Chapter 8 – Darkness Dragon's Vessel


Summary

Setelah gadis itu membuka penyamarannya, saat gadis itu berusaha membunuh Yona, Soo Won yang tergerak hatinya melindungi Yona. Hak yang tidak sadarkan diri menunjukkan taringnya. Yayoi dan Ura ikut bergabung untuk menahan wadah naga kegelapan.


"kenapa kau lakukan ini pada Hak?!" ujar Yona.

"kau akan tahu setelah aku berhasil membunuhnya" ujar Amara menyiapkan sabitnya "jadi, bisa minggir dari situ? Atau kau mau mati lebih dulu?".

"kau pikir kami akan membiarkanmu melakukannya?" tanya Zeno berdiri di depan Yona.

Shina yang menghunuskan pedangnya berdiri di depan Zeno sementara Kija dan Jae Ha berada di depan mereka.

"kata siapa aku yang akan melakukannya? aku masih punya boneka yang masih bisa kukontrol" ujar Amara menjentikkan jarinya.

Kyouka kembali berdiri dengan sorot mata kosong, kendalinya aktif lagi dan Kyouka kembali menghilang. Kemampuan Kyouka untuk berpindah tempat memang menyusahkan pada saat seperti ini.

"Yona?!" ujar Shina menoleh ke belakang.

Saat Kyouka yang muncul di belakang Yona mengayunkan pedangnya pada Yona, Soo Won menahan pedang Kyouka sehingga mereka semua dibuat terkejut.

"kau sedang apa, Soo Won? kenapa menolong musuhmu?" tanya Amara mengerutkan kening.

"benar... apa yang kulakukan... aku sendiri tak mengerti... aku juga ingin tahu jawabannya..." ujar Soo Won berusaha menahan serangan Kyouka, sesaat melirik ke belakang.

Melihat Yona menangis dengan sorot mata yang kosong sambil mendekap Hak barusan telah membuat Soo Won teringat seperti saat ia melihat Yona yang menangis akibat kehilangan ayah kandungnya yang mati terbunuh di tangan Soo Won.

Hakuyo muncul di belakang Kyouka dan menjitak Kyouka keras-keras menggunakan tongkat tombaknya sehingga Kyouka tak sadarkan diri

"jika kau tak cepat menyingkir dari sini, berbahaya, lho" ujar Hakuyo memanggul Kyouka dan membawanya menjauh.

Soo Won baru mengerti maksud ucapan Hakuyo saat ia menoleh ke belakang. Hak yang sejak tadi tak sadarkan diri, berdiri sambil berpegangan pada tongkat Tsu Quan Dao yang bertumpu di tanah.

"tak mungkin..." ujar Amara menutupi mulutnya "seharusnya kau tak bisa bergerak lagi!?".

Dengan sorot mata kosong, tanpa memperdulikan tubuhnya berlumuran darah, Hak kembali menyerang Soo Won dengan aura membunuh yang membuncah dari seluruh tubuhnya.

"Hak, berhenti?!" pinta Soo Won yang berusaha menangkis serangan Hak yang datang bertubi-tubi meski terlihat jelas kalau ia kewalahan. Soo Won merasa ngeri melihat Hak bisa terus menyerangnya seperti itu dengan luka di sekujur tubuhnya.

"sebesar itukah kebencian dan amarahmu padaku?" pikir Soo Won mengerutkan kening saat menahan serangan Hak.

Tak peduli berapa kali Soo Won meminta Hak berhenti, suaranya seolah tak terdengar lagi di telinga Hak sehingga Zeno meminta ketiga saudara naganya menghentikan Hak bagaimanapun caranya. Saat itu, teringat apa yang terjadi di Sensui, Yona kembali menghentikan Hak.

"Hak, hari itu saat kau pergi dari Fuuga, aku memaksamu untuk membawaku serta, karena aku takut... saat kau menyuruhku untuk tetap tinggal di Fuuga dan kau mengucapkan selamat tinggal, aku merasa aku takkan bisa bertemu denganmu lagi jika aku melepaskanmu saat itu..." ujar Yona terisak sambil memeluk Hak dari belakang "sama seperti saat di Sensui, meski kau ada disini, aku merasa kau begitu jauh... aku yang bertanggung jawab atas apa yang kau alami karena ini mungkin takkan terjadi jika aku tak melibatkanmu lagi... akan kulakukan apapun asalkan kau kembali padaku... karena itu, kumohon... jangan pergi lebih jauh dari ini...".

Tiba-tiba bumi bergetar, tanah tempat mereka berpijak terbagi jadi dua seolah memisahkan kerajaan Kouka dan kerajaan Xing.

"semuanya, menjauhlah dari tebing itu!?" teriak Yayoi dari kejauhan.

"tak sempat, Yayoi" ujar Mizuki menempelkan tangannya ke tanah "aktifkan segel air!?".

Muncul tanda bunga teratai di tanah tempat mereka yang ada di dekat Hak berpijak, saat tanda bunga teratai itu bersinar, mereka berpindah tempat ke belakang Mizuki. Mereka lalu terkejut melihat aura kegelapan membuncah keluar dari tubuh Hak.

