Chapter 3 – Irrationally


Summary


Tak hanya Yayoi dan Ura yang tiba di masa lalu, rupanya Hakuyo sempat mengikuti mereka dan ikut terbawa ke masa lalu. Setelah Hakuyo yang tiba lebih dulu di masa lalu memberitahu Yayoi dimana mereka sekarang, Yayoi melepaskan segel Ura agar Hakuyo dapat mencarinya. Sementara itu, Ura yang terbuka segelnya tiba-tiba merasa Yayoi dalam bahaya sehingga dia ingin segera pergi mencari Yayoi namun sayangnya ia masih harus berurusan dengan Yona di tempat ia mendarat.


Warga suku angin yang berada di dekat situ berkerubung di sekitar Yayoi, bertanya berbagai hal pada Yayoi sehingga membuat Yayoi makin bingung. Di tengah kebingungan Yayoi, Hak menyuruh mereka untuk tak berkerumun dan bertanya satu persatu karena kasihan melihat Yayoi yang terlihat linglung.

"kau bahkan tak tahu ini dimana, siapa kau dan kenapa kau tahu-tahu muncul dari langit?" ujar Hak menunjuk ke atas.

"apa kau yang bernama Yayoi?" ujar Mizuki yang tahu-tahu muncul di belakang Yayoi.

"eh, iya... kau siapa?".

"Hakuyo, benar yang ini temanmu, kan?" panggil Mizuki.

"Yayoi!?".

"Hakuyo!?".

"kau ini, bikin cemas saja!?" ujar Hakuyo memeluk Yayoi, lalu memegang bahu Yayoi "terus mana dia?".

"aku tak tahu juga, kau sendiri kenapa bisa ada disini?".

"aku ada di belakang Ura dan ikut tertelan sinar cermin itu, tahu-tahu aku tiba disini kemarin malam".

"yang kaget itu kami berdua, tahu... kau tiba-tiba muncul di dekat kami saat kami mengawasi mansion tempat Kou Ren menahan ke-4 ksatria naga" ujar Mizuki menghela napas.

"kesampingkan soal itu, ini gawat... aku sudah bertukar informasi dengan gadis kecil itu dan tebak... kita terdampar di daratan China 900 tahun yang lalu, tepatnya di salah satu kerajaan sebelum bersatunya daratan China dan yang ingin kutanyakan... kenapa kita terdampar ke masa lalu dan malah mendarat di China? Terus bagaimana caranya kita kembali ke masa depan?" ujar Hakuyo bisik-bisik pada Yayoi.

"jawaban pertanyaan yang pertama, mungkin itu karena permintaanku pada Ungaikyo agar dia mengirimkan kita ke asal mula masalah yang baru-baru ini kita hadapi dan soal kembali ke masa depan... akan kupikirkan itu nanti, sekarang ada satu hal yang lebih penting, kita harus segera menemukan Ura sebelum terjadi sesuatu...".

"kau benar... tapi bagaimana mencarinya? Belum tentu dia dikirim kemari juga, kan?".

"akan kucoba membuka segelnya, saat itu kau deteksi keberadaannya, aku yakin dia juga ikut terdampar kemari karena saat itu dia memegangku... kau yang ada di belakang kami saja ikut terlempar kemari, seharusnya dia ada disini juga, kan?".

"maaf, orang dari masa depan... tapi dari percakapan kalian, sepertinya masih ada satu orang lagi selain kalian berdua, ya?".

Hakuyo dan Yayoi menengok ke samping, melihat Hak yang mendengar percakapan mereka berdua dari awal hingga akhir. Seharusnya mereka merahasiakan keberadaan mereka tapi Hak sudah terlanjur mendengar percakapan mereka berdua sehingga terpaksa mereka meminta Hak ikut bekerja sama.

"akan kujelaskan padamu dari awal, kenapa dan untuk apa kami kemari tapi kami masih harus mencari satu teman kami dulu, kau tak keberatan?" pinta Yayoi.

"tak masalah, aku juga harus menunggu waktu yang tepat untuk menyelamatkan temanku" ujar Hak.

Barusan Yayoi sudah melepaskan segel Ura, Hakuyo berhasil mendeteksi keberadaan Ura dan bergegas menjemput Ura sementara Yayoi menunggu di tempat Hak. Setelah Yayoi mendengar apa yang terjadi baru-baru ini pada Yun dan ke-4 ksatria naga termasuk masalah di antara kedua kerajaan ini, Yayoi tersenyum melihat Hak hanya diam mengawasi, menatap lurus ke dalam kota karena menunggu Mizuki yang berjanji untuk membantunya menyelamatkan Yun dan ke-4 ksatria naga.

"teman-temanmu itu pastinya sangat berharga bagimu, ya... kelihatan jelas kalau kau sangat mencemaskan mereka".

"kau sendiri, kelihatannya kau juga mencemaskan temanmu itu?".

