EPINEPHRINE

Epinephrine (also known as Adrenaline; dalam bahasa Indonesia disebut Epinefrin atau Adrenalin) adalah sebuah hormon yang memicu reaksi terhadap tekanan dan kecepatan gerak tubuh. Tidak hanya gerak, hormon ini pun memicu reaksi yang dapat kita rasakan seperti; frekuensi detak jantung meningkat, keringat dingin dan keterkejutan.

Berbagai gejala negatif pada aktivitas atau metabolisme organ tubuh karena pengaruh Epinefrin bisa disebabkan karena 2 kemungkinan; yakni karena sekresi (proses pelepasan substansi kimiawi dalam bentuk lendir) yang berlebihan atau sebaliknya, kekurangan sekresi.

Masalah tersebut di antaranya:

Peningkatan Kecepatan Detak Jantung,

Ketegangan, dan

Peningkatan aktivitas gerak tubuh.

just another Epinephrine

Pair:

Kim Namjoon x Kim Seokjin

Rate:

M

= = = = =

Ini adalah buah(?) hasil dari pemikiran saya selama melihat foto, video, serta mendengar suara Namjoon.

hE iS s0 FucKin' SEXy.

= = = = =

.

Namjoon menyeringai.

Tertawa senang dalam hati.

Ia tau betul apa yang sedang Seokjin alami. Horny yang tertahan memang menyiksa, pikirnya nakal.

Seokjin yang menahan adrenalin-nya nampak begitu menggemaskan dimata Namjoon. Lihat kedua kakinya yang merapat, matanya sayu, pipi dan telinga memerah, gerakan aneh serta keringat yang menguar. Oh, sungguh sedap dipandang mata.

Aku berani taruhan dia sudah basah.

"Hyung, kau baru saja menciumku" suaranya yang rendah serta seringaian jahat itu membuat darah Seokjin mendidih.

Kedua tangan Namjoon mulai bergerak naik perlahan ke pundak, sampai ke leher Seokjin. Membuat si empunya tubuh menegang.

"Nam- ahhh..namjoon" Seokjin bersusah payah mengumpulkan suaranya. Ada sedikit sensasi basah di dalam celana dalamnya.

Seokjin memejamkan matanya. Menikmati sentuhan panas Kim Namjoon diatas kulitnya.

Namjoon benar-benar menikmati pemandangan didepannya.

Rasanya, dia ingin membuat hyung tersayangnya ini berteriak, memohon. Dibawahnya.

Namjoon mendorong tubuh Seokjin hingga membentur tembok. Seokjin sedikit terkejut hingga membuka kedua matanya.

Namun tiba-tiba, Namjoon berhenti.

"Kau mempermainkanku?" Seokjin sukses mengeluarkan apa yang sejak tadi ada di dalam pikirannya.

Namjoon terkekeh.

"Tadi kau bilang mau disentuh. Sudah ku sentuh kan? Nah, sekarang... Bisa tolong masakkan ramen untukku hyung? Sumpah aku lapar sekali"

Seokjin ingin membunuh Namjoon.

Dengan wajah sok polos dan sedikit aegyo memuakkan, Namjoon si brengsek benar-benar membuat Seokjin geram.

"Yak!" Seokjin mengepalkan tangannya dan memukul dada bidang Namjoon.

"hyung-"

"Urus dirimu sendiri. Kau lapar, bukan urusanku"

Seokjin beranjak pergi dan dengan sengaja menyenggol bahu Namjoon sampai akhirnya, suara Namjoon menghentikan langkahnya.

"Memohonlah dengan benar"

Hi!

Apa ini? Aku juga tidak tau huhu:'

Ini tuh ibarat kata cuma sekelibat(?) dari pikiran kotorku waktu liatin Namjoon hahaha

Sumpah, Namjoon dan segala kebangsatannya bener-bener gak baik untuk anak perawan yang masih puber /ga.

Aku mau ngucapin terimakasih banyak untuk kalian yang merespon baik fiksi ku yang abal ini.