"tak ada waktu lagi?!" teriak Kayano dari kejauhan.

Mizuki menancapkan Firangi ke tanah, bersamaan dengan Kayano yang mengearahkan Kum Kang Jeo ke depan dan Yayoi yang mengarahkan gelangnya ke depan "aktifkan kekkai tiga pilar penahan kegelapan?!".

"gawat... masih ada dua orang yang belum kupindahkan karena nggak sampai" ujar Mizuki menunjuk ke depan dimana masih ada Yona dan Soo Won di dekat Hak.

"jangan mendekat!? kegelapan itu bisa menelan semua kehidupan, kau bisa mati jika kau nekad masuk tanpa pelindung?!" sahut Yayoi menahan Kija dan Jae Ha.

"tapi tuan putri belum..." ujar Kija terhenti.

"cih, bikin repot saja..." ujar Ura mendarat di dekat Yayoi sambil memanggul Soo Won dan Yona yang tak terjangkau segel air Mizuki, menurunkan Soo Won dan Yona lalu menoleh ke arah Hak "jadi, rupanya itu wadah naga kegelapan?".

"aku berhasil, ibu... lihatlah, naga kegelapan bangkit kembali?!" ujar Amara tertawa.


"bagaimana cara menghentikannya jika kita saja tak bisa mendekatinya?" ujar Yun.

"singkatnya, Oni lawan Oni" ujar Ura.

"mulai sekarang, ini akan jadi urusan kami para Oni, kalian para manusia tak perlu ikut campur jika masih sayang nyawa..." ujar Hakuyo menunjuk ke depan "lihat, karena darahnya sebagai Oni sudah bangkit, perubahannya mulai terjadi".

"kalau begitu, cukup buat dia tidur sebelum perubahannya sempurna" ujar Ura menjentikkan jari tangannya, petir berkumpul mengelilingi tangannya.

Langit bergemuruh, halilintar bersahutan dan diakhiri munculnya petir menyambar turun dari langit lurus menuju tanah yang diturunkan oleh Ura sebagai serangan jarak jauh. Setelah tubuh Hak tersambar petir, asap yang menipis sehingga mereka melihat perubahan pada tubuh Hak. Telinga dan kuku tangan yang runcing, rambut perak panjang mencapai lutut dan kedua bola mata biru Hak berubah warna menjadi sepasang bola mata berwarna emas, tatapan matanya yang begitu dingin menusuk itu terasa tajam bagai sebilah pisau es.

Dari dalam tebing itu muncul seekor Kokuryuu (naga kegelapan) melayang naik ke langit dan meraung tak tentu arah.

Di bumi turun seekor binatang buas sebesar gajah menyerupai singa dengan surai dan ekor seperti singa, tubuhnya memiliki bulu biru yang lebat, telinga panjang dan moncong panjang seperti serigala, kaki dan mata seperti harimau, erangannya terdengar mengerikan, benar-benar mencerminkan binatang buas.

"mo... monster!? Panah dia!? Bunuh monster itu!?" ujar prajurit Kou Ren yang ketakutan dan memanah Raijuu serentak.

Sia-sia karena hujan anak panah itu semua hangus terbakar oleh petir yang melindungi Raijuu. Serangan tadi justru membuat Raijuu mulai tak terkendali, petir terus menyambar sekelilingnya saat ia mengaum.

"sialan, dia juga bisa mengendalikan petir..." ujar Hakuyo.

"yang ia lihat saat ini hanyalah darah, sama saja dengan binatang buas yang mengamuk tapi sosok manusianya terluka parah, sehingga kekuatannya belum bisa maksimal... dengan kondisi tubuh yang seperti bom waktu saat ini, terlalu berbahaya bagi manusia biasa untuk melewati kekkai ini" ujar Yayoi berusaha mempertahankan kekkai untuk menahan petir dan kegelapan yang dikeluarkan Raijuu dan Kokuryuu.

"ini berarti kegelapan harus dilawan cahaya, kan?" ujar Ura mengumpulkan cahaya di kedua tangannya.

Yayoi melirik ke arah Ura sambil tetap mengarahkan tangannya ke depan "Ura, aku tak bisa menyingkir dari sini untuk sementara karena harus mempertahankan kekkai untuk menahan kegelapan ini bersama Kayano dan Mizuki?!".

"menurutmu kau bisa menang? Kegelapan yang dimiliki pria itu jauh lebih kuat ketimbang kegelapan yang dimiliki Ouga, akan lebih sulit melawannya ketimbang melawan Ouga dan aku juga tak bisa mendekat, hanya Oni darah murni sepertimu yang tahan disiram air suci ini" ujar Hakuyo menyerahkan sebuah botol air pada Ura.

Ura menyiram tubuhnya dengan air dalam botol itu "kau bilang melawan pria itu lebih sulit ketimbang melawan Ouga? Bagiku lebih mudah melawan pria itu ketimbang melawan adik kandungku, tahu...".

"Ura, jangan bunuh Hak... ada orang yang menunggunya kembali, karena itulah... kumohon..." pinta Yayoi yang tersenyum sendu "dan kau harus kembali dengan selamat, Ura".

Ura menghela napas "dasar, apa boleh buat...".