"apa boleh buat, soalnya temanku itu tipe orang yang mudah terlibat masalah".


Mari kita lihat kondisi orang yang mudah terlibat masalah itu.

.

Ura terdampar di tempat dan waktu yang salah, dimana ia mendarat tepat di semak belakang Yona dan Algira yang dibantu Lily, Tetora dan Ayura sedang berhadapan dengan Soo Won, Joo Doh, dan Keishuk. Tapi kita mulai dari beberapa saat sebelum Ura muncul.

"ada apa, yang muli..." ujar Joo Doh terhenti, terbelalak melihat Yona ada di depan mereka.

Soo Won meminta pasukannya diam di tempat dan menanyakan maksud kedatangan Yona kali ini.

"jangan pura-pura bodoh, aku sudah meminta seseorang mengirim pesan padamu, harusnya kau tahu untuk apa aku sengaja muncul... ".

Ura yang jatuh di atas semak-semak menggelengkan kepalanya yang pusing "duh, mataku... Yayoi, kau...?!".

"Hak? oh, bukan... tapi mirip..." pikir Yona menghampirinya dan bertanya "...kau siapa?".

Teringat apa yang terjadi terakhir kali, Ura melihat ke sekeliling "ah?! Kemana wanita itu?".

"entah siapa kau, tapi jika kau tak punya kepentingan disini, lebih baik kau pergi dari sini" ujar Yona menoleh kembali ke arah Soo Won "jika kau ingin membunuhku lagi, coba saja bunuh aku sekarang, tapi sebelum kau membunuhku, kuminta kau mendengarkanku".

Setelah Yona menjelaskan situasi di kerajaan Xing, Yona meminta Soo Won menemui Kou Ren dan Tao barang sekali "putri Kou Ren bahkan berniat menggunakan anak-anak dan wanita sebagai prajuritnya, apa kau mau menyuruh para prajuritmu membunuh anak-anak dan wanita yang tak bersalah?".

"jika memang itu harus dilakukan demi mendapatkan kerajaan Xing, akan kuanggap itu sebagai pengorbanan yang layak... lagipula anak-anak dan wanita yang bersedia mengikuti perang itu seharusnya tahu resiko perbuatan mereka, jika mereka bersedia ikut perang demi putri Kou Ren maka mereka berniat mati dengan senang hati, kan?".

Yona menampar Soo Won sekuat tenaga dan memberitahu alasan putri Kou Ren yang begitu membenci Yu Hon serta apa yang dilakukan Yu Hon 17 tahun yang lalu "rupanya kau sama saja dengan ayahmu... sama-sama tak punya darah dan air mata... apa kau juga tak punya hati manusia?!".

Merasa keadaan akan makin berbahaya, Keishuk memerintahkan salah satu prajurit membunuh Yona sehingga Ura membantu Algira melindungi Yona.

Saat ia sudah terlanjur menghajar salah satu prajurit bersama Algira, Ura menepuk wajahnya "ah, lagi-lagi...".

Tiba-tiba, Ura merasakan ada reaksi dalam tubuhnya dan segelnya terlepas. Tanduk dan cakar di kukunya muncul lagi dan telinganya menjadi runcing, rambut hitamnya yang pendek lurus jadi panjang dikepang.

"segelku... apa terjadi sesuatu pada gadis itu?" pikir Ura, sayangnya meski ia ingin bergegas pergi menemui Yayoi, ia tak tahu gadis itu ada dimana dan harus pergi kemana, terlebih ia tak bisa meninggalkan Yona yang jelas-jelas sedang dalam bahaya.

Melihat Ura memiliki tanduk kecil di kepalanya, disertai kuping lancip dan cakar dari kuku tangannya yang panjang, para prajurit yang melihatnya berusaha menyerangnya tapi muncul pertolongan tak disangka.

"berhenti?!" ujar Lily membentengi Yona.

Yona terkejut melihat sahabatnya ada di depannya "Lily?".

"apa-apaan ini? aku diam saja sejak awal dan akhirnya kau tetap berniat membunuhnya? Yang benar saja!? kenapa Yona harus menjadi korban ketidakadilan disini?! Tidak rasional jika kau membunuh Yona hanya karena apa yang disampaikannya dari kerajaan Xing adalah benar".

"nona Lily, tolong menyingkirlah... wanita itu bukan putri Yona, ia pasti mata-mata kerajaan Xing yang ditugaskan membingungkan kita" pinta Keishuk.

"maksudmu dia berbohong? jika ada yang bisa dipercaya disini, dia adalah Yona, putri raja Il yang berdiri di belakangku?! Dia tak mungkin berbohong karena dia tulus, dia tak pernah ada maksud terselubung!?".

"nona Lily, kami bisa menganggap anda sebagai pemberontak jika anda terus membelanya!? Kita tak tahu apakah beliau benar-benar putri Yona atau bukan sementara..." ujar Keshuk yang terpotong karena Yona maju selangkah, berdiri membentengi Lily.