Aku membuat ini sebagai selingan EGO karena konflik disana rumit jadi aku mau ber-dirty dirty ria disini /apasih:"D/

Special thanks buat 7D yang selalu menghiasi kolom review tulisanku.

Aku sering liat kamu review FF lain lho kkkk~

And also for Iruyori, Kookiee92, abang's, overtee, jinjun299, kookienoona, guest.

Kalian yang membuat aku melanjutkan tulisan ini dalam waktu cepat Hahaha:p

Dan makasih buat kamu kamu yang mau pencet follow/fav walau tidak mereview. Ku tunggu review di chapter ini ya

Tidak kusangka responnya lumayan~ sebelumnya aku mau menekankan bahwa aku memang sengaja tidak menulis keterangan yang jelas apakah itu TBC atau END karena aku mau tau dulu respon kalian.

Dan... Apakah ini sudah selesai?

Seokjin berbalik.

Namjoon menyambutnya dengan seulas senyuman kecil yang memabukkan. Apa tadi katanya? Memohon?

"Apa maksudmu, bocah? Kau tau? Sangat tidak sopan meledek orang yang lebih tua darimu" Entah tapi karena saking panasnya, Seokjin jadi marah.

Namjoon tertawa keras. Ia mendekati Seokjin dan menatap manik mata itu seolah-olah mau menerkam begitu saja.

"Persetan dengan kesopanan Hyung; jika kau ingin kau harus memohon dengan benar. Maka aku akan mewujudkannya"

Ambigu sekali.

Namjoon memberi penekanan khusus pada kata 'memohon dengan benar'.

Seokjin menggigit bibirnya ketika Namjoon berdiri tepat dihadapannya. Napas hangatnya menyentuh wajah Seokjin. Tatapan Namjoon melemah.

"Tidak mau? Yasudah"

Namjoon beranjak pergi menuju kamarnya. Namun dengan sigap, Seokjin meraih lengan Namjoon. Seokjin tidak begitu yakin. Jujur, dia malu. Dia tau Namjoon pasti sadar kalau dia sedang menahan hasrat seksualnya.

Seokjin menunduk namun cengkramannya pada lengan Namjoon menguat.

Namjoon hanya diam. Menunggu Seokjin memohon.

Dengan ragu, Seokjin mengangkat wajahnya dan menatap Namjoon seperti seekor anak kucing. Strategi andalan?

Jangan! Jangan tatapan itu!

"Namjoonie, kumohon.. Sentuh aku"

Air liur Namjoon seolah-olah akan tumpah.

Ia mengerjap. Mencoba sadar, kembali ke mode intimidasi.

"Jinnie"

Namjoon merapatkan tubuh Seokjin hingga nyaris tak ada jarak diantara mereka berdua. Seokjin hanya diam, dia malu.

"Daddy akan segera memuaskanmu"

Namjoon berbisik di telinga Seokjin yang memerah.

Dan ya, Seokjin sukses terlonjak ketika dengan tidak sabaran, Namjoon meraup bibirnya.

Menekan leher Seokjin hingga liur yang sejak tadi hendak tumpah, jadi benar-benar menetes dari sela-sela ciuman menuntut Namjoon.

Tangan Seokjin meremas kaos Namjoon. Panas. Dia bahkan merasa hampir mendidih.

Dapur mereka penuh dengan suara kecapan sensual. Namjoon benar-benar akan menghukum Seokjin dan bibir sialannya yang seksi ini.

Pagutan mereka terlepas saat Seokjin memukul dada Namjoon. Namjoon memang seorang good kisser dan ini bukan pertama kalinya Seokjin dibuat sesak oleh ciuman panas Namjoon.

Bukan hanya Seokjin, tapi Namjoon juga merasa adrenalinnya terpacu.

Ini pasti efek obat Epinefrin sialan itu. Rutuk Namjoon dalam hati.

to be continue

chaeji, 2017