... kau ingin aku tetap bersamamu disini, atau kau ingin aku pergi?"

"Dimana kau mendapat ganja itu Jungkook?" Taehyung kembali merapatkan pinggang mereka.

"Jangan mengalihkan pertanyaanku..."

"Kau juga mengalihkan pertanyaanku."

"Itu berbeda karena kau membalas pertanyaanku dengan pertanyaan bukan dengan jawaban." Jungkook menyesap ganjanya untuk terakhir kalinya, mengepulkan asapnya di wajah Taehyung untuk ketiga kalinya dan mematikan rokok tersebut di dada telanjang Taehyung.

Taehyung mendesis sedikit terkejut dengan rasa panasnya yang tergantikan dengan lidah Jungkook. Ia tersenyum melihat bekas sundutan rokoknya dan sedikit menjilatinya sebelum menatap kedua mata berlensa itu dalam-dalam.

"Aku butuh pernyataanmu..."

"Jeon, jangan memaksaku melakukan ini."

"Baiklah. Jadi kau mau aku meninggalkanmu?"

"Jeon." Taehyung meremas kuat sebelah bokong Jungkook dan menampar sebelah lagi dengan kedua tangannya.

"Lalu apa mau mu? Tell me what do you want, what do you need, Tae." Jungkook mengecupi sepanjang garis rahang Taehyung.

Taehyung tidak bergeming. Ia mengangkat kedua bokong Jungkook yang membuat Jungkook refleks melingkarkan kedua kakinya di pinggang Taehyung. Snippernya jatuh di lantai dengan suara yang keras namun tak satupun dari mereka perduli.

"Sayang, kau tahu aku terlalu hebat untuk melakukan semuanya sendiri. Aku bisa berdiri dengan kedua kakiku tanpa bantuan siapapun, tapi kau... kau butuh diriku Taehyung. Kau butuh aku..."

"You need nobody else but me." Bisik Jungkook di telinga Taehyung.

Taehyung menghela nafas berat, ia bertindak terlalu jauh untuk hal seperti ini, ia lebih memilih kehilangan pekerjaan daripada kehilangan Jungkook,"I needed you."

"I needed you, you have no idea how much i need you, Jeon."

.

.

.

You needed me.

END