Saat Yona meminta Lily mundur dan Yona meminta Lily tak dilibatkan meski harus ditebus dengan nyawanya, Lily bereaksi keras.

"jangan bercanda?! Jika terjadi sesuatu padamu, kematian saja tak cukup untuk membayarnya dan jika aku tidak bisa melindungimu sementara aku ada di dekatmu, aku mana punya muka untuk menghadap teman-temanmu?! kau sudah berkali-kali menyelamatkanku, biarkan aku menolongmu kali ini?!" ujar Lily memegang tangan Yona, lalu berbalik menatap tajam Soo Won, Joo Doh dan Keishuk sambil membentengi Yona "silahkan anggap aku pengkhianat, tapi jika kalian ingin membunuhnya, langkahi dulu mayatku?!".

"itu kata-kataku, Lily?!" ujar Yona meminta Lily mundur.

Jika terjadi sesuatu pada Lily, suku air tentu takkan tinggal diam meski mereka termasuk suku yang tenang sehingga Soo Won meminta Lily memberitahu tuntutannya "apa maumu?".

"tolong penuhi permintaan mereka, cukup temui putri Tao dan putri Kou Ren sekali, apa salahnya? Jika masih bisa menempuh jalan damai tanpa ada korban yang jatuh dari kedua belah pihak, kenapa harus memulai perang yang sudah pasti akan menelan korban?" pinta Lily.

Soo Won mengalah kali ini karena ada Lily.

"lalu bagaimana kalian menjelaskan pria di belakang kalian itu?" tanya Joo Doh menunjuk Ura.

"sudah kubilang, aku hanya numpang lewat" sahut Ura.

"wah, apa ini? sepertinya kau terlibat hal menyusahkan lagi, ya?" ujar Hakuyo mendarat di belakang Ura.

Karena sudah ada temannya yang menjemput, Ura pamit pada Yona, Lily dan Algira "tapi... yakin tak apa-apa jika kau bersama orang-orang berbahaya itu?".

"tak apa-apa, aku sangat berterima kasih atas bantuanmu barusan, Ura... tapi karena sudah ada temanku, pasti aman" ujar Yona meyakinkan "kau juga harus menemui temanmu, kan?".

"kau juga, kenapa bisa terlibat lagi?" tanya Hakuyo.

"apa boleh buat, aku paling tak suka melihat orang keroyokan dan yang paling kubenci adalah melihat segerombol laki-laki pengecut yang berusaha membunuh seorang wanita jadi harap maklum" sahut Ura yang sengaja bicara agak keras sehingga ucapannya terdengar menusuk di telinga para prajurit yang berusaha menyerang Algira dan Yona tadi.

Yona tertawa mendengar ucapan Ura "oh, maaf... tapi aku jadi teringat temanku yang mirip denganmu... dia pernah jadi buronan di sebuah kota pelabuhan karena menolong wanita yang tak ia kenal di tengah jalan dan terlibat perkelahian".

Lily langsung nyengir lebar sambil menusuk-nusuk pipi Yona dengan jari telunjuknya "hayo~ ngaku, siapa yang kau maksud? Meskipun sudah terbaca dari wajahmu, pasti pacarmu, kan?".

"Lily, dia bukan pacarku?!".

"ah, tinggal menunggu waktu itu..." sahut Lily tertawa.


Setelah Ura menjelaskan situasi yang terjadi padanya setelah ia tiba di tempat ini, Hakuyo lalu meyakinkan Ura bahwa Yayoi baik-baik saja dan menunggu di perbatasan kota Sansan "cepat atau lambat, kita memerlukan bantuan orang-orang ini jadi sekalian saja kita melibatkan diri, begitu katanya".

Ura menghela napas lega mendengar Yayoi baik-baik saja "terus, kenapa dia malah tinggal di sana?".

"aku tak tahu, tapi dia bilang ada laki-laki yang harus ia awasi karena auranya membuatnya tertarik, jujur saja aku juga berpikir begitu apalagi laki-laki itu mirip denganmu..." ujar Hakuyo menunjuk Ura.

"HAH?! di saat genting begini..." ujar Ura bersiap lari.

"tunggu, jangan salah paham dulu..." ujar Hakuyo menahan Ura "ini berkaitan dengan apa yang baru kita alami baru-baru ini, aku pribadi beranggapan sama dengan Yayoi... bisa dibilang, ketimbang manusia... lebih seperti hewan buas... bahkan tak cuma satu orang itu, masih ada 4 lagi di dalam kota tapi yang paling berbahaya adalah yang diawasi Yayoi saat ini".

"sama saja berarti kemungkinan dia yang paling dekat dengan bahaya, kan? kita pergi sekarang saja".

Tanpa mereka ketahui, kalau mereka menempuh jalan yang sama dengan Yona.